Disdained Affection

Title:Disdained Affection

Author:Ren (@Ichino_Ren)

Rating: T

Genre: Angst, Romance, AU

Main cast:

– Oh Sehun (EXO-K)

– Seo Hayoung (OC)

Supporting Cast:

– Kim Jongin / Kai (EXO-K)

– OC figuran

Length: One-shot

Disclaimer: Saya cuma dalang cerita ini dan tokoh2 di sini cuma wayangnya, OC punya saya, visualisasi OCnya ya punya dia sendiri, Sehun sama Kai punya EXO, EXO punya SM, dan SM punya Lee Soo Man-ssi.

***

Disdained Affection
~How to Find Uncertainties~

Katanya, hidup itu seperti permainan kartu, penuh kejutan. Setiap kali mendapat tumpukan kartu tertutup, semua orang penasaran seperti apa rupa kartunya, apakah memiliki nilai yang kuat untuk menjatuhkan lawan atau tidak. Jika beruntung, kartu yang kita punya bisa mengalahkan lawan, jika tidak, ya kita dikalahkan, lalu mendapat giliran mengocok kartu untuk dibagikan kembali.

Namun, siapa tahu, kalau yang mengocok kartu itu kadang berbuat curang demi meraih kemenangan satu kali saja?

***

“Tidak ada yang mempedulikanku, ya?”
Sehun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, memperhatikan jalanan, pohon dan dedaunan orang-orang yang melewatinya.Tidak ada sumber suara misterius itu.

“Kenapa kau?” tanya Kai yang mendekatinya setelah melihat wajah bingung Sehun.

“Tidak, aku hanya…” Sehun melihat sekelilingnya lagi, “Mendengar ada yang bicara, tapi aku tidak tahu siapa?”

“Eoh?Apa menurutmu, hantu?” balas Kai sambil menyeringai.“Hantu hanya berani muncul pada malam hari.Sudahlah jangan dipikirkan, mungkin kamu kurang makan. Ayo cepat, nanti kita terlambat.”

Sehun mengerutkan dahinya dan mengikuti Kai ke sekolah, masih tidak mengerti. Kejadian ini bukan sekali, tetapi sekitar lima kali Sehun mendengar suara itu. Ia masih tidak mengerti, kalau memang hantu, kenapa harus dirinya? Bisakah hantu itu memilih orang lain? Mungkin memang lebih baik diabaikan daripada dipikirkan, seperti kata Kai.

Sesampainya di kelas, Sehun duduk di tempatnya, yaitu di sebelah Kai.Sehun melihat sepasang mata milik seorang gadis yang memperhatikannya di dekat pintu.Merasa dilihat, gadis itu berpamitan dengan temannya lalu pergi begitu saja.Sehun memasang tampang bingung.“Siapa dia?”

“Siapa?” balas Kai.

“Yang tadi ngomong sama Hyuna dan Jaein. Aku tak pernah lihat dia sebelumnya.”

“Ooh, wajar kau tidak tahu.” kata Kai sambil mengeluarkan buku untuk pelajaran pertamanya. “Namanya Seo Hayoung, dia sunbae kita lho. Sudah sifatnya tidak begitu mau membuka diri pada orang, yang tahu hanya segelintir orang dan klub paduan suara, sepertinya tadi dia mendatangi Hyuna dan Jaein hanya untuk kepentingan klub paduan suara.” jelas Kai tentang gadis itu.“Semua orang menjulukinya Alien-sunbaenim, karena dia sering menarik diri dan aneh.”

“Menurutku Hayoung-sunbaenim tidak aneh… dia cantik.”

“Sehun, Sehun, jaman sekarang ini, jangan nilai orang dari penampilannya saja.” ujar Kai setengah mengejek.“Ah sudah, jangan dibahas lagi, aku jadi merinding tiba-tiba begini.”

Sehun duduk dengan pikiran yang ruwet, Seo Hayoung-sunbae, senior misterius yang sudah mulai merusak konsentrasi Sehun pada pagi hari.Sehun masih memikirkan sorot mata milik gadis muda itu, sinar matanya lembut, cantik, menenangkan, namun jika diingat sekali lagi, Sehun merasa jati dirinya ditelan kegelapan. Di mana secuil rasa takut dari pembayangan  itu kian membesar sehingga membuat Sehun takut sendiri sampai mencengkram lengannya.

***

Istirahat pelajaran, Sehun keluar kelas bersama teman-temannya seperti biasa dan pergi ke kantin sekolah. Sehun duduk dengan makanan yang baru saja ia beli, seperti biasanya, ia mendengarkan ocehan teman-temannya soal pelajaran terakhir, kejadian lucu di kelas. Tak jarang ia menertawakan teman-temannya.

Hingga akhirnya, ia merasa diperhatikan lagi.

Sehun menoleh ke segala arah, lalu matanya difokuskan pada Hayoung yang makan sendirian di sudut kantin.Untung meja tempat Sehun makan berdekatan dengan meja Hayoung, Sehun pun berdiri mendekati Hayoung dan duduk di depannya.“Hayoung-sunbaenim.” panggil Sehun pelan.

Hayoung mendongak dan mendapati wajah Sehun di depan matanya, pipinya bersemu karena malu sekaligus terkejut. Baru kali ini ada yang menyapanya selain segelintir orang yang mengenalnya, apalagi, orang itu memanggil dengan namanya.“Ya?” balas Hayoung ragu.

Sehun mengulurkan tangannya, lalu disambut baik oleh Hayoung.“Namaku Oh Sehun.Hayoung-sunbaenim tidak kesepian makan sendiri?”

“Tidak.”

“Kalau begitu makan saja bersama kami.”

Hayoung mendongak lagi, “Kami?”

“Teman-temanku, lagipula, ada satu tempat kosong di sebelahku.Sunbaenim bisa menempatinya.” kata Sehun.“Tidak keberatan kan sunbaenim aku ‘culik’?”

Setelah diam selama satu menit, Hayoung tertawa kecil, “Baiklah…” Hayoung segera mengangkat nampan makanannya dan berjalan mengikuti Sehun ke mejanya. Teman-teman Sehun mulai berbisik satu sama lain. Ketika Hayoung duduk, mereka saling berpandangan.

“Kenapa kalian seperti itu?” tanya Sehun, beberapa dari teman-temannya menggeleng dan tertawa. Kai menarik lengan Sehun, “Yah, kenapa kau bawa dia?” bisik Kai.

“Memang kenapa? Dia kan bukan hantu, Kai.” jawab Sehun dengan berbisik juga. “Sayang tempat, banyak yang mau cari tempat buat makan sementara tidak ada yang mau duduk di sebelah Hayoung sunbaenim. Daripada begitu lebih baik aku tarik ke sini saja, ya kan?” jelas Sehun.

“Tapi ya tetap saja…”

Sehun sedikit jengah dengan statement yang diberikan Kai, memang apa yang salah dengan Sehun yang menarik Hayoung sunbaenim ke tempat biasa mereka bercanda selama istirahat? Toh yang Sehun lakukan sama dengan yang Hayoung lakukan saat ini, hanya makan dan mendengarkan cerita yang keluar dari mulut teman-temannya.

Sehun berusaha untuk tidak memperhatikan Hayoung, namun ketika ia menoleh ke samping, Sehun kedapatan melihat Hayoung menatapnya secara intens. Dadanya berkecamuk dengan berbagai macam perasaan.Hal ini patut dipertanyakan.

Sunbaenim kenapa menatapku seperti itu?”

“Eh, menatapmu seperti apa?”

“Waktu masuk kelas, aku melihat sunbae melihatku seperti itu.Kenapa?Aku keren ya? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Sehun.

“Tidak…”

“Ah, sunbaenim terlalu tertutup sih, cerita padaku dong.”

“Kalaupun aku cerita, memang kamu mengerti?”

Kali ini, giliran lidah Sehun yang kelu, Hayoung mengangkat alisnya, tanda mengerti. Ekspresi wajah Sehun sudah ditebak Hayoung dengan sangat baik, bahwa apa yang dikatakan Hayoung sudah pasti apa yang akan masuk ke dalam pikiran Sehun jika Hayoung benar akan bercerita panjang lebar.

“Ya… aku akan mencoba untuk mengerti.” jawab Sehun.

“Tidak, kau tidak akan mengerti.”Hayoung berdiri, mengundang atensi dari teman-teman Sehun lagi.“Sebentar lagi waktu istirahat selesai.Aku harus kembali ke kelas.”

“Eh, sunbae‒”

“Aku tidak marah kok, tenang saja.Mungkin aku mengganggu kalian, permisi.”Hayoung kembali membawa nampan makannya dan pergi begitu saja. Satu meja langsung hening, “Kamu ngomong apa sama dia?” tanya Kai. Sehun hanya menggeleng, iabenar-benar tak bermaksud membuat Hayoung tersinggung.

***

Semakin dipikirkan, Sehun semakin tidak mengerti. Mungkin sampai setengah tengkurap di meja kelasnya tidak akan menemukan jawabannya. Gadis yang lebih tua darinya itu terlalu misterius baginya, terlalu banyak rahasia.Kejadian di kantin tadi merupakan salah satu dari kepingan rahasia yang tercecer dan Sehun secara tidak sengaja memungut rahasia kecil itu.

Rahasia itu berhasil membuat Sehun banyak pikiran sampai dunia terasa berputar.

“Oh Sehun, kamu kenapa?” panggil gurunya, membuat Sehun kaget dan bersikap tegap. Beberapa anak sudah was-was melihat Sehun. “Y-ya?!”

“Tampaknya kamu sakit, wajahmu pucat begitu.Perlu ke klinik?”

Yang punya badan sendiri tidak sadar wajahnya begitu putih menyeramkan karena terlalu banyak memikirkan Hayoung.Vertigo ringan mulai menyerang dirinya, “Eh tidak,hanya…vertigo.”

“Vertigo?Kusarankan lebih baik ke klinik saja, Kim Jongin, tolong antarkan dia ke klinik.” tanpa aba-aba lebih lanjut, Kai berdiri dan mengantar Sehun ke klinik.

Klinik sekolah bukan tempat favorit bagi para murid, hanya anak yang sakit dan murid yang terluka karena olah raga yang biasanya ke klinik.Kai segera membaringkan Sehun ke ranjang kosong, “Aku kembali ke kelas dulu ya.” pesan Kai, Sehun hanya mengangguk pasrah.

Sehun menatap langit-langit ruang klinik, yang baginya seperti berputar tidak jelas seperti yang dirasakan para penderita vertigo. Walaupun Sehun sering merasakannya, bukan berarti ia terbiasa dengan rasa sakit.

“Kamu kenapa?”

Suara pertanyaan itu membuat Sehun menoleh, sosok dalam pandangannya tidak begitu jelas, tetapi Sehun bisa tahu siapa orang itu. Seo Hayoung. Sehun mencoba menegaskan pandangannya, sosok Hayoung semakin jelas dengan pakaian seragam lengkap dengan selimut menutupi sebagian badannya.

“Kepalaku pusing‒sepertinya vertigo.Sunbaenim sendiri?”

“Demam.”

Hening lama mengisi kondisi canggung tersebut.Sehun mencoba memikirkan topik untuk dibicarakan, namun kalah cepat dengan Hayoung.

“Hidup ini tidak pasti ya?”

Sehun berbalik menghadap Hayoung.“Maksud sunbae?”

“Hidup ini penuh tidak kepastian, tidak jelas, dan aneh.Takdir seenaknya menentukan jalan hidup kita, membelokkan rencana sesuka hati. Lebih jahat lagi kalau takdir bekerja sama dengan waktu.Waktu sendiri juga sebenarnya kejam, selalu lewat begitu saja, lalu tidak pernah kembali.” kata Hayoung. “Mungkin benar apa yang dikatakan Albert Einstein: Yang pasti dalam hidup ini adalah ketidak pastian.”

Sunbaenim kenapa bicara seperti itu?”Sehun akhirnya bicara, setelah sekian detik takut dalam kata-kata Hayoung tentang ketidak pastian.“Bukankah nasib manusia bisa diubah?”

Hayoung mendengus.“Nasib dan takdir itu berbeda.Nasib bisa diubah manusia, tetapi takdir tidak.Takdir sudah digariskan, sekali untuk selamanya, kecuali kalau kau percaya reinkarnasi.”

“Kalau sunbaenim bisa reinkarnasi, sunbaenim ingin terlahir menjadi apa?” tanya Sehun, membiarkan Hayoung berpikir.

“Aku ingin menjadi bunga.” jawab Hayoung.“Aku ingin menjadi bunga yang tumbuh di padang bunga, yang hidupnya hanya untuk diam di satu tempat dan melihat langit berubah-ubah, hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan, tak perlu bicara.”

Sehun tertegun, melihat Hayoung mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Sehun.Pemuda itu melihat punggung gadis misterius itu, mengharapkan ada satu petunjuk yang membuatnya mengerti segala sesuatu yang diucapkan Hayoung.

Satu rahasia tercecer lagi, dan secara tidak sengaja lagi, Sehun kembali memungutnya.

***

Sehun membuka matanya pelan-pelan ketika mendengar burung berkoar. Sinar matahari tampak merah menyala. Pemuda itu segera bangkit dari tempat tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.Pelajaran sekolah sudah habis tak tersisa, vertigonya pun sudah hilang.Sehun tinggal mengambil tasnya yang masih tertinggal di kelasnya yang terletak di lantai dua.

Namun sesampainya di kelas yang sudah kosong, Sehun hanya mendapat secarik kertas dari Kai.

Yah, Sehun-ah, kenapa kau tidak bawa ponselmu, eoh??!

Kamu tidak kembali juga sampai piket selesai, jadi aku bawa tasmu dulu.

Kutunggu di tempat biasa.

 

Kai.

Sehun menghela napas kesal, “Kalau begitu lebih baik aku langsung pulang saja.” cibir Sehun dan segera berjalan keluar kelas.Di koridor, Sehun terkejut mendapati Hayoung sudah ada di ujung lorong.Gadis itu berdiri kaku, tersenyum tipis dengan tangan di belakang.

“A-ah, Hayoung sunbaenim!” sapa Sehun, berlari kecil mendekati Hayoung.“Bagaimana keadaan sunbaenim?Demamnya sudah turun? Apa yang‒”

Kejadiannya berlangsung begitu cepat, Sehun sudah merasakan pinggangnya didorong oleh Hayoung sampai membentur tembok.Pergelangan tangannya ditahan oleh tangan Hayoung.Senyumnya mengembang dan berubah, tidak lagi senyum yang tenang, melainkan senyum yang menggambarkan obsesi yang kuat.Sehun mencoba meronta lepas, namun ternyata kekuatan tangan Hayoung menang telak dari Sehun.

Sunbae‒”

Sehun merasakan bibirnya disentuh oleh bibir Hayoung, seluruh syarafnya terkejut bukan main.Tangan kanan Hayoung melepas tangan kiri Sehun dan pindah ke leher.Sehun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun Hayoung terlalu kuat.Atau mungkin, kekuatan Sehun yang melarut ke dalam ciuman Hayoung yang semakin dalam, pemuda itu lemas, tidak sanggup melawan.Lidah Hayoung mulai masuk ke dalam mulut Sehun.Begitu tangan kanan Hayoung turun ke dada, Sehun langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong Hayoung.

Hayoung berhasil dijauhkan, Sehun mengusap bibirnya sendiri.Hayoung sudah bisa menebak ekspresi ketakutan yang tersirat di wajah Sehun.

Sunbaenim, wae?

Sekali lagi, Sehun hanya mendapat kebingungan.Pertanyaan mengapa hanya dibalas senyum Hayoung yang berubah pahit.Sinar mata gadis itu berkilat tajam, namun di saat bersamaan juga kelam.

“Kenapa sunbaenim tidak menjawab pertanyaanku?”

“Karena‒”

“Pasti karena takut aku tidak mengerti kan?” potong Sehun tak sabar. Tak lama kemudian pemuda itu mendengus, meski tenggorokannya kering, namun ia paksa untuk bicara. “Maaf jika aku kasar, tapi sunbaenim aneh! Hidup, ketidakpastian, bedanya nasib dengan takdir, reinkarnasi, semua yang sunbaenim katakan aku tidak mengerti! Aku memang tidak mengerti apa yang dikatakan sunbaenim dari awal sampai akhir. Aku mencoba untuk mengerti sampai vertigoku kambuh dan ternyata apa? Cuma… ini?” suara Sehun begitu keras sampai gaung mengulang kata-katanya lagi.

“Kalau ingin menyatakan cinta dengan orang lain, carilah cara yang lebih normal. Cukup katakan bahwa sunbaenim menyukaiku sudah cukup untukku, tidak perlu seperti ini.” tambah Sehun.Hayoung masih diam di tempat, tidak beranjak, bahkan sampai Sehun merapikan bajunya kembali dan setengah berlari menuju tangga pun, Hayoung masih diam.

“Tidak ada yang mempedulikanku, ya?”

Sehun menghentikan langkahnya begitu mau turun tangga, jantungnya berdetak lebih cepat mendengar kalimat itu.Kalimat yang kerap menghantuinya tanpa tahu rupa sumber suara itu, kalimat misterius yang tak bisa diungkap maknanya sampai saat ini.Sehun berbalik kembali ke koridor kelas, dan mendapati dirinya sendirian. Suara itu sama dengan apa yang didengarnya selama beberapa hari terakhir.

Pertanyaan itu dari Hayoung.Tapi kenapa?

***

Keesokan harinya, Sehun dikejutkan oleh berita sekolah yang paling baru. Seo Hayoung, alien sunbaenim, gadis yang mencuri ciuman pertamanya, ditemukan tewasdi lingkungan sekolah.Terpaksa pihak sekolah meliburkan kegiatan untuk masa berkabung, beberapa anak murid menghadiri pemakaman Hayoung, tak terkecuali Sehun juga.

Dari akhir hayat Hayoung, ditemukan beberapa lembar hidupnya yang tak pernah diketahui orang lain. Ternyata, Hayoung sudah dicampakkan ayah kandungnya sejak dalam rahim ibunya.Begitu lahir ke dunia, ibunya meninggal karena pendarahan yang tak bisa dihentikan dokter, membuat Hayoung tinggal bersama neneknya yang masih setengah hati menerima kehadirannya. Sekolah yang ditempati Hayoung terakhir ini adalah sekolahnya yang keenam setelah lima kali pindah sekolah karena menjadi korban bullying dan pelecehan seksual yang dilakukan bekas teman-temannya. Kesialan terakhirnya, sekaligus yang paling parah, adalah menjadi korban pemerkosaan dalam perjalanan pulang sekolah.Hidupnya yang sudah terlalu kenyang menelankekecewaan tanpa ada yang mau menolongnya mungkin menjadi motif Hayoung untuk bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah.

Sehun sampai tak bisa berkata apa-apa setelah semua cerita masa lalu Hayoung terbongkar dan membanjir dari mulut ke mulut.Semua syarafnya mati rasa, tak ada kata yang keluar, tak setetespun air mata yang mengalir.Ia tidak bisa menyesal dan sedih, jika seandainya ia tidak bertanya pada Kai tentang gadis yang bicara pada Hyuna dan Jaein tempo hari, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Bahkan sampai Hayoung meninggalpun, Sehun masih tidak mengerti dengan semua yang sudah terjadi.

“Oh Sehun?” panggil suara serak milik seorang wanita renta yang mulai dikenal sebagai nenek Hayoung.“Benar?”

NeHalmeoni ada perlu apa?”

“Bisa kita bicara sebentar?”

Sehun diam melihat raut wajah nenek Hayoung, tangan renta itu diletakkan di belakang punggungnya.Sehun melihat ada sebuah amplop coklat yang menggembung. Beberapa kerabat dan teman-teman sekolah sudah pergi sehingga menyisakan Sehun dan nenek Hayoung berdua, mereka tak bicara satu sama lain.

“Aku tahu ini akan terjadi.” ujar nenek Hayoung lemah. “Aku tahu takdir Hayoungie akan seperti ini…”

“Kenapa tidak membantunya untuk diubah?” tanya Sehun cepat, ia sudah tak peduli lagi dengan perbedaan nasib dan takdir, ia sudah muak.

“Aku sudah menanyakan pertanyaan yang sama, hanya saja dia bilang, “Biar aku saja yang menghadapi semuanya, halmeonni jangan pedulikan aku.”, dari situ aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku menerima kehadirannya sejak dicampakkan ayahnya yang tidak tahu diri itu. Aku berusaha mendidiknya menjadi seorang wanita yang tegar, tetapi aku salah, seharusnya aku tahu kalau Hayoungie adalah gadis yang rapuh…” air mata wanita tua itu menetes, namun wanita itu menghapusnya. “Aku bahkan baru tahu selama ini ia sedih dari buku hariannya…”Nenek Hayoung kembali menangis terisak, Sehun memeluknya agar nenek Hayoung berhenti menangis.

“Terakhir, aku juga menemukan ini di mejanya.” Nenek Hayoung memberikan amplop coklat gembung yang dipegangnya ke tangan Sehun, di amplop itu tertulis nama Oh Sehun. “Sepertinya hanya kamu yang diberi hak untuk membukanya.”

Nenek Hayoung segera berlalu dari makam cucu perempuannya, Sehun menatap lekat-lekat amplop coklat itu.Semoga ini menjadi rahasia terakhir yang harus diungkap.Sehun membuka amplop tersebut, dan menemukan banyak foto.

Tentu saja bukan foto biasa, itu adalah foto yang difokuskan pada dirinya.Foto saat masuk sekolah bersama Kai, foto saat sedang piket kelas, foto saat sedang olahraga, foto saat sedang festival sekolah, bahkan foto ketika Sehun pulang sekolah sangat jelas. Sehun melihat dirinya sendiri yang sedang tertawa dan tersenyum, tak jarang ia melihat punggungnya sendiri pada kumpulan foto tersebut.

Seketika Sehun bisa merasakan sepasang bola mata Hayoung memperhatikan punggungnya, yang lalu dialihkan pada pandangan lain ketika wajah Sehun terfokus. Sehun bisa merasakan langkah kaki Hayoung yang gemetaran ketika menyusuri lorong koridor sekolah yang sepi, melihat ada Sehun di depan mata, yang ia dorong dan ia cium tanpa alasan yang jelas. Yang melihat punggung Sehun berbalik menolak dirinya, lalu berlari ke atap sekolah dan berjalan pelan sembari melepas sepatunya yang tak sudi ditata ulang lagi.

Sehun bahkan bisa merasakan Hayoung merentangakan tangannya selebar mungkin dengan isak tangis mengiringi akhir hidupnya. Air mata mengalir terus menerus di pipi Hayoung, sampai pandangannya kabur karena terlalu banyak kesedihan yang ia pendam hingga membusuk, dan akhirnya tubuh itu terbang ke udara sebelum akhirnya jatuh tak berdaya, mati begitu saja.

Sehun membalikkan foto terakhir yang ia lihat, sebuah tulisan tangan yang cukup rapi tertulis.

“Aku ingin mata seperti itu melihatku…”

***

Bagi seseorang yang mengatakan bahwa hidup seperti permainan kartu, mungkin ada benarnya juga. Hidup memang seperti permainan kartu, tidak ada yang tahu kartu apa yang akan didapat untuk melawan musuh. Yang kalah akan terus mengocok kartu sampai ia menang.

Ada kalanya yang kalah menyusun rencana curang pada saat mengocok kartu agar ia menang dalam permainan. Namun, ada kalanya yang kalah memutuskan untuk menyerah, mengembalikan kartunya kepada pemain yang tersisa, lalu meninggalkan permainan kartu begitu saja karena terlalu sering kalah.

Hayoung tidak berbuat curang dalam permainan kartu itu, ia hanya menyerah, mengembalikan kartunya, lalu pergi meninggalkan permainan. Hayoung hanya bosan karena selalu kalah dalam permainan. Sekalipun Sehun sudah menyemangati, bahkan menawarkan diri untuk membantu Hayoung agar ia menang dalam permainan.

Untuk kamu yang sering kalah dalam “permainan”, apa yang akan kamu lakukan sekarang?

THE END

Author’s Note: Halo, ini fanfic pertama saya di sini, ceritanya ga jelas ya ? =)) Inspirasinya itu gara2 beberapa buku yang aku baca sama MV Keibetsu Shiteita Aijou – AKB48. Jadilah fanfic ini, hehehe, ya sudah silahkan komentarnya, tapi saya ga terima flaming, oke? 🙂

Iklan

19 pemikiran pada “Disdained Affection

  1. Haloo~ shy reader baru dimari…awalnya aku cuman iseng search nama korea aku dan tadaa~ aku menemukan FF kece ini…
    Ya, nama Korea aku seo ha young ^^

    Dari paragraf pertama shy gak tahu kalo endnya bakal jadi begini…
    Bhasanya aduhh, bagus banget!!!
    plot cerita, dan amanatnya daebak juga!!!

    Terima kasih udah buat FF Daebak ini ya, dan tanpa sengaja dan disangka namanya seperti nama aku…terima kasih!

  2. Waaah, merinding+serem+sedih+takut ya pokoknya campur2 deh perasaannya baca ff ini. Tpi bagus banget, aku suka ❤ . Org kyk hayoung tuh emg sukanya lebih menutup diri ya.. Takut klo cerita ke org lain malah ga percaya atau makin nge lakuin dia ga pantes. Miris bgt sih
    … 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s