Apakah Aku Jelek? (Chapter 1)

APAKAH AKU JELEK?

 

Title                              : Apakah Aku Jelek?

Author                        : AC

Main Cast                  : Park Jin Ri (OC) & Xi Luhan (EXO-M)

Other Cast                : Kim Jong In (EXO-K), Goo Se Ra (OC), etc.

Genre                          : Romance, Friendship

Length                       : Chaptered

Rating                         : Teen

Author’s Note       :

Annyeong…. Ini FF pertama aku hehe, jadi maaf aja klo abal-abal banyak typo dan jelek.

 

 ____________________________________-

 

 

Chapter 1

Hai! Namaku Park Jin Ri, biasa dipanggil Jin Ri oleh teman-temanku. Aku anak tunggal. Ayahku bekerja sebagai Direktur di Perusahaan yang beliau dirikan. Ibuku adalah designer terkenal di Korea Selatan. Yang kalian pikirkan pasti aku adalah anak dari orang kaya. Dan benar sekali, aku memang anak dari orang kaya yang setiap hari sibuk dengan pekerjaan mereka. Ehm aku sebenarnya kesepian. Tapi karena aku mempunyai sahabat yang bisa menemaniku setiap saat jadi kesepian tersebut bisa teratasi hehe.

 

Namanya Luhan. Xi Luhan nama lengkapnya. Dia blasteran Korea-China sehingga dia bisa 2 bahasa juga. Dia sahabatku dari kecil. Yah kira-kira dari aku TK hingga sekarang—SMA. Dia satu sekolah denganku mulai dari kami TK hingga SMA. Kedua orang tua kami sangatlah dekat. Oleh karena itu terkadang jika ayah tidak ada di rumah, ayah sering meminta Luhan untuk menjagaku. Huft sebenarnya sih tidak apa-apa Luhan menemaniku jika orang tuaku tidak ada di rumah. Tapi aku sangatlah ingin merasakan dimanja oleh orang tuaku sendiri. Aku ingin ayah dan ibuku sering di rumah dan kami berbagi cerita, ya pokoknya seperti itulah. Tapi kenyataannya, tidak. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri.

 

Baiklah aku bahas yang lain saja. Ehm oya, menurutmu aku cantik tidak?  Karena dari aku lahir sampai sekarang aku jomblo. Tidak ada satupun pria yang menyatakan rasa cintanya padaku. Bahkan pria yang dekat denganku hanya Luhan saja, selebihnya hanya teman biasa dan tidak terlalu dekat. Aku heran, apakah karena aku tidak seberapa cantik atau tubuhku tak menarik? Sehingga pria tidak ada yang menyatakan cintanya padaku. Aku sangatlah ingin mempunyai pacar yang bisa diajak berkencan, kalau satnite ngedate berdua atau hanya jalan-jalan biasa seperti teman-temanku yang lain. Memang sih jika dibanding dengan teman-teman wanita yang lain, aku tidak seberapa cantik dan tinggi. Tapi Luhan bilang wajahku imut. Tapi sama saja aku ingin dibilang cantik. Aku sedih sekali, pokoknya aku ingin cantiiiiiiik huaaaaaaa!!!!!

 

Author POV

“Yya!! Jin Ri-ah!! Bangunlah ini sudah jam berapa. Kau ingin tidak masuk sekolah atau bagaimana sih?” seru Luhan sambil menepuk-nepuk pipi Jinri.

 

“Aishhhh oke kalau begitu. Aku gunakan cara seperti biasa.” Luhan pun segera ke kamar mandi dan membawa satu gayung air untuk menumpahkannya pada Jinri.

Byuuuuur…

“LUHAAAAAAAAAAN!!!! SIALAAAAN!!!!” teriakan Jinri yang sangat cempreng itu pun menggema di setiap sudut rumahnya itu.

 

 

Mobil Luhan

Jinri POV

 

“Luhan, sebenarnya apa sih maumu bangunin aku dengan cara yang seperti itu? Kan bisa dengan cara yang baik-baik. Aissssh sahabat macam apa kau ini. Sangatlah jahat sekali kau mengerti huh?” kataku sambil mendengus kesal ke arah Luhan yang sedang berkonsentrasi menyetir itu.

 

“Cara yang lembut sudah kugunakan Jinri-ah, tapi kau tidak bangun-bangun. Seharusnya aku yang kesal, setiap hari membangunkanmu dan itu menyusahkanku. Apalagi kau kuantar-jemput saat sekolah. Bukannya terimakasih malah marah-marah.” Sekarang Luhan malah mendelikku.

 

“Oh jadi kau tidak ikhlas begitu? Baiklah mulai pulang sekolah nanti aku akan naik bus sendiri. Dan tenang saja, aku tidak akan mengadu ke Ayah.” Ucapku sambil melihat ke arah jendela mobil.

 

“Tidak. Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab aku akan tetap mengantarmu sampai pulang ke rumah. Ya biarpun aku memang sangat kesal padamu.”

 

“Errr, kau ini benar-benar menyebalkan sekali kau tahu!!!”

 

“Lagipula, apa sih yang membuatmu tidur begitu nyenyak sehingga kau tidak sadar kalau aku membangunkanmu? Kau mimpi bertemu pangeran? Lalu menikah? Mempunyai anak begitu?”

 

“Kampungan sekali kau berfikir seperti itu. Ani, aku tidak bermimpi apa-apa.” Ucapku bohong. Dan Luhan sepertinya tau jika aku memang berbohong.

 

“Aku adalah sahabatmu dari kecil Jinri-ssi jadi itu terlihat sekali jika kau bohong. Ayolah ceritakan padaku. Sebenarnya kau mimpi apa akhir-akhir ini?”

 

“Ahhh ketahuan ya…huh. Ehm gimana ya. Aku sih ingin cerita tapi kau jangan tertawa. Bagaimana? Kau berjanji kan?”

 

“Memangnya kau mimpi apa sih kok sepertinya aneh sekali.” Ujar Luhan menduga-duga.

 

“Ne.. dan jujur ini menggangguku Luhan. Aku bermimpi kalau aku…..akan menjadi perawan tua.” Kataku sambil menunduk. Dan kudengar gelakan tawa Luhan membahana mobilnya.

 

“HA..HA..HA. MWO? PERAWAN TUA? HA..HA..HA” tawa Luhan membuatku semakin jengkel dan segera kupukul kepalanya.

 

PLETAK.

 

“Yya!” protes Luhan.

 

Aku pun hanya memberikan tatapan mengerikanku padanya. Dia pun diam.

 

“Ehem.  Oke-oke. Jadi—apa sebenarnya kau ingin sekali punya pacar begitu? Dan kau stress karena sampai sekarang impianmu itu tidak terwujud?”

 

“Ah aku tidak tahu. Aku memang ingin punya pacar. Tapi apakah mimpiku akhir-akhir ini pertanda jika aku tidak akan mempunyai jodoh dan tidak mempunyai keturunan? Lalu selain aku siapa lagi yang bisa memberi keturunan selain aku Luhan. Kau tau kan aku anak tunggal.” Ucapku dengan wajah yang memelas.

 

“Aissh berlebihan sekali. Aku bilangin ya. Jodoh itu tidak usah dicari pasti nanti ada saatnya jodohmu itu akan menemuimu. Kau memang tidak cantik seperti wanita lain tapi aku yakin kau mempunyai suatu daya tarik. Entahlah apa itu. Tapi aku yakin. Dan masalah mimpimu itu, tidak usah dipikirkan jika tidak ingin stres.”

 

“Ya semoga saja. Oya, kau tidak berniat untuk menjodohkan aku dengan teman-temanmu? Yang tampan-tampan. Hehe siapa tau ada diantara dari mereka ada yang menyukaiku.” Kataku pede dan membuat Luhan merasa—sedikit jijik.

 

“Ya akan kuusahakan. Tapi jika tidak ada jangan menangis ya.”

 

“Ahh itu urusan belakangan. Yang penting kau harus membantuku oke?” ucapku dengan wajah berseri-seri. Luhan hanya mengangguk pasrah.

 

 Hehe ya beginilah aku dengan Luhan. Setelah bertengkar akan berbaikan dengan sendirinya.

 

 

Seoul International School

Pkl 09.20

 

Luhan POV

Jinri benar-benar menyebalkan. Tapi aku sayang padanya karena ia sahabatku. Jadi, sebagai sahabat yang baik aku akan mencarikannya pacar yang—tampan. Tapi siapa? Teman-temanku sih rata-rata kriteria wanita idamannya tinggi, cantik, dan menawan. Namun Jinri—apa ia masuk kriteria tersebut? Aku rasa tidak.

 

“Hey Luhan!” teriak salah seorang temanku yang ternyata—Jongin.

 

“Ah kau mengagetkanku saja.”

 

“Memangnya kau melamun apaan sih? Kayaknya serius amat.”

 

“Biasalah, masalah Jinri. Itu anak dari dulu merepotkanku saja. Haisssh menyebalkan.”

 

“Jinri? Oh Park Jinri itu ya? Yang setiap berangkat-pulang kau antar?” tanya Jongin.

 

“Ne, benar sekali. Kau berkata begitu serasa aku pembantunya saja.” Dengusku.

 

“HAHAHA. Tapi memang begitu kan? Memangnya kalau boleh tau kenapa dia?”

 

“Dia memintaku untuk mencarikannya pacar. Karena ya kau tau sendirilah dia kan tidak pernah pacaran.” Kataku sambil meminum bubble teaku yang tinggal setengah gelas.

 

“Oh begitu ya, hmm. Bagaimana kalau aku saja?” tawar Jongin tanpa basa-basi dan bersikap biasa saja yang tentunya membuatku kaget. Yang benar saja Jongin—si anak basket yang terkenal dan tampan menawarkan dirinya untuk menjadi pacar dari seorang gadis gila dan menyebalkan—seperti Park Jinri. Benar-benar diluar akal sehat, apalagi Jinri tidak begitu cantik menurutku.

 

“Kau???? KAU??? Yang benar saja Jongin-ah.” Seruku tidak percaya.

 

“ Yya Luhan, aku serius. Aku lihat-lihat nih ya, Jinri itu sebenarnya cantik tapi karena dia cuek dengan penampilannya dan kurang bergaul jadi ya begitulah.” Ucap Jongin dengan wajah yang serius.

“Iya sih, dia begitu cuek. Tapi apa kau yakin? Jika nanti kau malah mempermainkan Jinri awas kau. Kau tau kan dia sahabatku? Jadi jangan macam-macam padanya.” Wanti-wantiku pada Jongin dan ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

 

Sebenarnya sih aku lega karena telah menemukan sosok yang Jinri inginkan tapi entah kenapa hatiku jadi—tidak rela?

 

 

Starbucks Coffee

Pkl 16.43

 

Author POV

Seperti biasa, Luhan dan Jinri sepulang sekolah akan mampir sejenak ke tempat favorit mereka. Dan tampaknya hari ini Jinri sangatlah berbunga-bunga. Ya tahu sendiri kan, baru kali ini ada yang ingin jadi pacarnya apalagi ia adalah pemain basket yang terkenal di sekolahnya yaitu—Kim Jongin.

 

“Arggggh Luhaaaan. Kau tau? Aku sangat senang. Bagaimana tidak? Kim Jongin ternyata menyukaiku…..” ucap Jinri sambil memelukku erat. Luhan membelalakan matanya. Dan segera ia menyingkirkan tangan Jinri.

 

“Senang sih boleh tapi tidak usah berlebihan bisa? Lagipula sepertinya Jongin belum sepenuhnya menyukaimu tau.” Ucap Luhan dengan jengkel.

 

“Ah kau ini sirik! Kan katamu Jongin menawarkan dirinya untuk jadi—pacarku? Sekarang kau malah bilang Jongin tidak sepenuhnya menyukaiku. Bagaimana sih!” Jinri mengembungkan pipinya kesal. Semakin menunjukkan wajah imutnya.

 

“Ya sekarang kau pikir saja, tidak ada angin tidak ada hujan Jongin mengatakannya padaku. Apa kau tidak merasa curiga hah? Apalagi baru kali ini pria yang berkata seperti itu padaku.”

“Sudahlah tidak penting! Yang penting kau atur jadwal kencanku dengan Jongin. Oke?”

 

“Terserahlah.” Ucap Luhan dengan sedikit kesal.

 

 

Jin Ri’s Mansion

Pkl 09.26

Park Jin Ri POV

Dear Diary….

Hari ini aku sangat senaaaaaang sekali. Bagaimana tidak? Kim Jong In—temannya Luhan ternyata menawarkan sendiri untuk menjadi pacarku. Padahal Kim Jong In termasuk jejeran cowok keren di sekolahku. Tapi kenapa dia suka denganku ya? Ah entahlah yang pasti Kim Jong In ingin jadi pacarku hehe. Ini berkat Luhan juga sih. Terimakasih Luhan kau memang sahabatku yang paliiiiiing baik.

 

Aku menutup diary kesayanganku dengan mulut yang masih bersenandung. Ya aku sangat senang hari ini. Baru kali ini ada pria yang ingin mendekatiku. Oh tidak—ini seperti mimpi. Tapi melebihi mimpi.

Aku bergegas untuk menarik selimut berwarna pinkku dan segera menutup mataku dengan perasaan yang sangaaaaat berbunga-bunga.

 

 

Hari Sabtu

Pkl 19.05

Namsan Tower

 

Hari ini adalah hari yang paliiiiiing membuatku deg-degan. Bagaimana tidak? Hari ini aku dengan Kim Jong In akan kencan. Ini adalah kencan pertamaku seumur hidup. Jadi semoga tidak ada hal-hal yang memalukan.

 

“Kau mau minum apa?” tawar Kim Jongin sekaligus membuyarkan lamunanku.

 

“Ehm apa saja.” Jawabku dengan senyum semaniiiiis mungkin yang pernah kumiliki.

 

“Oke tunggu sebentar.”

 

Kulihat punggung Jongin mulai menjauh dan sepertinya ia membeli minum di dalam.

Aku meniup-niupkan poniku. Udara malam ini sangat dingin. Mungkin akan segera turun salju.

Tiba-tiba derap kaki mendekatiku.

 

“Ini minummu.” Jongin memberikan satu cokelat panas padaku.

 

“Gumawo.” Jawabku.

 

“Ehm Jinri-ah, kau mau naik? Pemandangan di atas sangat indah.” Tawar Jongin padaku dan langsung kuanggukan kepalaku.

 

Selama berjalan, Jongin menggandengkan tangannya padaku dan ini membuat jantungku ingin keluar sungguh. Aku sangat gugup sekali.

 

“Nah sampai, indah bukan pemandangannya?” kata Jongin sambil menampilkan senyumnya yang menurutku—menawan.

 

“N..ne, sangat indah sekali. Aku baru kali ini kesini. Ternyata Seoul yang menurutku membosankan tampak indah.” Ucapku takjub.

 

“Kau baru pertama kali? Memangnya kau dengan Luhan belum pernah sama sekali kesini? Atau mungkin dengan orangtuamu?” tanya Jongin yang tampak kaget.

 

“Ya. Aku baru pertama kali kesini. Luhan tidak pernah mengajakku ke tempat seperti ini. Yah dia sih seringnya mengajakku ke kedai kopi yang menjadi langganan kami. Paling jauh pun ke Jeju itupun sudah sangat lama. Kalau orangtuaku—aku bahkan tidak pernah jalan-jalan dengan mereka.” Jawabku sedikit sedih.

 

“Memangnya orangtuamu kemana?” tanya Jongin.

 

“Orangtuaku sibuk. Mereka lebih sering ke luar negeri daripada negara asalnya sendiri—Korea. Urusan pekerjaan hehe.” Kataku sambil tertawa paksa.

 

“Kau sendiri sering kesini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan agar suasananya tidak menjadi canggung.

 

“Dulu sering—sewaktu aku masih bersamanya.” Gumam Jongin. Bersamanya? Bersama siapa?

 

“Bersama siapa?” tanyaku hati-hati.

 

“Choi Eun Seol. Mantan kekasihku.” Jawabnya. Tampak sinar matanya berubah menjadi menyedihkan. Dan aku? Aku terkejut.

 

“Choi Eun Seol?” tanyaku.

“Ne. Dia murid Shinwa High School. Sama seperti kita kelas 3.” Jawabnya lalu menatapku sambil tersenyum pahit.

 

“Kalau boleh tau, k-kenapa kalian putus?” tanyaku hati-hati. Entah kenapa aku ingin sekali tahu penyebab putusnya mereka. Dan yang pasti hatiku sekarang sangatlah kacau. Disaat kencan seperti ini kenapa malah membahas mantan kekasihnya?

 

“Orang ketiga. Dia selingkuh dibelakangku. Saat aku ingin memberi kejutan disaat ia berulang tahun dan ketika aku ke apartemennya, aku melihat dengan kedua mataku ini kalau dia dan selingkuhannya itu sedang—bercumbu.” Jawabnya dan ini sangat membuatku kaget.

 

“HAH? Bercumbu? Bagaimana mungkin? Kita masih SMA, tapi kenapa mereka malah berbuat hal mesum seperti itu? Sungguh memalukan sekali. Kalau aku jadi orangtuanya aku bakal mengusirnya dan tidak kuanggap sebagai anak lagi.” Jawabku dengan kesal. Bagaimana tidak kesal? Berciuman saja aku tidak pernah. Apalagi bercumbu. Dan tahu sendirikan itu sangatlah memalukan.

 

“HAHAHA.” Terdengar gelak tawa Jongin membahana. Aku pun mengernyitkan alisku. Apa ada yang salah dengan ucapanku?

 

“Kenapa?” tanyaku polos.

 

“Hahaha. Kau ini polos ya? Kenapa kau berlebihan seperti itu? Bukankah di Korea hal seperti itu sudah sangatlah—biasa? Jangan-jangan kau tidak pernah berciuman ya?” kata Jongin sambil tertawa.

 

“Memang. Bahkan pacaran saja belum.” Jawabku polos dan sepertinya Jongin telah menghentikan tawanya itu.

 

“Wah kau sangatlah polos. Jarang-jarang loh ada wanita sepertimu—tidak pernah berciuman.”

“Ne. Tentu saja. Aku kan limited edition. Sudah pasti jika yang menjadi suamiku kelak akan bangga padaku.” Jawabku pede.

 

“Mau mencobanya?” tawar Jongin. Dan sungguh aku tidak mengerti apa maksudnya. Mencoba apaan?

 

“A-apa?  Mak..sud…” Ucapanku terhenti ketika bibir Jongin ternyata menempel di bibirku!!!

 

Kaget sudah pasti. Dan sungguh aku benar-benar mematung. Aku tidak mengerti harus bagaimana? Apa aku harus melompat dari menara ini? Atau aku harus bergelinding di jalan? Sepertinya itu semua berlebihan.

 

Akal sehatku pun kembali pulih dan segera ku dorong tubuh Jongin.

 

“YYA! Kau tadi….telah….mengambil First kissku!!!!” teriakku dan tampaknya air mataku sudah membanjiri pipiku. Kesal rasanya jika first kissku diambil begitu saja. Apalagi kami belum berpacaran. Aku berharap ciuman pertamaku diambil oleh suamiku kelak. Arrrrrghhh.

 

“Park Jin Ri-ah, aku…” belum sempat Jongin melanjutkan kata-katany aku segera berlari keluar dan sambil menangis tersedu-sedu.

 

Mungkin orang yang melihatku akan beranggapan kalau aku telah diputus cinta atau sejenisnya. Tapi nyatanya tidak. Aku menangis karena first kissku hilang begitu saja. Aku pun segera menggosok-gosokkan bibirku dengan punggung tanganku. Sungguh aku kesal. Dan aku bingung harus berbuat apa? Lalu aku teringat Luhan, segera ku telpon ke ponselnya.

 

“Yoboseyo?” jawab telepon seberang—Luhan.

 

“Luhan…..” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Aku masih menangis.

 

“Ada apa Jinri-ah? Apa ada masalah dengan kencanmu?” tanya Luhan sedikit khawatir.

 

“Jongin jahat. Ia telah….huaaaa” tangisku pecah begitu saja. Orang-orang yang berlalu lalang tampak melihatku dengan pandangan aneh.

 

“Yya! Jelaskan ada apa? Sebentar, kau ada dimana sekarang? Akan kujemput ya?”

 

“Aku ada di…Namsan Tower. Cepatlah..kesini.” jawabku sambil terisak.

 

“Baiklah tunggu aku.” Luhan pun mengakhiri pembicaraannya denganku.  Aku yang masih shock dengan kejadian yang kualami pun segera menutup wajahku dengan kedua tanganku dan menangis sepuasnya.

 

********

 

 

 

Gimana? Jelek yah? Ini masih belum keliatan konfliknya sih hehe. Jadi masih datar-datar saja dan mungkin—membosankan?

Ditunggu Kritik dan Saran ya. Maklum deh masih abal banget dalam dunia perFFan hehe.

Gumawo buat yang sudah baca.

25 pemikiran pada “Apakah Aku Jelek? (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s