Hurt (Jihyun Version)

Author: Mrs. Hae | Title: Hurth

 

Cast: Sehun and Jihyun

 

Genre: Angst.

 

Length: Ficlet or Drabble.

 

Disclaimer:

This story belongs to me also 100% the result of my thinking. Typo scattered everywhere also no bash and Plagiarism are strictly prohibited. Member EXO in the main cast this story belongs SME, God, and their parents, but Sehun and Baekhyun is mine. OC is mine and if do not like to play Cast or Genre not have to read.

Hurth.

 

Sakit’ itulah yang kurasakan. Mengetahui seseorang yang kita Cintai hanyalah mempermainkan kita. ‘Tidak’ bukan mempermainkan, namun rasa iba terhadapku yang begitu mengharapkan cintannya dulu sehingga menerima cintaku atau mungkin iba juga tidak. Walaupun begitu tidakkah seharusnnya ia tak mempermainkanku. Apa itu arti panggilan “Chagi” darinnya terhadapku. Apakah panggilan seorang majikan pada anjingnnya.

 

Mengapa Cinta itu begitu menyakitkan! Tidakkah Tuhan terlalu jahat padaku. Membiarkan merasakan sakit yang begitu dalam. Jatuh dalam kesendirian juga tak tahu harus apa. Hanya dapat terdiam. Bertahan sebisa mungkin, menahan sakit yang setiap hari menusuk tubuh dan hatikku.

 

Menatap wajah tampan dan teduhnnya dengan lembut. ‘dia memejamkan matannya’ tampan ‘sangat’ tampan malah. Tapi aku harus apa! Hatinnya bukanlah untukku. Sedikitpun bukan untukku atau milikku. Namun milik Eoniku. Kenapa dia dan Eoniku begitu jahat! Mempermainkanku. Mempermainkan hatikku juga cintakku. Mempermainkan hidupku. Tidakkah Eonikku berpikir bahwa waktuku ini sedikit! ‘dia tak tahu’ eoniku ‘ia tak tahu apa yang terjadi padaku’ ia hanya mengetahui bahwa aku dongsaengnya yang selalu ceria juga tersenyum kepada semua orang.

 

Namun nyatannya. Menyakitkan. Hanya tawa juga senyumanlah yang membuatku tidak terlihat lemah didepan semua orang ‘orang tuaku, eoni juga dia’ namun tetap saja aku dianggap lemah oleh mereka. ‘aku memang lemah’.

 

Aku memang lemah ‘karena itu memang kenyataan’. Namun mereka tetap saja tak tahu. Mungkin juga walau mereka tau. Mereka semakin menjauh dariku. Dari sosok diriku yang sangat membutuhkan cinta ‘namun tak memiliki cinta’.

 

Kusenderkan kepalaku pada bahu miliknnya.

 

“Apa kau mencintaiku!” aku bertannya pada pemilik dari bahu yang kusenderkan ini sambil menahan tangis yang paling tak suka kuperlihatkan pada semua orang.

 

“………” dia tak menjawab. Dia memang tak mencintaikku. Merasakan hawa dingin dari angin sepoi yang berhembus dikursi taman yang sedang kududuki bersamannya.

 

“oppa! Apa kau mencintaikku! Mencintaiku?” aku bertanya lagi padannya sambil menekankan kata ‘mencintaiku’.

 

“Ne” jawaban singkat dan pelan keluar dari bibir tipis miliknnya. Tersenyum pahit ‘itulah yang kulakukan’ menggigit bawah bibir agar tak terisak juga mengepal kuat tanganku ini.

 

“benarkah! Bagaimana jika aku meninggalkan oppa!”

 

Ia manatapku. Menatapku dengan expresi datar. Berbeda denganku. Memandangnnya penuh pilu.

 

 

 

wae!” pertanyaan singkan yang dia lontarkan padaku namun masih dengan wajah yang datar. Aku tersenyum. Tersenyum kecut.

 

“aku hanya bertanya!” memalingkan wajah kearah depan. Tak ingin memperlihatkan wajahku yang sudah di aliri aliran kecil di wajahku. ‘namun ia tetap tak menyadarinya’.

 

Ia juga mengalihkan wajahnnya kearah depan juga melepaskan genggaman yang ia berikan padaku. Menatap kosong pemandangan yang kulihat dari depan. Tak dapat berpikir. Itulah yang kurasakan.

 

“jika aku mati, apakah oppa akan setia padaku atau melupakanku dengan mencari yeoja lain!” Aku tak tahan atas sikap datarnnya padaku. Membuatku berkata seperti itu dengan nada tinggi dan dengan berani menatap lekat wajah tampannya.

 

Dia memandangku. Namun pandangannya berubah ‘tak dapat kuartikan’. Ku palingkan kearah depat. Menghindari kontak mata dengannya. Aku tak dapat menahan air mata ini. Namun haruskah.

 

‘haruskah’ aku menangis dan membuatku menjadi lemah terhadap dirinnya. Kutahan diriku untuk tidak menangis. Helaan nafas terdengar. Memecahkan keheningan antara aku dengan dirinnya. Namun hanya helaan nafaslah yang keluar dariku ataupun dengannya. Lidahku saat ini kelu. Tak dapat berbicara apa-apa, otakku kosong, tak dapat berpikir jernih. Yang dapat kupikirkan hanyalah ‘apakah aku akan mati dengan rasa perih’.

 

Kusenderkar kepalaku pada bahunya ‘lagi’. Memejamkan mata. Menghirup udara segar dari tempat dimana aku ada. Membiarkan rasa sakit dikepala membunuhku. Hanya dialah yang dapat menghilangkan rasa sakit yang ada dikepalaku ini. Seperti obat penahan rasa sakit. Dan mungkin ini yang terakhir kalinya aku menyadarkan bahu padannya juga pertama kalinnya menangis dibahunnya. Membuat bajunnya agak basah akibat air mataku.

 

“Saranghae” menjadikan kata itu. kata terakhir yang kuucapkan padanya. Pada Oh Sehun namja yang kucintai. Saat aku memandang arah depan. Aku melihat cahaya yang begitu terang. Kulangkahkan kakiku untuk pergi melihat sumber cahaya tersebut namun tiba-tiba aku sudah tak melihat sehun dari pandanganku. Aku menangis secepat itukaha aku pergi. Sebelum mendapatkan cinta dari semua orang yang kucintai

 

Melepaskannya ‘OH Sehun’ untuk bersama dengan Eoniku. Membuatnnya tak lagi terkekang atas sikap egoisku padannya juga pada Eoniku. Membiarkan mereka hidup bahagia dengan kepergianku yang begitu menyedihkan.

 

END

dan Gomawo kepada admin yang udah mau ngepos FF abal milik saya

11 pemikiran pada “Hurt (Jihyun Version)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s