Only You Didn’t Know (Chapter 1)

ONLY YOU DIDN’T KNOW(part 1)

 

Gendre                                : romatic, action, comedy

author : lee Ha kyung

Ost                         : IU Only I didn’t know

What is love EXO

Can You hear me – Taeyeon

Cast                       : Luhan

Jung eun Ji A pink

Yoona SNSD

Se Hun EXO K

Summary “Jeritan ku, tangis ku, tidak bisa kah kalian mendengar ku? Tidak bisakah kau mengetahui aku disini yang kesakitan?”

 

 

                Seorang suster berlari menuju satu ruangan. Ruangan diujung rumah sakit. Ruang yang jarang sekali, bahkan tidak seorangpun menjenguknya. Dokter berlari didepan suster. Langkah mereka begitu cepat. Bel dari dalam kamar terus berbunyi menandakan ada sesuatu yang terjadi.

                Seorang yeoja mencoba berlari menyusul suster. Ia berlari secepat mungkin. Dalam hatinya telah menangis. Air matanya telah membasahi kedua pipinya. Wajahnya telah memerah.

                Sekarang dokter dan suster itu telah berada di depan pintu. Dengan segera dokter mendorong pintu. Benar.seseorang dalam kamar itu. Seorang namja. Seorang namja, badannya kejang kejang. Busa putih keluar dari mulut namja itu. Suster yang khusus menjaganya begetu ketakutan. Ia berdiri dengan gemetaran.

                Suster menutup pintu. Yeoja yang berlari tadi. Tidak diperbolehkan masuk. Tapi ia dapat melihat adiknya dalam keadaan kritis. Dada nya terasa sesak. Air matanya terus turun. Yeoja itu tak sanggup berdiri. Ia berjongkok di depan tembok. Kedua lengan nya memeluk kakinya. Takut. Ya itu yang sedang ia rasakan sekarang. 

               

***

               

                Luhan berjalan dengan tas cream dipunggungnya. Semua wanita langsung memandang Luhan. Ya Luhan namja berumur 21 tahun itu berjalan disekitar yeoja yeoja yang sedang berkumpul. Luhan berjalan menghampiri seorang yeoja dengan white coffe di sisi tangan kanan nya. Sebuah buku tebal menemani yeoja itu. Rambut panjang terurai mebuatnya semakin cantik.

                “ya! Im Yoona  noona. Kenapa kau menyuruhku kemari? Kau tidak tahu aku ini seorang pria yang memiliki fans dimana mana” Yoona melihat Luhan dengan senyum. Tangan nya mempersilahkan Luhan duduk tanpa mengatakan apapun. Luhan menarik kursi. Ia duduk berhadapan dengan Yoona.

                “ne, aku tahu. kau seorang pria idola di Universitasmu. Aku tahu itu” Yoona menutup buku lalu menyimpan tak jauh dari tangannya. Luhan menahan kepalanya dengan satu tangan. Ia memandangi kakaknya dengan raut wajah kesal.

                “cepatlah katakan kenapa kau menyuruhku kemari?” ucap Luhan tidak sabar. Yoona kembali tersenyum.

                “ani. Aku menyuruhmu kemari untuk menemaniku. Kau tahu aku begitu bosan. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?” Yoona mendekatkan wajahnya dengan adiknya Luhan.

                Luhan membelalakkan matanya mendengar ucapan yang keluar dari mulut noona nya barusan. Ia begitu dongkol. Kalau yang dihadapannya itu bukan kakak satu satunya. Mungkil kepalan tangan ini telah melukis wajah dihadapan Luhan.

                “hey, jangan membulatkan matamu yang sipit itu. Kau pikir kau terlihat keren seperti itu? “ Yoona mengembalikan wajahnya. Tidak sedekat seperti saat tadi. Luhan semakin menjadi gondok. Noona nya memang selalu menyebalkan.

                “noona! Tidak bisakah kau sehari saja tidak mengejekku?” Luhan meminum Whiter Coffe Yoona. Yoona tersenyum kecil. Tapi begitu manis.

                “bagaimana kalau kita pergi ke caffe yang disebelah rumah sakit Seoul itu? Kita bisa menjadi seorang pasangan kekasih”

                “andwe! Mana mungkin aku memiliki seorang yeoja chingu seperti mu?” Yoona tetap menarik lengan Luhan kasar.

                “kajja! Kau mau pergi atau uang jajan mu akan aku sita?”

                “ne ne aku akan pergi. Puas?” Yoona tersenyum manis. Luhan berdiri disampingnya. Ia menggandeng lengan luhan.

                “eottoke? Seperti sepasang kekasih bukan?” Luhan menghela nafas.

                “dari wajah saja telah terlihat kau lebih tua dari ku mereka pasti akan mengatakan kau eomma ku”

                “Ya!” Yoona mendelik. Mereka langkahkan kakinya.

 

***

                Yeoja itu mengelus elus pergelangan kakinya. Ia terkilir. Sepatunya patah. Dokter belum juga keluar dari ruang itu. Sampai. Seorang suster khusu yang menunggu namja didalam keluar.

                “Eun Ji-sshi. Kau tau Se Hun  pasti akan baik baik saja. Dia namja yang kuat. Aku telah menjaganya selama lima tahun. Kau tahu lima tahun bukan lah waktu yang sebentar bukan”

                Suster itu berjongkok didepan Eun Ji. Padangan Eun Ji lurus kebawah. Ia sama sekali tidak melihat suster dihadapannya. Benar. Se Hun  adalah namja yang kuat. Dia pasti akan baik baik saja.

                “dia kuat. Sangat kuat. Buktinya diamampu bertahan sampai saat ini. bukan kah dia kuat. Sama seperti mu” Suster itu menyentuh lembut rambut Eun Ji. Pandangan Eun Ji masih kebawah. Ia masih tak menatap Suster itu.

                “kau tidak tahu betapa kesepian nya aku kakak ku dan adikku? Mereka begitu terluka. Hanya aku sendiri. Hidup sendiri didunia yang luas seperti ini. bukan kah itu menyakitkan” Eun Ji membuka mulutnya. Suster itu terkejut mendengar penjelasan Eun Ji. Kakak? Dia tidak pernah mengatkan apapun tentang kakaknya. Ini kali pertama ia mengucapkannya.

                “kau bisa menceritakan semua nya padaku. Kau tahu aku dapat merahasiakan semuanya. Percayalah” Eun Ji menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangis nya pecah. Suster itu menyentuh pundak Eun Ji lembut.

                “nyonya park. Se Hun. Dia akan sembuh bukan?” Eun Ji mengangkat wajahnya. rambutnya begitu acak acakan. Wajahnya begitu merah. Air mata nya keluar perlahan.

                “ne, pasti. Dia pasti akan sembuh. Dan berhentilah memanggilku nyonya park. Panggil saja aku Chorong. Bukan kah umurku lebih tua. Itu berarti kau harus memanggilku eonni. Arraseo?” Chorong tersenyum manis. Begitu juga dengan Eun Ji. lima tahun bersama ini kali pertama Eun Ji berbicara panjang bersama Chorong. Tekanan batin mungkin telah membuat keramahannya hilang.

                “aku rasa aku harus pergi. Ada satu pekerjaan yang belum aku selesaikan. Tak apa aku meninggalkan mu sendiri?” Eun Ji mengangguk. Chorong pergi. Terdengar suara langkahnya menggema seluruh koridor. Eun Ji mencoba berdiri. Ia membenarkan rambutnya. Sepatu merah jambu itu. Sengaja ia lepas. Hanya kaos kaki cream yang menemani langkah kakinya kini.

 

***

               

                Luhan duduk dikursi sangat dekat jendela bersama yoona kakaknya tentunya. Awan gelap menutupi keindahan sore hari kota Seoul. Sesekali petir datang menemani. Gemuruh menjadi music yang terdengar dimana mana saat ini.

                Luhan mengeluarkan jaket tebalnya. Secangkit coklat panas kini telah ada didepannya. Tak ada percakapan diantara dia dan yoona. Yoona sibuk dengan novel tebalnya. Luhan terus menatap langit. Perlahan hujan turun. Setetes demi tetes turun membasahi sore di kota Seoul.

                Seorang yoeja. Jung Eun Ji. Ia melangkah pelan melewati trotoar dekat rumah sakit. Orang yang melihat pasti akan merasa aneh. Seorang Yeoja dengan rambut sedikit acak acakan, dengan mata sayu juga tanpa sepatu berjalan keluar dari rumah sakit. Tetes demi tetes hujan mulai membasahi tubuhnya. Rok nya yang pendek membuat tubuhnya semakin dingin.

                “noona. Apa dia wanita waras?” Luhan menunjuk Eun Ji. Sama sekali Eun Ji tidak melihat. Pandangannya sayu lurus kedepan.

                “ya! kau tidak boleh menghakimi seseorang seperti itu. Mungkin saja ia terburu buru hingga lupa memakai sepatu. Arraseo?” luhan menganggu. Membingungkan. Untuk seorang yeoja lupa memakai sepatu bukankah itu hal aneh?

                Eun Ji memasuki Caffe dimana Luhan dan Yoona berada disana. Semakin ia melangkah semakin banyak orang yang memperhatikannya. Ia berjaln menuju sebuah kursi kosong disamping Luhan. Tak sedetik pun Luhan memalingkan wajahnya dari Eun Ji. Luhan terus memperhatikan dari atas hingga bawah.

                Seorang pelayan berjalan menuju kursi Eun Ji. Sama sekali tak ada segutar senyum dibibir EunJi. Membuat Luhan semakin penasaran.

                Tak perlu waktu lama Eun Ji telah menghabiskan minumannya. Ia keluar dengan langkah pelan.

                “noona, apa kau membawa payung?” Yoona mengalihkan pandangannya. Ia berfikir sejenak lalu menggelengkan kepala.

                “aku akan segera kembali” Luhan keluar dari kursinya. Mencoba mengejar Eun Ji.

                Dengan langkah cepat Luhan pergi keluar Caffe. Didapatnya Eun Ji yang sedang berjalan pelan. Terlihat kini kakiya begitu basah. Kaos kaki sama sekali tidak dapat melindunginya.

                Luhan menyentuh pelan pundak Eun Ji. Langkah Eun Ji terhenti. Ia melihat kedua mata orang didepan nya kini.

                “kau tahu. ini hujan. Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita berjalan tanpa sepatu” Luhan melepaskan sepatunya. Sepatu coklat yang begitu hangat. Eun Ji melihat sepatu Luhan datar. Lalu kembali melangkahkan kakinya. Dengan cepat Luhan menarik tangan Eun Ji.

                “hey wanita tanpa sepatu. Setidaknya kau harus mengahargaiku karena aku telah memberikan sepatuku untuk mu” Eun Ji menhela nafas. Bulir bulir hujan kini telah membasahi tubuh Luhan dan juga Eun Ji.

                “kau tau, aku tidak suka dikasihani. Bawa saja pergi sepatumu ini” Eun Ji sedikit menendang sepatu Luhan. Luhan terlihat kaget. Sebelumnya belum ada wanita yang berperilaku padanya seperti ini.

                “apa kau ingin sakit? Kau tahu hujan semakin deras” Eun Ji mendeli.

                “lalu apa hubungan nya dengan mu? Sama sekali aku tidak mengenalmu”

                “ya, kau tidak boleh berperilaku seperti itu. Pakailah. Aku tidak akan menyakitimu”

                Ragu. Eun Ji memasukan kakinya kedalam sepatu. Tanpa berkata sepatah katapun ia pergi. Luhan menggelengkan kepalanya pelan. Ia melihat Eun Ji masuk kedalam rumah sakit Seoul.

                “apa dia pasien?” gumam Luhan lirih.

                “Ya! apa kau yakin akan pulang tanpa mengenakan sepatu? Kau tahu? aku tidak akan menganggap kalau kita saling mengenal” Yoona kini tepat berada di belakang Luhan. Luhan tersenyum manis. Yoona mendelik. Lalu pergi meninggalkan Luhan.

                “noona jangan meninggalkan aku sendiri. Mari pulang bersama” Luhan berlari seperti anak kecil mengikuti Yoona.

                “Andwe! Pulang lah sendiri” Yoona mengibaskan tangannya. Luhan memanyunkan bibirnya. Terus mengikuti Yoona.

 

***

                Eun Ji berjalan pelan menuju kamar Sehun. Sepatu itu mebuatnya sedikit merasa membuatnya hangat. ia meraskan air yang tergenang di dalam sepatunya. Rumah sakit kini begitu sepi sama seperti hari biasanya. Cat putih begitu bersih dimana mana.

                Dokter keluar dari kamar Sehun. Ia melihat Eun Ji dengan tatapan ‘aneh’ tentunya. Eun Ji mendongakkan kepalanya.

                “kau tahu. Sehun kini telah membaik walaupun ia belum tersadar” Dokter dan suster meninggalakan Eun Ji sendiri.

                Perlahan Eun Ji berjalan memasuki kamar SuHo. Didapatnya selang SuHo. Dengan selang dimana mana. Sebuah tabung besar setia menemani Suho selama ini. tubuhnya lemas terlelap. Air mata Eun Ji perlahan turun.             

                “Suho-sshi” panggil Eun Ji lirih. Ia terisak. Begitu menderitanya adikya kini. Hanya dapat terbaring. Hidup tapi sebenarnya tidak hidup. Eun Ji menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Suho. Lengan Eun Ji yang dingin memegang erat lengan SuHo.

                “kau tau? Noona mu ini mendapatkan sebuah sepatu dari seorang namja yang sama sekali aku tidak mengenalnya” Eun Ji menunduk. Ia melihat sepatu coklat yang sedang ia pakai.

                “apa masih ada orang baik didunia ini suho-sshi?” tangis Eun Ji pecah. Membayangkan bagaimana semua orang begitu jahat padanya. Ia mengambil satu sepatu dari kakinya. Diperhatikan sepatu itu. Sepatu coklat dengan sebuah nama disana ‘Lee Dong  Ji’. Eun Ji membelalakkan matanya ketika melihat nama itu.

                “suho-sshi. Kau tahu? kita akan mendaptakan mereka sekarang” Eun Ji menghapus air matanya. segurat senyum tumbuh di bibirnya.

 

***

                Luhan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal di depan teve. Yoona menemaninya masih dengan novel tebal ditangannya. Dipikiran Luhan. Masih seorang yeoja yang ia berikan sepatu tadi.

                “apa caffe itu buka setiap hari?” Tanya Luhan. Yoona memalingkan wajahnya dari novel tebal itu. Berfikir sejenak lalu mengagguk.

                “apa kau akan datang kesana besok?” Tanya Yoona. Luhan mengangkat bahunya.

 

***

 

                Pagi hari kota seoul. Cuaca begitu bersahabat pagi ini. luhan memakain kaos tipis  dengan jaket tipis diluarnya. Tas coklat kotak yang kemarin ia pakai, hari ini kembali ia pakai. Tampan. Itu reaksi semua wanita ketika melihat Luhan pagi hari ini.

                “kau akan pergi?” Tanya Yoona dari dapur.

                “ne, aku akan pergi sekarang” Luhan berlari keluar rumah.

                Ia keluar rumah dengan terburu buru. Tiba tiba langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja. Yeoja tanpa sepatu. Penampilannya berubah 180 derajat dari kemarin. Ia begitu rapi pagi hari ini. dengan rambut terurai yang dibiarkan panjang. Poni tebal menghiasi dahinya. Sepatu coklat yang bersih berada di kedua lengan Eun Ji.

                “EOOOMMMaaa” Luhan terlepeset melihat Eun Ji. Ia jatuh tepat dihadapan Eun Ji.

                “gwengchana?” Eun Ji mengulurkan tangannya. Lihat sikapnya pun sangat berubah.meski baru pertama kali bertemu, tapi Luhan yakin sikapnya berubah sangat berubah.

                “ah ne gwengcaha” Luhan menerima uluran tangan Eun Ji. Senyum merekah menghiasi bibir Eun Ji.

                “ah kau, bagaimana kau tahu ini rumah ku?” Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

                “sepatu. Nama sepatu dibawahnya. Bukan kah dia orang terkenal. Aku rasa ayah mu memiliki perusahaan sepatu” Luhan tersenyum.

                “ah masuklah. Kau sudah jauh jauh datang kemari” Eun Ji mengikuti Luhan masuk.

                Rumah besar, bersih. Ini begitu nyaman. Eun Ji duduk di Kursi. Ia melihat sekeliling. Memperhatikan satu demi satu benda yang ada disana. Tapi satu yang membuatnya begitu ingin tahu. sebuah foto keluarga yang terletak di tembok. Besar.

                “ah aku lupa .siapa namamu?”

                “Eun Ji. Jung Eun Ji” jawab Eun Ji masih dengan senyum.

                “aku Luhan. Senang bertemu dengan mu”

                “apa itu ayah mu?” Eun Ji menunjuk pria tua yang berdiri dengan senyum disana. Duduk disamping Luhan.

                “ne, dia ayahku. Whae?”

                “ani. Dia begitu tampan” Eun Ji tersenyum.

                Mendengar suara seseorang Yoona pergi keruang tamu masih dengan celemek di badannya. Eun Ji berdiri lalu membunngkuk kan badannya.

                “aku rasaaku harus pergi. Aku masih ada acara. Mianhae” ucap Eun Ji. Dia berjalan pelan menuju pintu.

                “ah ne”uap Yoona sedikit kikuk. Luhan mengikuti Eun Ji dari belakang.

                “pergi bersama. Aku akan mengambil kunci mobilku dulu. Kau bisa menunggu di luar” Luhan masuk rumah. Yoona masih berdiri dit empat tadi dengan wajahmemikirkan sesuatu. Luhan tersenyum manis didepan Yoona.

                “berhenti lah tersenyum seperti itu. Kau membuat ku muak” Yoona kembali ke dapur. Melanjutkan aksi masaknya.

                “Suho-sshi. Cepatlah bangun. Misi kita akan segera dimulai. Kau tahu. ini lebih mudah dari yang aku banyangkan” Eun Ji tersesenyum kecut. Angin pagi berhembus melewati celah celah rambur Eun Ji.

                Luhan keluar rumah dengan kunci ditangannya. Ia tersenyum kea rah Eun Ji.

                “kajja” ajak Luhan. Eun Ji mengikuti Luhan dari belakang. Mereka pergi bersama.

                “Suho-sshi. Kau lihat ini begitu mudah” ucap Eun Ji dalam hati..

 

……………………………………………………………………….

 

Episode pertama agak geje mianhae. Tapi mohon kritik dan sarannya buat sayah. Gumaweo ^^

Semoga part part selanjutnya menarik. Amin hehehehe

12 pemikiran pada “Only You Didn’t Know (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s