Fate (Chapter 1)

Title: FATE (Chapter 1)

Author: @nissakirana

Genre: Romance, Family, Sad, Angst

Rating: PG

Cast:

  • · Helian Shojikina (OC)
  • · Nanarga Sadewa
  • · Oh Sehun
  • · Bimar Winata
  • · Ammar Panthera Tigris
  • · Byun Baekhyun
  • · Other cast.

Length: Chaptered.

Desclaimer:

Annyeong annyeong \(^o^)/ Author disini!! Ini FF pertama author, jadi need banget comment^-^)/ Dan juga, FF ini banyak typo, dan lain-lain. Terus, EXO akan muncul di chapter depan dengan peran penting! Nahloh._. FF ASLI BUATAN AUTHOR DARI PIKIRAN AUTHOR SENDIRI!! No Plagiarism, please. COMMENT PLEASE~

HAPPY READING~~~~~~~~~~~

 

Chapter 1

 

 

GADIS berambut panjang kecoklatan itu mengikat sepasang tali sepatunya yang masih berumur satu hari.  Ia berdiri, melirik ke sepatu barunya itu. Ia tersenyum. Bagaimanapun juga, sepatu berwarna putih hitam bertabur bintang itu hasil jerih payahnya bekerja paruh waktu di restoran ayam selama seminggu.

 

Ia mengeratkan ikatan rambut strawberry-nya yang mengikat rambut panjang sepunggungnya. Ia mengeluarkan sebuah cermin kecil dari tas punggungnya yang berwarna putih dengan garis-garis hitam. Ia menatap cermin sesaat, memandangi wajahnya yang cerah dan tersenyum, dengan lesung pipit yang manis seperti biasa. Ia membenarkan dasi kupu-kupunya itu, dan memasukkan cerminnya kembali ke tasnya. Ia berjalan ke pintu rumahnya dan menggesernya.

 

“Helian!” ujarnya, kepada dirinya sendiri. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, jurusan Arts and Performance Arts. Beruntung ia masuk universitas itu, karena beasiswa.

“Ibu, saya pergi dulu!” ujarnya, bersemangat.

“Hati-hati di jalan!” sahut ibunya dari dalam.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju garasi. Mengambil sepeda berkeranjang lamanya yang kemarin sudah ia poles lagi dengan warna biru cerah dan putih. Ia bersenandung, lalu mengambil ponsel miliknya dan memeriksa apakah ada pesan atau panggilan tak terjawab disana, namun hasilnya nihil. Ia memberengut, dan akhirnya ia menuntun sepedanya keluar dari garasi, lalu menaikinya dan mengayuhnya.

Sudah cukup lama ia mengayuh sambil bersenandung, dan akhirnya mulai terlihat halte bus di depannya.  Ia mempercepat kayuhannya, dengan peluh yang sudah banyak berjatuhan. Ia berhenti tepat di depan halte bus itu dan memakirkan sepedanya di tempat khusus, lalu menguncinya. Setelah yakin tak akan kendur, ia mencabut kuncinya dari sepedanya dan memasukkannya ke dalam tas.

Ia melirik jam tangan putihnya. Pukul 06.37, berarti ia masih punya banyak waktu, setidaknya ia takkan terlambat. Ia mengeluarkan cermin kecilnya dan sapu tangan dari tasnya. Ia memperhatikan wajahnya sendiri di cermin, lalu mengusap peluh yang sedari tadi berjatuhan. Ia tersenyum, hatiya berdegup tak karuan. Ia menaruh kembali cerminnya ke dalam tas, dan melirik siapa tahu bus sudah datang.

Tak berapa lama, bus yang ditunggu-tunggu datang juga. Ia masuk ke dalam bus, lalu menempelkan kartunya. Ia mengambil tempat duduk kosong dan melihat-lihat keluar jendela.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat seorang laki-laki sedang memakai headset di seberangnya. Tampan juga. Anak lelaki itu memakai jas yang tak asing, lelaki itu tertidur rupanya. Helian menaikkan alisnya. Ia perhatikan lagi jas lelakiitu dengan penuh perhatian dan ketelitian, dan apa yang ditangkapnya tidak salah. Jas itu adalah jas yang dierikan Universitas Indonesia untuk para mahasiswa jurusan kesenian. Tapi, jangan-jangan orang itu adalah seniornya?

Ponsel Helian bergetar. Ia meraba tasnya, dan mengeluarkan ponsel bermerek Samsung, berlayar sentuh dan berwarna putih dari tasnya. Terdapat satu message di layarnya. Dari Anggrek.

 

Message from: Anggrek (Work)

 

Helian!! Kamu sudah sampai mana? Aku sudah di sekolah, tapi masih di dalem mobil nih. Ga berani turun T^T kita bareng aja ya?? Cepaaaat.. Aku takut sama kakak kelas><

 

Helian tertawa getir dalam hati. Sebenarnya ia takut juga, karena ini hari pertamanya masuk kuliah. Ia pun membalas message-nya.

 

Message sent to: Anggrek (Work)

 

Iya iya~ ini aku lagi di bus, eh tau nggak, masa ada anak cowok ganteng gitu, pake jas kayak universitas kita yang baru, tapi jas nya nggak dia pake, keren banget tau ga>< tapi kayaknya kakak kelas kita deh :/

 

Helian memperhatikan lelaki itu lagi. Rambutnya pendek, berwarna cokelat tua kemerahan. Kulitnya putih, dan wajahnya tampak friendly. Matanya yang terpejam membuat Minji penasaran, dan tanpa sadar ia mendekati lelaki itu. Tiba-tiba bus berhenti. Lelaki itu terbangun, dan menggeliat. Ia mengucek-ucek matanya sesaat, dan menyadari bahwa Helian memperhatikannya. Lelaki itu memandang seragam Helian, dan sadar bahwa mereka berada di sekolah yang sama.

Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan untuk keluar dari bus. Sesampainya di pintu, ia melirik Helian yang masih memperhatikannya.

“Kamu nggak turun?” Tanya lelaki itu, tersenyum.

Helian seperti tersetrum, dan ia buru-buru menyusul lelaki itu yang sekarang telah turun dari bus. Lelaki itu memakai jasnya, lalu menggendong tas hitamnya. Helian memberanikan diri bertanya, dengan bahasa formal tentunya.

“Permisi… Apakah anda merupakan mahasiswa Universitas Indonesia?” tanyanya, getir.

“Ya, kamu pasti murid baru ya? Saya belum pernah melihat wajah kamu,” tanyanya.

Helian mensejajarkan langkah mereka, karena sedari tadi ia terus berlari kecil menyusul langkah lelaki ini, yang tingginya jika dibandingkan dengan Helian, mungkin Helian setinggi pelipis lelaki itu.

“Iya… bagaimana dengan anda? Anda semester berapa? Jurusan apa?”  Tanya Helian lagi.

“Semester 3, jurusan Performance Arts… Sudahlah, tak usah bicara terlalu formal ke saya… Nama kamu siapa?” Tanya lelaki itu, tersenyum.

“Nama saya Helian Shojikina… Kalau kamu?” Tanya Helian.

Melihat kakak kelasnya itu menyerenyit, ia buru-buru menambahkan, “Helian itu bunga matahari, kalo Shojikina itu bahasa jepang, artinya jujur. Padahal, saya lebih suka Korea. Kamu tau EXO? Saya sangat suka mereka… Entah kapan announce fandom dan warna official mereka,” ujarnya, menggerutu. Kakak kelasnya itu hanya mengangguk, tanda mengerti.

“Bimar,” katanya, sambil kembali mengucek-ucek matanya, berusaha untuk lebih sadar lagi.

Helian dan Bimar banyak berbincang-bincang, sampai mereka menyadari bahwa di depan mereka gerbang universitas hampir ditutup. Bimar melirik jam tangan emasnya. Mereka mulai panik, dan Bimar menarik tangan Helian, lalu berlari sekencang-kencangnya.

“Pak satpam!!!Ada berita gawat!!” teriak Bimar. Satpam yang sedang menyeruput kopi itu berhenti, dan bertanya-tanya.

“Ada apa, nak Bimar?” tanyanya, menggaruk kepala yang rambutnya sudah jarang.

Bimar menarik tubuh Helian dan masuk ke sekolah melalui celah pagar yang setengah tertutup, terengah-engah. Peluh membanjiri wajah mereka. Bimar menahan kepalanya, seperti kesakitan. Kenapa dengannya? Batin Helian.

“Kopinya dihabiskan, ya pak!” ujar Bimar, nyengir, lalu berjalan terus, berniat mengantarkan Helian ke kelasnya. Helian merasa, banyak tatapan tak menyenangkan saat ia berjalan dengan Bimar.

“Bimar, kenapa mereka menatap saya dengan tatapan seperti itu?” ujarnya, merasa tak enak.

“Bukan siapa-siapa. Biarkan saja. Atau mungkin karena sedari tadi kita terus bergandengan tangan,” jawab Bimar, terkekeh.

Helian spontan menatap tangannya. Benar saja, sedari tadi tanpa ia sadari tangannya terus menggenggam erat tangan Bimar. Helian buru-buru melepaskan tangannya, salah tingkah.

“Maafkan saya,” ujarnya, menunduk.

“Hyahahahahaha kamu ini. Sudahlah, lagi pula kita kan sudah berteman,” katanya, ramah.

“Eh? Berteman?” Tanya Minji, tidak percaya. Hari pertama di sekolah belumlah mulai, dan dia sudah mendapat teman seorang kakak kelas!

“Kamu nggak mau? Ya sudah,” jawab Bimar, santai.

“Bukan begitu… Kita baru kenal beberapa menit yang lalu, kan? Haha.. Senang berteman denganmu,Bimar,” jawab Helian, nyengir. Lalu melihat sekeliling.

“Ah, ini kelas saya! Terima kasih sudah mau menemani,” ujarnya, lalu membungkuk.

“Ya sudah, kalau begitu.”

Bimar membalikkan badannya dan berjalan menuju tangga.

 

&&&

 

Helian menemukan Anggrek tengah tertunduk di kursi. Tampaknya anak itu tertidur lagi, pikirnya. Bagaimana tidak? Anggrek terkenal karena kebiasaan tidurnya ketika SMA. Pernah ketika Anggrek tengah menemani Helian untuk membeli kasur baru, Helian pergi untuk ke toilet dan ia menyuruh Anggrek untuk menunggunya di KFC, namun tak disangka-sangka Anggrek belum datang juga, walaupun ia sudah menunggu selama setengah jam. Setelah akhirnya ia cari-cari kemana-mana, ia menemukan Anggrek tengah tertidur di tempat furniture kasur, dan ia pun dimarahi oleh pemilik toko tersebut.

“Anggrek!!!” teriak Helian, menepuk pundak Anggrek. Anggrek sontak terbangun dan mengerjap. Terlihat aliran air yang keluar dari mulutnya itu, dan itu berhasil membuat Helian tertawa dengan sangat ikhlas.

“Ada apa?” tanyanya, masih belum sadar benar rupanya.

“Nggaaak, kamu ini bisa tidak sih berhenti tidur di sembarang tempat?” ujar Helian sambil menjitak kepala Anggrek.

“Aduduh, sakit…” ujar Anggrek, meringis.

“Lihat, kamu membuat sungai lagi,” teriak Helian, tangannya menunjuk ke sudut bibir Anggrek.

Anggrek mengerjap, lalu tangannya menyentuh sudut bibirnya yang basah. Helian tergelak-gelak. Anggrek buru-buru membersihkan ‘pulau’ yang dibuatnya di meja, dan sungai yang telah beranak dari sudut bibirnya dengan sapu tangan. Memberengut, ia hendak melanjutkan tidurnya.

“Keluar yuk, jalan-jalan aja. Bosen. Seniornya ngapain aja sih lama banget,” keluh Helian

Mereka berjalan keluar dari kelas, dan pada saat yang bersamaan terdengar pengumuman dari radio ruang siaran.

“Pengumuman! Bagi seluruh mahasiswa dan mahasiswi baru yang akan mengikuti Masa Orientasi harap kumpul di hall gedung olahraga secepatnya! 15 menit kami tunggu di hall! Bagi yang terlambat, akan kami beri sangsi yang berat! …..” ujar seseorang dalam microphone.

“Eh apa katanya?” tanya Anggrek, memotong.

“Ssst! Diam dulu!” Helian menyibakkan rambutnya dan mempertajam pendengarannya.

“…. Waktu kalian 10 menit dari sekarang untuk sampai di hall, dan bawa buku catatan dengan alat tulis! Sekian!” Pengumuman itu terhenti. Sontak, mahasiswa baru berlarian ke kelas untuk mengambil alat tulis mereka, lalu berlari ke hall.

 

&&&

 

Helian dan Anggrek datang tepat ketika salah seorang senior akan menutup pintu. Mereka nyengir, dan  masuk dengan ngos-ngosan. Mereka melihat banyak juga murid seperti mereka, berkeringat karena berlari. Dan lebih parahnya lagi ternyata, mereka bukan dikumpulkan tepat di hall gedung olahraga yang mereka kira ber-AC dan dengan kondisi ruangan yang sangat baik sekali. Mereka dikumpulkan di samping hall, yaitu di lapangan basket indoor. Bisa dibayangkan pengapnya dan panasnya lapangan basket indoor, walaupun ada AC tapi dimatikan, dan kipas angin pun hanya diarahkan ke para senior saja.

Helian melirik ke para senior yang berdiri berjejer di depan ruangan, dan senior-senior itu terlihat dengan muka yang sangat biasa, senang malah. Apakah mereka tak merasa kasihan kepada adik-adik kelasnya ini? Ckckck, Helian berdecak pinggang.

“Hei kau! Sudah, duduk saja!” tegur salah satu senior yang dengan enaknya duduk bersandar di matras sambil mendinginkan diri di depan kipas angin.

Helian tersenyum padanya, berusaha ramah, lalu cepat-cepat duduk di samping Anggrek yang sudah hampir tidur (lagi) dan terus mencolek-colek Anggrek agar bangun.

“Semuanya mohon perhatian!! Sebentar lagi ketua dan wakil ketua panitia juga ketua MPK akan datang! Semuanya berdiri!” perintah para senior, dan mereka berdiri juga kali ini.

Sreg. Pintu geser terbuka. Menampakkan sosok yang terlihat cool, dan macho. Wajahnya tak dihiasi senyum, rambutnya yang cokelat kelewat rapi, terlihat sangat pas ketika dibandingkan dengan kulit putih susunya itu. Tatapan elang dibalik kacamata berframe hitamnya itu menembus mata Helian, yang langsung salah tingkah melihat mata cokelat itu.

Sambil berjalan, Helian terus menatap lelaki itu yang ternyata adalah seorang ketua organisasi. Yang diperhatikan memasukkan tangannya ke saku dan berjalan agak malas. Ia sangat keren. Dan sepertinya, bukan hanya Helian yang berpikiran begitu.

Namun anehnya, temannya yang hobi tidur itu malah tidak tertarik sama sekali karena ia bilang ia lebih suka ketua MPKnya, Helian sendiri bingung ia tahu dari mana ketua MPKnya siapa.

Orang yang terus Helian perhatikan itu duduk di meja paling tengah, dan ada penyangga nama di meja itu.

NANARGA SADEWA.

Itu yang tertulis disana. Helian terus memperhatikan Arga, tanpa menyadari bahwa sedari tadi wakil ketua organisasi yang mengekor di belakang Sehun adalah Bimar, yang tampak lebih rapi dari Sehun. Menyadarinya, Helian langsung tertawa kecil. Tak bisa ia mengira, kalau ternyata orang yang tadi pagi berkenalan dengannya itu adalah seorang wakil ketua organisasi. Bimar melambaikan tangannya ke Helian, yang dibalas juga oleh Bimar, yang langsung berhenti ketika sadar banyak tatapan tak menyenangkan baik dari para senior ataupun murid-murid yang bersamanya.

Hekian terus memperhatikan Arga, yang menurutnya sedari tadi memperhatikannya juga. Tidak mungkin, batinnya. Aku telah salah paham, pikirnya, namun matanya juga tak kunjung lepas dari wajah lelaki itu sekarang. Bagai Tom Riddle yang terpengaruh oleh ramuan cinta Merope, matanya terus ingin menuntut lebih. Ingin melihat Arga lagi, lagi, dan lagi. Sepertinya, ia mulai tertarik.

Mata hitam Helian bertemu dengan mata cokelat Arga. Arga memenahan kepalanya dengan kedua tangannya, lalu matanya tertuju ke arah Helian. Matanya penuh selidik, menyadari bahwa Helian tertarik pada dirinya. Arga mengeluarkan evil smirk khasnya, yang membuat Helian bergidik. Helian hanya tersenyum melihatnya, mungkin lebih tepat dibilang nyengir. Arga tersenyum sinis penuh kemenangan.

Seperti biasa, sebagai salah seorang mahasiswa terpopuler di kampus, Arga sudah mulai mengerti dan terbiasa jika banyak perempuan yang gencar dan terpesona akan dirinya.

“Eh, ketua MPKnya mana?” tanya salah seorang anggota panitia.

“Tadi dia lagi ke toilet, beser kali. Cara jalannya aneh banget, kayak yang kena Ambeien aja,” jawab Bimar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Anggrek!! Sebentar lagi ketua MPK datang!” seru Helian. Anggrek, yang mendengar kata-kata ‘Ketua MPK’ pun langsung bangun dengan mudahnya. Matanya terbuka lebar, mencari-cari wajah ketua MPK.

“Mana? Kamu bohong,” renggutnya.

“Kan kubilang sebentar lagi, dia lagi beser di toilet,” jawab Helian, setengah tertawa.

Sregg. Pintu terbuka lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Nah itu dia ketua MPKnya!!” seru Anggrek.

Helian melirik ke pintu. Perlahan-lahan muncullah wajah seseorang yang sebenarnya ia kenal, namun ia berharap tak pernah mengenalinya.

Orang itu mirip sekali dengan dia, mungkin aku salah orang, pikir Helian Jantungnya berdetak sangat cepat, wajahnya menegang, syarat akan emosi. Lelaki itu duduk di kursi dan di mejanya terdapat tulisan nama yang ia kenal.

Apa yang ditakutkannya, ternyata benar. Lelaki itu adalah orang yang ia harap tak pernah dikenalnya, yang telah meninggalkan ia dan ibunya dalam keadaan miskin, walaupun tadinya mereka sangat berada. Orang yang dengan teganya membuang ia dan ibunya berdua.

Penyangga nama itu bertuliskan:

 

AMMAR PANTHERA TIGRIS.

 

 

TBC

 

*ngumpetdibalikSehun* Author minta maap semuanya, karena chap 1 ini pendek._. tapi, chapt 2 nanti panjang kok~ Maapin author yaa TT_TT *nangisdipundakSehun

Eh iya, yang mau tau tentang author (readers:GAADA YANG MAU TAU!!) silakan mention author di @nissakirana atau buka wp author di http://nissakirana.wordpress.com/

Bubay._.)/ Sampai ketemu di chap selanjutnya!><

8 pemikiran pada “Fate (Chapter 1)

  1. Thor ni ff gabungan indo ma korea aku suka. tapi main cast sebenarnya siapa arga/bimar/sehun ? bukannya main castnya harus member EXO ya kok aku gk liat ada tulisan sehun ada sih tapi kayanya cuma salah nulis trus mana sehunnya mana ??
    pokonya chap 2nya sehun harus ada ya thor dan yg jadi main cast sehun yayaya *Bbuing Bbuing bareng Tao gege ^^ * nice ff
    next

    • Thanks for comment~

      Tapi sebelumnya author minta maaf, karena kelanjutan dari ff ini mungkin tidak akan author publish. Sebenarnya, ff ini sendiri terkirim karena author salah meng-klik file untuk di kirim lewat e-mail.. Tapi soal main cast, tetep EXO member yang jadi main cast nya^^
      Ini ff adalah versi Indonesia dari ff author The Last Hope yang sudah author publish.
      Jadi author masih belum tau, bakal lanjutin atau nggak. Tergantung readers juga…
      Gomawo ya udah mau baca^^

  2. kayaknya cerita ini pernah di publish deh tor !!! kayaknya waktu itu aku baca FF kayak ginu .. yg jadi bimar itu suho,ato mungkin aku salah ya?

      • Iya benar sekali~!

        Ini merupakan ff versi Indonesia dari ff author yg sudah dipublish di wp ini, yaitu The Last Hope. Sebenernya waktu itu author mau meng-klik The Last Hope chap.2 eh ternyata author salah klik. Dan ternyata dipublish~
        #authorcurhat

        Thanks for comment:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s