Menemukan Cinta Yang Baru (Chapter 1)

MENEMUKAN CINTA YANG BARU

 

Author        : 1243

Main cast   : Baek Hyun

Rae Bin

Luhan

Park Sena

D.O

Shin Rara

Support cast: Member EXO

Length           : 1/2

Genre            : Romance

Note               : Seperti biasa ya . . .

Mohon RCL  =D

Warning        : Banyak typo

“Oppa, aku berangkat” pamit Rae pada kakaknya yang sedang dandan.

“Kamu berangkat ma siapa? Tunggulah sebentar lagi dirimu akan kuantar” pinta seorang lelaki yang sedang menata rambutnya.

“Ani, aku sudah dijemput oleh Chanyeol” tolak Rae pada Kris yang masih sibuk dengan rambutnya.

“Hati-hati di jalan kalau begitu” kakak dengan tinggi menyamai tiang di depan rumah keluar kamar dan memeluk adiknya setelah itu mengusap rambutnya.

“Aish . . . Kenapa oppa masih suka merusak rambutku sih” menyingkirkan tangan kakaknya tetapi dengan senyum terpampang di wajahnya karena tahu rasa sayang Kris padanya ditunjukkan melalui berantakin rambutnya.

“Hehehehe . . . Biar temanmu si Chanyeol tidak tertarik pada adikku ini. Tapi mana mungkin tertarik pada gadis galak dan tidak suka dandan. Berangkat sana, nanti terlambat latihan” ucap Kris sambil meletakkan wajahnya di depan wajah Rae sehingga sedikit membungkukkan badannya.

“Ne, annyeong” setelah berpamitan dengan kakaknya Rae juga berpamitan pada kedua orang tuanya.

“Annyeong Rae” sapa Chanyeol dengan gigi putih bersinar di pagi hari yang sedikit mendung.

“Annyeong, apakah dirimu tidak terlalu pagi untuk menjemputku?” kata Rae sambil berjalan bersisian menuju halte bus.

“Kalau aku tidak pagi sekali seperti saat ini aku takut kamu sudah berangkat latihan. Padahal aku mau lihat tugas Bahasa Sansekerta dosen Kim Kibum” jelas Chanyeol sambil menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkan ke kampus mereka.

“Kau sih terlalu sibuk pacaran sehingga lupa tugas” bus sudah datang.

“Beginilah susahnya jadi orang tampan dan keren. Mana tugasmu?” Chanyeol tak lupa akan tugas Rae yang akan dipinjam ketika di dalam bus.

“Tidak akan kupinjamkan” tolak Rae.

“Ayolah Rae. Ppuing ppuing” Chanyeol berusaha merayu agar dirinya mendapat contekan.

“Hahaha . . . Namja bersuara bass seperti dirimu tidak cocok melakukan aegyo” tawa Rae.

“Lalu aku harus bagaimana? Ayolah Rae. Apakah kamu mau kubelikan bulgogi?” Chanyeol tak patah semangat mengingat galaknya dosen satu ini.

“Wah . . . Uangmu masih ada? Kupikir pacarmu sudah menghabiskan semua uangmu. Dirimu kok masih bertahan sih dengannya?” tanya gadis dengan rambut seadanya. Adanya nggak pendek nggak panjang. Adanya nggak lurus nggak keriting. Adanya nggak merah nggak hitam. Seadanya.

“Sebenarnya aku mau putus dari Anhri tapi setiap minta putus dia tidak mau dan mengancam akan bunuh diri. Aku bingung mencari cara yang pas. Ya! Kok jadi bicara tentang Anhri. Tugas . . . Tugas . . . Tugas . . . Mana tugasmu?” pertanda Chanyeol lagi malas membahas pacarnya.

“Ya! Kok aku malah dibentak. Kan salahmu sendiri memacari Anhri. Salah paham segala tentang Sena. Dia sudah menjelaskan semuanya padamu kalau dia dekat dengan Sehun sebatas kakak terhadap adik tetapi dirimu tidak percaya dan beraksi segala punya pacar baru. Makan tuh Anhri akibat sudah menyakiti Sena” Rae sedikit emosi mengingat putusnya Chanyeol dengan Sena akibat salah paham terhadap dongsaeng bernama Sehun dan aksi balas dendam dengan Anhri.

Chanyeol yang mengingat kejadian itu satu bulan lalu menjadi terpekur dan mulutnya menjadi bungkam. Rae yang melihat hal tersebut mencoba menenangkan hati dan pikiran Chanyeol.

“Hei, Chanyeol-ah. Sudah jangan dipikirkan. Dirimu masih ada kesempatan. Sekarang pikirkan saja dulu tugasnya. Kamu jadi pinjam tidak?” kata Rae sambil melihat wajah Chanyeol dan matanya sudah berkaca-kaca.

“Aku mengaku salah Rae. Semasa pacaran dulu Sena sudah kusia-siakan. Aku terlalu sibuk dengan bandku. Aku masih menyukainya” hampir saja Chanyeol menangis kalau tidak mendengar perkataan Rae.

“Makanya semangat dong. Mana mau Sena balik ma cowok yang gampang patah semangat. Ntar kubantuin gimana caranya kamu putus ma Anhri. Sebagai teman aku kasihan kamu dipermainkan ma Anhri” kata Rae.

“Jjinja? Gomawo Rae Bin-ah. Mataku tidak salah menjadikanmu teman semasa ospek dulu” menjabat tangan Rae sedikit keras cukup memunculkan ringisan di wajah gadis yang sekarang rambutnya dikuncir.

“Ne . . . Tapi lepaskan tanganku. Sakit tahu” berusaha menarik tangannya.

“Ups . . Mian” tawa lebar kembali menghias wajah Chanyeol yang langsung mengusir mendung di pagi itu.

Mereka sudah sampai di kampus namun berbeda arah. Rae ke arah tempat latihan hapkido dan Chanyeol ke arah kelas untuk menyalin tugas Rae dengan perjanjian sepulang kuliah akan membelikan temannya album terbaru EXO.

 

^_^    ^_^    ^_^

 

 

“Baiklah latihan hari akan kita akhiri. Sebelum itu saya akan membacakan nama teman-teman  dan menanyakan bersedia atau tidaknya untuk mengikuti pertandingan hapkido bulan depan” ucap pembimbing hapkido. “ . . . Rae Bin?”

“Siap kak” jawab Rae tegas.

“Baek Hyun?” tanya pembimbing.

“Siap kak” ucap seorang cowok dengan tekanan pasti.

“Baiklah. Kesepuluh nama sudah disebutkan. Bagi kesepuluh anak tadi harap mengikuti jadwal latihan tambahan. Latihan kita tutup” kata pembimbing sebelum meninggalkan ruang latihan.

Selesai latihan Rae pergi ke taman kampus. Disana sudah ada Sena dan Rara. Mereka bertiga berteman sejak bangku SMP. Meski berbeda jurusan dan sempat berbeda sekolah semasa SMA, hubungan mereka masih terjalin dengan baik.

Tanpa kata permisi Rae mendaratkan dirinya di sebelah kanan Sena. Rara menyodorkan bungkusan kepada Rae setelah gadis hapkido meletakkan tas di sampingnya.

“Gomawo Rara-ah. Kau memang umma yang baik” ucap Rae.

“Ya! Kenapa kau panggil aku umma. Kau mau tidak kubawakan makanan lagi?” hampir saja makanan yang ada di tangan Rae diambil lagi oleh Rara tetapi makanan tersebut sudah diamankan oleh Rae.

“Jangan begitu Rara-ah. Makanan di dekat rumahmu itu enak sekali daripada makanan di kampus kita. Kalau bukan dirimu yang membawakan makanan untukku, aku makan apa hari ini” kata Rae dengan senyum jahil.

“Lagian kenapa sih kamu nggak bawa sendiri dari rumah?” tanya Sena berusaha menengahi masalah.

“Aku malas buat makanan. Aku juga nggak mau ngerepotin ibuku dengan jadwalku yang berangkat lebih pagi daripada yang lain. Lebih enak titip Rara” senyum jahil semakin berkembang.

“Enak di dirimu tidak enak di diriku” Rara masih memasang wajah kesal karena sudah susah payah dibelikan sampai tadi pagi dibentak oleh tante-tante karena dirinya tidak mau mengalah sekarang temannya satu ini malah memanggilnya umma.

“Sudahlah Rara jangan marah lagi. Kalau kamu marah aku batal memberikan cap jempolnya idola kesayanganmu” Rae paham situasi yang sudah memanas sehingga perlu diredakan.

“Mwo? Cap jempol? Kyungso EXO-K? Kok bisa?” heran Sena.

“Jjinja? Dapat dari mana kamu? Aku aja nggak dapat, kamu kok bisa dapat? Jangan bilang itu cap jempolmu sendiri” Rara tak percaya dengan apa yang diucapkan Rae.

“Awalnya aku sendiri juga tidak percaya. Tetapi kakakku kemarin malam pulang sambil membawa oleh-oleh cap jempol dan tanda tangan member EXO” belum selesai Rae berbicara badannya sudah digoyang-goyangkan oleh Rara dan dipukuli oleh Sena bagian paha serta lengannya.

“Appo . . .” keduanya masih sibuk “meninabobokkan” ala masing-masing tidak mendengar rintihan anak tiri?

Lumayan lama Rae merintih dan ketika rintihan itu berhenti keluarlah cerita dari mulutnya kronologi cap jempol dan tanda tangan. Benda berharga itu didapat ketika kakaknya, Kris menjadi staff yang membantu fansigning EXO. Selesai acara, Kris meminta cap jempol dan tanda tangan mereka berdua belas mengingat di kamar Rae terpasang poster dan tanggalan boyband bentukan SM. Selain itu di kamarnya masih berserakan majalah yang terdapat artikel yang isinya EXO.

“Sekarang kamu bawa barangnya?” cerocos Sena.

“Ya nggak kubawa. Barang berharga yang sulit didapat harus disimpan dengan baik” kata Rae sambil mengusap-usap lengan dan pahanya.

“Oiya, bener bener” Sena menganggukkan kepalanya.

“Rara-ah, mulai minggu depan hari Senin, Rabu, Jumat bawakan aku makanan porsi double ya” kata Rae setelah mengingat apa yang terlupa.

“Omo . . . ! Kau kemasukan setan apa Rae Bin-ah sampai porsi makanmu bertambah” memasang wajah O_O

“Kemasukan setan pertandingan hapkido” jawab Rae.

“Maksudnya?” Sena menjadi bingung mendengar perkataan Rae yang sering ambigu kayak orangnya.

“Mulai minggu depan aku ada jadwal latihan tambahan. Tiap Senin, Rabu, dan Jumat aku pulang malam. Mengingat makanan di kampus aku kurang senang jadi titip Rara saja porsi double buat pagi dan sebelum latihan tambahan” terang Rae yang entah dimengerti oleh kedua temannya atau tidak.

“Kamu hari ini pulang pukul berapa kuliahnya?” tanya Sena.

“Jadwalku hari ini hanya sampai siang. Waeyo?” Rae balik bertanya.

“Pas kalau begitu. Aku mau mampir ke rumahmu untuk mengambil cap jempol dan tanda tangan member EXOku tercinta” Sena sumringah.

“Sena-ah, tapi aku pulang sore karena ada jadwal basket. Kamu jangan ambil sendirian. Ntar aku kamu kasih sisa. Kan ada member yang sama-sama kita sukai” toleh Rara pada Sena dengan tatapan memohon.

“Itu derita lu Rara-ah” tolak Sena.

“Ah . . . Aku lupa. Sepulang kuliah aku ada janji dengan Chanyeol” Rae menepuk jidatnya sedangkan kedua temannya menatap O_O. Ditambah dengan tatapan cemburu dan sakit hati dari Sena. “Dia janji akan membelikanku album EXO yang terbaru sebagai pengganti tugasku yang diconteknya” bertambah pedih hati Sena yang mengingat dirinya belum pernah dibelikan apapun oleh Chanyeol selama pacaran.

“Aku sudah waktunya masuk kuliah. Aku duluan ya. Annyeong” pamit Sena meninggalkan senyum di bibir Rae dan O_O di wajah Rara.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Rara selesai dengan tatapan khas D.O

“Aku sengaja untuk melihat bagaimana reaksinya. Kesimpulan yang kudapat sampai saat ini dia masih menyukai Chanyeol begitu pula dengan Chanyeol yang masih menyukai Sena. Ayo. Kita juga masih ada jadwal kuliah” kata Rae disambut dengan gelengan kepala Rara.

 

^_^    ^_^    ^_^

 

“Mana cap jempol dan tanda tangannya?” seret Sena menuju kamar Rae di lantai dua sepulang kuliah keesokan harinya dibuntuti oleh Rara.

“Sabar Sena-ah. Barangnya nggak akan pergi kemanapun karena sudah aman terkendali” saking semangatnya Sena menarik tanpa sadar ada orang di ujung tangga bawah hingga terpentallah dirinya bersama Rae dan hanya dipandangi oleh Rara semua kejadian yang berlangsung di depannya.

Sena masih aman posisi jatuhnya. Berkebalikan 180° dengan Rae karena posisinya berada di bawah Sena. Terulur tangan putih menolong Sena dan sepasang tangan kokoh menarik Rae setelah Sena ditolong.

“Kau tidak apa-apa?” tanya pemilik tangan putih yang menolong Sena.

“Kalau jalan hati-hati Rae Bin-ah” ucap pemilik tangan kokoh yang tak lain adalah Kris.

“Aish . . . Jangan salahkan adikmu ini oppa. Sena yang telah menarikku tanpa tedeng aling-aling. Ibarat pepatah adikmu ini sudah jatuh tertimpa gentong air” Rae mengusap punggungnya. “Ini juga Luhan oppa apa-apaan. Udah lihat yang ditimpa aku tapi yang ditanyai hanya Sena” lirik Luhan oppa yang tangannya masih memegang tangan Sena.

Ingin meminta dukungan dari Rara tapi dia sudah tersepona dengan ketampanan kakak Rae dan temannya, Luhan.

“Kenapa Luhan oppa ada disini?” tanya Rae.

“Aku ada urusan dengan kakakmu karena sebentar lagi ada festival di kampus. Kakakmu kan sudah biasa mengurus event” jelas Luhan dan tangannya sudah melepaskan tangan Sena.

“Owh . . . Oppa juga ikut andil dalam festival minggu depan?” tanya Rae menghadap Kris.

“Sebenarnya tidak. Tapi demi menolong teman maka kusanggupi meski mendadak permintaannya” tutur Kris.

“Luhan oppa ikut bagian apa dalam festival?” kepala Rae menoleh ke arah Luhan.

“Aku menjadi ketua paduan suara di kampus. Dan klub kita diminta oleh panitia untuk mengisi acara dalam festival besok. Kamu belum diberitahu oleh Sena?” Luhan menatap Sena.

“Ah . . . Aku yang lupa oppa kalau ketua klub paduan suara adalah dirimu. Sebenarnya Sena sudah memberitahuku bahwa dia akan ikut mengisi acara di festival bersama klubnya” Rae menepuk jidatnya.

“Kamu sendiri ngapaian bawa dua temanmu segala?” gantian Kris yang menginterogasi.

“Aku mau berbagi rejeki ma mereka. Makanya kuajak kesini” Rara suaranya mana ya ma si Sena? Kok Rae terus yang ngomong.

“Rejeki? Sudahlah nanti saja kita lanjutkan ngobrolnya. Sekarang aku mau pergi bareng Luhan. Jaga rumah baik-baik” Kris kembali mengacak-acak rambut Rae sebelum pergi sedangkan Luhan hanya bertukar salam dan memberikan senyum terbaiknya.

“Rae Bin-ah, kenapa kau tidak bilang bahwa Luhan oppa adalah teman kakakmu” muncul deh suara Sena setelah mereka di kamar.

“Aku belum bilang ya? Maaf kalau begitu” Rae mencari hartanya disimpan.

“Memang kenapa Sena?” ini juga baru muncul suaranya si Rara.

“Aku merasa kalau Luhan oppa suka padaku”.

“Hah? Kau kenapa bisa berkata seperti itu?” heran Rara.

“Habisnya Luhan oppa sering baik padaku bahkan terlalu baik kalau dibanding dengan teman yang lain” ragu akan jawabannya sendiri.

“Luhan oppa memang orang yang baik” Rae tersenyum penuh makna.

“Jangan-jangan kamu aja yang kege-eran Sena-ah” Rara menyenggol bahu Sena.

“Mwolla. Aku fokus saja pada acara festival minggu depan” Sena cemberut.

“Memang kenapa kalau Luhan oppa beneran suka padamu?” tanya Rae.

“Ya tidak apa-apa. Aku senang ada cowok yang suka padaku. Hanya saja . . .” Sena menggantung kalimatnya.

“Kau masih suka ma Chanyeol?” ceplos Rara.

Tanpa kata hanya anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan Rara barusan.

“Ngapain sih cowok kayak Chanyeol dipikirin. Cowok yang sibuk sendiri. Cowok yang lebih mentingin bandnya” sungut Rara.

“Tapi tetap saja . . .” Sena kembali menggantung kalimatnya.

“Kau yakin kalau masih suka ma Chanyeol, Sena-ah? Kau menerima dirinya bukan karena dia adalah idolamu kan?” Rae meragukan kesimpulan awalnya bahwa mereka masih saling suka.

“Entahlah” kepala Sena lunglai dan kemudian teringat alasan mereka ke rumah Rae.

Ributlah suasana kamar Rae karena perseteruan dua orang untuk memperebutkan cap jempol dan tanda tangan member EXO. Rae hanya meneguk minumannya sambil melihat kelakuan kedua temannya karena dia sudah mengamankan cap jempol dan tanda tangan idolanya.

Kamar menjadi sedikit tenang. SEDIKIT. Sekarang mereka berdua saling lempar kompor, eh, maksudnya saling lempar komentar tentang harta karun yang baru saja mereka dapatkan. Di tengah asyiknya riuh komentar, terdengar ringtone Heaven-nya Ailee.

“Halo? Ada apa kau meneleponku Kai?” tanya Sena pada telepon yang diletakkan di antara telinga dan bahu karena tangannya sibuk dengan “hartanya”.

Dari sisi Rae dan Rara hanya terdengar kalimat yang diucapkan Sena mengandung penjelasan posisi Sena sekarang, pulang pukul berapa. Meski hanya sebentar tapi cukup membuat hati Rara kebat kebit.

Maklumilah saja. Rara menyukai Kai yang notabene adiknya Sena. Tapi Rara menyimpan dengan baik isi hatinya dari Sena. Sedangkan Rae tahu isi hatinya. Entah darimana Rae tahu bahwa Rara menyukai Kai. Namun Rara keburu sakit hati ketika suatu hari mereka bertiga bertemu dengan pacar Kai di depan toko majalah.

Rae hanya memberikan tatapan memberi dukungan semangat pada Rara selama Sena dan adiknya berbicara via telepon. Rara hanya memberikan senyuman palsu sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja tidak usah mencemaskannya.

 

TBC

 

Maaf ya kalau bersambungnya nggak enak banget. Sebetulnya FF ini oneshoot. Tapi karena takut kepanjangan makanya aku potong jadi dua. Maafkan atas ketidaknyamanan yang ada #bow bareng pororo

6 pemikiran pada “Menemukan Cinta Yang Baru (Chapter 1)

  1. Next chap tidak lama kok
    Makasih udah baca dan dukungannya
    Main cast secara tertulis di depan Rae Bin tapi ternyata Sena ato malah Rara main castnya?
    Hehehe
    Mian, saya membuatnya tidak sesuai harapan pembaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s