Apakah Aku Jelek? (Chapter 2)

Title                            : Apakah Aku Jelek?

Author                        : AC

Main Cast                  : Park Jin Ri (OC) & Xi Luhan (EXO-M)

Other Cast                 : Kim Jong In (EXO-K), Goo Se Ra (OC), etc.

Genre                          : Romance, Friendship

Length                         : Chaptered

Rating                          : Teen

Author’s Note            :

Annyeong…. Ini FF pertama aku hehe, jadi maaf aja klo abal-abal banyak typo dan jelek.

Chapter sebelumnya

“Ada apa Jinri-ah? Apa ada masalah dengan kencanmu?” tanya Luhan sedikit khawatir.

 “Jongin jahat. Ia telah….huaaaa” tangisku pecah begitu saja. Orang-orang yang berlalu lalang tampak melihatku dengan pandangan aneh.

 “Yya! Jelaskan ada apa? Sebentar, kau ada dimana sekarang? Akan kujemput ya?”

 “Aku ada di…Namsan Tower. Cepatlah..kesini.” jawabku sambil terisak.

 “Baiklah tunggu aku.” Luhan pun mengakhiri pembicaraannya denganku.  Aku yang masih shock dengan kejadian yang kualami pun segera menutup wajahku dengan kedua tanganku dan menangis sepuasnya.

********

Additional cast

Goo Sera

Penulis novel terkenal se-Korea Selatan. Cantik dan sangat berbakat.

—-

 Chapter 2

 Author POV

Jin Ri’s Mansion

Pkl 20.44

“JONG IN MENCIUMMU?” teriak Luhan sambil memegangi wajah Jinri yang sudah benar-benar kusut itu.

“Iyaaaa huaaaaaa….” Jinri masih menangis bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Tampak Luhan sedikit bingung apa yang harus ia lakukan. Karena baginya, Jinri sedikit—atau bahkan berlebihan namun juga sikap Jongin sepertinya juga kelewat batas—dikarenakan berani-beraninya menyentuh sahabatnya itu.

“Aduh apa yang harus kulakukan..” gumam Luhan tampak berfikir. Ia pun berdiri dan mondar-mandir di kamar Jinri yang serba pink itu. Sementara Jinri masih menangis dengan sangat keras.

“Haiiiish, bisakah kau diam? Aku jadi bingung harus ngapain.” Kata Luhan sambil menoleh ke arah Jinri yang masih duduk di sofa kamarnya itu.

“Menurutmu…apa… aku harus diam? Ketika bibirku ini sudah tidak perawan lagi haaaah?” kata Jinri sambil memegangi bibirnya itu.

Luhan mengacak rambutnya frustasi. Menurutnya—wanita ini sungguh sangat berlebihan. Tapi ia juga maklum karena Jinri memang polos sehingga jika disentuh—atau dicium seperti ini jadi berlebihan melebihi apapun.

“Iya-iya aku mengerti. Baiklah kalau begitu, besok aku akan menemui Jongin. Kau istirahatlah. Jangan menangis seperti itu. Menyusahkan sekali.” Ucap Luhan lalu duduk di sebelah Jinri lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Sementara Jinri masih menangis histeris.

Lapangan Basket

Pkl 09.12

 

Luhan POV

Pagi-pagi sekali setelah mengecek keadaan Jinri di rumahnya, aku segera ke sekolah untuk menemui Jongin. Biasanya di hari Minggu begini ia latihan basket di sekolah. Setelah kejadian semalam entah kenapa aku juga ikutan bingung. Huh Jinri kau memang selalu membuatku bingung.

Aku segera masuk ke dalam sekolah dan menuju ke lapangan basket. Dari kejauhan terlihat Kim Jongin sedang latihan sendirian. Kebetulan sekali—menurutku. Karena aku ingin menyelesaikan masalah ini berdua saja.

“Yya! Kim Jongin! Aku ingin bicara.” Teriakku ke Jongin yang sedang latihan basket itu.

Jongin pun menghentikan aktivitasnya dan menatap lekat ke arahku dengan pandangan datar.

“Bicara? Silahkan saja. Jangan basa-basi.” Jawabnya enteng dan membuatku naik darah. Aku pun berjalan cepat ke arahnya.

“Semalam, kau kenapa mencium Jinri hah?” teriakku sambil mencengkram bajunya. Sungguh entah kenapa aku sangat marah.

“Kenapa? Tidak boleh? Bukankah kami berkencan?” tanya Jongin yang masih menunjukkan wajah datarnya.

“Berkencan tapi tidak perlu ciuman juga kan? Apalagi kau tahu sendiri Jinri begitu polos. Kenapa kau malah membuatnya semakin—gila hah?”

“Hahaha. Aku tau dia sangat polos. Dan aku menciumnya untuk—memberikannnya edukasi sedikit.” Jawabnya santai dan semakin membuatku marah. Segera ku pukul wajahnya dan ia pun jatuh di tanah.

“Apa kau bilang? Jadi kau hanya mempermainkannya? Kau tidak serius? Apa maumu KIM JONGIN! JAWAB AKU!” Teriakku semakin membabi buta.

Kim jongin hanya diam dan dia pun berdiri.

“Aku—hanya butuh wanita untuk melupakan mantan kekasihku Xi Luhan.” Jawabnya sambil menatapku lekat. Dan membuatku diam. Aku benar-benar tidak tahu lagi. Kesabaranku sudah habis. Tapi rasanya tangan ini sukar untuk melayangkan tinju padanya.

“Bagaimana jika kau merasakan hal yang sama padaku? Kekasih yang kau cintai bercumbu dengan orang lain di hadapanmu sendiri. Apa kau akan mencari pengganti lagi atau—tetap setia dengan kekasihmu yang telah menduaimu?” lanjutnya dan membuatku semakin terpaku. Jika aku menjadi Jongin mungkin aku akan melakukan hal yang sama—yaitu mencari wanita lain. Tapi masalahnya sekarang wanita itu adalah sahabatku. Dan Jongin dengan Jinri masih belum resmi menjadi sepasang kekasih.

“Aku akan melakukan hal yang sama. Mencari wanita lain. Tapi kau juga tidak perlu menciumnya seperti itu kan?” jawabku.

“Untuk masalah ciuman—sebenarnya itu diluar akal sehatku. Entah kenapa tiba-tiba aku menciumnya. Maafkan aku untuk hal itu. Dan tolong sampaikan permintaan maafku untuk Jinri.” Kata Jongin yang sepertinya ia tampak benar-benar menyesal.

“Baiklah, tapi jangan harap kau bisa dekati Jinri lagi. Kau sudah melukainya.”

“Iya. Aku tidak akan mendekatinya. Ehm tapi Luhan-ssi—kenapa kau tampak begitu mengkhawatirkannya? Kau menyukainya?” tanya Jongin yang entah kenapa membuatku seperti tertusuk.

“Aku menyayanginya. Ia sahabatku.” Jawabku. Dan seketika itu aku meninggalkannya.

Park Jin Ri POV

Kamar Jinri

Pkl 12.03

 

Dear Diary….

Aku benar-benar lemas. Kejadian semalam membuatku benar-benar pusing. Jongin menciumku tepat di bibir. Oh tidaaak membayangkannya saja membuatku pusing. Sungguh aku benar-benar tak habis pikir—bibirku yang selama ini masih suci sudah ternodai. Ah apakah aku sama dengan wanita-wanita lainnya yang begitu murahan?

Aku menutup buku diary kesayanganku dan meletakannya diatas meja belajarku. Dengan berjalan gontai aku menuju ke kasurku untuk melanjutkan tidurku. Entah kenapa kejadian kemarin aku menjadi tidak bertenaga untuk melakukan sesuatu. Bahkan makanan yang sedari tadi dia atas meja belum kusentuh sama sekali. Sangat-sangat tidak nafsu.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarku terbuka.

“Kau sudah bangun?” tanya Luhan. Entah kenapa wajahnya seperti lesu. Aku tidak tahu kenapa. Apakah ia semalam mengkhawatirkanku hingga seperti itu atau ada urusan yang lain hingga membuatnya seperti itu?

“Aku belum bangun. Kau tidak lihat?” jawabku bercanda namun aku memasang wajah datarku. Dan luhan pun sedikit terkekeh.

“Ehm belum makan? Kenapa? Apakah tidak lapar?” tanyanya. Sepertinya ia sempat melihat ke arah mejaku yang terdapat nampan makanan.

“Aku—tidak nafsu.” Jawabku seadanya.

“Tapi kau harus makan Jinri-ah. Apa aku suapin?” tawarnya.

“Tidak perlu Luhan. Aku benar-benar tidak nafsu hari ini.” Jawabku dengan malas.

“Aku sudah menemui Jongin.” Katanya. Dan membuatku kaget.

“Lalu?” tanyaku.

“Ia meminta maaf. Dan menyampaikan maafnya padaku.”

“Ya sudah semestinya ia meminta maaf.” jawabku kesal.

“Maafkan aku Jinri.” Ucap Luhan tiba-tiba.

“Maaf kenapa?”

“Aku benar-benar bodoh untuk mencarimu pacar. Seharusnya tidak begitu saja memilih Jongin.” Jawabnya dengan nada penuh penyesalan.

“Justru aku yang minta maaf padamu Luhan. Aku sudah baik selama ini padaku. Aku malah yang merepotkanmu terus. Sahabat macam apa aku ini.” Aku merutuki diriku sendiri.

“Tidak Jinri-ah justru aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau Jongin pada saat itu ingin menjadikanmu pelarian saja setelah ia diduakan.”

“Ah sudahlah, tidak perlu dibahas.” Ucapku. Luhan pun duduk di pinggiran kasurku dan menatapku lekat. Kemudian ia genggam tanganku.

“Aku akan bertanggung jawab. Kau tenang saja.”

“Kau kira aku hamil apa bagaimana pakai tanggung jawab segala.” Jawabku.

“Aku serius Jinri. Mungkin tidak sekarang namun suatu saat kau akan tau apa yang akan kulakukan sebagai bentuk permintaan maafku.”ucapnya dan membuatku bingung apa yang sebenarnya dikatakan Luhan ini.

Semakin hari, Luhan semakin baik padaku. Entahlah tapi tiba-tiba aku merasa ada yang beda di dalam tubuhku ini. Jika di dekat Luhan aku menjadi berbunga-bunga dan sangat nyaman sekali. Aku jadi bingung apakah aku menyukai Luhan? Menyukai sahabatku sendiri? Tapi jika aku menyukai Luhan—apakah luhan mempunyai rasa yang sama terhadapku? Atau ia malah hanya menganggapku sahabat? Jujur aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan.

Wajah Luhan yang tampan membuatnya disukai oleh banyak wanita. Sedangkan aku yang biasa-biasa saja tidak ada yang mengejar-ngejarku. Sungguh sangat bertolak belakang. Terkadang aku merasa tidak pantas untuk berteman dengan Luhan karena ia tampan.

Banyak sekali wanita-wanita di sekolahku yang heran, kenapa Luhan mau berteman denganku? Bahkan bersahabat dari kecil. Tapi aku tidak peduli sebenarnya. Yang penting Luhan menganggapku sahabatnya.

Aku heran, biarpun Luhan banyak yang suka, tapi aku tidak pernah melihatnya menggandeng salah satu wanita. Aku sempat berfikir apakah ia homo? Tapi aku rasa tidak.

Tapi dengan begitu aku sangat senang, setidaknya wanita yang dekat  dengannya hanya aku seorang hehehe.

Luhan POV

Apartement Luhan

Aku sedang menonton televisi kesukaanku. Namun tiba-tiba ada suara bel yang sedikit menganggu tontonanku itu. Dengan segera aku ke arah pintu dan membuka pintu apartementku.

Setelah kubuka, aku sangat terkejut dengan kehadiran seseorang. Yang mungkin aku sudah melupakannya.

“Se..ra?”gumamku dengan tidak percaya apa yang aku lihat sekarang.

Goo Se Ra, penulis novel terkenal yang berparas cantik datang ke apartementku. Sebenarnya bukan karena kecantikannya yang membuatku shock. Tapi karena ia adalah wanita yang sudah aku coba untuk melupakannya. Goo Sera—mantan kekasihku.

“Luhan!” sapanya riang lalu memelukku dengan erat. Aku hanya melongo. Sungguh aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.

“Sera…kau kenapa kesini?” tanyaku tersendat-sendat.

“Memangnya tidak boleh? Aku rindu padamu kau tahu?” jawab Sera lalu melepaskan pelukannya. Ia tersenyum padaku. Senyumannya masih sama, manis seperti dulu.

Sementara itu….

Park Jin Ri POV

Sudah lama aku tidak ke apartement Luhan. Selama ini kan ia yang ke rumahku. Hmmm sekalian aku ingin tahu apa yang ia kerjakan, bagaimana jika aku kesana? Ah benar aku kesana saja sambil membawa makanan kesukaannya.

Aku segera memasak makanan yang Luhan suka. Hmm rasanya seperti ini kah jatuh cinta? Apapun yang aku lakukan akan membuatku tersenyum sendiri. Luhan yang telah membuatku seperti ini. Rasanya sungguh cepat dan tidak diperkirakan sekali jika aku menyukai Luhan—sahabatku sendiri.

Setelah selesai memasak, segera aku meletakkan masakanku ke dalam kotak bekal dan memasukannya ke dalam tas. Setelah itu segera ku telpon taksi untuk mengantarkanku ke Apartement Luhan.

Luhan POV

Apartement Luhan

Hari ini memang sungguh membuatku kacau. Bagaimana tidak?  Goo Sera—mantan kekasihku datang tiba-tiba seperti ini.

“Luhan kau ingin makan apa? Aku akan memasakannya untukmu ya?”tawar Sera yang sudah ada di dapur.

“Ani..tidak usah repot-repot.” Jawabku sambil berjalan ke arah dapur.

“Tidak. Pokoknya aku harus memasakan sesuatu untukmu. Bagaimana kalau…Sop Iga? Itu kan makanan kesukaanmu.”

“Tapi…”ucapanku terpotong oleh perkataan Sera.

“Sudah tidak ada tapi-tapian! Kau diamlah sana. Nonton tv atau ngapain gitu.”perintah Sera lalu membuatku diam dan menuruti perkataannya.

Lalu aku pun bergegas untuk menonton Tv—dengan dibayangi seribu pertanyaan yang ada di fikiranku.

“Nah masakannya sudah matang.” Seru Sera dengan gembira. Lalu aku hanya memandangnya dengan diam. Sera yang merasa kuperhatikan lalu menatapku lekat.

“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang aneh diwajahku?” tanyanya sambil memegangi kedua pipinya.

“Tidak.” Jawabku singkat namun tanpa melepaskan kontak mataku dengannya.

“Lalu?” tanyanya penasaran.

“Aku ingin bertanya…. Apa maumu kesini? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Itu kan maumu?” tanyaku dengan sedikit emosi. Ia merubah pandangannya menjadi sedikit—sedih.

“Ya, kau benar Luhan. Tapi—aku masih mencintaimu. Aku sadar, kau hanya pria yang sangat berarti untukku.” Jawabnya dengan menunduk.

Aku menghembuskan nafasku. Sungguh aku merasa tidak mengerti apa yang kurasakan sekarang, apakah aku masih mencintainya atau sudah melupakannya?

Tiba-tiba bel apartementku berbunyi. Dengan segera aku berdiri untuk berjalan ke arah pintu namun aku dicegat Sera.

“Biarkan aku yang membukanya ya? Kau makan saja, aku sudah capek-capek masak loh.” Katanya dengan senyuman khasnya yang tak pernah aku lupakan.

Kulihat Sera berjalan ke arah pintu dan dibukanya pintu tersebut.

“Siapa?” tanya Sera kepada tamu tersebut.

Namun tidak ada jawaban dari tamu tersebut dan segera aku menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan tiba-tiba jantungku serasa berhenti berdetak ketika yang datang adalah—Jinri?

Sementara Jinri masih diam mematung melihat pemandangan yang dilihatnya. Apa yang akan selanjutnya terjadi?

Nah sudah mulai ada konflik nih. Gimana? Nyambung ga sama ff aku? Maaf ya klo misal banyak kekurangannya. Maklum masih baru hehe.

Gumawo buat yang sudah baca……

17 pemikiran pada “Apakah Aku Jelek? (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s