Love Sign (Chapter 6)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

BSM : Taeyeon – Closer, TTBY OST – Love, Love, Love

Masih adakah yang ingat dengan ff abal ini? semoga saja masih ada, yaaaa hihihi. Maaf untuk keterlambatannya, tolong salahkan otak saya yang tiba-tiba nge-blank, entah mau nulis apa untuk part yang kali ini *tbh. Tapi akhirnya jadi dan…. Yeah, dibuat se-spesial mungkin :p

Ini panjang, lho. Serius.

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun, ya ^^

Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

_____________________

Mworago?!” pekik Yoojun.

Shhhhh, nawa! *ikut aku!”

YAKK!”

Mobil Sehun melaju perlahan karena hujan yang masih mengguyur kota saat itu. Ia tak mau mengambil resiko yang terlalu besar jika ia mengebut. Hujan membuat jalan raya itu licin dan mobil Sehun bukanlah mobil yang tepat untuk mengebut.

“Ambil handuk yang ada dikantung berwarna putih. Ada dibelakangmu.” Sesekali ia melirik spion mobilnya, melihat gadis yang basah kuyup tersebut dengan tatapan iba sekaligus meremehkan. “Pakai saja.”

Yoojun mengangguk pelan seraya mencari-cari kantung yang dimaksud Sehun. Setelah menemukannya, Ia mengeringkan rambutnya. Lalu melingkarkan handuk yang sudah setengah basah tersebut ditubuhnya.

G-Gomawo,” kata Yoojun dengan menggigil.

“Jangan berlebihan, aku hanya tidak mau kau sakit karena kau harus membersihkan mobilku terlebih dulu.”

“Dasar gila!”

Sehun mengernyit, “Kau meneriakkannya tanpa menggigil, aku jadi ragu kalau kau kedinginan.”

Yoojun memilih untuk menjawabnya dengan tawa. Orang-orang seperti ini tidak akan bisa dihentikan jika dibalas dengan ucapan lagi dan lagi. Sehun benar-benar mirip dengan Hyesung, pikir Yoojun.

Gadis itu melirik jam tangan dipergelangan tangannya. Ia lalu mendesah pelan, mendapati jam ditangannya menunjukkan waktu yang menandakan bahwa kala itu sudah sore—bahkan sudah hampir gelap—dan itu berarti ia sudah lama berada diluar rumah. Tidak, bukankah ia sendiri yang bilang tidak ingin pulang ke Rumah? maka ia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya sendiri. Ia harus siap menanggung resikonya nanti.

“Apa rumah Kai masih jauh?” tanya Yoojun.

Hmm sebentar lagi sampai,” jawab Sehun. Pemuda itu lalu memutarkan stir mobil kearah kanan. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya penasaran,” dusta Yoojun. Gadis itu sebenarnya lebih memikirkan keadaan rumahnya dibandingkan waktu yang harus ia tempuh menuju rumah Kai.

Hoo.” Sehun ber-oh ria.

Yoojun tak sadar bahwa sedari tadi iPhonenya mati dan ia juga tidak tahu bahwa kakaknya sedang menghubunginya. iPhonenya terlalu lama basah dikantung bajunya karena ia hujan-hujanan tadi. Yoojun, tak memikirkannya sedikitpun.

Pikirannya sedang terarah pada jalan raya.

Sehun’s point of view

“Jangan tidur! Ingatlah bahwa kau harus membersihkan mobilku.” omelku cepat melihat Yoojun hampir terlelap. Yeoja itu terkaget dan menggelengkan kepalanya. Ia menekan-nekan wajahnya, lalu memukul-mukul pipinya. Bodoh sekali.

Rumah mewah itu terlihat tak lama setelah aku membelokkan stirku kearah Kiri. Rumah mewah yang kumaksud itu adalah rumah Kai—atau harus kusebut sebagai tuan muda? Yah, hidup Kai memang persis seperti seorang tuan muda.

Pemilik rumah yang tinggal disana hanyalah Kai, setelah itu rumahnya diisi dengan pegawai-pegawai yang bekerja sebagai pelayan disana. Nenek Kai juga sudah jarang mengunjunginya sejak beberapa bulan yang lalu. Kurasa sekarang, beliau hanya mengunjungi rumah tersebut jika ada acara keluarga saja.

Ommo dae……bak!”

Aku menoleh. Melihat gadis itu tak henti-hentinya mengucapkan kata ‘daebak’ saat mobilku melaju dihalaman rumah Kai. Lucunya, ia mengatakan kata tersebut disaat tubuhnya sedang menggigil. Bisa dibayangkan betapa konyolnya suara yang ia buat sedari tadi.

Tok.. tok.. tok

Sebuah ketukkan dikaca mobil membuatku (lagi-lagi) menoleh. Tetes-tetes air yang berada dikaca mobil membuatku susah untuk menerka siapa yang mengetuk kaca pintu mobil ini. Aku memberhentikan mobilku. Saat sebuah tangan mengusap tetes air tersebut, dan muncul sebuah senyum yang—walaupun terlihat samar—berasal dari seorang pemuda yang sangat kukenal, ialah Kai.

Aku membuka pintu mobil dan keluar saat itu juga. Kai sudah menggenggam sebuah payung dan satu payung lagi yang ia pakai untuk memayungi dirinya dari hujan.

Dorawasseo! *kau kembali! Kau rindu padaku ya?” tanya Kai yang teredam oleh suara hujan.

Aku tak menjawab, melainkan mengatakan perihal kedatanganku untuk yang kali ini. Menatap Kai lama barulah aku mengatakannya, “Aku membawa seseorang yang tadi siang kita bicarakan.”

Eo? Nuguya?” tanya Kai heran.

Pintu mobil terbuka, saat itulah Yoojun keluar dengan kepala yang dibalut handuk berwarna hijau. Dengan tanggap ia tutup lagi pintu mobilnya lalu menoleh kearah kami. Ia berlari kecil menghampiriku dan Kai yang sedang berada dibawah payung.

Annyeong,” ucap Yoojun diiringi tawa.

“Ya ampun! Kenapa kau bisa basah kuyup begini?” Kai menatap Yoojun dari atas hingga bawah. “Apa Sehun mendorongmu hingga kau tersungkur? Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan Sehun!”

Aku mengernyit. “Mwo?”

Dwaesseo *lupakan saja! Ayo masuk kedalam!” teriak Kai. Pemuda itu lalu pergi dengan Yoojun, setelah memberikanku sebuah payung bermotif bunga dengan warna merah muda.

Sialan.

***

“Jadi dia bukan tersungkur melainkan sengaja hujan-hujanan?” tanya Kai setelah meneguk hot chocolatte dalam cangkir berwarna gading itu. Ia sempat tersedak mendengar penjeleasan Sehun tentang Yoojun yang basah kuyup.

Sehun tak menjawab. Pemuda itu malah meniup-niup secangkir teh hitam yang sedang ia genggam dengan kedua tangannya. Lalu sesekali meneguknya.

Kedua pemuda tersebut sedang menunggu Yoojun yang sedang mengganti pakaiannya. Pakaian yang ia pakai benar-benar sudah basah dan mau tak mau ia harus menggantinya. Yoojun kadang merasa menyesal tidak pulang kerumah, mengingat ada beberapa hal penting juga yang harus ia ganti dan Kai pasti tidak memilikinya.

Masa bodo, umpat Yoojun dalam hati. Kilatan flashback tentang orang tuanya masih membekas diingatannya. Dan hatinya.

Aigoo eotteohke?!” runtuknya saat melihat dirinya dalam pantulan cermin besar yang berada dihadapannya. Sebuah blus oversize berwarna baby blue melekat ditubuhnya. Ia lalu keluar dari ruangan tersebut.

Agasshi sangat cocok dengan baju ini!” pekik salah satu pelayan.

Yoojun membungkuk, “Kamsahamnida, tapi aku tidak—”

“Maaf tapi ini perintah dari majikan kami, Agasshi harus memakainya,” sergah pelayan yang lain cepat.

“Baiklah, kamsahamnida.” Yoojun membungkuk lagi. Gadis itu lalu berjalan perlahan menuju ruang tamu dimana Kai dan Sehun berada. Ia terlalu malu untuk menampakkan diri dihadapan kedua namja tersebut, terlebih Kai.

Yoojun samar-samar mendengar tawa Kai, dan dengan cepat menghentikan langkahnya. Sepertinya ia perlu untuk mengatur napas dan detak jantungnya yang sekarang sudah tak beraturan. Rasanya seperti sudah tidak kuat berjalan, ucapnya dalam hati.

Jeogiyo*permisi…. A.. Anu…”

Kedua pemuda yang sedari tadi mengobrol, sekarang menghentikan obrolan mereka. Mereka terpaku terhadap sosok yeoja yang sedang memakai bluse old fashion tersebut berjalan kearah mereka. Sehun juga sempat terpaku, namun memang pada dasarnya orang yang realistis, ia lebih memilih untuk berkomentar sesuai dengan apa yang ia lihat—dengan kesadarannya—sekarang ini, “Kau nampak aneh.”

Ya, Sehun-ie, apa matamu sedang bermasalah?” sembur Kai merespon perkataan Sehun. Namun, pemuda yang dimaksud itu malah tak merasa bersalah—bahkan ia tak menoleh saat Kai mengatakan itu padanya. Merasa kalah, Kai memilih untuk berdeham.

Gwenchana! Aku memang aneh kalau berpakaian seperti ini,” ucap Yoojun, mencoba mencairkan suasana. “Lagipula ini hanya untuk sementara.”

Kai menatap Sehun sinis, “Baiklah, ayo kita bermain kartu! Yang kalah harus menceritakan pengalaman konyol!”

Ne?!” pekik Yoojun.

Nolja! *Ayo bermain!”

Permainan kartu sudah berlangsung selama dua jam lamanya. Jam tua dengan kokoh berdiri diruang tamu tersebut, menunjukkan pukul 9:05 malam. Kali ini giliran Yoojun yang kalah setelah beberapa kali Kai yang terus-menerus dikalahkan oleh Sehun dan Yoojun.

Yoojun menatap kedua pemuda dihadapannya dengan tatapan memohon. Memohon untuk diberikan pengampunan, tetapi nihil, ia harus tetap menceritakan pengalaman konyolnya.

“Aku pernah ditembak oleh seorang senior sewaktu aku masih SMA,” kata Yoojun memulai pembicaraan. Gadis itu menghentikan ucapannya, lalu menatap mereka berdua lagi.

Ppali malhaejulke *Cepat katakan!” seru Sehun geram.

NNe, Namanya Yong Joonhyun. Dia selalu dipanggil Joon dan ia sangat terkenal karena keahliannya dalam permainan basket,” jelas Yoojun. “Pertamanya ia memberikanku surat yang isinya menyuruhku untuk menunggunya di Taman belakang sekolah. Aku kira aku akan dibully.

“Tapi ternyata dia malah menyatakan perasaannya padaku,” lanjutnya. Sehun menatap dan mendengarkan cerita ini dengan serius. Tidak mau tertinggal satu katapun dari mulut Yoojun. Ini menarik, pikirnya. Tak bisa dipungkiri kalau Sehun juga mendengarkan sambil menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya. Yakin, kalau diakhiri dengan penderitaan, Sehun akan tertawa. Keras-keras.

“Aku menyuruh temanku untuk menunggu dan mengawasiku dari jauh. Aku benar-benar takut akan dibully! Jinjja! Aku ‘kan tidak pernah dekat dengannya.” Yoojun mulai asik sendiri. “Saat ia menyatakan perasaannya… aku… aku malah lari.”

Sehun menahan tawa. Cerita ini begitu lucu begitu juga ekspresi orang yang menceritakannya, pikir Sehun. Bagaimana mungkin ia bisa lari sedangkan ia sedang berada dalam situasi seperti itu? Sehun tak habis pikir dengan cerita konyol yang satu ini. Namun, sepersekian detik kemudian, ia sadar bahwa kini hanya suaranya dan Yoojun saja yang terdengar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Kai disana.

“Payah,” gumam Sehun saat melihat temannya sudah terlelap disampingnya. “Aku akan memanaskan mobil, kau tunggu disini saja.”

Yoojun mengangguk setuju. Gadis itu lalu perlahan-lahan mencoba mendekati Kai yang sedang terlelap itu. Tanpa sadar, sebuah senyum terukir dibibirnya.

Eommo, Gwiyeowo! *Ya ampun, lucunya!”

Posisi tidur Kai yang meringkuk itu membuatnya terlihat lucu. Seperti kucing yang sedang kedinginan, namun yang ini lebih besar, pikir Yoojun. Gadis itu mengitari sofa bergaya victorian itu sambil terkekeh tiada henti.

Noona…”

Yoojun mengerutkan dahinya. Mencoba mencerna maksud dari dengkuran Kai. Apa ia baru saja memanggilku noona? Kata Yoojun dalam hati.

“Jihye… Noona…”

Terjawab sudah semua yang ia pertanyakan. Gadis itu, lalu menghela napasnya sedih, ia menjauh. Matanya terasa panas tak lama kemudian. Entahlah, keadaan saat itu menjadi panas ketika Yoojun melihat Kai yang sedang—mungkin—memimpikan Jihye.

“Sedang apa kau?” tanya Sehun yang tiba-tiba muncul dibelakang Yoojun.

Yoojun menghela napasnya lagi, lalu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. “Dwaesseo! ayo antarkan aku pulang!”

Gadis itu berjalan tanpa menunggu lawan bicaranya menjawab. Ia berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi kebelakang. Seakan ia tak sanggup untuk menoleh ataupun melirik. Kalau saja Yoojun bahwa sedari tadi Sehun melihatnya. Sehun melihat apa saja yang terjadi pada dua muda-mudi tersebut.

Sehun menatap Kai yang sedang tertidur itu, sinis.

“Dasar bodoh.”

Setelah mereka mengeluarkan mobil dari rumah Kai, Sehun dan Yoojun langsung melesat kearah jalan raya. Mereka sekarang sedang berada didalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Yoojun. Gadis itu, Park Yoojun, tidak ada lagi gairah tersirat diraut wajahnya. Sedari tadi ia hanya menatap Jalan raya yang mulai sepi itu dengan tatapan kosongnya. Sesekali gadis itu menghembuskan napasnya berat, lalu menggeleng-geleng yang entah maksudnya apa.

“Aku ingin bertanya,” kata Sehun perlahan.

“Katakan saja.” Yoojun tak menoleh.

“Aku ingin tahu, kenapa kau bisa hujan-hujanan tadi.”

Yoojun akhirnya menoleh. Ia terdiam, tak bisa menjawab. Namun didalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menceritakannya pada orang disampingnya tersebut. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Berharap bisa membuat sebagian dirinya—bila perlu sepenuhnya—merasa lega.

Dan gadis itu memilih kata hatinya, “Aku bertengkar dengan orang tuaku.”

“Ibu dan Ayahku baru saja tiba di Korea. Mereka hendak membawaku ikut bersama mereka ke Paris,” lanjutnya. Ia mulai terisak. “Aku tidak mengerti alasan mereka untuk memintaku ikut bersama mereka. Padahal mereka sudah mengabaikanku selama sepuluh tahun lamanya. Lalu tiba-tiba memintaku untuk ikut bersama mereka, meninggalkan Korea, negeri dimana aku lahir dan dibesarkan.”

Sehun menghentikan mobilnya dan menepi. Ia tidak akan fokus jika mendengarkan cerita sambil menyetir, dia tidak ingin mati konyol.

Yoojun terisak lagi, “Apa mereka tidak memikirkan perasaanku dan perasaan kakakku?”

“Kau tahu, kau itu seperti remaja labil,” papar Sehun akhirnya. “Hidup kita tidak ditentukan oleh orang tua, namun pilihan orang tualah yang akan mempengaruhi hidup kita. Orang tua pasti memiliki tujuan yang baik walaupun sangat sulit dimengerti. Aku tidak membela orang tuamu juga tidak membelamu, namun aku yakin, mereka punya alasan yang cukup kuat untuk meninggalkanmu selama sepuluh tahun.

“Kalau kau bertanya tentang perasaanmu dan kakakmu, apa kau pernah sekali saja memikirkan perasaan ayah dan ibumu?” lanjut Sehun.

Gadis itu terdiam.

Sehun mulai menjalankan mobilnya lagi. Membiarkan Yoojun memikirkan kata-kata yang baru saja ia lontarkan barusan. Tanpa sadar ia tersenyum, puas.

Ia tidak ingin Yoojun menyesal seperti apa yang telah ia perbuat. Kehilangan ibu membuatnya mengerti bagaimana perasaan Yoojun. Pertengkaran didalam lingkup keluarga memang sudah biasa baginya—atau bisa dibilang, itu adalah makanan sehari-harinya. Ayah dan ibunyalah yang selalu bertengkar, tanpa memperdulikan anaknya.

Dan hal itulah yang membuatnya makin menjadi pribadi yang dingin dan selalu berdiam diri. Hingga ia bertemu dengan Kai, seorang anak yang ceria dengan latar belakang keluarga yang hampir sama dengannya. Sama-sama hidup dengan kurangnya kasih sayang orang tua.

Ibunya yang meninggal setelah beberapa minggu dari perceraian dengan ayahnya, membuat Sehun makin terpukul. Pada umurnya yang masih 16 tahun, ia memutuskan untuk tinggal menyendiri disebuah apartemen.

Rumah Yoojun sudah mulai terlihat. Sehun, lalu menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah tersebut. Yoojun membuka pintu mobil dan keluar dari mobil tersebut. Gadis itu lalu membungukkan tubuhnya, “Kamsahamnida!”

Mobil Volvo itu kini sudah melaju. Meninggalkan Yoojun sendirian dengan sebuah paperbag berisikan bajunya yang basah. Gadis itu memeluk tubuhnya, malam itu memang sangat dingin.

Ia membuka pintu pagarnya perlahan. Setelah berhasil, ia pun masuk dan membuka knop pintu lebih perlahan. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun sekarang ini. Sudah cukup sedari tadi rasa sakit yang ia dapatkan. Tanpa banyak pikir lagi, gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di Lantai dua. Tidak peduli kakaknya memanggil namanya, ia hanya harus masuk kedalam kamarnya.

Cklek

Pintu kayu tersebut terbuka dan langsung ia tutup cepat, yang artinya tidak mau diganggu siapapun. Kamar dengan langit-langit berwarna peach dan dinding berwarna plum—kamar ini benar-benar nyaman. Apalagi Yoojun juga memasang beberapa plastik glow in the dark berbentuk benda-benda antariksa; kamarnya semakin ramai saja.

Ranjang empuk nan bersih itu… Ah, Yoojun jadi tergoda untuk tidur. Jujur saja, hari ini melelahkan. Mungkin ia masih bisa mentolelir jika tubuhnya memang lelah, tapi kalau hatinya yang lelah? Dia tak bisa.

Lelah…

Matanya terpejam begitu saja.

***

Sinar matahari masuk tanpa permisi. Jendela itu tak terbuka namun gorden yang menutupinya sudah terbuka. Gorden berwarna kelabu itu sudah tersibak kedua arah yang berlawanan. Penghuninya masih mengerang tak jelas. Matanya terbuka namun beberapa detik kemudian tertutup lagi.

Berkedip.

Mata Yoojun terbuka sepenuhnya. Gadis itu refleks meraba keningnya ketika merasakan hawa dingin disana. Handuk basah, pikirnya.

“Pagi, Yoo-gom.” Taejun yang duduk tak jauh dari ranjang menatap adiknya dengan seulas senyum manis.

“Pa-pagi?”

“Tidurmu nyenyak sekali,” ujar Taejun, bangun dan mendekati adiknya. “Hingga tiga hari kau tidak bangun, lho.”

Yoojun meringis, “Iya itu karena aku merasa—MWORAGO?!”

Gadis itu sekarang mengambil sebuah jam weker yang berada dimeja kecil. Dilihatnya jam itu menunjukkan pukul 6:45. Kalaupun Yoojun sudah merasa baikan dan ingin pergi kesekolah, gerbangnya juga takkan terbuka. Dia. Sudah. Pasti. Telat.

“Kau tidak membangunkanku?” seru Yoojun.

Handuk basah itu terjatuh sesaat ia bangun dari posisinya. Namun Taejun lebih tanggap, sehingga handuk itu kini sudah berada digenggaman tangannya sebelum terjatuh keatas ranjang Yoojun. Taejun berdecak sebal.

Pria itu langsung meninggalkan adiknya dan berjalan melenggang keluar kamar. Ditutupnya pintu kamar Yoojun, mendesah berat.

“Istirahatlah!” teriak Taejun.

Kaki jenjangnya melangkah menuruni tangga dengan sesekali melirik ibunya. Ibunya yang nampak serius itu edang berkutat dengan sebuah laptop dan segala antek-anteknya. Taejun melirik lagi kearah meja makan. Disanalah ia melihat ayahnya yang lebih memilih untuk bersantai dan minum teh dimeja makan. Ia mendesis pelan.

Sedikit ragu untuk memberitahukan keadaan Yoojun yang membaik dari demam setelah melihat kedua orang tuanya sedang sibuk begitu membuat moodnya turun. Malas, tepatnya. Tak ada gunanya mereka diberitahu, pikir Taejun. Pria itu menggeleng pelan, lalu ia berjalan menuju kamarnya.

Dia harus berangkat kerja sekarang.

Kai’s point of view

Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif

Ini sudah kesekian kalinya aku menatap layar ponsel sembari menekan-nekan tombol telepon. Ya, aku sedang berusaha menelpon Yoojun. Dia sudah tidak masuk selama tiga hari—dan ini hari keempatnya untuk tidak masuk—parahnya aku tidak mendapatkan kabar tentang dirinya sama sekali. Saat kutanya pada temannya yang itu, dia hanya bilang:

“Mau tahu aja.”

Sebenarnya ada apa ini?

Apa mereka semua mempermainkanku?

Aku cukup kesal saat jawaban yang kudapatkan malah nampak seperti lelucon. Come on, siapa yang tidak kesal kalau pertanyaanmu—dan itu pertanyaan yang cukup serius—hanya dijawab oleh kata-kata “Mau tahu aja” lalu orang tersebut berlalu meninggalkanmu. Iya, itu aku. Aku yang sedang diperlakukan oleh seorang gadis yang kupikir juga seumuran denganku. Cukup mengesankan juga, kalau ingin jujur. Ini kali pertamanya aku diperlakukan seperti itu.

Rasanya seperti… diabaikan.

Lalu terbesit sebuah kilatan pemikiran teraneh dikepalaku. Kenapa juga aku peduli? Teringat akan hal tak resmi dan resminya hubunganku kali ini. Aku jadi tidak mood.

Sekarang aku masih berada diareal taman sekolah. Kali ini kelas khusus sedang beristirahat. FYI, sekolah kami memiliki sistem yang cukup aneh. Dibagi menjadi dua bagian yang juga waktu serta penempatannya tak sama. Kalau kami sedang istirahat, itu artinya kelas reguler sedang belajar. Jika kami sedang ujian tulis, maka kelas reguler sedang ujian praktek. Begitu sebaliknya.

Oh… kalau libur itu disamakan.

“Coffe Latte-nya, silahkan.”

Aku mendongak. Seorang pelayan kantin meletakkan segelas coffee latte dihadapanku. Aku lantas tersenyum, seraya mengucapkan terima kasih padanya. Sesegera mungkin menyeruput Coffe latte tersebut. Ah, rasanya seperti sudah lama tidak merasakan coffee latte buatan kantin ini.

Benar-benar nikmat. Minuman ini bisa menaikkan moodku berkali-kali lipat. Moodboster. Apalagi kantin tidak terlalu ramai seperti biasanya—sekelebat pikiran mengingatkanku pada Jihye Noona.

Noona yang selalu tersenyum ceria. Ia yang selalu menyempatkan waktunya untuk datang dan membawakanku bekal. Noona adalah gadis penuh etika serta cerdas. Dia menamatkan sekolah menengahnya hanya selama dua tahun dan sudah bekerja sebagai seorang eksekutif di Perusahaan ayahnya. Noona pintar memasak, selain itu juga ia pintar bermain baseball.

Tapi,

Noona yang selalu kusayangi itu…

Sekarang sudah berada diatas sana.

Entah ia memandangiku dengan segala penyesalan atau dengan rasa kelegaannya. Menyesal karena membuatku menjadi namja yang sekarang ini atau lega karena aku sudah menemukan penggantinya.

Park Yoojun… haruskah?

“Cih, tidak baik melamun ditengah-tengah kantin.” Aku mendongak, mendapati Sehun sudah duduk dihadapanku dengan sebungkus roti. Ia menatapku heran, “Kenapa? Jihye Noona lagi?”

“Sok tahu.” Seratus buatmu, Oh Sehun.

Sehun mendesis. Tanpa banyak kata lagi padaku, ia membuka roti yang ia genggam. Lalu menggigit roti tersebut dan mengunyahnya perlahan. Aku yakin, demi apapun, roti tersebut adalah roti tanpa sedikitpun selai atau isi didalamnya. Yang kutahu bahwa Sehun itu tidak suka yang manis-manis.

“Park Yoojun, ternyata sedang sakit. Aku mendapatkan informasi ini dari librarian kelas reguler,” ujar Sehun tiba-tiba membuatku menghentikan aktifitasku—meminum coffee latte—sejenak, lalu menatapnya.

“Hebat! Aku tak tahu kalau kau bisa mencari informasi seperti itu!” seruku refleks.

“Ini pujian atau hinaan?”

“Pujian yang menjurus kepenghinaan, kamu harus berterima kasih denganku.”

“Cih,” decak Sehun, ia nampak kesal.

Kali ini moodku naik dua kali lipat. Entah mengapa, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang mengetahui keadaan Yoojun sekarang ini. Yah, meskipun dia sedang sakit. Namun itu lebih baik dibandingkan aku sama sekali tak tahu kondisinya. Aku menatap Sehun heran, beberapa lagi adalah hari peringatan kematian ibunya dan ia santai sekali. Biasanya ada beberapa persiapan—dan keluarga Sehun selalu melakukannya. Aku tak melihat sirat-sirat kecemasan atau ketakutan diwajahnya.

Dulu, Sehun akan dengan raut wajah cemas. Menghampiriku dan mengajakku bermain seharian di Apartemennya. Aku tahu ia menutupinya. Aku sangat tahu kalau dia sebenarnya mirip-mirip denganku—tidak ekspresif—terlebih masalah tentang orang tua.

Aku tahu, meskipun nada bicaranya selalu datar.

“Lima hari kedepan, kau mau datang?” tanya Sehun memecah keheningan diantara kami. Aku diam, berpikir. Tahun lalu aku tidak ikut karena aku sedang kena flu. Kalau tahun sekarang aku tidak ikut, aku merasa tidak enak pada Sehun.

Aku lantas tersenyum, “Aku tidak janji tapi akan kuusahakan.”

“Jangan khawatir. Ayahku sepertinya tidak datang tahun ini. Well, jikapun ada yang membuat hatinya tergerak untuk menginjakkan kaki disana, itu adalah sebuah keajaiban.”

“Ayahmu itu ayahmu.”

“Terserah,” papar Sehun, nada jengkel mulai terdengar disela perkataannya. Tangannya bergerak mendekatan bungkusan roti yang tersisa separuh itu kemulutnya. Lalu ia mengigitnya dan mulai mengunyahnya perlahan lagi. “Aku ingin mengajak Yoojun juga.”

Aku terdiam. Apa maksudnya mengajak Yoojun? Yang kutahu selama ini, Sehun adalah anak yang hampir anti-sosial. Ia bahkan tidak pernah bermain selain denganku atau dengan buku-bukunya. Atau mungkin pamannya. Sehun juga bukan orang yang mudah mengajak—terlebih gadis yang belum lama ia kenal.

Lama dalam artian, setahun atau dua tahun.

Sehun selalu berhati-hati. Dia orang yang sangat tajam dan berhati-hati. Melihatku menatapnya tak percaya, Sehun malah berkata, “Tentu saja Yoojun hanya kuajak, bukan berarti harus datang.”

Aku refleks membalasnya, “Aku tahu itu. Memangnya apa lagi?”

“Apa maksudmu dengan ‘apa lagi’? Sudahlah aku muak. Bilang saja kau cemburu lalu pembicaraan aneh yang satu ini selesai. No doubt.”

Jiltuneun museun *cemburu apa(nya)!”

Sehun menyeringai. Ia nampak menyeramkan. “Neo jinjja jiltuhaneunde, keuge boyeoyo *Kau terlihat seperti benar-benar cemburu.”

Aku akhirnya diam. Membiarkan diksi Sehun yang menang—walaupun sepertinya aku meng-iyakan dalam hati—untuk kali ini. Toh, memang dia yang selalu menang dalam semua perdebatan yang aku dan dia pernah lakukan. Mungkin memang sudah bakat ilmiahnya Sehun untuk pandai berdebat. Mungkin.

Ja, kita kembali ke Kelas!”

Aku sudah berdiri dari kursi dan melangkah lebih maju menjauhi meja bundar tersebut. Tapi Sehun tidak beranjak, ia malah menatapku aneh.

Wenireun *ada apa?” tanyaku heran.

“Setelah ini ada pelajaran fisika tapi kenapa nadamu bersemangat begitu?”

Sehun menang telak kali ini. Lihatlah, bahkan lidahku kelu tak bisa membalas kata demi kata yang ia lontarkan tadi. Tapi, aku sendiri juga tidak tahu kenapa nada ajakanku bisa se-semangat itu.

Aku ini sedang aneh, ya?

“Lupakan saja,” ujarnya sambil menggeleng pelan. Sehun akhirnya beranjak dari posisinya yang duduk itu. Lalu berdiri dan langsung menyamakan posisinya sama denganku.

“Kita balapan, deh. Gimana?”

Aku sudah mengambil ancang-ancang. Hendak berlari duluan, wanti-wanti kalau saja Sehun menyetujui ajakanku yang kali ini. Sehun itu orang yang tidak bisa ditebak. Kepalanya sama sekali tidak terlihat transparan dimataku.

Hingga tepukan tangan Sehun dibahuku membuatku kembali keposisi awal. Sehun kemudian berkata, “Kau tahu sendiri ‘kan kalau aku tidak suka lari-lari?”

Bahuku melemas. Mendadak lupa dengan semua ketidak-sukaan dan kesukaan sahabatku yang satu ini. Sehun malah sudah berjalan mendahuluiku. Ia sama sekali tidak menoleh kebelakang lagi untuk melihatku atau untuk sekedar menatapku remeh.

Hah, anak ini benar-benar tidak asyik.

.

.

.

(Untuk bagian ini saya saranin untuk mendengarkan OSTnya TTBY – Love, Love, Love *winks)

Bendungan yang berada dikota tersebut memang tempat yang pas untuk berjalan-jalan. Sungainya yang bersih, serta rumput hijau yang meliuk-liuk tertiup angin itu membuat orang yang lewat ingin segera merasakan duduk disekitar bendungan. Bahkan, banyak orang-orang yang membawa peliharaannya untuk bermain disekitar bendungan ini.

Begitu pula yang ingin dilakukan oleh Park Yoojun. Gadis itu sekarang sedang berjalan santai mengitari jalanan setapak yang lebar disisi bendungan. Tangannya ia simpan dibalik saku celana, sedangkan matanya dengan antusiasme, menatap sekitar. Angin sore kali itu memang cukup menggoda untuk bermain keluar. Anginnya lembut dan sedikit dingin—otomatis membuat semangat menjadi bangkit. Yoojun, seketika meringis.

Terbesit dipikirannya tentang kejadian Kai yang mengigau tentang Jihye. “Haaaaaaah,” Yoojun menghela napas panjang. Kembali menghirup udara segar dan menghela napasnya lagi. Terkadang, hal-hal tersebut cukup untuk membuatnya merasa ragu.

Yah, merasa ragu kalau ia akan berhasil untuk membuat Kai mencintainya.

Yoojun sedikit terlambat kali ini. Kalau saja ia datang tiga puluh menit lebih awal, mungkin orang-orang masih ramai—atau kalau ia beruntung, ia bisa menyaksikan beberapa anjing yang sedang bermain lempar tangkap dengan majikannya. Sekarang, orang-orang sudah mulai jarang. Langit yang kebiruan juga sudah berwarna jingga.

Terlalu sore…

Yoojun mendesah kecewa, “Aku payah, ya.”

Kembali teringat oleh perlakuan orang-tuanya hari ini. Tebak saja, Yoojun diberikan sebatang cokelat oleh Ayahnya sesaat sebelum ia berjalan keluar rumah. Ayahnya bilang, itu cokelat khusus darinya dan cokelat itu hanya satu didunia karena ayahnya sendiri yang membuat cokelat tersebut. Awalnya, Yoojun ingin menolak, tapi tatapan teduh ayahnya itu membuat Yoojun—akhirnya—menerima cokelat tersebut.

Ya, cokelat tersebut sekarang berada dikantung cardigan rajut milik Yoojun. Tangannya beralih mengambil cokelat tersebut dan menatapnya lekat-lekat.

“Ayahku baik, tapi ibuku…” Yoojun menghela napas. Suaranya tercekat, sehingga tak bisa melanjutkannya lagi. “Oke, Taejun bilang mereka semua baik.”

Kaki Yoojun sekarang bergerak ketepi Bendungan. Gadis itu duduk disana setelah memastikan tidak ada orang selain dirinya yang juga duduk disana. Matanya mengerling, menatap air yang mengalir dari bendungan tersebut. Sedikit terkesima namun tetap saja tak merubah suasana hatinya.

Yoojun memasukan batang cokelat tersebut kedalam kantung cardigannya lagi. Sekarang ia hanya akan menikmati angin yang sedari tadi meniup-niup rambutnya. Yoojun ingin membuang semua perasaan sakitnya.

Aku harusnya mengerti keadaan orang tuaku…

Tanpa mereka, aku takkan ada didunia ini…

Aku sadar, aku memang tak pernah memikirkan perasaan mereka…

Aku ini anak macam apa?

Matanya terpejam, napasnya teratur.

Aku harus minta maaf pada mereka, terutama pada ibuku…

Aku… kupikir, aku sudah keterlaluan…

Perasaannya makin tenang seketika deru angin menyapu lembut puncak kepalanya. Membuat Yoojun hampir tersenyum, damai. Semburat-semburat merah muncul dikedua pipinya.

Ia ingin menangis, lega.

Dan, Kai… apa aku harus mengakhirinya?

Aku makin sadar, kalau aku hanya akan menyusahkannya saja…

Yoojun menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya seakan napas yang ia hirup tadi adalah beban. Seakan kalau beban tersebut dihembuskan akan membuat pikirannya lebih ringan. Yoojun, lalu membuka matanya, menatap sekeliling lagi—agar perasaannya makin tenang—masih dengan tatapan antusias.

Oraenmaniya *sudah lama sekali,” gumamnya.

Detik berikutnya, tatapan Yoojun terpaku pada sosok yang tak jauh darinya. Rasa familier terhadap sosok itu makin menguat tatkala sosok yang ia lihat itu juga balik menatap Yoojun. Darahnya mendesir, seakan sosok itu memiliki arti penting.

Jangan-jangan…, Yoojun mulai curiga.

Cepat-cepat gadis itu menggelengkan kepalanya, bermaksud membuang perasaan curiganya pada sosok itu. Aku hanya sedang berdelusi, ucapnya dalam hati. Tapi, sosok itu kini berjalan kearah Yoojun. Sosoknya yang terhalang oleh cahaya senja matahari itu makin membuat Yoojun sulit untuk memastikan siapa dia sebenarnya.

Disaat langkah kaki itu berada tepat 2 meter dari tempat Yoojun, barulah Yoojun terkaget-kaget. Mulutnya terbuka lebar, namun refleks, tangannya menutupi itu.

“Kai!!” pekiknya seketika melihat bahwa sosok itu adalah Kai. Yoojun buru-buru berdiri, menatap Kai lebih lagi. Sekarang ia percaya bahwa pemuda yang ada dihadapannya adalah Kai.

Yoojun hampir saja memeluk Kai, kalau saja ingatan tentang Jihye itu tak mengingatkannya. Yoojun kemudian tersenyum, sedikit menjaga jarak dari Kai.

“Kau sedang sakit, ya?” tanya Kai. Tangan Kai sekarang bergerak terulur untuk menyentuh dahinya Yoojun, namun dengan cepat gadis itu bergerak mundur. Menghindari kontak fisik dengan Kai sebisa mungkin.

AAniyo! Berlebihan sekali. Aku hanya tertidur selama tiga hari dan itu bukan—”

“Kau cukup membuatku khawatir, Yoojun-ah.” Seketika Kai menarik lengan Yoojun dan membuat gadis tersebut berada didalam pelukannya. Entah ini refleks atau apa yang bisa membuat tubuh Kai begitu saja menarik lengan Yoojun dan memeluknya. Kai mengeratkan pelukannya, menyadari tidak ada balasan dari Yoojun.

Sedangkan Yoojun sendiri tak tahu harus apa. Satu sisi ia ingin menghindari Kai dan satu sisi lagi dirinya tak bisa menolak untuk membalas pelukan Kai. Yoojun, lalu berkata, “Bagaimana rasanya tidak bertemu denganku selama tiga hari?”

“Rasanya seru sekali, sekolah terasa tenang,” jawab Kai sambil terkekeh pelan.

Yoojun sontak melepaskan diri dari pelukan Kai, melipat tangannya didepan dada. Ia mengulum bibirnya kesal setelah mendengar perkataan Kai tadi. Apanya yang tenang, umpatnya dalam hati.

“Itu versi bohongnya, lho. Mau dengar versi jujurnya?” tawar Kai.

“Tidak, biarkan itu menjadi rahasia saja.”

Eo? Hwaksirae *kau yakin?”

Eung!” Yoojun mengangguk, tersenyum.

Mereka berdua akhirnya duduk bersama ditepi bendungan. Kai menceritakan tentang pelajaran fisikanya disekolah. Apa saja yang ia lakukan dengan Sehun dan apa saja yang ia lakukan di Kantin. Yoojun tertawa dibuatnya. Alih-alih tertawa, Yoojun makin yakin bahwa Sehun adalah pemuda yang benar-benar mirip dengan Hyesung.

Seketika, Yoojun rindu dengan Hyesung dan segala perkataannya.

“Ya Ampun, aku rindu sekali dengan Hyesung…” gumam Yoojun. Kai yang mendengar itu tiba-tiba terdiam. Mengingat-ingat sosok gadis yang setengah mati menyebalkan itu.

Namun cepat-cepat Kai tersenyum, mengisyaratkan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Keheningan mulai terjadi diantara mereka. Hanya suara-suara air yang mengalir deras dari bendungan yang terdengar. Kai tak tahu harus bicara apa lagi dan ini kali pertamanya ia merasa bingung untuk berbicara. Terlebih dihadapan Yoojun.

Cham *oh, iya!” pekik Yoojun, membuat Kai menoleh. “Aku lupa mengembalikan blus pinjamanmu. Eotteohke?”

“Tidak apa-apa, kembalikan kapan saja kau mau.”

“Tapi… ngomong-ngomong blus itu milik siapa, Kai?” Yoojun juga sebenarnya sedikit penasaran dengan pemilik dari blus tersebut. Mengingat di Rumah Kai itu tidak ada orang lain selain Kai dan pelayan-pelayannya, makin membuat Yoojun penasaran.

Kai tersenyum, lalu menatap lurus langit senja. “Blus itu milik ibuku…”

“Ah, Mianhae! Aku akan mengembalikannya sesegera mungkin!” sesal Yoojun sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bodoh sekali, pikirnya. Detik berikutnya, hati Yoojun merasakan sebuah kejanggalan dalam ucapan yang Kai lontarkan. Tapi gadis itu langsung membuang perasaan itu jauh-jauh.

Gwenchana, lagipula ibuku tidak akan mengambilnya,” kata Kai.

“Lho, memangnya kenapa?”

“Ibuku sedang berada di Jepang—ralat, ibuku dan ayahku tinggal di Jepang.”

Yoojun sekarang tahu kejanggalan dan penglihatannya sewaktu berada di Rumah Kai. Ia sekarang mengerti kenapa Rumah tersebut terasa sangat sepi, terasa hampa dan hawa rumahnya seperti hawa rumah Yoojun sebelum orang tua mereka kembali dari Paris. Sekarang ia tahu bahwa Kai juga sama seperti dirinya.

Serupa tapi tak sama.

“Orang tuaku juga tidak tinggal di Korea, mereka tinggal di Paris,” kata Yoojun. Matanya menatap lurus kearah sungai yang tak jauh dari hadapannya. “Sudah sepuluh tahun tidak bertemu mereka dan pada akhirnya, tiga hari yang lalu aku bertemu mereka lagi. Rasanya memang menyenangkan. Aku yakin sekali didalam lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa senang.

“Tapi, kenyataan membuatku terus-menerus berpikiran negatif. Apalagi saat mereka memintaku untuk ikut bersama mereka ke Paris, aku jadi semakin kalut,” lanjutnya. Mata Yoojun sesaat terasa menghangat.

Kai menatap gadis itu prihatin. Semua perkataan Yoojun tadi menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang mencuat sewaktu ia, Yoojun dan Taejun makan bersama. Kai sama sekali tidak melihat orang lain lagi selain mereka di Rumah tersebut. Kai sadar, bahwa bukan hanya ia yang merasa kesepian karena kurangnya curahan kasih sayang orang tua.

Yoojun, gadis disampingnya itu juga merasakan hal yang sama.

Aigoo, nunmulnanda…” suara Yoojun terdengar serak. Ia sudah mencapai batasnya.

Kai mengenggam tangan Yoojun. Menyadari bahwa tubuh gadis itu bergetar, dan suaranya yang serak. Kai merengkuh kepala Yoojun lalu mendekapnya. Tubuh Yoojun menerima begitu saja tanpa adanya penolakan. Kai mendekapnya, erat.

Lambat laun terdengar isakan. Yah, Yoojun terisak. Mengingat orang tua dan segala kenyataan yang ia alami itu membuat dirinya rapuh. Terlebih pada insiden dimana ia ditampar oleh ibunya, Yoojun semakin menjadi. Namun usapan lembut yang terasa berulang dipuncak kepalanya membuat Yoojun perlahan menjadi tenang.

Everything’s alright,” bisik Kai.

“…”

Yoojun melepaskan dekapan dari Kai. Menyeka air matanya dan mulai menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu berusaha tersenyum meskipun ia masih ingin menangis. Ia mendongak, mencoba memperlihatkan senyum terbaiknya pada Kai.

“Lihat? Aku sudah tidak menangis lagi!”

“Apa-apaan itu,” ucap Kai, memberenggut.

Kai sekarang mendekat, menyeka air mata yang masih berada disekitar areal mata Yoojun dengan ibu jarinya. Yoojun yang kaget saat itu langsung refleks menutup matanya. Seketika merasa usapan pelan—membuat Yoojun pelan-pelan membuka matanya. Kai masih saja memegangi wajah Yoojun. Deru napasnya tertahan, suasana membawanya.

Mata mereka bertemu. Kai masih menatapnya lurus sedangkan Yoojun sudah membuang pandangannya entah kemana. Semburat merah terlihat jelas dikedua pipi Yoojun. Kai terkekeh pelan, lalu mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan semakin dekat hingga jaraknya tak terelakan lagi.

Sapuan lembut dibibir Yoojun membuat Yoojun sedikit terkejut, namun lama-kelamaan ia menutup matanya. Kecupan tersebut terasa lembut. Seakan Kai tidak ingin menyakiti objek yang sedang ia kecup, seakan ia harus berhati-hati sekali.

Jantung Yoojun melompat-lompat tak karuan dibalik terusan bermotif bunga-bunga yang sedang ia pakai itu. Yoojun masih merasakan kecupan lembut tersebut hingga Kai sendiri yang mengakhirinya. Kai berdeham kecil. Pemuda tersebut sekarang menundukkan wajahnya, mau tak mau ia malu akan apa yang sudah ia lakukan tadi.

“Maaf, ya.” kata Kai pelan.

Yoojun masih spechless. Pikirannya masih melayang-layang entah kemana. Namun deru angin—yang lagi-lagi—membuatnya sadar kembali.

“Eh?”

Rona-rona merah menghiasi pipi Yoojun tatkala Kai mengusap puncak kepalanya pelan. Berulang-ulang hingga diakhiri oleh usapan kasar yang membuat rambut Yoojun berantakan. Yoojun meringis, sedangkah Kai malah tertawa puas. Entah apa yang ada dipikiran dan dihati Kai saat ini. Ia gemas dengan Yoojun yang sedang merona seperti itu.

Dan, merasa bahagia.

“W-wah, sudah gelap!” pekik Yoojun mengalihkan pembicaraan. Sesekali merapikan rambutnya yang berantakan. Matanya beralih menatap langit yang sudah berubah kelam itu.

Kai ikut menatap langit juga, tapi lama-kelamaan tatapannya turun dan menoleh lagi pada gadis disampingnya. Lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Kali ini masih Yoojun yang membuang tatapannya.

I’ll drive you home,” ucap Kai seraya bangkit dari duduknya. “Ayo, kita pulang.”

Ne…”

Tangan Kai terulur dan Yoojun langsung menyambutnya, semangat. Kai menariknya genggaman tangan Yoojun hingga gadis itu bangkit dari duduknya—malah sudah berdiri sejajar dengan Kai.

Lalu, mereka berjalan ditepi bendungan itu, berdua

***

“Tolong lacak keberadaan anakku di Korea Selatan.” Suara berat pria paruh baya itu menggelegar disekitar ruangan. Sontak, orang-orang berjas hitam yang berada didalam ruangan tersebut tersentak kaget. Perintah teraneh yang pernah diberikan oleh tuan mereka adalah yang kali ini. Kali pertamanya ia meminta untuk melacak keberadaan anaknya.

Si Ketua, pria yang berkumis itu melangkah maju kearah si empu-nya suara. Dahinya mengerut melihat tatapan tuannya. Kemudian ia berbisik, “Anda yakin, Tuan?”

“Ya, karena anak itu harus pergi ke Amerika untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia harus dipaksa atau ia pasti akan menolaknya,” jawab sang tuan.

“Baiklah, Tuan. Kami akan segera melacaknya.”

Pria paruh baya itu menepuk jidatnya pelan. Ia terpekik, mengingat sesuatu. Kemudian ia memanggil kembali ketua dari kumpulan orang-orang berjas hitam itu untuk kembali kemejanya.

“Kalau perlu, kalian bisa membawa anak itu kehadapanku,” kata pria paruh baya tersebut.

Yes, Sir.”

Kumpulan orang-orang berjas hitam itu seketika keluar dari ruangan setelah mendengar persetujuan yang dilontarkan oleh ketua mereka. Ketua mereka juga langsung meninggalkan ruangan tersebut. Tentu, setelah membungkuk dalam-dalam pada tuannya.

“Selamat bersenang-senang, Nak…”

TBC

Ayah siapakah yang dideskripsikan diatas?  Yak, silahkan ditebak sendiri ^^ /dibapuk

 

Iklan

38 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 6)

  1. Emmm, Kai kok kayaknya biasanya aja pas tahu Yoojun diajak ortu ke Paris -.-
    emmm, itu Bapaknya siapa sih, penasaran deh jadinya, oke deh, komen berlanjut ke 7A 🙂
    nb. tambah daebak Thor 🙂 *teleport*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s