My Senior High School (Chapter 4)

Chapter 4

Title: One Super Rich Boy and One Candy Lovers

Characters: NRD (OC), EXO

Words: 9,904

Selamat membaca semuanya!

Saranghae yeorobun, anyeooong~! 

 

 

________________________________________________

 

 

 

Hari jumat damai nan tentram.

Pada hari ini, semua siswa kelas satu resmi menjadi murid Strodes dan memulai hari belajar mereka yang pertama, berhubung MOS diadakannya hari selasa. Wajah-wajah murid kelas satu semuanya sumringah. Maklum, namanya juga anak baru.

Kelas 1-D kedapetan komputer sebagai pelajaran pertama, kemudian disusul oleh pelajaran BK. Dua-duanya sangat santai, sampe-sampe gak keliatan kayak lagi sekolah. Yang komputer pada buka facebook, update twitter, buka tumblr, buka game, dan juga buka wordpress untuk baca fanfic. Lho?

Pelajaran BK malah lebih asoy melahoy lagi, gurunya cuma dateng buat nyuruh anak-anak kelas 1-D buat bikin biodata mengenai dirinya masing-masing. Tapi ada lima anak bego plus kepedean yang menulis ‘cita-cita’ mereka menjadi yang aneh-aneh. Dua diantaranya menulis ‘digemari wanita’. Gak usah dibahas, udah pasti yang nulis begitu duet maut sumber kericuhan kelas 1-D ini. Satu lagi menulis ‘pembawa acara makan-makan yang dibayarin. ehe’, dimana pelakunya adalah gadis bernama Nichan. Ada juga yang ‘penari. tapi mager ah kalau harus latihan nari tiap hari’ dimana bocah kepret bernama Daeri-lah yang menulisnya. Terakhir ada yang menulis ‘bikin mesin pembuat permen yang gak abis-abis tapi gak butuh bahan-bahan dasar’, siapa lagi kalau bukan Ara? Kertas-kertas isi biodata masing-masing anak pun dikumpulkan pada ketua kelas yang baru ditunjuk hari ini, yaitu Yongguk.

Kemudian datanglah waktu istirahat, dimana para murid diberi kebebasan untuk pergi ke kantin atau tetap di kelas.

“Ara, kamu udah ngerjain pr yang kemarin disuruh?”

“Hari ini aku udah ngeliat yang namanya TOP-oppa lagi jalan di lantai satu asrama! Seneng banget, deh.. Dia bener-bener TOP!”

“Eh, Ara, kamu tuh lebih suka Kris-oppa ya, daripada TOP-oppa?”

“Sebenernya, tipe cowok kamu tuh kayak gimana sih?”

“Iya juga ya, aku juga jadi penasaran.. Kamu sukanya cowok yang kayak gimana sih?”

Ara cuma bisa cengar-cengir jijay ketika dibombardir dengan pertanyaan yang seabrek begitu. Bukan apa-apa, dia jadi berasa kayak artis yang lagi dikerubungin reporter. Untung aja dia gak kelepasan dadah-dadah cantik sambil bilang “no comment, no comment. Tolong beri saya jalan.”

‘Aduh, gue ternyata pemes banget, yah.. Jadi enak.’ batin Ara dengan teramat sangat mega pede. Baydewey, ‘pemes’ itu makudnya ‘famous’. Dodol emang tuh anak.

“Yah! Ara! Jawab, dong.. Malah bengong,” protes Bomi, teman sebangkunya yang tiap hari makmur karena dikasih permen gratis sama Ara. Tetapi darimana Ara mendapat permen sebanyak itu masih merupakan misteri.

Ara tersadar dari ke-geerannya. “Eh? Hehe.. Ehm, yang kayak gimana, ya?”

“Masa gak ada, sih? Kamu kan anaknya manis, emang gak ada cowok yang ngedeketin kamu?”  Yookyung bertanya dengan penuh rasa penasaran.

Ara geleng-geleng kepala kayak lagi dugem. “Enggak ada kok, beneran..”

“Haah? Masa sih?” Ketiga yeoja yang lagi berkumpul dengan Ara langsung menyuarakan pendapatnya masing-masing mengenai keheranan mereka kalau Ara belum punya pacar, tentang betapa gantengnya Kris-oppa, TOP-oppa yang emang top, betapa manisnya Luhan-oppa, gembulnya pipi Changmin-oppa, betapa kerennya anu-oppa, ini-oppa, itu-oppa, oppa-oppa, dan sebagainya.

Merasa tidak begitu tertarik dengan pembicaraan mereka kali ini, Ara bangkit dari kubur. Gak deng, bangkit dari kursinya. “Aku ke kantin dulu ya? Mau beli cemilan, nih..”

Teman-temannya pun dadah-dadah anggun dan ia balas dengan dadah-dadah ngusir sambil menuju pintu yang terlihat sepi itu.

Baru aja keluar kelas, ia papasan dengan cowok tinggi bersuara nge-bas. Siapa lagi kalau bukan makhluk koplak bernama Chanyeol? “Mau kemana, Ra?” tanyanya.

“Ke kantin, mau nitip apa lu? Eh Nichan sama Daeri lagi kemana sih?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Katanya mau nyamperin oppa-nya masing-masing. Cuih, alesan aja tuh! Padahal gua yakin dua kunyuk itu cuma mau ngeliat Kris dan kawan-kawannya yang masih kalah ganteng sama gua ini loh..”

Ara manyun. Mau sampe kapan anak ini nganggep dirinya lebih ganteng daripada efse sekolah ini? “Geli gua ngedengernya..” gumam Ara yang dibalas dengan cengiran derp Chanyeol. Lalu Ara melanjutkan, ”Yaudah sana lu masuk kelas,”

“Hati-hati, ya..” Chanyeol menepuk bahu Ara. Baru aja dia mau terharu karena sahabat barunya itu amat memperhatikan dirinya, tetapi sejurus kemudian ia merasa ada yang aneh. Genggaman Chanyeol di bahu Ara terlalu kuat, lama, nempel dan…….basah?

“Eh kok tangan lu basah gini sih?!” Ara sewot, ia memandang Chanyeol dengan penuh kecurigaan.

Senyuman iseng Chanyeol jelas bikin Ara gak seneng. “Hehe, gua abis boker barusan dan cebok pake tangan ini..” ungkapnya dengan tatapan imut yang gak pantes sama omongannya.

Mata Ara langsung melotot sampe kayak mau keluar dari tempatnya. “INNALILLAHI! NAJIS LU, CHANYEOL!! JOROK!! JIJIK! NISTA, LU!! IH AMIT-AMIT!!!!” Dengan panik Ara menampar-nampar tangan Chanyeol  sementara pelaku kasus kejahatan dan penganiayaan ini tertawa dengan puas sambil melindungi dirinya dari serangan Ara.

“Ahahaha~! Dadah Araa!” katanya sambil kabur ke kelas, gak sabar pengen nyeritain hal barusan ke pasangan lawak abadinya, Baekhyun, yang kini tengah memakan roti abon sendirian di kursinya.

Ara menepuk-nepuk bahunya, ia gondok segondok-gondoknya rasa gondok sampe gak konsen jalan karena terus ngecek noda basah di bahu sebelah kanannya. “Mama, Papa.. Ara dinodai oleh si sompret Chanyeol..” Betapa malang nasib Ara, ia hanya ingin pergi ke kantin untuk membeli cemilan namun apa yang ia dapat? Peperan bekas buangan hajat orang, apalagi orang itu adalah Chanyeol.

Karena terus-menerus mengecek bahunya, ia jadi gak liat ke jalanan dan menabrak seseorang. “Eh, sori,”

Bukannya menjawab, Kyungsoo, atau lebih dikenal dengan D.O, malah balik menatapnya dengan tatapan bingung.  Ara pun tertegun karena wajah mereka sangat dekat. Saking dekatnya sampai Ara bisa melihat pantulan dirinya di mata D.O.

Di saat seperti ini biasanya angin langsung berhembus dan cinta pun tumbuh, tapi khayalan itu langsung pudar ketika D.O bertanya, “Kamu kenapa?”.

‘Kenapa harus tabrakannya sama si anak mami ini sih? Bukan sama Kris-oppa gitu, biar kayak di film-film kan.. Biar nanti gua bisa kenalan sama Kris-oppa dan menjalin cinta yang indah bersamanya dan untuk selamanya,’ ujar Ara dalam hati, saking kebanyakannya nonton sinetron tendangan si Madun. Apa hubungannya?

Ara menghela napas. “Gak kenapa-kenapa.. Tadi Chanyeol iseng meperin tangannya ke gua,” jawab Ara sekenanya.

Muka D.O langsung keliatan kayak muka nahan ketawa. Ia memalingkan muka dari Ara.

“Apa lu? Mau ketawa sih ketawa aja, kali,” kata Ara dengan galak tapi bercanda, masih tetap memegang bahunya.

Sontak D.O langsung kaget dan takut-takut begitu tatapannya bertemu dengan tatapan yeoja serem di depannya itu. “E-enggak…. Enggak mau ketawa, kok.”

Lagi-lagi Ara menghela napas. Ia jadi ngerasa kasian sama tuan muda ini. Padahal ngebentaknya cuma bercanda doang, tapi D.O keliatan kayak takut beneran. Beda banget sama Baekhyun dan Chanyeol yang nyolot-udik-berisik-bin rusuh itu, mereka mau digalakin kayak apa juga tetep keliatan bahagia.

Baru mau mempersilakan D.O untuk jalan lagi, ia tiba-tiba sadar kalau empat bodyguard yang biasanya mejeng di depan kelas sampe bikin Kyuri-Suho ragu buat masuk apa enggak ke kelas itu gak ada di tempat biasanya.

“Bodyguard-mu kemana?”

Wajah D.O yang sebelumnya takut jadi agak tenang sedikit mendengar nada bicara Ara yang memelan. “Oh.. Mereka…aku suruh pulang. Tapi kalau Bodyguard Ren, mereka jaga-jaganya di tempat lain.”

Ara gak peduli dengan bodyguard milik tuan besar yang satu lagi. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk bilang ‘gua kagak nanya soal Ren, kaleee!’, ntar D.O malah makin ngeri sama dia. “Emangnya kenapa, kok kamu suruh pulang?” Mungkin gara-gara berteman dengan Kyuri, sifat kepo-nya menular ke semua temannya, bahkan ke Ara.

Sekilas, yeoja itu melihat keraguan dan kesedihan dari wajah D.O, tetapi ia pun menjawab, “Aku gak suka kalau dikawal terus. Aku bisa jaga diri sendiri, kok.”

Ara manggut-manggut dan merasa kagum tiba-tiba, padahal selama ini dia terus memandang rendah D.O karena ia menganggap bahwa D.O anak yang manja. “Gitu toh.. “

‘Gak nyangka juga gue, gue pikir dia anak mami yang kalau permintaannya gak dikabulin bakalan ngerengek kayak bayi..’ batin yeoja itu.

Mendadak terjadi keheningan di antara mereka berdua. D.O salting. Ara salting karena D.O salting. Author salting karena Kris tiba-tiba lewat di depan author *ngarep*

Ragu-ragu, Ara mengatakan, “….yaudah deh. Dah,” sambil berlalu. Tanpa ia ketahui D.O menoleh kembali ke arahnya dan terus memandangnya sampai Ara berbelok di ujung koridor. Baru kali itu ia mengobrol dengan orang selain keluarganya dalam waktu yang cukup lama.

 

* * *

 

Dilahirkan menjadi anak dari seorang usahawan hotel ternama bintang tujuh (emangnya puyer?) yang cabangnya tersebar di 33 negara dan merangkap sebagai komisaris di lima perusahaan mobil Eropa mewah dan merangkap lagi sebagai pemilik tambang batu bara yang menikah dengan seorang wanita yang hobinya bangun mall-mall megah nan elite di berbagai negara dan merangkap sebagai pemegang saham terbesar seantero Korea, tidak membuat Do Kyungsoo menjadi anak paling bahagia di dunia.

Sejak kecil, orang tuanya jarang sekali ada di dekatnya. Paling banter ia diurus oleh baby sitter yang udah berjejer dengan rapih nunggu perintah darinya. Bergaulnya kalau gak sama koki, pelayan yang seabrek, satpam, bodyguard yang jarang ngomong, tukang kebun yang kalau ngobrol cuma ngebahas jenis bunga doang, tukang bakso Mang Edi yang sering lewat, atau ya sama anjing Maltese miliknya, Enrique Spaciolla Frederiko Santiago Pedro Mozarella Barbados. Iya itu nama satu anjing, kok. Tapi sayangnya, semua itu masih belum cukup. Ada lubang besar di hatinya yang sampai sekarang masih ia pendam. Baydewey, kenapa narasinya jadi serius begini?

Karena kekhawatiran orang tuanya yang berlebihan dan hartanya yang berlebihan pula, sejak TK ia sudah dikawal oleh bodyguard. Kyungsoo, atau D.O, jarang sekali disapa oleh anak sebayanya. Hal tersebut terus berulang sampai ia SMP. Kali ini, di SMA Strodes yang kini menjadi tempatnya bersekolah, ia bertekad untuk memiliki teman, paling tidak, satu saja juga sudah cukup.

 

* * *

 

Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap murid baik kelas satu maupun yang kelas tiga sejak jaman SMP dulu. Sebelum olahraga, murid-murid disuruh untuk mengganti bajunya jadi seragam olahraga. Ya iyalah, masa olahraga mau pake kebaya?

Dan kelas yang kedapetan pelajaran olahraga setelah istirahat pertama di hari jumat ini adalah para tokoh utama blo’on kita.

“Daeri, ayo ganti sekarang, nanti keburu rame di kamar mandi,” Nichan memikul tas kecil berisi seragam olahraganya dengan gagah seperti kuli (?), sedangkan bocah yang dipanggil namanya barusan langsung ngobok-ngobok isi tasnya.

“Bentar yak, sabar..” Daeri sibuk dan sibuk mencari, dan tiba-tiba ia merinding dugem ketika ada senandung fals di belakangnya.

“Nyari apa, neng?” Suara Chanyeol terdengar ekstra nyebelin di kuping Daeri. Ia menoleh ke belakang dan mendapati dua temannya yang sebenernya ganteng berubah kayak ondel-ondel bertampang mesum.

‘Perasaan gua gak enak….’ pikir Daeri.

“Perlu dibantu?” Baekhyun menambahkan dengan senyuman tulus yang palsu. Nichan gak ngomong apa-apa, dia cuma bolak-balik menoleh antara BaekYeol dan Daeri dengan bingung.

‘Cuh, nawarinnya kenapa begitu sih nadanya—eh?’ Merasa menemukan sesuatu, Daeri menarik tangannya dari tas yang puas ia perkosa dan taraaa~!, seragam olahraganya pun ketemu.

“Horeee! Ketemu!” Daeri bersorak sorai riang gembira gegap gempita semerbak meluas dan narasi apa ini?

Muka pasangan mesra BaekYeol pun lansung berubah kayak orang lagi ngeden. “Loh kok ada??!” Baekhyun yang teriak duluan, dan diikuti oleh Chanyeol, “Kan udah kita ambil tadi! Kok bisa ada di tas lagi??”

Daeri melirik puas ke arah BaekYeol meskipun ia masih bingung dengan kelakuan mereka berdua, sementara pasangan iseng itu langsung ngobrak-ngabrik laci meja Chanyeol dengan panik dan mengeluarkan sebuah kain yang dilipat. “Lah, terus ini apaan?”

Dengan tenang Nichan nyeletuk, “Bolero, kali,”

Sontak Nichan, Daeri, dan —mau gak mau— Baekhyun, ketawa ngakak berbarengan dan mending pelan, ini kayak gajah lagi ngelahirin featuring kuda dikebiri.

“Buseh.. Nichan, kok lu masih inget sih aib gua??!!” Chanyeol manyun. Ia gak terima anak seganteng dan setampan dirinya dibongkar –bongkar kembali aibnya.

“Gak usah sok deh, aib lu banyak, kali..” Baekhyun, bukannya menjadi sahabat baik untuk Chanyeol, malah menjadi minyak tanah bagi kompor bernama Nichan dan Daeri.

Tengsin, Chanyeol pun berusaha ganti topik kembali. “Udah sana, lu berdua mau ganti baju, kan? Ayo, ayo, silakan kaka.. Ganti bajunya kaka..” ucap Chanyeol meniru mbak-mbak ITC sambil ngedorong-dorong pelan Nichan-Daeri.

“Cuh! Mau lari dari topik lagi lu, ya?!” Daeri mendengus kesal. “Tapi bener juga ya..” Daeri blo’on.

“Yaudah, ntar aja kita korek semua aib dia. Yuk, Daeri!” Nichan menarik tangan Daeri keluar kelas, sebelum keluar kelas pun Daeri dan Chanyeol masih sempet saling ngelewe ke satu sama lain. Sungguh tindakan yang sangat dewasa.

Baekhyun cekikikan sendiri ngeliat kelakuan sahabat-sahabatnya. Chanyeol, yang merasa dizhalimi oleh pasangan abadinya, langsung monyong-monyong ke arahnya. “Tega lu, tega……”

Memasang tampang polos nan lugu, Baekhyun melakukan ‘bbuing-bbuing’ ala Tao. “Kenapa dengan diriku? Ada yang salah?” Matanya terlihat berbinar.

Mulut Chanyeol makin jembewe. “Yang salah itu muka lu!” ujarnya dengan kejam.

“Ahahahaa, Chanyeollie marah yah~?” Baekhyun gak ada bosennya kalau ngegodain Chanyeol. Mending godain noona sini deh, Bacon.. *digampar fans exo*

“Apaan tuh, ‘Chanyeollie’??!! Pret pret dut!! Eneg abis gua!”

“Hahahah, mpoz lu, mpoz…”  ledek Baekhyun. ‘Mpoz’, dalam bahasa ff ini artinya ‘mampus’. Harap pembaca memaklumi kenorak-an pergaulan tokoh-tokoh utama kupret kita ini ya. “Eh, yang kita ambil itu sebenernya apaan sih? Kok bisa-bisanya kita gagal ngerjain orang kayak gini..” lanjutnya.

“Iya juga, ya..’ Chanyeol pun membentangkan bolero kain misterius yang mereka salah ambil, yang ternyata adalah seragam olahraga Strodes. Tapi, seragam yang berada di tangan Chanyeol adalah seragam milik anak laki-laki.

Baekhyun dan Chanyeol saling bertatapan. Kemudian mereka berciuman. Hehehe enggak deng.

“Cuih, mana mau gua ciuman sama dia!” Baekhyun protes. Kok dia bisa tau keinginan author ini ya?

“EH! Lo pikir gua mau, haaa?? Tapi, ini, kok si Daeri punya seragam laki-laki di tasnya, sih?”

Baekhyun yang otaknya agak sedikit lebih pintar (sedikit doang) dari Chanyeol pun berpikir sebentar dan mengambil kesimpulan. “Punya oppa-nya, kali?”

Chanyeol manggut-manggut. “Naah, bisa juga, tuh. Barusan kan mereka katanya pergi mau nemuin oppa masing-masing gitu, deh.. Tapi, gua sempet mikir Daeri berkelamin ganda. Hehe..” Ia nyengir-nyengir, begitu juga dengan sahabatnya.

“Gua juga mikirnya begitu!” Lalu mereka pun tertawa dengan sangat berisik.

Kedua biang rusuh itu kembali membuat rusuh layaknya yang biasa mereka lakukan, bahkan ketika kelas mulai sepi karena para murid udah mulai keluar menuju ruang ganti.

Puas ngobrol, Baekhyun dan Chanyeol pun langsung berdiri dan terdiam sejenak ketika mereka ngeliat D.O yang masih duduk dengan wajah murung. Baekhyun  langsung menyikut pelan lengan Chanyeol. “Eh, kita ajak aja, yuk.”

Chanyeol pun berpikiran sama dengan Baekhyun. Jangan-jangan mereka emang punya satu pikiran yang sama? Jangan-jangan hati mereka pun saling terpaut? Jangan-jangan mereka putra yang tertukar?

“Iya, gua sih ayo aja.. Kasian ngeliatnya jarang ngobrol di kelas,” Chanyeol menyetujui perkataan Baekhyun yang sebelumnya.

Baekhyun pun mendengus, “Emangnya kita? Ngobrol mulu..” Nah itu tau.

Di sisi lain, D.O, yang lagi sibuk merenungi nasipnya yang sampe sekarang belum punya temen, dikagetkan dengan tepukan di pundaknya yang sebenernya pelan, tapi berhubung dia adalah tuan muda yang mungil, unyu, dan rapuh, tepukan barusan kerasa kayak tabokan baginya.

“Hoi! Bareng kita, yuk! Lu D.O, kan?”

D.O hanya memandangnya dengan tatapan kaget dan bingung.

“Lu sendirian mulu, gak enak tau. Mending sama kita aja yang gaul, funky, sporty, crunchy, trendy dan crispy ini!” Baekhyun menambahkan dengan gobloknya.

“Najis lu, jayus parah..” Chanyeol menggerutu dan melihat ke arah sahabatnya dengan pandangan tidak percaya, sedangkan Baekhyun cuma garuk-garuk kepalanya dan nyengir.

D.O masih bengong, tapi kali ini sambil nahan ketawa.

Baru kali itu ada seseorang —ini malah langsung dua orang— yang mengajaknya pergi bareng, meskipun untuk ganti baju olahraga doang. Males ngetik narasinya, tapi bagi D.O, Baekhyun dan Chanyeol bagaikan malaikat yang turun dari surga sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum dengan manis sambil bilang “ayo berteman denganku.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, D.O hanya mengangguk dan mengambil seragam olahraganya. “Iya,” katanya dengan riang dan disambut oleh cengiran BaekYeol yang membuat hatinya merasa tidak sendiri lagi.

 

* * *

 

“Waduh? Olahraganya main dodge ball, ya?” ujar Chanyeol sambil ngunyah permen. Permennya udah pasti dari Ara.

“Iya, emang kenapa? Lu gak bisa ya?” kata Daeri, yang juga lagi ngunyah permen.

“Enak aja.. Bukannya gak bisa, tapi udah lama gak mainin!”

“Ah, ngaku aja lu.. Bilang aja gak bisa. Kalah lo sama guweh..” Nichan menambahkan dengan gaya bahasa gaul. Ia pun gak mau ngelewatin kesempatan ngecengin Chanyeol.

“Bisa! Ntar lu semua liat ya betapa kerennya gua kalau lagi main di lapangan! Jangan jatuh cinta, ya, tapi..” Yang namanya Chanyeol emang susah untuk dicengin, pasti ujung-ujungnya malah pamer. Lagian sih, ngecengin orang yang tukang ngecengin.

“HUWEEKKKHH!!” Nichan dan Daeri pura-pura muntah, sedangkan Ara cuma menatap dengan datar. Chanyeol yang merasa aneh dengan hal itu pun jadi merinding dangdut.

“Euhh.. Ara, lu kenapa?” Dengan ragu dan takut, Chanyeol bertanya.

Ara langsung terdiam. Ia menoleh ke Chanyeol dan menarik napas, untuk kemudian ia buang dengan serangan omelan dan segala caci maki. “’Kenapa’……..? Lu nanya ke gua ‘KENAPA’?! Lu gak inget barusan lu meper abis eek di baju gua dan itu masih basah-basah-jijay-bau gimanaaa gitu!! Elu tuh bener-bener ya sdjgk^%$hsdag&%$#%Gg!!!”  Saking galaknya, author terpaksa menyensor segala caci maki Ara. Sedangkan Chanyeol yang malang hanya bisa pasrah dan megap-megap nyari udara segar gegara disembur-sembur iler dari orang yang kebanyakan makan permen itu.

Nichan dan Daeri, yang gak tau apa-apa, terbengong-bengong ngeliat Ara yang jadi ganas. Kalau Daeri yang begitu sih wajar, ini adalah seorang Ara. Ara, lho. Gadis pemberi permen gratis.

Tapi berhubung barusan Ara nyebut kata-kata ‘meper’, ‘abis eek’, dan ‘basah’, baik Nichan ataupun Daeri gak berani nanyain karena mereka udah bisa narik kesimpulan sendiri.

“Ara, ampun, ampun, ay lop yu. Plis, lain kali kalau lu boker lu boleh meper ke gua, suwer!” Jari-jari Chanyeol membentuk tanda ‘peace’ sambil takut-takut.

Napsu Ara untuk menghujani Chanyeol dengan amarahnya pun semakin besar. “UUGGHHHH, LU PIKIR GUA JOROK KAYAK ELU?! Nih! Daripada gua balesnya gak elit begitu, mending lu terima nih serangan gua!” Ara mengambil beberapa onggok tanah dan melempar-lemparnya ke arah Chanyeol.

Chanyeol melindungi tubuhnya dengan mengangkat-angkat tangannya dan agak kabur sedikit. “AAH! Jorok lu, Ra! Lu pikir yang kayak begini gak jorok, hah?? Nih, rasain nih pembalasan balik dari Chanyeol!” Merasa kabur adalah tindakan pengecut dan gak oke, Chanyeol memilih untuk menerima tantangan Ara main perang-perangan tanah, berhubung lagi belum musim salju.

Dengan lihai Ara menghindari semua tembakan tanah dari Chanyeol  dan mengumpulkan senjata miliknya sendiri.

Sementara Ara-Chanyeol sibuk dengan perang dan ini bukanlah ff mengenai kekerasan, Nichan dan Daeri pun menonton agak jauh dari medan pertempuran gak penting itu.

“BAGUS ARA!! AYO TERUS!”

“A-RA! A-RA! GO, GO, A-RA!!”

Sorakan dari kedua temannya membuat Ara semakin panas, semangat, dan ngerasa keren banget. “Rasain! Rasain!” katanya dengan sangat gak anggun.

“Mpoz! Mpoz!” Keluarlah bahasa itu dari mulut Chanyeol. Dan hal tersebut udah pasti kedengeran oleh Nichan-Daeri.

“Daeri, kamu denger gak tadi Chanyeol bilang apa?” Di sela-sela dukungannya terhadap Ara, ia bertanya pada yeoja paling muda di kelas itu.

“Iyak, denger dengan jelas. Dia bilang ‘mpoz’………”

“……………….” Gak perlu kata-kata, ekspresi muka mereka seolah bilang ‘makin bego aja ya itu orang?’.

“Nah! Ayo kita lanjut dukung Ara!” Nichan memutuskan gak mau ngebahas lebih lanjut hal itu.

“Oke! AYOOO ARAAA~!” Mereka berdua pun kembali menyoraki Ara.

Sementara Baekhyun dan D.O yang baru balik ke lapangan setelah mengambil bola untuk pertandingan dodge ball, mereka langsung diem di tempat.

“Ng….. D.O?” Baekhyun memulai pembicaraan duluan.

“Ya?” jawab anak tajir bertampang indah itu.

“Menurutmu, kita mendingan tetep di sini pura-pura gak kenal mereka, atau balik ke tempat rusuh itu?” Baekhyun berkata seolah dia anak yang pendiam.

D.O cengar-cengir denger omongan Baekhyun. “Gimana kalau kita di sini aja dan ngeliatin ke-bego-an mereka?”

Mata Baekhyun melotot dan mulutnya membentuk huruf ‘O’ yang lebar karena gak mungkin juga mulutnya jadi bentuk ‘H”. “Wow! D.O! Ternyata lu bisa juga ya ngecengin orang! Gua salut!!” katanya sambil menepuk-nepuk D.O, agak terlalu bersemangat.

Dibilang seperti itu membuat wajah D.O memerah karena malu campur seneng. Ia gak pernah dipuji gara-gara hal se-sepele itu. Itu sih emang Baekhyunnya aja yang sesat ajarannya. “Hehehe…” D.O cengengesan sambil garuk-garuk kepala.

“Oi, Baekhyun! Tolong bantu ambilin absen kelas dong!” teriak guru olahraga mereka. Entah mengapa diantara segitu banyak murid kelas 1-D ia malah milih minta tolong pada Baekhyun. Apakah mukanya terlihat seperti babu? Kalau ada babu kayak gitu sih mending dijadiin pacar… *curhat dadakan author yang kepengen banget eksis di ff ini*

“Aduh, gua lagi yang disuruh… IYA PAK!” Baekhyun bersiap untuk pergi lagi. D.O pun begitu, tetapi Baekhyun menahannya. “Lu sini aja, D.O. Biar gua yang ngambil. Tapi kalau mau, lu kesana aja tuh ke tempat anak-anak berisik itu.” kata Baekhyun. Kayak dia gak berisik aja.

“Oke deh…” gumam D.O sambil melihat Baekhyun berlalu. Pandangannya pun kembali pada perang lempar tanah yang baru aja berakhir karena begitu lemparan Chanyeol mengenai Daeri, pertandingan sudah tidak seimbang lagi berhubung pertempuran sengitnya berubah jadi tiga lawan satu karena Nichan dan Daeri ikut nimbrung. Chanyeol yang megap-megap nyari pertolongan pun tidak memiliki daya menghadapi tiga hewan liar.

Nichan, Daeri, dan juga Ara saling tos dan lompat-lompat kegirangan. Mereka ngetawain diri mereka dan Chanyeol yang jadi kotor semuanya.

Dari tempat D.O berdiri, ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Yang kedengeran cuma suara ketawa Ara yang gak pernah alus, gak pernah lembut, dan gak pernah lepas dari pikiran D.O.

Ara, gadis pertama yang berbicara lama dengannya. Melihat sosoknya dari kejauhan yang tengah bercanda dengan dua makhluk yang mukanya diburemin (seenggaknya, dipandangan D.O keliatan begitu), membuat hati D.O tergetar dan senyuman pun mengembang dengan sendirinya di wajah D.O yang lugu itu.

 

* * *

 

Kebetulan di saat yang bersamaan, Kyuri —duduk di samping kaca kelasnya yang berada di lantai tiga dan bisa dengan mudah melihat ke lapangan— tidak luput dari kejadian itu. Sebetulnya ia lagi asik ngedengerin penjelasan gurunya, tapi begitu kedengeran suara-suara mencurigakan dari bawah, ia langsung jadi penonton tetap dari perang paling udik yang pernah ia lihat antara mantan murid-murid yang pernah ia mentorin itu.

“Hmm… D.O kira-kira ngeliatin siapa ya, sampe segitunya…” Kyuri bergumam. Teman sekelasnya yang berasal dari Cina, Yi Xing, atau lebih dikenal dengan istilah Lay, langsung nengok ke belakang.

“Kenapa, Kyuri?”

Kyuri tersadar dari lamunannya. “Hah? Oh.. Noh, yang lagi olahraga..” Ia menunjuk ke bawah, tempat dimana murid-murid kelas satu biang rusuh itu udah mau mulai pertandingan dodge ball-nya. Lay pun mengikuti arah yang ditunjuk jari Kyuri.

“Mereka murid-murid yang kamu mentorin, kan?” Lay nengok ke arah Kyuri lagi. Suho, yang duduk di samping Kyuri juga ikutan nimbrung.

“Ada apaan sih?” tanyanya dengan wajah yang selalu tersenyum itu.

“Nih, ya.. Kalau menurut gua, D.O itu suka sama salah satu dari bocah-bocah berandal itu.. Soalnya daritadi dia diem aja ngeliatin dari jauh, mana cengar-cengir sendiri pula..” Nada Kyuri terdengar kayak emak-emak lagi gosip.

Lay, yang notabene memiliki tingkat kepo dan mulut ember setara dengan Kyuri, langsung 180 derajat muter badannya. “Oh ya?? D.O itu yang dateng pake helikopter waktu hari pertama masuk, kan? Dia suka sama yang mana??”

Kyuri jembewe. “Hih, lu ganteng-ganteng budek, ya. Kan gua bilang ‘salah satu dari mereka’, ya berarti gua belum tau yang mana! Dasar, Lay memang Lay..”

Orang yang kena omel Kyuri itu mesem-mesem. “Hehe, iya ya.. Eh tapi emang si D.O itu anaknya baik ya?” katanya sambil menopang dagu, nyari posisi wuenak untuk ngegosip bareng Kyuri. Hal yang biasa terjadi sejak kelas satu sampe anak-anak sekelasnya udah gak heran lagi ngeliat dua orang yang gak segan untuk ngobrol ampe bibir dower.

Kali ini Suho yang menjawab. “Baik kok, tapi dia keliatannya polos dan susah buat temenan sama orang, deh.. Aku kasian ngeliatnya, dia selalu sendirian. Bodyguardnya aja kemaren-kemaren cuma jagain dia doang, gak ngobrol sama dia.. Emang kenapa nanya gitu?”

Lay manggut-manggut dengan tatapan serius. Dia seriusnya emang kalau gak lagi dance, ya pas lagi gosip. “Gak apa, abisnya biasanya anak orang kaya kan manja-manja gimanaa gitu..”

“Ah, enggak kok. Dia baik banget malah, aku pernah disuruh ngabisin makan siangnya dia,” Kyuri menimpali.

Merasa putus asa, Lay menghela napas. “Itu sih elu aja yang rakus.. Palingan juga elu yang mupeng ngeliat makanan-makanan enak terus si D.O itu jadi gak tega dan pada akhirnya dia nawarin makanannya ke elu..” Suho pun langsung menahan ketawanya. Omongan Lay tepat banget. Lay memang Lay!

“Yeee, suka-suka gua dong! Lagian lu gak tau sih, makanannya apaan. Macem gua lagi di pesta bangsawan aja tuh! Lu harus tau ya Lay, waktu itu dia pernah bawa dessert coklat fountain. Itu loh! Coklat yang disajiin di tempat kayak air mancur mini plus buah-buahan untuk disiram ke situ..”

Mata Lay langsung melotot gak percaya dengernya. “Seriusan lu?? Itu sih gua juga mau!”

Kyuri langsung mendengus dan masang muka bangga. Kenapa yang bangga jadi dia? “Makanya gua bilang juga apa.. Gak mungkn lu gak mau nyicip-nyicip dikit! Dan itu hidangannya lengkap dari appetizer, masakan utama, sampe dessert. Emang dasar makmur ye, beda sama gua yang gembel ini,”

“Hah, gila.. Lain kali ajak gua ke kelas mereka dong pas makan siang! Siapa tau dia ngebolehin gua buat makan juga..” Lay semakin lama semakin tertarik dengan pembicaraan mengenai D.O.

“Boleh, tapi lu beliin gua makan siang, ya..” Kyuri naik-naikkin alis dengan jijaynya.

Mulut Lay langsung jadi Lay. Salah, maksudnya mulut Lay langsung menyon-menyon. “Euh.. Bukannya kita bakalan makan makanannya D.O-D.O itu? Ngapa lu masih aja minta gua beliin makan siang?”

Suho yang gak berenti cengengesan dengerin dua sahabatnya itu ngobrol, langsung merinding metal. Dia merasakan firasat buruk dan kalau seorang Suho yang berfirasat, seperti yang sudah dijelaskan di chapter sebelumnya, pasti kebanyakan menjadi kenyataan.

Bener aja, guru mereka, Siwon-seonsaengnim, udah ngeliat ke arah Kyuri-Lay dengan tatapan empet. Ngerasa dua sahabatnya dalam bahaya, Suho pun menyenggol-nyenggol Kyuri.

“Ehm.. Kyuri, Lay..”

Seperti yang diharapkan dari dua orang tukang gosip, gangguan sekecil suara Suho tidak akan menggoyahkan mereka. Badai dan angin topan pun kadang tak sanggup melawan kedasyatan pergosipan mereka.

“…udah gitu bodyguardnya D.O pernah bantuin gua ngebuka tutup botol beling seprait, pake gigi! Keren gak, tuh?” Kyuri masih asik bercerita dan Lay masih penasaran dengan anak-anak baru yang aneh-aneh dan kacrut ini.

“Wih! Terus kalau yang naik helikopter satu lagi gimana, tuh?” Suara Lay semakin bersemangat, dan semakin Lay.

Kyuri menepuk tangannya dengan bersemangat, ia lupa kalau ia lagi ada di dalem kelas yang lagi ada gurunya pula. “Nah! Yang itu lebih seru, tuh.. Kalau dia blablablablabla….”

Suho semakin panik ketika guru mereka melipat tangan di depan dada dan tersenyum bengis. “K-kyuri.. Lay..” Kali ini dia menepuk-nepuk pundak Kyuri, yang berasa kayak angin doang kalau ia lagi bergosip dengan temen kepo abadinya, Lay.

Siwon diam-diam berjalan mendekati mereka, yang berada di pojokan kelas, persis kayak tempat duduknya BaekYeol dan Nichan-Daeri. Suho nginjek kaki Kyuri dengan terpaksa, tapi oknumnya malah berasa lagi dipijit kakinya.

“Ada juga yang namanya Sehun sama Jongin. Tapi pada manggilnya sih ‘Kai’. Ya ampun, jeeuunggg.. Itu imut-imut parah gewla, gua langsung berasa pedopil nih..”Gaya bahasa Kyuri yang najis itu bikin Lay langsung mules, dan langsung lungLAY.

“Jijik lu dasar.. Eh, bentar deh, katanya lu sukanya sama Kris?! Ah, elu mah kelas satu aja diembat,” protes Lay dengan napsu membara.

Kyuri langsung salting dibilang begitu. “Heheheh.. Kan kalau Kris-oppa disukain sama hampir satu sekolah ini. Wajar dong kalau gua ikutan? Lagian toh gua cuma suka doang ngeliatnya, gua gak bermaksud apa-apa kok, nyeheheh uhuhufufufuf..”

Lay berani bersumpah, itu suara ketawa paling mesum yang pernah ia denger. Dari suara ketawa itu juga bisa langsung ditebak kok kalau Kyuri PASTI bermaksud apa-apa..

“Gua gak percaya banget…. Eh, terus blablabla,”

“Iya dan juga blablablabla..”

“Masa sih?? Blablablablablablablabla..”

Sementara mereka makin asik ngobrol, guru mereka pun semakin dekat.

“Laaaay….?? Kyuriii….?! Suho berteriak pelan dan akhirnya hal itu berhasil membuat kedua sahabatnya melihat ke arahnya.

“Kenapa sih, Suho?? Lu kalau mau ikutan gosip, ikutan aje kali, gak usah manggil-manggil gue sama Lay, wooo..“ protes Kyuri.

“Emang lu mau cerita apaan? Eh—” Lay, yang sedikit lebih waras dari Kyuri, langsung menyadari keberadaan sosok tinggi berjas di samping tempat duduk teman sebangkunya, Chen, yang lagi keluar kelas untuk ambil buku di perpustakaan.

Kyuri melihat air muka Lay yang langsung gak enak dan ikut mendongak ke atas dan langsung nyengir kuda. “Eh, bapak…..” Nada suara Kyuri terdengar lirih, sementara Lay langsung cengar-cengir polos seolah gak ada kejadian apa-apa. Siwon hanya manggut-manggut sambil senyum .

“Ini, saya lagi nanya yang pertanyaan nomor tiga, pak..” Lay nyari-nyari alasan yang kemungkinan bagus supaya mereka gak dihukum. Suho cuma bisa nahan senyumnya sambil nutup mulut dan menunggu apa yang akan terjadi.

“Oh ya? Emang kenapa pertanyaan nomor tiga?” tanya Siwon dengan nada manis.

Lay langsung ngelirik-lirik ke Kyuri, meminta pertolongan pada yeoja itu dalam diam. “E-eeuhh.. Itu, susah pak,” Kyuri menjawab dengan ragu.

Siwon ngangguk-nganggukkin kepala dengan puas. “Hmm.. Susah ya? Tapi…..kalian tau, gak?”

Deg.

Perasaan Kyuri, Lay, dan Suho —meskipun dia gak salah— langsung gak enak. Lay bertanya dengan sok tenang, “Ehm.. Kenapa pak?”

Siwon langsung melepaskan lipatan tangannya yang terus ia pajang dan menunjuk ke lapangan. “Lu berdua, sana lari kelilingin lapangan tujuh kali! Gua lagi gak ngasih soal, tau!!”

Sontak, Kyuri dan Lay langsung berdiri dengan panik. “HUWAA! MAAF PAK!!!” dan mereka langsung ngibrit keluar kelas. Suara tawa anak-anak sekelas pun langsung terdengar gaduh.

“Hahaha.. Mampus tuh dua bocah!”

“Gosip mulu sih!”

“Eh, kita ketawain dari kelas yuk. Ntar buka jendelanya..”

“Lagian kalau sekali ngomong gak bisa berenti, sih!”

“Masih gak berubah aja si Kyuri sama Lay dari dulu..”

“Bulu ketek gua belum dicukur nih,”

Begitu ucapan anak-anak sekelas. Yang terakhir sih emang gak nyambung.

Siwon melihat ke arah pintu kelas yang abis dibuka dengan paksa (sebenernya sih karena takut) oleh dua bocah sableng itu. “Dasar, mereka berdua itu harusnya gak duduk deketan!” gumamnya.

Suho, merasa gak enak pada dua sahabatnya, dan karena dia adalah seorang angel, ia pun ikut berdiri dan membungkuk pada Siwon.

“Seonsaengnim! Aku juga akan ikut lari, tadi aku pun sempat ngobrol sama mereka,” kata Suho dengan wajah ganteng yang bikin author jadi ngebayangin yang enggak-enggak. Lho.

Siwon berbalik ke arahnya dan memandang Suho dengan tatapan bingung. “Hah? Kamu gak salah apa-apa, Suho.. Kamu di sini aja..” ujarnya dengan nada ramah.

Suho geleng-geleng kepala. “Tadi saya beneran ikut ngobrol dengan mereka, Seonsaengnim.. Jadi saya akan ikut lari seperti mereka. Permisi,” Suho pun membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya ia setengah berlari mengejar dua sahabatnya yang udah lebih dulu menuju lapangan.

Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Siwon tidak melepas pandangan dari sosok Suho yang kini telah menghilang, ‘Ah.. Suho memang manis sekali….’ batinnya dengan perasaan yang berbunga-bunga.  Menjadi guru di sekolah Strodes amat membuatnya bahagia gak ketulungan karena banyak murid cowok yang bertampang yahud.

Tanpa sepengetahuan siapa-siapa, ia selalu diam-diam mengagumi beberapa murid tertentu. Seperti misalnya anak-anak kelas tiga Choi Seunghyun atau TOP, Xi Luhan, Shim Changmin, Jung Yunho, dan yang paling utama jangan sampai terlewat, Wu Fan — atau lebih dikenal dengan ‘Kris’. Kalau yang kelas dua diantaranya yaitu sang ketua osis, Seungho, beserta teman-temannya Cheondung dan Byunghee. Suho pun salah satunya.

Berdehem karena salting abis ngobrol sama Suho, ia pun melanjutkan pelajarannya kembali.

 

* * *

 

Nichan, Daeri, dan Ara. Tiga gadis muda berjiwa nenek-nenek yang sedang kelelahan karena abis main dodge ball selama lima belas menit, kini duduk di pinggiran lapangan dengan napas terengah-engah, seolah mereka abis ngerangkak dari Seoul ke Arab.

“Gila… Hosh.. Capek banget ya,” Ara memulai pembicaraan.

Nichan yang lagi keabisan napas hanya bisa ngangguk-ngangguk kayak lagi konser metal. Daeri, begitu selesai minum langsung menanggapi Ara. “Iya.. Hah… Si Baekhyun sama Chanyeol hebat juga noh, gak ada capek-capeknya. Cih, tadi Baekhyun ngenain gua pake bola, lagi! Padahal gua satu tim sama dia. Bego emang,” Daeri menggerutu dari dalam hatinya yang paling dasar.

“Yah.. Namanya juga Baekhyun..” Baru aja selesai ngomong begitu, pandangan Ara yang lagi melihat ke pertandingan dodge ball pun langsung tertuju pada tiga sosok mencurigakan yang baru keluar gedung sekolah. “Lho? Kyuri-unni sama Suho-oppa?!”

Serentak Nichan dan Daeri mengangkat kepala mereka yang daritadi tertunduk dan celingukan nyari dua makhluk itu. “Mana??” ujar mereka, berbarengan.

Tangan Ara menunjuk kea rah tiga orang yang begitu sampe lapangan, langsung berlari setengah hati di pinggirannya. “Tuh!”

Dan begitu Nichan-Daeri melihat Kyuri, Suho, dan satu orang yang mereka gak kenal, murid-murid kelas langsung bersorak.

“ABIS NGAPAIN TUUH, SAMPE DIHUKUM BEGITU~?!”

“Eaaaaaaaaaaaa…….!!”

“Larinya yang cepet dong!!”

“PUSH UP, WOY! PUSH UP!!”

“Yang satu lagi namanya siapa tuh? Lucu juga….”

“CIEEE, SUHO-OPPA SAMA KYURI-UNNI DIHUKUM YAAA?” teriak salah satu anak 1-D.

“LARI, LARI, LARI~!” Ada juga yang nyanyiin soundtracknya Tsubasa.

“SUIT SUIITTTT~” Murid cowok pun bersiul iseng godain mereka.

“SUHO-HYUNG LARINYA SATU PUTERAN AJA! KYURI-NOONA LARINYA SERIBU KALI!!” Itu sih Baekhyun.

“WOOOO!!! KYURI-NOONA DIHUKUM, WOOO!! MPOZ!!” Itu juga Chanyeol. Pokoknya yang aneh-aneh kalau gak Baekhyun ya Chanyeol deh.

Berbagai sorakan jahat, kejam, keji campur centil langsung keluar dari murid-murid 1-D yang pada gak tau diri itu. Ada juga yang tepuk tangan, ada yang bisik-bisik soal murid lain selain mentor mereka itu, ada yang ambil foto, ada yang kayang, ada yang joget iwa peyek, tapi ada juga yang gak peduli.

“Ih.. Pada norak banget deh, asli.” Krystal memandang dengan sinis ke arah teman-teman sekelasnya.

Sulli menanggapi sambil nyisir rambutnya memakai jari. “Emang, biasa aja kali. Kayak gak pernah dihukum aja. Mentor-mentor kita juga pada ngapain sih, sampe dihukum segala. Nyari ribut aja,”

Krystal menganggukkan kepalanya. “Beda banget sama Key-oppa dan unni-ku,”

Ren, yang tengah kipas-kipas cantik, langsung menjentikkan jari  dan dalam sekejap datanglah dua bodyguard yang gak tau abis darimana, sambil membawa-bawa barang. “Udahlah, kita mainin iPad ku aja yuk.. Kita buka polyvore dan gak usah peduliin mereka,” kata Ren, yang diikuti dengan sorakan genit dari kedua temannya.

Sementara, tiga oknum yang jadi pusat perhatian itu……….

Kyuri terpaksa memasang wajah senyum yang maksa sampe malah keliatannya jadi kayak orang lagi sembelit. “Ugh…. Ini gara-gara gua,” gumamnya sambil lari pelan, mengikuti kedua sahabatnya yang tepat berlari di depannya.

“Hosh.. Udah, gak apa Kyuri.. Yang penting.. Lari..” Suho memaksakan diri untuk menenangkan Kyuri sambil tetap berlari. Yeoja itu pun merasa amat terharu. Padahal dia gak salah, tapi malah ikutan gua sama Lay yang sangat Lay ini dihukum, ini orang apa bukan sih. Hiks. Pikirnya.

Lagi asik lari dengan latar belakang suara-suara hinaan dan cengan yang gak enak didenger, Lay masih sempet-sempetnya berkata, “Eh! Kyuri! Lu masih utang cerita ya, awas….”

“Astaghfirullah, masih wae lu pengen ngegosip! Tapi tenang aja, bakal gua certain lagi!” Meskipun lagi dihukum, semangat mereka untuk ngepoin dan ngomongin orang tidak akan pernah bisa diruntuhkan. Itulah yang dinamakan dengan semangat masa muda! YEAHHH~! *tolong jangan ditiru…..*

Kembali pada tiga tokoh utama kita yang masih kecapekan padahal baru main dodge ball sebentar, capek mereka langsung ilang begitu ngeliat orang yang mereka kenal lagi dihukum, dan rasanya mulut ini gatal pengen ngecengin..

“KYURI-UNNI!! AWAS TUH NGINJEK TAI KOTOK!! HAHAHAHA!!!” Yap. Yang barusan itu Daeri. Merasa mengenal dengan baik suara itu, Kyuri langsung menoleh ke arah sumber penodaan barusan dan ngeliat Nichan, Daeri, dan juga Ara yang lagi ngakak gegulingan di tanah dengan bahagia. Gondok dan empet karena dicenginnya sama bocah udik yang satu itu, ia pun membalas,

“BAWEL LU KUTU KUPRET!!  Hosh..”

Ketiganya pun langsung makin kenceng ketawanya dan merasa geli, sementara Kyuri makin dongkol.

“ASDHHFF%&BJJKL mereka pake ngetawain gua, lagi!!! Gak terima gak terima gak terima,” Ucapnya dengan cepet sampe kedengerannya kayak lagi nge-rap.

Suho, sang angel di ff ini cuma bisa ikutan ketawa dan meng-pukpuk Kyuri ketika mereka udah berlari sejajar. Sedangkan Lay takjub dengan kekurang-ajaran para murid baru ke kedua sahabatnya ini.

“Gile… Kayaknya…anak-anak ini, hosh….pada dendam ya sama lu berdua? Hosh….pada jahat banget..” katanya sambil ngos-ngosan karena masih ada enam putaran lagi tapi perutnya gak bisa nahan ketawa.

Baru Suho mau jawab, eh udah keburu dipotong sama Kyuri duluan. “Pada dendamnya sih ke gua…hosh.. Kalau Suho mah, malah dipuji-puji terus sama mereka…hosh, apalagi, yang namanya Nichan. Seneng banget dia…hosh, kalau Suho udah’ngelawak’ yang gak lucu.. Hosh,”

Suho langsung salting-salting enak mendengarnya. Emang sih, baru pertama kali dalam sejarah (ya paling enggak, sejarah kehidupannya) ada orang yang ngetawain ke-garingannya. Apalagi ketawanya sama sekali bukan ketawa paksaan. “Hehehe… Iya yah.. Hosh.. Jadi malu,” ujarnya sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatel sama sekali. Bedanya sama Chanyeol, kalau Chanyeol yang garuk kepala keluarnya ketombe, kalau Suho, berhubung dia angel jadi yang keluar dari rambutnya berlian dan mutiara.

“Nichan? Hosh… Yang mana anaknya?” Tanya Lay dengan keponya.

Suho menunjuk ke pinggir lapangan dimana duduklah tiga anak gadis yang jauh dari kata ‘anggun’ lagi break dance, enggak deng, lagi ngakak-ngakak dan kali ini sih gak tau penyebab mereka ketawa apaan.

“Buseh… Cewek, tuh?” Mulut Lay langsung menganga lebar melihat tingkah konyol ketiganya. “Yang namanya Nichan….hosh, yang mana?”

Kali ini Kyuri yang menjawab.” Hosh… Itu, yang rambutnya coklat tua dan agak bergelombang. Dia adeknya Leeteuk-oppa. Nah, hosh…..kalau yang rambut item panjang lurus kayak sadako itu…..hosh..namanya Daeri, adeknya Daesung-oppa. Yang satu lagi…hosh..yang rambutnya pendek lurus, namanya Ara..” Gak pake disuruh, mulut Kyuri udah dengan otomatis ngasih informasi mengenai anak baru didikannya itu. Itulah kehebatannya.

“Adeknya siapa dia…?” tanya Lay dengan begonya.

“Mana gua tau nyet,” jawab Kyuri, terdengar agak kejam sepertinya.

Alis mata Suho langsung terangkat mendengarnya. “Lho? Tumben ada yang Kyuri gak tau.. Hehehe..”

Yeoja itu langsung melirik dengan sinis. “……diem lu.”

Pada detik itu juga, tiba-tiba jendela kelas Trio Kyuri-Suho-Lay terbuka. Dan nongollah muka teman-teman sekelasnya dengan muka yang niat jahatnya terlihat dengan sangat jelas.

“HOOIII, KATA SIWON-SEONSAENGNIM, SUHO LARINYA SATU PUTERAN AJA! LAY SAMA KYURI LARI TUJUH PUTERAN!!”

Mendengar ada yang teriak gitu, Baekhyun langsung semangat 45. “TUH KAN BENER APA KATA GUA!!”

“AHAHHAHAHAAA~!”

“SELAMAT YAA, YOU GUUYSSS…….”

“LARI TEROOOS, AMPE TAHUN DEPAN!”

Bersamaan dengan sorakan yang baru muncul dari temen sekelasnya, teriakan murid-murid 1-D pun kembali terdengar mengimbangi segala kekacauan itu. Anak-anak kelas lain sampe ngintip-ngintip ke lapangan, kirain ada tawuran atau malah dangdutan gitu..

Tiga oknum yang lagi lari pun makin tengsin dan mempercepat larinya sambil cengengesan salting.

 

* * *

 

Waktunya makan siang.

Nichan, Daeri, Baekhyun dan Chanyeol udah ngacir ke kantin. Sementara Ara, yang udah nitip makanan sebelumnya ke Bomi, makan sendirian di kelas. Bomi kumpul dengan Eunji dan Yookyung di pojok depan kelas, karena itu ia tidak berniat bergabung dengan grup manapun karena males gerak atau mager.

Berbeda dengan sahabat-sahabatnya, Ara bukan orang yang suka makan, malah terkadang ia males buat ngabisin makanannya. Kayak sekarang.

Ia menghela napas dan ngediemin bungkus gado-gado yang menjadi makan siangnya kala itu, berharap Nichan dan Daeri mau ngabisinnya nanti. Maklum, dua anak itu bisa dibilang tempat penampungan sisa makanan. Kalau Baekhyun-Chanyeol? Mereka sih tempat pembuangan akhir. Kalau Kyuri? Itu sih karung sampah. *author kejam*

Beberapa bangku di belakang Ara, persisnya di tempat dimana berjejer makanan mewah mulai dari appetizer sampe dessert, mana lagi kalau bukan mejanya D.O. Sang tuan muda tidak luput dari kejadian barusan. Ia baru menyadari kalau Ara jarang makan banyak meskipun kalau makan permen udah kayak nunu yang di teletabis.

Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja Ara. Sang pemilik meja pun mendongak ke atas. “Ngapa?” tanyanya sambil ngelepas iPod.

“Kamu makannya segitu aja?” D.O menunjuk ke arah sisa gado-gado yang masih banyak. Ara manggut-manggut.

“Kok gitu?”

Mendengar pertanyaan D.O, Ara langsung terkesiap. Ini pertama kalinya ada yang nanya kayak begitu, biasanya sih kalau Nichan-Daeri, atau BaekYeol —mereka sih gak usah ditanya—, bakalan langsung dengan binal ngabisin makanannya.

Ara menggoyang-goyangkan badannya kayak uler keket karena nerpes.

“Ehm…” Ara berenti sebentar, kemudian, “…ya, males aja.” tambahnya.

Mata D.O yang udah belo jadi keliatan makin besar karena gak puas dengan jawaban Ara.

Untuk kedua kalinya dalam hari itu, mereka larut dalam keheningan yang aneh. Tapi, bukan berarti mereka gak suka dengan hal tersebut.

Lagi asik-asiknya menikmati ‘awkward silence’, tangan D.O yang putih dan mulus itu menyambar tangan Ara yang kotor gara-gara tadi main lempar-lemparan tanah sama Chanyeol. Ara langsung kaget setengah idup, antara kaget karena tiba-tiba berpegangan tangan dengan D.O, atau karena takut nanti D.O pengsan ngeliat tangan cewek kok begitu?

“Sini,” Cuma satu kata itu yang diucapkan D.O sebelum ia menarik Ara. Tanpa yeoja itu duga, D.O tenaganya kuat banget, aw aw aw. *abaikan*

Mata Ara gak lepas dari tangannya dan tangan D.O yang saling terpaut. Eya sadap.

“Ngapain sih?” Begitu kata-kata yang muncul sejak ia tertegun daritadi.

D.O menunjuk Ara supaya duduk di samping kursinya, yang notabene adalah kursi Tao —orangnya lagi latihan wushu di lapangan belakang gedung asrama, baliknya bakalan ntar sore—, sambil manyun-manyun karena kesel pertanyaannya gak dijawab, Ara pun menuruti perintah tuan muda itu, daripada tulangnya diremukkin sama bodyguard D.O yang bisa kapan aja muncul itu.

Ketika D.O duduk di bangkunya, ia menyodorkan garpu dan berkata, “Bantu aku ngabisin makanannya, ya..” dengan tatapan paling unyu bin ngegemesin bin aduhai bin oke bin asoy bin lucu bin minta dicubit.

Ara diem. ‘Ini orang gak nyadar apa kalau gua barusan bilang males makan?’ pikirnya. ‘Orang lagi males makan, eeh, malah disuruh bantuin ngabisin, kalau nyuruhnya si BaekYeol kupret itu sih mending, masa ini sama gua. Mau seenak dan semewah apapun makanannya, minumnya ya—‘

Di hadapan Ara, terhamparlah makanan-makanan yang hanya ada di kondangan mewah seperti appetizer baby potato saus lada hitam dengan menu utama domba panggang saus BBQ, sup tiga jamur yang diolah dengan bumbu nomor satu, prime ribs atau daging iga kenyal yang mudah dikunyah dan direbus dengan daun teh hijau, tuna salad lengkap dengan kol ungu, serta dessert kue coklat yang coklatnya melumer di bagian dalam, pudding peppermint, enam buah macaroons berbagai rasa, dan  gelato raspberry.

“Tema hari ini, masakan Eropa..” D.O melirik ke Ara yang tengah kehilangan kesadarannya dan menunggu apa yang akan yeoja itu lakukan.

‘SEBODO TEUING. GUA SIKAT AJA INI MAH SEMUANYA!!’ jerit Ara dalam hati. Akhirnya dengan penuh nafsu membara, Ara mulai meraup semua yang tersisa di meja dengan membabi buta memamah biak.

D.O tersenyum dan memulai acara makannya lagi. Sebetulnya ia pun makannya tidak begitu banyak, tapi melihat Ara yang males makan itu makan layaknya sapi betina lagi ngidam, ia pun jadi ngerasa pengen makan lagi.

Keduanya pun makan dengan rusuh, walau sebenernya yang rusuh cuma Ara doang.

 

* * *

 

“Akhirnya hari pertama selesai juga..” Chanyeol, Baekhyun, D.O, Nichan, Daeri, dan Ara jalan bareng menuju gedung asrama mereka. Baydewey, yang ngomong barusan itu Baekhyun.

Daeri membenarkan letak ranselnya yang ia peluk. “Iye.. Gua capek banget nih hari ini,”

Chanyeol melirik sedikit ke Daeri sambil mesem-mesem. “Capek ngetawain Kyuri-noona dihukum, kan?”

Nichan — yang dari dulu gampang ketawa dan susah berenti ketawa— langsung cekikikan begitu kejadian tadi siang kembali terulang di otaknya. “Hahahahah! Sumpah yah, mukanya Kyuri-unni tadi gak enak banget. Salting campur malu, hahahaha! Aduh, jahat banget ya, kita…”

Ara pun ikutan ketawa. “Iya sih, tapi seru kali ngecengin dia.. Kalau Suho-oppa, karena baik jadi gak kita katain. Kalau dia sih, mau kita apain juga bodo amat!” timpal Ara dengan gak berperasaan.

Seolah ada lampu obor nyala di atas kepala Baekhyun, ia langsung inget akan satu hal. “Eh iya, lu semua denger gak sih tadi gua bilang apa? Kan gua teriak ‘wooy, Suho-hyung lari satu puteran aja! Kalau Kyuri-noona seribu kali!’, eh, tiba-tiba ada yang teriak dari kelas kalau Suho-hyung cuma lari sekali, tapi Kyuri-noona sama yang satu lagi tujuh kali muter!” Ia mengulang apa yang udah ia bilang tadi dengan semangat berkobar.

Teman-temannya yang semprul itu pun langsung terbengong-bengong. “Seriusan lu bilang begitu??” Chanyeol, yang mulutnya udah gede, makin gede pas dia nganga.

Baekhyun dengan senang hati menoyor kepala sahabatnya dengan perasaan empet dan gak sabar. “Goblok lu! Kan lu di sebelah gua tadi! Masa gak denger?”

Chanyeol geleng-geleng sambil nyengir. “Kagak tuh, hehe…”

“Bego…” gumam Baekhyun.

“Wah, hebat juga lu, Bacon! Bisa nebak gitu…” Daeri melakukan kesalahan yang fatal dengan memuji Baekhyun.

Bocahnya pun langsung masang pose keren dan muka ganteng. “Yohaaa, namanya juga Baekhyun! Byun Baekhyun!”

Nichan dan Ara langsung nyenggol-nyenggol Daeri. “Ngapain sih lu muji-muji dia..” bisik Ara tanpa menggerakkan mulutnya.

“Makanya sekarang gua nyesel udah ngomong begitu..” balas Daeri pada dua temannya itu.

Lagi asik masyuk bisyik-bisyik, tiba-tiba Baekhyun yang jalan di depan tiga gadis kacrut kita ini nengok ke belakang. “Eh, lu pada belum ngambil ekskul, ya?”  tanya Baekhyun

Nichan menjadi yang pertama kali jawab. “Bener juga ya.. Kita mau ikut apaan, nih?” tanyanya pada Daeri dan Ara.

Daeri ngangkat bahu, tanda kalau dia masih bingung ngambil apaan. Begitu juga dengan Ara. “Masih bingung, gua..” gumam Ara, tapi masih bisa didenger oleh temen-temennya. Nichan dan Daeri pun ngangguk-ngangguk setuju sama Ara.

“Iya sama, gua sama Chanyeol tadinya pengen ekskul bola. Tapi gua mikir mau ekskul nyanyi,”

“..terus gua juga pengen ekskul balet.” Chanyeol nyeletuk, dan celetukannya itu bikin semuanya jadi ketawa, termasuk D.O yang daritadi cuma diem aja.

“Sumpah yah….kenapa sih lu berdua harus kayak gini?” kata Nichan dengan nada pasrah dan masih megangin perutnya yang setiap ketawa selalu geter-geter.

Memasang muka polos, Chanyeol berkata, “Lho? Apa salah gua? Emangnya gua—“

Tiba-tiba Chanyeol diem dan berenti jalan. Temen-temennya pun ikutan berenti dan memandang Chanyeol terheran-heran.

“Ngape lu? Kesurupan, ya?” Dengan dodolnya Baekhyun bertanya.

“Kenapa sih?” Daeri ikutan nanya, tapi dengan nada judes.

“Sstt…..” Chanyeol meletakkan jari telunjuknya di depan mulut dan keliatan kayak lagi konsentrasi ngedengerin sesuatu. “Denger gak?”

Mendadak, rombongan biang rusuh itu langsung kayak anak ayam lagi nyebrang, pada celingukan semua sambil masang muka bego. “Ada apaan sih?” tanya Baekhyun lagi.

“Iya! Kayak ada suara…..” Nichan menghentikan kalimatnya, berusaha menemukan kata yang pas untuk ngegambarin ini tuh kayak suara apa?

Mengernyitkan alis, Ara pun mengambil kesimpulan. “Kayak suara orang berantem gak, sih….?”

Keenam anak koplak itu (minus D.O, kalau dia sih yang koplak hartanya) saling berpandangan dan konsentrasi nyari sumber suara. Rata-rata murid baru setelah selesai pelajaran pergi ke klub masing-masing, sementara para tokoh utama sablek kita yang belum masuk klub apapun langsung mengarah ke asrama, makanya gak begitu banyak orang di tempat mereka.

“Kayaknya dari situ, deh..” Akhirnya bocah bernama D.O berbunyi juga. Ia menunjuk ke tempat di belakang gedung asrama yang agak sepi karena jarang orang pergi ke situ.

Mereka pun kembali saling liat-liatan dengan pandangan ragu. “Mau ke sana?” tanya Chanyeol.

Para yeoja gak ngomong apa-apa, mereka sih ngikut aja kemana dua sumber masalah ini pergi.”Terserah lu, deh.” ujar Ara.

Baekhyun menganggukkan kepalanya. “Ke sana aja, yuk..” Dan mereka pun pergi ke tempat bersuara misterius itu dengan ragu-ragu dan saling dorong.

“Elu dulu, sana..”

“Gak, lu dulu gih,”

“Elu,”

“Lu,”

“Kamuuu~”

“Ih najis, udah elu aja,”

“Lu,”

“Enggak, elu,”

“Pokoknya, you,”

“Elo,”

“Kamyu…”

“….geli ih. Ente,”

“Lo aje dah biar adil,”

“Sembarangan lu setan, udah lu kan pemberani,”

“Kan elu lebih tinggi dari gua,”

“Tapi lu lebih unyu dari gua,”

“Apa hubungannya, sompret? Udah, sana lu,”

“Gak mau, elu,”

“Elu,”

Begitu percakapan antara Baekhyun dan Chanyeol yang terdengar sangat tidak jentel terjadi lagi, bikin trio Nichan-Daeri-Ara pengen ngakak tapi pengen nabok juga. Sementara D.O udah setengah idup nahan ketawanya.

“Diem lu berdua!! Udah kita ngintip pelan-pelan aja..” Saran dari Nichan terdengar sangat merdu di kuping Chanyeol dan Baekhyun.

Dengan gak elitnya, mereka ngintip ke arah lahan luas di belakang gedung asrama yang penuh dengan pohon………tapi sebagian pohon terlihat kayak abis ditebang. Berantakan di sana-sini, daun-daun pada berguguran dan bertebaran di tanah gak keruanan, dan begitu pandangan para pengintip kita bergeser agak ke kanan, di situlah letak titik utama dari kericuhan ini.

Dengan tongkat andalannya dan dengan segala jurus wushu yang dipelajari dari kecil, ia tengah beraksi dengan gantengnya. Melompat dari pohon ke pohon namun bukan kunyuk. Menebang banyak pohon dalam sekali tebas namun bukan jet li.

Itulah Tao.

“Widih….” Gumam Chanyeol sambil geleng-geleng kepala.

“Jago juga ya, dia..” kata Baekhyun yang posisi ngintipnya tepat berada di bawah Chanyeol.

“Dia selalu latihan di sini?” Daeri, yang secara tidak sadar menjadi yang paling pendek di ff ini, menjadi orang terbawah yang lagi ngintipin Tao mandi latihan wushu.

Nichan manggut-manggut, “Kayaknya sih, abisnya dia jarang ada di kelas juga, kan?”

“Bukan cuma jarang di kelas, dia juga jarang ke kamar..”

D.O, yang notabene berada di posisi kedua dari bawah dalam kasus pengintipan kali ini, secara mendadak merinding karena Nichan, Daeri, Ara dan BaekYeol menatapnya curiga. Ia berdehem dan meneruskan, “..a-aku..sekamar dengannya,” dengan gugup. Tapi begitu kelima manusia ble’e itu mengeluarkah bunyi “Ooohhh…..”, ia pun bisa menghela napas lega.

“Eh, emangnya boleh pohon sekolah ini ditebang sembarangan?” Pertanyaan Ara membuat para tokoh utama kita yang secara resmi menjadi pengintip ini terdiam dan mikir.

“…..iya juga, ya?” kata Chanyeol, dan mereka pun langsung kembali ke bentuk semula mereka dan berkumpul membentuk lingkaran supaya bisik-bisiknya bisa lebih syahdu.

“Jadi intinya si Tao sembarangan aja gitu nebangin pohon sekolah?” Ara melanjutkan pembicaraan soal tebang-menebang pohon ini.

“Ehm.. Dia kan anak baru kayak kita, dari Negara lain pula.. Mungkin dia gak tau kali, kalau ngerusak properti sekolahan bisa jadi pelanggaran,” Nichan mengambil kesimpulan, dan yang lain pun setuju dengan hal itu.

“Terus……kalau dia dihukum gimana dong?” tanya Daeri.

“Yaa…dihukum?” Omongan Baekhyun sama sekali gak memberi solusi. Daeri pun jadi gondok dan manyun.

“Kasian, dong..?” Alhamdulillah wa syukurilah, D.O akhirnya ikutan mengeluarkan pendapatnya meskipun cuma begitu doang.

“Iya juga sih… Tapi mau gimana lagi..? Pohonnya udah keburu dirusak sama dia..” Chanyeol terdengar putus asa, dan terjadilah keheningan di antara mereka ketika masing-masing memikirkan jalan keluar untuk menolong anak baru yang tidak tau apa-apa itu.

Ngumpet-ngumpet, kelima bocah imbisil itu kembali ngintipin Tao – hanya untuk melihat sisa-sisa dari ‘latihan’ yang ia buat. Serentak, mereka menghela napas dan langsung menghampiri TKP atau lebih panjangnya lagi dikenal sebagai  Tak Kunjung Pergi. Lho. Maksudnya, Tempat Kejadian Perkara.

“Kasian bener sih, nih.. Langsung jadi gundul setengah pohon-pohonnya..” Nichan yang memiliki hati paling baik di antara mereka gak bisa menahan rasa ibanya.

Daeri menanggapi perkataan yeoja yang lebih tua satu tahun darinya itu. “Lagian tuh orang latihannya niat banget sampe bikin ancur gini, ya.”

Ara terkekeh. “Yah.. Dia aja dari Cina jalan kaki buat sampe ke sini.. Kurang niat apa tuh orang?” Omongan Ara yang sangat masuk diakal bikin Nichan dan Daeri inget-inget lagi soal pertama kalinya Tao muncul di kelas 1-D. Mereka bertiga pun langsung ketawa dengan geli.

Entah ada angin apa, bukannya ikutan ngomongin orang, Chanyeol malah protes. “Yeeh, bocah-bocah udik emang lu pada.. Malah ngomongin orang. Ini gimana ini nasibnya?”

Dibilang ‘udik’ sama orang paling udik adalah hal paling hina yang pernah dialami oleh ketiga yeoja tersebut. Tapi berhubung apa yang dibilang oleh Chanyeol benar, mau gak mau Nichan, Daeri dan Ara jadi cengengesan tanpa dosa. “Hehe.. Iya juga sih..” kata Nichan, mewakili isi hati kedua temannya.

Di saat seperti itulah, seorang tuan muda mega ultra kaya raya mengambil tindakan. “Aku ada ide,”

Serempak, BaekYeol, Nichan, Daeri, dan Ara menoleh ke arahnya dengan mata yang menyiratkan harapan. “Serius??” ujar Baekhyun dan Chanyeol barengan.

D.O mengangguk tanpa melepas senyuman super-bikin-orang-pengen-nyubit dari wajahnya. Ia mengeluarkan iPhone berwarna hitam dari kantong celana. “Lho?” Kemudian ia mengeluarkan iPhone berwarna putih dari kantong celana yang sama. “Mana, sih…” Lalu ia mengeluarkan iPhone bermotif garis biru dan abu-abu. “Ih, salah mulu!” Ia kembali merogoh kantong celananya, sementara hp-hp yang sudah ia keluarkan secara gak sadar ia oper ke Chanyeol yang udah dengan wajah melas mengulurkan tangannya kayak pengemis. Baekhyun, Nichan, Daeri, dan Ara pun ikut menatap D.O yang tengah mengeluarkan Sidekick abu-abunya dan kembali mengoper ke Chanyeol dengan mupeng.

“Nah! Ini dia!” Sorakan D.O mengakhiri pencarian rempongnya dan dengan segera memencet tombol dan menelepon seseorang dengan Blackberry Torch-nya.

Kelima orang udik yang masih takjub dengan hal barusan masih terbengong-bengong melihat D.O yang lagi nunggu telponnya diangkat.

Gak lama, D.O pun berkata ke orang yang berada di ujung telpon sana. “Halo? Ini aku, ya.. Aku….oh, iya, baik. Aku cuma pengen…. Iya, mereka sehat. Aku cuma pengen minta tolong— apa? Oh? Kebetulan dong. Aku mau minta tolong… Ya, minta tolong. Mr. Edward masih punya bahan penelitian yang itu, kan? …..apa? Masih? Oh, ya aku…boleh memintanya? …..iya, terima kasih banyak. Segera, ya,”

Dan dengan itu, pembicaraannya di telpon berakhir. D.O tersenyum puas, tapi begitu ia berbalik dan melihat muka caur dari temen-temennya, ia pun shock. “Ke…kenapa?” tanyanya, gugup.

Chanyeol, yang notabene masih megangin semua hp D.O, dengan lemas bertanya, “Euhh.. Sori nih.. Ehm..” Ia memandang ke teman-temannya dengan ragu sebelum melanjutkan, “….ini semua hp lu?”

Ngangguk, D.O yang gak tau apa-apa soal kekayaannya sendiri menatap Chanyeol heran. “Iya, emangnya kenapa?”

Menenggak ludah karena ngiler memegang hp mewah sebanyak itu, Chanyeol gemeteran. Emang mengenaskan dan terkesan kasihan, tapi Chanyeol pada kenyataannya cuma memiliki satu hp yang gak bisa buat moto, yaitu hp Si emons.

Di sisi lain, Baekhyun, dengan tangan yang lemas mengeluarkan hp Nohdia di saku celananya. “Gua…gua aja cuma punya satu.. Ini juga paling canggih cuma bisa buat senter..”ujarnya, lemas.

Nichan dan Daeri gak kalah takjubnya dengan Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdua mengeluarkan hp masing-masing sambil terbengong-bengong menatap hp-hp milik D.O.

“Aku juga cuma punya satu yang batrenya udah dol..” Nichan menunjukkan hp Belekbakri-Gemini miliknya. Suara Nichan terdengar sangat memelas.

“Punyaku malah keypad huruf ‘s’-nya udah gak bisa dipake..” Daeri, yang kebetulan merek hp-nya sama dengan Nichan, juga memperlihatkan kebututan gadgetnya.

Di sisi lain, Ara malah tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berkata dengan suara pelan, “Aku punya-nya Blackberry Bela-dia, sih. Tapi ya cuma itu aja, atu biji..”

D.O terbengong-bengong melihat pengakuan dari teman-teman barunya. Memang benar, ia memiliki banyak sekali peralatan canggih nan modern yang bisa dibeli kapan saja itu. Namun baginya, semua ini gak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebersamaan mereka saat ini. Kebersamaan dirinya bersama teman yang bukan hanya satu orang saja. Detik ketika Ara berbicara dengannya, dan juga ketika Baekhyun dan Chanyeol mengajaknya pergi bersama saat pelajaran olahraga hari ini, adalah saat-saat yang tak akan pernah D.O lupakan. Begitu juga dengan Nichan dan Daeri yang menerima kehadirannya sekarang dalam perjalanan menuju asrama. Mereka adalah teman pertama bagi D.O dan ia tidak tau harus bagaimana untuk mengungkapkan betapa bahagianya ia kini memiliki orang-orang seperti mereka sebagai teman (meskipun otaknya rada miring ditambah dengan kelakuan yang gak pernah waras, sih).

Karena merasa seperti itulah, D.O jadi memiliki keinginan untuk memberikan semua hp miliknya pada masing-masing teman baru di hadapannya ini. “Eng.. Yaudah, kalau gitu—“

Belum sempat kalimat D.O kelar, mendadak suara helikopter muncul dari atas langit. Kelima tokoh utama kita pun rasanya seperti mengalami déjà vu seperti di chapter 1.

“Waduh!! Helikopter lagi?!” Baekhyun harus berteriak untuk mengalahkan suara baling-baling helikopter yang hebring.

“BUSEH! Terbangnya rendah amat!!!” Daeri memaksakan matanya yang kecil itu untuk melihat ke biang ribut kali ini.

“Anginnya kenceng banget nih!!” Nichan melindungi kepala dengan tangannya dari hembusan angin yang kuat.

“Apaan lagi sih, itu??!!” Ara sewot sembari membenarkan letak bajunya yang sengaja ia keluarin. Dasar preman.

“D.O!! HP LU!! HP LU!! AWAS JATOH CEPET AMBIL!!” Tetapi Chanyeol-lah yang paling panik diantara mereka semua. Sang tuan muda yang terlihat tenang-tenang aja dengan segera mengambil kembali hp-hp miliknya dan dimasukkan ke dalam tas.

Gak lama, terlihatlah helikopter itu seperti mengeluarkan tabung panjang dari kedua kakinya. Tabung-tabung itu membuka setiap tutup dari bulatan-bulatan kecil di sepanjang badannya. Helikopter hitam keabuan misterius tersebut berjalan kea rah tepat di atas pohon-pohon yang ditebang oleh Tao sebelumnya.

“Eh, itu mau ngapain sih??! Kasih tau gua ngapa! Oi Chanyeol!!” Baekhyun yang daritadi pertanyaannya belum ada yang jawab mau gak mau merasa gemas karena penasaran itu heli punyanya siapa? D.O lagi di sini, dan udah pasti bukan punya Ren karena kalau punya dia pasti warna pink dan paling enggak ada motif unyu-nya.

Chanyeol yang merasa sama penasarannya dengan Baekhyun menoyor kepala Baekhyun. “Mana gua tau, monyong!! Itu pake berenti di situ—“

Keheranan mereka semakin dibuat menjadi-jadi begitu cairan berwarna hijau tua disemprotkan dari tabung tersebut ke arah pohon-pohon yang sudah tinggal setengah. Dalam beberapa detik, semua pohon langsung bergerak tumbuh dan kembali ke bentuk semula.

Mata yang melotot dan mulut menganga lebar ampe nyentuh tanah gak cukup untuk menggambarkan betapa kagetnya Nichan, Daeri, Ara, Baekhyun dan Chanyeol ketika menyaksikan peristiwa ajaib bin absurd itu.

Puas dengan kerjaannya, helikopter itu kini berputar sampai pengendalinya bisa melihat ke arah para tokoh utama kita. Ia menaikkan jempol, yang disambut dengan senyuman D.O dari bawah, kemudian pergi meninggalkan lima tokoh utama tercengo-cengo dengan muka paling idiot sejagat raya.

Merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan semuanya pada lima bocah sompret ini, D.O berdehem untuk menarik perhatian teman-teman barunya. Ketika lima pasang mata sudah menatapnya dengan wajah masih bengong, D.O menjelaskan, “Ehm.. Yang barusan itu, teman ayah dan ibuku. Namanya Edward Greens. Dia profesor di universitas Harvard yang lagi meneliti bahan untuk menumbuhkan tanaman dengan cepat. Kebetulan, baru-baru ini penelitiannya berhasil dan dia abis ngadain pesta di mansionnya. Jadilah aku minta tolong dia untuk numbuhin pohon di sini.. Untung suruhannya datengnya lebih cepet, ya..”

Senyuman tulus D.O yang sama sekali gak menyinggung mengenai kehebatan temen kedua orangtuanya membuat Nichan, Daeri, Ara dan BaekYeol tersentuh. Kenapa anak ini begitu polos dan begitu bodoh karena gak tau kalau itu tuh suatu hal yang luar biasa? Temenan sama profesor yang bikin penelitian untuk nyuburin taneman dengan cepat? Harvard? Dan kalau gak salah tadi D.O nyebut-nyebut soal ‘mansion’?

Keheningan itu sirna begitu Chanyeol berkata, “…elu orang bukan sih? Kaya banget,”

Mau gak mau, tiga yeoja yang ada di situ langsung ngakak ngedenger omongan Chanyeol yang terkesan konyol.

“Chanyeol, lu bego banget sih.. Masih mending gua deh. Eh tapi, gila, beneran orang tua lu temenan sama orang dari Harvard??” Wajah Baekhyun terlihat takjub dan gak percaya. Gimana enggak? Dia dan teman-temannya baru aja ngeliat hal yang gak biasa.

D.O mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Baekhyun merasa geregetan dengan ekspresi D.O yang seolah mengatakan ‘emangnya kenapa sih dengan itu?’.

“Seriusan… Itu tadi..” Nichan sampe gak tau harus gimana ngelanjutin omongannya. Ia menoleh pada Daeri dan Ara yang sama plonga-plongo-nya dengan Nichan.

“..iya sih, kita emang gak mau kalau sampe anak baru itu dimarahin gara-gara nebangin pohon,” Gumaman Ara cukup untuk didengar oleh semua temannya.

“..tapi aku gak nyangka juga masalah ini bisa selesai segampang itu.” Daeri melanjutkan perkataan Ara, yang kemudian disambut dengan anggukkan kepala Nichan, Ara dan BaekYeol.

“Gila lu, lu tuh nyadar gak sih kalau itu keren banget??” Chanyeol bertanya dengan gak sabar ke D.O yang masih bingung kenapa temen-temennya keliatan kaget banget.

“Ng.. Masa sih?” D.O malah balik nanya memasang muka polos. Tapi setelan mukanya emang udah lugu gitu sih, hmmmm… *author semakin merasa pedopil*

Mendengar D.O berkata seperti itu, Kelima tokoh utama kita semakin merasa lelah dan lungLAY. Baekhyun yang emang udah nahan-nahan kekagumannya pun akhirnya mengacak-ngacak rambut D.O dengan gemas. “HIH! Lu itu bener-bener yah!! Dateng-dateng naik helikopter, dikawal dua bodyguard berbadan segede tronton, kursi paling mewah sendiri, belum lagi temenan sama propesor yang bisa bikin pohon jadi cepet tumbuh, masih belum nyadar juga kalau elu tajir??!!!” ujarnya tanpa mempedulikan rambut sang tuan muda yang bakalan jadi gak keruanan.

Chanyeol ikutan nimbrung sambil cengengesan. “TAU LU!! Udah baju paling kinclong!! Makan siangnya lengkap ampe koki dateng!! Buka mata lu yang udah belo dari sananya, D.O.. BUKAAA!!”

Nichan, Daeri dan Ara yang merasa kasihan pada D.O cuma bisa ikutan teriak-teriakin pangeran kelas 1-D itu karena gak tega kalau mereka juga ikutan ngacak-ngacak rambut D.O. Ntar yang ada mukanya juga jadi berantakan kalau tiga cewek gahar itu ngikut.

“IYA D.O!! Lain kali kokimu disuruh masak sate ayam yang enak yah!! Sama ketoprak!! Ahahaha! Ahahaha!” kata Nichan sambil lompat-lompat girang ngebayangin bakal seenak apa sate ayam dan ketoprak yang dibikin sama koki D.O.

Daeri melirik dengan pandangan tajam menohok hati. “Euh.. Unni, makanan mulu deh yang dipikirin…” Sedangkan Nichan hanya garuk-garuk kepala, tengsin.

“Tapi bener tau, Daeri.. Kita suruh juga aja koki D.O buat bikinin kita permen yang banyaakk!” Perkataan Ara membuat Daeri semakin jembewe.

“Euh.. Kalian berdua sama aja..” gumamnya sambil cengar-cengir. Kemudian tiga yeoja itu ngakak bareng dan pada akhirnya memutuskan untuk ikutan menzhalimi D.O, yang wajahnya gak keliatan kayak orang lagi dizholimi. Malah sebaliknya, ia sangat bahagia.

Tanpa mereka ketahui, semua kejadian itu dilihat oleh pelaku penebang pohon; Tao.  Yang tadinya dia jadi objek diintipin, sekarang dialah yang jadi pengintipnya. Namun bukan itu inti dari kisah intip-perintipan Tao.

Melihat keenam teman sekelas yang belum ia kenal (minus D.O, karena mereka sebangku dan sekamar pula) menolong dirinya dengan cara yang entah kenapa bisa terjadi, ia merasa terharu.

Meninggalkan perguruan silatnya yang berada nun jauh di sana, beserta teman-temannya yang sudah seperti saudara kandung sangatlah berat bagi Tao. Ia merasa takut, tapi ia juga memikul tugas yang berat. Yaitu membawa nama wushu sampai ke luar negri. Karena dibekali tugas seperti itu lah ia jadi merasa tidak peduli apakah orang akan mau berteman dengannya atau tidak, yang penting ia bisa membuat wushu jadi terkenal. Namun, apa yang baru saja dilihat olehnya sungguh membuatnya terenyuh.

Tanpa sadar, air matanya menetes. Cepat-cepat ia mengelapnya dan kembali melangkahkan kakinya ke gedung asrama dengan senyuman mengembang di wajah yang selama ini terus ia tekuk.

 

17 pemikiran pada “My Senior High School (Chapter 4)

  1. GYAHAHHAHHAHAAAA 😀
    SUMPAH,, NGAKAK GILA BACA PART INI
    Kalo gue punya temen kayak D.O yg hartanya seabrek gitu,, Beeuuhh bisa mati bdiri, kalo ngebayanginnya

    Good Job Eonni.. ^^
    #mian baru komen di part yg ni *nyengir Kambing* :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s