Kyungsoo’s Diary

Title                 :           Kyungsoo’s Diary

Author            :           Choi Minjin

Cast                :           Do Kyungsoo, Kim Jongin

Genre              :           Friendship, family, sad

Length                        :           Oneshot

Rating             :           General

 ____________________

Do Kyungsoo dapat melihat Namsan Tower dari tempatnya berdiri, membayangkan ia ada di sana bersama seorang yeojachingu, atau paling tidak seorang teman. Namun karena pada kenyataannya itu tidak terjadi, ia hanya bisa bersyukur dapat melihat Namsan Tower.

Disibakkannya lagi tirai jendela. Di sana, Han Gang tampak ramai, penuh kehidupan. Sinar matahari musim panas membuat airnya berkilauan. Sekali lagi Kyungsoo hanya dapat bersyukur dan berharap suatu saat ia akan mengajak semua temannya bermain-main di tepian Han Gang.

Di luar sana, kota Seoul begitu hidup. Di dalam sini di bangunan ini, ada jiwa-jiwa yang tak bisa sama hidupnya. Mereka melalui hari tanpa banyak berharap. Beberapa memilih berbaring dan menutup tirai jendela, memandangi langit-langit hingga waktunya tiba. Do Kyungsoo adalah satu dari sedikit pengecualian. Ia memilih untuk menghadapi segalanya. Ia ingin merasa hidup, walaupun tak lama.

“Kyungsoo-ya…”

Kyungsoo mencoba membentuk senyum terlebih dahulu di wajahnya sebelum menoleh,”Ne, eomma?”

Ibu Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga mencoba terlihat tegar. Melihat senyum Kyungsoo justru membuatnya semakin ingin menangis. Hatinya terenyuh mengetahui betapa tegarnya putra semata wayangnya itu,”Kyungsoo-ya, apa… apa kau ingin pergi ke Namsan tower? Atau ke Han Gang? Katakan saja pada eomma.”

Kyungsoo mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela. Perlahan ia menggeleng,”Tidak, eomma. Aku memang ingin kesana tapi… aku tahu itu tidaklah penting. Aku sudah sering ke sana waktu kecil.”ia terdiam sesaat, memikirkan sesuatu,”Aku lebih ingin… pergi ke tempat lain.”

“Kemana?”

Kyungsoo tersenyum, senyum yang tidak mencapai mata besarnya yang sayu,”Ke sekolahku dulu.”

~~~~~

Musim panas tahun ini memang panas. Semua siswa yang baru saja keluar gerbang berkeringat dan memayungi mata mereka dengan telapak tangan. Beberapa namja membuka beberapa kancing kemejanya.

Kyungsoo memandangi mereka dengan seksama satu persatu. Sejak tadi orang yang ditunggunya belum juga tampak batang hidungnya. Meski sinar matahari begitu terik dan terasa panas membakar kulit, Kyungsoo tidak begitu peduli. Ia hanya menyipitkan matanya sembari bersandar ke sebuah batang pohon, masih mengawasi gerbang dengan seksama.

Ia adalah lulusan Sekolah Menengah Atas ini. Belum lama ia lulus, baru beberapa bulan lalu. Namun ia tak seberuntung teman-temannya yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Terkadang hal itu membuat hatinya perih. Namun apa yang dapat dilakukannya? Penerimaan adalah satu-satunya hal rasional baginya. Penerimaan itu pula lah yang membuatnya berdiri di sini di siang terik ini.

Perlahan matanya melebar melihat sosok seorang namja. Namja itu berkulit agak gelap jika dibandingkan dengan yang lain. Ia menyampirkan tas punggungnya di pundak. Semua kancing kemejanya lepas, memperlihatkan kaos putih di baliknya. Rambut hitamnya acak-acakan. Wajahnya yang khas itu membuat Kyungsoo yakin bahwa namja itu adalah Kim Jongin. Selama apapun tidak bertemu, wajah itu tidaklah mudah dilupakan.

Senyum mengembang di bibir Kyungsoo. Ia berjalan secepat mungkin ke arah Jongin,”Jongin-ah…”

Jongin berhenti berjalan begitu mendengar namanya dipanggil. Suara itu familiar baginya. Berbulan-bulan tak mendengarnya, tidak membuatnya lupa. Suara khas merdu itu tentulah milik… ya, Do Kyungsoo. Jongin tahu itu bahkan sebelum ia menoleh dan mendapati Kyungsoo berdiri tidak jauh darinya. Tetap, dengan tampang khasnya itu.

“Kyungsoo.”katanya, singkat. Kyungsoo tidak mengharapkan lebih dari itu. Jangankan panggilan ‘hyung’, dipanggil namanya saja sudah di luar ekspektasi Kyungsoo. Hatinya lebih dari senang mendengar Jongin menyebut namanya.

“Jongin, apa kabarmu?”

Jongin mengabaikan pertanyaan itu,”Sedang apa di sini? Ada urusan denganku?”

Kyungsoo berusaha meredakan sakit di dadanya mendengar nada sinis dalam perkataan Jongin,”Ah… tidak bolehkah aku menemuimu? A… adikku sendiri?”

“Adik?”suara Jongin tak lebih dari sekedar bisikan. Ada kesinisan dan kepahitan di sana,”Bukankah kau sendiri yang memutuskan hubungan kakak-beradik itu, Do Kyungsoo?”Jongin mengeratkan pegangan pada tali tasnya,”Seingatku aku tak punya saudara di muka bumi ini.”

Kyungsoo hanya terdiam. Cukup berat baginya untuk memberanikan diri mendongak menatap Jongin. Namun ternyata itu pilihan yang salah. Melihat sorot mata Jongin yang penuh kebencian membuat hatinya semakin sakit. Sakit. Lebih sakit dari rasa sakit yang lain.

Tanpa kata, Jongin melanjutkan langkahnya. Disenggolnya bahu Kyungsoo dengan sengaja. Ayunan langkahnya yang lebar itu mantap, semakin menjauh menyusuri jalanan setapak yang dipayungi pepohonan. Kyungsoo masih berdiri di tempatnya, di bawah sinar matahari yang seakan mengejeknya. Mengejek hatinya yang kelabu.

~~~~~

“Janji itu hutang. Hutang itu nyawa. Mengingkari janji artinya kau mempertaruhkan nyawamu.”

Semakin ia mengulang kata-kata itu, rasanya semakin nyata. Rasanya itu memang benar. Mengingkari janji artinya mempertaruhkan nyawa. Entah kebetulan atau bukan, itu memang terjadi padanya.

Langit-langit putih yang dipandanginya itu tampak kelabu. Matanya berkabut. Entah itu efek obat-obatan atau hanya perasaannya saja. Nafasnya yang satu-satu itu memenuhi telinganya. Rasa sakit itu membayangi setiap hela nafasnya.

Namun pikirannya tak bisa lepas dari sosok tinggi itu. Sosok orang yang pernah mengikat janji dengannya. Janji… bertahun-tahun silam.

~~~~~

8 November 2001

Akhirnya aku punya teman. Namanya Jongin. Dia jahil sekali, mengotori celanaku dengan kapur. Kupikir dia jahat, ternyata tidak. Dia menyelamatkanku dari Chanyeol yang –seperti biasa- melempar susu pisang ke wajahku. Mereka bertengkar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Meski terluka Jongin berkata ia hanya merasa pegal. Hahahaha. Wajahnya jadi jelek sekali. Oh iya, aku juga baru tahu hari ini bahwa dia seorang dongsaeng. Dia setahun lebih muda dariku. Tidak kusangka.

-Do Kyungsoo-

~~~~~

5 Mei 2002

Chanyeol diadopsi. Anak nakal seperti dia diadopsi secepat ini. Aku sudah satu setengah tahun di panti asuhan ini. Sepertinya dari sekian banyak ahjussi dan ahjumeoni yang datang, tidak ada yang ingin mengadopsiku. Beberapa sepertinya tertarik, tapi urung begitu tahu aku anak yang lemah. Ah, tapi Jongin juga begitu. Tidak banyak yang tertarik padanya. Hahaha. Mungkin karena dia terlalu cuek. Benar-benar aneh dongsaengku itu. Tadi dia main bola sampai kotor oleh lumpur tapi langsung tidur tanpa mandi. Apa tidak gatal?

-Do Kyungsoo-

~~~~~

20 Januari 2003

Salju makin tebal. Jongin sepertinya tidak bisa merasakan dingin. Dia bermain-main di luar di tengah hujan salju. Aku hanya bisa melihat dari jendela. Ibu panti saja tidak sanggup menghentikannya dan hanya geleng-geleng kepala. Hahahaha. Oh iya, hari ini satu lagi teman kami diadopsi. Kapan giliranku dan Jongin? Apa yang salah dengan kami? Apa kami terlalu tampan?

Dan hari ini aku merepotkan Jongin lagi. Seperti biasa, aku jatuh dan tidak bisa jalan. Dia menggendongku sampai rumah. Sebenarnya yang mana yang hyung? Aku ingin sekali-kali bertindak sebagai hyung dan bukan sebaliknya.

-Do Kyungsoo-

~~~~~

3 September 2004

Orang tuaku meninggal dunia karena kecelakaan tiga setengah tahun yang lalu. Itu alasannya aku masuk ke panti asuhan ini. Kupikir hidupku sangat malang. Tapi begitu mendengar Jongin bercerita tentang orang tuanya untuk pertama kali setelah sekian lama berteman dengannya, aku merasa sedih. Jongin dibuang begitu saja saat ia masih terlalu kecil untuk bahkan mengingat nama mereka. Ia dirawat bibinya yang jahat kemudian dibuang untuk kedua kalinya. Lalu Jongin hidup di dunia luar yang keras sebelum dimasukkan seseorang ke sini.

Pantas saja dongsaengku itu tangguh sekali. Aku malu aku begitu banyak mengeluh. Tidak terbayang betapa menderitanya hidup yang Jongin jalani sebelum ini.

Kami sama-sama tidak punya saudara. Tapi Jongin bilang, aku adalah hyungnya. Jongin-ah, kau lebih seperti hyungku.. hahahaha. Ani. Kau adalah dongsaengku. Kita saudara sampai kapanpun.

-Do Kyungsoo-

~~~~~

9 Agustus 2005

Kami sudah terlalu sering bermain di sekitar pohon itu. Pohon di belakang rumah panti itu jadi seperti pohon milik kami. Jongin curang. Dia sering memanjat pohon itu sampai tinggi sekali kalau aku ingin membalas kejahilannya.

Hmm… teman seaumuran kami habis. Semuanya sudah diadopsi. Panti asuhan semakin sepi. Tidak banyak yang masuk dua tahun ini. Kenapa? Ah, eomeoni juga sering terlihat sedih. Katanya ia khawatir akan menutup panti asuhan ini. Jangan sampai itu terjadi. Kalau terjadi, aku dan Jongin akan tinggal dimana?

-Do Kyungsoo-

~~~~~

27 April 2006

Aku dan Jongin membuat janji hari ini, disaksikan pohon kami di belakang panti. Kami akan selamanya jadi saudara. Kami akan bersama meski panti akan benar-benar ditutup. Salah satu dari kami baru akan bersedia diadopsi kalau yang satunya juga.

Jongin berkata, janji itu hutang, hutang itu nyawa, jadi mengingkari janji artinya mempertaruhkan nyawamu. Hahaha. Wajah jahilnya itu tidak meyakinkan. Jangan-jangan ia yang akan mengingkari janjinya.

Sepertinya tidak lama lagi panti ini benar-benar akan ditutup.

-Do Kyungsoo-

~~~~~

29 Mei 2007

Aku sudah 14 tahun, mana mungkin ada yang mau mengadopsiku di usia ini? Lagipula aku juga tidak akan mau kalau Jongin tidak diadopsi. Sebaik apapun calon orang tua asuh itu, aku tidak akan mau.

-Do Kyungsoo-

~~~~~

7 Juli 2007

Jadi Jongin sudah diadopsi? Ternyata benar dugaanku, dia mengingkari janjinya. Ckckck. Pantas saja seminggu ini ia tidak terlihat. Dan kenapa ia tidak memberitahuku? Justru ibu panti yang memberitahuku.

Baiklah, aku setuju saja diadopsi. Lagipula dua bulan lagi panti ditutup. Kalau aku tidak ikut orang tua asuh ini, dua bulan lagi aku juga harus pergi ke flat yang disediakan pemerintah. Hidupku akan lebih baik dengan orang tua ini. Aku bisa sekolah sampai tinggi. Aku akan kuliah.

Tapi mana ya Jongin? Kemana dia pergi?

-Do Kyungsoo-

~~~~~

Kyungsoo tidak ingat lagi kenapa ia berhenti menulis diary sejak 7 Juli 2007. Mungkin karena ia merasa malu untuk membuka kembali lembaran-lembaran masa kecil yang sebagian besar dihabiskannya bersama Jongin. Terlalu takut melihat nama Jongin yang ia tulis sendiri dengan tangannya. Terlalu merasa bersalah karena pergi begitu saja.

Ya, ternyata itu semua hanya bohong. Jongin tidak diadopsi, hanya pergi camping selama seminggu. Ibu panti membohonginya agar mau diadopsi. Itu semua karena rumah panti asuhan itu akan segera ditutup. Namun terlambat bagi Kyungsoo untuk kembali. Masih terekam jelas di memorinya gambar rumah kosong itu saat ia datang untuk mengunjungi Jongin. Kosong, tak berpenghuni.

Beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali di Sekolah Menengah Atas. Jongin menjadi adik kelasnya. Saat itulah Kyungsoo perlahan mulai mencari tahu kehidupan Jongin. Hatinya sakit mengetahui Jongin tinggal di sebuah flat sederhana dan harus bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya. Terlebih saat Jongin yang pada awalnya berpura-pura tak mengenalnya. Terlebih saat Jongin memandanginya dengan benci.

Kyungsoo mengusap setetes air mata dari pipinya. Dipandanginya kembali diary di tangannya. Di antara tulisan-tulisan tangan itu ada banyak nama Jongin, dongsaengnya. Itu artinya Jongin adalah bagian penting dalam hidupnya. Saudara pertama dan satu-satunya.

Tangan gemetar Kyungsoo membalik halaman diary bertanggal 7 Juli 2007 itu. Hanya tersisa satu halaman kosong. Ia akan menulis sesuatu di sana, hari ini, 6 Oktober 2012. Dengan sisa tenaganya, ia menulis. Menulis apapun yang terlintas di benaknya saat ini.

“Kyungsoo-ya…”

Kyungsoo menyelesaikan tulisannya sebelum menoleh pada sang ibu yang memegang kursi rodanya,”Ne, eomma?”

“Kita masuk sekarang ya. Di sini dingin.”bisik wanita paruh baya itu di dekat telinga Kyungsoo.

Kyungsoo meletakkan diary dan pulpennya di pangkuan, lalu ia menarik tangan ibunya untuk dipeluk,”Eomma, gomawoyo. Meski hanya lima tahun, aku sangat bahagia menjadi putramu. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu, eomma. Terima kasih… terima kasih telah menjadi eomma yang sangat baik. Saranghaeyo.”

Wanita itu tidak dapat membendung air matanya. Ia memeluk Kyungsoo dan menenggelamkan wajah ke bahunya,”Kyungsoo-ya, jangan bicara seperti itu. Baru lima tahun… Kumohon jangan pergi dulu. Tinggallah lebih lama bersama eomma.”

Hati Kyungsoo bagai tercabik melihat ibu tirinya menangis. Ia tidak ingin meninggalkan eommanya, namun sekali lagi, penerimaan. Ia harus menerima, tidak peduli seberapa banyak luka yang tersisa.

“Eomma, mianhae…”

Hanya tangis. Air mata. Penerimaan.

~~~~~

Kim Jongin tidak pernah menyangka ia akan kembali lagi ke rumah panti asuhan tak berpenghuni ini. Tadi pagi ia menerima telepon dari seseorang tak dikenal yang memintanya datang ke sini. Entah siapa yang menelepon, masa bodoh. Yang Jongin rasakan sekarang hanyalah, betapa sesak tenggorokannya.

Kakinya mengayun pelan tanpa kendali menuju halaman belakang, tempat sebatang pohon berdiri. Pohon itu tak sama lagi. Ia tak sekokoh dan serindang dulu. Pohon itu mungkin tak lama lagi akan mati.

Jongin duduk bersandar di bawahnya, menikmati belaian angin. Pandangannya menerawang jauh, menembus langit biru. Betapa cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin ia duduk-duduk di sini bersama seseorang yang ia anggap kakak, melewati masa-masa kecil dengan ceria. Bermain dan tertawa bersama setiap hari.

Sekarang semua itu hanyalah kenangan. Rerumputan hijau telah berubah jadi ilalang. Pohon-pohon telah meranggas dan mati. Semua kenangan itu tertinggal jauh di belakang, terasa jauh dan bagai mimpi. Mimpi… yang takkan teraih lagi.

Tangan Jongin tanpa sengaja menyenggol sesuatu yang terletak di tanah, sebuah buku. Ia memungutnya, membuka dan membolak-balik halamannya. Seketika itu juga matanya melebar, membaca nama Do Kyungsoo di setiap halaman. Dengan tangan bergetar dibaliknya lagi lembaran-lembaran itu kembali ke awal.

Rasanya seperti menaiki mesin waktu, mesin waktu yang dikendarai oleh Kyungsoo. Jongin menggigit bibirnya, menahan desakan air mata yang nyaris tumpah. Semua kenangan masa kecilnya berputar kembali, bagai film beralur flashback, semua kembali ke saat ia bertemu Kyungsoo untuk pertama kalinya.

Hyungnya, saudaranya satu-satunya.

Halaman terakhir… 6 Oktober 2012, dua hari yang lalu.

6 Oktober 2012

Hai, ini aku Do Kyungsoo, 19 tahun. Aku lahir di Seoul, kehilangan orang tua di usia 8 tahun. Aku tidak memiliki siapapun hingga akhirnya bertemu dengan seorang adik, Kim Jongin.

Kim Jongin, yang selalu membela dan menyelamatkanku. Kita bukanlah saudara kandung, Jongin-ah. Tapi kurasa Tuhan sengaja mempertemukan kita berdua. Dia ingin kau menjadi pelengkap hidupku yang kosong.

Aku berjanji padamu satu hal, janji itu hutang, hutang itu nyawa. Aku mengingkari janjiku, dan sekarang aku mengerti, Jongin. Aku mempertaruhkan nyawaku. Aku menanggung dosaku. Maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu. Aku menyesal… sangat menyesal. Andai dapat kuulang waktu, Jongin. Aku akan kembali. Aku tidak akan meninggalkanmu.

Aku tidak tahu apakah kau akan membaca tulisanku ini. Andaikan iya, mungkin aku sudah pergi. Aku pergi menyusul orang tuaku, Jongin. Dan jika saatnya tiba rasa bersalahku ini belum juga terbayar, aku tidak akan pergi dengan tenang.

Aku yakin di kehidupan selanjutnya kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal. Maaf dan terima kasih, nae dongsaeng.

-Do Kyungsoo-

Setetes air mata membasahi nama Kyungsoo, membuat tintanya meluntur dan menghapusnya sebagian, seperti Kyungsoo yang telah pergi, terhapus jiwanya dari dunia ini. Namun masih banyak nama Do Kyungsoo di lembar-lembar lain, seperti kenangan akan Kyungsoo dan ingatan tentangnya yang tetap hidup dalam diri Jongin. Do Kyungsoo, kakaknya.

“Hyung…”suara itu tercekat, seakan memeluk diary Kyungsoo begitu mencekik tenggorokannya. Seakan dengan melakukan itu Kyungsoo akan kembali dan datang padanya.

“Hyung…”

Tidak. Kyungsoo sudah pergi dan tidak akan kembali. Ia pergi selamanya dan tak dapat dilihatnya lagi. Itu adalah kenyataan. Kenyataan yang begitu nyata. Terlalu nyata sampai harus diterima.

“Hyung…”

-end-

-minjin’121007-

Iklan

38 pemikiran pada “Kyungsoo’s Diary

  1. Thor, gue nangis masa (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)9 tapi keseluruhannya gue sih cuma pengen bilang satu kata ya DAEBAK!!!!

  2. hiks hiks hiks …. *dipeluk sehun *plakkkk

    sedihh Huweee… T.T T.T T.T
    thor bikin yg kaya gini dong yg banyak bgus bngt ceritanya

    Fighting thor
    keep writing 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s