[SuHo’s Side] Genocide :: I Hate My Family.

[SuHo’s Side] Genocide :: I Hate My Family.

Author             : @ridhoach

Main Cast        : Kim Joon Myeon a.k.a SuHo (EXO-M)

Support Cast    :

–          Park Sang Hyun a.k.a CheonDung (MBLAQ)

–          Kim Joon Ji (OC)

–          Kim Joon Ho a.k.a Juno (OC)

–          Arisa Yanagata (OC)

Genre              : Friendship, Crime, Tragedy, Fantasy

—–

Selama berada di neraka itu, aku tidak akan pernah bisa berkembang.

Selalu terkekang dan tak pernah bisa merasakan kebebasan.

Neraka itu selalu menekanku kapanpun itu.

Di setiap sudutnya, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kebebasan atas diriku sendiri.

Hanya aroma lautlah yang bisa memberikanku ketenangan dan membebaskanku dari tekanan neraka itu.

Tapi, kenapa neraka itu masih bisa menjangkauku walaupun aku sudah berada di lautan?

Apa laut sudah tidak mau menerimaku lagi?

—–

Su Ho’s POV

Di dunia ini hanya dua tempat yang bisa membuatku tenang dan mampu menenangkan pikiranku.Yang pertama adalah pantai.Dan yang kedua adalah laut.Aku menyukai aroma pantai dan aroma laut yang sungguh bisa membuatku tenang dan membuatku melupakan masalah – masalah duniaku.Aku benci berada di rumahku sendiri.Disana tidak lebih dari sebuah neraka.Aku tidak bisa bebas disana.Berbeda sekali jika aku berada di laut dan di pantai.Aku bisa melakukan apapun.Laut memberikanku kebebasan.

Namaku Kim Joon Myeon. Namun, setelah aku memutuskan untuk kabur dari rumah dan mengasingkan diri di pantai 3 tahun yang lalu, aku lebih dikenal dengan nama SuHo. Aku memutuskan untuk tinggal di pantai bersama sahabatku, CheonDung-hyung.

Saat ini, aku bekerja sebagai lifeguard di pantai tempat aku tinggal bersama Cheondung-hyung.Selain itu, aku juga sedang merampungkan sebuah alat percobaan yang aku rangkai diam – diam tanpa sepengetahuan siapapun.Alat itu adalah alat yang bisa membantuku untuk hidup dan berlama – lama berada di dalam laut.Alat yang sudah aku impi – impikan sejak lama. Sebagai lulusan dari fakultas teknik mesin dari Seoul University, tidak susah bagiku untuk merangkai alat tersebut. Yang susah adalah menentukan pasangan yang pas antara satu alat dengan alat yang lainnya agar menciptakan susunan dan komposisi yang sesuai.

——

“Hyung, apa kau tidak lapar?”, tanyaku pada CheonDung-hyung.

“Ah, aku lapar. Kenapa memangnya SuHo-yah?”, jawabnya.

“Ah, bagaimana kalau kita pergi makan siang?Aku sudah sangat lapar hyung”, jawabku sambil memegangi perutku.

“Ya! Kau lapar atau sakit perut?”, tanyanya.

“Aku lapar hyung. Kajja!”, jawabku sambil menarik tangan CheonDung-hyung.

Aku dan CheonDung-hyung memutuskan untuk makan siang di sebuah kedai dari jejeran kedai yang ada di sepanjang pantai.Kedai ini sudah menjadi langganan kami dari dulu.Selain makanannya enak, harga yang ditawarkan pun sangat murah.Sesuai dengan kantong kami.

“Ah, hyung bagaimana kabar dari eommamu di Hokkaido?”, tanyaku.

“Dia baik – baik saja.Tapi dia menyuruhku untuk mengunjunginya dalam waktu dekat ini”, ujarnya.

“Ne? Kalau begitu kenapa kau tidak mengunjunginya?”, tanyaku.

“Ah, ani. Aku belum memiliki ongkos untuk pergi ke sana. Tabunganku masih belum cukup.Nanti saja kalau tabunganku sudah cukup baru aku ke Hokkaido”, jawab CheonDung-hyung.

“Ah, kalau begitu pakai saja tabunganku.Aku masih belum membutuhkannya.Ambil saja hyung”, ujarku.

“Ne?Jangan begitu SuHo-yah.Aku tidak mau merepotkanmu”, ujarnya tulus.

“Ah, tak apa. Lagipula itu juga bukan buatmu saja hyung. Aku akan ikut ke Hokkaido juga. Tabunganku cukup untuk kita berdua pergi ke Hokkaido”, ujarku sambil tersenyum.

“Aiss.Ternyata memang ada maksud tersembunyi”, jawab CheonDung-hyung.

“Hahaha.Ayolah hyung, aku juga mau berjalan – jalan ke Hokkaido.Sudah lama aku tidak liburan”, kataku.

“Baiklah.Nanti aku akan carikan tiketnya untuk kita berdua”, kata CheonDung-hyung.

“Yes! Hyung memang yang paling baik!”, ujarku sambil mengepalkan tanganku ke udara.

“Hyung, ada yang mau aku kasih tau ke hyung”, ujarku.

“Ne? Wae?”, tanya CheonDung-hyung.

“Ah, saat ini aku sedang melakukan sebuah percobaan di rumahku.Aku sedang merangkai sebuah alat”, kataku.

“Ah, tentang itu aku sudah tau sejak awal”, ujarnya.

“Jinjja?Bagaimana kau mengetahuinya hyung?Seingatku aku tidak pernah memberitahu siapapun”, ujarku.

“Kau pikir, sudah berapa lama aku mengenalmu SuHo-yah?Aku telah mengetahui apapun darimu tanpa perlu kau kasih tau”, katanya.

“Ah, hyung memang paling baik dalam membaca hati orang lain. Terus, kenapa kau tidak pernah menanyakanku mengenai masalah ini secara langsung hyung?”, tanyaku.

“Shireo.Aku hanya ingin membahasnya jika kamu sudah memberitahukan padaku secara langsung”, kata CheonDung-hyung.

“Ah, kau benar – benar mengerti aku hyung.Sangat berbeda dengan keluargaku sendiri”, kataku.

“Aissh.Kau tidak usah memujiku SuHo-yah. Lagipula aku belum ada apa – apanya dengan keluargamu. Aku bukan siapa – siapamu”, ujarnya.

“Belum ada apa – apanya? Hyung itu berbeda dengan mereka. Mereka itu setan! Hyung itu malaikat”, ujarku.

“Sudahlah SuHo-yah. Jangan menjelek – jelekkan keluargamu sendiri.Tidak baik”, kata CheonDung-hyung.

“Aissh!Hyung selalu saja begitu. Hyung kan tau, kalau aku benci keluargaku sendiri. Bagaimana mungkin aku berhenti untuk menjelek – jelekkan mereka?”, kataku.

“Sudahlah SuHo-yah. Lebih baik kita mengawasi  pengunjung saja. Kajja”, ajaknya.

“Ne”, ujarku walau masih kesal dengan CheonDung-hyung.

—–

3 hari kemudian..

Hari ini kami akan berangkat menuju Hokkaido. Kampung halaman dari CheonDung-hyung. Bagi CheonDung-hyung, mungkin ini akan menjadi reuninya kembali dengan eommanya setelah lama tidak bertemu. Tapi bagiku, ini adalah salah satu liburan yang sudah aku impikan sejak lama. Aku memang sudah sangat mengiginkan untuk belibur ke Hokkaido dan merasakan serta menghirup aroma laut yang ada di sana. Aku ingin melupakan masalahku sejenak dan refreshing di sana.

Bandara internasional Incheon sangat ramai saat itu.Entah itu karena ada alasan khusus atau memang biasanya seramai itu.Aku tidak tau.Aku memang jarang pergi dan berhubungan dengan bandara sejak 3 tahun yang lalu.Sejak aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan memutuskan hubungan dengan keluarga kandungku sendiri.

Aku adalah anak kedua dari keluarga Kim.Ayahku Kim Joon Ji adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal di seantero Korea Selatan. Sedangkan hyungku, Kim Joon Ho atau yang lebih sering aku panggil Juno, adalah seorang arsitek yang cukup terkenal dan sukses di kota Seoul. Appaku memaksaku untuk mengambil fakultas teknik mesin pada saat aku memasuki universitas.Padahal, aku sangat ingin mengambil fakultas kelautan dan nantinya bekerja di bidang yang berhubungan dengan laut.Tapi, appaku memaksaku untuk mengikuti keinginannya dan nantinya bekerja sebagai salah satu manager di perusahaan yang dia miliki, meneruskan jejaknya.Appaku selalu memaksaku untuk mencontoh dan megikuti jejak hyungku.Semua hal yang harusnya aku bisa menentukannnya sendiri, selalu ditentukan dan dipilih oleh appaku dan dibantu oleh hyungku.Mereka berdua tidak pernah mendengarkan pendapatku dan tidak pernah menghargai kebebasanku.

Aku selalu dikekang oleh momok appa dan hyungku.Setiap kali aku menentang, mereka tidak akan pernah menghiraukannya dan tetap memaksaku mengikuti keinginan mereka. Lama kelamaan aku merasakan bosan dan tidak dihargai oleh mereka. Apalagi sejak kematian eommaku 7 tahun lalu, ulah mereka dalam mendominasi pilihanku semakin menjadi –jadi.Kalau dulunya eommaku masih mau menghargai dan membela pendapatku jika pendapatku tidak didengarkan oleh mereka, saat ini aku benar – benar sendiri.Terkekang dan tidak pernah merasakan kebebasan walaupun itu di dalam rumahku sendiri.Itulah kenapa aku sangat membenci keluarga dan rumahku sendiri.Aku tidak pernah jika berdekatan atau berada pada 2 hal itu, keluarga dan rumahku sendiri.Bagiku, rumahku tak lebih dari sebuah neraka dimana keluargaku berperan sebagai setan – setan yang menjaganya.

Karena itulah 3 tahun yang lalu aku memutuskan untuk kabur dan pergi ke salah satu pantai setelah aku menuntaskan studiku bersama sahabat yang aku kenal di Seoul University, CheonDung-hyung. Awalnya, CheonDung-hyung tdak mau dan tidak mengizinkan ide gilaku ini. Tapi, setelah aku memaksanya berkali – kali akhirnya dia luluh dan mau mengikutiku untuk pindah ke panai dan memulai hidup baru di sana sebagai pribadi yang berbeda. Aku mengubah nama panggilanku menjadi SuHo agar tidak ada yang mengetahui identitas asliku yang sebenarnya.

—–

Kami akhirnya sampai di Hokkaido pada sore harinya. Setelah menempuh perjalanan menggunakan pesawat yang sangat lama dan panjang, akhirnya kami sampai di sana. Suasana Hokkaido sangat sama persis seperti yang aku duga dan harapkan. Suasana pantai yang tenang dengan aroma laut yang sangat membuat pikiranku menjadi tenang dan nyaman.Tempat yang sesuai untukku mengistirahatkan pikiranku sejenak.

“Wahh, pantai ini sangat daebak hyung”, ujarku.

“Ah, kau itu memang tidak pernah menganggap ada pantai yang tidak daebak SuHo-yah”, jawab CheonDung-hyung.

“Aissh, kau merusak kekagumanku hyung”, ujarku sambil berpura – pura cemberut.

“Hahaha.Tak usah lah kau pura – pura cemberut begitu.Kau tidak menggemaskan, tapi mengerikan”, ujar CheonDung-hyung.

“YA!!Aku tidak mengerikan hyung.Wajahku yang tampan ini tidak mungkin mengerikan”, ujarku sambil membusungkan dada.

“Terserahmu lah SuHo-yah.Aku no comment.Ayo, kita ke rumah eommaku. Palli!!”, ajak CheonDung-hyung.

END of Su Ho’s POV

—–

Cheon Dung’s POV

Aku adalah anak tunggal dari keluarga Park. Appaku, Park In Hwa, adalah seorang nahkoda kapal yang sangat aku kagumi. Sedangkan eommaku, Arisa Yanagata, adalah seorang yeoja dari Jepang yang berpindah kewarganegaraannya setelah menemui appaku. Eommaku mengubah namanya menjadi Park Sa Jin dan mengikuti appaku untuk tinggal dan menetap di Korea.

“Aku pulang! Okaa-san, bukakan pintunya!”, teriakku di depan pintu rumahku.

Aku mendengar suara langkah kecil bergema di dalam rumahku.Lantainya yang terbuat dari kayu membuatnya menjadi terdengar lebih cepat dan keras.Beberapa saat kemudian aku melihat pintu rumahku terbuka dan dari dalamnya muncul wajah seorang yeoja yang sudah berumur dengan senyumnya yang khas, eommaku.

“Irasshaimase SangHyun-san. Ne, sepertinya ada tamu khusus?”, ujar eommaku sambil tersenyum pada temanku, SuHo-yah.

“Ah, SuHo imnida agasshi.Yoroshiku onegaishimasu”, ujar SuHo-yah dengan wajah yang seperti menghafalkan sesuatu.

“Okaa-san, bukannya aku sudah memberitahumu kalau aku akan mengajak temanku? Kenapa kau bisa sampai lupa?”, tanyaku.

“Ah, bagaimana mungkin aku melupakannya. Tapi ya sudahlah, ayo kalian masuk”, ujar eommaku seraya membukakan pintu rumahku lebih lebar.

“Ne”.

Rumahku masih sama seperti 3 tahun saat aku tinggalkan dulu. Tapi, sepertinya bangunan itu sudah sedikit terlihat lebih tua daripada 3 tahun lalu.Dulu, ini adalah tempatku menghabiskan waktu selama 7 tahun semenjak kematian appaku 13 tahun lalu dan juga sebelum aku pindah ke Korea untuk melanjutkan studiku. Appaku adalah seorang nahkoda kapal yang cukup berbakat di Korea.Dia sudah berpergian dan menyusuri setiap penjuru laut yang ada di dunia.Tapi, 13 tahun lalu saat aku masih berumur 9 tahun, appaku yang sangat aku sayangi dan aku kagumi hilang di telan oleh amukan laut.Butuh waktu 2 tahun untukku benar – benar menghadapi kenyataan bahwa appaku telah benar – benar tiada.Dan setelah itu, aku pun memutuskan untuk menjadi seorang lifeguard dan mengawasi laut agar tidak ada lagi korban dari amukan laut seperti appaku.

“SangHyun, ayo kita makan.Ajak temanmu.Eomma tau kalau kau dan temanmu itu belum makan”, ujar eommaku dari arah ruang dapur.

“Ne, eomma. SuHo-yah!! Ayo, kita makan!”, teriakku.

“Ah, baiklah hyung”, jawab SuHo seraya mendekatiku dan berjalan ke arah ruang makan.

“Nah, silahkan dimakan yang banyak nak SuHo.Maaf bibi hanya bisa menyediakan makanan seadanya”, ujar eommaku sambil menyunggingkan senyumnya dengan tulus.

“Tak apa bi.Itadakimasu”, ujar SuHo sambil tersenyum riang.

END of Cheon Dung’s POV

—–

Su Ho’s POV

“Hyung, temani aku ke pantai. Kajja!”, ajakku pada CheonDung-hyung.

“Ne?Apa kau tidak lelah SuHo-yah? Stamina apa yang kau miliki?”, ujarnya dengan wajah yang dibuat – buat.

“Sudahlah hyung.Aku tau hyung pura – pura. Kajja! Temani aku sekarang hyung. Palliyeo!”, ujarku sambil menarik lengan CheonDung-hyung.

“Aissh.Aku tetap saja tidak bisa membohongimu”, ujarnya dengan wajah lesu.

Kami berdua pun berjalan bersama menuju pantai yang letaknya tak jauh dari rumah CheonDung-hyung.

Pantai yang sangat indah dengan pemandangan yang sangat memukau.Pasir putih yang membentang dari satu sisi ke sisi satunya. Ombak yang datang silih berganti saling berdeburan satu sama lainnya seolah – olah memanggil kami untuk masuk ke dalam sana dan berenang bersama ikan – ikan yang berkumpulan di bawahnya. Begitu sampai disana, aku langsung melepas bajuku dan terjun ke dalam laut yang begitu indah itu.

“Ayo, hyung!Aku tau kalau hyung juga sangat ingin berenang.Sudah lama bukan kita tidak berenang dengan bebas dan tidak ada yang mengatur begini? Kajja, hyung!”, teriakku dari tengah laut.

“Ah, ne. Tunggu aku SuHo-yah”, ujar CheonDung-hyung seraya melepaskan bajunya.

Ah, memang tidak ada tempat yang lebih indah dan tenang selain laut dan pantai. Aku senang berada di sini. Kami menghabiskan waktu sampai 2 jam di pantai itu. Menghabiskan senja dan menyaksikan matahari terbenam. Ini, akan menjadi kenangan dan pengalaman kami yang sangat menyenangkan.

END of Su Ho’s POV

—–

Author’s POV

Tak jauh dari pantai, berdiri dengan tegas 2 orang namja dan 1 orang yeoja.Tatapan mereka bertiga tak pernah lepas dari arah pantai.Menggawasi SuHo dan CheonDung.Tatapan mereka datar, tapi menyembunyikan suatu maksud terselubung.

“Ternyata benar, dia ada di sini.Gomawo agasshi karena telah memberitahu kami”, ujar namja yang terlihat lebih tua.

“Kamsahamnida agasshi.Tidak sia – sia kami meminta bantuanmu”, ujar namja satunya.

“Ah, cheonma. Untuk kepentingan hidup anakku, apa yang tidak akan aku lakukan? Lagipula, tugas seperti ini semua orang juga bisa melakukannya ahjussi”, ujar yeoja itu dengan segaris senyum manis.

“Ah, kau terlalu baik untuk ukuran iblis, agasshi. Ingin rasanya aku juga memiliki senyum sehangat milikmu itu”, ujar namja yang terlihat lebih tua sambil menyunggingkan senyumnya yang dingin.

“Sudahlah appa.Senyum malaikat ini adalah kekuatan khusus dari agasshi, bukan milikmu.Jangan mengikutinya”, ujar namja yang muda.

“Ah, baiklah.Ayo kita kembali ke Seoul. Appamu ini sudah memikirkan cara apa yang akan membuatnya kembali pada kita”, ujar namja yang paling tua itu pada namja yang satunya.

“Ah, baiklah appa.Sekali lagi, kamsahamnida agasshi”, ujar namja yang muda sambil membungkukkan badannya.

“Cheonma.Hati – hati dalam perjalanan kalian. Aku doakan rencana kalian berhasil”, uajr yeoja itu seraya melambaikan tangannya seiring menghilangnya kedua pundakitu  ditelan lembayung yang semakin memerah sore itu.

—–

Su Ho’s POV

4 hari kemudian…

 

Sudah 4 hari aku dan CheonDung-hyung menghabiskan masa cuti kami di Pulau Hokkaido, kampung halaman dari CheonDung-hyung. Sesuai jadwal yang telah kami susun, hari ini kami akan meninggalkan pulau ini dan terbang kembali menuju Korea untuk melanjutkan aktivitas kami yang sempat terabaikan dalam beberapa hari ini. Walaupun sangat singkat, tapi liburanku ini bisa dan sangat mampu untuk menenangkan fikiranku dan membuatku lupa akan masalah – masalahku

“Gomawo agasshi.Karena telah mau menerimaku disini beberapa hari ini”, ujarku kepada eomma dari CheonDung-hyung.

“Ah, cheonma SuHo-ssi.Jangan lupa untuk mampir kembali kalau sewaktu – waktu SuHo-ssi bermain ke Jepang”, jawabnya.

“Ah, baiklah agasshi.Kami pulang dulu.Sayonara agasshi”, ujarku sambil melambaikan tangan pada eomma dari CheonDung-hyung.

“Ya!Kenapa kau mengambil semua bagian perpisahan ini?Mana bagianku? Bukannya aku anaknya?”, tanya CheonDung-hyung dengan wajah kesal.

“Ah, mianhe hyung.Aku lupa kalau kau ada disini juga”, ujarku cengengesan.

“Issh, bisa – bisanya kau melupakan hyungmu sendiri. Ah, aku pulang dulu okaa-san. Arigato gozaimasu buat semuanya. Aku akan mengunjungimu kalau nanti aku memiliki kesempatan. Saraghae okaa-san”, ujar CheonDung-hyung sambil menangis tenggelam di dalam pelukan eommanya.

Ada perasaan sakit saat melihat CheonDung-hyung yang bisa dan dapat memeluk dan menangis di dalam pelukan eommanya itu.Sudah lama rasanya aku tidak pernah bisa merasakan kehangatan pelukan dari orang seperti itu. Eomma, I Miss You.

—–

Langit kota Seoul saat itu sudah berwarna kemerahan. Menandakan bahwa matahari telah tergelincir ke barat, untuk muncul kembali esok harinya. Suasana kota yang biasanya sangat padat, terlihat begitu lengang dan sepi. Sepertinya, sebagian warganya sudah kembali ke rumah masing – masing dan akan kembali lagi pada malamnya. Aku dan CheonDung-hyung baru saja sampai dan menapakkan kaki kembali dari perjalanan panjang pulang dari kampung halaman CheonDung-hyung, Hokkaido. 2 jam perjalanan menaiki pesawat sangat membuat tubuh kami lelah. Kami memutuskan untuk kembali menuju pantai, kediaman kami.

Keadaan pantai juga tidak jauh berbeda dengan keadaan kota Seoul sore itu. Tidak ada lagi terlihat manusia yang berlalu lalang di atas pasir putih pantai itu seperti pada hari – hari biasanya.Pantai ini begitu tenang dan menentramkan hati.Tapi, kenapa ada sesuatu yang berbeda dengan keadaan pantai dan laut ini.Walupun ini sudah senja, tidak pernah aku melihat keadaan pantai sampai selengang ini.Tidak ada terlihat satu pun manusia yang ada, padahal biasanya masih tersisa beberapa orang yang tertinggal membereskan kedai milik mereka di pantai itu.Dan lagi, kemana perginya kedai – kedai yang biasanya berjejer rapi di sepanjang pesisir pantai ini? Kenapa tidak ada satu pun kedai di sana? Apa yang terjadi?

END of Su Ho’s POV

—–

Cheon Dung’s POV

Aku memasuki rumahku dalam keadaan bingung.Kemana perginya para warga yang ada di pantai ini?Kenapa aku tidak ada melihat satu orang pun dari mereka sepenjang jalan menuju rumahku?Apa mereka sudah pulang dan kembali ke rumah mereka masing – masing? Tapi, kenapa kedai mereka juga ikut hilang?Apa mereka sudah berhenti berjualan lagi di sini? Kemana perginya mereka?

“Ah, kau sudah pulang rupanya?”, ujar sebuah suara dari dalam ruang makanku.

“Siapa kau? Keluar kau!”, teriakku kepada suara itu.

“Tenanglah, kami tidak akan macam – macam asalkan kau mau bekerja sama dengan kami”, ujar suaralain dari dalam ruang makan kembali.

“Apa mau kalian? Tampakkan wajah kalian! Dasar pengecut! Keluar kalian!”, umpatku dengan kesal.

“Wah, ku dengar kau anak yang baik, ternyata kau bisa mengumpat juga”, kata seorang namja yang muncul dari dalam rumahku ditemani seorang namja yang terlihat lebih muda di sebelahnya.

“Siapa kalian?!! Apa mau kalian?!”, tanyaku.

“Ah, bukannya lebih baik kalau kita saling memperkenalkan diri?Kim Joon Ji imnida.Aku adalah appa dari sahabat karibmu, JoonMyeon. Ah tapi mungkin kau lebih mengenalnya sebagai SuHo. Benar, bukan?”, ujar namja itu.

“Appa dari SuHo-yah? Cih, jangan bercanda ahjussi, itu tidak lucu!!”, ujarku ketus.

“Ah, jangan begitu.Kami tidak bercanda.Saatnya aku memperkenalkan diri.Kim Joon Ho imnida.Panggil saja aku Juno.Aku hyung dari JoonMyeon. Namamu SangHyun, bukan?”, ujar namja yang satunya.

“Kau, bagaiman kau bisa mengetahui namaku?”, tanyaku.

“Kau pikir, semenjak kepergain anakku, JoonMyeon, kami hanya diam tanpa melakukan apa – apa? Kau pikir kami bodoh?Kami mengetahui semuanya”, ujar JoonJi ahjussi.

“Ah, kalian terlalu polos.Belum saatnya buat kalian melwan kami”, ujar Juno ahjussi.

“Nah, sekarang yang perlu kamu lakukan cuma satu SangHyun.Pergi dan menghilanglah dari hidup anakku.Sudah cukup selama ini kamu menyembunyikannya. Aku akan menarik kembali apa yang menjadi milikku. Aku akan mengambil anakku kembali”, ujar JoonJi ahjussi.

“Milikmu?SuHo-yah mungkin memang milikmu, tapi mimpi dan masa depannya adalah miliknya sendiri. Jangan pernah mengaturnya, kau bukan tuhan, bedebah!”,ujarku dengan geram.

Buagh!!

Sebuah pukulan keras menghantam pelipis kananku.Sebuah tinju keras yang berasal dari tangan kanan Juno ahjussi.Walaupun keras, aku tidak bisa merasakan amarahnya dari tinju itu.Apa maksudnya ini? Mereka sebenarnya mau apa?

“Jangan pernah membentak kami SangHyun-ssi.Kau memuakkan”, ujar Juno ahjussi dingin.

“Ya!Kenapa kau melakukan itu Juno-ssi? Bukannya kalian berjanji untuk tidak menyakiti anakku?”, ujar sebuah suara yang melengking dari dalam rumahku, suara okaa-san.

“Okaa-san? Sedang apa kau disini?”, tanyaku.

“Aku hanya ingin mejemputmu pulang SangHyun.Aku ingin kita hidup bersama lagi”, ujarnya.

“Pulang? Apa – apaan itu?”, tanyaku.

“beberapa hari yang lalu, okaa-san membuat perjanjian dengan mereka berdua. asalkan eomma bisa memberitahukan tempat dimana SuHo berada. Okaa-san bisa membawamu kembali pulang”, ujar okaa-san panjang lebar.

“Mwo?Kenapa kau melakukan itu okaa-san?Kau bukan seperti yang aku kenal”, kataku.

“Aku hanya ingin tinggal serumah denganmu SangHyun.Hanya kamu yang okaa-san punya.SuHo sudah merebut kau dari okaa-san. Apa salahnya kalau okaa-san memberitahukan tempatnya berada?”, ujar okaa-san dengan wajah sendu.

“Jangan licik okaa-san! Aku ada disini karena keinginanku! Bukan karena SuHo-yah!”, ujarku seraya bangkit berdiri.

Aku berlari sekuat tenagaku.Aku ingin menemui SuHo-yah dan membawanya kabur dari jangkauan iblis – iblis ini.Sebisa mungkin aku ingin menghindar dari mereka.

Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!

Aku rubuh.Kurasakan banyak darah keluar dari kepalaku.

END of Cheon Dung’s POV

—–

Su Ho’s POV

Jarakku dengan rumah CheonDung-hyung sudah tidak jauh lagi.Aku ingin bertanya padanya mengenai keanehan pantai ini.Pasti dia juga menyadari ada yang aneh dengan keadaan pantai ini.

Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!

Aku mendengar dengan jelas bunyi letusan senjata api yang berbunyi tidak jauh dari tempatku berada. Dan sepertinya itu berasal dari rumah CheonDung-hyung.Aku mempercepat gerak langkahku.Aku berlari sekuat tenaga untuk sesegera mungkin sampai disana.

Aku melihat seorang yeoja menangis meraung – raung sambil memeluk sesosok tubuh penuh darah di dadanya.Tangisannya memecah kesunyian senja saat itu.Aku bergegas menghampiri yeoja itu.

“Ah, akhirnya kami menemukanmu JoonMyeon”, ujar sebuah suara yang ku kenal tak jauh dari tempatku berada.

“Suara ini.Appa? Apa kau itu?”, tanyaku kebingungan.

“Ah, ternyata kau masih mengenal suara dari appamu ini.Aku tersanjung”, ujar sebuah sosok yang keluar dari rumah CheonDung-hyung, appaku.

“Ayo, kita pulang SuHo-yah.Kami disini menjemputmu”, ujar sebuah suara lainnya yang berada di belakang appaku, suara Juno-hyung.

“Kalian?Kenapa kalian ada disini? Mana CheonDung-hyung?”, tanyaku pada mereka.

“Bukannya kau sudah melihatnya SuHo-yah?Apa kau tidak bisa mengenal sahabatmu sendiri? Yah, walaupun wajah dan tubuhnya penuh dengan darah, setidaknya kau pasti bisa mengenalinya bukan?”, ujar Juno-hyung dengan santainya.

“Jadi, itu..adalah CheonDung-hyung? Apa yang telah kalian lakukan? Bedebah kalian! Brengsek! Apa yang telah kalian lakukan?! Kenapa kalian tega melakukan ini?Apa salahnya? Dasar brengsek!!”, tanyaku dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk mataku. Hatiku hancur dan teriris mengetahui kebenaran yang terjadi.

“Kami hanya ingin kamu kembali pada kami SuHo. Selama hal itu bisa terjadi, apapun akan kami lakukan. Kami akan membawamu dan menjadikanmu penerus perusahaan keluarga kita”, ujar appaku.

“Persetan dengan perusahaan itu!! Aku tidak pernah mau meneruskannya!! Bajingan kalian! Matilah kalian!! Membusuklah di neraka, dasar iblis!!”, makiku.

Dorr!

Aku bisa dengan jelas merasakan betis kananku tertembus sebuah benda panas yang sangat menyakitkan.Aku ditembak oleh Juno-hyung.

“Sopanlah sedikit kau pada hyung dan appamu sendiri. Jangan pernah memaksaku untuk menembak kepalamu yang tak bodoh dengan pistol ini.”, ujar Juno-hyung dengan muka yang datar.

“Tembaklah aku kalau itu yang kalian mau! Aku tidak pernah sudi berada bersama kalian! Bajingan!!”, teriakku.

“Yang kami inginkan itu kamu, bukan kematianmu SuHo.Kembalilah dengan tenang pada kami.Apa kamu tidak sadar SuHo, kamu sekarang tidak memiliki apa – apa lagi. Semua sudah kami hilangkan, semua sudah tidak ada lagi SuHo.Kamu sendiri”, kata appaku dengan datar.

“Jadi, pantai ini pun ulah kalian juga?”,tanyaku tak percaya.

“Ya.Termasuk ini juga”, ujar Juno-hyung sambil mengangkat sebuah benda yang ku kenal, benda penelitianku.

“Kalian!! Beraninya kalian merusak benda itu!! Dan lebih lagi, kenapa kalian tega merusak pantai ini?Apa kalian belum puas merusak hidupku, hah? Dasar bedebah!”, hujatku.

“Kami hanya ingin memusnahkan semua yang mengganggu kami dalam rencana kami membawamu kembali.Ayo kita kembali”, ujar appaku.

“Hancurkan mereka SuHo. Kami akan memberikan kekuatan kami. Dengan kekuatan itu.kami berharap kamu akan membalaskan dendam kami. Dendam sahabat, pantai dan laut yang kau sukai”.

Aku mendengar sebuah bisikan di dalam kepalaku.Suaranya berat dan dingin.Tapi justru bukannya membuatku takut, tapi suara itu malah menguatkanku.Aku merasakan fikiranku menjadi tenang.Aku merasakan ada sebuah kekuatan yang mengalir dalam tubuhku dan seolah – olah menuntunku untuk melakukan sesuatu.Aku merasakan dorongan itu begitu besar. Seolah – olah tubuhku seperti akan meledak.

Arrghhhh!!! Jress!!

Sebuah ombak setinggi 4 meter menjulang dengan tinggnyai dari arah laut.Searah dengan gerakan tanganku, ombak itu bergerak maju mendekati tempatku berada.Aku bisa merasakan darahku mngealir dengan begitu tenangnya.Aku bisa merasakan aroma laut yang sangat aku sukai.

“Kau, apa – apaan ini SuHo? Apa – apaan ombak itu?”, ujar appaku dengan tampang terkejut.

“Hentikan atau aku akan melubangi kepalamu dengan pistolku ini SuHo!”, teriak Juno-hyung tak kalah terkejutnya.

“Coba saja kalau kau bisa, brengsek!”, ujarku dingin.

Aku hentakkan kedua tanganku ke bawah.Bersamaan dengan itu ombak besar itu pun maju dan menyapu semua yang ada di hadapanku.Semuanya rata dengan tanah.Begitu pun dengan tubuh tak bernyawa dari appaku dan Juno-hyung yang tertumpuk di bawah reruntuhan rumah CheonDung-hyung.

“Pergilah ke neraka dengan tenang.Aku senang kalian bisa mati di tanganku”, ujarku dingin pada dua jasad tak bernyawa itu.

“Nah, agassiayo kita bawa jasad CheonDung-hyung. Ayo kita kuburkan dia dengan layak”, ujarku pada yeoja yang sedang memeluk jasad dari CheonDung-hyung, yang tak lain adalah eommanya sendiri.

“Shireo!! Aku tidak akan menyyerahkan jasad anakku pada orang macam kau! Pergilah kau! Aku tidak ingin melihat wajahmu!!”, bentaknya.

“Mwo?Apa maksudmu agassi? Bukan aku yang membunuhnya! Tapi mereka, iblis – iblis itu!”, ujarku.

“Ne?!Kalau bukan karenamu, saat ini anakku pasti masih hidup dan bisa tinggal bersamaku.Kalau bukan karena kau ajak dia ke dalam hidupmu, saat ini dia masih ada. Matilah kau bangsat!”, hardiknya.

“Jaga mulutmu agassi.Jangan buat aku melakukan sesuatu yang tidak diinginkan”, ujarku geram.

“Mwo?!!Kau mau membunuhku? Bunuh saja aku, agar aku bisa bertemu dengan anakku!! Bunuh aku, iblis!! Bajingan kau!”, umpatnya dengan suara yang semakin meninggi.

Aku mengangkat kedua tanganku dan mengarahkannya pada tubuh Arisa asassi.Bersamaan dengan itu, air yang ada di laut terangkat dan membentuk 5 buah tali yang sangat besar.Kelima – limanya mengikat tubuh Arisa agassi dengan begitu kuat.Aku kepalkan jari – jari dari tangan kananku, seirama dengan itu, air yang membelit tubuh Arisa agasshi membungkusnya dan berubah menjadi sebuah gumpalan air yang sangat besar.Aku dapat melihat tubuh Arisa agassi menjadi kelelahan karena kekurangan oksigen.Aku eratkan kepalan tanganku, lalu seketika aku tarik tanganku.Bersamaan dengan itu, tubuh dari Arisaa agassi terpotong – potong menjadi beberapa bagian dan berhamburan ke segala arah.Tubuhnya tidak cukup kuat untuk menahan tekanan air yang aku berikan.Air itu berubah warna menjadi merah, bercampur dengan darah dari Arisa agassi.

—–

Aku meletakkan guci tanah liat yang berisi abu dari CheonDung-hyung di tengah lautan yang luas. Aku larutkan guci itu di sana, agar tidak ada yang bisa menyentuhnya.

“Selamat tinggal hyung.Tenanglah di atas lautan yang tenang ini.Sayang, kita tidak bisa bersahabat lebih lama lagi.Gomawo untuk semuanya. Sekarang saatnya kamu untuk mengawasiku dari surga sana. Gomawo”, ujarku pelan pada guci itu.

-FIN-

Iklan

106 pemikiran pada “[SuHo’s Side] Genocide :: I Hate My Family.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s