I Wish…

Title                 :           I Wish…

Author            :           Choi Minjin

Main Cast       :           Kim Jongin, Park Boram

Genre              :           Romance, Sad, Angst

Length                        :           Oneshot

Rating             :           General

AN                   :           Fanfiction pertama dengan Kai sebagai main cast-nya. Biasanya aku bikinnya FF SHINee sih. Hehe. Ceritanya terinspirasi(?) dari scene yang aku buat saat roleplaying, tentunya bareng satu orang lagi yang jadi lawan main(?). Hehe, gomawo PM Boram 🙂 Tapi di sini mengalami sedikit (atau banyak?) perubahan, terutama bagian endingnya. Jadi kalau ada yang merasa familiar, berarti kalian member RP yang sama denganku ^^

Happy reading.

 

 _____________________

Apa yang ada dalam pikiranmu jika kau tidak punya banyak waktu lagi untuk melihat langit malam?

Tidakkah kau ingin melihat bintang bertebaran? Tidakkah kau ingin melihat bulan tersenyum?

Namun malam ini langit begitu hitam. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Haruskah aku menunggu esok datang? Tapi bagaimana kalau esok pun tiada bintang? Esok lusa? Tapi bagaimana kalau esok lusa batas waktunya sudah datang?

Tidakkah hatimu sepi melihat langit sekosong ini?

~~~~~

Jongin melangkah pelan menyusuri taman. Sekolah yang tadinya tidak lagi begitu menarik baginya, entah mengapa akhir-akhir ini begitu ingin dikunjunginya. Ya, tukang bolos, tukang tidur. Jongin mendapat predikat semenarik itu dari teman-temannya.

Meski pagi tadi ia begitu bersemangat berangkat ke sekolah, entah mengapa sekarang ia justru merasa bosan lagi. Taman begitu sepi karena semua siswa tentu saja mengikuti pelajaran. Kecuali dirinya.

Bosan. Ya, Jongin adalah seorang pembosan. Jika tidak ada hal yang menarik, lebih baik dia tidur.

Tiba-tiba bunyi sesuatu berkelontang terdengar. Jongin menunduk, melihat sebuah kaleng minuman kosong tergeletak begitu saja di jalan. Jongin melayangkan kakinya, menendangnya keras-keras tanpa memperhatikan arah tendangannya.

“AH!”

Jongin mematung. Itu tadi suara yeoja. Dari mana asalnya? Ia mengedarkan pandangan, hingga tertumbuk pada seorang yeoja berseragam yang sedang memegangi kakinya.

Jongin menghampirinya,”Eh, kau tidak apa-apa?”ia melihat kaleng yang tadi ditendangnya tergeletak dekat kaki yeoja itu,”Ng, maaf. Aku yang menendangnya. Sakit ya?”

Yeoja itu mendongakkan kepalanya, lalu menyingkap rambut panjang yang tergerai menutupi wajahnya,”Tidak apa-apa. Hanya sakit sebentar.”

“Ti, tidak apa-apa? Sungguh?”entah apa yang membuat Jongin sedikit tergagap. Mungkin rambut panjang si yeoja yang hitam berkilau dan tergerai indah? Atau wajah cantik yang dibingkai senyum tipis? Atau badan ramping dan kaki jenjangnya? Kulit putih halusnya? Suara lembutnya? Entahlah.

“Iya, tidak apa-apa.”ia tersenyum sekali lagi. Sesaat keduanya terdiam dan canggung. Kemudian yeoja itu mencoba bertanya,”Apa kau kelas satu? Siapa namamu?”

“Kim Jongin.”Jongin menjawab cepat. Kemudian sedikit pelan, ia bertanya,”Namamu?”

“Aku Park Boram, kelas tiga.”

“Ah, seonbae.”Jongin membungkukkan badan, mencoba menunjukkan sopan santunnya. Boram hanya tersenyum simpul,”Baiklah. Aku harus kembali ke kelas. Annyeong Jongin-ssi.”

Jongin melihatnya pergi dengan hati yang entah mengapa terasa hangat.

~~~~~

Kim Jongin bukanlah tipe namja yang akan mengatakan perasaannya terlalu blak-blakan. Namun ia juga bukan orang yang suka memendam perasaan. Sedikit perkataan enteng darinya, maka semua orang akan mengerti. Saat berkumpul bersama banyak orang membicarakan sesuatu, ia hanya akan berpendapat sekali lalu mengalihkan pandangannya kemana saja, melihat hal yang baginya menarik seperti barisan awan cirrus atau jaring laba-laba.

Namun di kelas diskusi siang ini berbeda. Mereka duduk melingkar di sekeliling sebuah meja di perpustakaan. Jongin tidak bisa memandangi awan karena ia duduk jauh dari jendela. Di sini juga terlalu bersih, sama sekali tidak ada jaring laba-laba. Maka ia hanya bertopang dagu dan menatap kosong teman-temannya yang berdiskusi.

Setidaknya sebelum ia melihat suatu objek yang sangat menarik untuk dipandang.

Meski baru satu kali ia melihatnya, tapi matanya sudah hapal benar rambut panjang itu, wajah manis dengan senyum simpulnya yang menarik hati. Park Boram duduk sendiri di sudut ruangan, membaca entah apa.

Ia tidak mengatakan ia tidak dapat berpikir jernih. Pikirannya sejernih air di pegunungan. Ia tahu bahwa ia menyukai Park Boram dan bahwa hanya ada satu tindakan yang mungkin dilakukannya. Ya, ia yakin dan keyakinannya ini mendesaknya. Desakan ini mendorongnya bangkit berdiri. Lalu tanpa menarik perhatian melangkah mendekati Park Boram kemudian duduk di sampingnya.

Boram segera mengalihkan konsentrasi dari buku yang dibacanya. Dilengkungkannya sebuah senyum begitu melihat Jongin di sampingnya,”Annyeong. Sedang apa kau di sini?”

“Untuk mengatakan sesuatu.”

Boram mengangkat satu alisnya,”Oh… ya? Padaku?”

Jongin mengangguk ringan. Lalu tanpa tedeng aling-aling dikatakannya begitu saja,”Noona, aku menyukaimu.”

Sunyi.

Boram perlu mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyadarkannya dari keterkejutan. Dicobanya meneliti ekspresi wajah Jongin untuk memastikannya bercanda atau tidak,”Eh? A, apa?”

“Mungkin ini terlalu cepat dan spontan. Aku belum menyiapkan apa-apa.”Jongin menggaruk tengkuknya,”Kalau begitu tunggu saja.”

Boram hanya dapat melongo melihat Jongin yang pergi setelah memamerkan senyum seringainya yang unik itu.

Apa yang orang bilang tentang Kim Jongin yang tidak terlalu blak-blakan? Apa sifat seseorang dapat berubah begitu cepat?

~~~~~

Boram menghela nafas dalam mengingat kejadian siang tadi. Kim Jongin, namja yang sangat aneh. Apanya yang aneh? Tentu saja bagaimana ia begitu terang-terangannya menyatakan suka padahal mereka baru sekali bertemu secara kebetulan. Selain itu… seringainya itu juga aneh.

Tapi menarik.

Ia mengambil tasnya. Sekarang sudah pukul tujuh malam, dan ia harus segera pulang. Jam tujuh malam sebenarnya termasuk awal. Karena ia sudah kelas tiga dan ada begitu banyak materi yang belum dikuasainya untuk ujian masuk universitas, terkadang ia harus pulang pukul sembilan atau sepuluh malam.

Di koridor, ia berpapasan dengan seorang yeoja yang entah mengapa tidak mau memberikan jalan padanya. Apa lagi ini?

“Apa kau Park Boram?”

Meski dipenuhi keheranan, Boram mengangguk,”Iya. Kenapa?”

Yeoja itu menyerahkan secarik kertas padanya,”Seseorang menyuruhku memberikan ini padamu. Katanya aku harus memastikan kau menerimanya dan membacanya.”

Boram menerimanya dengan setengah hati,”Oke. Baiklah. Aku akan membacanya segera setelah kau pergi.”

“Tapi benar ya, kau akan membacanya? Harus di sini.”

“Iya, pasti kubaca.”Boram menjadi senewen. Setelah yeoja menyebalkan itu pergi, Boram yang dipenuhi rasa penasaran segera membuka lipatan kertas dan membacanya cepat:

 

Park Boram noona, ini aku Kim Jongin.

Tepat jam tujuh malam, aku akan merancang kembang api selama setengah jam di langit depan sekolah. Hanya setengah jam, karena aku tidak punya banyak uang untuk menyuruh mereka membuat pertunjukan kembang api selama berjam-jam. Selama kambang api itu masih menyala, aku akan duduk di bangku kayu dekat lapangan basket, menunggumu. Tolong temui aku. Aku akan tetap menunggu, selama kembang api itu masih menyala.

Kau punya hak untuk datang atau tidak. Hanya ingin kau tahu, aku masih menunggu sampai kembang api itu mati. Dan kembang api itu noona, dibuat khusus untukmu.

 

Boram melipat lagi kertas itu. Setengah berlari, ia menghampiri jendela. Dan benar saja, ada kembang api warna-warni menghiasi langit.

Kim Jongin itu benar-benar berniat melakukan semua ini? Belum ada dua belas jam sejak mereka pertama bertemu dan ia sudah sejauh ini?

Boram melirik jam tangannya. Sekarang pukul 19.18. Dua belas menit tersisa. Apa yang harus dilakukannya? Datang ke sana? Atau pulang saja?

Boram mencoba menanyai hatinya sendiri. Hatinya tahu ia tersentuh atas semua ini. Namun ia tidak tahu apakah Jongin adalah namja yang baik untuknya. Kenapa ia tidak memberi kesempatan baginya untuk mengenalnya lebih jauh sebelum memutuskan? Kenapa hanya setengah jam? Tidak, bukan setengah jam. Kenapa hanya dua belas menit?

Boram terdiam memandangi kembang api yang begitu indah. Bahkan beberapa kali ada yang berbentuk hati.

~~~~~

Jongin duduk di bangku kayu, memandangi langit yang berwarna-warni. Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya. Ia puas langit malam ini tidaklah kosong. Meski tanpa taburan bintang, setidaknya pancaran kembang api itu meramaikan. Ia pun puas karena banyak orang di jalan yang berhenti dan menatap kembang api-kembang api itu sejenak dalam kekaguman.

Ia melirik arlojinya, pukul 19.24. Apakah Boram tidak berniat datang? Jongin menghela nafas pasrah. Dipandanginya lagi pancaran cahaya warna-warni di langit. Sayang, dalam enam menit, pertunjukan menarik ini akan berakhir.

Jongin tidak ingin memejamkan mata, walau hanya sekejap.

“Ya! Kim Jongin.”

Jongin menoleh mendengar suara lembut itu. Untuk saat ini tidak ada yang dapat menandingi betapa leganya Jongin melihat sosok Boram, meski ia tampak agak berantakan karena habis berlari.

Jongin bangkit, diambilnya sebuket mawar ungu dari sampingnya. Diulurkannya bunga itu pada Boram,”Mawar ungu itu langka. Terimalah.”

Boram menerimanya, sedikit gemetar,”Gomawo.”

Jongin mendongak,”Wah, kembang apinya selesai.”ia memandang Boram lagi,”Tapi yang penting kau sudah datang.”

Yang bisa dilakukan Boram hanya mengangguk kecil,”Ya, aku datang.”ia mendongak, mencoba mencari sisa-sisa cahaya yang mungkin masih ada,”Itu tadi… indah sekali.”

“Tidak ada keindahan yang menandingi dirimu.”Jongin tertawa kecil setelah mengatakan itu,”Ah, aku sangat buruk dalam hal ini. Ckck.”

Mau tidak mau Boram tersenyum. Entah karena gombalannya atau karena Jongin yang tersadar bahwa gombalannya buruk.

“Nah, mari kita langsung saja ke pokok masalah.”Jongin menenggak ludah, lalu dipandangnya wajah Boram lekat-lekat,”Noona, maukah kau jadi yeojachinguku?”

Ini dia. Boram memainkan bunga di tangannya dengan bimbang. Secepat inikah? Ayolah, mungkin ia bisa menyukai Jongin, melihat semua yang dilakukannya dan ketulusan yang terpancar dari matanya. Tapi secepat inikah?

“Noona, kau tidak mau?”

Boram memantapkan hatinya,”Baiklah. Aku mau.”

~~~~~

Jarum jam menunjuk angka delapan ketika mereka sudah berjalan keluar area sekolah. Entah kemana tujuan mereka. Yang pasti bagi Jongin adalah, menghabiskan waktu sepuasnya dengan Boram noona sangat menyenangkan baginya.

“Noona, bagaimana kalau kita ambil selca?”

“Selca?”Boram terhenti sejenak untuk melihat wajah semangat Jongin,”Boleh. Dimana?”

Jongin menunjuk sebuah kolam dengan air mancur yang dihiasi lampu warna-warni,”Ayo ke sana.”

Boram menurut saja ketika tangannya ditarik lembut ke sana. Ini pertama kali baginya berada di sini bersama seorang namja. Wajah ceria Jongin begitu tampan dan menyenangkan hati. Tadinya ia berpikir wajah yang selama siang tadi terlihat datar dan hanya menyeringai kecil itu tidak bisa berekspresi seceria ini.

Mereka mengambil selca berdua dilatar belakangi air mancur yang berwarna-warni. Jongin menunjukkan hasilnya,”Bagus, bukan? Walaupun aku jadi terlihat sangat gelap di sampingmu.”

Boram tergelak kecil,”Iya, kau jadi seperti hantu.”

“Sini, kukirimkan ke ponselmu.”

Boram membiarkan begitu saja apapun yang dilakukan Jongin. Ketika ia menerima kembali ponselnya, dengan heran dipandangnya wajah Jongin yang tiba-tiba berubah ekspresi,”Simpan baik-baik foto itu, noona.”

Boram mengangguk.

Jongin kembali tersenyum,”Ah, kenapa langitnya gelap sekali.”dirogohnya saku dalam jaket lalu dikeluarkannya sebungkus kembang api batangan,”Ayo kita main kembang api lagi. Mungkin di atap gedung akan sangat bagus.”

Boram, sekali lagi, hanya mengikuti apapun yang dilakukan Jongin.

~~~~~

Keesokan harinya, langit begitu cerah dihiasi barisan awan cirrus yang memesona. Boram duduk dekat jendela di perpustakaan. Semalam ia pulang cukup larut, pukul sebelas malam. Namun baginya tidak masalah. Rasanya menghabiskan waktu bersama Jongin sangat menyenangkan.

Ah, itu dia yang ditunggunya. Kelas Jongin hari ini berdiskusi lagi di perpustakaan. Boram mengalihkan pandang. Nanti ia akan menemuinya setelah kelas diskusi selesai.

Dipandangnya langit. Perkataan Jongin semalam di atap sebuah gedung yang belum selesai pembangunannya tiba-tiba terngiang lagi:

Kalau langit malam kosong, rasanya hampa bukan? Karena itu kalau tidak ada bintang, kita nyalakan saja kembang api. Ah, tapi sayang kenapa langit harus gelap malam ini? Kenapa… harus malam ini?

Tanpa sadar Boram sudah melamun selama berjam-jam. Kelas diskusi itu baru saja selesai. Ia berdiri, mencoba mencari-cari sosok tinggi Jongin. Tapi tampaknya ia sudah keluar.

Boram menghampiri salah satu teman Jongin. Ia ingat itu adalah yeoja yang semalam mengantarkan pesan Jongin,”Maaf, dimana Jongin? Dia sudah keluar?”

“Jongin?”yeoja itu mengerutkan dahi,”Kim Jongin?”

Boram mengangguk,”Iya, Kim Jongin.”

Yeoja itu menggigit pelan bibirnya sendiri sebelum berkata,”Apa kau tidak tahu? Jongin meninggal pagi ini. Dia ternyata menderita suatu penyakit.”

Kepala Boram kosong. Rasanya seperti terhantam batu. Atau jatuh ke dalam sumur. Rasanya kosong dan gelap. Bahkan ketika yeoja itu sudah pergi, Boram masih mematung di tempatnya. Tidak tahu harus bagaimana. Semua inderanya kaku. Semuanya tidak masuk akal.

Segera setelah tangannya mendapat kekuatan untuk bergerak lagi, ia meraba sakunya. Dengan gemetar dikeluarkannya ponselnya. Dicarinya foto yang semalam mereka ambil. Dipandanginya wajah Jongin lekat-lekat. Masih ada. Masih ada wajah Jongin di sana. Berarti yang kemarin itu memang nyata. Tapi…

Entah mengapa, rasanya ada yang berbisik. Tiba-tiba saja ia sangat ingin mengecek e-mail.

Dan ada satu pesan yang baru masuk tadi pagi. Pesan itu masuk tepat pukul 06.00.

Boram memejamkan mata sejenak, mempersiapkan diri membacanya. Setelah meyakinkan diri ia kuat, dibukanya kelopak matanya, sangat perlahan.

Dan ia membacanya, begitu pedih.

 

Noona, terima kasih sudah menjadi yeojachingu yang pertama dan terakhir untukku.

Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus menyatakan perasaanku padamu segera setelah aku yakin akan perasaanku. Aku tidak tahu kapan batas waktuku datang.

Namun sayangnya semalam langit benar-benar gelap. Aku sangat ingin memandang bintang bersamamu noona. Itu adalah salah satu keinginan terbesarku sebelum waktunya tiba.

Tapi pagi ini… aku sadar keinginan itu rasanya tidak mungkin terpenuhi.

Setidaknya aku berhasil mewujudkan keinginanku yang lain. Setidaknya kau telah menjadi milikku, meski hanya sehari.

Terima kasih, noona.

 

Boram harus berpegangan di bingkai jendela untuk menopang tubuhnya yang lemas. Layar ponselnya sudah basah. Dengan nafas tidak beraturan dipandanginya lagi foto itu. Foto yang dipesankan Kim Jongin untuk disimpan baik-baik.

-end-

-minjin’120705-

12 pemikiran pada “I Wish…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s