Jongin For You

TITTLE: JONGIN FOR YOU

CAST: KAI / KIM JONGIN

EUN JOO (OC)

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @y00nkai)

GENRE: Romance

LENGTH: one shoot

SUMMARY : aku mungkin hanya seekor anjing. Tapi aku adalah sosok yang paling ingin membahagiakanmu lebih dari siapapun -KAI

Notes: terinspirasi dari film Princess and Frog

HALOOOO! Aku kembali dengan membawa ff oneshoot pertamaku. Jadi maaf ya kalau mengecewakan T^T.

Aku membuat ff ini di sela-sela kesibukan ujian dan menyelesaikan ff ku lainnya. Karena lagi nggak dapet inspirasi makanya aku membuat ff ringan ini. jadi, aku minta maaf sama readers yang udah nunggu2 kelanjutan ff ku yang lain tapi malah aku kasih ff oneshoot ini hehehe.

Ah dan satu lagi. Buat readers yang heran kenapa aku selalu menjadikan Jongin sebagai pemeran utama, yah, karena dia adalah sumber inspirasiku : )

~JONGIN FOR YOU~

“Kai?”

Saat mendengar namaku dipanggil, aku langsung menoleh ke sumber suara. Penglihatanku memang tidak bagus, namun, indra pendengaran dan penciumanku jauh lebih hebat dari apapun. Jadi, aku langsung bisa mengetahui dimana letak keberadaan objek yang memanggilku tadi.

Aku langsung bangkit dari tempat tidur mungilku di pojok ruangan, berjalan malas kearah ranjang berwarna putih lalu tidur diatas perut objek, ah maksudku, manusia yang memanggilku tadi.

“Kai…. Kau berat tahu!” Manusia itu berkata sambil menjitak pelan kepalaku. Namun senyuman itu tidak juga hilang dari wajahnya, “Dasar anjing pemalas!”

Aku hanya menatap wajahnya dengan kedua mataku lalu kembali ngelindur diatas perutnya. Ya, aku tahu badanku besar. Tapi, seberat-beratnya aku, masih lebih berat manusia ini kan? Jadi, santai saja.

“Kai….”

Seandainya, aku bisa bicara. Maka kalimat yang akan kuucapkan adalah, “Kenapa memanggilku dengan nada seperti itu, Eun Joo-ya?”

“Kai, aku….” Eun Joo menutup kedua matanya. Lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, “Aku bosan Kai…..”

Aku tahu. Seumur hidup tinggal dalam ruangan bernama kamar rumah sakit memang membosankan. Dan aku memahaminya lebih dari siapapun. Namun tak bisa kukatakan hal ini padamu. Bagaimana bisa aku berbicara dan membuatmu mengerti, bila bahasa yang kugunakan tidak akan pernah kau pahami, sekuat apapun kau mempelajarinya.

“Aku ingin main keluar…..” Eun Joo menolehkan kepalanya pada jendela rumah sakit yang mengantarkan sinar matahari pagi, “Kemana saja. Asal tidak di dalam sini.”

Aku melirik jam dinding yang terpasang di tembok berwarna putih polos ini. Sudah jam sepulu lewat. Biasanya, Taeyeon-perawat yang ditugaskan merawat Eun Joo ,sudah datang sambil membawa sebuah kursi roda untuk mengajak gadis ini jalan-jalan atau sekedar mencari angin. Tapi, mengapa perawat itu belum datang juga ya?

“Taeyeon eonnie bilang, kondisiku sedang menurun. Jadi, ia tidak mengijinkanku keluar kamar.”

Oh, jadi itu alasannya.

“Tapi aku tetap ingin keluar… Aku bisa mati kalau berada disini terus!”

Aku juga. Sudah dua hari tidak ada yang mengajakku jalan-jalan. Paling tidak ke taman gitu. Kenapa para manusia itu tidak mengerti kalau jalan-jalan adalah salah satu kebutuhan penting anjing selain makan dan main?

“Kai…..” Eun Joo mengelus kepalaku, “Sebentar lagi aku tujuh belas tahun loh. Aku ingin pergi keluar. Aku ingin berhenti mengkonsumsi obat-obatan ini. Aku ingin…..”

Sembuh dari penyakitmu?

“Aku ingin jatuh cinta….”

Oh.

Majikanku sudah besar rupanya, sehingga sudah berani untuk merasakan yang namanya cinta.

Itu, adalah keinginan sederhana. Dan bisa terjadi bagi siapa saja. Tapi, lain ceritanya untuk gadis ini.

Eun Joo terlahir dengan jantung yang lemah. Ia tidak pernah pergi ke sekolah, Mall, ataupun taman bermain. Masa kecilnya dihabiskan dengan berobat. Bila berjalan-jalan, itupun hanya singgah ke beberapa negara untuk mencari metode pengobatan yang tepat. Sisanya, ia habiskan dengan mendekam di kamar serba putih ini.

Aku, Kai, anjing peliharaannya sejak delapan tahun yang lalu ini adalah orang, ah, maksudku, binatang yang paling mengerti tentang dirinya. Ayah Eun Joo mengadopsiku dari sebuah toko hewan yang ada di pinggiran kota. Saat itu, aku masih kecil, jadi tidak begitu ingat. Hal yang kuingat hanyalah wajah ceria Eun Joo saat pertama kali menggendongku. Setelah itu, aku tidak mengingat apa-apa lagi.

“Kai……” Eun Joo memainkan lonceng kecil yang tergantung pada kalung di leherku, “aku tidak mengharapkan seorang pangeran atau ksatria. Aku hanya menginginkan orang yang bisa membuatku terhibur dan tertawa hadir dalam hidupku yang cuma sebentar.”

Dari nada suaramu, aku tahu kamu ingin menangis. Jika Tuhan mengijinkan, pasti akan kugunakan jemariku untuk menghapus air matamu. Tapi, apa dayaku. Jika aku menghapus air matamu menggunakan jemari kakiku yang kotor ini, pasti kamu langsung melemparku dari jendela.

“Aku ingin merasakan kebahagiaan. Walaupun sebentar saja.”

Eun Joo mengakhiri pembicaraannya, lalu menutup kedua matanya. Penglihatanku memang hanya hitam putih, tapi, aku yakin bahwa sesuatu yang tiba-tiba turun dari kedua matamu itu adalah air mata. Aku sendiri tidak mengingat kapan terakhir kali diriku ini menangis. Atau, mungkin aku tidak pernah menangis ya?

Tapi, percayalah. Aku sedih melihat kamu sedih.  Aku sakit melihat kamu sakit. Namun, lagi-lagi, memangnya aku bisa apa? Hiburan yang bisa kulakukan hanyalah menggoyangkan ekorku atau menjilat wajahmu. Aku tidak bisa memberikanmu lebih daripada itu.

Malamnya, Eun Joo dan aku menonton sebuah film berjudul Princess and Frog. Bercerita tentang seorang pangeran yang berubah menjadi kodok, dan ia harus mendapatkan ciuman cinta sejati bila ingin kembali ke wujud aslinya.

Namun, bukan inti cerita itu sendiri yang membuatku tertarik. Melainkan adegan pendek dimana seekor kunang-kunang bernama Ray yang jatuh cinta kepada sebuah bintang paling bersinar diangkasa, yang ia beri nama Evangeline.

Saat Eun Joo sudah tertidur, aku naik pada pijakan kecil untuk memanjat jendela yang ada di kamar serba putih ini. Kusibakkan tirai dengan menariknya menggunakan gigiku, lalu terpampanglah pemandangan malam dengan ribuan bintang tersebar diangkasa. Dan diantara ribuan bintang yang berpendar, aku menemukan Evangeline. Bintang paling bersinar diantara cahaya-cahaya kecil lainnya.

Saat aku sedang serius mengamati Evanhgeline, tiba-tiba bintang yang paling bersinar itu jatuh. Seakan lepas dari genggaman sang langit dan jatuh meluruh sebelum kedua mata ini sanggup meraih. Dan saat itu juga, aku langsung teringat sesuatu.

Eun Joo pernah bercerita padaku. Ia bilang, permohonan kita akan terkabul bila kita memohon pada bintang jatuh. Tadinya, aku berfikir bahwa itu hanya dilakukan oleh anak-anak dan orang bodoh saja, tapi, untuk saat ini, biarkan aku menjadi seperti orang-orang bodoh itu. Aku akan memohon pada Evangeline.

“Evangeline, aku tidak tahu apakah kau mengerti bahasa binatang atau tidak, yang jelas, tolong kabulkan permintaanku.” Kataku sambil terus mengamati angkasa, “aku tidak menginginkan mainan baru ataupun makanan anjing paling mahal. Aku hanya ingin membuat Eun Joo bahagia. Bagaimanapun caranya. Aku ingin melihat sebuah senyum manis terpatri kembali di wajahnya yang pucat. Aku ingin memberikan kebahagiaan paling berharga di sisa hidupnya.”

Saat aku selesai mengucap permohonanku, tiba-tiba saja aku merasakan rasa kantuk yang luar biasa seakan menyerang kepalaku. Kedua mataku tiba-tiba terasa berat. Dan pemandangan terakhir yang kulihat hanyalah sosok Evangeline yang tiba-tiba kembali muncul diangkasa.

~JONGIN FOR YOU~

Sinar matahari pagi yang menyusup melewati celah tirai terasa menyakitkan kedua mataku. Aku mengerang kecil sambil mengucek kedua mataku. dan saat itu pula, aku merasakan keanehan yang terjadi.

Ka-kaki ku… Kena-kenapa jadi tidak ada bulunya seperti ini? Kenapa ekorku tiba-tiba tidak ada? Kenapa penglihatanku jadi berwarna begini?

aku langsung bangkir bediri, lalu berlari menuju sebuah cermin yang ada di dalam kamar mandi.

“A-astaga…..” Aku memandang sosokku yang muncul di dalam cermin. Kulit berwarna sawo matang, kedua mata yang bisa melihat warna, tangan dengan jemari yang panjang,  “A-Aku…… Ja-jadi manusia??!!!”

Aku menampar wajahku sendiri. Sakit. Itu berarti ini bukan mimpi. Dan sesuatu yang pertama kali terlintas di otakku adalah….

Evangeline.

Bintang itu mengabulkan permintaanku.

“Kai?”

Guk!” Aku langsung menutup mulutku.  Bodoh. Kau ini sekarang jadi manusia Kai! “I-Iya…..?”

“Siapa itu? Mengapa ada orang di dalam kamar mandiku?”

Bodoh bagian dua. Eun Joo tidak tahu jika aku berubah menjadi manusia.

Aku kembali menatap bayanganku di cermin. Dan melihat seorang manusia berpakaian perawat. Itu berarti, Evangeline menyuruhku untuk perpura-pura menjadi perawat demi menghibur Eun Joo tanpa membuat gadis itu curiga. Evangeline, selain bintang yang baik, kau juga pintar.

Aku berdehem sebentar, lalu melangkahkah kedua kakiku keluar dari kamar mandi, “Selamat pagi Eun Joo…..”

“Siapa kamu? Mengapa kamu bisa masuk ke kamar ini?” Tanya Eun Joo sambil memicingkan kedua matanya.

Kai! Aku Kai!

“A-Aku perawat baru yang ditugaskan untuk menjagamu. Na-Namaku adalah….”

Aku melirik televisi yang sedang menayangkan acara musik. SHINee sedang membawakan lagu terbarunya. Dan saat itu mataku langsung tertuju pada salah satu personilnya yang mempunyai  tubuh kekar berotot, “Namaku Kim Jong…Jong….”

Jonghyun? nanti namanya terlalu sama dengan personil SHINee itu. Jongho? Jongmo? Jongout? Oh, aku tahu!

“Namaku Kim Jongin. Salam kenal ya Eun Joo.” Kataku sambil menarik keujung bibirku. Berusaha untuk membentuk senyuman yang meyakinkan.

Eun Joo mengamatiku lekat-lekat sebelum menangguk kecil.

“A, Em…. Eun Joo apa kau sudah sarapan?”

“Belum.”

“Ma-Mau kuambilkan makanan?”

“Aku bosan dengan makanan rumah sakit.” Eun Joo menarik kembali selimutnya. Respon standar bila ia sedang tidak tertarik akan sesuatu, “Bila urusanmu sudah selesai kau boleh keluar dari kamarku.”

Beginilah gadis itu. Ia selalu dingin terhadap orang baru. “Kalau makan di luar……mau?”

“Di luar?!” Eun Joo langsung mengibaskan selimutnya, “Dimana? Restoran? Kalau begitu aku mau!”

“Yah, nggak di restoran juga sih….” Aku menggaruk tengkukku. Jangankan restoran. Pergi ke kantin di rumah sakit ini saja aku diusir. Mana boleh binatang masuk ke dalam tempat makan. “Kita makan di atap saja. Mau tidak?”

“Atap?”

“Iya. belum pernah kan?” Kalau aku sih, bila sedang bosan di kamar, aku suka jalan-jalan ke atap sendiri sambil bermain dengan pasien anak-anak disini. Jadi sudah hafal jalan menuju kesana.

“Memangnya boleh aku pergi kesana?”

“Kalau tidak ketahuan, pasti boleh kan?” aku mengerling jenaka, “Jadi, bagaimana ? Mau tidak?”

dan saat itu, Eun Joo memberikan senyum pertamanya untuk seorang Kim Jongin, “Mau.”

~JONGIN FOR YOU~

“Kau suka tidak?”

“Aku suka disini. Tapi aku tidak suka makanannya.” Eun Joo menaruh sendoknya diatas mangkuk berisi bubur yang belum di sentuh, “Aku bosan makan sesuatu yang cair seperti ini terus. Aku ingin steak.”

Aku juga mau steak.

“Yah, mau bagaimana lagi. Hanya makanan ini yang sanggup dicerna oleh tubuhmu.” Kataku sambil mengelus puncak kepalanya. ternyata punya kaki yang tinggi seperti ini enak juga. Aku jadi bisa menjangkau sesuatu yang tidak bisa kusentuh saat menjadi anjing.

Eun Joo meniup poninya. Lalu mengambil sendok itu kembali dan mulai melahap makanannya.

Aku mendudukan tubuhku di samping gadis itu, lalu mulai mengamatinya lekat-lekat.

Aku baru tahu bahwa gadis ini mempunyai rambut yang berwarna cokelat madu, bukan hitam. Juga Baru tahu kalau ia memiliki tanda lahir di belakang lehernya.

Dan disaat seperti ini, aku tiba-tiba merasa jauh dengannnya. Aku memang sudah mengenal gadis ini dari dulu, tapi hal-hal dasar seperti warna rambutnya saja aku baru mengetahuinya sekarang. Banyak hal yang ternyata tidak bisa diketahui oleh anjing. Dan rasanya aku ingin menjadi manusia selamanya, agar bisa tetap dekat dengan gadis ini.

“Jongin Oppa

Wah, aku dipanggil Oppa. “Ada apa Eun Joo-ya?”

“Daritadi….aku penasaran.”

“Penasaran kenapa?”

“Kenapa…..kalung yang kau pakai mirip dengan milik Kai?”

“HAH.” Aku langsung meraba leherku. Dan benar saja, kalung dengan bandul lonceng mungil itu masih melingkari leherku, “I-Ini bukan kalung. Ini….ini jimat! Iya, jimat!”

“Kenapa jimatnya mirip kalung anjing begitu?” Eun Joo mengerutkan alisnya heran, “Oiya, Kai ada dimana ya? Aku belum melihatnya sejak tadi pagi.”

“Kai? Ka-Kai, tadi diajak jalan-jalan oleh salah satu pasien. Katanya ia ingin bermain dengan anjing itu. mungkin baru sore nanti mereka pulang.” Kataku berbohong.

“Oh, begitu.” Eun Joo mengangguk kecil, “Baguslah. Kadang aku kasihan padanya. Aku tahu ia pasti bosan. Tapi anjing itu tetap saja menemaniku.” Gadis itu mendongakan kepalanya. menatap langit biru tanpa awan, “Aku sayang sekali padanya.”

Aku juga sayang padamu.

“Jongin Oppa, terimakasih ya untuk hari ini.” Eun Joo menolehkan wajahnya padaku, “Walaupun kau hanya mengajakku ke atap, setidaknya kau sudah membebaskanku dari kamar serba putih itu.”

Jika bisa, aku ingin mengajakmu keliling dunia. Aku ingin menunjukan sesuatu yang tidak pernah kamu lihat. Aku ingin membawamu ke tempat yang tidak pernah kamu pijak sebelumnya. Aku ingin memberikan yang lebih dari sekedar pergi ke atap. Aku ingin memberikan yang lebih dari ini.

“Ah, iya. sama-sama Eun Joo-ya.”

“Kita kembali sekarang?” Eun Joo memutar kursi rodanya, “Aku ingin istirahat, Oppa.”

“Ah,iya.” Aku langsung bangkit berdiri lalu membantunya untuk mendorong kursi roda.

Evangeline, bisakah kau beri aku kemampuan lebih untuk membuat gadis ini bahagia?

~JONGIN FOR YOU~

Esoknya hal aneh kembali terjadi. Aku kembali menjadi anjing. Eun Joo bertanya kepada beberapa perawat dimana Jongin. Dan para perawat itu hanya menggeleng. Berkata bahwa mereka tidak pernah mendengar ada perawat yang bernama Jongin sebelumnya.

Tiap malam aku kembali memohon kepada Evangeline agar merubahku kembali menjadi manusia, tapi bintang itu tak juga mengabulkan permintaanku.

Namun beberapa hari kemudian yaitu pada hari jum’at, aku kembali berubah menjadi manusia. Akhirnya, aku tahu. Ternyata, Evangeline hanya merubahku menjadi manusia saat hari jum’at saja, karena permintaanku yang pertama diucapkan pada hari itu.

Dan setiap hari itu tiba, aku selalu menggunakannya sebaik mungkin. Aku sering mengajak Eun Joo jalan-jalan mengelilingi rumah sakit, Mengenalkannya pada pansien anak-anak yang biasanya bermain denganku, dan mengajarinya menangkap bola.

Kadang naluriku sebagai anjing suka muncul tiba-tiba. Pernah ada seorang pasien yang sedang melempar bola, dan aku reflek mengejarnya. Untung saja Eun Joo tidak curiga. Gadis itu malah terpingkal melihatku yang menangkap bola itu dengan menggunakan mulut. ‘Kau mengingatkanku pada Kai’ katanya.

Hari ini sudah jum’at ketiga dimana aku berubah menjadi manusia. Kondisi Eun Joo yang sedang melemah memaksanya untuk mendekam di kamar ini lebih lama, “Oppa…..

“Ya?”

“Hari minggu nanti aku ulang tahun loh.” Ucap gadis itu, “Oppa, apa kau bisa datang?”

Tentu saja bisa. Tapi aku tidak datang dengan wujud seperti yang kamu mau.

“Aku ingin tapi tidak bisa berjanji.” Kataku sambil mengusap belakang tengkukku, “Tanpa aku pun, kau harus tetap bersenang-senang karena ini adalah hari ulang tahunmu. oke?”

Eun Joo menggumam sambil mengangguk kecil. tapi aku tahu ia pasti merasa sedikit kecewa dengan jawabanku, karena tak lama setelah itu, gadis itu menarik selimutnya lalu berpura-pura tidur.

Esoknya hal buruk tiba-tiba saja terjadi. Kondisi Eun Joo menurun drastis. Gadis itu tidak bisa menelan apapun dan ia merasa sesak seharian. Keringat dingin meluncur dari keningnya. Jemarinya tak pernah berhenti untuk meremas seprai. Terkadang, ia mengerang untuk menahan rasa sakit.

Aku hanya bisa memperhatikannya dari pojok ruangan. Orang tua Eun Joo yang selama ini sibuk pun langsung meluangkan waktu mereka untuk memberikan perhatian lebih bagi anak tunggalnya ini. namun itu semua tidak cukup untuk membuat gadis ini merasa terhibur. Ia selalu menanyakan keberadaan Jongin. Yang hanya bisa dijawab dengan gelengan tanda tidak tahu oleh para perawat.

“Kai……”

Aku yang tadi sedang menggigit-gigit bola tenis, langsung melompat keatas kasur dimana gadis itu sedang berbaring. “Kai, aku merindukan Jongin Oppa….”

“Besok aku ulang tahun. Apakah menurutmu ia akan datang?” Eun Joo mengelus bulu-bulu ku yang lebat dengan jemarinya yang kurus, “Aku ingin mengatakan sesuatu padanya.” Kedua pipi gadis itu tiba-tiba merona. “Aku….sebenarnya aku…….”

Eun Joo tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Tubuh gadis itu tiba-tiba bergetar halus. Ia mulai terbatuk-batuk dan Tangannya terangkat seakan ingin menggapai sesuatu. Dan saat itulah aku tahu bahwa penyakitnya kembali kambuh.

Aku langsung berlari keluar kamar lalu menggong-gong sekeras-kerasnya untuk mencari perhatian. Tapi saat itu lorong rumah sakit sedang sepi.

Dengan cepat aku langsung melompat kembali ke dalam kamar dan menekan tombol alarm kamar dengan kaki ku. Tak lama kemudian dokter dan para perawat pun datang. Mereka membawa alat-alat yang aku tidak tahu apa fungsinya dan mulai bekerja.

“Usir anjing itu!” Dokter itu menunjuk tepat pada manik mataku, “Aku takut nanti ia akan mengganggu pekerjaan kita.”

Apa?!!! Mengganggu? Hei, kau pikir siapa yang memanggilmu kesini?

Salah satu perawat mengangguk dan berjalan kearahku. Aku langsung berlari kepojokan dan menggigit kaki meja. Ia berusaha menggendongku namun kuberatkan massa tubuhku untuk tetap menempel pada lantai agar ia kesusahan. Majikanku sekarang sedang berjuang melawan maut dan aku harus berada disisinya. Aku ingin menguatkannya dengan caraku sendiri.

Akhirnya, perawat itu menyerah sendiri dan kembali melanjutkan pekerjaannya membantu dokter. mereka memasangkan selang-selang ke tubuh Eun Joo. Gadis itu terus merintih sambil memegangi dadanya. Tak lama kemudian, orang tuanya pun datang. Mereka langsung berdiri di samping anak semata wayangnya itu dan terus menggenggam tanganya. Sambil mengatakan kata-kata yang berharap bisa menguatkan gadis itu.

Aku ingin berkata, ‘Berjuanglah Eun Joo’ atau, ‘Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.‘ Tapi, apa yang bisa dilakukan bila kata-kata hanya tinggal bayang dan bahasa tak lebih dari sekedar rasa? Seberapa keraspun aku mencoba, kamu tidak akan mengerti. Aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu melebihi apapun. Aku ingin melindungi kamu dari siapapun.

Oppa…..” Eun Joo tiba-tiba berguman di sela-sela rintihannya, “Oppa…. Jongin Oppa…..”

Ibunya mengerutkan kedua alis, “Kau berbicara dengan siapa?” Tanya nya, “Tidak ada yang bernama Jongin disini.”

Peluh turun dari keningnya. Tapi gadis itu tetap berusaha bicara. “Jongin Oppa.… Tolong aku.”

Eun Joo-ya, aku ada disini.

“Ini sakit sekali Oppa….. Tolong aku. Aku mohon….”

Eun Joo-ya, bisakah kau rasakan? Aku ada disini. Aku ada disampingmu dan tidak akan pergi kemana-mana. Janjiku adalah tidak akan pernah meninggalkanmu, dan akan kutepati itu.

Oppa.…..” Air mata turun satu-satu dari kedua bola matanya. Satu tangannya meremas seprai, “Jongin Oppa…. Kau ada dimana? Ra-rasanya sakit sekali…. Tolong aku Oppa….”

Aku berjalan mendekati kasurnya, lalu menjilat tangannya. Eun Joo-ya, ini aku. Tutup matamu dan rasakanlah bahwa aku disini.

“Dokter, apa anak ini mengigau?” Ayahnya bertanya panik, “Kondisi tubuhnya tidak apa-apa kan?”

Dokter itu menggeleng pelan, “Kondisinya menurun drastis. Semakin lama detak jantungnya semakin lemah. Suhu tubuhnya meninggi tanpa kami tahu sebabnya.”

Aku memang tidak pintar, namun aku tahu kalau apa yang dokter katakan adalah sesuatu yang buruk.

Aku langsung berlari kearah jendela dan menyibak tirai. Evangeline, aku tahu kau disana. Aku tahu kau melihat kami. Tolong sembuhkan gadis itu. Aku rela tidak dibelikan mainan baru dan diberi makanan kucing setiap hari. Aku tidak keberatan bila saat sembuh nanti gadis itu akan lupa denganku. Jadi tolong, sembuhkan dia.

“Jongin Oppa……….”

Saat ia mengatakan itu, entah kenapa hatiku terasa sangat sakit. Yang ia butuhkan saat ini adalah ‘Jongin’ bukan, ‘Kai’.

“Jongin? Itu Kai sayang.”

Heh?

Aku langsung menoleh ke tempat tidur. Dan menemukan Eun Joo sedang menoleh padaku. Satu tangannya terentang seakan ingin meraihku, “Jongin Oppa…. Oppa….”

“Itu Kai, Eun Joo-ya. Itu anjingmu.” Kata ibunya lagi.

Aku turun dari atas jendela lalu menghampirinya. Kau bisa mengenaliku, Eun Joo-ya?

Oppa, terimakasih…..” Air mata kembali jatuh dari matanya, “Terimakasih atas segalanya, Jongin Oppa….”

Gadis itu mengelus puncak kepalaku dengan tangannya yang bergetar, “Jongin Oppa... Aku sayang padamu.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, terdengar suara satu nada yang memekakkan telinga. Alat pendektesi jantung itu memperlihatkan sebuah garis lurus tanpa jeda. Dan tangan kurus yang tadi mengelus kepalaku, jatuh begitu saja.

Ibunya langsung berteriak saat itu juga. ayahnya hanya bisa diam. Memandangi anak semata wayangnya yang pergi tanpa aba-aba.

Evangeline, kali ini kau tidak mengabulkan permintaanku.

~JONGIN FOR YOU~

Hari berikutnya, tak lagi sama. Tidak ada yang membangunkanku bila tertidur sampai siang. Tidak ada lagi yang iseng melemparku dengan gumpalan tissue. Tidak ada lagi yang memanggil namaku dengan senyuman terpatri di wajahnya,

Evangeline tidak mengabulkan permintaanku. Eun Joo tetap pergi untuk selamanya. Gadis manis itu tidak berumur panjang. Ia meninggal sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas.

Kedua orang tuanya kembali sibuk bekerja. Berusaha menyibukkan diri agar tidak teringat dengan kesedihan malam itu. mereka sih, enak bisa menyibukkan diri, lah aku? Memang aku bisa apa bila tidak ada Eun Joo disisi ku?

Setiap malam, aku pergi keatas atap. Memandangi ribuan cahaya yang terpancar sambil mencari Evangeline. Dan bintang itu tetap disana. Seakan mengejekku yang tiba-tiba ditinggal pergi oleh majikan.

Evangeline, sekarang hari jum’at loh. Apa kau tidak merubahku menjadi manusia karena kau tahu Eun Joo sudah tidak ada?

Kali ini Aku tidak akan memohon agar kau menghidupkan kembali gadis itu. tapi, kumohon buatlah gadis itu bahagia. Dimanapun ia berada sekarang, aku ingin gadis itu bebas melakukan apapun yang  tidak bisa ia lakukan saat masih hidup.

Aku menatap Evangeline dengan kedua mataku, lalu melolong sekeras-kerasnya. Eun Joo-ya, apa kau dengar? Aku tetap disini. Di tempat dimana kau pergi bersama Jongin untuk pertama kali.

Aku juga sayang padamu Eun Joo-ya. Lebih dari apapun. Dan aku berharap kau mengetahui hal itu.

Disaat aku masih melolong dengan keras, keajaiban kembali terjadi. Evangeline, satu-satu nya bintang yang paling bersinar diangkasa kini tak lagi sendiri. Tiba-tiba Muncul bintang baru yang berada tepat disampingnya. Bintang yang bersinar terang itu kini menemani Evangeline dengan bersinar tepat di dekatnya.

“Apakah itu kau……… Eun Joo-ya?”

Tidak ada balasan dari pertanyaanku. Bintang itu hanya bersinar lebih, lebih dan lebih terang.

Dan saat itu aku mengetahui, bahwa kini, gadisku baik-baik saja.

~END ~

18 pemikiran pada “Jongin For You

  1. Huaaa.. Kai, kau bereinkarnasi ya? Knpa jadi anjing? #ditabok kai

    sumpe! Ffnya kece sekece kecenya,! Kece badai pokokx.. Aku smpe (hampir) meneteskan air mata..#huuu.. Lebeh deh!

    author kereennn! *hugauthor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s