Everyday is You

Tittle                :  Everyday is You

Cast                 :  EXO M/ OC ; Luhan/Sun

Genre              :  Romance, PG-13

Length             :  Ficlet

Author             :  Yen Yen Mariti

 

Everyday is You…

 

“Luhan…” ucap Sun pelan dengan suara serak. Gadis itu baru saja bangun tidur saat jam sudah menunjukkan jam 7 pagi, dan tahu-tahu Luhan sudah ada di sampingnya—merengkuh pinggangnya.

Luhan tersenyum kecil pada Sun dan gadis itu membalasnya. “Selamat pagi puteri tidur-ku,” sapa Luhan dengan candaannya seperti biasa yang berhasil membuat Sun cemberut namun diam-diam hatinya berbunga-bunga.

“Kau sudah sarapan?” tanya Sun, gadis itu menatap Luhan dengan pandangan kagum—seperti biasa. Luhan menggeleng. “Kenapa kau belum sarapan?” Sun memekik, dan Luhan tertawa. “Ayo sarapan,” Sun bangkit dari tempat tidur dan hendak turun, tapi Luhan menahannya dengan memeluknya dari belakang.

“Sebentar saja….”Desah Luhan pelan, Sun dapat merasakan hembusan nafas Luhan yang begitu hangat. Memecah gumpalan embun pagi itu.

“Ada apa hn?” Sun bertanya dengan nada lembut, tangannya mengelus punggung tangan Luhan di depan perutnya. Luhan menggeleng, laki-laki itu menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Sun, mengecupinya berkali-kali.

“Luhan….” Bulu roma Sun berdiri, sentuhan Luhan membangkitkan seluruh sarafnya. “Luhan…” nada merajuk Sun berhasil menghentikan Luhan dari aktivitasnya. Tapi laki-laki itu tetap tidak mau melepas dekapannya. Dia mendekap gadisnya sangat lama, menyandarkan dagunya di bahu lembut Sun, mencium aroma kulit yang begitu di sukainya selama mungkin.

 

 

Mata Luhan tak pernah lepas dari sosok Sun yang tengah sibuk memotong sayuran di meja dapur. Sun sesekali mendecak sebal karena merasa risih akibat tatapan Luhan. Dan Luhan sesekali hanya tersenyum tipis.

 

“Sun…” tanpa diketahui Sun, Luhan memeluknya dari belakang. Membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya dan hampir saja dia menjatuhkan pisau kelantai karena saking terkejutnya.

“Luhan….” Gadis itu menggerakkan bahunya kekanan-kekiri berkali-kali agar Luhan melepaskan pelukannya, tapi laki-laki itu begitu kuat. “Aku harus masak, lepaskan aku.”

“Tidak mau,” Luhan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu, “Aku ingin memelukmu sepanjang hari.”

“Lalu kita akan mati kelaparan gara-gara tidak makan seharian karena kau memelukku sepanjang pagi ini dan siang ini juga !” Sun mendecak sebal, dia meletakkan pisaunya di atas meja. “Kau kekanakan sekali,” Sun menggerutu, kulit dahinya mengerut saat dia jengkel. Luhan tersenyum kecil di balik tubuhnya, laki-laki itu memutar pinggang Sun dan gadis itu mau tak mau harus menatap wajah tampan Luhan. “Sudah kubi—” Sun tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Luhan menempelkan bibirnya pada bibir lembut Sun begitu saja. Kedua bibir lembut itu menyatu, dan detik demi detik berlalu terdengar suara kecupan-kecupan yang berakhir dengan lumatan-lumatan.

 

 

“Hari ini kau aneeeeeeh sekali,” Sun memalingkan wajah kesamping, menatap wajah Luhan yang tengah tersenyum tanpa balas menatapnya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam, mereka tidak makan pagi, makan siang dan alhasil jam setengah 7 tadi mereka makan malam sebanyak mungkin. Semua karena Luhan, umpat Sun dalam hati. “Pasti terjadi sesuatu padamu, ya ‘kan?” Sun memiringkan tubuhnya hingga menghadap Luhan. Mereka berdua tengah berbaring di ruang tengah—apartemen Sun— TV menyala, mereka memutar sebuah drama romansa-komedi. Tapi tak satupun di antara mereka yang benar-benar memperhatikan TV. “Luhaaaaaaan,” Sun merengek, Luhan tidak membalas satupun perkataan yang dilontarkan Sun—sejak tadi—

Luhan mengulum tawa, dia memiringkan tubuhnya juga. Mereka saling berhadapan, saling menatap dan saling mengagumi wajah satu-sama lain. Luhan menekan tengkuk Sun hingga wajah gadis bertemu wajahnya, tidak terkecuali bibir mereka. Kali ini tidak ada kecupan maupun lumatan, sekedar menempel saja. “Sun…”

“Ya?” Sun berusaha menyembunyikan pipinya yang merona.

“Aku mencintaimu.”

Sun menggigiti bibir bawahnya demi menahan senyum konyolnya, “A…aku tahu. He-he,” dan gadis itu tersenyum kikuk.

Luhan merengkuh tubuh kecil Sun, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada Luhan. Dia dapat mencium parfum Luhan yang lembut saat menyentuh hidung. “Aku akan ke Korea besok.”

“A..apa?”

“Liburan yang diberikan Agensi. Sekalian bertemu Sehun,” jawab Luhan tenang sambil menatap langit-langit putih ruangan itu.

“Pasti sangat lama,” Sun mengeluh.

“Iya. Makanya, aku pasti akan sangat merindukanmu.”

“Jadi, karena itu seharian ini kau brsikap seperti anak-anak?”

Luhan tersenyum lucu, “Itu bukan sikap kekanakan Sun. lagipula apa salahnya bermanja pada kekasih sendiri,” Luhan membela diri, Sun mencubit perutnya kemudian. “Walau hanya sehari, tapi rasanya benar-benar sulit jika tidak bertemu denganmu.”

Sun tersenyum tipis, “Jangan lupa meneleponku,” pesan Sun. Luhan mengangguk mengerti dan mengecup puncak kepala gadisnya, sebelum dia meninggalkan apartemen Sun untuk beberapa hari ke depan.

 

 

Sun memicingkan mata, sinar mentari yang masuk lewat ventilasi membuatnya mendecak pelan. Gadis itu menggeliat malas, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9pagi. Tidak ada Luhan, maka tidak ada yang membangunkannya pagi-pagi sekali seperti biasa.

 

“Tampaknya seorang puteri tidur kini telah naik tahta menjadi ratu tidur, ya?”

Sun mengerutkan dahi, dia membalik tubuh cepat dan mendapati Luhan di sampingnya, “Lu…han?”

“Hai kekasihku yang pemalas.”

“Kau…bukannya pagi ini kau harusnya sudah berada di pesawat?”

“Ya…memang seharusnya begitu. Tapi sayangnya ada yang tertinggal, jadi aku harus mengambilnya dan sialnya aku ketinggalan pesawat.”

“Bodoh !” Sun memukul kepala Luhan, laki-laki itu meng-aduh. “Apa yang tertinggal ha? Dasar ceroboh kau!”

“Ini…yang tertinggal ini,” Luhan meletakkan telapak tangannya di depan dada Sun, urat nadinya bertemu dengan detakan jantung gadis itu. “Hatiku tertinggal di sini, Sun.”

“APA?!” gadis itu siap dengan bantal yang akan segera menghantam wajah konyol Luhan, namun laki-laki itu terlalu cepat. Dia menarik Sun kedalam pelukannya, mendekapnya erat.

“Sun, kupikir aku tidak bisa jauh sedikitpun darimu.”

“Tapi..”

“Tetap seperti ini. Tetap bersamaku, ya?”

“Hn..”

Luhan mengecupi puncak kepala Sun, “Aku mencintaimu.”

“Tapi, bagaimana dengan Sehun. Bukankah kau sudah berjanji akan mengunjunginya?”

“Oh masalah itu jangan dipikirkan. Aku sudah meneleponnya tadi, memintanya agar dia yang mengunjungiku. Jika dia tidak mauu maka akan kusuruh Chanyeol menendang bokonggnya hingga dia melayang ke daratan China. He-he.”

Sun memukul pelan dada Luhan, “Dasar kau !”  mereka tertawa bersama.

“Ngomong-ngomong, bisakah kau berikan aku morning kiss?”

“Apa?!”

“Ayolah Sun….”

“Tidak mau !”

Luhan mencubit pipi Sun hingga memerah, “Jika kau tidak mau memberi, maka aku yang akan mengambil sendiri,” Sun belum sempat menarik nafas, Luhan lebih dulu menindih gadis itu dan menciuminya hingga Sun hampir kehabisan nafas.

“LUHAAAAAAAAAAAN!”

 

#The End

 

“Hari di mana aku hanya memikirkanmu sepanjang hari

Aku begitu serakah, menginginkan antara kita lebih dekat dari pada saat ini

Hanya selangkah, lebih dekat dari pada itu

Aku berbicara pada diri sendiri, berbisik

Bukankah kau juga ingin tahu?”

—Every End of The Day—IU

 

Hai bertemu lagi. Ff ini sedikit pervert ya he-he. Oh ya, ff ini sejenis sama ff Everything is You. Dan mungkin saya akan membuat ff yang seperti ini lagi dengan cast yang berbeda . Karena saya suka cerita ringan yang romantis tanpa konflik. Jadi, adakah yang mau menunggu Kris, Lay, Xiumin dan Tao masuk dalam ff pervert seperti ini ? wkwk.. see ya J

41 pemikiran pada “Everyday is You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s