Warera no Tatakai (Chapter1)

我らの闘い (Warera no Tatakai) #1

Title                 : Warera no Tatakai

Author             : Angelcarolin

Main Casts      : • Huang Zitao (EXO-M)

• Park Nanami (OC)

Support Casts  : • Kim Jongdae/Chen (EXO-M)

• Luhan (EXO-M)

• Kim Jaehya (OC)

• Park Junho (OC)

• Jung Hanwook (OC)

• Park Naomi/Kazuma Naomi (OC)

Length             : Series

Genre              : Angst, Drama, Family, Friendship, Romance

Rating             : General

Disclaimer       : I do not own neither do I claim each of them as mine except OCs. The rests belong to God and EXO is particularly under SM Entertainment. In addition, the idea purely comes from me. So, if there are a similarity plot, same OCs’ names, and settings, it’s just all an accidental coincidence.

Cover Credit   : as tagged

 

Author’s Note : Prayers I praise to The Almighty God because of the blessing I can come with this fanfic. I’d also like to thank my sister, JongDay, who came up, sometimes, with a brilliant idea and put it into this fanfic and for being an idea contributor and beta reader. I know it will be far away from perfection since I’m kinda new at this but I tried my best. So, enjoy reading, minna! ^^

 

© Angelcarolin 2012

 

 

“Terima kasih banyak.”

 

Seulas senyum kecil terlukis dari bibir seorang wanita yang bisa dikatakan usianya tidak muda lagi. Senyuman itu pun semakin terkembang di wajahnya di kala pria di hadapannya itu membungkuk hormat seraya membalas senyum hangat wanita tersebut. Pria dengan pakaian sedikit lusuh itu pun segera beranjak dari tempatnya kali ini.

 

Ya, setidaknya serangkaian kalimat itulah yang bisa Huang Zitao ucapkan. Pemuda itu—­yang lebih dikenal dengan nama panggilannya, Tao—tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas apa yang ia dapat hari ini. Peluh yang dengan jelas membasahi wajah tegasnya serta sinar matahari siang yang menyengat, seperti rasanya tak sungkan untuk membakar kulit putih sang pemuda, seolah menjadi pendamping kesehariannya saat ia merajai jalanan kota dan tempat-tempat yang ia kunjungi untuk sekadar mencari sekeping koin untuknya bertahan hidup.

 

Namun, kedua hal tersebut lantas tak menyurutkan semangat Tao untuk terus tetap bekerja membanting tulang—apa pun itu—selama dipikirnya pekerjaan itu bisa ia lakukan dan halal mengingat ia adalah satu-satunya lelaki dan menjadi tulang punggung yang bertanggung jawab penuh atas keluarganya. Bukan, hal itu bukan karena Tao sudah berkeluarga atau semacamnya, melainkan suatu hal pelik yang mengubah garis hidupnya beberapa derajat terbalik dari kehidupan Tao yang dulu.

 

-ooOoo-

 

Siang hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Kaos abu-abu lengan pendek yang pemuda itu kenakan telah berubah warna terutama pada bagian punggung akibat keringat yang membasahi tubuhnya karena jelas saja, terik matahari saat itu sangat kejam seakan membunuh setiap orang yang keluar pada tengah hari untuk beraktivitas. Terlihat kini pemuda berwajah tampan tersebut sedang menyeka keringat di dahinya dengan berat dengan lengan kokohnya dan duduk di bangku luar sebuah kedai—kedai ramen lebih tepatnya.

 

“Berapa yang kau dapatkan?”

 

“Lumayan banyak.” Pria yang bertubuh tidak lebih tinggi daripada Tao mengambil posisi duduk di sampingnya—masih di luar sebuah kedai yang sama. Ia kemudian melongokkan kepalanya seraya tersenyum kecut saat dilihatnya beberapa keping koin dan dua lembar uang di kantong hitam kecil milik Tao.

 

“Hanya sebanyak itu yang bisa kau dapatkan hari ini?”

 

“Ya, memangnya masalah?”

 

“Kau dengar, Tao-ya, uang sejumlah itu tidak akan memberikan kita apa-apa. Bahkan untuk satu porsi makan siang pun tidak.”

 

Tao menatap terawang lurus ke depan. Ia lalu mengelus tengkuknya, menyeka keringat yang masih mengalir dari balik kepala sembari kemudian menatap kembali pria di sampingnya dan tersenyum kecil, “Bahkan untuk satu keping koin pun kita harus mensyukurinya, Jongdae-hyung.”

 

“Tsk, sampai kapan kau akan seperti ini, Tao-ya?” Lelaki itu, Jongdae, menatap Tao seksama dengan tatapan mengintimidasi, tetapi sungguh bukan maksud Jongdae melakukannya kala itu. Ia hanya sedikit khawatir akan sahabatnya. Berulangkali Jongdae mempunyai niatan untuk membantu Tao, tetapi apa yang dapat ia lakukan? Jalan hidupnya pun sama, tidak lebih baik daripada Tao. Jongdae yang sedari tadi menatap lelaki berambut gelap tersebut mengembuskan nafas lelah karena tatapannya itu tak kunjung membuahkan jawaban.

 

“Sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku juga tidak tahu,” balas Tao pelan sambil mengarahkan pandangannya ke bawah.

 

Jongdae yang menangkap keraguan dalam ucapan Tao menepuk bahunya pelan sebelum berkata, “Kalau seperti ini sudah terlihat jelas bahwa kau tidak berbakat menjadi orang kaya.”

 

Tao menoleh. Seketika gurat wajah polosnya berganti menjadi ekspresi bingung atas apa yang Jongdae ucapkan barusan. Ia lantas mengernyitkan dahi, mengendikkan sedikit bahunya, dan membuat tangan Jongdae yang berada di sana terperosot ke bawah.

 

“Seperti kau berbakat menjadi orang kaya saja, Hyung,” sahut Tao membalikkan ucapan Jongdae, “bahkan penghasilan kita tidak berbeda jauh.”

 

“Hey! Lantas kenapa? Penghasilanku memang tidak banyak—sama sepertimu. Namun, setidaknya beban yang harus aku topang tidak banyak, Tao-ya. Kau bisa lihat, kan?”

 

Lagi. Tao hanya mengarahkan pandangannya ke bawah, sepertinya pemandangan tanah coklat gelap di bawah sana lebih menarik perhatiannya ketimbang menyahuti lagi apa yang dikatakan sahabatnya barusan. Ia sebenarnya ingin membalas perkataan Jongdae, tetapi apa yang ia punya untuk memperkuat argumennya? Kenyataan pun berpihak pada Jongdae. Jongdae yang melihat perubahan ekspresi wajah Tao langsung bergelagat gelisah mengingat ucapannya yang mungkin saja menohok hati Tao dan Jongdae bersumpah tidak ada niatan sama sekali untuk berkata seperti itu apalagi sampai menyakiti hati sahabat yang usianya lebih muda satu tahun darinya tersebut.

 

“M-maaf, Tao-ya, aku tidak bermaksud untuk… Uhm, maksudku—” gelagap Jongdae di hadapan Tao dan lelaki di hadapannya itu langsung memutus perkataannya.

 

“Tak apa, Hyung. Aku tahu dan aku sadar akan hal itu. Sudahlah, lagipula aku memang harus me—” kali ini giliran ucapan Tao yang terpotong, tetapi bukan karena Jongdae. Keduanya menolehkan kepala bersamaan saat terdengar suara cempreng milik seorang gadis yang tak jauh dari tempat mereka berada sedang berjalan menghampiri mereka berdua.

 

“Jae, sedang apa kau di sini?” sergah Jongdae ketika ia melihat sosok adik perempuannya ada di hadapannya saat ini.

 

“Tugasku sudah selesai, Oppa. Tadi aku sudah kembali ke rumah tapi Eomma malah menyuruhku untuk mencarimu,” jelas Kim Jaehya singkat.

 

“Lalu, berapa yang kau dapatkan dari An Ahjumma?” tanya Jongdae kembali.

 

“Uhm, ini.” Jaehya merogoh saku celananya dan menangkup sejumlah uang dalam satu genggaman dan memberikannya pada Jongdae yang sudah siap dengan menangkupkan kedua tangannya. Tao yang penasaran akan hal itu mengikuti arah gerak tangan Jongdae dan Jaehya bersamaan.

 

“Lumayan. Kenapa kau tidak memberikannya langsung ke Eomma?”

 

“Aku tadi sudah memberikannya, Oppa! Tapi ini adalah uang sisa yang Eomma berikan padaku. Katanya kerjaku hari ini lebih cepat dari biasanya,” jelas Jaehya dengan cengiran manis yang menampilkan deretan giginya yang kecil.

 

Tao yang semakin penasaran pun angkat bicara mencoba memasuki percakapan antara kakak beradik itu. “Memang apa yang kau kerjakan hari ini, Jae-ya?” tanya Tao pada akhirnya. Jaehya tidak lantas menjawab pertanyaan Tao. Alih-alih menjawab, ia hanya memandangi wajah Tao yang mengkilat—akibat wajahnya yang berpeluh dan tersorot matahari senja—sambil sesekali mengerjapkan matanya. Menyadari ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya, Tao mengibas-ibaskan tangan di depan wajah Jaehya dan hal itu berhasil membawa Jaehya kembali ke alam sadarnya.

 

“Jae-ya?”

 

“Y-ya? Hari ini aku… Aku, uhm… mencuci pakaian di rumah An Ahjumma,” jawab Jaehya gelagapan. Ada apa sebenarnya dengan Jaehya sampai membuatnya seperti itu? Entahlah, hanya Jaehya yang merasakannya. Tao hanya menatap Jaehya bingung, tetapi nampaknya Jongdae tidak peduli akan hal itu.

 

Merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang, Jaehya sontak memalingkan wajahnya dari Tao dan mulai mencari topik pembicaraan lain dengan berkata kepada Jongdae, “Uang itu untukmu saja, Oppa.”

 

“Eh?”

 

“Tak apa. Eomma sudah memberitahuku tadi. Kau harus bekerja lebih keras mendapatkan uang tambahan untuk mengganti sepatu pelangganmu yang rusak, iya kan?”

 

Tidak diketahui apakah saat itu Jongdae menjadi salah tingkah mendengar penuturan adik sematawayangnya tersebut yang jelas ia sangat terlihat tidak nyaman—sama seperti Jaehya tadi. Ia berulangkali menundukkan kepala kemudian mendongakkannya sekadar melihat ke arah Jaehya dan beralih ke arah Tao sekilas sambil mengusap bagian belakang kepalanya. Begitu seterusnya yang ia lakukan sampai Tao angkat bicara, “Memang apa yang kau lakukan, Hyung?”

 

Pertanyaan Tao dengan cepat membuat pergerakan tidak jelas Jongdae terhenti. Dengan mendesah pelan lelaki itu menjawab, “Kemarin saat aku membersihkan sepatunya, tak sengaja ada kawat yang menyangkut di kain lapku. Aku juga tidak menyadarinya sampai aku lihat sepatu miliknya lecet dengan goresan panjang di sepanjang sepatu. Aku yakin pasti karena kawat itu,” jelasnya panjang dan melanjutkan, “ini semua memang kelalaianku.”

 

Bagaikan dunia runtuh, Jongdae saat itu benar-benar menyesali perbuatannya. Bisa-bisanya di keadaan yang serba pas-pasan ia lalai dalam menjalankan pekerjaan, lihat saja hasilnya. Ia sekarang harus bertanggung jawab mengganti sepatu salah satu pelanggan barunya—karena memang jika orang itu adalah pelanggan setia Jongdae, maka ia tidak sampai sepenuh hati menuntut Jongdae untuk mengganti sepatunya. Apalagi sampai melibatkan adiknya. Memang ini bukan kehendak Jongdae dan ia tidak memaksakan hal itu, tetapi tetap saja Jongdae tak merasa enak hati menerima uang pemberian Jaehya.

 

“Sudahlah, Hyung. Lagipula adikmu yang manis ini sudah berbaik hati memberikanmu bantuan. Benar, kan, Jae-ya?” ujar Tao tersenyum sambil memegang bahu Jaehya akrab. Jongdae masih tetap ragu untuk membenarkan perkataan Tao, tetapi mulai berani mendongakkan arah pandangnya.

 

“Ah, i-iya… Yang dikatakan Tao-oppa benar. Kau tidak usah lagi me— Uh…” balas Jaehya terpotong. Ia langsung meringis dan sedikit membungkukkan badannya setelah terdengar suara seperti gemuruh berasal dari perutnya yang ternyata barusan sempat membuat ucapannya terpotong diikuti dengan desahan mengaduh. Jongdae dan Tao bersamaan mengangkat alis mereka bingung melihat gadis di hadapan mereka berdua masih menunduk sambil memegangi perutnya.

 

“Kau lapar?” selidik Jongdae masih dengan alisnya yang naik. Jaehya tidak menjawab karena menurut anggapannya itu akan membuat kakaknya khawatir. Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataannya ia sudah menahan lapar sejak tadi. “Apa kau belum makan siang?” tambah lelaki itu meminta jawaban lebih jelas karena orang yang ditanyainya hanya mengangguk samar.

 

“Belum, Oppa.”

 

“Kenapa?”

 

“Saat aku kembali ke rumah, tidak ada makanan sama sekali di sana. Dan ketika aku ingin menanyakan pada Eomma, tampaknya ia sedang sibuk. Jadi aku tak mau mengganggunya.”

 

“Ya sudah, kalau begitu kita cari makan. Pakai uang ini saja dulu.”

 

“Lalu, bagaimana dengan sepatunya, Oppa?”

 

“Tenang saja, aku akan bekerja ekstra menggantinya.”

 

Mendengar itu, Jaehya langsung tertunduk. Ia merutuki dirinya sendiri; berkata yang macam-macam di dalam hatinya seolah di sana terdapat kerumunan orang yang memberontak. Jika saja saat itu perutnya tidak berbunyi menandakan ia sangat kelaparan, pasti kakaknya tidak akan mengorbankan uang yang pada awalnya ia berikan untuk membantu lelaki itu. Namun, apa jadinya sekarang? Semuanya menjadi terasa sia-sia bagi Jaehya—setidaknya itu yang ia rasakan.

 

Semua menjadi diam saat Jongdae belum juga memutuskan kemana mereka akan mencari makanan sampai Tao yang pada akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka itu berucap, “Kebetulan sekali ini kedai ramen, Hyung. Bagaimana kalau kita makan di sini saja?” Jongdae membuka mulut; bermaksud untuk mengembangkan senyumnya untuk menyetujui ide Tao. Lalu, ia memandang penuh selidik kedai yang sejak tadi mereka punggungi itu. Tempatnya tidak terlalu besar—sangat jauh dari kesan mewah, jelas saja mana mungkin mereka makan di tempat seperti itu. Namun, setidaknya kedai tersebut cukup meyakinkan mereka untuk mengisi perut di sana karena sore itu kedai tampak ramai dikunjungi pelanggan. Jongdae menatap keduanya dan mengangguk menandakan mereka untuk masuk ke kedai kemudian melangkah lebih dulu memimpin jalan mereka. Yang Jongdae lakukan hanyalah memasuki kedai sambil sekali menelan ludah berharap makanan yang akan masuk ke dalam perutnya bisa dijangkau harganya.

 

-ooOoo-

 

“Cepat masuk!” perintah pria tua itu kasar. Ia tampaknya memendam amarah yang memuncak, terbukti dengan terdengarnya suara pintu berdebam keras ketika pintu itu dihempaskannya dengan kencang. Nafas pria itu terengah-engah, terlihat sekali bahwa ia sekarang sedang berusaha menahan amarahnya; ia takut jika sesuatu yang buruk kembali terjadi jika emosinya tidak terkontrol dengan baik. Ia mengusap wajahnya perlahan dan berkata, “Nanami,” sapanya, “maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu.” Tidak adanya jawaban dari orang yang sedang diajaknya berbicara itu membuatnya melanjutkan kalimatnya, “Sebaiknya kau bersiap-siap dari sekarang. Aku akan meminta Jung Ahjussi untuk mengantarmu ke tempat janji kita pukul tujuh malam.” Mengambil beberapa menit yang berharga bagi pria itu untuk menunggu jawaban atas perkataannya ternyata tidak berhasil. Nanami—gadis yang sedari tadi diajaknya bicara—tidak juga merespon ucapan sang pria di luar kamarnya, entah apa yang ia lakukan di dalam sana.

 

Kini gurat wajahnya berubah menjadi wajah yang dipenuhi kecemasan. Ia takut kalau perlakuannya pada Nanami tadi membuat gadis itu tersakiti karena memang setiap wanita sangat tidak pantas untuk disakiti, baik fisik, mental, maupun hatinya. Bukankah wanita adalah makhluk paling berharga di dunia ini—bahkan mengalahkan butiran mutiara pun? Namun, ia tak punya pilihan lain yang mengharuskannya bertahan lebih lama di depan pintu kamar gadis itu dan memohon padanya agar ia membalas perkataannya tadi. Dengan enggan, ia membalikkan tubuhnya dan beranjak dari tempatnya berdiri sambil membetulkan jasnya yang sedikit berantakan.

 

“Maaf, Sajangnim. Apakah Anda akan pergi lagi?” tanya seseorang menyambut pria tadi yang sekarang sudah berada di anak tangga terakhir yang ia turuni. Seorang pria yang usianya kira-kira tidak jauh berbeda dengan lelaki di hadapannya itu memakai setelan jas hitam dengan dalaman kemeja putih serta dasi kupu-kupu hitam yang bersarang di lehernya. Tampaknya ia adalah kepala pelayan di rumah itu, mungkin?

 

“Ya, masih ada beberapa urusan yang harus kutangani di kantor. Kau tahu? Ini sangat melelahkan bagiku.”

 

“Saya mengerti, Sajangnim.”

 

Tidak ada lagi yang membuka suara. Sepertinya membiarkan keheningan mendominasi keadaan saat itu tidak buruk juga, toh memang tidak ada hal penting lain yang perlu dibicarakan. Lagipula nampaknya, lelaki di hadapannya kini terlihat gusar seakan dirundung masalah yang rumit. Dilihatnya ia berjalan lunglai ke arah sofa sembari beberapa kali memijat-mijat keningnya yang sudah mulai berkerut kemudian mendudukan dirinya di sofa itu. Dengan helaan nafas berat, ia menengadahkan pandangannya dan mengembuskan nafas bulatnya tinggi-tinggi sambil melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Sedang pria lain yang sedari tadi hanya berdiri dekat tangga memandangi pria itu segera beranjak dan menghampirinya. Ia memperhatikan wajah letih itu dengan khawatir sebelum mengambil posisi berdiri di balik sofa dengan kedua tangan menyilang ke bawah di depan.

 

“Hanwook-ssi, bisa aku minta tolong padamu?” tanya pria yang duduk di sofa itu tiba-tiba, memecahkan kesunyian.

 

“Ya, Sajangnim, katakan saja,” jawab lelaki di belakangnya dengan sopan dan melanjutkan, “apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?”

 

“Tolong kau urus Nanami. Sejak aku menyeretnya ke kamarnya tadi, ia diam saja—tidak merespon perkataanku. Aku khawatir padanya.”

 

“Baik, Sajangnim, saya mengerti. Apakah ada lagi?”

 

“Hmm. Kau siapkan juga semua keperluannya. Aku ingin mengajaknya bertemu dengan kolegaku nanti malam. Jadi, pastikan semua kebutuhannya untuk malam ini terpenuhi. Dan satu lagi, kau antarkan Nanami ke tempat pertemuan kami. Di mana tempatnya akan kukabari lagi.”

 

“Baiklah, Sajangnim, akan saya laksanakan.”

 

Pria yang sedari tadi duduk membelakangi pria lain yang berdiri di belakang tak jauh dari tempatnya duduk itu pun tersenyum dan menoleh sambil berkata, “Terima kasih, Hanwook-ssi, kau telah banyak membantu.”

 

“Dengan senang hati.” Kentara sekali seberapa hormatnya ia pada lelaki di hadapannya itu ketika ia menanggapi sederhana apa yang atasannya—bukan, melainkan pemilik rumah tersebut—ucapkan barusan dengan membungkukkan badannya beberapa derajat.

 

Kini sang tuan rumah bangkit seraya meraih tas kerjanya yang tadi ia sampirkan di tangan sofa. Ia membenarkan sedikit posisi tas di tangannya dan tak lama berjalan melewati pelayan rumahnya itu yang diketahui bernama Hanwook—Jung Hanwook lebih tepatnya. Sebelum tuannya benar-benar menghilang di balik pintu, Hanwook memutus langkah lelaki itu dengan berkata, “Uhm, Park Sajangnim,” panggilnya, “berhati-hatilah di jalan.” Orang yang dimaksud itu pun tersenyum kecil, memang singkat tapi menghangatkan.

 

-ooOoo-

 

Jam di ruangan besar itu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Itu berarti masih ada sisa setengah jam lagi dari waktu yang ditentukan oleh si pemilik rumah mewah tersebut; ia adalah Park Junho. Seharusnya semua sudah siap karena lebih baik menyimpan waktu setengah jam lebih awal untuk sampai ke tempat tujuan daripada terlambat, kan? Akan tetapi, pada kenyataannya, semua masih sama saja—pada posisi dan kegiatan masing-masing. Terutama gadis itu, Nanami. Sejak sore tadi, Nanami tidak menunjukkan batang hidungnya pada siapa pun yang berada di rumah. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di kamar sejak kejadian di mana ayahnya, Park Junho, menyeretnya dengan kasar ke kamar miliknya. Ya, Tuan Park adalah ayah Nanami.

 

Tuan Park adalah seorang contractor di sebuah perusahaan swasta yang bergelut di major oil and gas. Perusahaan tersebut terbilang besar dan terus menerus berkembang di setiap proyek yang mereka tangani. Posisi Tuan Park sebagai direktur jenderal, kekuasaannya terhadap perusahaan, dan pengalamannya bekerja membuatnya mudah untuk memenangkan berbagai proyek yang ditenderkan. Maka dari itu, jangan heran bila Tuan Park bisa meraih untung sampai ratusan juta won untuk satu proyek yang perusahaannya menangkan—itu pun kalau proyek yang ditanganinya lancar dan berhasil.

 

Suatu ketika, Tuan Park menangani proyek di Laut Cina Timur untuk sebuah perusahaan kilang minyak dan gas bumi terbesar milik Amerika bernama ExxonMobil. Ia—dan perusahaannya—yang berstatus sebagai contractor bekerja sama dengan perusahaan kontraktor lain asal Jepang bernama Oita Corporation dan juga beberapa sub-contractor lainnya. Di sinilah cerita berkembang. Oita Corporation merupakan kolega bisnis yang tidak bisa diremehkan. Perusahaan itu juga cukup sering memenangkan beberapa tender. Walaupun itu semua hanya tender proyek lokal, tetapi nama baik perusahaan itu sudah tercetak mendunia. Tak jarang, selain mereka menangani proyek lokal, mereka juga membagi pekerjaan pada sub-sub tertentu untuk sekadar bernegosiasi dengan klien asing.

 

Pemimpin Oita Corporation tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk menangani proyek milik ExxonMobil tersebut. Maka dengan keputusan bijak yang sudah ia pikirkan matang-matang, ia pun berani untuk menyerahkan kekuasaan penanganan proyek tersebut kepada seorang manajernya, Kazuma Naomi. Meskipun bukan seorang direktur, tetapi kerja Naomi bisa diandalkan. Sedang dari pihak PJS Inc.—perusahaan milik Tuan Park—adalah Tuan Park sendiri yang terjun langsung melaksanakan proyek tersebut. Tentu saja Tuan Park dan Naomi sering bertemu karena berada di satu proyek yang sama dan Tuan Park rasa, Naomi adalah partner kerja yang menyenangkan. Seiring dengan rapat-rapat besar yang sering mereka hadiri membuat intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering. Mereka juga tak jarang menghabiskan waktu di luar jam kerja sekadar untuk meminum kopi, membicarakan hal sederhana mengenai proyek mereka, bahkan sampai berujung ke pembicaraan pribadi. Dan ini yang Tuan Park rasakan. Ia telah jatuh hati dengan Naomi—yang jelas berdarah asli Jepang—dan dengan mantap menyatakan bahwa ia akan memperistri Naomi.

 

Setelah proyek mereka selesai, mereka berdua pun akhirnya menikah. Naomi meminta pihak perusahaan untuk memindahtugaskan wanita itu ke PJS Inc. dengan alasan ia ingin ikut suaminya, Tuan Park, kembali ke negara asal—Korea Selatan. It is obviously because of her husband, siapa pun akan berpikiran seperti itu, bukan? Di perusahaan barunya itu, ia hanya mendapatkan jabatan sebagai sekretaris—sekretaris pribadi Tuan Park tentunya. Memang bukan posisi yang tinggi, tetapi itu cukup membuatnya senang selama ia bisa berada di sisi suaminya. Begitu juga dengan Tuan Park. Beberapa waktu berselang setelahnya, Naomi mengambil cuti selama setahun karena saat itu ia sedang mengandung. Ya, mereka akan segera memiliki momongan. Sampai lahirlah seorang putri cantik bak bidadari ke dunia ini yang sekarang sedang bermuram diri di kamarnya tanpa melakukan apa pun—gadis itu Nanami.

 

Waktu pun telah berlalu menunjukkan pukul 6:45 PM. Namun, tidak ada niatan sedikit saja bagi Nanami untuk beranjak. Ia hanya duduk di atas tempat tidurnya yang berukuran cukup besar sambil memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Sedetik kemudian, ia mengangkat kepala dan meraih pigura foto yang berdiri manis di atas dressing table. Pikirannya tiba-tiba dipenuhi dengan sekelebat memori yang seakan melilit kepalanya yang terasa pening. Ia pun seakan terbawa imajinasinya sendiri dan menyusuri kehidupan lamanya. Lama pula ia memandangi foto tersebut sampai tak ia sadari air mata sudah jatuh membasahi pipi mulusnya. Lamunannya pun buyar dan ia kembali ke alam sadarnya sadar sebuah ketukan pintu mengusiknya.

 

“Nona, sudah saatnya Anda pergi.”

 

Ia tahu betul suara itu. Nanami menghapus air matanya perlahan seraya berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata seorang pemuda berparas manis yang ditemukannya sedang tersenyum dan membungkukkan badannya hormat ke arah gadis di hadapannya itu. Nanami hanya memandang pemuda itu dengan tatapan kosong dan berkata, “Aku tahu, Luhan-ssi. Aku akan segera ke bawah.” Tanpa menunggu jawaban dari pria bernama Luhan tadi, Nanami langsung menutup pintunya kembali, agak keras terdengarnya. Luhan tahu maksud gadis itu dan beranjak menuruni tangga.

 

“Bagaimana?”

 

“Aku sudah memberitahunya. Tapi, dia tampak sangat kacau. Dia bahkan belum bersiap-siap,” balas Luhan menerangkan, “sepertinya dia sedang mempunyai masalah, Abeoji.”

 

“Aku tahu,” jawab Jung Ahjussi pelan. Ia teringat kembali perkataan Tuan Park tadi sore. Ia baru sadar ternyata ini yang dimaksud beliau saat itu. Entah bagaimana, Jung Ahjussi merasa tidak seharusnya Nanami mengalami ini semua. Nanami—gadis polos, baik, dan pintar—sudah terlalu sering tersakiti dengan keadaan seperti ini. Semuanya diketahui jauh berbeda dengan Nanami dulu yang dengan riang melepas tawanya, mudah memanyunkan bibirnya di kala ia marah atau kecewa tetapi di saat yang sama kembali tertawa riang. Jung Ahjussi ingat akan hal itu. Memang ia hanyalah seorang kepala pelayan di keluarga Park, tetapi setelah selama bertahun-tahun ia bekerja di rumah itu dan membantu Nyonya Park mengasuh Nanami sejak kecil membuatnya menyayangi gadis itu dan telah menganggapnya seperti anak sendiri.

 

“Luhan, kau bersiaplah. Malam ini kau saja yang menyetir,” ucap Jung Ahjussi, tidak mau begitu terlarut dalam pikirannya.

 

“Ah, ya, Abeoji. Akan kupastikan sekali lagi Nona Nanami—” ucap Luhan terputus karena kedatangan seorang gadis. Terlihat gadis itu kini terbalut dengan gaun selutut berwarna soft orange berlengan pendek. Rambut ikalnya ia sampirkan ke bahu kiri, memperlihatkan tengkuknya yang indah. Polesan make-up sederhana makin memperlihatkan kecantikan gadis ini, tetapi tetap saja gurat kesedihan masih terpampang jelas di wajahnya. Dengan menatap gadis di hadapannya tanpa henti, tak sadar kini Luhan sudah menganga lebar akan paras cantik gadis itu.

 

“Tak perlu. Sekarang aku sudah siap.”

 

To be continued…

 

 

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga! 8D Thank you guys so much for reading this fanfic. I thank you a lot, whoever! OK deh, sedikit kata-kata aja. FF ini adalah murni karya pertamaku. Selama ini aku cuma jadi reader di berbagai blog, tapi menurutku sayang banget kalo nggak mau mencoba menuangkan ide cerita sendiri. Nah, berhubung ini masih chapter 1, FF perdana yang aku buat, dan pengalaman pertamaku menulis FF, jadi aku sangat mengharapkan apresiasi dari kalian, readers. Aku tau aku masih amatir dalam hal ini dan FF-ku masih jauh dari kata sempurna. Makanya, paling tidak bantu aku to make it better on and on.

 

So, the question is, FF ini mau lanjut apa nggak? Aku lihat dulu antusias pembaca, kalo banyak yang suka dan berharap aku lanjutin ceritanya, ya, aku teruskan menulis. Tapi kalo sepi, nggak banyak tanggapan, terpaksa aku cut out. Filling a blank paper with a run-out-of-ink pen is useless, right? Jadi, sama aja. Buat apa nulis kalo nggak ada pembacanya, apalagi apresiasi. I’m looking forward to your LIKE and COMMENT. Komen apa pun akan kuterima selama itu baik :] Terima kasih sebelumnya.

 

P.s.: Oh ya, if anyone of you here knows Japanese a lot, please excuse the title—if it’s a mistake. I’m kinda into Japanese and while I was writing this fanfic, I tried to dig more about the language as well. So, please bantu koreksi juga kalo ada yang salah. Gomawoyo ;]

Iklan

9 pemikiran pada “Warera no Tatakai (Chapter1)

  1. hai.. q udah baca dan aku mau komenin beberapa poin
    aku suka bahasa penulisannya yang rapi. dan yang aku suka adalah penggambaran tokoh2nya tao, jongdae dan jaehya yg jadi orang dengan keuangan pas2an atau bahkan kekurangan dan bekerja keras demi keluarga. karena gak semua org hidup dengan bergelimang harta. 🙂
    yang jadi ganjalan hanya adanya kata2 berbahasa korea. mungkin lbh oke kalau pakai istilah2 bahasa jepang karena judulnya kan jepang banget tuh. pasti keren. hehehe

    untuk nanami dan cast2 lainnya penggambarannya sudah cukup oke.
    saranku, jangan sampai lanjutan ceritanya jadi klise atau mudah ditebak dan usahakan untuk nggak muter2 alurnya, jd reader gak bosan.
    lebih perhatikan inti ceritanya, jadi pesan yang ingin disampaikan ke reader bisa nyampe dengan tepat.

    km patut bangga krn km berani buat nulis dan tumpahin apa yg ada dalam pikiranmu.
    eep writing dan cari banyak inspirasi dr sekitarmu, pasti banyak banget yg bisa dijadiin cerita
    :))

    FIGHTING!!!

    • Hai, mejiemagic. Thank you for reading 🙂 Terima kasih juga untuk sarannya.

      Umm, pertama mungkin kalo bahasa aku bakal nyesuain sama masing-masing karakter. Misal: 1) Tao – Cina; 2) Jongdae – Korea; 3) Nanami – Jepang. Tapi aku juga buat bahasanya beragam. Kalo alur mungkin bukan muter-muter kali ya, melainkan lambat supaya lebih soft, hehe.

      However, I’ll try my best to make it better dan aku masih belajar dalam menulis, apalagi cerita fiksi ‘ ‘
      Domo arigatou gozaimasu ne! ^^b

  2. Bagus! Kalimatnya gak kayak orang yang pertama kali bikin ff loh, keren! X3

    Tapi ngenes yah, itu hidupnya Tao sama Jongdae begitu amat……. Mana dua-duanya unyu pula *apa hubungannya?*

    Satu kata sebagai akhir dari komen gak penting ini: LANJUT! ^ ^

  3. Keren, tp kalau boleh tau arti dari judulnya apa ya thor? Hehe
    penulisannya bagus, gampang di pahami, ceritanya si kaya dan si miskin gitu ya? Lanjut ya thor, hwaiting!! ^^

    • Hai, Cheezy. Itu artinya “Perjuangan Kami”, kira-kira begitu. Seiring berjalannya cerita nanti kamu pasti tau kok perjuangan kayak apa yang dimaksud 🙂

      Hehe, ditunggu aja yang selanjutnya. Thanks for reading!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s