Fallen (Chapter 3)

Tittle    : Fallen | Part 3: Kegelapan Yang Menghampiri

Author : Park Ji-Eun

Main Cast :    •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :     •    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Choi Jin Hee (OC)

•    Roland Sparks (OC)

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

Sumber : FALLEN karya Lauren Kate

Ps  : FF ini aku nge remake novel karya Lauren Kate dan hanya mengganti nama cast nya ^^

Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang,

itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar

daripada orang yang tak bisa makan.

Kita harus saling merasakan hal itu.

― Bunda Teresa

CHAPTER 3:

KEGELAPAN YANG MENGHAMPIRI

Gi Eun menyusuri lorong asrama yang lembap menuju kamar, menyeret tas selempang besar berwarna merah yang talinya sudah rusak. Dinding disini warnanya seperti papan tulis berdebu―dan seluruh tempat ini sunyi, hanya ada dengungan monoton lampu neon kuning yang menggantung di langit-langit triplek bernoda air.

Gi Eun terutama heran melihat begitu banyak pintu yang tertutup. Di Dover, ia selalu mengharapkan lebih banyak privasi, sedikit kebebasan dan keramaian setiap saat di lorong-lorong asrama. Kau takkan bisa berjalan menuju kamarmu tanpa tersandung sekelompok gadis yang bergosip sambil bersila dan mengenakan celana jins yang serasi, atau pasangan yang berciuman sambil bersandar ke dinding.

Tapi di Sword & Cross… yah, mungkin semua orang sudah mulai mengerjakan tugas tiga puluh halamannya… atau hubungan social di tempat ini lebih banyak dilakukan di balik pintu yang tertutup.

Omong-omong soal pintu, ternyata pintu-pintu yang tertutup itu pemandangan menarik tersendiri. Jika murid-murid Sword & Cross bisa dibilang pandai mengakali peraturan berpakaian, mereka lebih cerdik dalam menegaskan kepemilikan tempat masing-masing. Gi Eun sudah berjalan melewati daun pintu dengan tirai manic-manik dan satu pintu lagi menggunakan keset dengan tulisan yang menyarankannya “teruskan langkahmu ke neraka” ketika Gi Eun melewatinya.

Gi Eun berhenti di depan satu-satunya pintu kosong di bangunan ini. Kamar nomor 63. Gubuk deritaku. Ia merogoh-rogoh saku depan ransel untuk mencari kunci, menarik napas dalam-dalam, dan membkan pintu penjaranya.

Tapi ternyata kamar itu tidak mengerikan. Atau mungkin kamar tersebut tidak semengerikan yang ia bayangkan. Ada jendela berukuran normal yang bisa digeser untuk memasukkan udara malam yang tidak terlalu menyesakkan. Dan dari balik teralis besi, pemandangan cahaya bulan yang biasa ternyata cukup menarik, jika ia tidak terlalu memikirkan halaman pekuburan yang terbentang di seberangnya. Ia mendapat lemari dan wastafel kecil, meja untuk belajar―setelah dipikir-pikir lagi, yang terlihat paling menyedihkan di ruangan ini adalah pemandangan sekilas dirinya sendiri yang dilihat Gi Eun di cermin setinggi badan dibalik pintu.

Ia segera membuang muka, karena sudah cukup tahu apa yang akan dilihatnya di cermin. Wajahnya tampak kusut dan lelah. Kedua mata cokelatnya menunjukkan perasaan yang tertekan. Rambutnya kelihatan seperti bulu anjing pudel keluarga mereka yang histeris saat hujan badai. Baju hangat Sunny menyelubungi tubuhnya seperti karung goni. Ia gemetaran. Kelas-kelas sorenya tidak lebih baik daripada kelas pagi, sebagian besar karena ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan: Seluruh murid sekolah mulai memanggilnya Daging Giling. Dan sialnya, seperti sifat bendanya, julukan itu kelihatannya akan melekat.

Ia ingin membongkar tas, mengubah kamar nomor 63 yang biasa menjadi tempat pribadinya, tempat ia bisa pergi jika ingin kabur dan menghibur diri. Tapi ia hanya bisa membuka risleting tas sebelum telentang di ranjang sederhana. Ia merasa begitu jauh dari rumah. Hanya dibutuhkan waktu 22 menit berkendara untuk pergi dari pintu ayun bersih di belakang rumahnya menuju gerbang besi tempa berkarat Sword & Cross, tapi rasanya seperti 20 tahun.

Selama setengah jalan pertama yang sunyi dalam perjalan mobil ke sini tadi pagi bersama orangtuanya, lingkungan di sekitarnya kelihatan sama: pinggiran kota kelas menengah di daerah selatan yang tenang. Tapi kemudian jalan raya menuju jalur lintas ke pantai, dan tanahnya semakin seperti rawa-rawa. Sekumpulan besar pohon bakau menandai jalan masuk ke daerah yang basah, tapi tak berapa lama, bahkan pemandangan itu berubah. 15 km terakhir menuju Sword & Cross sangat suram. Lingkungan cokelat keabu-abuan tanpa ke istimewaan yang tak berpenduduk. Di Thunderbolt, tempatnya dulu, orang-orang  di kota selalu bergurau tentang bau busuk aneh yang tak bisa dilupakan dari daerah ini: kau akan tahu sudah tiba di rawa-rawa jika mobilmu mulai berbau lumpur busuk.

Walaupun tumbuh di Thunderbolt, Gi Eun tidak terlalu mengenal daerah timur. Ketika masih kanak-kanak ia hanya menyimpulkan bahwa itu karena tidak ada yang perl dituju di sini―semua took, sekolah, dan orang yang dikenal keluarganya berada di daerah bagian barat. Bagian timur kurang berkembang. Hanya itu.

Ia merindukan orangtuanya, yang menempelkan kertas Post-itdi kaus paling atas tumpukan dalam tasnya―Kami menyayangimu! Keluarga Park tidak pernah kalah! Ia merindukan kamarnya, yang menghadap ke kebun bunga ibunya. Ia merindukan Ji Hyun, yang pasti sudah mengirimnya setidaknya sepuluh SMS yang takkan pernah dilihatnya. Ia merindukan Trevor…

Atau, yah, bukan itu sebenarnya. Yang ia rindukan adalah rasa ketika pertama kali mengobrol dengan Trevor. Ketika punya seseorang untuk dilamunkan jika ia tidak bisa tidur saat malam, nama orang yang bisa ditulis dengan norak di buku catatan. Sejujurnya, Gi Eun dan Trevor tidak pernah punya kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat. Satu-satuny kenangan yang Gi Eun miliki hanya foto yang diambil Ji Hyun diam-diam, dari seberang lapangan sepak bola saat Trevor melakukan pemanasan, saat pria itu dan Gi Eun bicara selama 15 detik tentang… pemanasan Trevor. Dan satu-satunya kencan yang pernah dilakukan Gi Eun dengan pria itu bukanlah kencan sesungguhnya―hanya mencuri-curi waktu selama 1 jam ketika Trevor mengajaknya menjauhi gerombolan murid. 1 jam yang disesali Gi Eun seumur hidup.

Awalnya berjalan baik-baik saja, hanya 2 orang yang berjalan-ja;an di pinggir danau, tapi tak lama kemudia Gi Eun mulai merasakan bayangan-bayangan itu mengintai di atas kepala. Lalu bibir Trevor menyentuh bibirnya, kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya, dan mata pria itu memucat dengan ekspresi ngeri… dan beberapa detik kemudia, kehidupan yang Gi Eun tahu lenyap dalam kobaran api.

Gi Eun berguling dan mengubur wajahnya dalam lipatan lengan. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan meratapi kematian Trevor, dan kini, ia tergeletak di kamar yang asing ini, kerangka besi tempat tidur menusuk kulitnya dari balik kasur yang tipis, ia merasakan kesia-siaan ini semua. Ia tidak mengenal Trevor, seperti ia tidak mengenal… yah, Kris.

Ketukan di pintu membuat Gi Eun terlonjak bangun dari tempat tidur. Siapa yang tahu ia berasa di sini? Ia mengendap-endap ke pintu dan menariknya sampai terbuka. Lalu ia melongokkan kepala ke lorong yang kosong. Ia bahkan tidak mendengar suara langkah kaki di luar sana, dan tak ada tanda tentang siapa pun yang baru saja mengetuk pintu.

Hanya ada pesawat kertas yang ditempelkan dengan paku paying kuningan di tengah papan catatan di sebelah pintu. Gi Eun tersenyum melihat namanya tertulis dengan spidol hitam di bagian sayap, tapi ketika ia membuka lipatan surat itu, yang ada di dalamnya hanya panah hitam yang menunjuk lurus ke lorong.

Amber memangmengundang Gi Eun ke tempatnya mala mini, tapi itu sebelum kejadian dengan Jin Hee di kantin. Sambil melongok ke sepanjang lorong yang kosong, Gi Eun menimbang-nimbang untuk mengikuti panah yang tidak jelas itu. Lalu ia menoleh k etas selempang besarnya, barang-barangnya yang menyedihkan, menanti di bongkar. Ia mengangkat bahu, menarik pintu hingga tertutup, memasukkan kunci kamar ke saku, dan mulai berjalan.

Ia berhenti di depan pintu di sisi lain lorong untuk memperhatikan poster luar biasa besar Sonny Terry, musisi tuna netra yang dikenal Gi Eun dari koleksi rekaman butut milik ayahnya, merupakan pemain harmonica beraliran bluesyang sangat hebat. Ia mencondongkan tubuh ke depan untuk membaca nama yang tertera di papan cataan dan terkejut saat menyadari ia berdiri di depan kamar Roland Sparks. Dalam sekejap, dengan mengesalkan, ada sebagian kecil pikirannya yang mulai memperhitungkan kemungkinan Roland sedang bersama Lu Han, hanya pintu tipis yang memisahkan mereka dari Gi Eun.

Dengan mekanis membuat Gi Eun terlonjak. Ia menatap tepat ke kamera pengintai yang dipasang di dinding atas pintu Roland. Merah. Memperhatikan gerak-gerik Gi Eun. Ia bergerak menjauh, merasa malu untuk alasan-alasan yang tidak bisa dipahami karema. Lagi pula, ia dating ke sini untuk bertemu Amber―yang kamarnya, disadari Gi Eun, ternyata berada tepat di seberang kamar Roland.

Di depan kamar Amber, Gi Eun dilanda gelombang kelembutan sedikit. Pintu itu penuh stiker―beberapa di cetak, yang lain jelas buatan sendiri. Setikernya begitu banyak sehingga tumpah-tindih, setiap slogan setengah menutupi yang lain dan sering bertentangan dengan yang sebelumnya. Gi Eun menahan tawa saat membayangkan Amber mengoleksi stiker tanpa pilih-pilih (ORANG JAHAT YANG MENANG… ANAK PEREMPUANKU MURID GAGAL DI SWORD & CROSS… JANGAN DUKUNG PAHAM 666), lalu menempelkannya dengan serampangan―tapi berkomitmen―berkonsentrasi menghias wilayahnya.

Gi Eun bisa menghibur diri selama 1 jam dengan membaca pintu Amber saja, tapi tak lama ia mulai sadar bahwa ia berdiri di depan pintu kamar asrama yang hanya setengah diyakininya bahwa ia benar-benar diundang ke dalamnya. Lalu ia melihat pesawat kertas kedua. Gi Eun menurunkannya dari papan catatan dan membuka lipatan surat itu:

Luce Sayang,

                Jika kau benar-benar muncul untuk mengobrol mala mini, bagus! Kita akan baik-baik saja.

Jika kau tidak dating, berarti… singkirkan tanganmu dari surat pribadiku, ROLAND! Berapa kali harus ku katakana padamu? Huh.

                Omong-omong: Aku tahu aku menyuruhmu dating malam ini, tapi aku harus segera meluncur dari acara bersantai di ruang kesehatan (segi positif urusan setrumku hari ini) setelah biologi susulan dengan Albatross. Dengan kata lainkita tunda dulu?

Temanmu yang gila,

A

Gi Eun berdiri memegang surat itu, tidak yakin akan berbuat apa selanjutnya. Ia lega karena Amber dalam diobati, tapi ia tetap berharap bisa bertemu langsung wanita itu. Ia ingin mendengar sendiri suara Amber yang tak acuh supaya tahu bagaimana menyikapi apa yang terjadi di kantin hari ini. Tapi berdiri disana, di tengah lorong, Gi Eun semakin tidak yakin begaimana harus bersikap mengenai kejadian hari ini. Sedikit rasa ketakutan menyelubunginya ketika ia sadar bahwa ia sendirian, pada malam hari, di Sword & Cross.

Di belakangnya, pintu berderak terbuka. Seberkas sinar putih melebar di lantai di bawah kakinya. Gi Eun mendenfar suara music dari dalam kamar.

“Sedang apa kau?” Ternyata Roland, berdiri di ambang pintu kamarnya mengenakan kaus ptih dan celana jins lusuh. Rambut imbalnya sedikit diikat dengan karet gelang kuning di atas kepala dan ia memegang harmonica di dekat bibir.

“Aku ke sini untuk bertemu Amber,” jawab Gi Eun, mencoba menahan diri agar tidak menatp ke balik tubuh Roland untuk melihat apakah ada orang lain yang berada di dalam kamar. “Kami tadinya mau―”

“Tidak ada siapa-siapa di kamar,” pria itu memberitahu, tidak jelas maksudnya. Gi Eun tidak tahu apakah yang dimaksud Roland adalah Amber, atau seluruh murid lain yang berada di asrama. Pria itu memainkan beberapa nada dengan harmonica, sambil terus memperhatikan Gi Eun. Lalu ia membuka pintu sedikit dan mengangkat alis. Gi Eun tidak tahu apakah pemuda itu mengundangnya masuk atau tidak.

“Yah, aku hanya mampir sebelum ke perpustakaan,” Gi Eun cepat-cepat berbohong, berbalik kea rah datangnya tadi. “Ada buku yang harus ku lihat.”

“Gi Eun,” panggil Roland.

Gi Eun berbalik. Mereka belum berkenalan secara resmi, dan Gi Eun tidak menyangkan Roland tahu namanya. Mata pria itu memancarkan senyum pada Gi Eun dan ia menggunakan harmonica untuk menunjuk kea rah yang berlawanan. “Perpustakaan kea rah sana,” kata pria tersebut. Ia melipat tangan di dada. “Jangan lupa lihat-lihat bagian koleksi istimewa di sayap timur. Isinya benar-benar hebat.”

“Terima kasih,” sahut Gi Eun, merasa benar-benar berterima kasih ketika berbalik arah. Roland kelihatan tulus saat ini, melambai dan memainkan harmonica ketika Gi Eun berjalan. Mungkin ia tadi membuat Gi Eun gugup karena Gi Eun menganggapnya sebagai teman Lu Han. Siapa tahu Roland sangat menyenangkan. Suasana hati Gi Eun membaik ketika ia berjalan sepanjang lorong. Pertama, pesan Amber terdengar tajam dan sarkastis, lalu pertemuannya yang tidak canggung dengan Roland Spark; plus ia memangingin melihat perpustakaan. Semua mulai berjalan dengan baik.

Di dekat ujung lorong, tempat asrama berkelok kea rah sayap perpustakaan, Gi Eun melewati satu-satunya pintu yang terbuka dilantai ini. Tidak ada hiasan apapun pada pintu ini, tapi seluruh daun pintunya di cat hitam. Ketika mendekatinya, Gi Eun bisa mendengar music heavy metalkeras dari dalam. Ia tidak perlu berhenti untuk membaca nama yang tertera di pintu. Itu kamar Jin Hee.

Gi Eun mempercepat langkah, tiba-tiba menyadari tiap detak yang di timbulkan sepatu bot hitamnya di lantai kayu. Ia tidak sadar menahan napas hingga menerobos masuk ke pintu bermotif kulit kayu di perpustakaan dan menghela napas.

Perasaan nyaman melanda dirinya ketika Gi Eun menatap ke sekeliling perpustakaan. Ia selalu menyukai aroma manis apak samar yang hanya ada di ruangan penuh buku. Ia merasa nyaman dengan suara lembut halaman-halaman buku dibalik. Perpustakaan di Dover selalu menjadi tempat pelariannya, dan Gi Eun nyaris tak sanggup menahan rasa lega ketika menyadari tempat ini mungkin bisa memberinya perlindungan yang sama. Ia nyaris tidak percaya bahwa tempat ini ada di Sword & Cross. Perpustakaan ini sepertinya… memang… mengundang.

Dindingnya berwarna cokelat tua kemerahan dan langit-langitnya tinggi. Perapian dari batu  bata terdapat di salah satu dinding. Ada beberapa meja kayu panjang yang diterangi lampu-lampu hijau model kuno, dan berlorong-lorong buku sejauh mata memandang. Suara langkah sepatu botnya diredap karpet Persia tebal saat Gi Eun menelusuri jalan masuk.

Beberapa murid sedang belajar, tidak ada satu pun yang namanya diketahui Gi Eun, tapi bahkan anak-anak punk tidak terlihat terlalu mengancam saat kepala mereka ditundukkan di atas buku. Gi Eun mendekati meja pendaftaran utama, yang merupakan meja bundar besar di tengah ruangan. Meja itu dipenuhi bertumpuk-tumpuk kertas dan buku serta member kesan berantakan seperti ruang belajar di rumah, mengingatkan Gi Eun akan rumah orangtuanya. Buku-bukunya ditumpuk begitu tinggi sehingga Gi Eun nyaris tidak melihat petugas perpustakaan yang duduk di baliknya. Perempuan itu sedang mengerjakan beberapa dokumen dengen ketelitian orang mendulang emas. Kepalanya muncul ketika Gi Eun menghampiri

“Halo!” Perempuan itu tersenyum―ia benar-benar tersenyum―pada Gi Eun. Rambut perempuan itu tidak berwarna kelabu tapi perak, dengan kila yang gemerlap bahkan dalam cahaya lembut perpustakaan. Wajahnya terlihat tua sekaligus muda. Kulitnya pucat dan nyaris transparan, matanya hitam cemerlang, dan hidungnya mungil mencuat. Ketika bicara pada Gi Eun, ia menarik lengan baju hangat wolnya yang berwarna putih ke atas, menunjukkan bertumpuk-tumpuk gelang mutiara yang menghiasi kedua pergelangan tangannya. “Bisa kubantu mencari sesuatu?” ia bertanya dalam bisikan riang.

Gi Eun langsung merasa santai dengan perempuan ini, dan melirik ke bawah, ke arah papan nama di meja. Kim Hyun Jin. Gi Eun jadi ingin benar-benar mencari buku. Perempuan ini petugas pertama yang ditemuinya seharian ini yang pertolongannya diharapkan Gi Eun betul-betul dibutuhkannya. Tapi Gi Eun kemari hanya untuk melihat-lihat… lalu ia teringat pada apa yang dikatakan Roland Sparks.

“Aku murid baru disini,” Gi Eun menjelaskan. “Park Gi Eun. Bisakah kau memberitahuku di mana letak sayap kiri?”

Perempuan itu tersenyum maklum pada Gi Eun, senyum yang selalu didapat Gi Eun dari petugas perpstakaan manapun seumur hidupnya. “Tepat disebelah sana,” ia menjawab, menunjuk jajaran jendela tinggi di seberang ruangan. “Aku Miss Kim, dan jika jadwalku benar, kau ikut seminar agamaku tiap Selasa dan Kamis. Oh, kita akan bersenang-senang!” Ia mengedipkan sebelah mata. “Untuk saat ini, jika ada lagi yang kau butuhkan, aku berada di sini. Senang berkenalan denganmu Gi Eun.”

Gi Eun tersenyum untuk menandakan terima kasih, memberitahu Miss Kim bahwa ia akan senang sekali bertemu dengannya besok di kelas, dan mlai berjalan kea rah jajaran jendela. Baru setelah meninggalkan petugas perpustakann itu ia menyadari betapa aneh dan akrb cara perempuan tersebut mengucapkan nama kecilnya.

Ia baru saja melewati ruang baca utama dan melewati rak-rak buku yang tinggi serta anggun ketika syahrini (re: sesuatu ._.V) yang gelap dan menakutkan nelintas di atas kepalanya. Ia mendongak.

Tidak. Jangan di sini. Tolonglah. Biarkan aku memiliki satu tempat ini saja.

                Ketika bayangan-bayangan itu dating dan pergi, gi Eun tidak pernah benar-benar tahu di mana munculnya―atau berapa lama bayangan-bayangan itu akan pergi.

Ia tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Ada yang berbeda. Ia sangat ketakutanm jelas, tapi ia tidak merasa kedingina. Ia malah merasa agak kepanasan. Perpustakaan ini hangat, tapi tidak sehangat itu. Lalu ia melihat Luhan.

Pria itu menghadap jendela, memunggungi Gi Eun, bersandar pada podium bertuliskan KOLEKSI ISTIMEWA dalam huruf putih. Lengan kulit jaket lusuh pemuda itu didorong hingga siku dan rambut pirangnya bersinar di bawah cahaya lampu. Bahunya membungkuk, dan sekali lagi, Gi Eun merasakan naluri untuk merengkuhnya. Gi Eun menepis bayangan itu dari kepala dan berjinjit untuk melihat pria itu lebih jelas. Dari jarak ini, Gi Eun tidak begitu yakin, tapi Luhan kelihatannya sedang menggambar.

Ketika Gi Eun memperhatikan gerak samar pria itu saat menggambar, perut Gi Eun terasa seperti terbakar, seakan ia baru saja menelan sesuatu yang panas. Gi Eun tidak mengerti kenapa, di antara semua alas an yang masuk akal, ia punya firasat gila bahwa Luhan sedang melukis dirinya.

Ia seharusnya tidak mendekati Luhan. Lagi pula, ia tidak mengenal pria itu, belum pernah benar-benar bicara padanya. Komunikasi mereka sejauh ini hanya melibatkan satu jari tengah dan beberapa tatapan kasar. Tetapi, entah mengapa, rasanya sangat penting baginya untuk mencari tahu gambar apa yang ada di buku sketsa pria tersebut.

Lalu ia teringat. Mimpinya malan sebelumnya. Tiba-tiba saja kilasan singkat mimpi itu teringat lagi olehnya. Dalam mimpinya, saat itu tengah malam―lembap juga sangat dingin, dan ia menganakan sesuatu yang panjang serta melambai. Ia bersandar pada jendela bertirai dalam kamar yang asing. Satu-satunya orang lain yang berada di sana adalah seorang lelaki dewasa… atau pemuda―ia tidak sempat melihat wajahnya. Orang itu menggambar Gi Eun pada kertas di buku tebal. Rambutnya. Lehernya, lekuk tubuhnya yang persis sama. Ia berdiri di belakang orang itu, terlalu takut ketahuan bahwa ia memperhatikan, terlal tertarik untuk berpaling.

Gi Eun tersentak maju saat merasakan ada yang mencubit bagian belakang bahunya, lalu melayang melewati kepanya. Bayangan itu muncul lagi. Warnanya hitam dan setebal tirai.

Dentuman jantungnya begitu keras sehingga memenuhi telinga, menutupi suara desiran berat bayangan itum menutupi suara langkah kaki Gi Eun. Luhan mendongakdari hasil karyanya dan tampak menatap ke atas, tepat pada tempat bayangan itu mengambang, tapi pria itu tidak terkejut seperti Gi Eun.

Tentu saja, Luhan tidak bisa melihatnya. Pandangannya tertuju denagn tenang ke luar jendela.

Perasaan hangat dalam tubuh Gi Eun semakin kuat. Kini ia cukup dekat sehingga merasa seharusnya pria itu merasakan kehangatan tersebut keluar dari kulit Gi Eun.

Sepelan mungkin, Gi Eun mencoba mengintip dari balik bahu Luhan ke buku sketsanya. Selama satu detik saja, benak Gi Eun melihat lekukan lehernya sendiri digambar dengan pensil di halaman buku itu. Tapi kemudian ia mengerjap, dan ketika kedua matanya tertuju lagi ke buku, ia harus menelan ludah dengan susah payah.

Gambarnya pemandangan. Luhan nyaris sempurna menggambar pekuburan di luar jendela secara terperinci. Gi Eun belum pernah melihat sesuatu yang begitu membuatnya sedih.

Ia tidak tahu kenapa. Sungguh tidak waras―bahkan baginya―kalau ia mengharapkan intuisinya yang aneh menjadi kenyataan. Tidak ada alas an bagi Luhan untuk menggambar dirinya. Ia menyadari itu. Seperti tahu pria itu tidak punya alas an untuk mengacungkan jari tangah padanya tadi pagi. Tapi Luhan melakukannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Luhan bertanya. Ia menutup buku sketsanya dan menatap Gi Eun dengan serius. Bibirnya yang penuh membentuk garis lurus dan matanya yang kelabu tampak datar. Ia tidak kelihatan marah, kali ini; ia tampak kelelahan.

“Aku ke sini untuk melihat buku Koleksi Istimewa,” Gi Eun berkata dengan suara bergetar. Tapi ketika melihat sekelilingnya, seketika ia menyadari kesalahannya. Koleksi Istimewa bukanlah bagian untuk menyimpan buku-buku―ini bagian terbuka perpustakaan untuk memajang benda seni tentang Perang Saudara. Ia dan Luhan berdiri di galeri mungil berisi patung-patung perungg pahlawan perang, lemari-lemari kaca yang di penuhi surat perjanjian dan peta Konfederasi. Ini satu-satunya bagian perpustakaan yang tidak menyimpan satu buku pun.

“Selamat mencari,” kata Luhan, membuka buku sketsa lagi, seakan mengatakan, dengan tegas, Selamat tinggal.

Gi Eun tidak bisa berkata apa-apa dan merasa malu, ia hanya ingin kabur. Tapi ada bayangan itu, masih mengintai di dekat sana, dan entah mengapa Gi Eun merasa lebih baik jika berada di dekat Luhan. Rasanya tidak masuk akal―seakan ada yang bisa dilakukan pria itu untuk melindunginya dari bayangan tersebut.

Gi Eun tidak bisa bergerak, kaku di tempat. Luhan mendongak menatapnya dan menghela napas.

“Coba kutanya, apa kau suka didekati diam-diam?”

Gi Eun memikirkan bayangan itu dan apa yang dilakukan bayangan tersebut padanya sat ini. Tanpa berpikir, ia menggeleng keras-keras.

“Oke, berarti kita berdua sama-sama tidak suka.” Pria itu berdehem dan menatap Gi Eun, menunjukkan Gi Eun-lah si pengganggu.

Mungkin Gi Eun bisa memberitahu Luhan bahwa ia sedikit pusing dan hanya ingin duduk sebentar. Ia mulai bicara, “Dengar, bolehkan aku―”

Tapi Luhan mengangkat buku sketsa dan berdiri. “Aku dating ke sini untuk menyendiri,” ia berkata, memotong kalimat Gi Eun. “Jika kau tidak mau pergi, aku saja.”

Ia memasukkan buku sketsa ke ransel dengan kasar. Ketika ia melewati Gi Eun, bahunya menyenggol bahu Gi Eun. Walaupun sentuhannya singkat, dan meski terhalang lapisan-lapisan pakaian mereka. Gi Eun merasakan sengatan listrik statis.

Selama sedetik, Luhan terpaku juga. Mereka menoleh dan saling menatap, lalu Gi Eun membuka mulut. Tapi sebelum ia mulai bicara, Luhan berpaling dan berjalan cepat kea rah pintu. Gi Eun memperhatikan ketika bayangan-bayangan itu merayap di atas kepala Luhan, berputar membentuk lingkaran, lalu menerobos keluar jendela menuju malam.

Gi Eun begidik karena udara dingin setelah kepergian bayangan-bayangan itu, dan cukup lama setelah itu, saat berdiri di bagian koleksi istimewa, memegang bahunya yang tadi tersentuh oleh Luhan, ia merasakan kehangatannya memudar.

To Be Continue

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

15 pemikiran pada “Fallen (Chapter 3)

  1. Wahh, ada apa ini?
    Ada apa antara Gi Eun dan Luhan?
    Pasti mereka pair d ff ini ya thor, hehe
    Di ff ini Kris ga keliatan.
    Lanjut deh thor, ditunggu

  2. Wuihhh, keren nih!~~
    (Y)

    Lanjut lanjut!~~
    Jangan lama² ya lanjutanya, penasaran..

    Tapi agak bingung sedikit ._.
    Soalnya belum baca dari awal, kekeke!~

    Suka sama kalimat²nya, rapi gitu, hohoho..
    Ayoo lanjuuut!~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s