Every Hope is You

Tittle                : Every Hope is You

Cast                 :  EXO M/ OC’s  ;  Lay/Shin

Genre              :  Romance

Length             :  Oneshot

Author             :  Yen Yen Mariti

Every Hope is You…

“Shiiiiiiin…….!!” Untuk yang kesekian kalinya, Lay meneriakkan nama gadis itu dari balik pintu apartemen. Tangannya menggedor-gedor pintu dengan keras, mencoba membukanya. “Shiiiiin…!!” teriaknya lagi. Lay mendengus, “Jangan salahkan aku,” kemudian dia merogoh saku celana jeansnya, sebuah kunci metalik, kunci duplikat yang dia buat tanpa sepengetahuan gadis itu.

Cepat-cepat Lay masuk kedalam setelah berhasil membuka pintu, dia masuk ke kamar Shin dan menemukan gadis itu masih terbaring di atas kasur, dibalut selimut tebal dan memeluk teddy bear birunya. “Astaga Shin…” ujar Lay frustasi dan kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur. “Shin…” gadis itu masih bernafas teratur, “Hey Shin ayo bangun, ini sudah siang.”

“Enggh…” gadis itu melenguh dan semakin menenggelamkan dirinya kedalam selimut.

“Shin…sayang, ayo bangung kau bisa sakit jika tidur sepanjang hari,” Lay menarik selimut Shin, gadis itu memicingkan mata dan mendadak kulitnya bergidik karena gelitikan angin jam 9 pagi.

“Aku…masih ngantukhhooam..” Shin duduk di atas tempat tidur. Dia menguap dan menggaruk-garuk kepalanya, terlihat konyol dan juga…jorok.

Lay tertawa kecil melihat kelakuan gadisnya yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Tapi ini bagus, setidaknya Shin bukanlah gadis yang suka jaga image di depan kekasihnya. Lay tahu benar sifat Shin, gadis itu selalu tampil apa adanya, “Kau harus mandi sekarang. Ayo..ayo,” Lay menarik tubuh Shin agar turun dari kasur tapi gadis itu enggan bergerak hingga Lay merasa kesal, “Baiklah jika itu maumu,” Lay mengangkat tubuh Shin, menggendongnya kekamar mandi, meletakkan tubuh Shin tepat di bawah Shower dan mengguyur tubuh gadis itu begitu saja hingga gadis itu kehilangan rasa kantuknya.

Shin duduk di depan meja makan sambil memerhatikan Lay yang tengah asik dengan peralatan masaknya, membuat sarapan untuk mereka berdua.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Shin seraya berjalan mendekat ke arah kompor.

“Tidak…tidak usah, aku tidak ingin kau meledakkan dapur ini,” jawab Lay cepat tanpa memandang wajah Shin. Gadis itu mencibir. Tapi memang benar, Lay sangat pandai memasak dan Shin sangat buruk.

“Baiklah,” balas Shin dengan nada menyindir kemudian kembali duduk di kursinya. Lay tertawa pelan sambil melihat sekilas tubuh gadisnya.

Tidak lama, Lay datang dengan masakannya yang benar-benar menggiurkan. Dengan segera Shin mengambil sumpit dan sendok untuk menyantapnya, Lay tertawa melihat tingkah kekanakan kekasihnya.

“Makan dengan sabar Shin, pelan-pelan jangan ceroboh.”

“Ya…ya..ya,” Shin mengangguk-angguk dengan mulut penuh.

“Kulihat baju kotormu menumpuk lagi.”

Shin meminum air putihnya, “Ya begitulah.”

“Kau harus mencucinya Shin, jika kau biarkan maka kamarmu akan menjadi sarang nyamuk.”

“Akan kulakukan lain kali.”

Lay menggeleng-gelengkan kepala. Ini bukanlah hal baru bagi Lay, Shin memang seperti itu. Gadis itu malas, acak-acakan, ceroboh dan entah ‘bad habit’ apa lagi yang dia punya. Tapi Lay mencintainya. Emncintai gadis itu apa adanya, meski dia tidak tahu sedikitpun kelebihan gadis itu apa.

Lay berkali-kali menyuruh Shin agar segera mencuci pakaian kotornya, tapi gadis itu sama-sekali tidak tampak peduli, dan pada akhirnya Lay-lah yang membereskan semuanya. Laki-laki itu dengan tulusnya mengeluarkan semua pakaian kotor Shin, membawanya ke balkon apartemen Shin kemudian  mencucinya sendiri. Dan Shin hanya duduk di kursi santai di balkon itu, dengan jus jeruk dan beberapa keping cookies sambil memerhatikan Lay yang sibuk.

“Ge, apa kau tidak lelah?” tanya Shin sambil menggigiti sedotan jus-nya.

Lay memutar kepalanya dan tersenyum lucu, “Lelah atau tidak tapi aku harus melakukannya. Jika tidak Apartemenmu akan jadi sarang kuman,” jawabnya kemudian kembali fokus pada bak cuciannya yang besar.

Diam-diam Shin tersenyum menatap tubuh Lay dari belakang. Laki-laki itu sudah menemaninya selama empat tahun terakhir, mereka bersama dan selalu bersama. Lay adalah laki-laki paling sempurna yang pernah Shin temukan. Ini bukan karena wajah tampannya, bukan juga karena otaknya yang cerdas maupun status sosialnya yang tinggi. Lay sempurna karena perhatian yang dia berikan pada Shin. Laki-laki itu menjadi sempurna karena cintanya yang begitu tulus pada Shin.

Shin berjalan pelan kearah Lay, ikut masuk kedalam bak cucian, merendam kakinya di sana dan memeluk Lay dari belakang. Laki-laki itu terdiam, dan jantungnya mendadak bekerja secara tidak normal.

“Ge, kubilang aku akan mencucinya tapi tidak sekarang tapi kenapa malah kau yang mencucinya,” Shin berkata lembut dan pelan membuat hati Lay seakan lebur.

“Tidak apa-apa, aku senang melakukannya,” jawab Lay sambil berusaha menggerakkan kakinya untuk menginjak-injak pakaian di dalam bak.

“Kau bukanlah pesuruhku. Kau tidak perlu melakukannya. Aku heran kenapa kau senang sekali mengerjakan pekerjaan rumah untukku, memasak untukku dan banyak lagi. Kau itu kekasihku, jangan lakukan lagi, hn? Aku tidak ingin merepotkanmu lagi,” Shin menyandarkan kepalanya di punggung Lay dan memeluk laki-laki itu semakin erat. Rasanya sungguh nyaman dalam posisi seperti ini. Hanya ada dia dan Lay, di pagi yang sejuk ini.

Lay memutar tubuhnya, wajah mereka berhadapan. Lay tersenyum dan Shin membalasnya, “Tidak apa-apa, aku senang melakukannya. Ini caraku menunjukkan rasa sayangku padamu, beginilah caraku menjagamu Shin.”

Gadis itu tertawa samar, “Begitu ya?”

“Hn…” gumam Lay pelan, dia menangkup wajah Shin dengan tangannya. Menuntun wajah gadis itu agar semakin dekat dengan wajahnya, kemudian menggosok-gosokkan hidungnya  pada hidung Shin. Rasanya lembut, hangat dan begitu menyenangkan. Lalu tak lama setelah itu mereka saling mengecup bibir satu-sama lain.

Mereka berdua duduk di tengah tempat tidur—di kamar Shin. Gadis itu barus saja selesai mandi, rambutnya masih basah dan ini adalah hal yang paling Lay sukai. Laki-laki itu meminta Shin agar duduk membelakanginya, agar dia bisa menyisir rambut Shin.

“Rambutmu harum sekali,” Lay menyisir rambut Shin hati-hati. Rambut Shin sangat panjang, berwarna cokelat—ini asli, bukan karena diwarnai. Shin tidak pernah memotong rambutnya, dulu dia pernah pergi ke salon dan siap untuk memotong rambut panjangnya, tapi Lay datang dan memintanya pulang, jadi  Shin membatalkan acara potong rambutnya setelah Lay berkata bahwa dia begitu menyukai rambut panjang Shin.

Lay mengeringkan rambut Shin dengan hair dryer, “Jangan pernah mencoba memotong rambutmu, hn?” Shin tersenyum kecil dan mengangguk.

“Gege…”

“Hn…?”

“Boleh kutanya sesuatu ?”

“Silahkan.”

Shin memeremas seprai tempat tidurnya, merasa sedikit tidak percaya diri, “Hmm… bagaimana? Bagaimana dengan kesehatanmu?”

Lay tidak menjawab dan meneruskan kegiatannya—mengeringkan rambut Shin. Laki-laki itu menderita hemophilia sejak kecil. Dan itu adalah masalah besar. Lay punya bakat bernyanyi, dia sangat hebat. Tapi amandel membuatnya berhenti bernyanyi, padahal baik orang tua, keluarga maupun Shin, mereka semua tahu impian Lay hanya satu—bernyanyi di atas panggung, di bawah lampu-lampu yang menyorot sosoknya.

“Gege…?”
Lay meletakkan hair dryer, kemudian menyampirkan rambut panjang Shin di pundak kiri gadis itu. Lay mengecupi leher putih Shin, gadis itu merasakan darahnya berdesir, tapi dia diam saja. “Kau harus tahu sesuatu…” Lay melingkarkan tangannya di pinggang Shin, kemudian menyandarkan dagunya di bahu Shin. “Ayah memutuskan agar aku dioperasi.”

“O…operasi?” setitik kekhawatiran menyerang hati Shin.

“Hn… ayah ingin aku sembuh, ingin melihatku bernyanyi lagi,” Shin dapat merasakan hembusan hangat Lay merasuki telinganya. “Kau juga ingin melihatku bernyanyi lagi ‘kan?”

“Y…ya,” Shin menggigit bibir bawahnya. Air matanya hampir jatuh. Lay akan dioperasi. “Ge, apa…apa operasinya sudah dapat dipastikan akan berhasil?”

“Mari kita berdoa,” hanya itu jawab Lay. Dan detik berikutnya bahu Shin bergetar, tangisnya pecah. Lay mendekap gadis itu, mencoba membuatnya tenang. “Jika kau percaya aku akan baik-baik saja maka yang terjadi adalah aku akan baik-baik saja. Tenanglah…”

Shin menganggukkan kepala berkali-kali, Lay meraih wajah gadis itu dan membenamkan wajah gadis itu di dadanya. Mengecupi puncak kepala Shin hingga gadis itu tertidur.

“Kau adalah mimpiku, harapanku. Kau adalah suaraku, kau adalah yang paling berharga bagiku, yang ingin kulihat setiap aku membuka mata. Kau adalah masa depanku, aku berjanji akan baik-baik saja. Aku akan tetap bersamamu, dan menjadi yang terbaik bagimu,” bisik Lay pelan sebelum akhirnya dia menyelimuti gadis itu, mematikan lampu kamarnya dan melangkah pergi. Dia siap untuk hari yang menengangkan esok.

Day by day….

Shin melangkah pelan di lorong rumah sakit. Dia tersenyum saat menemukan ayah Lay yang baru keluar dari kamar inap Lay.

“Selamat pagi paman,” Shin membungkukkan badan, menyapa ayah Lay.

“Pagi Shin,” balas ayah Lay dengan senyum cerah. “masuklah, kau pasti sangat merindukan Yi Xing kami.”

“Ya, terima kasih,” Shin tersenyum kemudian menggeser pintu kamar. Mendadak mata gadis itu berair, dia menangkap sosok Lay tengah duduk di ranjangnya sambil bersandar di kepala ranjangnya. “Lay Gege…” gadis itu melangkah tergopoh-gopoh menghampiri Lay. Shin duduk di tepi ranjang, meraih tangan Lay yang bebas dari infus, meremasnya. Sudah hampir seminggu dia tidak melihat mata Lay terbuka, dia pikir Lay segera berakhir dan dia sempat putus asa. Tapi ternyata Tuhan mendengar doa yang dia sampaikan tiap malam itu.

“Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit, katakan padaku. Apa ada yang mengganjal?” Shin bertanya dengan rakusnya, Lay tertawa. Wajah Shin dipenuhi kecemasan. “Gege…ayo bicaralah.”

Lay tertawa lagi, dia bergerak membuka laci kecil di samping ranjang. Sebuah catatan kecil dan pulpen, kemudian memberikannya pada Shin. Di sana tertulis, ‘Aku masih belum boleh berbicara.’ Shin membuang muka malunya. “Tapi kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Shin lagi, dan Lay hanya mengangguk, “Syukurlah.”

Lay menarik notes tadi  dengan pulpennya, menuliskan sesuatu ‘aku sangaaaaaaaat merindukanmu, bisa peluk aku sekarang?’

Shin tertawa setelah membacanya, “Tentu saja,” lalu dia memeluk tubuh Lay. Membenamkan wajahnya di dada Lay, merasakan denyut nadi Lay. “Aku mencintaimu,” ujar Shin pelan, Lay tersenyum dan ikut berkata seperti itu dalam hati.

Mereka ingin selamanya seperti ini, menggenggam tangan satu-sama lain. Shin berjanji akan tetap mencintai laki-laki ini. Laki-laki yang selalu menjaganya, yang berlaku seperti ayahnya sendiri. Lay juga demikian, Shin akan selalu menjadi adik manis tercintanya, dan akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang akan menempati hatinya nanti.

#The End

Tadinya sih mau bikin seperti yang kemarin-kemarin (seperti ff Chen/Luhan) tanpa konflik sama sekali. Tapi semalam, salah satu fanbase EXO di twitter membahas essay Lay (karena lay ultah) yang kalo ngga salah gege tulis tahun 2004 yang isinya menceritakan kalau gege menderita hemophilia. Kisahnya sedih sekali loh readers, ngga nyangka Lay gege punya kisah semengharukan itu.

Hmmm….btw, ff ini tidak pervert kan? Wkwk. Okelah, Chen sudah (Everything is You) Luhan juga sudah (Everyday is You) dan sekarang Lay. Jadi yang belum sisa Kris, Tao sama Xiuman ‘kan? Semoga masih ada yang mau lanjut baca ff dengan cast mereka bertiga haha. See ya^^

17 pemikiran pada “Every Hope is You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s