Untouchable

Untouchable

 

 

Author : @ridhoach

Main Cast :

– Kim Hyun Sang (OC)

– Kim Hye Mi (OC)

– Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

Support Cast :

– Kim Jong Dae a.k.a Chen (EXO-M)

– Park Seo Na (OC

– Oh Ah Mi (OC)

– Kim Jae Hyun (OC)

– Bae Su Jie a.k.a Suzy (Miss A)

—–

 

11 years ago…

 

Author’s POV

 

“Kyaa… Jangan mengejarku seperti itu JaeHyun-ah. Kyaa~~~”, seorang gadis kecil terlihat sedang berlari kecil berusaha untuk menghindari kejaran dari salah satu anak laki – laki yang ada di sana.

“Ahahahah. Kau sangat mudah dikerjai SuJie-yah. Larilah secepat yang kau mampu. Aku akan tetap mendapatkanmu!”, ujar anak laki – laki yang mengejar gadis kecil itu dengan riang.

 

Taman kota sore itu sangat ramai dipenuhi oleh beberapa keluarga yang sedang berkunjung menghabiskan waktu akhir pekan mereka. Termasuk diantaranya adalah 6 orang anak kecil yang terlihat sedang berkumpul bersama. Bermain tanpa ditemani oleh orang tua mereka masing – masing. HyunSang, JongDae dan HyeMi terlihat sedang asik bermain balap sepeda di taman itu. Mereka mengayuh pedal sepeda dengan cepat dan kuat. Saling bersaing menjadi juara pertama. JaeHyun dan SuJie sendiri sedang asik bermain kejar – kejaran di pojok kanan taman, tak jauh dari tempat teman – temannya berada. Hanya SeoNa yang terlihat berdiam diri di atas ayunan kecil di tengah taman itu, mengawasi apa yang teman – temannya lakukan sambil membaca buku cerita kesukaannya. Kondisi kesehatannya yang lemah, memaksa SeoNa untuk tidak banyak melakukan aktivitas layaknya seorang anak di usianya.

 

“Yes! Aku menang! Aku menang! Hahaha, kalian para namja bodoh!”, teriak HyeMi kegirangan saat ia berhasil mendahului HyunSang dan JongDae serta bisa mencapai garis finish lebih dahulu.

“Aishh. Kenapa aku tidak pernah menang darimu? Kau pasti curang HyeMi-yah!”, ujar HyunSang sambil memanyunkan bibirnya.

“Kalau kalah, ya kalah saja pabbo. Jangan pernah menyalahkanku. Mehrong”, ujar HyeMi sambil menjulurkan lidahnya.

“Kalian. Cukup. Jangan bertengkar terus seperti itu”, ujar JongDae yang lebih tua 1 tahun dari mereka itu menengahi pertengkaran bodoh di antara HyunSang dan HyeMi.

 

JaeHyun masih mengejar SuJie dengan asiknya. Dia mempercepat larinya. Tangannya sudah hampir bisa menggapai pundak SuJie yang berlari dihadapannya. Dan, hap! Tangannya berhasil menarik lengan SuJie dan memakasa SuJie untuk memberhentikan langkahnya.

“Ah, kau masih sangat lambat SuJie-yah! Aku tetap bisa mendapatkanmu!”, uajr JaeHyun tersenyum bangga.

“Itu hanya kebetulan saja JaeHyun-ah. Coba lagi kalau kau memang lebih cepat daripada aku”, ujar SuJie seraya berlari meninggalkan JaeHyun.

 

“JongDae-yah~~”, panggil SeoNa di tengah – tengah keasikan kelima anak kecil itu yang sedang bermain.

“Ne?”, ujar JongDae sembari menghampiri ayunan tempat SeoNa berada.

“Aku… Ingin… Pulang… Ini sudah… terlalu sore… aku takut eommaku mencariku”, ujar SeoNa terputus – putus. Selain kesehatannya lemah, dia juga mengalami gangguan dalam masalah pergaulannya. Dia menjadi seorang yang introvert. Dan hanya terbuka pada JongDae saja.

“Ne? Benarkah? Kalau begitu ayo kita pulang bersama, biar aku temani dengan JaeHyun-ah”, ujar JongDae.

“Ne”.

“JaeHyun-ah! Ayo kita pulang! Ini sudah sore, hyung tak mau membuat eomma cemas”, ujar JongDae pada donsaengnya, JaeHyun.

“Jinjja?! Aissh, baiklah hyung. Annyeong SuJie, annyeong semuanya!”, ujar JaeHyun sambil melambaikan tangan pada HyeMi, SuJie dan Hyunsang.

“Annyeonghi kaseyo JaeHyun-ah!”, ujar SuJie membalas lambaian tangan JaeHyun.

 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang juga?”, tanya HyeMi.

“Juga? Aissh aku belum puas bermain di sini”, ujar HyunSang tak bersemangat.

“Baiklah kalau kau belum puas. Biar aku dan SuJie-yah saja yang pulang. Kau silahkan bermain saja disini. Sendirian”, ujar HyeMi seraya menarik tangan SuJie, memaksanya meninggalkan HyunSang.

“He? Tunggu aku HyeMi-yah! SuJie-yah!”, teriak HyunSang sambil berlari menuntun sepedanya.

 

—–

 

1 years ago…

 

“Kris, mulai besok lusa kita akan pindah. Kita tidak akan tinggal disini lagi”, ujar seorang yeoja paruh baya kepada seorang remaja di hadapannya.

“He?  Wae eomma?”, tanya sang remaja tak percaya.

“Appamu dipindah tugaskan ke Korea Selatan. Siapkan barang – barang yang akan kamu bawa Kris”, ujar sang eomma.

“Wae eomma? Kenapa sekarang? Kenapa Korea Selatan?”, tanya Kris sembari berjalan meninggalkan eommanya di tengah ruang tamu, berjalan menuju kamarnya.

“Mianhe Kris. Eomma janji ini yang terakhir kalinya kita pindah”, gumam yeoja itu pelan.

 

—–

 

“HyeMi-yah! Kamu masuk di kelas mana?”, ujar HyunSang tepat di saat ia berhenti di hadapan HyeMi.

“10 D”, ujar HyeMi.

“Jinjja?!!”, teriak HyunSang terkejut.

“Wae? Aigoo… Jangan bilang kalau kita satu kelas. Kamu di kelas mana HyunSang-ah?”, tanya HyeMi.

“Hmm… 10 D”, ujar HyunSang dengan segaris senyum enggan di bibirnya.

“Jinjja?! Hhhh… andwae! Sekali lagi aku terjebak di dalam kelas yang sama denganmu”, ujar HyeMi enggan.

 

Tak berapa lama, terlihat JongDae, JaeHyun, SuJie dan SeoNa yang sedang berjalan menghampiri HyeMi dan HyunSang di ujung koridor lantai satu sekolah ini.

“Kenapa dengan wajahmu HyeMi-yah? Ada apa denganmu di hari pertama sekolahmu?”, tanya SuJie.

“Ahh… ini, aku terjebak lagi bersama dengan namja ini”, ujar HyeMi enggan.

“Lagi? Mungkin saja kalian itu berjodoh”, ujar JaeHyun asal.

“HAH? SIAPA BILANG KAMI BERJODOH?!”, teriak HyeMi dan HyunSang bersamaan.

“Tuh kan, kalian saja sudah sehati dalam urusan berbicara”, ujar JaeHyun sambil mengedipkan mata dengan nakal ke arah HyeMi.

“Kelas apa memangnya HyeMi-yah?”, tanya SuJie.

“10 D. Kamu sendiri di kelas mana SuJie-yah? SeoNa-yah?”, tanya HyeMi.

“Aku di kelas 10 B. Aku sekelas dengan SeoNa-yah. Benarkan SeoNa-yah?”, ujar SuJie pada SeoNa.

“Ah, ne. Aku dan SuJie… sekelas… di kelas 10 B”, ujar SeoNa pelan.

“Bagaimana denganmu JaeHyun-ah, JongDae-hyung?”, tanya HyunSang.

“Aku di kelas 10 A”, ujar JaeHyun santai.

“Aku di kelas 11 Science 1”, ujar JongDae tak kalah santai.

“Dasar saudara, huh!”, ujar HyunSang melengos pergi.

 

“Ayo kita ke kelas. Aku sudah tak sabar melihat teman – teman kelasku”, ujar HyeMi semangat.

“Bukannya kau sudah melihatnya?”, ujar JaeHyun usil sambil mengarahkan wajahnya pada tubuh HyunSang yang sedang berjalan membelakangi mereka.

“JaeHyun-ah… jangan merusak moodku. Jangan masukkan HyunSang ke dalam hitungan”, kata HyeMi dengan wajah enggan.

“Baiklah, ayo kita ke kelas!”, kata namja tertua, JongDae.

 

—–

 

Suasana kelas 11 Science 1 sangat ricuh saat JongDae memasukinya. Kebanyakan dari para siswa yang ada di dalam sana tampak sedang asik berkenalan satu sama lain. Mencoba untuk mencari teman baru, sepertinya. Di pojok kanan kelas, tampak seorang namja berwajah oriental yang sedang duduk sendiri. Wajahnya seolah – olah enggan untuk berada di sini, di kelas ini. JongDae berjalan menghampiri namja itu. Dia meletakkan tasnya di atas meja tepat disamping meja dari namja oriental itu.

“Hei, siapa namamu?”, tanya JongDae pada namja itu.

“Kris”, jawab namja itu singkat.

“Aku JongDae. Senang berkenalan denganmu”, ujar JongDae seraya menjulurkan tangannya. Berusaha untuk berjabatan tangan dengan namja itu.

“Wajahmu asing. Murid baru? Pindahan dari mana?”, tanya JongDae ramah.

“Ahh, China”, ujarnya singkat.

 

—–

 

“Oke, ini teman – temanku. Perkenalkan dirimu. Sekarang kamu adalah bagian dari kami”, kata JongDae pada Kris di hadapan teman – temannya.

“Bagian dari kita? Namja oriental ini? Apa – apaan ini hyung?”, ujar HyunSang tak terima dengan perkataan JongDae.

“Ne, HyunSang-ah. Dia sama seperti kita. Sendiri dan membutuhkan teman”, kata JongDae santai.

“Tapi, hyung, kita ini sudah berteman dari kecil, aku tak ingin ada orang asing masuk diantara kita. Tak akan pernah”, ujar HyunSang bersikeras.

“Sudahlah HyunSang-ah. Dengarkan saja apa yang dikatakan JongDae-hyung. Lagipula aku pikir berteman dengan teman baru itu tidak buruk”, ujar HyeMi.

“Siapa namamu?”, tanya JaeHyun.

“Wu Yi Fan imnida. Panggil saja aku dengan Kris”, kata Kris datar.

“Wu Yi Fan? Kau dari China?”, tanya SuJie.

“Ne. Aku pindahan dari China”, ujar Kris.

“Kim JaeHyun imnida”, ujar JaeHyun sembari berjabat tangan dengan Kris.

“Kim Hye Mi imnida”.

“Bae Su Jie imnida”.

“Park… Seo Na imnida”, ujar SeoNa sambil tertunduk takut.

“Kim Hyun Sang!”, ujar HyunSang dengan cuek.

 

—–

 

Present Day…

 

Hyun Sang’s POV

 

Suasana pagi cukup cerah hari ini. Burung – burung berkicauan, bersambutan mengiringi langkahku menuju sekolahku. Sungguh, suasana musim panas yang sangat indah. Sebelum menuju sekolah, aku pergi dahulu menuju rumah sahabatku, HyeMi. Kami memang terbiasa berangkat menuju sekolah bersama sejak dulu, sejak kami masih kecil.

 

Rumah HyeMi sudah bisa terlihat dengan jelas oleh kedua mataku. Tapi, ada sebuah benda asing yang sedang terparkir dengan rapi di depan pintu gerbang rumah HyeMi. Sepertinya aku mengenal siapa pemiliki mobil berwarna hitam itu. Kris, ya, tak salah lagi itu adalah mobil kepunyaannya. Kenapa mobil itu bisa ada disana? Dia sedang menjemput HyeMi? Romantis sekali, huh!

 

“Ah, HyunSang-ah! Kami baru saja akan ke rumahmu. Rupanya kau sudah di sini”, ujar SuJie yang tiba – tiba keluar dari dalam mobil Kris seraya tersenyum ke arahku.

“He? Ke rumahku? Untuk apa?”, tanyaku kebingungan.

“Untuk menjemputmu pabboyea”, sungut HyeMi dari dalam mobil.

“He? Apa maksudnya? Seingatku aku tak pernah minta untuk dijemput”, ujarku.

“Pabboyea HyunSang-ah, kita hendak menjemputmu karena mulai hari ini kita semua akan berangkat sekolah bersama dengan menggunakan ini, mobilnya Kris-oppa”, ujar HyeMi dingin dan datar.

“Mwo?!! Aku tidak mau!”, ujarku berkeras.

“Ya sudah, silahkan saja kau jalan kaki sana. Kami tinggal”, ujar HyeMi.

“Ah, ah. Jangan tinggalkan aku, biarkan aku masuk. JaeHyun-ah, buka pintunya!”, teriakku.

“Dasar pabbo”, ejek HyeMi.

 

—–

 

Jam tanganku masih menujukkan pukul 10 pagi. Sesuai jadwal pelajaran yang ada, harusnya aku sedang berada di dalam laboratorium fisika, belajar fisika seperti biasa. Tapi, nyatanya aku lebih memilih berada di sini, kantin, membolos bersama sahabatku, JaeHyun-ah.

 

JaeHyun-ah, namja yang paling dekat denganku. Dia pintar, namun sedikit nakal. Dia lebih senang membolos daripada mengikuti pelajaran di kelas. Tapi anehnya, tetap saja tak ada yang bisa mengalahkannya dalam masalah akademik. Dia selalu menjadi yang nomor satu. Perangainya sangat santai, dingin, usil dan tengil. Dia sangat suka berbuat iseng terhadap kami sahabatnya, terutama terhadap yeojachingu yang ia cinta, SuJie-yah. JaeHyun-ah dan SuJie-yah menjalin sebuah hubungan khusus yang sangat rumit dan awet sejak 3 tahun lalu, saat mereka masih berumur 14 tahun. Mereka berjanji akan menjadi sepasang kekasih setelah mereka lulus dari SMA. Sebelum saat itu, mereka berjanji untuk tetap melajang dan saling menunggu satu sama lain. aneh memang, tapi mereka menikmatinya. SuJie yang ramah dan sabar sangat bisa mengimbangi JaeHyun yang terkadang labil dan emosional.

 

JongDae-hyung, namja yang tertua sekaligus menjadi appa buat kami semua. Dia selalu menengahi kami disaat kami sedang berada dalam masalah diantara satu sama lain. JongDae-hyung memiliki perangai yang tak jauh berbeda dengan dongsaengnya, JaeHyun-ah. Dia sangat dingin dan santai. Tapi, berbeda dengan JaeHyun-ah, JongDae-hyung lebih sabar dan sangat bijak. Dia sangat menyayangi dongsaengnya dan yeojachingunya, SeoNa-yah. SeoNa yang sangat pendiam dan memiliki kondisi yang sangat lemah itu kerap kali ditindas dan dihina oleh namja atau yeoja lain. Saat itulah biasanya JongDae-hyung datang, melindungi SeoNa-yah. sejauh yang ku ingat selama ini SeoNa hanya memiliki sedikit teman, dan itu adalah kami semua. Itulah mengapa SeoNa-yah dan JongDae-hyung menjadi sangat dekat dan akrab. Mereka sangat romantis.

 

HyeMi-yah, seorang yeoja yang cuek dan ceria. Dia sangat cuek, terutama terhadapku temannya sejak kecil. Aku dan HyeMi telah menjadi teman bahkan sebelum kami bertemu dengan JongDae-hyung dan yang lain. Tapi, dari dulu juga kami berdua tak pernah akur satu sama lain. Dimanapun kami berada, kami selalu bertengkar dan saling adu mulut satu sama lain. Aku menaruh rasa pada HyeMi sejak dulu, saat aku dan dia masih anak – anak, aku sudah menyukainya. Tapi, karena aku lebih mementingkan hubungan persahabatan kami, sampai saat ini aku belum mengutarakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Itulah kenapa, aku sangat menentang kehadiran Kris di tengah – tengah kami. Aku sangat tau, kalau HyeMi menyukai Kris. Aku bisa membaca itu dari caranya menatap Kris. Aku tak ingin HyeMi direbut oleh namja kaya itu. Aku tak ingin HyeMi direbut oleh Kris.

 

“Bagaimana HyunSang-ah?”, JaeHyun bersuara setelah lama keheningan menyelimuti kami.

“He? Bagaimana apanya?”, tanyaku kebingungan.

“Bagiamana hubunganmu dengan HyeMi-yah? Apa kau sudah memberitahunya?”, tanya JaeHyun santai.

“Apa maksudmu JaeHyun-ah? Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraanmu”, ujarku dengan wajah yang sedikit terkejut.

“Hhhh… tak usah berpura – pura bodoh HyunSang-ah. Aku tau. Aku tau kalau kau itu menyukai HyeMi-yah. Benar bukan?”, tanya JaeHyun santai.

“Bagaimana… kau mengetahui… nya JaeHyun-ah?”, tanyaku gugup.

“Hahahaha. Ternyata kau sangat mirip dengan SeoNa-yah kalau sedang gugup HyunSang-ah”.

“Aku tidak bercanda JaeHyun-ah! Darimana kau mengetahuinya?”.

“HyunSang-ah, selama ini aku hanya santai bukan berarti aku tidak mengawasimu. Aku bisa mengetahuinya. Jangan pikir aku bodoh”, ujar JaeHyun santai.

“Ahh… kau memang benar JaeHyun-ah. Aku memang menyukai HyeMi-yah”, ujarku tertunduk malu.

“Kenapa kau tidak mengatakannya? Kau takut persahabatan kita terpecah?”, tanyanya.

“Ne. Aku tak ingin semuanya hancur karena perasaanku”.

“Jangan bodoh HyunSang. Aku juga tau kalau kau sakit dengan semua ini. Aku juga tau kalau kau sakit hati saat melihat HyeMi dekat dengan Kris. Aku tau”.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan JaeHyun?”.

“Utarakan perasaanmu. Sebelum semuanya terlambat”.

 

END of Hyun Sang’s POV

 

—–

 

Author’s POV

 

Gerbang sekolah baru saja dibuka 5 menit yang lalu, menandakan waktu pembelajaran telah usai. Dan semua siswa sudah bisa meninggalkan sekolah untuk pulang kembali ke rumah mereka masing – masing.

“Krissss~~~~~”, sebuah suara yeoja melengking dengan merdunya di tengah keramaian siswa sekolah yang sedang berhamburan menuju gerbang sekolah.

Sang namja yang merasa namanya dipanggil, segera berhenti mengamati sekitarnya. Melihat siapa yeoja yang memanggilnya. Dan yang bisa ia dapati adalah seorang yeoja yang berdiri di depan gerbang sekolah sedang tersenyum manis ke arahnya. Yeoja itu cantik dan mengenakan seragam yang berbeda dengan yang ia pakai.

“AhMi-yah?”, ujar Kris terkejut seraya berjalan menghampiri gadis itu.

 

“Apa yang kau lakukan disini AhMi-yah?”, tanya Kris begitu ia sampai di dekat yeoja yang bernama AhMi itu berada.

“Aku hanya ingin melihatmu saja Kris. Tidak boleh?”, tanya yeoja itu manja.

“Bukan begitu, biar aku saja yang menemuimu nanti”, ujar Kris datar.

“Ah, aku hanya ingin melihatmu saja. Aku belum pernah melihat sekolahmu bukan?”, ujar AhMi.

“Bukan begitu sayang. Tapi, biar aku saja yang mendatangimu nanti. Aku tak mau kau dilihat oleh teman – temanku”, kata Kris santai.

“Wae? Karena aku jelek? Karena aku tak cantik?”, tanya AhMi.

“Bukan begitu AhMi-yah”.

“Terus, kenapa? Kenapa? Kenapa Kris?”.

“Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!!”.

“Ah… tapi, aku kan pacarmu Kris. Kenapa aku tak boleh mendatangimu?”, ujar AhMi seraya berlari meninggalkan Kris dengan mata yang berair.

 

Kris masih berdiri terpaku di depan gerbang sekolahnya. Dia menatap punggung yeojachingunya dengan tatapan aneh. Dia mau mengejarnya, tapi dia takut dilihat oleh teman – temannya yang lain, terutama dilihat oleh HyeMi. Dia juga tak mau tak mengejarnya, tapi dia sangat tak enak dengan perasaan AhMi. Yeoja yang dijodohkan dengan Kris oleh kedua orang tua mereka. Oleh karena itu, mau tak mau Kris harus menjalani hubungan dengan AhMi. Walaupun sebenarnya dia sangat tidak menyukainya.

 

“Kris-oppa!”, teriak seorang yeoja dari arah sekolah.

“Ah, HyeMi-yah, waeyo?”, tanya Kris.

“Waeyo? Kami sudah menunggumu dari tadi, tapi kau tidak datang juga. Kita sudah siap Kris-oppa. Ayo pulang”, ujar HyeMi.

“Ah, mianhe. Aku lupa. Kajja, mereka pasti sudah menungguku”, ujar Kris seraya menarik tangan HyeMi.

“Ne”, ujar HyeMi dengan wajah yang sedikit memerah.

 

—–

 

Hye Mi’s POV

 

Sudah sejak 30 menit aku sibuk di dalam kamarku sendiri. Memilih dan mencocokkan pakaian apa yang akan aku pakai nanti. Nanti malam, rencananya aku, Kris-oppa, JongDae-oppa dan SeoNa-yah akan makan malam bersama di salah satu restoran milik keluarga Kris-oppa. Aku berpikir ini akan menjadi salah satu yang aku impikan selama ini, kencan dengan orang yang aku sayangi, Kris-oppa. Ya, sudah lama aku menyukai dan mengagumi sosok Kris-oppa. Sifatnya yang tenang, tegas dan baik itu membuatku sangat mengagumi dan mendambakan sosoknya untuk menjadi kekasihku. Terlalu agresif memang, tapi aku memang menyukainya. Dan aku sangat senang dengan kencan malam ini yang akan menjadi sebuah double date diantara aku, SeoNa-yah, JongDae-oppa dan Kris-oppa.

 

Aku sudah menentukan pilihan baju yang akan aku pakai. Sebuah dress pendek tanpa lengan yang berwarna biru cerah, warna favoritku. Aku sudah mendandani diriku secantik mungkin. Membuat Kris-oppa akan takjub ketika ia nanti melihat betapa cantiknya aku malam ini. Sesuai janji yang telah kami sepakati, kami memulai makan malam itu pukul 7 malam. Aku segera berangkat menuju restoran itu karena sudah menunjukkan pukul 6 lebih 12 menit. Aku tak mau telat dalam menghadiri acara makan malam ini.

 

—–

 

Aku sampai di restoran itu tepat 5 menit sebelum waktu yang telah ditentukan. Aku sudah melihat mobil milik Kris-oppa dan JongDae-oppa terparkir di halaman parkir restoran itu. Untung saja aku belum terlambat. Kalau terlambat, aku bisa membuat semua orang menungguku dengan penuh emosi. Aku pun berjalan memasuki sebuah bangunan restoran yang bernuansa elegan dan sangat bernuansa ‘high class’ pada setiap ornamen yang menghiasi restoran itu. Di tengah – tengah ruangan, aku melihat sebuah panggung berbentuk lingkaran dilengkapi beberapa alat musik yang cukup lengkap diatasnya. Diatasnya, aku bisa melihat sesosok namja yang sangat aku kenal tengah duduk bermain piano sambil menyanyikan sebuah lagu ballad yang sangat merdu.

 

And in the middle of the night when I’m in this dream

It’s like a million little stars spelling out your name

You gotta come on, come on, come on, come on

Come on, come on, oh, oh, oh

Like a million little stars spelling out your name

They’re spelling out your name, oh

 

Aku mendengar suara namja itu mengalun dengan merdunya. Seirama dengan dentingan piano yang ia maninkan. Namja itu, JongDae-oppa, melantunkan sebuah lagu dari Taylor Swift yang berjudul Untouchable itu dengan sangat merdu dan indahnya. Suaranya sangat menyentuh aku yang mendengarnya.

 

Aku pun berjalan menghampiri sebuah meja yang berjarak tak jauh dari panggung itu. Meja itu dipenuhi oleh 3 orang. 1 sosok namja dan 2 sosok yeoja. 2 orang yeoja? Setauku malam ini hanya akan ada dua orang yeoja yang ikut dalam acara makan malam ini, aku dan SeoNa-yah. Lalu siapa yeoja itu? Dan lagi, kenapa dia terlihat sangat mesra dengan Kris-oppa? Jangan – jangan yeoja itu… ah, mana mungkin.

“Ah, HyeMi-yah! Kemari, kami sudah menunggumu”, ujar Kris-oppa seraya melambaikan tangannya ke arahku.

“Ah, ne”, ujarku seraya berjalan dan duduk di kursi yang ada di sebelah SeoNa-yah.

 

“SeoNa-yah…”, bisikku pada SeoNa-yah yang berada di sebelahku.

“Ah… mwoya?”, tanya SeoNa-yah tak kalah pelan dengan suaraku.

“Siapa yeoja yang ada di sana?”, tanyaku.

“Ah… itu… ehm… yeoja itu adalah… AhMi-ssi”, jawab SeoNa-yah terbata – bata.

“AhMi? Siapa dia? Temannya Kris-oppa?”, tanyaku lagi.

“Ah… bukan. Dia bukan… temannya Kris-oppa”, jawab SeoNa.

“He? Terus, dia siapa? Kenapa dia menempel pada Kris-oppa? Aku tak suka melihatnya. Huh!”, sungutku.

“Ah… dia… dia…”.

“Ah, kau sudah datang rupanya HyeMi-yah. Bagaimana suaraku?”, tanya JongDae-oppa yang memotong perkataan SeoNa-yah.

“Ah, sangat baik oppa”, jawabku.

 

“Ah, iya. Kau sudah berkenalan dengan dia HyeMi-yah”, tanya JongDae-oppa.

“Dia? Dia siapa? Yeoja itu?”, tanyaku seraya menunjuk yeoja itu dengan malas.

“Ne, kau sudah mengenalnya?”, tanya JongDae-oppa.

“Ah, belum”.

“Kris-ah, kenapa kau tak mengenalkannya pada HyeMi-yah?”, ujar JongDae-oppa pada Kris-oppa.

“Ah, mianhe. Aku lupa. HyeMi-yah, perkenalkan ini AhMi-yah. Yeojachinguku”, ujar Kris-oppa meperkenalkan gadis iitu.

 

Glekk!!

“Uhukk… uhuk…”, aku tersedak oleh minuman yang aku minum sendiri. Yeojachingu? Bagaimana mungkin?

“Kau… tak apa… HyeMi-yah?”, tanya SeoNa.

“Ne, gwenchana. Aku hanya sedikit tersedak. Kris-oppa, sejak kapan kalian berdua berpacaran?”, tanyaku.

“Sudah lama HyeMi-yah. Sudah dari 3 tahun yang lalu”, jawab AhMi.

“Waeyeo?’, tanya Kris-oppa.

“Tidak… aku hanya ingin bertanya saja”, jawabku canggung.

 

3 tahun berpacaran? Dan aku sama sekali tidak mengetahuinya? Lalu untuk apa aku menyukai namja yang sudah memiliki pasangan itu selama setahun belakangan ini? Untuk apa? Hanya untuk sakit hati? Aku bingung. Perasaan marah, kecewa, sedih dan terluka bercampur menjadi satu. Aku tak tau harus bagaimana. Anehnya, saat ini bukan wajah Kris-oppa yang memenuhi kepalaku. Tapi wajah dari sahabatku sendiri, HyunSang-ah.

 

END of Hye Mi’s POV

 

—–

 

Hyun Sang’s POV

 

Tumpukkan tugas – tugas yang menggunung menjadi temanku menghabiskan waktu malam ini. Dimulai dari Fisika, Kimia, Matematika sampai dengan Bologi. Semua tugas itu menuntutku untuk berdiam diri di rumah dan membuatku menjadi tidak bisa ikut bergabung dalam acara makan malam bersama HyeMi-yah, JongDae-hyung dan yang lainnya.

 

Aku sampai pada buku terakhir yang ada di hadapanku. Pada bagian sampul depannya tertulis sebuah tulisan, ‘Kimia’. Aku membuka lembarannya, menuju pada lembaran ke-43, dimana disana telah tertulis dengan indahnya deretan nama – nama unsur dan beberapa pasangan angka yang membuat otakku semakin pusing melihatnya. Aku melihatnya sebentar, mencoba untuk sedikit mengingat dan memahami kembali apa arti dari sederet karakter huruf dan angka yang tertulis disana.

 

Drrt… Drrt… Drrt…

Vibrasi hand phone yang aku letakkan tak jauh dari tempatku berada memaksaku untuk berhenti sejenak dari acara membosankan ini. Aku lihat layar hand phoneku. Disana tertulis nama dari sahabatku, HyeMi-yah. Ada apa dia meneleponku? Bukannya dia sedang makan malam?

“Yeoboseyeo, waeyeo HyeMi-yah?”, tanyaku saat menerima panggilan darinya.

“Hiks… hiks… hiks…”, aku hanya bisa mendengar suara isak tangis di seberang sana. Tampaknya HyeMi sedang menangis.

“HyeMi-yah, gwenchanayeo? Kau sedang menangis? Waeyo?”, tanyaku sedikit khawatir.

“Kau sedang dimana HyunSang-ah?”, HyeMi-yah balik bertanya dibalik suara isak tangisnya.

“Aku sedang ada di rumahku. Waeyeo?”.

“Aku… boleh ke rumahmu? Ada yang ingin aku ceritakan. Aku… butuh teman”.

“He? Baiklah, tapi bukannya kau sedang makan malam bersama yang lain. Kenapa kau mau ke rumahku?”.

“Akan aku jelaskan nanti”, ujar HyeMi seraya memutus panggilan itu.

 

Tak berapa lama, suara deru mobil terdengar dari arah pekarangan rumahku. Aku keluar dan mendapati sosok HyeMi berdiri di sebelah mobilnya. Ia tampak kusut. Wajahnya basah oleh aliran air mata. Wajahnya terlihat begitu terpukul.

“Aigoo.. gwenchanayeo HyeMi-yah?”, tanyaku seraya menghampiri HyeMi.

“HyunSang-ah… Kris-oppa… dia… d.. dia… huwa~~~~~”, ujar HyeMi dan menghambur di dadaku.

“Tenanglah HyeMi-yah. Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Apa Kris telah melukaimu? Katakana padaku kalau dia memang melukaimu. Biar aku memberinya pelajaran karena dia telah berani melukaimu”, ujarku berusaha menenangkan dan mulai terbawa emosi.

“Ani… Kris-oppa tak pernah melukaiku”, jawabnya pelan.

“Lantas apa yang telah membuatmu menangis? Apa ada hubungannya dengan Kris?”, tanyaku seraya menatap lurus mata HyeMi yang sayu.

“Ternyata.. dia.. sudah memiliki kekasih HyunSang-ah. Aku sakit hati mengetahui kenyataan bahwa dia sudah memiliki kekasih. Apa dia tidak tau kalau aku menyukainya? Apa dia tidak pernah menyadarinya kalau aku mengaguminya? Kenapa dia tak pernah memberitahuku kalau dia sudah memiliki kekasih? Kenapa dia malah memebrikan harapan padakau, walau dia tau dia tak akan pernah bisa memilikiku? Kenapa HyunSang-ah?”, tanyanya disertai semakin derasnya aliran air mata dari kedua matanya. Dia semakin larut dalam tangisnya. Dan itu semua karena dia patah hati kepada Kris.

 

Apa kau tau HyeMi-yah? ini sangat menyakitkan. Mendengarmu mengucapkan betapa kau mencintai namja lain, bukan diriku, membuat hatiku begitu sakit. Aku teriris mendengar setiap kata yang keluar dari bibirmu. Bahkan, kau sampai rela menangisi dia, namja yang tidak mencintaimu. Aku sakit HyeMi-yah. Kau harusnya tau seberapa sakitnya aku mendengar pernyataanmu itu.

 

Aku lebih memilih diam. Menemani HyeMi yang menangis dengan hebatnya itu. Aku membiarkannya menangis di pundakku. Walaupun aku tau tidak ada satupun dari tetesan air mata itu yang ditujukkan untukku, tapi aku berusaha setidaknya memberikan kenyamanan untuknya malam ini, saat ia benar – benar rapuh. Aku mencoba untuk meredam rasa sakit yang ada dihatiku sendiri dan mencoba untuk menemaninya. Aku mencoba untuk mengalah, untuk kebaikannya.

 

—–

 

Aku berangkat sekolah seperti biasa. Masalah malam tadi masih membekas dalam otakku pagi ini. Aku memulai hari ini dengan wajah lesu. Sakit hati dan perasaan terbuang masih tersisa dan selalu teringat setiap kali aku mengingat kejadian malam tadi.

 

Aku mengayuh pedal sepedaku pelan, aku terlalu enggan untuk pagi ini. Aku susuri jalan menuju sekolahku dengan tenang dan pelan. Tak seberapa jauh di depanku, aku melihat seorang yeoja berseragam sekolah yang sama dengan yang aku pakai sedang berjalan dengan gontai dan malas. Dia HyeMi. Aku mempercepat laju sepedaku, mencoba untuk mendekatinya.

“Kau lesu sekali pagi ini HyeMi-yah. Seperti bukan kau saja”, kataku saat sudah berhasil berada disebelahnya.

“Ah? Kau tau apa yag terjadi. Aku bukan dewa yang langsung bisa melupakan rasa sakit hanya dalam waktu semalam”, ujarnya lirih.

“Ya, kau benar. Manusia tak mungkin bisa melupakan rasa sakkit hanya dengan semalam. Begitupun denganku. Ini ironis, kita sama – sama sakit, tapi hanya kau yang bisa menunjukkan itu kepadaku. Sedangkan aku, tak bisa. Aku tak ingin kau semakin sakit hati”, gumamku dalam hati.

Aku berjalan menuntun sepedaku di sebelah HyeMi. Kami menghabiskan waktu hanya dengan diam. Hingga akhirnya kami sampai di sekolah.

 

END of Hyun Sang’s POV

 

—–

 

Author’s POV

 

“Kau kenapa Kris? Kenapa kau marah padaku? Aku tak ingat pernah berbuat salah padamu!!”, bentak seorang yeoja pada namja yang ada di hadapannya.

“Kau mau tau kenapa, huh? Itu karena kau datang tadi malam! Kau mengacaukan semuanya!!”, bentak sang namja, Kris, tak kalah nyaring.

“Aku? Mengacaukan semuanya? Aku tak ingat pernah mengacaukan apapun tadi malam!!”, bentak sanga yeoja, AhMi.

“Kau telah mengacaukan semuanya. Kau membuat HyeMi menjadi benci padaku. Kau telah membuat HyeMi sakit hati AhMi-yah!! Dan kau masih bisa bilang tak pernah mengacaukan apapun?”, hardik Kris.

“HyeMi? Demi gadis itu kau sampai membentakku begini? Siapa sebenarnya pacarmu Kris? Aku atau gadis itu, huh?!!”, bentak AhMi.

“Aku tak pernah mencintaimu AhMi, jangan pernah menganggap kau itu adalah pacarku!!”, bentak Kris.

 

Plakk!!

Sebuah tamparan keras mendarat tepat pada pipi kanan Kris. Tamparan yang berasal dari tangan AhMi yang dilontarkannya begitu keras dan penuh emosi.

“Aku tak pernah mengira kau mempermainkanku selama ini. Kau brengsek!!”, umpat AhMi yang langsung pergi meninggalkan Kris yang duduk terdiam di tengah keramaian pengunjung restoran.

 

—–

 

Hye Mi’s POV

 

Sudah 3 hari aku berubah menjadi sosok yang pendiam dan lebih menghabiskan waktu dengan melamun, memikirkan perasaanku kepada Kris-oppa. Sudah banyak pertanyaan yang aku terima dari teman – teman terdekatku, mereka menanyakan penyebab dari perubahan sifatku ini. Hanya 2 orang yang tidak menanyakan pertanyaan yang sama padaku, HyunSang dan Kris-oppa. Aku percaya HyunSang tak ingin bertanya karena dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya tterjadi padaku. Tapi, kenapa Kris-oppa tak menanyakan itu padaku? Apa dia benar – benar tak peduli lagi padaku? Apa dia memang benar – benar tak memiliki rasa padaku?

 

Aku baru saja melangkahkan kakiku keluar dari gerbang sekolah saat ada sebuah mobil berwarna merah yang berhenti tepat di sebelahku.

“Masuk! Ada yang ingin aku bicarakan padamu! Palli!”, titah seorang yeoja dari dalam mobil itu, AhMi.

“AhMi-yah, apa yang ingin kau bicarakan? Mengapa tak kau bicarakan saja sekarang?, tanyaku berusaha berbasa – basi.

“Aku bilang masuk!! Palli!!”, titah AhMi penuh emosi.

Aku pun memutuskan untuk masuk mengikuti apa yang ia mau, walaupun aku sangat malas melihat wajah yeoja itu.

 

“Kita akan kemana?”, tanyaku saat mobil mulai berjalan.

“Kau tak berhak bertanya apapun. Disini aku yang berhak bertanya padamu. Ada hubungan apa kau dengan Kris?”, tanya AhMi.

“Ah, tidak ada. Kami hanya berteman biasa”, jawabku datar walaupun sebenarnya aku terkejut dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Ada apa ini?

“Jangan berbohong!! Aku tanya sekali lagi, apa kau ada hubungan dengan Kris?”, tanyanya sekali lagi dengan penuh emosi pada setiap kata yang ia katakan.

“Aku sudah bilang. Aku tak ada hubungan apa – apa dengannya! Kami hanya berteman, itu saja!”, ujarku.

“Lantas, kenapa Kris marah kalau kau mengetahui kalau aku adalah pacarnya? Kenapa dia sampai membentakku hanya demi gadis sepertimu?”, tanyanya penuh emosi.

“Demi aku? Apa kau tak salah? Mana mungkin Kris-oppa mau membentak pacarnya hanya demi aku”, ujarku sedikit bingung.

“Oppa? Cih. Kau pikir aku main – main? Kris bahkan memutuskan hubungan diantara aku dan dia hanya demi kamu!! Apa kau pikir aku main – main, huh!!”, tanyanya penuh amarah.

“Ah, aku tidak tau tentang hal itu”.

“Apa kau menyukai Kris, huh?”.

“Aku? Ah… mana mungkin aku menyukai temanku sendiri”.

“Kau suka atau tidak?”.

“Sudah aku bilang, aku… aku tak menyukainya”.

“Aku bilang, apa kau menyukai Kris apa tidak?!! Jawab dengan jujur!!”.

“NE!!! Aku mencintainya. Sangat mencintainya!! Waeyeo? Apa kau keberatan kalau aku mencintai pacarmu, huh?”.

“Kau… beraninya kau merebut Kris dariku!!”.

“Merebutnya? Aku pikir Kris-oppa akan lebih cocok denganku. Bukan denganmu!!”.

 

Wajah AhMi menjadi semakin merah padam mendengar kata – kata terakhir yang aku ucapkan. Dia tampak begitu emosi. Aku merasakan kecepatan mobil yang ia kendarai menjadi berubah sangat cepat, kecepatannya berubah menjadi sangat laju.

“Hei!! Apa kau mau mati? Ini sangat laju!!”, teriakku padanya.

“Kau takut?? Aku memang berniat mati HyeMi. Kalau aku tak bisa mendapatkan Kris, maka tak akan ada satu orang pun yang bisa memilikinya!”, ujarnya dengan sebuah senyum dingin.

 

Mobil berjalan semakin laju. Semakin tak terkendali. AhMi membanting kemudinya ke arah kiri. Ke arah sebuah jurang yang lumayan curam.

“Huwaaa~~~~~~!!!!!!!!!!!!!”, teriakku dan AhMi bersama saat mobil yang kami naiki terjun bebas menembus pagar pembatas jalan menuju sebuah jurang.

Mobil kami beputar – putar selama beberapa kali. Kepalaku terbentur, tubuhku tertusuk. Aku tak bisa merasakan apa – apa lagi. Kesadaranku mulai menipis.

 

END of Hye Mi’s POV

 

——

 

Hyun Sang’s POV

 

“Jadi, apa kau menyukai HyeMi?”, tanyaku padaku pada namja di hadapanku, Kris.

“Ne. Aku menyukainya HyunSang”.

“Lalu, kenapa kau tak mengatakannya?”.

“Aku tak enak padamu dan AhMi-yah. Aku tak ingin menyakitimu dan mengecawakan AhMi-yah”.

“Menyakitiku? Apa maksudmu?”.

“Aku tau HyunSang. Aku tau kalau kau juga menyukai HyeMi-yah. Bahkan lebih lama daripada aku menyukainya”.

“Lalu, memangnya kalau aku menyukainya kenapa? Apa itu akan mengganggu hubungan kalian? Utarakan saja perasaanmu. Tak usah hiraukan aku. Lagipula sepertinya aku memang tak ditakdirkan untuk bersamanya”.

“Benarkah itu HyunSang?”.

“Ne. Cepat datangi HyeMi dan utarakan perasaanmu”.

“Ah, jeongmal gomawo”.

“Cheonma”, ujarku berusaha tersenyum, walau getir.

 

Drrt… Drrt… Drrt…

Aku melihat hand phoneku. JongDae-hyung? Ada apa meneleponku?

“Yeoboseyeo. Waeyeo hyung?”, tanyaku.

“Cepat kerumah sakit!! Ajak Kris!! HyeMi kecelakaan!! Palli!!”, ujar JongDae-hyung panik.

“JINJJA??!! HyeMi kecelakaan?? Baik hyung, aku akan ke sana secepatnya!!”, ujarku menutup panggilan itu.

 

Aku menatap wajah Kris yang juga sama terkejutnya denganku. Aku langsung menariknya menuju mobil miliknya. Menuju rumah sakit. Semoga HyeMi tak apa – apa. Aku tak ingin dia kenapa – kenapa. Aku tak ingin kehilangannya.

 

—–

 

Suasana rumah sakit sudah sangat ramai dan sarat dengan aura panik dan sedih. SeoNa dan SuJie ku lihat hanya bisa menangis bersama, saling berpelukan dan tampak berdoa dalam tangis mereka. JaeHyun terlihat duduk diam dan tampak terpukul. Sama seperti dengan JongDae-hyung juga menunjukkan wajahnya yang sangat terpukul itu.

“Bagaimana?  Bagaimana keadaan HyeMi?”, tanya Kris saat aku dan dia telah sampai.

“Dia masih di dalam sana. Kami sama sekali tak tau bagaimana keadaannya. Semuanya buruk. Nyawanya kritis”, jelas JongDae-hyung.

“HyeMi-yah…”, kataku lirih menatap pintu ruangan operasi itu.

 

END of Hyun Sang’s POV

 

—–

 

Author’s POV

 

Lampu di atas pintu ruang UGD itu berubah menjadi hijau. Seorang dokter keluar dari dalamnya. Wajahnya berkerut, tampaknya ia sedikit khawatir.

“Bagaimana keadaan teman kami ahjussi?”, tanya Kris.

“Kondisinya masih sangat kritis. Lambung kirinya tertusuk oleh kau, sehingga rusak, paru – parunya remuk, tertusuk oleh tulang rusuknya sendiri. Salah satu kornea matanya tergores oleh pecahan kaca mobil, kemungkinan sebelah matanya akan kehilangan fungsinya”, ujar dokter itu.

“Apa dia tak bisa diselamatkan?”, tanya JaeHyun.

“Bisa. Tapi, kami membutuhkan donor ginjal, paru – paru dan mata untuk mengembalikan keadaannya menjadi semula. Dengan begitu, dia bisa diselamatkan. Apa ada yang bisa mencarikan donornya?”.

“Kris, apa kau tak bisa menghubungi kolegamu, meminta tolong untuk mencarikan seorang pendonor?”, ujar JongDae pada Kris.

“Baiklah JongDae. Aku akan menelepon appaku”.

 

“Tak usah, biar aku saja”, cegah HyunSang pada Kris.

“Apa kau tau siapa yang mau menjadi pendonornya HyunSang-ah?”, tanya SuJie.

“Ne. Aku yang aku akan menjadi pendonornya”, jawab HyunSang mantap.

“Jinjja?!! Apa kau mau mati HyunSang? Kalau kau mendonorkannya, kau akan mati. Kau tau itu!!”, ujar JongDae tak percaya.

“Aku tau hyung. Tapi, demi HyeMi, aku rela mati. Toh, nantinya aku akan menjadi salah satu mata HyeMi. Aku akan tetap hidup di dalam mata itu. Aku akan melihat masa depan. Aku akan tetap bisa melihat kalian”, ujar HyunSang tersenyum.

“Tapi HyunSang-ah…”, ujar SuJie lirih.

“Tenang saja SuJie-yah. Aku sudah siap. Terima kasih semuanya. Jeongmal gomawo JongDae-hyung, JaeHyun-ah, SeoNa-yah dan SuJie-yah. Gomawo karena kalian semua sudah mau berbagi waktu denganku selama 14 tahun ini, menemaniku dan menjadi sahabat – sahabat yang selalu ada untukku. Aku akan tetap mengingat kalian. Kalian juga akan tetap mengingatku, kan?”, tanya HyunSang. Dia menangis bahagia.

“Tentu saja… tentu saja.. kami akan… mengingat kau… selamanya”, uajr SeoNa pelan.

“Selamanya? Gomawo SeoNa-yah. Kris, aku minta kau menjaga HyeMi walaupun aku tak ada. Jangan pernah kau buat dia menangis lagi. Arra?”, ujar HyunSang.

“Arraseo. Jeongmal gomawo HyunSang-ah. Aku akan mengingat ini semua”, tukas Kris.

“Gwenchana. Kajja, ahjussi”, ujar HyunSang seraya berjalan memasuki ruang UGD bersama dokter itu.

 

HyunSang telah terbaring di sebuah tempat tidur, bersebelahan dengan HyeMi. Dia terbaring lemah, air mata tak kunjung berhenti mengalir dari kedua matanya. Dia menangis. Tapi dia terlihat damai dan bahagia. Menikmati setiap detik yang tersisa dalam hidupnya yang tak lama lagi akan berkahir.

“HyeMi-yah… kau tau, aku menyukaimu dari dulu. Tapi, aku terlalu pengecut sampai – sampai aku tak berani mengatakannya padamu. Aku opengecut HyeMi-yah. Aku bodoh, aku lemah. Mungkin dengan hal ini akan menjadi satu – satunya caraku untuk menunjukkan betapa besar cintaku padamu. Aku tak butuh jawabanmu HyeMi-yah. Aku juga tak berharap kau menjawab perasaanku ini. Aku hanya ingin kau menerima ini, hidupku. Aku mau kau terus hidup. Aku tak peduli aku kehilangan semuanya. Asalkan kau hidup, aku masih bahagia. Aku tak bisa membayangkan hidup di dunia jika kau telah tiada. Aku bahagia HyeMi-yah. Saranghaeyeo”, tukas HyunSang panjang lebar.

 

—–

 

2 week later…

 

3 orang namja dan 3 orang yeoja terlihat sedang mengelilingi sebuah makan yang masih terlihat baru itu. Mereka berenam berdiri mengelilingi makam itu tanpa ada suara. Hanya ada isakan tangis dan tetesan air mata disana. Mereka meratapi dan menanggisi kepergiaa sahabat yang sangat mereka sayangi, HyunSang, untuk selamanya. Semuanya tampak sedih, terutama gadis yang sedang terduduk di kusi roda itu, HyeMi. Dia menangis dengan sangat hebat di pagi itu. Linangan air matanya tak pernah berhenti dan mengalir dengan begitu derasnya. Seirama dengan sakit yang ia rasakan di dadanya, di dalam hatinya.

 

“HyunSang-ah… aku tak pernah mengira kalau kehilanganmu akan terasa sesakit ini. Aku tak pernah tau HyunSang-ah. HyunSang-ah, aku ingin kau ada disini… bersama kami. Aku ingin melihat tawamu lagi. Aku merindukanmu HyunSang-ah…”, ujar HyeMi lirih ditengah tangisnya yang yak kunjung berhenti.

“HyunSang-ah… gomawo karena telah memberikan hidupmu pada yeoja yang sangat aku sayangi ini. Aku berjanji, aku akan menjaganya”, ujar Kris mantap.

“Mianhe HyunSang-ah, selama ini aku tak pernah membiarkanmu untuk menyentuh hatiku. Maafkan keegoisanku yang tak pernah menghiraukanmu. Jeongmal mianhe HyunSang-ah”, ujar HyeMi.

 

Keenam anak manusia itu terdiam kembali. Menyesapi kesedihan atas kehilangan yang mereka rasakan di hati mereka. Membiarkan mata mereka berbicara, mengutarakan betapa hancurnya hati mereka saat ini, kesedihan karena kehilangan sahabat yang telah bersama mereka selama 14 tahun belakangan ini.  Air mata mereka berjatuhan, seirama dengan langit yang juga mulai menitikkan butiran air di pagi itu.

“HyunSang-ah, apa kau sedang melihat kami disini? Apa kau juga menangis?”, gumam HyeMi pada langit yang terus menjatuhkan butiran air ke bumi itu.

 

Mereka berenam berdiam, menatap langit bersamaan dan mengukirkan senyum pedih kepada langit. Seolah – olah mengatakan pada langit betapa pedihnya hati mereka saat ini. Mereka seolah – olah sedang menyampaikan senyum pedih itu pada HyunSang yang berada di surga agar HyunSang mengerti betapa menderitanya mereka semua akibat kehilangan sahabat sepertinya.

 

 

 

 

-FIN-

19 pemikiran pada “Untouchable

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s