Waeyo, Nae Chingu?

Title              : Waeyo, Nae Chingu?

Author        : JongDay

Genre         : friendship, hurt/comfort

Cast              : Kim Moonkyu, Kim Jongin (Kai), Lee Suyou (OC), EXO-K

Disclaimer  : inspired when I read Kim Moonkyu’s facts. EXO belongs to God. Jongin belongs to me. The facst inside ARE NOT REAL. This is just a fiction, please remember.

Published  : theforbiddenstories@wordpress

Warning     : COPYCAT AND PLAGIATOR MAY JUST LEAVE. DON’T BE A SILENT READER PLEASE, I PUT ON MY SWEAT AND TEARS TO WRITE THIS SO PLEASE APPRECIATE ME.

A/N              : epep ini didedikasikan untuk Kim Moonkyu, trainee SM, satu sekolah dengan Jongin dan sahabat Jongin. Katanya dia yang dicalonin jadi member EXO, tapi justru nggak jadi. Karena itu lahirlah epep ini. Hehehe. Silakan disimak. Semoga suka, ya.

“Apa impianmu, Moonkyu-ah?”

“Molla. Aku ingin jadi penari sebenarnya.  Tapi kata Umma impian itu tidak boleh tinggi-tinggi, karena semakin tinggi impian kita, semakin sulit mendapatkannya.”

“Omong kosong. Aku suka menari. Makanya kata Umma aku harus jadi penari.”

“Aku juga suka menari!”

“Jinjja? Kalau begitu kenapa impianmu tidak menjadi penari saja? Dengan begitu impian kita berdua sama, deh!”

“Arra! Nanti setelah kita besar, kita bisa menari bersama di satu panggung megah ya, Kkamjong!”

“Ne!”

“Geurom, sekarang impianku adalah menjadi penari, deh!

“Tidak boleh saling mendahului, ya? Kau harus menungguku suatu hari nanti untuk bisa satu panggung, begitu juga sebaliknya.”

“Arratago~”

SOPA, Seoul 2012 [Lunch time, 12.40 KST]

“Ya! Sudah dengar? EXO akan mengunjungi Thailand besok!”

“Mereka semakin terkenal, bukan?”

“Wajar saja, sekarang mereka anak emas SM!”

Hah. Mulai lagi. Kyunghee dan gengnya. Mereka kembali membicarakan duabelas orang itu. Lagi. Jam makan siang sepertinya menjadi jam terberatku saat sekolah. Selain karena uang yang diberikan Umma harus disisakan untuk ongkos ke tempat trainee nanti—menyebabkanku harus hemat jajan, juga memaksaku untuk pergi ke kantin di mana aku pasti akan mendengar nama duabelas orang itu disebut-sebut oleh teman-teman sekolah karena mereka memang sedang naik daun akhir-akhir ini. Bukannya kesal atau apa, tapi tak dapat dipungkiri, aku agak muak mendengar nama itu disebut. Apalagi si main dancer itu.

Aku menyeruput sisa cola di tanganku sambil mengecek pesan masuk ponselku. Nihil. Satupun tidak ada pesan darinya. Dari kemarin. Kemarinnya lagi, dan seterusnya. Bahkan semenjak empat bulan yang lalu. Aku tersenyum kecut sambil menyimpan ponselku kembali ke saku celana. Sudah kuduga hasilnya akan seperti ini. Dia juga sama saja. Terbuai dengan karir yang sekarang ia duduki. Brengsek.

Hah. Kim Jong In kau memang benar-benar sudah melupakan sahabatmu.

“Moonkyu-ah! Lihat! Lihat!”

Suyou mengagetkanku dan tiba-tiba menarik lenganku lalu mendudukkanku di bangku paling pojok di kantin sekolah. Bangku keramat gengku; aku, Suyou, dan pria itu. Dia terlihat antusias dengan majalah tersampir di tangan kanannya. Aku mengamatinya yang sedang membuka majalah tersebut dengan senyuman namun senyumku buru-buru menghilang ketika melihat…

“Lihat? Bukankah dia semakin tampan? Si Kkamjong itu, di The Face Shop! Hah, Kkamjong kita sudah besar, ya. Dia—”

“Tidak ada Kkamjong ‘kita’, Suyou-ah,” potongku cepat sebelum ia berkomentar lebih jauh. Suyou menoleh dan menatapku dengan pandangan yang sulit dideskripsikan. Tapi aku tahu pandangan itu. Pandangan yang ia berikan dulu saat aku hampir… ah, lupakan.

“T-tapi…”

“Maaf, aku harus menyalin tugas dulu di kelas. Permisi.”

Dengan langkah cepat aku bangkit dan berjalan meninggalkan Suyou di bangku kantin sendirian. Kaleng cola yang baru habis kutegak tadi telah tak berbentuk akibat kepalan kuat tanganku begitu menatap pria tadi di majalah. Rahangku mengeras. Menyalin tugas adalah kebohonganku agar Suyou tak membicarakan pria itu lagi di hadapanku. Aku muak. Aku muak dengan semua ini. Aku muak dengan pria itu, dan segala hal yang ada pada dirinya. Namanya bahkan telah masuk dalam daftar kata tabu di dalam kamusku.

Kalau saja setahun yang lalu ia tak datang ke dunia pribadiku. Merusuhi dan merebut posisiku di project EXO.

Aku takkan… seperti ini.

 

“Apa yang kau lakukan di sini, Kim Moonkyu?”

“Aku? Audisi SM!”

“Wah! Kau di sini juga? Apa kau diterima?”

“Ne, Jongin-ah. Aku diterima! Aku diterima!”

“Whoaaa! Chukahae! Kita sekarang berada di agensi yang sama, ya!”

“Kalau begitu impian kita untuk menari di atas panggung yang sama akan lebih mudah terwujud, dong?”

“Ne, Moonkyu-ah. Ne!”

“Five, six, seven, eight!”

Irama musik hip-hop reggae mengalun dan membawaku—beserta sebelas anggota trainee lain—bergerak mengikuti alunan musik, mengekspresikan apa yang tak dapat kuungkapkan secara lisan dengan menari adalah hal terbaik dalam hidupku. Shim Jaewon menuntun di depan dengan titah tariannya tapi aku tak peduli. Aku telah menghapal tarian ini di rumah berkali-kali jadi tak pernah ada masalah bagiku.

Sekitar duapuluh menit kemudian training sore ini selesai. Lebih cepat daripada biasanya. Katanya pelatih ingin lebih mengintensifkan latihan calon member boyband yang akan didebutkan SM dua tahun lagi. Jadi jam latihan member trainee lain tidak terlalu padat. Aku melirik jam dinding di ruang latihan sembari mengelap peluh yang mengucur deras di leherku dengan handuk kecil. Masih sore. Aku masih bisa latihan lebih dari ini. Kuputuskan untuk meminta izin pada Shim Jaewon untuk meminjam ruangan ini untuk berlatih sendiri beberapa saat lagi. Untungnya dia menyetujuiku.

Aku menatap refleksi diriku di depan cermin besar ruangan. Kim Moonkyu, wajahmu tampan. Tinggimu ideal. Kau salah satu ulzzang dan suaramu lumayan. Keahlian menarimu tak dapat diragukan lagi. Lantas kenapa? Kenapa SM tak memilihmu untuk project besar-besaran EXO padahal aku sempat direkomendasikan setahun lalu. Kenapa justru pria itu. Kenapa justru sahabatmu sendiri?

Kenapa!?

“Lho, Moonkyu-ya?”

Aku tersentak ketika mendengar namaku disebut oleh suara yang, agak familiar di telingaku. Ketika berbalik aku mendapati seorang pria tinggi, berambut cokelat jamur berkulit putih berdiri di ambang pintu sambil menatapku terkejut.

“Oh… Sehun?”

Ia tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan. Aku mundur beberapa langkah. Terlalu terkejut dengan kehadirannya. Dia lagi.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku cepat, terlalu cepat sampai kurasa ia tak mendengar maksud pertanyaanku.

“Eh?” ia terheran sesaat, “Aku mencari Kkamjong. Kami harus latihan untuk highlights Thailand nanti. Kukira dia di sini. Kau tahu di mana dia?”

Aku mengeraskan rahangku kembali. Jadi, dia kemari untuk mencari pria itu? Bahkan dia menggunakan kata ‘kami’ untuk menggambarkan dia dan grup barunya itu. Cih. Padahal sebelum debut dulu dia selalu menggunakan ‘kita’ untuk menggambarkan ‘kita’, para trainee, ketika derajat kami dulu sama. Sialan.

“Tidak. Aku tidak tahu.” Jawabku cepat. Kuharap dia lekas pergi dan tak mengganggu latihanku kali ini.

“Hmm, begitu. Oh, ya, kau sedang apa di sini?”

Astaga, anak jamur ini.

“Latihan. Kau tidak lihat?” aku harap dia menangkap nada ketus dalam kalimatku tadi agar dia pergi.

Namun bukannya pergi dia justru tersenyum dan menyipitkan matanya, “Sendiri? Kau pekerja keras sekali, ya, Moonkyu-ah. Harusnya kau ikut dalam project EXO waktu itu ya? Kupikir tarianmu tidak kalah bagus daripada Kkamjong.”

Bingo.

Kau sudah mengatakannya Sehun. Kau bahkan tahu saat itu YYJ sendiri yang memundurkanku dari project EXO, apa kau lupa? Oh. Kurasa dia memang lupa karena terlalu sibuk dengan grupnya itu.

Aku tersenyum miring dan menatapnya sarkastik. Kepalan tanganku menguat. Mungkin jika diselipkan kaleng cola akan tak berbentuk lagi seperti di sekolah tadi.

“Terima kasih, Sehun-ssi. Kau bahkan mengatakan aku lebih baik daripada Kkamjong. Lalu bisa kau katakan kenapa aku tidak ikut project EXO? Bisa kau katakan kenapa justru Jongin itu yang menggantikan posisiku? Kau tahu kah alasannya? Kenapa dia justru merebut posisiku di EXO padahal aku lebih baik daripada dia!?” aku menjerit membentaknya dengan luapan emosiku hingga mataku melebar ke luar.

Sehun terlonjak ke belakang. Seolah baru kali ini ia mendengarku berbicara seperti ini, “M-Moonkyu-ah…”

Hah. Sekarang kau tahu aku yang sebenarnya.

“Terkejut? Aku juga. Aku lebih terkejut ketika si komposer tua itu seenaknya membatalkan posisiku di project EXO. Bisa kau katakan kenapa, Sehun-ssi?”

“Sehun-ah!”

Kini aku mendengar seruan dari suara yang begitu familiar di telingaku. Aku enggan menoleh, karena aku yakin itu pasti dia. Orang yang enggan kusebut namanya. Satu dari sekian pria yang kubenci dalam daftar kamusku.

“Lho, Moonkyu-ah? Kau di sini? Sedang latihan, ya?” dengan gayanya yang tengil di mataku ia berjalan mendekat dan menghampiriku dan Sehun. Aku tak suka nada bicaranya. Aku tak suka ekspresi wajahnya yang seolah merendahkanku. Aku tak suka.

“Kkamjong, Suho-hyung memanggilmu untuk berkumpul di dorm, kemana saja kau?” Sehun menyambar. Untunglah aku tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan pria itu karena dialihkan.

“Ho, kata Chanyeolie-hyung kumpulnya jam tujuh. Ini masih jam lima jadi aku jalan-jalan dulu di sini.” Jawabnya masih dengan cengiran yang dulu begitu kukenal.

Aku mulai risih dengan kehadiran mereka berdua, “Bisa kalian keluar? Aku ingin latihan.”

“Oh,” mereka bergumam dan menatapku bergantian seolah baru sadar bahwa aku tengah menatap mereka dingin.

“Maaf.” Pria itu berujar, “Tapi sudah lama juga aku tidak kemari. Ruangan ini tetap sama seperti saat aku masih di training. Tidak ada yang berubah! Seperti dirimu, Moonkyu-ah. Kalau aku menemani sebentar bo—”

“Tidak perlu. Keluar sekarang.” Potongku cepat sebelum pria itu mendekatkan kembali langkahnya ke arahku. Langkahnya terhenti, lalu memandangku cemas.

“Kau kenapa, Moonkyu-ah?” suara Kkamjong —ah sial aku menyebut namanya—terdengar khawatir dan kurasa, ia mengabaikan perintahku untuk keluar dari sini. Sial.

Lenganku terasa berat ketika tangan pria itu menempel di lenganku dan memaksaku yang daritadi membelakanginya menatap cermin besar ruangan ini menghadap ke arahnya. Buru-buru aku menepis tangannya yang menggantung di lenganku paksa. Wajahnya terlihat kaget, begitu juga dengan Sehun, namun aku tak peduli. Aku tak sudi disentuh oleh pria ini. ‘Mantan’ sahabatku ini.

“Jauh-jauh dariku!”

Aku menyentaknya sekali hentakan namun mampu membuatnya terlonjak ke belakang. Wajahnya berkerut cemas, menatapku bingung.

“Moonkyu-ah?”

Astaga aku sudah tidak tahan!

“Sekali lagi kau memanggil namaku, kupastikan kakiku menendang bokongmu keluar! Pergi dari sini, SEKARANG!”

Aku mendorong tubuh pria ini beserta Sehun dan menggiringnya sekuat tenaga menuju pintu masuk. Pria itu berusaha mengelak tapi keheranannya akan sikapku melemahkan pertahanannya dan kubanting pintu masuk latihan ketika dirinya dan Sehun telah kuusir keluar. Aku berbalik membelakangi pintu. Kurasa tubuhku telah merosot jatuh ke atas lantai dan kutekuk kedua lututku serta menenggelamkan wajahku ke dalamnya.

Tidak ada yang berubah, sepertiku contohnya? Tentu saja. Aku tak berubah. Kau yang berubah. Segalanya yang menyangkut dirimu berubah. Sifatmu. Teman-teman di sekelilingmu. Statusmu. Sementara aku tetap sama seperti dulu. Dan segalanya seolah menjauhkan dan menghalangiku untuk menggapai impianku.

Tidak. Aku tidak sanggup berada di sini lebih lama lagi. Selain karena memperbanyak kesempatanku bertemu dengan pria itu, untuk apa juga aku menggantungkan impianku dalam agensi laknat ini yang membatalkan kontrakku dalam project EXO lalu. Impian ini seolah tak berarti lagi. Ketika celah itu ada di depanku untuk menggapainya, tiba-tiba saja tertutup rapat terhalang oleh bayangannya. Bayangan pria itu.

Kenapa? Kenapa setiap aku melangkah maju dia selalu menghantuiku? Kenapa hidup ini serasa tak adil bagiku? Kenapa takdir bisa dengan gamblangnya menggantungkan impianku?

Aku sudah tidak tahan lagi di sini.

“Mau minum?”

“Boleh. Gomawoyo, Jongin-ah.”

“Tadi tarianmu bagus sekali, lho!”

“Sungguh? Tarianmu juga. Bagus sekali!”

“Kau sudah berusaha keras ya, Moonkyu-ah. Kurasa aku akan kalah olehmu. Hehehe. Kau pasti akan mendapatkan posisi main dancer project EXO itu.”

“Aniyoo. Jangan bicara seperti itu. Kita berdua sama. Sama-sama bagus. Semoga impian kita terwujud, ya, Jongin-ah. Supaya nanti kita bisa terus bersama!”

“Arraseo! Aku akan berusaha lebih keras agar bisa setara denganmu lalu impian kita akan terwujud.”

“Dan menjadi main dancer EXO bersamaku nantinya. Kita berdua! Arratchi?”

“Arratchi!”

Pembohong. Kau pembohong kecil. Kau menggantungkan impianku. Kau melupakan impian ‘kita’. Kau merebut segalanya. Kau mengingkari segalanya.

Apa kau tidak tahu, Kim Jongin?

Hati dan batinku sakit, seperti diinjak-injak.

“Headphone, sudah. Handuk kecil? Sudah. Oh, dan kamus bahasa Thailand, berikan padaku di sana, Kkamjong.” Baekhyun mencolek lengan Kai di sebelahnya saat ia sedang mengecek barang yang akan dibawa bersamanya untuk promotion di Thailand nanti di ruang tengah. Namun orang yang dicoleknya barusan bergeming, menatap kosong televisi yang sedang menyiarkan online home shopping. Baekhyun mengerutkan alisnya.

“Ya! Kkamjong!” sentak Baekhyun merasa aneh. Kai tersadar dari lamunannya dan menatap Baekhyun bingung.

“N-ne, Hyung? Waegeurae?”

Baekhyun mendengus lalu berkacak pinggang sebal, “Kau ini kenapa? Melamun terus! Ambilkan kamus bahasa Thailand di sebelahmu!”

Kai buru-buru menyambar kamus yang dimaksud Baekhyun dan memberikannya. Namun bukannya mengambilnya, Baekhyun menahan lengan Kai dengan sebelah tangannya, lalu menatap mata pria itu penuh selidik, “Biar kutebak. Kau pasti belum mengepak barang-barangmu, ya?”

“I-iya, Hyung.” Kai membalasnya gugup. Memang benar. Tampaknya hanya dia sendiri yang belum membereskan barang-barangnya untuk keberangkatan besok ke Thailand.

“Yaa! Ini sudah jam berapa? Cepat bereskan barang-barangmu lalu kita ada pertemuan dengan promotor Thailand!” Baekhyun berjengit membuat Kai yang sebelumnya melamun jadi kelabakan. Kebetulan Sehun berjalan melewati ruang tengah sambil membawa ransel dan beberapa bajunya dan mendengar percakapan Baekhyun dengan Kai.

“Pasti memikirkan Moonkyu, ya, Kkamjong?” celetuknya polos, membuat Baekhyun dan Kai menoleh.

“Eh? Kim Moonkyu itu?” tanya Baekhyun. Ia lalu menoleh kembali ke arah Kai yang saat ini menunduk lesu.

“Memangnya kalian kenapa?” Baekhyun duduk di samping Kai dan menatap wajahnya yang tertunduk. Sehun juga ikut duduk di sebelah kanan Kai sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.

“Tadi aku ke ruang latihan mencari Kkamjong. Lalu ada Moonkyu di sana. Aku tidak tahu kenapa tapi dia langsung marah-marah begitu Kkamjong datang dan mengusir kami dari ruang latihan.” Jelas Sehun seadanya, dijawab anggukan lesu dari Kai.

Kai mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan mendesah berat, “Aku belum pernah melihat Moonkyu emosi begitu, jadi aku khawatir. Ada apa dengannya, aku juga tidak tahu, Hyung.”

Baekhyun memutar matanya. Ia memang tahu Kai dan Moonkyu sahabat saat masa-masa trainee dan keduanya sama-sama jago menari. Kedua hal yang membuat mereka terlihat seperti kembar siam. Di mana ada Moonkyu, di situ ada Kai. Meskipun belakangan ini ia jarang mendengar berita tentang Moonkyu lagi semenjak EXO debut.

“Kalau tidak salah Moonkyu pernah dicalonkan menjadi main dancer project EXO, kan?” Baekhyun berceletuk, membuat Kai menoleh. “Tapi tidak jadi karena Sooman-ajussi mencalonkanmu.”

Sontak wajah Kai berubah tegang. Bola matanya membulat dan ditahannya napas beberapa saat. Benar juga. Tahun lalu Kai hampir kehilangan impiannya karena Moonkyu dicalonkan menjadi pusat member EXO. Tapi Lee Sooman berkata lain. Yang membuat Moonkyu tersisih begitu saja dan dirinyalah yang memimpin icon EXO saat ini. Masalah itu…

‘Aku ingin jadi penari agar bisa menari bersamamu di atas panggung yang sama, Kkamjong…’

‘Tidak boleh mendahului, arra?’

Kai melebarkan kedua mata begitu juga mulutnya. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya dan menghela napas tak percaya, “Astaga, apa yang sudah kulakukan!”

Baekhyun mengerutkan alis, “Waeyo, Kkamjongie?”

Kai tidak langsung menjawab. Ia menahan dirinya dengan bertumpu satu tangan di atas sandaran sofa dan menggelengkan kepalanya beberapa saat, telat menyadari kenyataan yang tengah menimpa sahabatnya itu, Kim Moonkyu. Ah, ralat, ‘mantan’ sahabatnya. Kenapa ia bisa begitu bebal dan melupakan janji masa lalunya dengan mantan sahabatnya itu?

“Aigoo.” Kai bergumam, masih merutuki dirinya yang begitu bodohnya telat menyadari, “Aigoo, aigoo. Bagaimana ini. Jelas dia marah besar padaku! Kenapa aku bisa babo sekali! Sahabat macam apa aku inii!” Kai memukul-mukul kepalanya sendiri, membuat Sehun dan Baekhyun berusaha menghentikan aksinya yang tak tahu mengapa pria di hadapan mereka ini lakukan. Namun Kai terus saja bergumam, meracaukan nama Moonkyu dan kalimat maaf di sela pukulan rasa bersalahnya di kepalanya sendiri.

“Kkamjong! Kau ini kenapa? Yaa!” Sehun berusaha menenangkan Kai.

“Aku jahat, Sehun-ah. Aku jahat! Aku bukan sahabat yang baik! Aku merebut impian Moonkyu! Aku mengacaukan posisinya di project EXO! Aku mendepaknya! Mendepak cita-cita terbesarnya! Aku jahat! Aku jahat sekali!” racauan Kai seakan membuat Sehun mengerti arah pembicaraan pria itu, mengembalikan fakta dan flashback saat-saat di mana mega project EXO digelar, dan Moonkyu dicalonkan sebagai main dancer sub-unit K.

Saat itu ia berteman baik juga dengan Kai dan Moonkyu. Ia tahu impian Kai, dan impian Moonkyu. Mungkin Kai harus mengalah dan memberikan posisi terbesar yang ia inginkan itu pada sahabatnya sendiri namun ternyata kenyataan manis berpihak padanya. Posisi main dancer itu jatuh padanya, pada Kai. Hanya pada Kai padahal saat itu mereka telah berjanji untuk bersama dan tergabung dalam sub unit dengan posisi yang sama. Dan kenyataan itu seolah menghempaskan Moonkyu dari langit ketujuh yang sebelumnya dielu-elukan, menjadi jatuh ke dasar tanah dan berubah menjadi barang tak layak pakai. Sekejam itukah Kai menilai dirinya sendiri, merebut posisi sahabatnya? Egoiskah dirinya?

“Tenanglah, Kkamjong. Sudahlah. Lain kali kau harus berbicara dengannya. Dia pasti mengerti.” Ujar Sehun.

“Mana mungkin,” Kai berujar lirih, “aku yang dulu berjanji untuk menunggunya agar kami bisa menari di atas panggung yang sama. Namun sekarang aku merebut segala yang diharapkannya. Sahabat macam apa aku i—”

“Ya! Kkamjongie, kau berisik sekali!” Baekhyun menepuk pundak Kai seolah risih mendengar racauan pria itu. “Jangan seperti itu! Kalau tidak bicara semua masalah tidak akan selesai. Kau mau Moonkyu memusuhimu seumur  hidup?”

Kai menggelengkan kepalanya cepat, “Andwaeyo, Hyung.”

“Kalau begitu bicaralah padanya!”

“Dan main dancer sub-unit EXO-K adalah…”

Aku mengeratkan genggaman tanganku pada Jongin. Jantungku berdebar begitu keras hingga keringat dingin menetes membasahi pelipisku.

Kumohon, Ya Tuhan. Berikan posisi ini padaku dan Jongin. Buahkanlah hasil latihan bertahun-tahun kami dengan posisi ini. Kumohon. Kumohon.

“Kim Jongin dan…” kumohon. Kumohon. Kumohon.

“…Oh Sehun.”

Tidak.

Namaku tidak termasuk dalam keduanya. Kenapa?

Aku menyeruput susu kotak stroberiku sambil mengayunkan diriku di atas ayunan taman kota yang sering aku kunjungi dahulu. Dulu sekali, saat aku masih bersama pria itu, bermain di sini dengan Suyou. Kadang dia begitu suka mengerjai Suyou dengan mengayunkan ayunannya tinggi-tinggi sehingga Suyou menangis dan mengadukan tingkah nakal pria itu padaku. Haha. Lucu sekali. Terlalu lucu hingga aku tertawa menyedihkan mengingat masa-masa itu di sini, di tempat kenangan ini.

Langit sudah sore. Wajar jika taman ini kosong, hanya ada aku, penjual balon yang hendak pulang ke rumahnya, dan beberapa anak SMP sepulang dari sekolah mereka. Rasanya damai jika menenangkan pikiran di sini, walau agak teringat masa lalu, tapi taman kota adalah satu-satunya mengapa otakku bisa jernih kembali.

“Ah, sudah habis.” Aku memincingkan mata ke arah lubang sedotan susu kotakku yang ternyata sudah habis kuseruputi. Susu kesukaanku. Aku membuangnya asal ke belakang dan bersiap untuk beranjak pulang. Namun langkahku terhenti tatkala kudengar seseorang mengaduh di belakangku.

“Ya, Moonkyu-ah, sudah kubilang berkali-kali jangan membuang sampah sembarangan. Kau warga negara Korea yang tidak baik, tahu. Kau bisa melukai si tampan Jongin ini jika kau melempar kotak susu Sunnyside itu ke wajahku.”

Tidak.

Pria itu. Suara pria itu. Sangat kukenal.

Kenapa dia bisa di sini? Di tempat ini?

Aku bahkan tak berani dan tak ingin menolehkan badanku ke arahnya. Keterkejutanku berkelangsungan. Yang kutahu selanjutnya adalah langkah mendekat pria itu menuju arahku, yang membuatku mau tak mau menoleh. Canggung. Lari bukanlah gayaku mengadapi masalah.

“Aku tahu.” Balasku, berusaha sesingkat mungkin. Pria itu, dengan v-neck putih dan blazer hitam serta jeans abu-abu, terkekeh lalu duduk di ayunan di sebelahku duduk. Ada suana hening setelah dirinya duduk. Ah, ralat. Bukan hening, ada suara helaan napas pria itu sambil menikmati pemandangan sore di taman kota ini.

“Apa kabarmu?” ia membuka percakapan berbasa-basi.

“Tidak baik.” Jawabku, sejujur-jujurnya.

Ia tidak bertanya mengapa, atau apa alasan aku menjawab demikian. Yang ia balas hanyalah, “Hmm. Aku tahu.”

Berarti ia tahu kondisiku saat ini? Baiklah. Sekalian saja kuberitahukan dia soal bagaimana menyedihkannya diriku dan impianku saat ini.

“Bagaimana dengan Suyou? Apa dia masih cengeng?” ternyata dia ingat juga dengan Suyou. Kukira dia sudah lupa. Hebat.

“Masih. Belakangan ini dia menangisimu.” Jawabku asal, padahal tidak tahu bagaimana keadaan Suyou saat ini. Cengengnya bahkan tidak bisa sembuh.

Pria itu terkekeh. Apa di sini banyak hal lucu atau tidak, dia sering sekali terkekeh seperti itu. Entah maksudnya meremehkan atau bukan. “Memangnya aku kenapa? Ditangisi seperti sudah meninggal saja.”

Aku mengangkat bahu cuek, “Tak tahulah. Tanya saja sendiri padanya. Pasti dia takjub melihatmu belum melupakannya.”

Dan, pria itu tak membalas lagi. Terdiam. Sungguh, aku jadi teringat bayangan Suyou yang bahkan dengan setianya menunggu kabar pria ini selama ia di… debutkan, namun dengan kejamnya pria ini bahkan tak tahu kesetiaan Suyou menunggunya kabar, menyemangatinya di belakang dan memantau kegiatannya. Dasar pria ini memang tidak tahu malu.

Pria itu berdeham sejenak, lalu menatap langit sore dengan pandangan lurusnya—aku tidak menatap ke arahnya, hanya mengintipnya dengan fokus bintik butaku.

“Besok aku pergi, Moonkyu-ah.” Ucapnya tenang.

Jadi dia datang kemari hanya untuk memberitahu jadwal grupnya itu yang akan berangkat ke Thailand esok hari? Ah, jangan salah paham, aku tahu hal ini dari Suyou. Aku sungguh tak ingin ia berbicara mengenai topik ini padaku. Tahulah, sepeti, pamer?

“Aku tahu.” Balasku, “Nikmati saja waktu naik daunmu.”

Ia justru tertawa mendengar kalimat yang sudah kuketuskan tingkat maksimal lalu terkekeh kecil, “Haha, Moonkyu-ah, kau pasti mengira aku melupakanmu, ya? Berlatih lima tahun bersamamu di sini mana bisa kulupakan semudah itu.”

Nah. Itu dia. Harusnya tak bisa kau lupakan semudah itu. Bicara saja banyak, padahal kau bertingkah seolah kau benar-benar tak peduli lagi padaku. Pada Suyou. Pada ‘mantan’ sahabatmu. Kau bahkan lebih asyik bermain dengan grup barumu dan sisi munafikmu akan terlihat setelah aku berbicara hal ini padamu, Kim Jongin—ah sial aku menyebut namanya. Hanya saja aku takut kau akan mati gaya setelah aku berbicara hal tadi padamu.

Kau bahkan tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Setelah bertemu denganmu. Emosiku hendak membuncah ke luar namun tidak mungkin kukeluarkan saat ini juga.

“Kalau begitu lupakan.” Gumamku, nyaris tak bersuara. Tapi suasana taman kota yang makin sepi ini membuat suara sekecil apapun terdengar telinga normal. Dan begitu juga dengan telinga pria itu.

“Eh? Apa… maksudmu, Moonkyu-ah?”

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, rahangku terkatup mengeras, kukumpulkan kemauan, bukan keberanian, untuk menoleh dan menatap ke arahnya. Dia menyadari aku menoleh dan ikut menatapku sehingga kedua mata kami bertemu. Astaga, dia masih tetap sama seperti dulu. Penampilan dan wajahnya. Aku semakin mengencangkan kepalan tanganku dan menahan napas untuk beberapa saat.

Baiklah. Sudah kuputuskan.

Apapun jalan yang kau ambil, kau tidak salah, Kim Moonkyu.

Ini semua demi dirimu, harga dirimu, dan impianmu yang sudah terhempas jauh-jauh akibat pria di hadapanmu ini.

“Aku akan keluar menjadi trainee SM.” Desisku lirih, mata pria itu membulat. “Aku akan mengubur impianku menjadi penyanyi dalam-dalam. Dan, pergi dari hadapanmu.”

Sudah kukatakan. Sudah kukatakan. Sudah kukatakan.

Dan seperti reaksi yang kutebak sebelumnya. Pria itu melebarkan pandangannya dan menatapku dalam-dalam, tak percaya.

“A-apa?”

You have 19 missed calls from ‘Kkaman-Jongin’

You have 8 unread texts from ‘Kkaman-Jongin’

From            : Kkaman-Jongin

Moonkyu-ah, kau serius soal kemarin? Waeyo? Kau berniat untuk meninggalkan SM? Meninggalkanku?

From            : Kkaman-Jongin

Moonkyu-ah,  jangan pergi. Kau bilang kau ingin menjauh dariku? Aku minta maaf, Moonkyu-ah, sungguh. Aku telah sadar aku salah. Maaf. Maafkan aku.

From            : Kkaman-Jongin

Ya!! Balas aku, Kim Moonie!! Kau tega membuatku diliputi rasa bersalah seperti ini?!

options delete all messages   ok

Thailand, 29 Agustus 2012

“Kkamjongie, bersemangatlah sedikit. Jangan sampai publik tahu kau sedang tak bersemangat.” Baekhyun melingkarkan tangannya sambil berjalan beriringan dengan Kai.

Kai hanya mengangguk lesu. Sambil mengeret kopernya menuju hotel yang disediakan promotor untuk tempat mereka menginap selama di Thailand ini. Pandangan dan pikirannya sedang tak fokus saat ini akibat kejadian kemarin sore dengan Moonkyu yang telah ia ceritakan pada Baekhyun. Itu sebabnya Baekhyun berjalan mengirinya, agar ia bisa fokus berjalan dan menyemangatinya.

“Sabar ya, Kkamjong. Kurasa itu lebih baik bagi Moonkyu saat ini.” Tambah Baekhyun kemudian.

“Memangnya, dia benar-benar akan pergi? Sungguh?” D.O menimpali. Hyung kesayangan Kai ini tentu saja berhak tahu masalah main dancer itu. Tidak ada masalah yang tak diceritakan pada teman sekamarnya ini, Do Kyungsoo ini.

Sekali lagi, Kai mengangguk lemas.

Sehun gemas melihatnya, “Sudahlah, Kkamjongie! Aku tidak mau acara kita di Thailand ini tersendat karena dirimu yang lemas begitu. Kita harus profesional sebagai idola, tahu! Jangan hubungkan masalah pribadi dengan profesionalisme, dong!”

Kai tahu Sehun hanya berusaha menghiburnya dan melupakan masalah Moonkyu sejenak. Ia menunduk, berpikir sesaat. Masalah pribadi dan profesionalisme. Memangnya kenapa jika kedua hal itu digabungkan? Masalah pribadi seorang idola dan profesionalisme itu saling berhubungan, setidaknya ia mendapat nasehat tersebut dari Jung Yunho. Tiba-tiba Kai mendongak dan matanya melebar, seperti telah menemukan sesuatu hebat. Bibirnya tak lama melengkung membentuk sebuah senyum lega dan membuat Baekhyun, Sehun dan D.O mengernyit heran.

“Aku tahu! Aku tahu! Aku tahu bagaimana caranya agar Moonkyu kembali lagi ke SM!”

Kumohon, Moonkyu-ah. Lihatlah aku malam nanti.

Seoul, 07.29 pm

Kertas kosong di tanganku rencananya akan kutuliskan sebuah surat pengunduran diriku secara resmi untuk Lee Sooman. Aku ragu untuk menulisnya. Bukannya tidak berani, namun aku belum pernah menulis surat resmi apalagi teruntuk direktur SM itu.

Suyou sedang menonton TV di kamarku, berguling-guling di atas kasur kecil di atas lantai dan asyik dengan keripik kentangnya. Biarkanlah dia sibuk begitu. Setidaknya dia tidak tahu bahwa saat ini aku tengah menulis surat pengunguran diriku untuk SM. Bisa heboh jika gadis ini tahu.

Pria itu sudah kuberitahu. Setelahnya kutinggal saja dirinya di taman kota sendirian. Berlama-lama dengannya berdua begitu membuatku takut emosiku bisa membuncah kapan saja. Jadi aku memilih untuk mundur. Walau setelahnya ponselku dihujani missed-calls dan e-mail darinya. Berisik sekali. Jadi kuputuskan untuk menghapus kontaknya dalam ponselku dan menonaktifkannya.

Aku masih memainkan bolpoin di tanganku sambil terdiam, bingung akan menuliskan kata apa di dalam kertas kosong ini. Curhatankah? Terlalu murahan. Formalkah? Terlalu rumit. Bagaimana ya?

“Suyou-ah,” akhirnya kuputuskan untuk memanggil gadis itu.

“Hmm~”

“Kau pernah menulis surat formal?” aku memutar kursi belajarku dan menoleh ke arahnya.

Suyou juga membalikkan posisinya yang tadi tengkurap menjadi terduduk, “Hmm, belum. Kalau untuk tugas Bahasa Korea pernah. Tapi itupun nilaiku 70. Kenapa, Moonnie?” ia balik bertanya, dengan aegyo khasnya.

“Aish, hentikan. Jangan panggil aku Moonie, mengingatkanku pada seseorang tahu.” Gerutuku sambil meniup poniku ke atas.

Benar.  Panggilan itu mengingatkanku pada pria itu.

Suyou terkikik kecil. “Memangnya kenapa? Kau sedang menulis surat? Untuk siapa?”

Suyou bangkit dari duduknya dan menghampiriku. Lantas aku merampas kertas di tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga Suyou kesulitan meraihnya, “Aniyo, bukan apa-apa! Sudah sana, lanjutkan menonton televisinya!”

“Aniyo! Aku lihat suratmu dulu! Itu surat cinta, ya, Moonie? Berikan padaku, aku ingin lihaat!” rengeknya manja namun dengan satu tanganku yang bebas aku mendorong dan menghalangi wajahnya menjauh dari kertas di tanganku. Ia terlihat kesulitan meraihnya dan inilah sifat yang tak kusukai darinya. Dasar keras kepala. Dan sekali lagi, mengingatkanku pada seseorang.

“Yaa, hentikan, Suyou-ah! Lihat! Sudah jam lima! Sudah waktunya menonton kartun kesukaanmu, sudah sanaa!”

Suyou berhenti meraih-raih kertas di tanganku dan menggembungkan pipinya kesal. Ia lantas berbalik dan berjalan lebar-lebar kesal lalu duduk di depan televisi, membelakangiku dengan tak acuh. Kurasa dia kesal padaku. Hahaha.

Nah, baiklah. Bantuan Suyou tak berhasil. Kurasa aku harus menulis surat ini dengan otakku sendiri. Ditolakpun tak apa, yang penting aku harus segera keluar dari agensi itu. Dan cepat-cepat menghilang dari hadapan pria itu. Selamanya.

Baru saja aku hendak menuliskan satu huruf di atas kertas, Suyou berteriak kencang mengagetkanku hingga tinta bolpoinku tercoret di atas kertas begitu panjang. “OMONAAAAAA!!!!”

“YA! SUYOU-AH! JEUGEULLAE!?” sengitku tak kalah kencang lalu menatapnya sekilas dengan pandangan sesinis mungkin. Namun Suyou tetap memfokuskan dirinya di layar kaca, tak bergeming sedikitpun.

Akhirnya setelah kurasa keadaan aman—maklum, Suyou gemar sekali berteriak—aku memutuskan untuk memutar kursiku kembali dan fokus dengan surat pengunduran diri ini.

“YAH!! MOONKYU-AH!”

“WAE!!!”

Aish! Gadis ini! Sedikit-sedikit berteriak, membuat gendang telingaku pecah saja!

“Lihat! Moonkyu-ah! Itu Kkamjong! Kkamjong! Di Thailand, Live!!”

Jadi dia berteriak kencang di depan televisi barusan karena meneriaki pria itu yang sekarang muncul di televisi dan tengah berada di Thailand dan mengacaukan isi otakku yang sudah hampir menemukan awalan surat formal barusan untuk ditulis di atas kertas putih ini!?

Sialan!

“Berisik!” aku bersungut sewot. Pura-pura sibuk dengan kertas di hadapanku.

“Lihat! Dia tampan sekali!” serunya lagi. Membuat telingaku benar-benar panas mendengarnya. Kenapa harus pria itu lagi yang kudengar nama dan beritanya setiap hari!? Kenapa!?

“Matikan televisinya, Suyou-ah! Kau menggangguku!” aku kembali berseru, membalasnya. Tapi ia tetap sibuk menontoni pria itu dengan bangga dan membuatku rasanya ingin menyumpal telingaku kuat-kuat. Akhirnya aku meraih headphone yang tergantung di dinding di hadapanku lalu hendak menyetel musik, namun dengan sekali seruan, Suyou menghentikan niatku.

“Ani! Dengarlah, Moonkyu-ah! Dia menyebut namamu…”

“Apa?”

Seolah tersihir atas kalimat Suyou barusan, badanku refleks menoleh dan menatap televisi yang tengah ditonton Suyou. Aku mendekatkan diriku dengan televisi lalu mendapati pria itu di sana. Di layar kaca. Melambaikan tangannya setelah perkenalan usai dan seorang MC menanyakannya tentang apa yang ingin dikatakannya kepada seseorang atas keberhasilannya menjadi member EXO ini.

Pria itu tersenyum manis lalu meraih mikrofon di tangan Sehun.

‘Aku ingin berterima kasih atas dukungan sahabat semasa traineeku, Kim Moonkyu. Dia yang mendukung impianku dan menyemangatiku. Dia adalah sahabatku yang begitu berarti. Memang aku telah melakukan kesalahan yang fatal dengannya namun dari situ aku belajar suatu hal. Sahabatmu adalah orang di belakangmu yang mendorongmu menggapai impian dan itulah Kim Moonkyu, sahabatku selamanya. Maafkan aku ya, Moonkyu-ah. Maafkan aku. Teman-teman ayo dukung dia juga semoga impiannya menjadi penyanyi terwujud agar dia bisa menari satu panggung denganku. Kalian juga pasti ingin melihatnya, kan? Kalau begitu katakan,Moonkyu fighting!’

‘Moonkyu fighting!’

‘Ayo yang keras! Agar dia bisa mendengarnya!’

‘MOONKYU FIGHTING!!!’

‘Khun krab! Nah, kau mendengarnya kan, Kim Moonkyu? Aku yakin kau sedang menonton acara ini. Kalau begitu dengar kata-kataku ini. Maafkan aku! Aku telah bodoh tak menyadari dan melupakan impian kita berdua. Tapi aku janji aku akan mengusahakan suatu hal agar impian kita terwujud. Arraseo!? Tetaplah di SM, Moonkyu-ah! Saranghamnida!’

Aku termenung.

Bola mataku seolah menahan sesuatu hendak terjatuh dari sana. Jemariku terkepal kuat. Deretan gigiku bergemeletukkan.

Bodoh. Kau begitu bodoh, Kim Jongin. Kau bodoh sekali.

Apa yang baru saja kau katakan di sana?

Kau tidak sadar dengan apa yang baru saja kau katakan, huh? Kalimat panjang itu seolah menjatuhkan bom atom dalam diriku dan membuatku mengepalkan tanganku kuat, meremas kertas putih dalam genggamanku hingga tak berbentuk lagi.

“M-Moonkyu-ah…?”

Kenapa kau bisa sebodoh itu, Kim Jongin? Kenapa?

“Moonkyu-ah, gwaenchanayo?”

Suyou bangkit. Setidaknya itulah yang dapat kutangkap melalui bintik butaku ketika aku tengah menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong sekarang. Sepasang lengan mungil merengkuhku dan kusadari aroma shampoo Suyou menyeruak memasuki lubang hidungku. Suyou memelukku, membuatku tak dapat menahan sesuatu yang hendak jatuh melalui pelupuk mataku ini.

Aku menangis.

“Uljimaa. Uljimayo, uljimaa.”

Tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti menangis, Suyou-ah.

Sekian lama aku memendam emosi ini akhirnya aku tumpahkan segalanya. Dalam bentuk tangisan. Kenapa aku begitu cengeng?

Tidak masalah jika aku cengeng. Lantas bagaimana dengan pria bodoh itu? Apa yang barusan ia lakukan, huh? Kenapa kau mau mengatakan hal menyedihkan mengenai diriku di hadapan fansmu, dan menjadikan mereka semua penyemangatku, sekaligus menjauhkanku dari keputusanku yang telah bulat untuk segera meninggalkan SM secepatnya? Kenapa? Kau sengaja? Sengaja menahanku dan membuatku kembali ke SM hanya agar aku bisa menggapai impianku nanti bersamamu?

Dan apa aku masih bagian dari daftar sahabatmu, Kim Jongin? Masihkah?

Kenapa kau seolah dapat meminta maaf dengan mudahnya padaku bahkan hingga aku meneteskan air mata seperti ini? Kau curang. Sangat curang. Kau membuatku tak dapat menentukan pilihan, Kim Jongin. Haruskah aku tinggal di SM? Itu hanya akan menggantungkan impianku. Tapi jika aku meninggalkan SM dan kau, aku akan semakin sakit. Sakit karena kau telah mengatakan kalimat demikian. Andai saja kau tak mengatakannya, aku tak akan seberat ini menentukan pilihan.

Kenapa, Kim Jongin? Kenapa?

Kenapa, sahabatku…?

Dan di sinilah aku. Di dalam gedung SM. Namun kali ini aku tidak berada di ruang latihan lagi karena jam latihanku telah habis. Dan saat ini, aku tengah berdiri di hadapan pintu ruangan bertuliskan placard President Director. Lee Soomam’s room.

Entah apakah aku siap atau tidak untuk menyerahkan surat dalam genggamanku ini, namun suatu kalimat mencerahkan isi otakku. Jika menunggu siap atau tidak, maka tidak akan pernah ada kata siap. Jadi aku memutuskan akan menyerahkan surat ini hari ini juga. Sebelum aku berubah pikiran, tentunya akibat kejadian waktu itu. Empat hari setelah aku menulisnya dengan penuh perjuangan. Semoga saja tidak ditertawakan pria tua itu.

Aku mengangkat tanganku dan bersiap untuk mengetuk pintu ruangan. Namun ketika lima senti lagi jemariku menyentuh pintu, pintu ruangan itu terbuka dan membuatku reflek mundur ke belakang agak terkejut. Karena saat itu jugalah seorang Lee Sooman muncul dari dalam.

“A-annyeong haseyo.” Refleks aku membungkukan badan hormat padanya.

Lee Sooman melebarkan matanya menatapku, “Oh! Kau… Kim Moonkyu, kan? ”

Wah. Dia tahu namaku.

“N-ne, Sajangnim. Moonkyu imnida.” Ucapku ragu. Agak ragu. Bagaimana dia bisa tahu namaku, padahal mengecek nama para trainee-nya saja ia tidak pernah.

Lee Sooman lantas menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan pandangan aneh. Aku risih dibuatnya. Namun ia segera berkata, “Apa yang kau lakukan di depan ruanganku?”

“Eh?” aku termangu. Benar juga ya, aku sangat mencolok sekali berdiri di depan ruangannya. “Eh, itu… Saya…”

“Tapi kebetulan sekali karena Saya juga mencarimu, Kim Moonkyu.” Sooman-sajangnim memotong ucapanku dan kalimatnya membuat alisku terangkat sebelah. Mencariku?

Tampaknya ekspresi bingung di wajahku dapat terbaca olehnya karena setelahnya ia melanjutkan, “Ada kabar baik untukmu. Kebetulan seseorang merekomendasikan dirimu agar masuk dalam grup yang akan kudebutkan dua tahun lagi. Kau sebagai main dancernya. Bersama Ryu Chao, Zai Lin, Sangwoo dan anak-anak kelas C. Bagaimana menurutmu?”

Penjelasan barusan seolah terlewat begitu cepat di telingaku karena pikiranku yang melayang entah kemana. Aku mengerjapkan mataku sesaat, seolah tak mendengar, atau kurang mendengar penjelasannya. “Mian?”

Sooman-sajangnim menghela napasnya maklum, “Kau, Kim Moonkyu. Aku telah melihat bakat menarimu. Kau bisa menjadi aset grup baruku dua tahun mendatang jadi kau kucalonkan menjadi main dancer. Bagaimana?”

Momen ini mengembalikan fakta dan mengingatkan betapa antusias dan bahagianya diriku ketika aku diumumkan lolos audisi SM empat tahun lalu. Rasanya seperti ini. Samanya seperti ini. Sama-sama terkejut bukan main hingga bola mataku melebar dan mulutku menganga, namun segera kututup dengan punggung tanganku.

M-main dancer?

Didebutkan?

Aku?

Inikah mimpi? T-tapi kenapa…

“Chukahamnida, Kim Moonkyu. Itu saja yang ingin Saya sampaikan. Saya ada rapat untuk project grup baru. Permisi.”

Aku bahkan tak membalas salam Sooman-sajangnim yang berlalu begitu saja di hadapanku karena penjelasan Sooman-sajangnim tadi masih terus berputar-putar di kepalaku. Didebutkan? Aku? Aku didebutkan? Maldo andwae. Astaga, Tuhan! Bangunkan aku jika aku bermimpi, kumohon!

“Chukahaeyo!”

Suara yang begitu familiar di telingaku membuatku refleks menoleh ke arah pintu ruangan Lee Sooman dan mendapati… Kim Jongin—aku bahkan menyebut namanya beberapa kali bukan—bersandar di ambang pintu sambil tersenyum begitu lembut padaku, seperti dirinya lima tahun lalu. Senyumnya yang polos kekanakan itu. Belakangan aku tahu dia sudah pulang dari Thailand kemarin. Dan refleksku yang bagus barusan membuatku merutuk, aku bahkan belum tahu ekspresi apa yang harus kupajang jika bertemu dengannya.

Tapi… tunggu. Kenapa dia bisa di sini? Bahkan ketika keterkejutanku akan pernyataan Sooman-sajangnim tak kunjung reda?

“Kenapa kau di sini?” tanyaku pelan, sepelan mungkin.

Ia mengangkat sebelah bahunya sembari terkekeh kecil dan menunjuk ke dalam ruangan Lee Sooman. “Aku habis menjatuhkan harga diriku di hadapan Sooman-ajussi dengan merengek dan memohon agar kau dimasukkan dalam grup baru SM. Agak lama prosesnya sih, ajussi itu keras kepala. Akhirnya aku mempertontonkan padanya video latihan menarimu yang—”

“Memohon?” potongku tanpa sadar, mendengar jawabannya yang sesantai itu namun mampu melebarkan mataku membuatku cukup terkejut.

Memohon? Apa maksudnya? Jadi dia barusan dari ruangan Lee Sooman untuk memohon padanya agar aku dimasukkan dalam grup baru SM yang akan didebutkan dua tahun mendatang? Dia? Memohon? Lantas apa artinya aku membawa-bawa surat pengunduran diri ini?

Jongin mengangguk polos, “Tapi, masih dua tahun lagi. Agak lama, Moonkyu-ah. Aku tidak bisa apa-apa. Mianhae. Tapi setidaknya kau berhasil masuk, kan? Hehehe.”

Astaga, Kim Jongin. Apalagi sekarang. Setelah kau berbicara di Thailand lewat televisi kemarin, sekarang kau berusaha menahanku agar tak pergi dari SM lagi dengan merengek pada Lee Sooman? Cara kemarin kuakui masih bisa kuhalau. Tapi cara ini? Kenapa?

“Puas kah kau, Jongin?” desisku lirih. “Puaskah kau?”

“Mwoya?”

Aku mengeluarkan surat pengunduran diri itu dalam amplop dan mengarahkan surat ini tepat ke hadapannya. Ia bingung apa yang akan aku lakukan dengan surat ini, namun dengan sekali gerakan kilat, aku merobek… surat tersebut menjadi dua bagian. Lalu merobek-robeknya lagi dan kuhempaskan ke atas lantai.

Jongin menatapku dan robekan kertas itu tak percaya. Aku sadar. Aku sadar apa yang telah kulakukan. Merobek kertas pengunduran diriku. Kurasa itu jawaban dari keputusanku, kalian pasti mengerti maksudku, kan? Ini semua tentu saja, karena ulah pria di hadapanku, yang membuatku berhenti berpikir untuk mengundurkan diri dari SM. Dia memang tahu bagaimana cara menaklukkanku.

“Moonie-ah…?” gumam Jongin. Aku menatapnya dan ia balas menatapku dengan senyuman yang tiba-tiba terulas perlahan di wajahnya.

“Ne, Kkamjong?” balasku, menggunakan nama panggilan kesukaannya dariku. Senyum pria itu makin terkembang.

Tiba-tiba Jongin maju dan melingkarkan lengannya di leherku. Aku agak terkejut, namun dengan ragu kubalas pelukannya. Pelukan Kim Jongin. Jangan dikira aku homo atau semacamnya, namun pelukan sahabatku yang satu ini begitu kurindukan semenjak empat tahun belakangan.

Kim Jongin. Kim Jongin. Mianhae. Mianhae. Aku memang tak bisa mengucapkan satu kata itu secara langsung padamu. Gengsiku terlalu besar. Tapi setidaknya aku memaafkanmu dari dalam hatiku, dan aku harap kau mau memaafkan ‘mantan’ sahabatmu yang sekarang telah kembali menduduki status ‘sahabat’mu ini lagi. Mianhae.

Kim Jongin. Gomawo. Gomawo. Tanpamu mungkin surat pengunduran diri tadi sudah sampai di tangan Lee Sooman. Tanpamu yang melakukan hal ini mungkin aku akan terus membencimu hingga akhir hayatku.

“Baboyaa. Moonie babo!” Jongin memperkuat pelukannya, seolah menuntut maafku karena pelukanku yang masih longgar ini. Akhirnya aku menepuk-nepuk pundaknya canggung. “Maaf. Maafkan aku.  Aku tidak tahu kau akan semarah ini padaku. Tapi saat itu aku tak bisa berbuat apa-apa. Maka dari itu aku berusaha keras membujuk Sooman-ajussi agar mendebutkanmu. Agar kita bisa menari di atas panggung yang sama. Aku tidak bohong, kan? Aku menepati janjiku, kan? Mianhae, Moonkyu-ah.”

Kau, Kim Jongin. Kau pria bodoh. Sangat bodoh. Namun kau juga hebat, karena berhasil membuatku menangis saat ini tanpa sepengetahuanmu. Karena berhasil membuat Kim Moonkyu si tegar ini meneteskan air matanya dua kali.

Aku berusaha membuka mulutku hanya untuk mengucapkan satu kata, “Mian.”

“Jadi, sebenarnya kau memperlihatkan videoku menari yang mana pada Sooman-sajangnim?” tanyaku penuh selidik dan menatap matanya yang terhalang topi penyamaran. Kami berdua tengah menghabiskan sore yang senggang di Handel&Gretel. Dan yah, hubungan kami juga sudah kian membaik, dengan cara yang aneh pula.

Dia mengingkari janjinya. Aku membencinya. Dia meminta Sooman-sajangnim mendebutkanku dikala aku ingin mengundurkan diri. Rencananya berhasil. Lalu aku memaafkannya dengan gamblangnya. Aneh, ya? Yang aneh sebenarnya aku, dia, atau siapa sih? Ah, sudahlah. Yang penting saat ini kami sudah bisa menikmati waktu-waktu kami berdua seperti dahulu.

“Hmm, yang mana, ya? Pokoknya saat latihan malam, kelas sudah usai dan aku melihatmu sedang berlatih seorang diri di studio, menari U-Kiss, humm, apa namanya? Neverland? Ah ya itu dia.” Jawabnya.

Aku memutar bola mataku berusaha mengingat-ingat jadwal latihan ‘ilegal’ku waktu itu. Lantas aku menatapnya curiga, “Kau mengintipku?”

Jongin mengedikkan bahunya, “Hanya lewat, kok. Sumpah.” Ucapnya, sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya dengan cengiran khas di bibirnya. Dasar, kebiasaannya memang.

Aku menghela napas, lalu mengaduk-aduk ice coffee ku dengan sedotan dan menunduk, teringat tayangan televisi beberapa hari lalu yang menampilkan si babo Jongin ini, “Kau sudah gila ya, Jongin?”

“Eh?”

“Tentang acara televisimu di Thailand. Kau ini gila atau bodoh, sih?” sambungku mendetailkan pertanyaanku, lalu menatap wajahnya yang agak samar oleh topi itu. Walau matanya tak terlihat jelas, aku tahu saat ini senyumnya mengembang sempurna.

“Kau melihatnya? Melihatku?” tanyanya balik. Aku mengangguk. Seketika ia menunduk dan menggaruk tengkuknya canggung, “Wah, aku jadi malu. Tapi aku senang kau menontonnya.”

“Aku tidak menyangka kau jadi semanis ini, Jongin.” Setelah aku berkata demikian, ia menahan tawa yang hendak keluar dengan malu-malu.

“Mau bagaimana lagi, habis aku takut kau jadi membenciku seumur hidup!” serunya, dengan wajah memerah. Mungkin ini adalah hal memalukan untuk diakui seorang Kim Jongin dan aku tahu itu.

“Menurutmu sekarang aku masih membencimu?” tanyaku, “Dengan semua kebodohanmu berbicara di televisi, lalu kenekatanmu berhadapan langsung dengan Lee Sooman?”

Jongin mendongak dan menatap wajahku dengan wajah berbinar. Entahlah, tapi wajah dan ekspresinya saat ini membuatku geli. “Jadi kau sudah memaafkanku seutuhnya, kan?”

Aku mengedikkan bahuku santai lalu tersenyum ke arahnya. Seolah tahu maksud senyumku, senyuman di wajah Jongin juga kian melebar.

“Wah! Gomawoyo, Moonkyu-ah! Aku janji suatu hari nanti kita akan battle dance di panggung yang sama! Bersiap-siaplah!” Jongin berseru antusias. Aku terkikik kecil. Sekarang masalah impianku itu sudah semakin dekat kuraih, jadi tak kupermasalahkan jika dia menyinggungnya lagi.

“Arraseo. Kaulah yang bersiap-siap, Kim Jongin. Sebab dua tahun mendatang aku yang akan menarik seluruh penggemarmu dengan bakat menariku!” ucapku penuh percaya diri. Dan yang sudah dapat kutebak sebelumnya, ia menggembungkan pipinya sebal.

“Yah!! Percaya diri sekali kau!”

“Memangnya kenapa? Nanti aku akan lebih terkenal darimu! Wee!”

“Kim Moonkyu! Awas saja kau!! Yah!!”

“Yah! Sakit! Kenapa kau justru memukulku, sih!?”

“Balasan karena kau percaya diri terlalu tinggi!”

“Yah! Alasan macam apa itu!?”

“Alasan macam Kim Jongin! Kekeke.”

January, 25th 2014

Dear Diary

Satu hal yang kutahu. Dalam hidupku, ada seseorang yang berhasil membuatku sampai menjadi seperti ini. Namanya Kim Jongin. Baiklah, dia bukan kekasihku, asal tahu saja. Aku bukan homo. Melainkan sahabatku. Sampai selamanya. Dia berjanji suatu hal padaku, sederhana. Namun dia mengingkarinya. Aku marah. Dendamku padanya kusimpan terus hingga ia menyadari kesalahannya dan meminta maaf padaku dengan cara ala Kim Jongin. Apa aku masih tak dapat memaafkannya? Aku tak bodoh. Dia yang membuatku sampai saat ini berhasil menginjakkan kaki di atas panggung dunia hiburan. Jadi aku memaafkannya. Semua berkat dirinya. Berkat Kim Jongin.

Aku belajar banyak darinya Diary. Kau tahu? Dia hampir membuatku membuang segala impianku jauh-jauh. Lalu dia datang kembali ke duniaku dan memberiku sebuah harapan besar, sehingga aku berhasil menjadi Kim Moonkyu yang sekarang. Dia baik. Aku percaya itu. Dan orang baik bernama Kim Jongin itu akan selalu menjadi sahabatku. Kini dan nanti.

 

THE END

Iklan

24 pemikiran pada “Waeyo, Nae Chingu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s