Power Users (Chapter 7)

Power Users

(Part 7)

Author:

@ridhoach

Main Cast:

–          Kim Jong Dae (EXO-M)

–          Nam Shin Ra (OC)

–          Do Kyung Soo (EXO-K)

Support Cast:

–          All members of EXO.

–          Kim Jae Hyun (OC).

Previous Chapter:

 

Bumm!!

            Bola listrik itu meledak karena menabrak sesuatu. Tapi bukan tubuh dari ShinRa-yah. Karena aku masih bisa melihat dengan samar tubuh tak berdaya ShinRa-yah tak goyah sedikitpun. Pundak siapa itu? Kenapa dia melindungi ShinRa-yah?? Teman atau musuhkah ia?

 

—–

 

Jong Dae’s POV

 

Baju yang dipakai oleh orang itu kulihat terkoyak pada bagian punggungnya. Efek dari ledakan bola petir yang aku lesatkan tadi. Dari yang ku lihat, sepertinya orang ini adalah seorang namja.

“Brengsek kau!!”, ujar D.O. Dia menjatuhkan tubuh tak berdaya ShinRa-yah dan berjalan menghampiri namja misterius itu.

 

Buagh!!

Sebuah pukulan keras melayang dan bersarang tepat di pelipis kanan namja misterius itu. Tubuh namja itu terbanting dan tersungkur dengan keras di tanah. Tak sampai beberapa detik, D.O langsung memberikan beberapa hadiah tambahan pada namja itu, tendangan yang cukup keras dilancarkan D.O bertubi – tubi pada perut namja itu. tubuh namja itu pun tergerak mundur. Posisinya berubah menjadi menghadap ke atas. Wajah itu, JaeHyun-ah? Apa – apaan ini? Kenapa dia bisa ada disini?

 

“Hei, hentikan itu bajingan!!”, teriakku. Aku berlari menghampiri tubuh JaeHyun yang tergolek tak berdaya. Seraya aku berlari, aku lancarkan beberapa bola listrik ke arah D.O. dengan sigap D.O menghindarinya. Seranganku hanya membuat kerusakan pada permukaan tanah yang berada di sekitar mereka.

 

“JaeHyun-ah! JaeHyun! Sadarlah!”, teriakku sambil menggoncang tubuh JaeHyun keras. Berharap dia membuka matanya.

“Uhuk… Uhuk… Uhuk… J.. JongDae-hyung?”, ujar JaeHyun tersendat – sendat.

“Jangan banyak bicara JaeHyun-ah. Kenapa kau ada disini JaeHyun-ah? Kenapa kau bisa berhubungan dengan peperangan ini?”, tanyaku sendu.

“K.. Karena kau ada disini hyung. A.. Aku disini ada untuk membantu hyungku”, ujarnya dengan segaris senyum yang dipaksakan. Lalu, mata JaeHyun-ah terpejam, sepertinya kesadarannya sudah jatuh.

 

Aku berdiri. Tanganku terkepal dengan begitu kerasnya. Emosiku dengan cepat merambat naik menuju pusat pengendali diriku. Kepalaku panas, dipenuhi oleh keinginan untuk mebunuh dia, orang yang telah berani membuat dongsaengku terluka. Aku begitu ingin membunuh D.O.

“Terkutuklah kau karena telah berani membuatku manjadi semarah ini. Terkutuklah kau. Dasar bajingan!!”, ujarku geram.

“Ne? Kalau begitu tunjukkanlah kemarahanmu itu kepadaku JongDae!”, ujar D.O santai.

 

END of Jong Dae’s POV

 

*****

 

Author’s POV

 

Dua orang namja tampak sedang saling beradu pukul di antara satu sama lainnya. Pukulan mereka berbentur satu sama lainnya. Sama kuat dan sama cepatnya. Tak jarang, pukulan mereka mendarat pada pelipis atau pipi dari mereka. Sesekali, dari tangan salah satu namja itu muncul cahaya yang sangat menyilaukan mata.

 

“Bagus sekali gerakanmu”, ujar namja yang bercahaya, BaekHyun.

“Apa super powermu itu?”, tanya LuHan.

“Lunarkinesis. Aku mampu mengendalikan cahaya sesuka hatiku. Hebat bukan?”, kata namja satunya santai.

“Hebat? Apa hebatnya dengan kekuatan lemah seperti itu?”, ujar LuHan tak kalah santai.

“Lemah katamu?”, tanya namja itu dengan datar.

 

Sekejap, tubuh namja itu menghilang bersama cahaya yang sangat menyilaukan. Tubuh namja itu hilang. Hanya tersisia seberkas cahaya yang sangat menyilaukan untuk dilihat oleh mata. Beberapa detik kemudian, di sekililing tempat LuHan berada berputar dengan cepat seberkas cahaya yang berputar dengan sangat cepat. Berputar mengitari tempat LuHan berada. Cahaya itu berputar selama 5 menit, lalu kemudian hilang kembali.

“Bukankah ini hebat? Apakah kamu tidak melihat berapa cepatnya aku?”, ujar namja yang tiba – tiba muncul di belakang tubuh LuHan sambil mengarahkan tangannya yang bercahaya lurus ke arah punggung LuHan.

“Siapa namamu ahjussi?”, tanya LuHan.

“Byun Baek Hyun imnida. Siapa namamu ahjussi?”, tanya BaekHyun.

“Xi Lu Han imnida”, jawab LuHan.

“Senang mengetahui namamu LuHan-ssi”, ujar BaekHyun dengan sebuah senyum misterius.

“Senang?”, tanya LuHan.

“Yah. Karena aku harus mengetahui namamu  jika aku mau menuliskan namamu pada nisan kuburanmu kelak”, ujar BaekHyun dingin.

“Benarkah? Aku pikir yang akan dikubur itu nantinya adalah dirimu sendiri”, uajr LuHan sinis.

 

*****

 

Trang!! Tring!! Dzing!!

Suara benturan antara sebuah samurai dan besi itu terus terdengar diantara suara ledakan dan diantara suara gedung yang hancur akibat ulah Diroid itu. Dua orang namja terlihat sedang saling membenturkan masing – masing senjata yang saat ini mereka pegang. Namja berwajah seram dengan senjata berupa pedang panjang. Dan seorang namja yang berambut pirang dengan senjata berupa potongan besi dari rerutuhan yang ada di sekitar tempat kedua namja itu berada. Kedua namja itu saling menabrakkan dua benda yang menjadi senjata mereka dengan begitu kuat.

 

“Siapa namamu, hei ras Summer-K?”, tanya namja yang berwajah seram, Tao, di sela – sela benturan kedua senjatanya dan namja yang satu.

“Namaku? Aku Oh Se Hoon. Maknae dari kelompokku. Namamu sendiri?”, tanya namja yang berambut pirang.

“Maknae dari kelompokmu? Kalau begitu kita sama. Aku Huang Zi Tao. Maknae dari kelompokku”, ujar Tao santai.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita beradu. Maknae mana yang paling kuat?”, tantang SeHun.

“Baiklah. Tapi terimalah kekalahanmu nantinya dengan lapang dada ras rendahan”, ujar Tao dengan segaris senyum dingin.

 

SeHun menghentakkan tangan kanannya. Bersamaan dengan itu, sebuah hembusan angin yang sangat keras menhantam tubuh Tao. Tao dibuat terhempas dan berguling – berguling karenanya.

“Apa itu? Super powermu?”, tanya Tao.

“Ne. Aerokinesis. Aku mampu mengendalikan angin”, jawab SeHun.

“Angin? Aku pemilik chronokinesis. Super powerku memungkinkanku untuk memamnipulasi waktu”, ujar Tao.

“Memanipulasi waktu? Seperti apa?”, tanya SeHun.

 

Tao memejamkan matanya. Sekejap kemudian, semua benda, manusia dan apapun yang ada di sekitar temppatnya berdiri berhenti bergerak. Semuanya tetap di tempat, tak melakukan apapun. Bahkan tidak ada yang bernafas. Hanya Tao yang bisa bergerak. Waktu berhenti.

“Seperti ini. Ah, tapi sayang, kau tak bisa melihat bagaimana super powerku bekerja”, ujar Tao.

Dia acungkan pedang yang ia genggam ke arah pipi dari namja yang mematung di dekatnya, Sehun. Di dekatkan pedang itu. Semakin dekat. Dia goreskan pedang itu pada pipi SeHun. Membentuk sebuah luka kecil yang mengeluarkan darah.

“Dengan goresan itu, kau akan mengerti seberapa menakutkannya super powerku ini ras rendahan”, ujar Tao dengan sebuah serangaian dingin pada wajahnya.

 

Tao menjentikkan tangan kanannya. Keadaan yang sempat terhenti sejenak itupun kembali seperti semula. Darah segar mengalir pada pipi SeHun sesaat setelah ia terbebas dari super power milik Tao.

“Kau, apa – apaan ini?”, tanya SeHun sambil memegangi pipinya yang berdarah.

“Ah, itu adalah salah satu bukti betapa meankutkannya super powerku. Berterima kasihlah, aku tidak membunuhmu tadi. Aku masih ingin sedikit bermain – main denganmu”, ujar Tao dingin.

“Cihh! Tak sudi aku berterima kasih padamu!”, ujar SeHun seraya berlari menghampiri Tao.

 

*****

 

“Apa hanya itu kemampuanmu Kkamjong, huh? Apa yang kau bisa hanya berpindah – pindah seperti itu?”, ujar XiuMin dengan tampang bosan.

“Hanya kau bilang? Bukankah ini special power yang sangat hebat?”, jawab Kai.

“Hebat? Lihatlah dirimu Kkamjong. Kau sudah babak belur begitu. Bahkan aku tak harus menggunakan special powerku untuk melawanmu. Itu yang kau bilang hebat? Jangan membual Kkamjong”, ujar XiuMin santai.

“Itu baru pemanasan. Aku akan lebih serius sekarang”, ujar Kai.

 

“Kim Min Seok imnida. Panggil saja aku XiuMin”, ujr XiuMin tiba – tiba.

“Buat apa kau menyabut namamu? Aku tak perlu mengetahuinya”, jawab Kai cuek.

“Tak perlu? Bukannya kau perlu mengetahui siapa nama namja yang membunuhmu di saat – saat terakhirmu nanti?”, ujar XiuMin dingin.

“Bukannya yang akan mati itu adalah kamu sendiri?”, ujar Kai.

 

Kai memejamkan matanya. Sedetik kemudian, dia menghilang dari pandangan. Tak tersisa dan tak tercium keberadaannya.

“Itu lagi? Apanya yang pemanasan? Aku bosan Kkamjong”, ujar XiuMin dengan wajah bosan.

“Tenang saja XiuMin. Aku akan menggunakan teknik terhebatku. Persiapkan dirimu. Karena ini akan sangat mengejutkan”, ujar suara Kai yang samar – samar terdengar.

 

Tak lama berselang, muncul banyak sekali tubuh Kai di sekitar tempat XiuMin berdiri. Tubuh – tubuh itu itu berpindah dengan sangat cepat. Seakan – akan ada banyak sekali Kai di tempat itu.

“Klon?”, gumam XiuMin.

“Ne. Inilah teknik terhebatku. Pengkloningan diri dengan cara terus berpindah tempat secara cepat dan terus – menerus”, kata salah satu dari Kai yang ada disitu.

“Ini menarik. Walaupun masih sangat jauh dari teknik yang hebat, tapi setidaknya ini bisa meregangkan ototku”, ujar XiuMin santai.

“Benarkah begitu?”, ujar salah satu tubuh Kai yang tiba – tiba muncul di belakang tempat XiuMin berdiri.

 

Bugh!!

Sebuah tinju keras menghantam punggung dari XiuMin. Tubuh XiuMin terdorong ke depan, tapi seketika tubuh Kai yang ada di hadapannya memberikan sebuah tinju lain pada pelipis kanannya. Tak lama, mucul lagi tubuh Kai yang lain di hadapan XiuMin. Kai memberikan beberapa tinju yang keras pada ulu hati XiuMin. Lalu, muncul lagi 3 tubuh Kai di sekitar tempat XiuMin berada. Tubuh – tubuh Kai itu meninju XiuMin secara membabi buta dan secara keras. Wajah XiuMin yang awalnya mulus, sekarang sudah memar. Babak belur terkena tinju dari Kai yang bertubi – tubi.

 

Selama kurang lebih 10 menit Kai terus meninju, memukul dan menendang XiuMin sekeras dan sekuat yang ia mampu. Namun, XiuMin masih bisa berdiri walaupun dia telah menerima begitu banyak pukulan dan tinjuan dari Kai. Tak lama, Kai berhenti meninju tubuh
XiuMin. Tampaknya ia kelelahan.

“Jadi, sudah selesai? Kali ini giliranku”, ujar XiuMin dengan sebuah senyum aneh yang ia sunggingkan.

 

Salah satu sosok tubuh Kai yang berada di sisi Kanan XiuMin memejamkan matanya. Dia menghilang, berteleportasi kembali. Kemudian, secara ajaib Kai muncul di depan XiuMin. Tangannya mengepal, siap memberikan pukulan kembali kepada pelipis kiri XiuMin. Tapi, dengan sigap XiuMin mencengkeram leher Kai dengan begitu keras. Tubuh Kai melemas, sepertinya ia kekurangan oksigen. XiuMin menyelaraskan jari – jari tangan kanannya. Seketika tangan kanan itu terbungkus es yang tebal. Jari – jarinya yang selaras membuat es yang menutupi tangan kanan itu menjadi runcing. Dia arahkan tangan kanan itu tepat ke dada Kai. Tubuh Kai tertembus. Darah berhamburan ke wajah XiuMin, tubuh Kai dan ke udara. Klon – klon Kai pun menghilang menyisakan satu tubuh yang sudah tergolek lemas  pada genggaman erat tangan XiuMin.

 

“Gamsha… Xiu.. XiuMin”, ujar Kai terbata – bata.

“Buat apa?”, tanya XiuMin.

“Karena kau sudah memberitahukan namamu. Dengan begini aku tau siapa namja yang membunuhku”, ujar Kai seraya menghembuskan nafas terakhirnya.

XiuMin membantingkan tubuh tak bernyawa Kai. Dia telentangkan badan itu dan dia dekapkan kedua tangan Kai ke atas dadanya.

“Terima kasih atas permainan yang kau berikan ras Summer-K, aku menikmatinya”, kata XiuMin dengan sebuah senyum tulus yang ia sunggingkan.

 

XiuMin bergegas meninggalkan jasad Kai. Dia berjalan menghampiri kerumunan Diroid yang terus – menerus menghancurkan bangunan dan membunuh siapa saja yang ada disana. XiuMin mengepalkan tangan kanannya. Dari permukaan kulitnya muncul selapis es yang tebal dan membungkus tangan kanannya. Dia tinjukan tangan kanan yang terbungkus es itu ke arah tubuh Diroid. Dia menyerang secara membabi buta. Merobohkan satu persatu Diroid yang ada di sana. Tak jarang pula dia juga membekukan beberapa Diroid yang datang menyerangnya secara ganas.

 

*****

 

Tampak seorang namja bertubuh tinggi sedang terbang menentang gravitasi sambil menghindari serbuan bola – bola air yang datang dari bawah. Sang namja yang berada di bawah terus – menerus secara berkala menembakkan bola – bola air yang berukuran sekepalan tangan orang dewasa itu kepada seorang namja yang sedang terbang di atasnya. Sedangkan namja tinggi yang berada di atas terus – menerus meliuk – liukkan tubuhnya menghindari tembakkan bola air dari bawah sana.

 

“Turunlah kalau kau memang hebat! Dasar Pengecut!”, umpat sang namja yang berada di bawah, SuHo.

“Untuk apa kau menyuruhkau turun? Kau takut dengan kemampuanku?”, ujar sang namja yang berkeliaran di langit, Kris, dengan santai.

“Aku hanya ingin kita bertarung secara adil di bawah sini. Aku tau kalau kau itu adalah seorang Sevlit”, ujar SuHo.

“Sevlit kau bilang? Kau maksud aku memiliki satu special power lagi selain ini? Jangan bercanda”, tanya Kris.

“Jangan mengelak. Aku tau kau hebat. Tapi kau tidak hebat dalam urusan berbohong”, ujar SuHo santai.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Seingatku akku hanya memberitahu kelima temanku tentang aku adalah seorang Sevlit. Apa ada yang membocorkannya?”, tanya Kris dengan tampang cemas.

“Kau pikir kami tidak mengetahui kalau kau adalah anak dari seorang power users yang lemah? Apa kau pikir kami tidak mengetahui kalau ibumu adalah pelarian dari ras gelap, Matoki? Kau pikir kami tidak tau?”.

“Tarik kembali kata – katamu mengenai keluargaku”.

“Kalau tidak, memangnya kenapa? Kau akan membunuhku?”.

 

Bwushh!!

Tiba – tiba suhu berubah menjadi sangat panas. Angin berhembus lebih cepat.

“Huwaaaaa!!!!!!”, Kris berteriak sekeras – kerasnya.

Suaranya bergema di daerah sunyi itu. Bersamaan dengan berakhirnya teriakan dari Kris, muncul seekor naga besar yang sekujur tubuhnya terbungkus oleh api. Naga itu mengaum dengan keras dan meghembuskan nafas api ke sekeliling tempatnya berada.

“Jadi ini kekuatanmu yang lain? Jadi kau juga seorang animalust? Darah kotor ibumu ternyata mengalir dengan pasti ke dirimu”, ujar SuHo.

“Jaga mulutmu atau aku akan membunuhmu”, ujar Kris.

“Siapa namamu Sevlit?”.

“Kris. Namja yang akan membunuhmu dengan teknik Sevlit satu – satunya ini”.

“Satu – satunya? Jangan bercanda. Kau pikir ras kami tidak memiliki Sevlit? Kau salah. Kami memilikinya”.

“Dimana Sevlit itu?”.

“Tenang saja. Saat ini Sevlit itu sedang melawan salah satu temanmu, yang kalau aku tidak salah bernama Lay”, ujar SuHo dengan senyum dingin.

“Lay? Kau!”, ujar Kris sambil berlari dengan tangan kanan yang terkepal dan terbungkus oleh api.

 

*****

 

Jong Dae’s POV

 

Bugh! Zzrt! Duagh! Cipp! Duarr!

Tak terhitung sudah berapa banyak bola petir yang aku lemparkan dan tembakkan ke arah D.O. Namun satupun tidak ada yang bisa menjangkaunya. Setiap bola petir yang ku tembakkan, selalu ditangkisnya dengan tendangan kakinya yang begitu kuat. Begitu pun sebaliknya, setiap tendangan dari D.O selalu berhasil aku redam dengan petirku. Kondisiku sudah sangat lelah, tubuhku sudah mulai dipenuhi dengan lebam. Kondisi D.O juga sama buruknya denganku. Kami sama – sama kuat, kami seimbang. Entah bagaimanakah hasil pertarungan kami nantinya. Tapi, apapun itu, aku sangat ingin sekali membunuh D.O. Dia yang telah berani melukai dan menyandera 2 orang yang sangat berharga dalam hidupku. Dongsaengku, JaeHyun dan yeoja yang sangat aku cintai, ShinRa. Terkutuklah dia.

 

JaeHyun masih terbaring dan tak sadarkan diri tak jauh dari tempatku berada. Kondisinya masih sama sedari tadi. Aku sangat khawatir kalau – kalau nanti ia tak terbangun untuk selamanya. Keadaan ShinRa-yah juga sama buruknya dengan JaeHyun-ah. Dia tetap tergeletak tak sadarkan diri. Aku sakit, aku terluka. Setiap kali retinaku mendapati tubuh tak berdaya ShinRa-yah, aku terluka.

 

“Terimalah ini bajingan!”, teriakku seraya menembakkan sebuah bola petir yang cukup besar ke arah D.O.

Dengan sigap D.O menendang bola petir yang aku tembakkan dengan kakinya yang terbungkus dengan tanah. Bola petir itu terpecah dan meledak. Kemudian, tak sampai beberapa detik, D.O menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Terbentuk sebuah dinding tanah yang tinggi, tebal dan sangat kokoh membelah jarak antara aku dan D.O berada.

 

Dugh! Bragh!

D.O menendang tembok tanah itu. Tembok tanah itu terpecah dan membentuk beberapa bongkahan tanah yang banyak dan terlempar ke arahku. Aku terkesiap dan seketika membungkus kedua tanganku dengan petir. Aku menembakkan petir ke arah bongkahan tanah itu. Satu, dua, tiga, sudah banyak bongkahan yang aku hancurkan. Tapi, terlalu banyak bongkahan itu. Beberapa bongkahan tanah berhasil mengenai dan memukul mundur tubuhku. Belum sempat aku mengendalikan serangan bongkahan tanah itu, sebuah pukulan keras mengarah telak ke ulu hatiku. Tanpa aku sadari, tangan kanan D.O yang telah terbungkus tanah berhasil menjangkau pertahananku. Ulu hatiku tertinju begitu dalam dan menyakitkan.

 

“Ugh…”, rintihku kesakitan sambil memegangi perut dengan kedua tanganku.

Belum sempat aku berdiri, dua pukulan dan satu tendangan keras menghantam pelipis kanan serta dadaku. Aku terjerembab dan terseret ke belakang sejauh beberapa meter. Aku melihat D.O mengangkat tangan kanannya. Seketika kedua tanganku tertahan, terbungkus oleh segumpalan lapisan tanah. D.O berjalan dengan perlahan menuju tempatku berada. Wajahnya menyunggingkan sebuah senyum dingin dan misterius.

 

“Hahahaha. Hanya itu kemampuanmu JongDae? Kau menyedihkan!”, ujar D.O dengan sinis.

“Jangan tertawa dulu D.O. Kau belum menang! Kemenangan adalah milikku. Milik Mystical-M!”, teriakku.

“Jangan membual JongDae. Lihatlah dirimu. Kau sudah tersudut. Aku bisa membunuhmu saat ini juga”, ujar D.O dingin.

“Membunuhku? Coba saja kalau kau memang bisa melakukannya! Dasar bajingan!”, tantangku.

 

Dugh!!

“Arrghh!!”, erangku disertai dengan darah yang keluar dari mulutku.

Sebuah hentakkan keras dari kaki D.O terarah tepat di dadaku. Tanah di bawah tempatku berada sampai retak akibat kerasnya hentakkan itu.

“Jangan menghinaku orang sekarat! Aku tak suka!!”, ujarnya dingin.

“Matilah kau manusia terkutuk!!”, umpatku.

 

D.O mengepalkan tangan kanannya dan menggerakkan ke atas kepalanya. Bersamaan dengan itu, terangkat beberapa pilar – pilar tanah yang runcing dari dalam tanah. Pilar – pilar tanah itu terkumpul di atas tubuhku, beberapa meter di atasnya. D.O menghentakkan tangannya ke bawah dengan keras dan cepat. Pilar – pilar itu turun dengan kecepatan yang sangat cepat, terarah dengan pasti ke tubuhku. Aku memejamkan mataku, tak sanggup melihat saat – saat kematianku sendiri.

 

“Uaaaarggggghhhhhhh!!!!!!”.

Sebuah teriakan yang sangat keras memecah keheningan di antara aku dan D.O. Sebuah teriakan yang cukup menggelegar dari seorang namja yang tak bisa ku lihat wajahnya. Aku membuka mataku. Tepat diatas tubuhku, berjarak beberapa senti meter dari atas tubuhku, melintang sebuah balok kayu yang sangat besar dan kuat. Balok kayu itu menghempaskan pilar – pilar tanah milik D.O dan juga tubuh D.O sendiri jauh ke arah depan. Tubuh D.O berguling – berguling sejauh 5 meter sebelum akhirnya berhenti menabrak sebuah puing gedung.

“Siapa kau? Tunjukkan wajahmu kalau kau memang berani! Bajingan!!”, umpat D.O saat ia berhasil berdiri.

 

Aku tengadahkan kepalaku agar bisa melihat sosok namja yang berada di sana, yang telah menyelamatkanku. Aku bisa menlihat sesosok namja yang berdiri dengan kokoh. Wajahnya dihiasi oleh segaris senyum penuh arti. Ommo?!! Wajah itu?!! Bagaimana mungkin kalau itu adalah ‘dia’? Kenapa ‘dia’ memiliki super power? Apa yang sebenarnya terjadi?

 

 

-TBC-

 

* Wahh… akhirnya part ini bisa author selesai juga 😀 RCL ya readers. Gomawo kalau aneh J ditunggu ya chap selanjutnya, sebentar lagi sudah mau ending soalnya *ups *

 

102 pemikiran pada “Power Users (Chapter 7)

  1. Choir eh sorry thor baru komentar sekarang…… padahal udc dari kmaren2 hee

    daebbak thor… ide n imajinasinnya kerren abiess

    buat lagi yang lebih ekstrim ok thor…. Fighting!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s