Wedding Dress (Chapter 4)

Wedding Dress (Chapter 4 – End)

NOTE             : Sequel of ‘Fall for You’ (Half of My Heart Chanyeol version)

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park)

Main casts       : Park Chanyeol&Song Yejin

Length             : Multichapter

Genre              : Romance, Drama, Marriage life

Rating             : PG-17

Summary         : I’ll do anything for you…

(Yejin’s side)

To        : Nae Sarang Oppa

Oppa, hari ini aku mau pergi ke rumah eomma. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu sebelum aku pergi. Aku akan pulang larut malam, tapi oppa tidak usah khawatir karena Kang ahjussi yang akan mengantarku pulang. Oppa tidak perlu menungguku.

Message sent~

Hahh~

Aku menghela nafas berat setelah membaca lagi pesan yang baru saja aku kirim pada Chanyeol oppa.“Ini sudah benar. Kau sudah benar Yejin.” Berkali-kali aku berkata pada diriku sendiri bahwa apa yang sedang kulakukan ini memang benar.

Aku meninggalkan rumah dengan tanpa izin dari Chanyeol oppa, suamiku. Hanya sederet kata tadi yang ku jadikan permohonan izinku, atau lebih tepat di sebut pemberitahuan karena pada kenyataannya sekarang aku sudah dalam perjalanan. Tanpa izin darinya.

“Kita sudah sampai agassi…” Suara parau dari pria tua yang masih setia mengabdi pada keluargaku, Kang ahjussi, membuatku tersadar kalau mobil yang ku kendarai telah berhenti dan terparkir manis di depan gerbang sebuah taman.

Taman dimana sekitar empat tahun yang lalu, saat hari sudah gelap, seorang pria jangkung menyeretku keluar dari sebuah restaurant dan menggiringku ke taman ini. Malam itu, saat suara beratnya mengakui kalau ia mencintaiku, aku hampir yakin kalau aku akan menjadi wanita paling bahagia sedunia.

Dan saat ini, aku sungguh yakin kalau predikat wanita paling bahagia sedunia adalah milikku. Alasannya tentu karena seorang Park Chanyeol mencintaiku dan sudah menjadikanku wanitanya. Aku bahagia dengan kenyataan itu meski mungkin kebahagiaanku ini terdengar egois mengingat aku yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuknya.

-Flashback-

Segera ku rapatkan mata saat mendengar suara kenop pintu yang di putar pelan. Aku yakin kalau itu Chanyeol oppa.

Jangtungku berdegup kencang, tubuhku mulai gemetar dan aku mulai berkeringat saat aku merasakan ia bernafas di dekatku.

“Chagi… Terima kasih untuk hari ini.” Bisiknya dengan suara beratnya yang khas.

Aku yakin kini ia berada tepat di hadapanku. Tanganku terkepal kuat di balik selimut tebal yang membungkus tubuhku. Menahan getaran yang kurasakan.

“Kau tahu, melihatmu tersenyum tanpa menghindari tatapan mataku seperti tadi sungguh membuatku bahagia. Dan bukankah itu suatu kemajuan?” Ia menarik nafas sejenak. “Kau sudah tidak menghindari kontak mata denganku.” Katanya.

“Hhh… Chagi… Sampai saat ini aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Karena aku kau mengalami kejadian menyakitkan itu. Karena aku kau menjadi seperti ini sekarang. Aku benar-benar menyesal… Aku minta maaf.” Lirihnya dengan suara pelan.

“Aku janji akan menjagamu selamanya. Saranghae Yejin-ah…”

~Deg~ Rasa sakit tiba-tiba menyergap hatiku.

Mataku perlahan terbuka setelah aku yakin kalau Chanyeol oppa sudah beranjak dari hadapanku. Pandanganku mulai kabur saat tanpa bisa ku kendalikan airmata mulai menggenangi kedua mataku. Dan pada akhirnya malam itu kuhabiskan dengan menangis tertahan.

-Flashback ends-

Saranghae Yejin-ah… Kata-katanya kembali terngiang di telingaku.

Sedalam itukah perasaanmu padaku Oppa? Setelah semua yang aku lakukan padamu, kau masih mencintaiku?

<><><>

Kudorong pelan pintu apartemen mungil namun mewah kami setelah sebelumnya memasukkan beberapa kombinasi passwordnya. Aku berhenti melangkah saat mendapati Chanyeol Oppa terbaring di sofa. Ia tertidur meringkuk disana karena sofa itu tidak dapat mengakomodasi tubuhnya yang terbilang sangat tinggi.

Perlahan aku menghampirinya lalu berjongkok di depannya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Dan tentu saja, sangat tampan.

“Kau benar-benar namja yang baik oppa,” bisikku. “Kau suami yang baik. Kau tidak pernah memaksakan kehendakmu, meski aku yakin kalau egomu sebagai laki-laki pasti sudah sangat berontak.”

“Tapi aku, aku bahkan tidak bisa bersikap sebagai istri yang baik.” Tanpa bisa ku kendalikan, air mata mulai meleleh membasasi pipiku lagi.

Tanganku terulur hendak menjangkau wajahnya. Meski dengan sedikit gemetar, ku letakkan ujung telunjuk dan jari tengahku ke tulang pipinya lalu turun sampai ke dagunya. “Maafkan aku Oppa.”

“Eungh…” Aku terenyak saat tiba-tiba ia mengerang dan perlahan membuka matanya. “Yejin-ah… Kau sudah pulang?” Tanyanya.

“Emh… Ne, oppa…”Dengan tergesa-gesa aku bangkit sambil mengusap air mata dengan punggung tanganku.

“Hei, kau kenapa?” Ia bangkit lalu menghampiriku yang sedang berjalan ke kamar. “Kau menangis?” Tanyanya kemudian.

“Ah… Ani.” Ucapku dengan suara yang dengan susah payah ku buat setenang mungkin. “Aku… Aku ngantuk oppa.” Elakku.

Aku menyandarkan tubuh di balik pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Cairan bening itu kembali menganak sungai. Segera ku seka sambil berjalan cepat menuju kamar mandi demi menghindari kekhawatiran Chanyeol Oppa jika sampai ia melihatku seperti ini.

<><><>

(Author’s side)

Yejin kembali memalingkan wajahnya ke jam bulat yang menempel di salah satu sisi dinding dapur, tempatnya berada sekarang.Pukul 7 lewat 30. Biasanya pada jam segini, seorang namja jangkung sudah standby di meja makan dengan koran paginya. Namun kini, kursi itu masih kosong. Bahkan, kopi yang sudah tersedia di meja pun belum ada yang menyentuh.

“Oppa…” Suaranya, mencoba mencaritahu keberadaan sang suami.

“Chanyeol oppa… Kau dimana?”Serunya lagi setelah panggilannya yang pertama tak kunjung mendapat respon.

Yejin melepas apron berwarna hijau yang ia kenakan kemudian berjalan menyusuri beberapa ruangan mencari Chanyeol.

“Oppa… Ayo sarapan. Ini sudah siang, bagaimana kalau kau terlambat ke kantor?”

Kali ini kakinya bergerak menuju kamar tidur mereka. Ruangan terakhir yang ia periksa.

“Chanyeol oppa…” Ia berjalan sambil terus meneriakkan nama suaminya.

“Oppa?” Ujarnya setelah mendapati sang suami tengah berdiri di depan sebuah cermin besar.

“Eh… Yejin-ah…” Chanyeol terlihat agak kaget mendapati sang istri yang sedang berdiri menatapnya di ambang pintu.

“Ada apa ini?” Yejin menyapukan pandangannya ke semua penjuru kamar. Ekpresi penuh tanda tanya terlihat jelas di wajahnya saat ia melihat kondisi tempat tidurnya. Ranjang yang tadi pagi telah rapi ia bereskan, kini terlihat berantakan.

“Emh… Ini… Aku…”Chanyeol berusaha menyusun kata yang akan ia jadikan alasan pada Yejin.

“Oppa, jangan bilang kalau kau tidak bisa memakai dasi?” Tebak Yejin setelah menyadari seluruh dasi yang kemarin ia bereskan bertebaran diatas tempat tidurnya.

“Ehehe… Iya…” Jawab namja jangkung itu sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Lalu… Selama siapa yang membantumu memakai dasi?” Tanya Yejin sambil berjalan mendekati ranjang mereka lalu memunguti dasi-dasi yang berserakan itu.

“Eomma.” Jawabnya yang sukses membuahkan tatapan heran dari Yejin. “Aku meminta eomma untuk membuat semua dasiku siap pakai…” Jelasnya kemudian

Yejin memekik menahan tawa. “Pantas saja hampir semua dasimu sudah tersimpul rapi.”

“Hehehe…” Namja itu hanya bisa tertawa dengan wajah yang memerah karena malu.

“Ya sudah sini, biar aku bantu memakaikannya.” Kata Yejin sambil menaruh dasi terakhir ke tempatnya semula di dalam lemari.

Sementara Chanyeol yang mendengar tawaran bantuan dari Yejin hanya bisa mematung. Alih-alih menghampirinya, ia malah membatu sambil mengerjap-ngerjapkan mata karena masih belum percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Ayo Oppa… Kau tidak ingin terlambat ke kantor kan…”

Karena Chanyeol hanya diam, akhirnya Yejin yang berinisiatif menghampirinya. Yeoja itu terpaksa harus berdiri di ujung jari-jari kakinya, ia berjinjit, karena tubuh Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya.

Dengan lihai, Yejin memainkan dasi berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan suaminya itu. Tidak sampai 3 menit, dasi yang tadi sempat membuat Chanyeol hampir putus asa itu telah berhasil tersimpul rapi di lehernya.

“Nanti, kalau perlu bantuan lagi oppa jangan ragu untuk memanggilku.” Celoteh Yejin. Tangannya terulur mengambil jas kemudian memasangkannya ke tubuh suaminya itu.

Ia terlihat sangat serius dengan pekerjaannya ‘mendandani’ sang suami sampai-sampai ia tidak menyadari kalau sedari tadi Chanyeol hanya bisa memandanginya dengan takjub.

“Sudah…” Pekiknya sambil sekali lagi merapikan kerah kemeja Chanyeol.

Saat itulah mata mereka saling bertemu. Dan akhirnya Yejin sadar apa yang dari tadi dia lakukan. Dia barusaja memperlakukan Chanyeol selayaknya seorang istri memperlakukan suaminya.

Dengan cepat Yejin mengambil langkah mundur lalu membalikkan tubuhnya. “Emh… itu… ini sudah terlalu siang. Biar ku buatkan bekal. Oppa sarapan di kantor saja ya…” Sambil setengah berlari Yejin meninggalkan Chanyeol yang masih membatu. Perlahan namun pasti, senyum terkembang di wajah tampan namja tersebut.

<><><>

(Yejin’s side)

Gelap. Aku berdiri di tengah malam seorang diri.

“Hai cantik…”

Sosok itu muncul dari kegelapan. Berjalan menghampiriku.

“Ku mohon jangan mendekat…”

Ingin rasanya aku berteriak dan berlari. Tapi, apa yang terjadi? Sekuat apapun aku berteriak, tak sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Dan kakiku, kenapa tidak bisa di gerakkan begini?

“Ayolah cantik…”

Bau alkohol tercium semakin tajam seraya semakin menipisnya jarak antara kami.

“Andweeee…”

Tangan besar itu mulai menyentuh wajahku, mengusap pipiku lalu turun ke leher. Tangannya yang lain mengusap pinggangku dan mulai menarikku semakin mendekat padanya. Sementara tubuhku seperti lumpuh. Sama sekali tidak bisa di gerakkan.

“Jebal andweyo…”

Tawa laki-laki itu membahana. Terdengar sangat menjijikan.

“Andweee…” Aku hanya bisa terus berteriak tanpa suara. “Aaaaaaaarrrrggghhh…”

(Chanyeol’s side)

“Aaaaaaaarrrrggghhh…”

Jeritan Yejin kembali membangunkanku di tengah malam seperti ini. Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku mendapati Yejin sedang memeluk tubuhnya sendiri dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.

Sungguh. Aku sangat terluka melihatnya seperti ini. Aku sangat ingin memeluknya, mendekapnya, meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja. Tapi apa dayaku, aku hanya bisa menatapnya haru sambil terus menjaga jarak.

Kalau boleh, aku rela, benar-benar rela menggantikan Yejin menerima penderitaan ini. Aku merasa tidak berguna. Aku suaminya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Yejin-ah…” Kataku hati-hati.

Aku semakin bingung karena Yejin tidak seperti biasanya. Jika sebelumnya ia akan berteriak bahkan memintaku menjauh saat aku hendak mendekatinya, kini, ia hanya duduk meringkuk sambil menangis.

Perlahan aku mendekatinya. “Yejin-ah…” Kataku pelan.

“Oppa… hiks…”

Aku mendengarnya. Meski dengan suara pelan sampai hampir tak terdengar. Tapi suara itu cukup jelas bagiku. Dia memanggilku.

“Yejin-ah…”

Dengan sedikit ragu aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh bahunya yang masih bergetar hebat.

“Oppa… hiks.. Aku… Aku takut… hiks”

Ia berbicara disela isak tangisnya.

“Kau tidak perlu takut. Ada aku disini.”

Tubuhnya sedikit tersentak saat aku, dengan yakin, merengkuh tubuh mungilnya kedalam dekapanku.

“Dia datang lagi… hiks… laki-laki itu… dia datang lagi…”

Aku bisa merasakan ia gemetaran. Keringat masih terus membasahinya meski kenyataannya tubuhnya terasa dingin di dalam pelukanku.

“Tidak, dia tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan melindungimu. Percaya padaku.” Kueratkan dekapanku padanya.

Perlahan kurasakan kalau ia sudah tak lagi gemetar. Tubuhnya mulai terasa rileks dan nafasnya mulai teratur. Bisa kusimpulkan kalau Yejin sudah lebih tenang sekarang.

“Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Kau percaya padaku kan?” Bisikku padanya yang kini tengah meringkuk dalam dekapanku.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan. Ada rasa bahagia yang teramat sangat, yang sulit untuk ku jelaskan. Merasakan helaan nafasnya di dadaku. Merasakan hangat tubuhnya dalam pelukanku. Semuanya membuatku merasa menjadi suaminya yang utuh.

Ku elus rambut panjangnya lembut. Merasakan bahwa dia benar-benar ada bersamaku.“Sekarang tidur lagi ya?” Bisikku.

Yejin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan kiriku sambil menggeleng kuat. “Dia akan datang lagi kalau aku tidur.” Gumamnya.

“Tidak akan. Aku akan menjagamu.” Yejin menengadahkan wajahnya dan menatapku sendu. “Aku janji.” Kataku meyakinkannya.

<><><>

Sumpah demi apapun, aku tidak ingin pagi ini segera berakhir.

Bagaimana tidak, ini kali pertama aku membuka mata dengan pemandangan indah tersuguh dihadapanku. Wajah tenang Yejin yang sedang tertidur pulas dalam dekapanku benar-benar sesuatu yang sangat istimewa yang menyambutku di pagi yang cerah ini.

Segera ku tutup mataku kembali saat dapat kurasakan Yejin bergerak dalam pelukanku. Sepertinya ia sudah bangun. Yejin menghentakkan lengannya pelan, berusaha melepaskan diri dari pelukanku namun segera ku tahan. Ku eratkan lagi pelukanku pada tubuh mungilnya.

“Jangan. Jangan pernah menghindariku lagi. Biarkan aku menjagamu. Aku tidak sanggup melihatmu menderita seperti kemarin. Memendam semuanya sendiri. Aku ingin menjadi bagian dari semua yang kaurasakan. Sedih. Senang. Berbagilah denganku.”

Akhirnya… Akhirnya aku bisa mengungkapkan semua yang sangat ingin kukatakan padanya.

“Oppa…”

Suaranya bergetar. Dan saat kubuka mata, kulihat kalau saat ini ia tengah menangis. Cairan bening itu berhasil mengaliri pipinya yang putih.

Ku ulurkan tangan dan mengusap cairan bening itu kemudian menarik kepalanya ke dalam dekapanku. Membiarkannya mendengarkan detakan jantungku agar ia tahu betapa berada di dekatnya benar-benar membuat jantungku berdebar luar biasa.

“Chanyeol oppa… Gomawo.” Aku tersenyum mendengarnya memanggil namaku. “Nan jeongmal saranghae…”

<>THE END<>

Author’s talk:

Setelah sekian lama membuat readers menunggu (kalo ada yang nunggu), akhirnya author berhasil menyelesaikan chapter terakhir dari kisah Abang Chanyeol ini… #author sujud syukur

Makasih buat yang masih bersedia baca cerita ini… jeongmal gomawo #bow

Dan sebagai rasa terima kasih author buat para reader setia, author mau kasih bonus nih buat kalian… Author bikin after story dari cerita ini. Udah author kirim ko, tinggal nunggu di publish sama mimin-nya…

Semoga reader ga pada kapok yah baca karya2 author…

Makasih… n_n

16 pemikiran pada “Wedding Dress (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s