Time Machine (Prolog)

“Time Machine ”

Title : TIME MACHINE

 

Author : JiYoo19

 

Leight : Chapter

 

Cast : Reader as Yoon Ji Yoo

Oh Se Hoon as Sehun

 

 

Disclaimer : Karakter hanyalah milik Tuhan YME beserta orang tua masing-masing. Jalan cerita hanyalah milik author 🙂

 

Summary : “Terkadang, Kehidupan menawarkan mimpi yang jauh dari apa yang kau bayangkan. Menawarkan suatu kondisi dimana kau tak harus memilih dan harus menjalaninya tanpa perlu bertanya. Namun terkadang takdir jauh lebih licik dari yang kita duga. Dengan sesuka hati ia memutar balikkan segalanya dan mempermainkan kehidupan dalam sebuah roda takdir yang akan balik menindasmu. Dan pada akhirnya, kau akan dihadapkan dalam sebuah keadaan dimana kau harus menerima segala yang ada. Tidak ada pilihan yang dapat kau pilih. Dan satu-satunya hal yang akan kau rasakan adalah rasa menyesal yang teramat sangat.” 

 

Recomended song : SNSD- Time Machine

 

Annyeoong~ 😀

Sebelumnya, salam kenal, readers ^^

Mohon maklumi kalau ff ini masih jelek, ^^a Author juga masih menjalani tahap bagaimana menjadi author yang baik~ *walaupun kenyataannya malah jadi abal*

Semoga readers suka~ ^^

 

 

 

PROLOGUE

Aku tidak pernah menyadari waktu begitu cepat berputar. Berganti setiap detiknya dan tanpa ku sadari kini ia telah meninggalkanku dalam satu pembabakan baru yang akan terus berganti— entah kapan ia baru akan menghentikan pergerakannya.

Ingin sekali rasanya aku menghentikan waktu yang terus berputar ini. Menghentikannya dan kemudian segera berlari ke masa lalu. Merubah segalanya. Memperbaiki segala yang pernah ku lakukan  dan mengembalikannya seperti semula. Mengubah jalan takdirku.

Tapi itu hanyalah sebuah khayalan. Ya, khayalan yang jelas-jelas ku ketahui hanyalah sebuah hal tak berarti yang terus berputar dalam otakku. Dan sekarang, aku bahkan tak melakukan apapun. Yang ku lakukan tidak lebih dari sekedar berdiri diam dan memandang lurus ke depan altar. Menyunggingkan senyuman miris seolah berusaha menertawai takdir yang mempermainkanku.

Hei?

Kenapa kehidupan harus se ironis ini? Bukankah kehidupan hanyalah sebuah drama yang disusun berdasarkan sebuah skenario? Lalu, mengapa sekenario itu begitu terlihat mempermainkanku?

Takdir. Tuhan tampaknya benar-benar tak mengizinkanku untuk mengetahuinya. Ya. Tidak mengizinkanku untuk mengetahuinya, atau malah menganggap takdirku adalah suatu permainan yang cukup menarik?

Terkadang kehidupan memang menawarkan mimpi yang lebih baik. Bahkan melebihi dari apa yang ku bayangkan sebelumnya. Tetapi… bila mimpi itu telah berakhir, maka akan sangat mustahil bagiku untuk dapat meraihnya kembali dalam angan-anganku. Dan pada akhirnya, aku akan kembali harus menerima segalanya. Penyesalan.

“Bersediakah kau, Oh Se Hoon, menerima Yoon Ji Yoo sebagai istrimu, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan mencintainya hingga akhir hayatmu?” sang pendeta menatap lekat pemuda yang berdiri tepat di sebelahku dengan sorot mata tegas. Sekuat mungkin aku menghirup nafasku dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan. Ku lihat pemuda di sebelahku melalui ekor mataku. Dan tak jauh berbeda dengan raut wajah sang pendeta. Ia balik menatap pendeta itu dengan tatapan tak kalah tegas dan wajah datar tanpa ekspresi.

“Aku bersedia”

Dan kini, pendeta itu menatapku dengan sorot mata yang sedikit berbeda dengan pemuda itu. Lembut juga di dalam tatapan mata itu terdapat keteduhan. Ku rasakan ketakutan ini melanda hatiku. Tanganku mendingin dan terasa kebas. Seakan-akan di tiap pembuluh darah dan nadiku disuntikkan berbagai macam racun yang dalam hitungan detik sukses melumpuhkanku. Aku meringis pelan.

“Dan bersediakah kau, Yoon Ji Yoo, menerima  Oh Se Hoon sebagai suamimu, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan mencintainya hingga akhir hayatmu?”

Aku meremas gaun yang ku kenakan dengan cengkraman erat. Tenggorokanku terasa begitu kering dan ku rasakan bibirku kelu. Mataku memanas dan dadaku begitu sesak. Ku coba mengambil nafasku, namun nihil. Mataku menatap pendeta itu gugup. Berulang kali aku tergagap dan tersedak liurku sehingga orang-orang di dalam gereja menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun tidak hal nya dengan pemuda di sebelahku. Ia tetap tenang dan memandang lurus ke depan—seolah berusaha tak memperdulikanku.

Aku menundukkan wajahku. Ku rasakan bulir air mataku menetes. Bahuku bergetar. Ku tarik nafasku dan kemudian menghembuskannya perlahan,

“A-aku… bersedia”

 

-*-*-

 

Aku duduk meringkuk di balkon seraya menatap pemandangan hiruk-pikuk kota Paris dengan sesekali menyeka air mataku yang tumpah. Aku memeluk diriku dan menyenderkan punggungku pada pagar besi pembatas balkon. Angin musim gugur menerpa tubuh ringkihku. Aku hanya bisa merapatkan pelukan tubuhku dan tetap menangis. Membiarkan angin tersebut melecuti tubuhku yang hanya berbalutkan Hanbook putih tipis yang tembus pandang di bagian rompinya. Sedu sedan nafasku terdengar nyaring. Putus-putus ditenggelamkan oleh angin malam yang juga tak kalah keras menerpaku.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiam di tempat ini. Menangis dan meringkuk sendirian. Membuat mataku terasa begitu berat. Sekujur tubuhku menggigil, namun tetap berusaha meraih sejumput rasa hangat yang tersisa di tubuhku dengan makin erat mendekap tubuhku.

Aku menolehkan mataku menatap kamar hotel yang didominasi oleh warna putih dan coklat kayu berarsitektur abad pertengahan dengan sorot mata sendu. Ranjang berukurang king size itu masih terlihat rapi dengan taburan berbagai macam kelopak bunga. Tidak kusut—bahkan aku tak menangkap adanya suatu perubahan dari tempat tidur itu—atau mungkin kamar ini. Pintu tertutup rapat, sunyi dan hening. Sama halnya seperti awal kedatanganku ke tempat ini beberapa jam lalu. Aku yakin 100% bahwa pemuda bernama Oh Sehun itu tidak menyentuhnya. Dan itu terlihat jelas dari ranjang yang masih rapi dengan tatanan awal yang tidak berubah.

Aku berdiri dan memegang pagar besi balkon dan menatap lalu lalang jalan raya di bawahku dengan tatapan biasa. Setitik air mata masih mengembun di sudut-sudut mataku. Tidak terelakkan lagi rasa sakit di dada ini. Kian meradang dan menjadi teramat nyeri di tiap detiknya.

Semilir angin kembali berhembus menerpa tubuhku. Menerbangkan helaian rambutku yang hanya terikat setengah bagiannya. Mataku menatap langit malam yang hanya menyisakan sebuah mutiara langit yang  bahkan nyaris tertutupi oleh gumpalan awan hitam. Setitik air mata itu jatuh dari pelupuk mataku. Aku menghapus air mata itu asal, namun sedetik kemudian air mata kembali membasahi pipiku.

Rasa gelisah dan perasaan takut ini benar-benar menggangguku. Bahkan sejak tadi, aku tak henti-hentinya memikirkan pernikahan yang baru saja ku langsungkan beberapa jam lalu.

Pernikahan. Mampukah aku bertahan dalam suatu ikatan takdir yang bahkan aku sendiri tak yakin dapat berakhir dengan begitu mudah. Seperti memutuskan sebuah benang dengan sekali sentakan.

Aku memandang lekat cincin perak yang tersemat di jari manis kiriku. Seulas rasa sakit menyelimuti hatiku ketika memandangnya. Aku tidak tahu kenapa hal ini bisa menjadi begitu menyakitkan. Tapi sungguh. Ini benar-benar menyakitkan.

Oh Sehun.

Namja itu. Namja yang bahkan tak ku ketahui dimana keberadaannya. Namja yang kini namanya terukir di depan namaku.

Oh Ji Yoo.

Dan bukan lagi Yoon Ji Yoo.

Aku pernah membaca sebuah cerita mengenai sebuah pernikahan yang didasari oleh sebuah perjodohan. Dan itu selalu berakhir menyedihkan. Dimana sang wanita akan selalu tertekan dan menderita. Menangis dan menjalani sebuah kehidupan tragis yang benar-benar tak terbayangkan. Tanpa adanya cinta yang mewarnai kehidupan rumah tangga itu.

Tapi aku tidak pernah membayangkan jika pada akhirnya aku sendirilah yang akan menjadi pemeran dalam cerita itu. Menjadi tokoh yang tersakiti secara psikis dan tersiksa oleh sebuah ikatan sakral bernama pernikahan. Dan yang terfikirkan olehku, pernikahan paksa tidaklah seburuk apa yang ada dalam cerita. Namun kenyataan lebih pahit dari sekedar sebuah cerita fiksi. Ini melebihi dari apa yang ku bayangkan.

Menderita. Tentu saja.

Memangnya apa yang ku harapkan dari ikatan ini? Hidup dengan limpahan kasih dan cinta dari suamiku, lalu membangun keluarga kecil yang selalu menjadi idaman seluruh wanita di dunia? Begitu?

Jika semua itu bisa ku dapatkan. Lalu mengapa harus ada sebuah skenario yang mengatur kehidupanku menjadi sebegitu berat?

Tiba-tiba saja, ku dengar suara deritan pintu. Disusul dengan suara debuman yang tak terlalu keras, dapat ku artikan bahwa pintu itu telah tertutup. Mungkinkah itu ‘dia’? Batinku.

Aku meremas pembatas besi balkon kamar hotel dengan perasaan cemas. Jantungku berdegup kencang, dan rasa takut itu kian menjalar ke sekujur tubuhku kala aku mendengar bunyi langkah kaki itu mendekat ke tempatku saat ini.

“Menangis, huh?” suara baritone itu menyapa pendengaranku. Samar-samar terdengar kekehan pelan dari sosok yang kini berdiri tepat di belakangku.

“Mau apa kau?” tukasku ketus. Terdengar sedikit sumbang, karena terlalu lama menangis. Lagi-lagi ia tertawa.

“Dan kelihatannya tebakanku benar. Kau menangis,”

“Langsung saja. Apa mau mu?” tanyaku to the point.

Ia berjalan makin dekat ke arahku dan akhirnya ia tepat berada di samping kananku. Menumpukan sikunya pada besi pembatas balkon, dan menatap keramaian kota Paris di bawah sana. Rambutnya yang terlihat berantakan itu ditiup angin. Melambai pelan, dan saling bergerak teratur. Ia menolehkan kepalanya ke arahku.

“Apa kau menyesal?”

Aku menoleh ke arahnya dan menautkan alisku bingung. “Atas apa?”

“Pernikahan ini,”

Sejenak aku terdiam. Mengalihkan pandanganku pada langit kelabu yang polos tanpa bulan maupun bintang. Aku tertawa sinis.

“Kau mengatakannya seolah aku memiliki sebuah pilihan, Sehun-ssi.”

Ku lihat ia melalui ekor mataku. Pemuda itu tersenyum hambar.

“Dan kau menyesal?”

Aku memejamkan mataku. Bulir air mata menetes dari sudut mataku. Aku mengulas senyum lirih dan kembali menatap keramaian kota Paris.

“Ya.”  Jawabku pelan—bahkan nyaris tak terdengar.

Ia diam. Mengalihkan pandangannya pada langit malam yang tampak sendu. Dan entah mengapa di raut wajah rupawan itu, terlukis sebuah perasaan bersalah yang begitu sarat akan penyesalan. Matanya yang bening itu kini menatapku yang juga tengah menatapnya.

Ia tersenyum singkat, dan setelah itu ia kembali beranjak meninggalkanku. Namun sesaat sebelum ia membuka pintu kamar, ia menghentikan pergerakannya. Cukup lama ia terdiam. Aku yang masih berdiri membelakanginya hanya dapat menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tak berani menebak, sekiranya apa yang ia lakukan.

“Mianhae… Ji Yoo-ah.”

Aku terkesiap. Sontak aku membalikkan tubuhku dan menatapnya, namun pintu tersebut telah tertutup. Dan kini, ruangan ini kembali hening.

Aku meremas jemariku risau, bibirku bergetar dan dapat ku rasakan lagi-lagi air mata ini luruh dari mataku.

“Sehun-ssi, apa maksudmu?”

 

— TBC —

 

8 pemikiran pada “Time Machine (Prolog)

  1. Poster yeojanya a.k.a YoonA
    Eh, ternyata main castnya bukan Yoong Eonni TT~TT
    *meleset*
    Daebak thor! Aku suka alurnya!
    Kata-katanya dirangkai indah (?) Membuatku jatuh hati ;’)
    Jangan lama-lama ye? Ngepost chapter 1nyaa ‘-‘)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s