Endless Love (Part 4)

TITTLE: ENDLESS LOVE PART 4 (sequel of Between Friends)

CAST: OH SEHUN

Amelia Salisbury (Ri Ah) (OC)

Krystal Jung

Byun Baekhyun

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @pokaihontas)

GENRE: family, romance, friendship

LENGTH: Chapter

Sehun’s POV

“Loh? Oppa?”

Aku mendongakan kepalaku dari cangkir berisi vanilla latte yang masih mengepul. Lalu tersenyum saat menemukan Krystal dalam balutan seragam pramugarinya, “Hai.”

“Kenapa Oppa ada disini? Katanya ambil cuti.” Wanita itu menarik bangku dihadapanku, “Aku pikir tidak akan bertemu Oppa selama seminggu.”

“Memang cuti, tapi aku kan punya tugas wawancara dengan media. Kau lupa?” tanyaku sambil mulai menyeruput minumanku. Lalu sedetik kemudia menjulurkan lidah. Panas.

“Ah, oiya aku lupa.” Krystal menepuk dahinya. Lalu melirik jam dinding yang tergantung pada tembok Kafetaria, “Sekarang sudah jam empat sore loh. Wawancaranya jam berapa?”

“Sudah jam empat?” Aku memeriksa arlojiku sendiri, “Oke. aku sudah resmi terlambat. Terimakasih karena sudah mengingatkanku.”

Krystal mengedikan bahunya sambil tersenyum, “Anytime.”

~ENDLESS LOVE~

Ri Ah’s POV

“Baekhyun-ah…. Tolong gantikan aku.”

“Tidak mau.”

“Oh, ayolah….. sekali ini saja.” Aku memegang ponselku dengan jemariku yang bergetar, “Aku tidak ingin bertemu dengan orang itu lagi.”

“Kenapa?”

“Pokonya nggak mauuuuu.” Suaraku mulai terdengar seperti anak kecil yang hendak disuntik, “Ayolah…. Gantikan aku.”

“Memangnya kamu sudah pasti akan bertemu dengannya apa?” Baekhyun berkata cuek, “Kan bisa saja kamu disuruh mewawancarai pihak direktur atau mungkin staffnya. Belum tentu kamu akan mewawancarai pilotnya langsung kan.”

“Tapi itu hanya kemungkinan kecil kan? Kemungkinan besarnya aku pasti disuruh mewawancarai pilotnya kan?”

“Amelia.”

“Ya?”

“Kamu ngarep ya?”

“Hah? Apa?” aku mendekatkan ponselku pada telinga. Sepertinya salah dengar, “Kau bilang apa tadi?”

“Jujur sajalah. Kamu pasti berharap agar disuruh mewawancarai pilotnya kan?”

“H-Hah? N-ngomong apasih.” Aku terkekeh geli. Namun tak bisa kupungkiri kalau kalimat Baekhyun tadi sedikit menusukku. Berharap? Bertemu orang itu? Aku?

“Ah, sudahlah.” Baekhyun terdengar malas untuk melanjutkan pembicaraan, “Pokoknya aku tidak ingin menggantikanmu. Jika memang benar kamu disuruh mewawancarai orang itu, maka berkerjalah dengan otak. Jangan bawa hatimu ikut serta. Mengerti?”

“Ta-tapi….”

“O, sudah lampu hijau. Semoga berhasil bebe~”

“Tunggu!”

Klik.

Byun Baekhyun sialan. Aku doain seumur hidup nggak akan dapat pacar.

“Amelia-ssi?”

Aku menoleh dan mendapati Kris-direktur perusahaan Estrella Airlines, ternyata sudah sedari tadi duduk tepat dihadapanku dengan alis berkerut, “Bisa kita mulai berbicara tentang pekerjaan?”

“Ah, iya. maaf.” aku langsung menundukan kepalaku segan sambil memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.

Kris mengangkat sebelah alisnya, lalu berdehem sebentar, “Karena ada beberapa kendala, jadi aku tidak bisa menjadi nara sumber dalam wawancara ini. namun, aku sudah menyiapkan orang yang mengetahui seluk-beluk perusahaan ini sama sepertiku.”

“Oya?” responku tidak sabar. Cepat katakan siapa narasumbernya jadi aku bisa tenang.

Kris mengecek ponselnya sebentar sebelum kembali menatapku, “Dan orang itu adalah…..”

“Maaf saya terlambat.”

Aku dan Kris serentak menoleh ke pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Dan saat mengenali siapa pemilik suara itu, lagi-lagi jantungku seperti diremas keras dan tinggal menunggu hingga pecah.

“Ah, akhirnya datang juga.” Kris menunjuk bangku kosong disampingku, “Duduklah disana Sehun-ssi.”

Sehun mengangguk kecil. lalu sedetik kemudian tatapan kami bertemu. Dan saat itu Aku dapat melihat kedua bola mata Sehun seperti akan copot. “K-kau…..”

“Hai, Sehun-ssi.” Aku bangkit dari tempat dudukku lalu langsung menyalaminya, “Saya Amelia. Wartawan yang ditugaskan untuk meliput perusahaan ini. mohon kerja samanya ya.”

“Tu-tunggu. Apa-apaan ini…..” Sehun melempar pandangannya pada Kris bingung. Namun direktur muda itu hanya mengangkat bahu tidak mengerti. ia kembali menatap mataku, “Apa yang kau lakukan disini?”

Aku menggigit bibir bawahku. Lalu menggerakan bibirku, untuk bicara tanpa suara ‘Berlagaklah, seakan kita tidak saling kenal.’

Sehun mengerjapkan matanya. Lalu membalas isyaratku, ‘aku tidak mengerti. mengapa kau bisa ada disini?’

akan kujelaskan nanti. Sekarang berlagaklah seakan kau tidak mengenalku.’

Sehun berdehem kecil. lalu membalas jabatan tanganku, “Ya, em….mohon kerja samanya juga, Amelia-ssi.”

Aku mengangguk kecil sambil tersenyum lalu kembali duduk pada tempat dudukku. “Jadi, aku dan dia, eh maksudku Sehun-ssi, akan bekerja sama untuk berapa lama?”

Kris mengangkat bahu, “Tidak ada batas waktu. Tergantung seberapa cepat kalian menyelesaikan pekerjaan ini.”

Deadline? Masa tidak ada deadline?” tanyaku tak habis pikir, “Deadline yang diberikan biasanya satu bulan atau lebih. tidak mungkin saya meliput sesuatu tanpa diberi deadline.”

“Pekerjaan Sehun-ssi yang seorang pilot, mempunyai jadwal yang berubah-ubah. Pasti akan sulit bagi kalian untuk mengatur waktu, jadi kami fikir lebih baik batas waktunya kalian tentukan sendiri.”

“Ta-tapi tetap saja…..”

“Oh, sudah jam empat lewat.” Kris tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. “Aku masih ada urusan jadi harus pergi sekarang. Kalian berdua, bekerjasama lah dengan benar ya.”

Pria jangkung itu mengambil jas yang tersampir di punggung sofa lalu keluar dari ruangannya sendiri dengan langkah santai. Meninggalkan kami berdua yang masih duduk membeku terberangus oleh udara dan waktu.

“Sehun-“

“Kita bicara di koridor saja.” Sehun berdiri dari tempat duduknya, “Tidak enak bila berada di ruangan orang lain lama-lama.”

“Ah, oh iya kau benar.” aku segera mengambil tas selempangku yang tadi kutaruh diatas meja dan berbegegas mengikuti pemuda ini keluar ruangan.

Sehun berjalan beberapa langkah menjauh dari ruangan Kris tadi menuju sebuah koridor sempit yang jarang di lalui oleh orang. Aku mengetahuinya dari mesin minuman yang isinya masih penuh seakan tidak pernah disentuh. “Jadi, bagaimana kau bisa ada disini?” Tanya Sehun sambil mengeluarkan uang receh lalu memasukannya ke mesin minuman, “Ah, kau mau minum sesuatu?”

“Tidak, terimakasih.” Tolakku halus. Pemuda itu mengangguk mengerti lalu menekan beberapa tombol mesin. Tak lama kemudian terdengar sebuah suara kaleng yangjatuh. Pemuda itu berjongkok untuk mengambil minumannya. Vanilla latte.

Masih sama  seperti dulu, Sehun-ah?

“Jadi bagaimana kau bisa ada disini?” pemuda itu bertanya setelah sebelumnya menyesap minumannya.

Aku mengangkat bahu, “Bos tiba-tiba menyuruhku mewawancarai salah satu narasumber Estrella Airlines untuk artikel utama kali ini. aku tidak menyangka bahwa sang narasumber adalah kau.”

“Aku juga tidak menyangka bahwa sang wartawan adalah kau.” Sehun tersenyum tipis, “Tidak disangka setelah pertemuan di bandara, kita akan bertemu lagi. Jangan-jangan ini takdir.”

Aku harap juga begitu.

“Sehun Oppa?”

Kami berdua menoleh ke sumber suara dan kedua mataku menemukan sesosok wanita cantik dalam balutan seragam pramugari berwarna biru tua sedang berjalan kemari.

Wanita itu menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di samping Sehun. Seragamnya yang ketat dengan jelas menampakkan paras tubuhnya yang indah. Dibandingkan dengan tubuhku yang kurus dengan tinggi yang sedikit berlebih membuatku malu untuk berdiri di dekatnya, “Sehun Oppa, sudah selesai wawancaranya? Cepat sekali.”

“Iya, kami tadi hanya berkenalan saja ko. Wawancara yang sebenarnya, dimulai besok.” Jawab Sehun dengan ekspresi muka yang tiba-tiba berubah canggung.

Memangnya kapan aku bilang akan mulai wawancara besok?

Wanita itu mengangguk mengerti lalu menoleh padaku, “Dia…..”

Cepat-cepat kuulurkan tanganku sambil tersenyum ramah, “Ah, kenalkan aku jurnalis yang ditugaskan untuk mewawancarai Sehun-ssi. Namaku Amelia.”

“Wah, kau bisa bahasa korea ternyata.” Wanita itu tersenyum lalu menjabat uluran tanganku, “Namaku Krystal Jung. Aku pramugari disini. Senang bertemu denganmu Amelia-ssi.

“Em… Krystal, bukannya sebentar lagi kau ada jadwal penerbangan?” Sehun melirik jam tangannya, “Lebih baik kau siap-siap sekarang. Tidak mungkin kan penerbangan ini delay hanya karena menunggumu?”

“Ah, benar juga.” Krystal menepuk keningnya. “Terimakasih Oppa. Kalau begitu aku berangkat dulu.”

Wanita itu menjijitkan kedua kakinya lalu mencium kedua pipi Sehun sebelum berbalik pergi sambil berlari kecil. Menimbulkan suara ketukan yang terdengar akibat gagang heelsnya yang beradu dengan lantai.

eh.

Tunggu dulu.

Mencium….. Kedua pipi Sehun?!

“E-Eh… Loh…..” Aku memutar kejadian beberapa detik yang lalu. Wanita itu dengan mudahnya meninggalan kecupan di pipi Sehun. Memangnya siapa dia? Setahuku, Sehun bukan orang yang mudah dekat dengan wanita. Satu-satunya teman wanita yang ia punya saat masih sekolah pun hanya aku. “Sehun-ah, yang tadi itu….”

“Ri Ah”

“Ya?”

“Lebih baik, kita selesaikan ini dengan cepat.”

“Selesaikan? Selesaikan apa?” Tanyaku dengan kedua alis yang menekuk dalam. Kenapa nada bicaranya jadi dingin begini?

“Pekerjaan ini. Lebih baik kita selesaikan secepat mungkin.”

“Oh, kamu ada kerjaan lain ya? Yasudah nanti aku akan menyusun pertanyaan yang singkat supaya-“

“Bukan karena pekerjaan.” Sehun tiba-tiba memotong kalimatku, “Aku hanya tidak ingin pekerjaan ini membawa kita kembali ke masa lalu.”

“Maksudmu?” Kerutan alisku makin dalam.

Pemuda itu mendongakan kepalanya. Kedua matanya yang berwarna hazel menantang sapphire milikku, “Aku hanya tidak ingin kembali ke masa lalu.”

“Sehun-ah, Aku…” Aku ingin mengatakan sesuatu. Namun kalimat yang ingin kuucapkan malah membeku diujung lidah. Ia tidak ingin kembali ke masa lalu. Apa menurutnya masa lalu kami adalah kenangan buruk yang harus dilupakan?
“Ka-kalau begitu…. Kita langsung mulai wawancaranya besok saja.”

Sehun mengangguk, “Terimakasih.” Pemuda itu menatapku sebentar lalu berbalik pergi.

Punggung itu. Seperti menguarkan sebuah kesedihan yang sudah lama dipendam oleh pemiliknya. Kesedihan yang familiar. Kamu tahu kenapa Sehun-ah? Karena aku juga merasakannya. Aku merasakan apa yang kamu rasa. Aku sakit bila melihat kamu sakit. Dan bila rasa sakit yang kamu rasakan kali ini lagi-lagi karena aku, tidak ada yang bisa aku lakukan selain kembali memunggungi dirimu. Biarkan aku hilang dari pandangan matamu.

“Sehun-ah.”

Pemuda itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh, “Ya?”

“Aku….aku akan minta pada atasanku untuk mencari pengganti.” Aku menelan salivaku. Kalimat ini semakin sulit untuk kuucapkan, “Jika kau tidak ingin kembali ke masa lalu, maka aku juga.”

Sehun menggeleng, “Tidak perlu mencari pengganti Ri Ah-ya. Cukup selesaikan perkerjaan ini dengan cepat dan-“

“Apa kau pikir, aku bisa berkonsentrasi bekerja bila bersamamu?” Aku tidak tahu apa yang kukatakan. Namun otakku terus memberikan perintah agar mulutku tetap bicara, “Aku akan mencari pengganti. Jadi, kau tenang saja. Masa lalu kita tidak akan menarikmu kembali.”

~ENDLESS LOVE~

Sehun’s POV

“Sehun-ah, bisa tolong sampaikan pada Captain Alan bahwa penerbangan ke New Zeland minggu depan dibatalkan karena kerusakan mesin?”

“Hah? Ah, iya akan kusampaikan.” Jawabku seadanya sambil kembali menyenderkan tubuhku pada punggung kursi dan menutup kedua mata. cangkir yang tadi berisi penuh oleh Vanilla Latte kini tinggal tersisa setengah. Padahal aku sedang butuh lebih banyak asupan minuman kesukaanku itu.

“Ah, dan tolong sampaikan pada awak kabin yang lain agar berhenti bergosip saat sedang terbang. Para penumpang terganggu dengan kebiasaan buruk mereka yang satu itu.”

“Iya nanti aku sampaikan.”

“Oh, dan juga cek segala perlengkapan pesawat sebelum terbang.”

“Iya.”

“Cek tempat duduk penumpang.”

“Hmmmmmmmm”

“Cek makanannya juga. Jangan sampai ada yang kadaluarsa.”

“Hmmmmmmmmm”

“Cek toiletnya juga.”

“Hmmmmmmm.”

“Sehun-ah.”

“Ya?”

“Dari tadi kau dengar apa yang kukatakan tidak sih?”

Aku membuka kedua mataku dan menemukan Chen yang sedang berdiri menatapku dengan kedua alis yang bertemu. Long black coffee yang tadi ia pesan sepertinya belum disentuh sama sekali, “Dengar ko.”

“Apa memangnya?”

“Kau… Menyuruhku untuk memeriksa toilet?”

“Lalu? Apa lagi?”

“Memeriksa makanan? Memberitahu awak kabin agar tidak bergosip? Memeriksa tempat duduk penumpang?”

“Dan kau akan melakukannya?”

“Hah? Ah iya tentu sa…..” Aku terdiam beberapa detik. lalu langsung berkata gelagapan, “Eh, tentu saja aku tidak akan melakukannya! Itu kan tugas pramugari, bukan pilot!”

“Kalau begitu, mengapa dari tadi kau malah berkata iya?”

“Memang kapan aku berkata seperti itu?”

Chen berdecak sambil memutar kedua bola matanya. Pramugara itu  mengulurkan satu tangannya untuk meraih satu bungkus rokok yang masih di segel diatas meja lalu menawarkan padaku, “Untuk melepas stres.” Katanya.

Cepat-cepat kutolak dengan menggelengkan kepala karena diriku memang tidak bisa dan tidak mau merokok. Jangan kan merokok, mencium asapnya saja sudah membuat diriku sempoyongan.

Lagi pula kami kan sedang di Flower Cafe, dan tempat ini melarang para pengunjung untuk merokok. Asap yang ditimbulkan bisa merusak bunga-bunga cantik yang tumbuh disini.

“Sebenarnya ada apa denganmu Sehun-ah?” Chen kembali menaruh sebungkus rokok itu, “Dari wajahmu saja aku sudah tahu bahwa banyak yang sedang menggantung di kepalamu.”

“Yah…. Begitulah.” Jawabku sekenanya sambil kembali menutup kedua mata.

“Kenapa? Pekerjaanmu ditambah ya?”

Aku tersenyum kecut sambil mengamati pot bunga kecil yang ada diatas meja, “Kau tahu kalau aku sangat mencintai pekerjaanku kan? tidak masalah jika itu ditambah.”

“Hmmm… Kena marah Captain Alan ya?”

“Bukan.”

“Kau mendapat complain langsung dari penumpang?”

“Bukan.”

“Krystal minta yang lebih dari sekedar ciuman?”

“Buk…. APA?!”

“Hahahahahahaha” Chen tergelak lepas. Kedua matanya menyiratkan kesan jenaka, “Aku benar ya? Krystal minta yang lebih dari sekedar ciuman?”

“Enak saja, tentu saja bukan.” Aku mendelik malas, “Dia bukan wanita yang seperti itu, kau tahu?”

“Tidak.” Chen menggeleng polos, “jadi siapa gerangan yang membuat kapten kita yang paling ganteng ini sedih?”

“Kau terdengar seperti seorang gay.” Aku terkikik geli. Lalu switch mode ke ekspresi serius lagi. “Yah….. Sebenarnya….”

“Yaaaaa?” Chen mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. “Sebenarnya apa?”

Aku menghela nafas berat. Kalimat ini sangat susah untuk diucapkan, “Dia kembali….”

“Dia?”

“Dia.” Aku menekan nada suaraku saat mengucapkan kata itu, “Dia, yang pernah kuceritakan. Seseorang yang tak pernah kulihat batang hidungnya selama tujuh tahun dan kini kembali muncul di pelupuk mata.”

“Aaaaah.” Chen sepertinya mulai mengerti dengan arah pembicaraan kami, “si gadis berambut merah?”

“Ya.” Aku mengangguk kecil, “Dan sepertinya kita sudah tidak pantas untuk memanggilnya ‘gadis’ toh sekarang ia sudah berubah menjadi wanita dewasa.”

“Darimana kau tahu?”

Aku menarik pot kecil berisi bunga anggrek yang mempunyai warna seperti lavender. Saat aku mendelik untuk melihat bunga ini lebih seksama, kedua mataku menemukan sebuah kertas kecil yang diselipkan di dalam pot yang bertuliskan, anggrek lavender : pernyataan cinta.

“Ia sudah punya anak. Hasil dari pernikahannya dengan Kai.”

“Kai?! Sahabatmu itu?!!!”

“Iya.” Jawabku datar, “Tidak usah bereaksi berlebihan begitu. Aku sudah memperkirakannya dari dulu.”

“Wuah.” Chen menggelengkan kepalanya takjub, “Kisah cintamu semakin rumit saja.”

“Apanya yang rumit? Aku dan dia kan tidak pernah punya urusan. Lagipula sekarang aku punya Krystal. Kau ingat?”

“Kalau tidak punya urusan, mengapa kau masih teringat dengan si rambut merah?” Chen berkata gemas, “Oiya, apa kau sudah bertemu dengan Kai lagi?”

“Belum. Aku tidak melihatnya. Mungkin sebentar lagi.” Kataku, “Aku juga ingin bertemu dengannya. Sudah tujuh tahun tidak bertemu, si bodoh itu sekarang seperti apa ya?”

“Kau merindukannya?”

“Tentu saja. Kai adalah sahabatku. Mana mungkin aku tidak ingin bertemu dengannya.”

“Walaupun Kai adalah orang yang sudah merebut orang yang kau cintai?”

“Dia tidak merebutnya. Aku saja yang tidak berani mengutarakan perasaanku.” Aku meneguk vanilla latte ku sampai tandas, “Aku rindu dengan ocehannya tentang lukisan dan laut. Yang jelas si bodoh itu tidak boleh mati sebelum menceritakan apa yang telah terjadi selama tujuh tahun dalam hidupnya tanpa diriku.”

~ENDLESS LOVE~

Ri Ah’s POV

“Jadi…..?” Baekhyun menyeruput minumannya sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, “Jadi, kau meminta aku menjadi penggantimu?”

Aku mengangguk pelan sambil menelungkupkan wajahku pada kedua tanganku yang terlipat diatas meja. Suasana Flower Café yang  biasanya menjadi kesukaanku kini malah terasa pengap. Mungkin karena sedang jam makan siang, tempat ini penuh oleh pengunjung.

“Amelia my dear…. Kau ini bodoh atau apa sih?” Baekhyun menghela nafas. Lalu mengelus puncak kepalaku dengan sayang, “Kenapa kau malah bilang padanya kalau ingin mencari pengganti?”

Aku mendongakan kepalaku dan menatapnya dengan kedua mataku yang basah, “aku tidak tahu apa yang sedang berjalan di pikiranku. Tapi otakku memberikan perintah agar aku tidak menghabiskan waktu lama-lama dengannya.”

“Dan hatimu?”

“Apa? Apanya?”

“Apa hatimu juga memberikan perintah agar kau tidak menghabiskan waktu berlama-lama dengannya?”

“Aku tidak ingin memikirkan itu.” Aku menyesap teh cammomileku, “Aku tidak ingin, hati ini lagi-lagi merusak segalanya. Seperti dulu.”

“Apa kau pikir hati yang merusak segalanya? Periksa otakmu dulu!” Baekhyun tiba-tiba menaikkan nada bicaranya setelah diam untuk beberapa detik, “Yang dulu membuatmu menyesal setengah mati karena tidak menyatakan perasaan pada Sehun itu jelas-jelas perintah dari otakmu!”

“Hei bicaranya jangan keras-keras begitu Bodoh!” Aku berdesis sambil menatap ke sekeliling Flower Cafe. Beberapa orang mulai mencuri pandang ke arah meja kami yang tepat berada di tengah-tengah cafe.

“Kau yang bodoh! Kau yang lagi-lagi tidak memberikan kesempatan bagi hatimu untuk bicara!” Baekhyun berkata dengan nada yang lebih tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan sedotan bekas strawberry blushnya, “Memangnya berapa umurmu? Lima belas tahun? Kau bukan lagi remaja yang sedang dilema cinta monyet!”

“Iya, iya aku tahu tapi bicaranya jangan keras-keras dong…..” Bahkan para pelayan itu ikutan melirik ke meja kami.

Baekhyun menggeleng keras seakan tidak menanggapi perkataanku, “menurutmu, mengapa sekarang kau dan dia dipertemukan lagi?!”

“Mana aku tahu! Byun Baekhyun, kumohon pelankan sedikit suaramu….”

“Itu karena Tuhan sedang memberikan kesempatan kedua untuk kalian! Ia memberikan jalannya agar kalian bisa bersatu! Mengapa kau malah menyia-nyiakan jalan itu dengan berusaha mencari pengganti?!”

“Karena tidak ada yang namanya kesempatan kedua!” Aku balas berteriak. Jika pria ini memang ingin membuat kami berdua diperhatikan oleh satu restoran, maka akan kulakukan.

“Semua orang punya kesempatan kedua, termasuk kalian!” Baekhyun menggebrak meja dengan tangannya yang bebas, “Perbaiki apa yang kalian sesali di masa lalu. Jangan biarkan pikiran-pikiran bodoh itu menguasai otakmu! Beri kesempatan hatimu untuk bicara. Seseorang pernah berkata bahwa kata hati selalu benarkan? Maka yakini itu!”

“Kau tidak mengerti Byun Baekhyun! Tidak segampang itu melakukannya! Aku dan dia bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa!”

Baekhyun membulatkan kedua bola matanya. Eyeliner tebal yang ia pakai membuat wajahnya terlihat menyeramkan, “Bukan siapa-siapa?! Kalian sudah mengenal sejak SMA dan kau masih mengatakan bahwa dirimu bukan siapa-siapanya Sehun?!”

“Kan sudah kubilang ratusan kali kalau aku ini hanya sahabatnya! Sa-ha-bat! Dan tidak akan pernah lebih dari itu!”

“Permisi… Tuan, nyonya tolong jangan berteriak-teri-“

“BERISIK!” Aku dan Baekhyun langsung menoleh pada pelayang yang mendatangi meja kami dan membentaknya bersamaan, “Kau tidak lihat kami sedang berdebat?!”

Baekhyun berdecak lalu kembali menoleh padaku, “Dengar Amelia, jika kau memang menganggapnya hanya sahabatmu, apa kau tidak pernah berfikir kalau Sehun mungkin menaruh hati padamu?!”

Aku pernah memikirkannya. Selalu. Tapi, rasa cinta yang tak kunjung terucap malah membuat hatiku semakin sakit, “Ya, tapi ia tidak pernah berkata apa-apa.”

“Kalau begitu kau saja yang mengatakannya! Helloooo ini sudah tahun 2012 loh! Masa wanita masih harus menunggu pria yang menyatakan cinta ?!”

“Oh, Byun Baekhyun hidupku bukan seperti kisah cinta yang ada di majalah Vogue!”

“Aku tahu Amelia sayang, tapi apa susahnya bilang suka?” Baekhyun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Pria eyeliner ini benar-benar tidak peduli bahwa sedari tadi seluruh pengunjung di cafe ini sudah memperhatikan kami, “Perlu aku ajarkan? Katakan saja ‘Sehun aku mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang perasaanku tidak pernah berubah.‘ Apa susahnya sih bilang cinta ?!”

Belum sempat aku membalas perkataannya, Baekhyun kembali menyelak, “Oh, kau takut? Kau takut ditolak jadi tidak berani mengatakannya kan?!”

“Baekhyun, kau tahu aku tidak akan takut dengan hal seperti itu.” Kataku geram.

So, go ahead. Bilang padanya. Sehun, I love you. Sesederhana itu loh.”

Pria itu berkacak pinggang sambil menaikan sebelah alisnya. Menantang keberanianku untuk bicara. Dan satu-satunya hal yang tidak pernah bisa kuhindari di dunia ini adalah, ditantang.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak tepat di depan wajah Baekhyun,”OH SEHUN ,AKU MENCINTAIMU DARI DULU SAMPAI SEKARANG DAN PERASAAN ITU TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH.” Teriakku sampai membuat para mengunjung di cafe ini berhenti menyeruput minumannya, “Kau senang sekarang, Byun Baekhyun?”

Pria eyeliner itu mengerjapkan kedua matanya lalu tersenyum puas sambil bertepuk tangan. Yang beberapa detik kemudian, diikuti oleh seluruh pengunjung cafe. Mereka semua tiba-tiba bertepuk tangan untukku.

“Amelia Salisbury kau hebat sekali.” Baekhyun berjalan mendekat lalu menepuk bahuku, “Aku tidak menyangka kau berani mengatakan perasaanmu di tempat umum seperti ini.”

Belum sempat aku kembali menyemburkan amarahku padanya, Baekhyun tiba-tiba memutar tubuhku kearah tempat duduk yang berada di samping pintu masuk lalu berbisik tepat ditelingaku, “Dan… Apakah kau siap untuk mendengar jawaban dari sang pria?”

Aku mengerutkan kedua alis tidak mengerti. Namun saat mataku melihat seorang pemuda berambut cokelat yang sedang duduk sambil menatapku dengan kedua mata yang seakan ingin copot, dapat kurasakan jantungku meledak dan tubuhku seperti tenggelam masuk ke dalam pasir isap.

“Se-Sehun…..?”

~TBC~

HAAAAAAAAA. MAAF BGT KARENA UPDATENYA KELAMAAN T.T

Aku sibuk UTS.  Dan tiba-tiba inspirasiku ngestuck dan jadilah ff nista ini. iya, aku tahu ko part ini sama sekali nggak dapet feel nya dan terkesan dipercepat, maaf bgt ya : ( . aku sengaja mempercepat part ini karena ff ku yang lain juga banyak yang ngutang.

Hmmmmm…. Ri Ah berteriak kalo dia mencintai Sehun dan pemuda itu dengar? Kira-kira apa yang akan terjadi pada mereka berdua ya?

Tunggu kelanjutan ceritanya ya, sampai jumpa ^^

Iklan

34 pemikiran pada “Endless Love (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s