Every day is a Lovely Day: Fate & Distance

Every day is a Lovely Day: Fate & Distance

Note: Cek juga = Everyday is a Lovely Day: Change

Author: kim_mus2

Main Casts: Byun Baekhyun (Exo-K) & Byun Nari (OC)

Support Casts: Byun Na Yoon  & Key

Length: Series

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Comedy

Rating: PG-15

Author’s Talk:

Readerdeul!  Masih pada ingetkah sama FF ini? hehe gak heran sih kalo nggak juga, udah kelamaan bgt soalnya. Tapi, buat yang baru baca juga kayanya gak bakalan terlalu kehilangan arah ko hehe, kalo memang ada minat mau baca. Pokonya please enjoy reading deh ya Pai… pai… 😀

=FATE=

 

Setelah mendapat kejutan ulang tahun pernikahan dari appa, eomma, dan anaknya, Baekhyun dan Nari tertidur dengan pulas. Tapi, berselang satu jam kemudian, Nari terbangun dari tidurnya.

“Baekhyun-ah, ireona!”

“Mmhh… waeyo Nari? Kau ingin melanjutkannya? Besok lagi saja ya.”

“Mwoya? Melanjutkan apa? Tadi kita tak melakukan apa-apa. Dasar genit!”

“Yaah… siapa tahu kau ingin aku cium lagi.”

“Iiih! Bukan saatnya memikirkan itu! Perasaanku sangat tidak enak. Apa Na Yoon bersama eomma dan appa baik-baik saja ya? Entah kenapa aku memikirkan mereka.”

“Ya ampun, mereka baru pergi dari rumah kita beberapa jam yang lalu Nari. Tenanglah. Key appa pasti membawa anak kita dengan selamat.”

“Tapi…”

“Kemarilah!” Baekhyun menarik Nari ke dalam pelukannya untuk menenangkan istrinya itu.

Drrrtt… Drrtt…

Terdengar getaran dari ponsel milik Baekhyun yang diletakkan di nakas samping ranjangnya. Baekhyun pun meraih ponsel itu masih dengan posisi tidur dan memeluk Nari. Sebenarnya Baekhyun enggan mengangkat telpon itu, karena nomor yang muncul sama sekali tak ia kenal. Tapi dengan berbagai pertimbangan, Baekhyun pun akhirnya mengangkatnya.

“Yoboseyo?”

Baekhyun langsung terdiam. Orang yang berbicara di sebrang telpon sepertinya mengabarkan berita yang sangat mengejutkan baginya.

“Baekhyun-ah, waeyo?”

“Nari. Mianhae, hal yang kau khawatirkan ternyata terjadi.” Baekhyun bangkit dari tidurnya dan duduk dengan kepala sedikit tertunduk.

“Mwo? Apa maksudmu?” Nari pun bangkit dan menarik-narik piyama suaminya, meminta penjelasan.

“Tadi, polisi mengabarkan kalau mobil appa mengalami kecelakaan dan sekarang mereka sudah dilarikan ke rumah sakit Seoul.”

Air mata Nari sudah tak terbendung lagi. Sudah seperti orang kesetanan, Nari mengganti bajunya asal kemudian berlari menuju garasi rumahnya. Melihat kelakuan Nari seperti itu, Baekhyun pun tak tinggal diam dan segera menyusul istrinya itu. Tapi, rupanya Nari sudah berangkat terlebih dahulu dan terpaksa Baekhyun harus pergi sendiri dengan mobilnya yang lain.

Sesampainya di rumah sakit, Baekhyun langsung menangkap sosok anak yang sedang duduk sendirian sambil menangis di bangku koridor rumah sakit.

“Na Yoon-ah!” Panggil Baekhyun yang berlari tergesa-gesa.

“Appa!” Anak itu pun langsung menyeka air matanya dan berlari kea rah Baekhyun.

Tanpa basa- basi, Baekhyun langsung memeluk anak semata wayangnya itu dengan erat.

“Gwaenchanayo? Mana yang sakit Na Yoon-ah? Katakan pada appa!”

“Eopseoyo. Halmeoni melindungiku, appa.” Ujarnya dengan wajah sendu.

“Syukurlah. Dimana halmeoni dan harabeoji sekarang? Eomma. Apa kau sudah bertemu eommamu?”

“Emmh! Semuanya sedang ada di dalam appa.”

“Apa mereka baik-baik saja?”

“Itu… hiks… hal… meoni dan har… rabeoji terluka parah… hiks… ini salah Na Yoon! Na Yoon harusnya tak minta dibelikan es krim segala. Ka… kalau Na Yoon tak minta dibelikan es krim, mungkin… hiks… harabeoji tak akan menabrak truk itu, hiks.” Tangisan Na Yoon semakin terdengar menyakitkan. Anak ini menganggap dirinyalah yang paling bersalah atas kecelakaan yang menimpa kakek dan neneknya.

“Na Yoon-ah, ulljima sayang. Ini bukan salahmu nak. Semua ini adalah takdir.” Baekhyun menyeka air mata anaknya dan kemudian mengusap lembut kedua pipinya.

“Ayo kita temui halmeoni dan harabeoji, Na Yoon-ah.” Ajak Baekhyun sambil mengulurkan tangan kanannya, menunggu sambutan tangan mungil milik putrid tercintanya.

“Ne.” Ucap Na Yoon masih sedikit terisak.

Saat membuka pintu kamar rawat pasien, Baekhyun sangat terkejut dibuatnya.

“Nicole-ah! Ireona! Jebaal! Jangan tinggalkan aku!” Pekik Key sambil tak hentinya menangisi wanita yang sudah tak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya lagi itu.

 

Appa… uljima appa….” Nari mencoba menenangkan appanya, tapi dia pun sama sekali tak bisa menahan tangisannya.

=FATE=

Di tengah hujan yang cukup deras sore itu, orang-orang berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi sebuah batu nisan berpahatkan nama “Kim Nicole.” Seorang gadis kecil terlihat meletakkan beberapa tangkai bunga di atasnya sambil tak hentinya menitikan air mata. Hawa dingin yang menyelimuti udara terasa sangat menusuk kulit. Namun, kepedihan yang dirasakan Nari dan keluarganya bahkan terasa lebih menyakitkan.

“Appa mencintai eommamu selamanya Nari-ya.” Gumam Key yang tertunduk lemas di samping cucu dan anaknya.

“Appa!” Nari benar-benar terkejut saat melihat ayahnya terhuyung lemas dan kemudian tak sadarkan diri. Untung saja Baekhyun dengan sigap menangkap tubuh mertuanya itu. Demi keselamatannya, Key pun langsung dilarikan ke rumah sakit.

Setelah ditangani oleh dokter, diketahui bahwa penyebab Key pingsan adalah efek dari operasi kecil pada bagian kepalanya yang terbentur keras pada stir mobil saat kecelakaan maut itu terjadi. Sebenarnya Nicole pun menjalani operasi yang sama, tapi karena kondisi tubuhnya yang lemah, nyawanya tak dapat tertolong.

“Baekhyun-ah, tolong jaga appa. Aku akan menemui dokter dulu untuk menanyakan kelanjutan perawatan appa.”

“Ne. Aku dan Na Yoon akan menjaga appamu.” Tutur Baekhyun sambil tersenyum ke arah istrinya yang seharian ini terlihat sangat tegang dan kalut. Baekhyun sangat ingin menghibur Nari, tapi dia rasa ini bukan waktu yang tepat. Dia sudah terlalu mengenal pribadi wanita yang dinikahinya itu. Sosok wanita yang tangguh, yang lebih membutuhkan dirinya sebagai pendorong, bukan sebagai tempat berkeluh kesah.

Tak lama setelah Nari pergi, Baekhyun menangkap gelagat aneh dari putri kecilnya. Anak itu tiba-tiba berlari keluar kamar sambil sesekali menyeka air matanya dengan kasar.

“Na Yoon-ah, eodiga?” Dengan cepat Baekhyun pun mengejar Na Yoon. Ia takut terjadi hal yang buruk padanya. Semenjak kecelakaan itu, anak yang selalu ceria itu tiba-tiba menjadi pendiam dan selalu menyendiri, menjauhi ayah dan ibunya.

Untung saja langkah Na Yoon dengan sepasang kaki mungilnya itu dapat terkejar oleh Baekhyun. Saat Baekhyun menatap wajah anaknya itu, terlihat bekas linangan air mata di pipi chubby si kecil Na Yoon.

“Na Yoon-ah, ada apa? Ceritakan pada appa. Jangan membuat appa khawatir. Appa mohon, sayang.” Bujuk Baekhyun seraya berjongkok di depan anaknya.

“Gwaenchanayo appa. Appa jangan memperdulikan aku lagi. Aku ini anak yang jahat. Aku penyebab kematian halmeoni. Aku tidak pantas disayangi oleh siapapun.” Tutur Na Yoon sambil tersenyum ketir.

“Apa yang kau katakan? Kau anak appa yang paling baik, paling cerdas dan paling segalanya di dunia ini. Appa akan melakukan apapun untukmu. Appa mencintaimu Na Yoon-ah. Appa mohon, jangan berpikiran seperti itu lagi. Bukan kau yang bersalah. Bukan!” Jelas Baekhyun panjang lebar. Hatinya benar-benar sakit melihat anaknya menderita seperti ini. Dia masih terlalu kecil untuk memikirkan hal-hal yang menyakitkan seperti itu.

“Appa tidak mengerti.” Ucap Na Yoon dengan suara yang semakin melemah.

“Appa mengerti! Bahkan lebih mengerti darimu.” Potong Baekhyun cepat.

“Semua ini adalah takdir, Na Yoon-ah. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Yang harus kau lakukan sekarang adalah merawat harabeoji dan menghiburnya agar bisa ceria seperti dulu lagi. Apa kau mengerti, sayang?” Baekhyun menasehati anaknya dengan tatapan penuh kasih sayang yang terpancar dari kedua matanya.

“Baiklah appa.”

“Kajja!” Baekhyun menggendong Na Yoon untuk kembali ke ruangan harabeojinya.

Sesampainya di ruangan kamar, Baekhyun melihat Nari yang sedang membantu Key yang sedang terduduk di lantai. Saat menyadari kedatangan Baekhyun, Nari langsung menghampiri suaminya itu dengan tatapan garang.

“Kau menantu macam apa huh? Aku kecewa padamu!” Bentak Nari pada Baekhyun.

“Nari-ya, waeyo?”

“Kenapa kau meninggalkan appa huh? Appa tak akan terjatuh dari ranjang kalau kau tak meninggalkannya! Pergi! Pergi saja kau dari sini!” Bentak Nari dengan suara yang semakin keras. Jujur, baru kali ini Baekhyun mendapat perlakuan seperti ini dari Nari dan ini terasa amat menyakitkan baginya.

“Baiklah. Appa, aku dan Na Yoon pamit pulang dulu kalau begitu. Semoga appa lekas sembuh.”

“Yaa! Baekhyun-ah, Na Yoon-ah, chankanman!” Panggil Key dengan suaranya yang terdengar serak.

“Sudahlah appa, biarkan dia pergi.” Potong Nari yang masih tetap memasang wajah marahnya.

BUGH

Bantal berwarna putih berhasil mendarat di wajah cantik Nari. Pelaku perbuatan itu tak lain adalah ayahnya sendiri.

“Nari-ya, shikeuro! Kau tak boleh mengatakan hal jahat seperti itu pada suamimu. Aku jatuh bukan karena Baekhyun. Aku hanya ingin mengejar cucuku. Na Yoon terus bersedih karena kesalahanku.” Tegas Key.

“Appa…”

“Minta maaf pada suamimu!” Titah Key pada Nari.

“Emmh… appa jeosonghamnida. Aku lebih baik pergi, tapi sepertinya Na Yoon ingin bersamamu disini. Iya kan Na Yoon-ah?” Ucap Baekhyun sambil berusaha tersenyum.

“Ne, appa!” Jawab Na Yoon yang sudah kembali bersemangat untuk merawat harabeojinya.

Setelah pamit, Baekhyun segera pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Nari dengan penyesalan mendalam pada dirinya atas tingkahnya tadi.

 

Drrtt… Drrt…

“Yoboseyo?” Key mengangkat telponnya dengan segera.

“Selamat, karya anda benar-benar hebat! Saya selalu mengidolakan anda dari dulu.” Ucapan seseorang di sebrang telpon sontak membuat Key terkejut.

“Sebenarnya ada apa ya? Saya sedang berbicara dengan siapa?”

“Ah, maaf. Saya belum memperkenalkan diri. Saya ketua penyelenggara event penghargaan

designer terbaik tahun ini. Anda pemenangnya tuan.”

“Ah, benarkah? Terima kasih pemberitahuannya.”

 

BIP

“Nari-ya, appa diminta menghadiri acara penganugerahan designer terbaik di Paris, besok. Apa kau bersedia menggantikan appa?”

“Baiklah appa.”

“Kalau begitu, sebaiknya kau dan Na Yoon segera pulang untuk bersiap.”

“Tapi, appa…”

“Tenanglah. Appa akan baik-baik saja disini. Cepat, pulanglah! Suamimu pasti sudah menunggu.”

“Arasseo.”

=FATE=

“Appa! Kami pulang!” Setibanya di rumah, Na Yoon langsung mencari Baekhyun dan menghambur ke pelukan appa tercintanya itu.

“Na Yoon-ah… kau sudah pulang. Bagaimana keadaan harabeoji?”

“Sudah semakin sehat!” Tandas Na Yoon.

“Syukurlah, ini pasti karena Na Yoon sudah menghiburnya kan? Anak pintar.”

Na Yoon tersenyum simpul di pangkuan ayahnya. Nampkanya Na Yoon sudah bisa kembali ceria seperti sedia kala. Di lain pihak, berbanding terbalik dengan keceriaan anaknya, Baekhyun dan Nari malah terlihat sangat canggung. Nari sangat merasa bersalah atas perkataannya tadi di rumah sakit. Sementara Baekhyun memilih untuk diam agar tidak menyulut kemarahan Nari lagi.

“Na Yoon-ah, ini sudah malam. Kita tidur yuk! Appa temani di kamarmu ya.”

“Ne. Kajja appa!” Ajak Na Yoon dengan antusias.

Tanpa Baekhyun dan Na Yoon sadari, Nari mengikuti keduanya dari belakang, dan kini mereka bertiga sudah berada di kamar Na Yoon. Masih belum menyadari kehadiran Nari, Baekhyun terus menyanyikan lagu pengantar tidur utuk Na Yoon. Setelah melihat Na Yoon tertidur, Baekhyun memutuskan untuk tidur di kasur itu bersama anaknya. Dia tak ingin Nari bertambah kesal karena kehadirannya.

“Aku minta maaf.” Tutur Nari seraya memeluk tubuh suaminya dari belakang.

“Nari-ya.” Baekhyun membalikkan badannya dan menatap dalam kedua bola mata milik istrinya.

“Maaf. Aku ini orang yang bodoh. Aku sudah mengatakan kata-kata yang kasar padamu. Jeongmal mianhae.” Air mata pun jatuh dari kedua mata Nari.

“Sssttt… uljima! Nanti anak kita bangun.”

“Mian.”

“Aku mengerti.” Itulah kata terakhir yang diucapkan Baekhyun sebelum ia memberikan kecupan lembut di bibir istrinya dan akhirnya tertidur bersama.

 

=DISTANCE=

Keesokan harinya, Nari memberi tahu Baekhyun dan Na Yoon bahwa dia akan pergi ke Paris selama tiga hari. Tapi, rupanya Baekhyun memberi tanggapan yang sangat berlebihan. Lebih dari yang dia duga sebelumnya.

“Andwaee! Kau tak boleh pergi Nari!”

“Baekhyun-ah! Kembalikan koperku! Aish! Jinjja!”

Nari benar-benar pusing karena Baekhyun terus saja membawa koper Nari sambil berlari-lari mengelilingi rumahnya.

“Coba kau kejar aku kalau bisa!” Tantang Baekhyun yang sudah berdiri di atas sofa sambil memanggul koper berwarna putih.

“Baiklah! Aku tak akan membawa baju saja. Aku hanya perlu pergi membawa passport kan?” Nari berhenti mengejar Baekhyun dan bergerak untuk mengambil tas kecilnya.

“Andwae! Kau tetap tidak boleh pergi!” Baekhyun menyambar tas Nari dengan cekatan dan

kegiatan kejar-kejaran pun kembali dimulai.

 

BYURRR

Na Yoon yang pusing melihat eomma dan appanya yang seperti Tom and Jerry dengan santainya membawa selang dari halaman rumah lalu menyemprotkan air pada keduanya. Akibat ulah Na Yoon, Nari dan Baekhyun pun berhenti seketika. Keduanya tertegun dengan badan yang sudah basah kuyup.

 

Drrtt… Drrtt…

Merasakan handphonenya yang bergetar, Nari pun langsung mengangkat telpon dengan tangan basahnya.

“Appa… ah mian, sebentar lagi aku berangkat. Tenang saja appa, serahkan padaku.”

 

BIP

“Telpon dari appa?” Tanya Baekhyun.

“Ne, kumohon… izinkan aku pergi Baekhyun-ah. Ini demi appa.”

“Terserah kau saja.” Baekhyun berlalu dari hadapan Nari dengan ekspresi datar.
At Airport

“Baekhyun-ah, jangan begini! Percayalah, aku pasti akan baik-baik saja.” Nari masih membujuk Baekhyun yang sedari tadi mendiamkannya.

“Baekhyun-ah…” Baekhyun masih belum juga menjawab.

“Byun Baekhyun! Kenapa kau melarangku pergi huh?” Nari berteriak sekuat tenaga di depan wajah Baekhyun.

“Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Cukup sekali aku membuatmu terluka dan kehilangan ingatan. Aku tak ingin mengalami hal seperti itu lagi. Apa alasan itu cukup?” Bentak Baekhyun tak kalah keras dari Nari dan itu cukup membuat semua orang di bandara menunjukkan death glare ke arah keduanya.

“Baekhyun-ah. Arasseo… arasseo… aku sangat mengerti perasaanmu. Tapi, aku harus membantu appa. Aku harus pergi.”

Baekhyun tak lagi menjawab. Bahkan saat jadwal keberangkatan Nari sudah semakin dekat, namja itu masih tetap saja diam.

“Eomma pergi dulu ya Na Yoon-ah. Jaga appa baik-baik ya, arrachi?” Nari mengelus kepala

Na Yoon dengan penuh kasih sayang kemudian memberi anaknya itu kecupan lembut di kedua pipinya.

“Ne, eomma! Serahkan saja padaku.” Jawab Na Yoon dengan wajah serius, tapi tetap menggemaskan.

“Ahaha, ne! Eomma percaya padamu chagi!” Nari tersenyum simpul melihat semangat anaknya.

“Baekhyun-ah, aku pergi ya….” Baekhyun sama sekali tak menjawab perkataan Nari. Dia hanya menatap kosong ke arah istrinya itu dengan mata yang sayu. Terlalu berat baginya untuk melepas kepergian Nari.

GREP

“Baekhyun-ah, do’akan aku agar bisa pulang kembali ke sisimu dengan selamat. Kumohon, jangan seperti ini terus.” Nari terisak sambil tetap memeluk suaminya itu.

“Arasseo.” Baekhyun membalas pelukan Nari dengan pelukan yang sangat erat seolah tak ingin melepaskannya. Tapi, akhirnya pelukan itu pun melonggar. Nari pun pergi menjauh dari keduanya menuju pintu keberangkatan.

“Cepat kembali, Nari.” Gumam Baekhyun dalam hati.

 

=DISTANCE=

Pagi itu Baekhyun terbangun karena anaknya yang terus saja mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan paksa.

“Eomma sedang ada dimana, appa? Aku rindu eomma.” Rengek Na Yoon sambil memasang wajah sedih.

“Tenanglah, dua hari lagi eomma pulang Na Yoon-ah. Ngomong-ngomong ini sudah jam berapa?” Baekhyun mencoba bangun dan duduk di sebelah buah hatinya.

“Jam setengah 7 appa, waeyo?”

“Yaa! Kau harus segera bersiap! Cepat mandi! Nanti kau terlambat. Appa belum masak sarapan!” Baekhyun langsung meloncat dari kasur dan bergegas keluar kamar.

“Hahahahaha… appa lucu, seperti tupai, suka loncat-loncat.” Na Yoon tertawa terpingkal-pingkal melihat ayahnya yang kalang kabut.

“Mwoya? Ppalli Na Yoon-ah!”

“Ne! Hahahaha.”

Setelah menyiapkan makanan ala kadarnya, Baekhyun langsung mandi dan segera bersiap.

“Na Yoon-ah, cepat makan duluan. Sebentar lagi appa turun!” Teriak Baekhyun dari dalam kamar, dia masih sibuk dengan dasinya yang amburadul.

“Ne appa!”

Saat tiba di meja makan, betapa terkejutnya Na Yoon melihat menu yang dihidangkan ayahnya.

“Appa!” Teriak Na Yoon histeris.

“Wae? Wae? Wae?” Baekhyun menuruni tangga dengan cepat untuk menghampiri anaknya.

“Ada yang salah dengan makanannya? Tidak enak? Atau apa? Appa harus memasak apa? Appa bingung.” Baekhyun terus mengoceh dan alhasil si buah hati hanya bisa bengong memandanginya.

“Na Yoon-ah….” Panggil Baekhyun perlahan pada anaknya yang sedang cemberut dan melipat tangan di dada.

“Appa! Aku tidak mau memakannya.” Tegas Na Yoon sambil menunjuk makanan di hadapannya.

“Mwo? Resep muffin-egg pizza ini aku dapat dari eommamu ko. Katanya ini resep baru buatannya. Kenapa tidak mau dimakan?”

“Makanannya terlalu cantik! Aku jadi tidak tega memakannya.” Jujur Na Yoon pada makanan berbentuk pizza kecil dengan potongan tomat dan telur rebus, yang ditaburi grated mozzarella oregano dan kosher salt di atasnya.

“Mwoya? Hahahaha kau ini ada-ada saja. Ayo cepat ah dimakan! Jangan lupa minum susunya juga! Waktu kita tinggal 25 menit lagi.”

“Oke deh!” Na Yoon makan dengan lahap. Baekhyun sangat senang melihat anaknya yang ceria seperti ini. Tapi ada sesuatu yang tidak beres dengan Na Yoon.

“Na Yoon-ah, kau yakin ke sekolah dengan penampilan seperti itu saja?”

“Memangnya kenapa?”

“Rambutmu tidak harus diikat kan? Lalu topimu, apa hari ini harus memakai topi?”

“Ah iya benar, ini hari Senin. Rambutku harus diikat dengan pita warna pink. Topi, aku juga harus pakai topi. Tapi aku lupa menyimpannya.”

“Yaa! Kau ini, kenapa tidak bilang dari tadi! Cepat habiskan makananmu, appa cari dulu pita dan topinya.”

Setelah mendapatkan kedua barang itu, Baekhyun dengan segenap kreatifitasnya membentuk dua kunciran di rambut Na Yoon dan kemudian memasangkan pita pink dan topi di kepala anaknya.

“Selesai!” Ucap Baekhyun lega.

“Appa belum makan, buka mulutmu appa! Aaah….” Na Yoon menyuapi ayahnya dengan potongan muffin pizza terakhir.

“Gomawoo. Kajja!” Ajak Baekhyun dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Saat sampai di garasi rumahnya, Baekhyun terdiam sejenak kemudian bertanya pada anaknya.

“Na Yoon-ah, berapa menit lagi waktu yang tersisa?” Baekhyun mendadak bertanya dengans serius.

“Sekitar 15 menit lagi.”

“Kau percaya pada appa kan?” Baekhyun lagi-lagi bertanya dengan wajah seriusnya.

“Tentu!”

“Baiklah, kajja!” Baekhyun melangkah dengan pasti sambil menggenggam tangan anaknya.

Beberapa menit kemudian.

“Hyaaaa! Appa daebakkk!” Teriak Na Yoon kegirangan.

“Jangan banyak bicara Na Yoon-ah! Pegangan yang erat pada pinggang appa!”

“Arasseo!”

Baekhyun dan Na Yoon melaju kencang bersama motor sport putih di jalanan yang sudah mulai ramai pagi ini. Kemampuan Baekhyun dalam mengendalikan motor ternyata masih lihai seperti dulu. Perjalanan ke sekolah playgroup Na Yoon pun dapat ditempuh hanya dalam waktu 10 menit.

 ­

“Fyuuh… akhirnya sampai juga. Kau tidak kedinginan Na Yoon-ah?” Tanya Baekhyun pada Na Yoon setelah dia menurunkanya dari motor.

“Ani! Aku kan pakai jaket. Appa, jeongmal daebakk!” Na Yoon mengacungkan jempolnya di hadapan wajah ayahnya.

“Hahaha, arasseo! Ayo kita masuk!”

Baekhyun mengantar Na Yoon sampai ke kelasnya. Di perjalanan menuju kelas, semua ibu-ibu yang mengantar anaknya memandang Baekhyun takjub.

“Omo! Ayahnya masih sangat muda! Tampan sekali!”

“Ya ampun… kalau saja dia itu suamiku.”

“Kyaa! Keren sekali, pagi-pagi mengantar anak dengan motor sport.”

Sedikit bangga dengan pujian-pujian yang didengarnya, Baekhyun berpura-pura membetulkan posisi dasi dan jasnya kemudian melangkah pasti menuju motornya. Beginilah seorang Byun Baekhyun, meski sudah menjadi ayah, kenarsisannya tak bisa dihilangkan.

BRUUMM

=DISTANCE=

Na Yoon pulang sekolah pada pukul 10 pagi, oleh karena itu Baekhyun harus meminta sekretarisnya untuk menjemput Na Yoon dan mengantarnya ke kantor.

“Na Yoon-ah, bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Baekhyun yang menghampiri Na Yoon yang baru datang bersama sekretaris Jung.

“Istimewa!” Tuturnya dengan ceria seperti biasa.

“Omoo… apa karena appa mengantarmu ke sekolah?”

“Emmh… itu salah satunya. Tapi, yang lebih menggembirakan adalah….” Na Yoon menghentikan ucapannya.

“Apa?” Tanya Baekhyun heran.

“Kasih tahu gak ya?”

“Yaa! Masa sama appa main rahasia-rahasiaan sih?”

“Oke deh aku kasih tahu ya appa! Hari ini Jongmin oppa memintaku jadi pacarnya.”

“MWOYA? JONGMIN? ANAK SI KIM JONGIN ITU?” Baekhyun membelalakkan mata sipitnya.

“Ahahahaha… appa tertipu! Hahahaha!” Na Yoon terus menertawai ayahnya yang kaget karena ulahnya.

“Yaa! Kau mempermainkan appa. Appa marah ah!” Baekhyun memalingkan wajahnya dari Na Yoon.

“Ah appa! Jangan marah dong! Sebenarnya memang ada kabar baik ko. Aku terpilih menjadi perwakilan sekolahku untuk lomba menyanyi besok!”

“Huwaaa… jinjja? Kalau begitu kau harus latihan dengan appa!” Baekhyun membalikan badannya dan menatap anaknya dengan mata yang berbinar.

“Ne! Aku yakin pasti akan menang kalau appa mengajariku!”

“Ok! Serahkan saja pada appa. High five!”

“High five!”

PROK

Setelah sekitar 5 jam menunggu ayahnya yang sangat sibuk, Na Yoon tertidur di kamar pribadi ayahnya. Tempat itu memang khusus dibuat di kantor Baekhyun. Sebuah tempat khusus dengan peralatan multimedia lengkap, kasur, lemari pakaian dan kulkas berisi banyak makanan di dalamnya. Tak heran jika Na Yoon bisa betah menunggu di sana selama berjam-jam.

“Na Yoon-ah, ayo kita pulang.” Panggil Baekhyun dengan suara pelan pada anaknya yang tertidur pulas.

“Gendong!” Gundam Na Yoon dalam tidurnya.

Baekhyun pun menggendong anak tercintanya itu dan pulang ke rumah.

=DISTANCE=

“Apa aku harus menelponnya? Ah andwae! Aku tak mau mengganggunya. Tapi, bagaimana kalau disana dia malah bertemu dengan bule tampan? Ah! Micchigesseo! Aku harus menelponnya!”

Baekhyun langsung meraih ponselnya dan bersiap untuk menelpon.

“Appa! Aku baru ingat, besok kan aku harus lomba. Ayo ajari aku menyanyi!” Tiba-tiba Na Yoon bangun dari tidurnya dan menghampiri Baekhyun. Dengan terpaksa, Baekhyun pun mengurungkan niatnya untuk menelpon Nari.

“Baiklah. Lagu apa yang harus kau nyanyikan?”

“Katanya lagunya bebas appa.”

“Ok! Kalau begitu nyanyi lagu ‘Marshmallow’ saja. Otte? Anak appa pasti sangat imut kalau menyanyikan lagu itu.”

“Tapi appa, besok aku harus pakai baju apa?”

“Aha! Kalau itu, kita telpon Key harabeoji saja.”

“Hahaha ne!”

Baekhyun dan Na Yoon pun langsung berlatih menyanyi dan menari bersama. Baekhyun mengajari anaknya dengan sangat detil. Mulai dari teknik bernyanyi sampai cara melenggok dan menujukkan keimutan di hadapan penonton.

Keesokan harinya.

“Na Yoon-ah! Harabeoji is coming!” Key berlari dengan semangat menghampiri cucunya yang masih bersiap-siap di dalam kamar. Baekhyun hanya tersenyum melihat mertuanya yang sudah mendapatkan kembali gairah hidupnya itu.

“Harabeoji! Kyaaa!” Na Yoon berteriak histeris dan menyambut pelukan hangat harabeojinya.

“Igo!” Key menunjukkan sebuah gaun mungil berwarna putih yang dihiasi renda-renda dan pita berwarna biru turquoise yang terkesan manis dan ceria.

“Huwaaa! Harabeoji, saranghae!”

 

Baekhyun’s Side

Seandainya Nari ada disini. Pasti dia sangat senang melihat ayah dan putrinya yang ceria seperti itu. Haah… aku merindukanmu Nari. Baru satu hari kau meninggalkanku, rasanya sudah seperti seabad. Aku tak tahan.

Apa aku harus menelponnya?

Entahlah. Aku takut tak bisa mengendalikan perasaanku kalau aku menelponnya. Bisa-bisa aku memaksanya pulang sebelum waktunya. Ah… andwae! Aku harus professional! Aku yakin Nari pasti akan baik-baik saja di sana. Ya Tuhan, tolong lindungi istriku.

“Baekhyun-ah! Kau sudah siap?” Key appa membuyarkan lamunanku.

“Ah, tentu appa! Semuanya siap! Na Yoon sudah berlatih bersamaku tadi malam. Dia juga sudah sarapan. Bagaimana dengan appa? Appa sudah sarapan?”

“Hohoho tentu saja! Aku ini bukan orang yang akan meninggalkan waktu makanku hahaha.”

“Hahaha syukurlah kalau begitu appa. Aku senang bisa melihat appa kembali sehat dan ceria seperti ini.”

“Ne! Gomawoo Baekhyun-ah!”

=DISTANCE=

“Appa, aku tegang sekali.” Na Yoon meremas keras gaun selutut yang dikenakannya.

“Aigoo… anak appa kan hebat. Na Yoon pasti bisa! Fighting!”

“Ne! Fighting! Kau kan keturunan harabeoji. Kau pasti berhasil.”

 

“Mari kita sambut kontestan selanjutnya. Byun Na Yoon!”

Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Na Yoon dipanggil ke atas panggung. Gadis kecil itu mulai menyanyi dengan ceria. Dia benar-benar seperti bintang. Tentu saja, siapa dulu yang mengajarinya. Dia juga mewarisi keimutanku. Aku bangga menjadi ayahnya. Oh bukan! Harusnya Na Yoon yang bangga mempunyai ayah sepertiku. Iya kan? Haha.

“Dia memang cucuku!” Gumam Key appa sambil melihat dengan bangga penampilan Na Yoon di atas panggung.

“Dia anakku appa!” Potongku cepat.

“Yaa! Yaa! Dia keturunanku!” Aish! Appa mau bersaing denganku rupanya. Tidak bisa!

“Dia darah dagingku appa!”

“Hahahahaha.” Aku dan appa tertawa lepas. Saking senangnya, hampir saja aku melupakan kerinduanku pada Nari. Tapi, aku rasa bersenang-senang seperti cukup membantu untuk menenangkan perasaanku.

Kebahagiaan hari ini semakin lengkap saja saat Na Yoon menerima piala dan menyandang juara pertama di perlombaan menyanyi antar playgroup ini. Anak itu memang punya sinarnya sendiri. Aku bahagia melihat Na Yoon. Sungguh.

“Na Yoon seperti Nari waktu kecil ya, imut dan cantik.”

Huuh… sudah mati-matian aku melupakan rasa rinduku pada Nari, Key appa malah mengungkitnya.

“Ah ne!”

“Yaa! Hanya itu jawabanmu?” Sebenarnya apa sih maksud orang tua ini?

“Kau tidak merindukannya?” Lanjutnya.

“Ne?”

“Yaa! Baekhyun-ah! Kau ini tak sensitive sekali! Suruh saja Nari pulang hari ini. Besok hanya acara penutupan ko!”

Ternyata begitu. Appa pengertian sekali aku jadi terharu. Aku baru sadar, kalau appa itu memang seorang namja. Eh? Maksudnya, ya begitulah. Key appa, selain punya instinct keibuan, naluri lelakinya pun bekerja dengan baik.

“Yaa! Kau dari tadi diam saja, Baekhyun?”

“Ah ne appa! Aku memang merindukan Nari.” Aduh aku keceplosan.

“Hahahahaha… kau ini lucu sekali. Kau ini sudah menikah berapa tahun? Kenapa masih malu-malu seperti ini?”

Sumpah! Aku tak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan appa. Ini sudah terlalu memalukan bagiku. Terpaksa aku jujur saja.

“Appa! Ini pertama kalinya aku ditinggal Nari. Aku kesepian. Aku juga khawatir terjadi apa-apa padanya. Dulu aku gagal melindungi Nari pada waktu kecelakaan mobil. Aku benar-benar tak tenang membiarkannya pergi sendiri seperti sekarang appa.” Jelasku panjang lebar. Aku sudah kepalang malu. Biarlah appa mengetahui semuanya.

“Yaa! Baekhyun-ah! Terima kasih banyak sudah mencintai anakku. Aku bersyukur anakku bisa mendapatkan namja yang baik sepertimu. Gomawoo.”

PLAAK!

Appa memukul pantatku cukup keras. Ya ampun, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran orang tua itu. Kenapa harus pantat sih?

“Appoyo! Appa!” Protesku pada Key appa. Tapi dia malah mengacuhkanku dan bersenang-senang dengan Na Yoon.

=DISTANCE=

 

“Baekhyun dan Na Yoon sedang apa ya sekarang? Ternyata aku tak tahan berada sejauh ini dari mereka.” Gumam Nari sambil memainkan I-phone miliknya.

Drrtt…. Drrtt…

 

My Bebek is calling (Ciee… panggilan sayangnya gak rubah kkk ^^)

Nari mengangkat panggilan itu dengan antusias. Akhirnya Baekhyun menghubunginya juga, pikir Nari.

“Huwaaa… eomma… eomma… tolong appa… hiks… hiks… hiks….” Saat meletakkan handphone di telinganya, Nari bukan mendengar suara Baekhyun, melainkan anaknya si Na Yoon kecil. Suara anak itu terdengar sangat parau.

“Waeyo Na Yoon-ah? Wae?”

“Appa sakit…”

“Appa sakit apa?”

“Aku tak tahu.Tadi setelah pulang dari acara lomba menyanyiku, appa langsung tertidur dan badannya sangat panas eomma!”

“Kalau begitu, kompres appa ya Na Yoon. Jangan menangis, ayo tolong appa.”

“Ne, eomma!”

Nari memberi petunjuk pada anaknya untuk menyiapkan peralatan kompres. Untunglah anak itu sangat cerdas dan cekatan. Baekhyun pun dapat dikompres dengan baik dan kemudian tidur dengan nyenyak.

Nari yang merasa sangat khawatir pada suaminya, langsung mengambil jadwal penerbangan ke Korea saat itu juga. Tak lupa, sebelumnya dia pun menelpon ketua penyelenggara dan meminta izin untuk tidak menghadiri acara penutupan esok harinya.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 9 jam, akhirnya Nari sampai di bandara Incheon. Saat tiba di rumahnya, hari sudah sangat larut, tepat pukul 12 malam. Keadaan rumahnya benar-benar gelap. Hanya satu ruangan yang menyala, dan itu adalah kamar miliknya dan Baekhyun yang berada di lantai 2.

Nari bergegas memasuki rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Saat pintu terbuka, Nari dapat melihat dengan jelas sosok anak dan suaminya yang tertidur dengan tenang. Baekhyun tertidur terlentang dengan handuk kompres di atas keningnya. Sementara Na Yoon memeluk tangan kiri appanya dengan erat. Nampaknya Na Yoon sangat mengkhawatirkan ayahnya.

Baekhyun-ah, jeongmal mianhae… aku tak menyangka kau akan jatuh sakit seperti ini. Mianhae… aku menyesal meninggalkanmu. Aku memang istri yang menyebalkan!”

Nari menangis di samping kanan tubuh Baekhyun.

GREP

“Kau sudah pulang, Nari? Ini kau kan?” Baekhyun yang menyadari kedatangan Nari langsung memeluk tubuh istrinya.

“Ne… aku sudah datang Baekhyun-ah. Mianhae… jeongmal mianhae… kau sakit seperti ini karena kesalahanku.”

“Yaa! Percaya diri sekali kau!” Baekhyun melepaskan pelukannya pada Nari dengan cepat. Nari sangat terkejut dibuatnya.

“Siapa bilang aku sakit? Sakit karenamu lagi. Itu sangat tidak mungkin.”

“Lalu handuk kompres itu apa?” Tanya Nari polos.

“Hahaha, ini… ini bukan apa-apa. Aku Cuma berkeringat tadi. Jadi…”

“Sudahlah! Jangan berbohong! Na Yoon yang memberitahuku kalau kau sakit. Dia yang telah merawatmu.”

Baekhyun menganga tak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Setahunya, saat pulang ke rumah, badannya baik-baik saja dan dia tertidur dengan nyenyak.

PLETAK!

“Paboya! Kau baru menyadarinya? Kasihan Na Yoon!”

“Ehehehe mian. Untuk urusan Na Yoon, aku pasti akan memberinya hadiah nanti. Oiya, kenapa kau sudah pulang? Bukannya masih ada satu hari lagi?”

“Kau tidak mau aku pulang? Fine! Aku pergi lagi saja.”

“Yaa! Kenapa jadi emosi begitu sih?”

“Karena kau tidak peka!”

CHU

Baekhyun memberi ciuman kilat di pipi kanan Nari.

“Siapa bilang? Aku tahu ko.”

“Tahu apa?”

CHU

Ciuman kedua mendarat di pipi kiri Nari.

“Aku tahu kalau kau merindukanku.”

“Siapa bil…”

CHU

Kini ciuman Baekhyun mendarat di bibir Nari.

“Aku tahu kau mencemaskanku.”

“STOP!” Nari mendorong bibir Baekhyun yang sudah menyosor, dengan kedua tangannya.

“Salah kalau aku merindukanmu? Mencemaskanmu? Aku ini istrimu. Aku mencintaimu! Arachi?” Bentak Nari di depan wajah Baekhyun.

“Ne, arasseo.” Baekhyun menjawab dengan pelan. Kali ini dia takluk pada Nari dan membiarkan istrinya itu menguasai dirinya. Malam itu pun mereka habiskan untuk melepas rindu satu sama lain yang tertahan selama dua hari lamanya.

PART 2 ENDS

Bacotan Author:

Ya Alloh… ini parah banget sampe 26 halaman. Buanyak banget… huwaaa…

Author khusus persembahkan FF ini buat nebus jeda publish yang kelewat lamaaaa… hehehe 😀

Mudah-mudahan puas ya, ini 2 chapter sekaligus sebenernya loh…

Thanks for reading

And now… the time for comment…

Chuseyo! 😀

Ditunggu buanget…

 

Iklan

29 pemikiran pada “Every day is a Lovely Day: Fate & Distance

  1. huwaaaah..
    super cute, baek jadi bapak2 lol
    paling suka pas part kesiangan, ga bisa bayangin kerennya baekhyun, kkk
    ohya.. kim jongmin? anaknya kim jongin? wah wah, perlu ada kelanjutannya nih>< /maklum kai biased/

    last, keep writing author. hwaitinggg! n_n

    • yup! itu ada Kai sama anaknya soalnya author sambungin sama FF author yang judulnya beautiful fate hehe maksa bgt disambung2in
      lanjutannya ya? hmm… author belom sempet bikin lanjutannya

      anyway, jeongmal gomawoo ya udah mampir 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s