I Need You and You Want Me (Chapter 1)

I Need You and You Want Me

Author : @jangjigeong

Genre : Politic, Romance.

Length : Part

Cast :

–         Wu Yi Fan (Kris)

–         Park SunHyeong

–         Park Chanyeol

–         Kim Minseok (Xiumin)

–         Kim JongIn

–         Other Cast find it by yourself

Disclaimer : FF ini murni buatan author, jadi aku harap jangan dibash ataupun dicopypaste. Mohon kritik dan sarannya lewat komentar-komentar kalian. Part lanjutannya mungkin agak telat karena aku ada ujian. Jangan pada bosan nungguin part selanjutnya ya.. Gomawo ^^

 _______________________________

“Aku tahu ini sebuah kesalahpahaman, tetapi ini adalah kesalahpahaman yang aku tahu akan berakhir  membahagiakan”

SunHyeong’s Room

05.48 KST

“Hyeongie ireona! Ini sudah pagi. Kita harus bersiap untuk persidangan pertamamu”. Suara berat Chanyeol memaksa SunHyeong bangun. Chanyeol adalah kakak sekaligus pengacara SunHyeong. “Oppa, aku lelah! Tidak bisakah persidangan ini ditunda hingga bulan depan. Kau tahukan jadwal kuliahku juga penuh sore nanti. Lagipula aku tidak bersalah, jadi apa untungnya bagiku?”Jawab SunHyeong sambil meletakkan kepalanya ke pangkuan Chanyeol. “Kau itu sudah dewasa berhentilah seperti ini, aku sudah menemukan bukti lagi. Cepat bersiap-siap, Appa dan Eomma sudah hampir selesai”. Chanyeol menyingkirkan kepala adiknya itu dengan kasar. Dengan reflex SunHyeong memukul ingin Chanyeol tetapi Chanyeol berhasil kabur sebelum insiden itu terjadi. “Mandilah! Pukul tujuh pagi kau harus sudah siap!” teriak Chanyeol dari balik pintu, lalu berjalan kebawah. Sarapan pagi. “Menyebalkan” desis Sunhyeong lalu pergi ke kamar mandi.

***

SunHyeong adalah gadis yang rajin, ramah dan sedikit tertutup. Dia tidak pernah mempermalukan nama keluarga mereka. Kecuali sekarang ini, SunHyeong memiliki masalah yang mungkin bisa mencoreng nama besar keluarga mereka. Ya, Appa mereka adalah pemilik Universitas besar di Korea. Masalah ini terjadi kira-kira 5 hari yang lalu, saat SunHyeong pulang larut malam karena harus menghadiri kelas malamnya. Di malam itu jalanan begitu sepi, hanya beberapa mobil saja yang terlihat melintasi jalan panjang ini. Tiba-tiba SunHyeong melihat segrombolan pria berbadan tegap mengintrogasi seorang pemuda lalu salah satu dari pria itu menendang perut pemuda itu dengan lututnya, melihat kejadian itu SunHyeong tidak bisa diam saja. Ia berlari kedalam lorong kecil itu, ia sadar kalau dia hanya seorang gadis. Tapi apakah dengan alasan ia seorang gadis ia tidak boleh menolong orang dalam keadaan seperti ini?. “Berhenti! Lepaskan dia! Atau aku akan menelpon polisi.” Teriak SunHyeong di belakang pria-pria itu. “Haha, ada yang ingin menjadi pahlawan rupanya” balas pria dengan pakaian yang berbeda dari yang lain. Sepertinya dia pemimpinnya, pikir SunHyeong. “Lepaskan dia! Aku akan menelpon polisi kalau kalian masih tidak melepaskannya” “Kau mau dia lepas? Apa yang bisa kau berikan pada kami. Kau tahu gadis kecil, ayah dari orang ini sudah berani menipu kami” pria itu memerintah salah satu kawanannya untuk melempar pemuda itu. Tetapi yang terjadi selanjutnya, pria itu menginjak punggung pemuda itu hingga terdengar suara rintihan kesakitan dari pemuda itu. “Pergilah!” SunHyeong melihat kearah pemuda itu dengan tatapan nanar. Pemuda itu member isyarat kepadanya untuk segera pergi. “Aku tidak bisa! Aku akan memanggil polisi” Segera SunHyeong mengeluarkan ponselnya dan bermaksud menghubungi polisi tapi dengan cepat salah satu dari pria itu menarik lengan SunHyeong yang mengakibatkan ponselnya terjatuh, salah satu tangan pria itu memegang pisau dan diarahakan tepat dileher SunHyeong. SunHyeong meringis kesakitan karena posisi tangannya sekarang. “Lepaskan gadis itu!” pemuda itu, entah mendapat kekuatan darimana berhasil bangun dan menghajar pria dibelakang SunHyeong, menarik SunHyeong ke belakang badannya. SunHyeong merasa takut, ia tidak tahu harus berbuat apa. “Dia tidak ada urusannya dengan kita” SunHyeong terkejut mendengar ucapan pemuda didepannya itu, pemuda itu mengenakan jas casual dan SunHyeong sempat melihat name tag-nya. Kim Minseok. SunHyeong tidak bisa menahan air matanya, badannya bergetar. “Gadis itu mengganggu saja!” ucap pria itu. Segera pria itu mengeluarkan pistolnya bermaksud menembak SunHyeong yang tergeletak lemah di samping pemuda itu. “DOOORRR!” SunHyeong terkejut. Tangisannya pecah, melihat apa yang baru saja terjadi. Pemuda itu memeluk SunHyeong dan peluru menembus punggung sebelah kanan atas pemuda itu. Para pria itu terlihat panic, tetapi tidak bagi pemimpin itu, dia terlihat tersenyum puas “Dengan ini, perbuataan yang sudah dilakukan ayahmu sudah bisa kumaafkan” ucap pria itu, lalu melempar pistolnya di depan dua orang itu. Meninggalkan bukti. “Terimakasih, kau mau membantuku” aku pemuda itu sebelum terjatuh kepangkuannya tepat di atas paha SunHyeong. SunHyeong bingung. Ia melirik kearah ponselnya berharap dapat menghubungi ambulance ataupun polisi, tapi ponselnya rusak akibat perbuatan salah satu dari pria tadi. SunHyeong terisak, dia dalam kondisi yang sangat tidak bisa digambarkan. Akhirnya, isakan SunHyeong mereda. Ia menggoyangkan tubuh pemuda itu. “Ireona! Ireona! Ahjussi.. kau harus sadar, agar aku bisa membawamu kerumah sakit” Tidak ada jawaban. SunHyeong berteriak minta tolong meskipun dia tahu mustahil ada orang yang akan menolongnya ditengah malam seperti ini. Tetapi SunHyeong tidak henti-hentinya berteriak berharap tuhan mendengarnya dan mengirimkannya malaikat untuk menyelamatkan pemuda itu. SunHyeon tidak dapat bangkit, ia meraih pistol tadi bermaksud untuk melihat apakah ada nama dari pria tadi, tetapi tidak seperti kemauannya saat dia berhasil meraih pistol itu, kepalanya terasa pusing dan berat tatapannyapun memburam dan seketika yang dia lihat hanyalah warna hitam. SunHyeong tak sadarkan diri.

***

“Oppa, aku sudah siap” SunHyeong turun, berjalan menuju ruang makan keluarganya. “Bagus! Ayo kita sarapan” Chanyeol terlihat bersemangat dengan makanan yang ada di depannya. “Eomma sengaja memasak banyak untuk menyemangati kalian berdua di persidangan nanti, Appa dan Eomma akan selalu mendukung kalian”. Keluarga kecil itu akhirnya menyantap sarapan mereka dengan bahagia, sesekali mereka tertawa karena lelucon yang dibuat mereka sendiri. “SunHyeong, hari ini kau memiliki jadwal apa?”, “Eomma ingin tahu?” jawab SunHyeong sambil memeluk pinggang Eommanya, “Pagi ini jadwalku memikirkan Eomma, siang nanti memikirkan Eomma, sorenya memikirkan Eomma, dan di malam hari juga sama, akan selalu memikirkan Eomma” sambung SunHyeong. “Memalukan..” cubit Chanyeol ke pipi adiknya itu, “Apa kau? Appa anak pertamamu ini selalu menggangguku!” “Dia kakakmu Hyeongie..”.

“Appa, Eomma pukul 8 nanti, sidang pertama Hyeongie dimulai. Kami mohon doa dari kalian. Kami akan berangkat sekarang” ucap Chanyeol sambil menarik tangan SunHyeong. “Appa, Eomma aku mencintaimu!” setelah mengucapkan kata itu segera saja Chanyeol menjitak kepala adiknya itu, “Mereka sudah tahu bodoh!”

***

“Dipersidangan nanti, Oppa mohon kau tidak banyak bicara. Dengarkan saja semua yang terjadi, dan jawab pertanyaan-pertanyaan sesingkat mungin” “Aku tahu Oppa, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan” “Aku hanya khawatir dengan mulutmu yang bisa berbicara sebelum otakmu bekerja mencerna kata-katamu” “Ish! Sudah, pikirkan saja sidangku nanti dan juga lihat jalanmu. Aku tidak mau mati sebelum aku menikah”.

Akhirnya suasana didalam mobil itu menjadi tenang. Chanyeol yang sibuk memperhatikan jalan, sedangkan SunHyeong asik mengotak-atik ponsel barunya. “Aku lebih menyukai ponselku yang dulu” omel SunHyeong.

“Kita sampai, ingat pesan Oppa benar-benar. Kau mengerti!” “Iya, kakek cerewet” SunHyeong langsung berlari, takut terkena jitakan di kepalanya lagi.

***

“Oppa, kau kenal dengan hakim itu? Dia terlihat masih muda”.

Suasana didalam gedung sidang ini terlalu sunyi. Suasana yang paling dibenci SunHyeong, sehingga dia mencari cara untuk mengusir kejenuhannya. “Hmm.. Ne. dia lulusan terbaik jurusan hukum tahun ini di Seoul National University ”. “Kenapa dia langsung menjadi Hakim? Bukannya dia harus belajar lagi?” “Karena prestasinya itu, dia langsung diangkat menjadi ketua hakim. Sudahlah, focus kembali pada sidangmu”.

“Terdakwa, silahkan berikan pembelaan” SunHyeong segera menyingkirkan pikiran tidak pentingnya. Berganti memperhatikan detail wajah Ketua hakim itu sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan tadi. “Ne. lima hari yang lalu aku memang bersama korban, tetapi aku tidak membunuhnya. Aku hanya ingin membantunya” “Bagaimana para saksi?” “Kami keberatan!” “Aku melihat sendiri, wanita itu membawa pistol dan pemuda itu berada didepannya. Disana tidak ada orang lain, selain aku. Setelah aku berteriak minta tolong baru orang-orang datang dan membawa pemuda itu ke rumah sakit” ucap seorang Ahjumma. Umurnya kira-kira sudah kepala empat.”Iya benar. Wanita itu pembunuhnya” Seluruh saksi mengeluarkan suara mereka, membenarkan ucapan Ahjumma tadi.

“Hakim Ketua, ijinkan saya berbicara” Permintaan Chanyeol, bermaksud untuk menyangkal jawaban Ahjumma tadi. Tok… Tok… Tok… “Diam” “Permintaan diterima, bicaralah ”sambung Ketua Hakim itu. “SunHyeong-ssi memang berada di tempat kejadian malam itu, tetapi dia mengaku bahwa pemuda itu sedang diserang segrombolan pria, dan ia bermaksud menolongnya, tetapi penjahat itu terlebih dahulu menembak korban” “Bohong!” teriak seluruh saksi lagi. “Diam! Diam!. Apakah itu benar, terdakwa Sunhyeong?” “Ne. Sebenarnya penjahat itu ingin menembakku, tapi pemuda itu melindungiku” aku SunHyeong sambil memegangi tangannya. Dia takut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa persidangan itu serumit ini. Sebenarnya emosinya sudah naik, dikarenakan saksi-saksi yang asal berbicara sesuai apa yang mereka lihat tanpa mengetahui kronologi kejadiannya terlebih dahulu. Syukurlah dia masih bisa meredam emosinya, setidaknya sesaat. “Apa kau memiliki bukti dari para penjahat itu? Atau mungkin kau mengenal salah satu keluarga korban? ” pertanyaan Hakim Wu membuat Sunhyeong bingung. Jika ia menjawab tidak, nanti dia yang akan menjadi tersangka. Disisi lain, jika ia mengatakan iya, SunHyeong tak memiliki bukti itu. Ditambah lagi suasana sekarang menjadi riuh kembali, dipenuhi oleh teriakan para saksi. “Aku punya, aku menemukan pistol yang digunakan untuk menembak pemuda itu” SunHyeong merasa sedikit lega, Chanyeol menyerahkan bukti itu kepada Hakim Wu. “Baiklah, Park SunHyeong-ssi, persidanaganmu dilanjutkan 3 hari mendatang” “Sidang ini selesai.” Tok… Tok… lanjut Hakim Wu lalu beranjak berdiri meninggalkan kursi kuasanya. “Terimakasih Oppa,” SunHyeong memeluk tubuh Chanyeol. Berterimakasih atas jasanya. “Kau gugup? Biar Oppa traktir kau ice cream setelah itu kau kuantar kekampus. Kau ada kuliah sore kan? Jika kau masih lelah aku bisa meminta ijin kepada dosenmu untuk meliburkanmu hari ini” “Tidak perlu, aku harus kuliah sore ini. Ayo Oppa, hanya 4 jam berada disini sudah membuat rambutku rontok”.

***

“Jam berapa kau pulang? Aku akan menjemputmu”. “Tidak usah terlalu baik kepadaku Oppa, aku tahu sikapmu ini hanya bertahan sampai beberapa jam kedepan” jawab SunHyeong sambil membuka pintu mobil hitam itu, “Oh iya, Oppa sampaikan pada Eomma hari ini mungkin aku tidak pulang lagi, aku mau menemani Minseok. Siapa tahu jika hari ini dia sadar, aku bisa meminta tolong padanya bersaksi untukku” Sunhyeong memasang senyum termanisnya lalu mengecup pipi kanan Chanyeol sebelum dia keluar dan berjalan menuju kampusnya. “Aku menyayangimu Park Chanyeol Oppa” “Perhatikan langkahmu!”.

“Dia hanya bisa mengucapkan kata-kata menjijikan itu” omel Chanyeol setelah itu melajukan mobilnya dengan kencang. Chanyeol bukanlah tipe orang yang suka membuang waktu seenaknya. Di umurnya yang terbilang masih muda ini Chanyeol sudah menjadi pengacara terkenal di Korea. Dia belum berniat melanjutkan study-nya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia masih ingin menghabiskan waktu mudanya untuk berkumpul dengan keluarga. Ia juga sudah memutuskan kapan ia akan melanjutkan study-nya jadi kedua orangtuanya tidak perlu repot mengurus anak pertamanya ini.

***

Chanyeol mengambil earphone kecilnya dan memasukkannya ke telinganya setelah sebelumnya dia sudah menekan tombol Handsfree pada ponsel miliknya. “Yeoboseo. Sekertaris Kim, ada apa?  Aku sedang menuju kekantor. Oh iya bisakah kau carikan profile dari Kim Minseok? Ne. Sebentar lagi aku sampai”.

“Tuan Park, aku sudah mencari profile dari Kim Minseok tapi profilenya diprotec dan saya hanya mendapat sedikit file saja. Dan sepertinya file itu tidak kalah pentingnya” ucap sekertaris Kim kepada Chanyeol saat ia hendak memasuki ruangannya. “Baiklah, panggil aku Chanyeol saja. Umur kita tidak terpaut terlalu jauhkan? Aku akan memanggilmu Joonmyun hyung”.

‘Kim Minseok adalah anak tunggal dari Direktur Kim Minsung, Minseok juga pewaris tunggal dari Min Corporation. Di umurnya yang baru mengijak 20 tahun ini Minseok berhasil menemukan produk yang memuaskan konsumen perusahaan ini. Di kabarkan, Kim Minseok akan menjadi direktur muda pada cabang perusahaan mereka yang berada di Korea’. “Great, ini cukup untuk dijadikan bukti”. Dengan bukti tadi Chanyeol dapat memberi alasan kenapa Minseok bisa menjadi korban. Tetapi bukan Chanyeol namanya jika ia sudah puas dengan satu hal saja. Chanyeol segera mencari bukti lagi, ia menyelidiki Min Corporation.

‘Min Corporation mulai berdiri di tahun 2001. Perusahaan ini dipegang oleh Kim Jongmin -Kakek Minseok-. Perusahaaan ini mebuka cabangnya yang pertama di Korea, setelah sukses besar di Amerika Serikat. Kim Jongmin memiliki 2 anak, anak pertamanya bernama Kim Minsung –Ayah Minseok-, dan anak keduanya bernama Kim Minjung. Pada tahun 2004, saat umur Jongmin menginjak 60 tahun. Ia menderita penyakit langka yang disebabkan oleh racun. Dikabarkan bahwa anaknya sendiri yang sudah berani meracuninya karena tidak terima mendapat warisan secara adil. Jongmin meninggal setelah 2 bulan melawan penyakitnya. Perusahaan pertama mereka di Amerika dipegang oleh Kim Minsung. Sedangkan yang di Korea dipegang oleh orang kepercayaan Jongmin. Sampai sekarang tidak diketahui keberadaan dari anak kedua Jongmin. Kim Minjung.’ “Kasusmu merumitkan sekali Hyeongie…” Chanyeol menghela nafasnya berat.

***

SEOUL HOSPITAL

15.00 KST

SunHyeong berjalan menuju kamar rawat Minseok. Dia terus saja berdoa agar Minseok segera sadar dan dapat meminta penjelasan darinya. SunHyeong berdiri di depan kamar Minseok. Memikirkan apa yang akan dikatakannya. Sesaat kemudia seorang perawat keluar dari ruangan itu. “Permisi agasshi, ini bukan jam jenguk” ucap perawat itu ramah. “Aku tahu, aku keluarganya. Aku yang menjaganya malam ini” SunHyeong menjawabnya dengan datar. Dia sedang malas dan lelah setelah persidangan dan kuliahnya yang membosankan. SunHyeong melangkah masuk tanpa mempedulikan perawat disampingnya. SunHyeong berjalan dengan gontai ke kursi yang berada di samping ranjang pasien. Ranjang Minseok. “Hei tukang tidur! Bangun! Ini sudah 5 hari, apa kau tidak lelah?”. SunHyeong terus saja menceritakan seluruh kegiatan dan kejadian yang dialaminya. Mengadukan seluruh masalahnya. “Aku sepertinya sudah gila. Karena bicara dengan orang yang jelas jelas tidak sadar” SunHyeong menggerang frustasi.

Seumur hidupnya baru sekarang dia mengalami masalah yang serumit ini. “Tapi kau tahu? Hakim tadi memiliki wajah tampan. Tidak seperti wajahmu yang diam membeku ” ucap SunHyeong sambil meraih tangan Minseok. Kapan kau akan sadar, pikir SunHyeong. SunHyeong bukanlah tipe gadis yang mudah beradaptasi dengan orang lain. Awalnya, SunHyeong tidak peduli dengan keadaan Minseok. Tetapi sekarang Minseok sudah seperti keluarganya sendiri. SunHyeong hanya merasa nyaman. Menganggap Minseok sebagai pendengar yang baik. Aneh memang. Tetapi selama 5 hari terakhir ini, semua kesehariannya pasti ia ceriatakan pada Minseok. Dan lebih anehnya lagi SunHyeong merasa bahwa Minseok selalu memberinya solusi yang masuk akal. “Ah kau benar, aku harus mencari tahu tantang dirimu. Kau pintar sekali Minseok-ssi” SunHyeong terlihat senang saat mendapatkan saran. Ia mencubit pipi kiri Minseok, sebagai tanda terimakasih. “Omo, berapa umurmu? Kenapa kulitmu kenyal dan halus sekali. Aku menyukai kulitmu” segera SunHyeong mencari profile Minseok, berharap mendapat suatu keajaiban yang dapat menyelesaikan masalahnya.

***

“Hakim Wu, dari persidanagan tadi sepertinya terdakwa SunHyeong itu tidak bersalah”. “Aku juga berfikir seperti itu. Tapi, jika dia tidak bisa memberikan semua bukti, kita juga tidak salah  jika menyebutnya tersangka.”,”Kasus ini sebenarnya bisa langsung terselesaikan jika korban segera sadar dan memberikan saksi kepada kita semua” lanjut Hakim Wu sambil membaca bukti dari Chanyeol tadi.

DRRRT…DRRRTT…

Ponsel Wu Fan bergetar, tanda ada panggilan masuk. Wu Fan segera mengangkat ponselnya begitu ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. “Yeoboseyo…” “Kris, kau punya waktu? Aku ingin berbicara denganmu sekarang” “Kau ada dimana? Aku akan menemuimu saat makan malam nanti. Kita bertemu di café dekat kantormu” Wu Fan sedikit menarik bibirnya kesamping. Tersenyum. Sudah lama ia tidak bertemu dengan teman lamanya. “Baiklah, biar aku yang traktir. Sudah lama aku tidak melihatmu.”

-TBC-

Allright, akhirnya part 1 selesai juga. Hahaha. Maaf aja kalau FF ini cuma sedikit. Biasanya kan part 1 itu banyak tapi isinya masih belum ketahuan apa. Disini aku udah jelasin konflik pertamanya.

Aku disini suka banget sama chemistry antara Minseok sama SunHyeong. Kira- kira siapa ya yang bakal sama SunHyeong. Aku masih bingung mau pilih yang mana /authorgalau/. Yang jelas di part ini si Xiumin gaji buta banget.

 Gimana kalau Xiumin mati? jadi nanti masalahnya ga selesai selesai. Terus si SunHyeong masuk penjara, jadi frustasi, terus gila akhirnya ikutan mati deh. Selesaikan, ending yang bakal selamanya jadi favoritku.

Oke cukup aja aku komen di FF-ku ini. Thankyou for reading. Do not COPYPASTE without MY PERMISSION. Makasih juga buat yang udah komen. Aku hargai kritik sama saran kalian so, jeongmal gomawo. Maaf juga buat typo-nya. Akhir kata, Goodbye. ^^;

26 pemikiran pada “I Need You and You Want Me (Chapter 1)

  1. ahh, cerita ini plagiat, bangga dengan cerita orang lain…

    Disclaimer : FF ini murni buatan author,
    jadi aku harap jangan dibash ataupun
    dicopypaste. Mohon kritik dan sarannya
    lewat komentar-komentar kalian. Part
    lanjutannya mungkin agak telat karena
    aku ada ujian. Jangan pada bosan nungguin part selanjutnya ya.. Gomawo ^^
    Bohong ini bukan buatan author dia ngekjiplak cerita orang

    • Berani kasih bukti apa? Siapa tau disclaimernya aja yg sama. Dan aku blm pernah baca ff bergenre politic dgn wufan sebagai main castnya
      Dan aku tekanin lg, klo aku plagiat ff orang, part lanjutannya udh bakal dipost dlm waktu singkat ini. Sedangkan sekarang aja jd setengah, karna aku ujian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s