Wedding Dress (After Story): “HO(me)NEYMOON”

Wedding Dress (After Story)

“HO(me)NEYMOON”

NOTE             : Sequel of ‘Fall for You’ (Half of My Heart Chanyeol version)

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park)

Main casts       : Park Chanyeol&Song Yejin

Length             : Oneshot

Genre              : Romance, Drama, Marriage life

Rating             : PG-17

Summary         : Every places can be called as ‘heaven’ as long as I’m with you…

(Author’s side)

Yejin masih sibuk dengan peralatan dapur saat terdengar bunyi pintu apartemen terbuka yang lalu di susul oleh suara berat yang sangat ia kenal.

“Na wasseo…” Sapa suara itu. Chanyeol.

“Oh, Oppa wasseoyo…” Yejin menolehkan kepalanya sekilas lalu kembali focus pada kuali berisi ayam utuh yang diisi ginseng, beras dan beberapa rempah lainnya. Ia tengah memasak samgyetang untuk menu makan malam keluarga kecilnya malamini.

Chanyeol sejenak tertegun di depan pintu dapur dan memandang punggung istrinya sebelum akhirnya berlalu menuju kamar tidurnya.

Yeoja yang tadi sibuk dengan kegiatannya memasak memutuskan untuk berhenti ketika ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan sikap suaminya. Ia menanggalkan apron hijau muda yang ia kenakan kemudian bergerak menuju wastafel untuk membersihkan tangannya.

“Ku siapkan air hangat untukmu mandi ya, Oppa?” Kata Yejin yang kini sudah duduk dengan manis di samping Chanyeol yang tengah terduduk di pinggir tempat tidur.“Setelah itu kita makan, aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu.” Tambah Yeoja itu dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah manisnya.

Chanyeol yang awalnya sedikit kaget saat mendapati Yejin yang sudah berada di sampingnya iitu hanya bisa tersenyum sambil mengangguk pelan.

<><><>

Malam itu, keduanya makan dalam diam. Hanya suara sendok dan sumpit yang berbenturan dengan mangkuk yang terdengar. Meski Yejin dapat dengan jelas merasakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada suaminya, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Ia hanya diam dan menunggu sampai Chanyeol bersedia mengatakannya sendiri.

Tidak seperti biasanya, Chanyeol yang bisa dipastikan makan lahap dan banyak jika sudah di suguhi makanan-makanan kesukaannya, kini terlihat tidak berselera. Bahkan nasi yang sudah diambilkan Yejin masih tersisa separuh saat ia meninggalkan meja makan.

Setelah acara makan yang tidak sepertibiasanya itu selesai, Yejin mengumpulkan semua peralatan makan dan membawanya ke dapur. Sementara itu, tanpa berkata apapun, Chanyeol duduk di sofa ruang tengah lalu menyalakan TV. Entah apa yang ia tonton, yang jelas ia tidak benar-benar sedang memperhatikan acara yang sedang ditayangkan di layar datar itu.

Tidak berapa lama, namja jangkung itu mematikan TV yang belum sampai 15 menit ia nyalakan. Kakinya bergerak melangkah menuju dapur, tempat istrinya berada.

Chanyeol berdiri di belakang Yejin yang saat itu sedang mencuci piring. Ia mengulurkan kedua lengannya lalu melingkarkannya keperut Yejin, yang sukses membuat sang istri tersentak kaget.

“Oppa, kau mengagetkanku saja.” Kata Yejin singkat.

Chanyeol hanya bergumam pelan. Ditaruhnya dagunya di pundak kanan Yejin, sementara lengannya mendekap tubuh mungil Yejin semakin erat.

“Sepertinya kau sangat lelah. Istirahatlah duluan.” Kata Yejin.

Ia menggeleng pelan di pundak Yejin.

“Aku harus menyelesaikan dulu ini, Oppa.” Tambah Yejin.

Chanyeol bergeming dan malah semakin mengeratkan pelukannya.

“Ya sudah, tunggu sebentar lagi ya…”

Yejin mempercepat gerakannya membersihkan peralatan makan yang tadi mereka gunakan lalu mengeringkannya.

“Selesai…” Pekik Yejin segera setelah ia menaruh gelas terakhir yang ia keringkan.

Tangan mungil yeoja itu meraih dua lengan besar yang sedari tadi melingkari perutnya dan berusaha melepaskannya, namun sia-sia. Chanyeol, sang pemilik lengan itu nampaknya tidak ingin melepaskan pelukannya.

Alhasil, mereka berjalan menuju kamar tidur mereka dengan posisi Chanyeol berjalan di belakang Yejin dengan tidak melepaskan pelukannya.

“Yeobo-ya… mianhae…”

Akhirnya, setelah cukup lama, akhirnya Chanyeol mulai bersuara.

“Wae? Kenapa tiba-tiba meminta maaf?” Tanya Yejin heran. “Jangan-jangan kau berselingkuh ya di belakangku?” Tambahnya yang sontak membuat Chanyeol melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh istrinya itu.

“Mwoya???” Sungutnya sambil mengerutkan kening.

“Hahaha… Kalau begitu kenapa? Jangan buat aku khawatir…” Jawab Yejin. Tangannya bergerak mengelus wajah namja jangkung yang berdiri di hadapannya.

“Maaf karena aku belum bisa mengajakmu berbulan madu.” Tutur Chanyeol setengah berbisik.

Yejin yang barusaja mendengar jawaban Chanyeol masih membeku, mencoba mencerna setiap kata yang di katakan suaminya itu.

“Aku sudah minta izin pada perusahaan, tapi karena sekarang ini perusahaan sedang menggarap projek baru, jadi aku tidak mendapat izin cuti.” Ujar Chanyeol. “Bahkan sabtu besok pun aku masih ada jadwal bertemu klien.” Tambahnya sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Yejin yang pada akhirnya memahami alasan mengapa sejak pulang kantor tadi Chanyeol terlihat tidak bersemangat itu kini hanya bisa tertawa menyaksikan betapa konyolnya alasan yang di utarakan suaminya barusan.

“Wae?” Tanya Chanyeol setelah melihat reaksi Yejin yang malah menertawakannya.

“Jadi kau tidak bersemangat seperti ini hanya karena kita tidak bisa pergi berbulan madu?” Tanya Yejin memastikan.

“Apa maksudmu dengan ‘hanya’?” Protes Chanyeol.

“Ani… maksudku…” Yejin berusaha menahan tawanya karena Chanyeol terlihat kesal dengan jawaban Yejin.

“Kau tahu, aku sangat bahagia, ah tidak… amat sangat bahagia karena kita bisa seperti sekarang. Aku ingin menikmati saat-saat indah berdua denganmu setelah kejadian itu. Tapi…” Tutur Chanyeol panjang lebar.

“Oppa, asal kau tahu. Kebahagiaan yang ku rasakan jauh lebih besar darimu. Bisa memperlakukanmu selayaknya seorang istri memperlakukan suaminya adalah hal yang sangat membuatku bahagia. Dan aku sangat mensyukurinya. Aku tidak butuh tempat atau waktu yang istimewa seperti bulan madu. Semuanya akan terasa sama indahnya asal aku bersamamu.”

Chanyeol terdiam mendengar penuturan Yejin. Ia malu pada yeoja dihadapannya yang lebih bisa berpikir dewasa darinya. Yang lebih bisa mensyukuri keadaan darinya yang malah bertindak kenakan-kanankan.

<><><>

Sudah hampir satu minggu sejak Yejin sedikit demi sedikit mulai sembuh dari trauma yang dialaminya. Kini ia sudah bisa sepenuhnya menerima kehadiran Chanyeol di dekatnya. Ia juga sudah tidak pernah mengalami mimpi buruk yang dulu seringkali menghantuinya dalam tidur.

Malam sudah cukup larut saat Yejin berjalan ke kamarnya. Saat ini ia hanya sendirian di apartemen karena Chanyeol masih menghadiri rapat dengan kliennya di kantor. Iseng ia membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah gaun dari dalamnya.

Gaun cantik berwarna putih itu adalah gaun yang ia kenakan di hari saat ia mengikat janji suci bersama namja yang teramat ia cintai.

Namun tiba-tiba senyum yang tersungging di bibir tipisnya memudar, di gantikan dengan setetes ciran bening yang meluncur di pipi putihnya. Ia kembali teringat kejadian buruk yang menimpanya, yang menyebabkan ia tak sepenuhnya merasakan kebahagiaan saat bersanding dengan Chanyeol ketika ia mengenakan gaun hasil rancangannya sendiri itu.

Yejin masih menatapi gaun itu saat sepasang mata bulat mengamatinya dari celah pintu. Entah sejak kapan Chanyeol berdiri disana. Memperhatikan Yejin yang sedari tadi tengah sibuk memperhatikan gaun di pangkuannya.

“Yeobo, kau sedang apa?” Tegur Chanyeol sambil berjalan menghampiri Yejin yang kini sedang tergesa-gesa menghapus air matanya.

“Eopseoyo…” Jawab Yejin singkat.

“Chankaman…” Chanyeol menahan tangan Yejin yang tengah berusaha menjejalkan gaun putih itu ke dalam lemari. “Emh… Sudah lama aku tidak melihatmu memakai gaun, bagaimana kalau kau pakai gaun ini?” Tambah Chanyeol.

Yejin terdiam. Tak tahu harus berreaksi seperti apa, sementara namja di hadapannya itu kini malah menatapnya penuh harapan.

“Aku tahu ini sedikit aneh memintamu memakai gaun pernikahan malam-malam begini. Tapi ku harap kau mau memakainya sekarang.” Imbuhnya setelah melihat reaksi Yejin.

“Emh… keure…” Angguk Yejin. “Tapi…” Raut wajah ragu kembali terlukis di wajahnya. Ia mengarahkan pandangannya ke berbagai arah seolah ingin mengatakan sesuatu, namun segan.

“Oh, arasseo… Aku tunggu di luar.” Chanyeol mengusap pelan puncak kepala Yejin sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan kamar agar Yejin bisa berganti pakaian dengan lebih nyaman.

Chanyeol berdiri di samping pintu kamarnya yang tertutup rapat. Sekilas ia melirik jam yang melingkari lengan kanannya.

“21.48,” gumamnya. “Sepertinya akan membutuhkan waktu cukup lama untuk memakai gaun seperti itu.” Katanya pada dirinya sendiri. “Baiklah…”

Chanyeol menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tengah lalu bergegas menuju pintu keluar.

<><><>

Dengan susah payah Yejin akhirnya berhasil mengenakan gaun panjang yang dulu ia pakai di pesta pernikahannya. Membutuhkan waktu hampir 20 menit karena ia harus memasangkan semuanya sendirian.

Setelahnya, Yejin sejenak mematung di depan cermin, merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan, lalu membubuhkan bedak tipis di wajah tirusnya. Ia ingin tampil cantik untuk suaminya malam ini.

Yejin berjalan keluar dari kamar tidurnya dengan tangan yang menggenggam erat pinggiran gaun yang panjangnya hampir 2 meter itu. Langkahnya terhenti saat ia melihat suasana rumah yang gelap gulita. Satu-satunya sudut yang terlihat di terangi cahaya adalah dari balkon yang menghadap ke jalanan pusat kota Seoul. Dan dari situlah muncul sesosok namja jangkung yang meski tidak terlihat jelas, namun bisa di pastikan kalau itu Chanyeol, suaminya.

“Oppa…” Gumam Yejin yang tidak bisa dipungkiri kalau ia sedikit takut dengan suasana rumah yang gelap seperti ini.

Chanyeol yang masih mengenakan pakaian kerja, lengkap dengan jas hitam formalnya itu mengambil lengan kanan Yejin lalu menuntunnya menuju balkon.

Dan betapa terkejutnya Yejin saat ia melihat sesuatu yang berbeda disana. Chanyeol telah menyulap balkon apartemen mereka menjadi tempat yang sangat romantis. Sebuah meja bundar dengan sepasang kursi tertata dengan apik disana. Di atasnya, sebotol champagne dan cake cokelat telah tersimpan rapi. Dan yang membuat suasana romantic terasa semakin kental adalah hadirnya sebuket mawar merah serta beberapa lilin aroma terapi yang menguarkan aroma yang lembut.

Belum habis rasa haru yang dirasakan Yejin, tiba-tiba Chanyeol kembali menggenggam tangannya. Kali ini ia membawanya lebih dekat ke tepian balkon yang di pagari pagar besi itu. Dan dari lantai 9 tempat mereka berdiri itu, suasana malam kota Seoul dapat terlihat dengan sangat jelas.

Kini Chanyeol telah menggenggam kedua lengan Yejin. Ia menggenggamnya erat dan mendekapnya di dada. Kemudian, dengan senyuman yang terukir manis di bibirnya, namja itu berkata, “Aku, Park Chanyeol, dengan ini menyatakan kesediaanku untuk mendampingi Song Yejin dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan saling mencintai selamanya sampai maut memisahkan.”

“Dan kau, Song Yejin, apa kau bersedia untuk mendampingi Park Chanyeol dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan saling mencintai selamanya sampai maut memisahkan?”

Setetes cairan bening menetes mengiringi senyuman manis yang di wajah Yejin. Jika ada kata yang memiliki makna lebih dari kata bahagia, maka itulah yang sedang ia rasakan sekarang. Dengan yakin ia mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan orang yang dicintainya itu.

“Maka dengan ini saya nyatakan kalau Park Chanyeol dan Song Yejin, telah resmi menjadi pasangan yang akan selalu bahagia bersama untuk selama-lamanya.”

Sedetik kemudian, keduanya larut dalam pelukan hangat. Saling melepas rindu. Saling mengungkapkan rasa cinta melalui kehangatan dekapan orang yang dicintainya.

Chanyeol yang berinisiatif untuk melepaskan pelukannya memandang kedalam mata Yejin intens. Dalam hati ia bersyukur karena mereka telah berhasil melewati ujian yang datang di awal perjalanan kehidupan baru mereka.

Chanyeol mengelus pipi putih Yejin sekilas kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Yeoja yang wajahnya kini merona kemerahan.

Dan tanpa aba-aba, dengan sekali hentakan, Chanyeol mengangkat tubuh mungil itu dengan gaya bridal style lalu melangkah meninggalkan balkon.

“Oppa, kita mau kemana?” Tanya Yejin panic. “Kita tidak mencicipi dulu cake dan champagne nya?” Tanya Yejin lagi.

“Tidak, aku sedang tidak mau semua itu. Aku hanya mau kamu sekarang.” Jawab Chanyeol sambil terus melangkah menuju kamar.

<>THE END<>

Author’s talk:

Yups… akhirnya selesai juga… ^^

Semoga after story ini bisa ngobatin kekesalan reader semua karena kekurangan2 author dalam karya yang satu ini yah…

Sekali lagi author mau ngucapin banyak-banyak-banyak terimakasih buat reader yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampe akhir… Jeongmal kamsahabnida… #bow

See u later chingudeul… Bye… n_n

 

 

38 pemikiran pada “Wedding Dress (After Story): “HO(me)NEYMOON”

  1. aaa….
    Chanyeol romantis sekali ..
    keluarga kecil bahagia ..
    moga segera dapet momongan_Amin .. hahahhahahhah

    ada sequelnya kah ??
    pasti bagus banget kalo ada sequelnya ..
    kuharap ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s