Stand By Me (Chapter 7)

STAND BY ME CHAPTER 7

 

TITLE: STAND BY ME

AUTHOR: VENUS_228

MAIN CAST

  1. WU YI FAN ( KRIS EXO M)
  2. HAN SOO MI
  3. CHOI SEUNG HYUN ( TOP BIG BANG)

OTHER CAST: CAN YOU FIND IT BY YOUR SELF

GANRE: ROMANCE

LEGHT: CHAPTER

Author talk: Annyeong chigudeul J ini FF pertama yang author buat jadi mian klo banyak kesalahan dan ceritanya gak jelas atau alurnya terlalu cepat. Semoga kalian suka. Satu lagi FF ini murni hasil imajinasi author yang kelewat tinggi dan gak jelas tapi di tulis dengan hati* senyum manis bareng Kris* I hope you like it.

HAN SOO MI POV

“ Kami di sini.”

Suara itu. Bukankah itu suara Kris? Kenapa dia ada di sini? Argh…, aku pasti sedang menghayal. Mana mungkin dia ada di sini. Aku pasti benar-benar sudah gila karena mendengar suaranya di kepalaku.

Aku lalu menoleh. Sekedar ingin melihat sosok yang memiliki suara mirip dengan Kris. Dan seketika tubuhku menengang. Dia. Orang yang aku pikir tak mungkin ada di sini sekarang berdiri di hadapanku sambil menatapku dengan pandangan terkejut yang sama denganku.

Dan tatapan itu melembut lalu dia menghela napas pelan. “ Soo mi.” dia tersenyum lembut. Senyum yang sangat aku rindukan selama seminggu ini.

“ Kris.” Kataku pelan sambil berusaha mengatur napasku dan membuat tubuhku kembali rileks. Aku menatap sekelilingku begitu menyadari yang lain menatap kami secara bergantian dengan pandangan ingin tau.

“ Kalian berdua saling kenal?” tanya Xiumin sambil menatap aku dan Kris bergantian.

“ Ne.” aku dan Kris menjawab bersamaan. Membuatku otomatis kembali menatap Kris sementara dia masih tetap tersenyum.

“ Kalian sudah lama saling kenal?” kali ini Suho yang bertanya.

“ Kami teman dari kecil.” Kris menjawab sementara aku hanya diam dan memilih memalingkan wajahku darinya. Walaupun aku sangat merindukan namja itu aku berusaha untuk tetap bersikap sama seperti seminggu yang lalu. Berusaha untuk tetap dingin padanya dan bersikap seolah aku tak mengenalnya. Karena sampai sekarang aku masih membencinya.

Ku lihat mereka semua terkejut mendengar jawaban Kris. Kecuali Tao. Dia hanya berdiri tenang di samping Kris. Mungkin dia sudah lebih dulu tau tentang hal itu hingga tak terlalu terkejut begitu mendengarnya lagi.

“ Tunggu dulu. Jangan-jangan Soo mi-ssi adalah yoeja yang kau maksud malam itu?” tanya Luhan dan kulihat Kris mengangguk. Apa maksudnya dengan yoeja yang dimaksud? Apa Kris pernah menceritakanku pada teman-temannya? Sudahlah. Bukan urusanku. Terserah dia mau menceritakan tentang ku pada teman-temannya. Aku sama sekali tak peduli.

“ Lebih baik kita makan saja dulu. Karena aku sudah sangat lapar.” Mendengar usul Xiumin itu yang lain langsung mengangguk setuju. Sementara Kris dan Tao duduk di kursi mereka. Tepat di hadapanku.

Suasana makan siang ini sangat menyenangkan. Aku baru tau kalau namjadeul ini bukan hanya tampan dan menarik tapi mereka juga memiliki selera humor yang bagus. Berkali-kali aku dibuat tersenyum menahan tawa karena tingkah mereka. Walaupun aku yakin mereka sengaja melakukan hal ini hanya untuk mencairkan suasana tegang yang terlihat jelas antara aku dan Kris. Meskipun begitu aku tetap menghargai usaha mereka. Meskipun tak berhasil mencairkan suasan tegang antara aku dan Kris tapi paling tidak perasaan terhibur yang aku rasakan ini nyata.

Aku kembali tersenyum menahan tawa melihat mereka sekarang saling ejek. Entah siapa yang memulai. Tapi ini sangat lucu. Mereka satu per satu saling mengejek dengan kata-kata yang lucu. Yang paling seru adalah saat para maknae mengejek para hyung mereka dengan wajah yang polos dan tanpa dosa. Benar-benar membuatku harus berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawa.

Sementara Kris dia hanya diam dan tersenyum sambil terus menatapku. Aku tau dia sedang memerhatikanku dengan teliti. Mengamati setiap ekspresiku. Tapi aku sama sekali tak menatapnya. Bahkan berusaha untuk menganggapnya tak ada. Walaupun keinginan untuk melihatnya, mengamati setiap lekuk wajahnya dan juga senyumnya yang indah hampir tak bisa lagi kutahan.

 

WU YI FAN POV

Aku terus mengamatinya. Melihatnya yang sedang tersenyum geli menahan tawa karena ulah teman-temanku. Aku bersyukur dan sangat berterimakasih pada teman-temanku dan tindakan mereka yang sangat menolongku. Karena akhirnya aku dapat melihat lagi senyum Soo mi yang sangat kurindukan itu.

Aku yakin dia tau kalau aku sedang mengamatinya. Tapi dia lagi-lagi bersikap seolah aku tak ada. Padahal jelas-jelas aku duduk tepat di hadapannya. Lalu satu per satu temanku pergi meninggalkan meja makan. Mungkin mereka menyadari suasana tegang antara aku dan Soo mi lalu akhirnya memutuskan untuk memberikan kami kesempatan berdua.

Entah siapa yang memulai duluan. Yang jelas sekarang hanya tersisa aku dan juga Soo mi. Setelah ini aku akan berterimakasih kepada mereka semua. Terutama pada Xiumin karena telah membawa Soo mi, yoeja yang sangat ku rindukan ini ke sini.

Menyadari kelakuan teman-temanku yang pergi satu per satu, senyum di wajah Soo mi menghilang. Ekspresinya kembali datar dan dingin. Ekspresi yang selalu ku lihat selama seminggu ini.

“ Lebih baik aku pamit pulang pada yang lain.” Katanya dingin tanpa menatapku. Aku langsung meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Mencegahnya untuk pergi. Dia menatapku dengat sorot mata tajam cukup lama lalu mengalihkan pandangannya dariku.

“Kajima. Jebal kajima.” Kataku pelan sambil memohon. Berharap dia akan mengabulkan permohonanku ini.

Dia kembali menatapku. Kali ini tatapannya tampak lelah lalu dia menghela napas pelan. Dia sama sekali tak mengatakan apapun dan hanya menatapku. Aku membalas tatapannya lalu bangkit dari kursiku sambil tetap menggenggam tangannya. Membuatnya secara otomatis ikut berdiri. “ Ikut aku.” Kataku pelan lalu membawanya menuju kamarku. Tak kuhiraukan tatapan teman-temanku yang menatap kami berdua dengan tatapan bingung.

Aku hanya ingin bicara serius dengan Soo mi. Dan aku tak ingin yang lain mendengarnya walaupun aku yakin pada akhirnya mereka semua akan menguping pembicaraanku. Soo mi sama sekali tak melawan dan hanya mengikuti. Dia terlihat lelah. Mungkin dia sudah letih dengan semua ini.

Begitu sampai di kamarku, aku melepaskan tangan Soo mi dan menutup pintu kamarku lalu menguncinya. Hanya dengan cara ini tak akan pergi. Dan hanya dengan cara ini pula aku bisa membuatnya mendengarkanku.

Dia menghela napas pelan lalu duduk di kasurku dan menatapku dingin. “ Apa yang kau inginkan?”

 

HAN SOO MI POV

Dia membawaku ke kamarnya dan aku sama sekali tak menolak. Aku merasa sangat lelah bersikap seperti ini. Menjauhinya dan menganggapnya tak ada. Kadang aku merasa kalau diriku sangat bodoh dan kekanakan. Kenapa aku tak berhenti saja kalau memang bersikap seperti ini justru menyiksaku? Dan jawabannya aku tak bisa. Walaupun hatiku sudah berteriak untuk berhenti dan memberontak tapi egoku yang selalu menang.

Aku masih membencinya. Dan setiap aku mengingat kata-katanya waktu itu rasa benciku padanya semakin bertambah. Aku tersadar dari lamunanku begitu dia melepaskan tanganku. Ku lihat dia mentup pintu kamarnya dan menguncinya. Aku menghela napas pelan lalu duduk di kasurnya. Karena rasanya berdiri saja aku sudah tak mampu lagi.

Aku lalu menatapnya dingin. “ Apa yang kau inginkan?”

Dia menatapku sambil melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada pintu kamarnya. “Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini terus, Soo mi-ah?”

Aku mengalihkan tatapanku darinya dan menatap lurus kearah dinding kamarnya. “Sampai aku merasa puas.”

“ Apa kau belum puas melihatku yang tertekan karena sikapmu ini? Aku tak sanggup kalau kau terus bersikap seolah kau tak mengenalku, Soo mi-ah. Aku sangat merindukanmu yang dulu.”

Aku juga sangat merindukanmu Kris. Tapi aku tak bisa mengatakannya. Karena aku takut begitu aku mengatakannya aku akan kembali bergantung padamu lalu kau akhirnya akan betul-betul membuangku. Membuangku seperti sampah yang hanya mengganggumu. “ Bukankah itu yang kau inginkan?” kataku sambil tetap tak menatapnya. Sekarang bahkan hanya untuk menatapnya saja aku tak berani.

Dia tak menjawab. Tapi aku bisa mendengar suara langkahnya yang menghampiriku. Lalu dia berlutut di hadapanku. Mensejajarkan tubuhnya yang tinggi denganku hingga pandanganku yang tadinya menatap dinding sekarang menatap langsung wajahnya yang sempurna. Sementara tangannya meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. “ Harus berapa kali aku katakan padamu kalau kau salah paham?”

“ Salah paham? Tapi kata-katamu waktu itu…..”

“ Aku tau kata-kataku waktu itu salah, Soo mi-ah. Yang sebenarnya kuinginkan adalah kau tetap di sisiku meski apapun yang terjadi. Aku ingin kau tetap disisiku dan mendukungku untuk meraih apa yang kuinginkan.”

Aku menggeleng pelan. “ Aku tak bisa.” Dan perkataanku itu berhasil membuatnya terkejut. “Waeyo?” aku menghela napas pelan untuk yang kesekian kalianya. “ Karena pada akhirnya kau juga pasti akan menyuruhku pergi.”

“ Aku tak akan pernah menyuruhmu pergi dari hidupku, Soo mi-ah. Sampai kapan pun”

“ Kenapa kau begitu yakin?”

“ Karena aku mencintaimu. Dan aku tak mungkin menyuruh yoeja yang ku cintai untuk pergi dari hidupku.”

DEG…

Jantungku langsung berhenti berdetak. Dia bilang apa tadi? Dia bilang kalau dia mencintaiku. Apa ini mimpi? Kalau benar ini mimpi aku ingin mimpi ini tak pernah berakhir. Aku ingin waktu berhenti saat ini juga.

Tunggu dulu. Bagaimana kalau Kris salah? Bagaimana kalau ternyata dia sama sekali tak mencintaiku? Kami sudah berteman dari kecil dan selalu bersama. Tak terpisahkan hingga setiap di mana pun ada Kris pasti aku juga ada di sana.

Dan baru kali ini aku menjauhinya. Bagaimana kalau ternyata perasaan Kris bukan cinta tapi hanya perasaan biasa yang merasa aneh karena orang yang selalu berada di sisinya sekarang tak ada? Bagaimana kalau dia salah mengartikan perasaannya itu sebagai cinta?

Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya dan membuatnya menatapku heran. “ Aku tak bisa, Kris. Mungkin saja perasaan yang kau rasakan itu bukan cinta tapi hanya perasaan yang merasa aneh karena aku tak ada di sampingmu. Selama ini kita selalu bersama dan baru kali ini aku menghindarimu. Mungkin saja kau salah mengartikan perasaanmu itu.”

“ Aku tak mungkin salah, Soo mi-ah. Aku yakin kalau perasaan yang kurasakan ini cinta. Dan aku mencintai mu.”

Aku menggeleng. “ Aku tak bisa, Kris.” Aku takut kalau kau pada akhirnya menyadari perasaan yang kau rasakan sekarang bukanlah cinta dan pada akhirnya kau akan tetap mengusirku dari hidupmu dan melupakanku. Aku lalu bangkit dan berjalan menuju pintu sementara dia tetap pada posisinya.

“ Kenapa denganku tak bisa tapi dengannya bisa?” aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik begitu mendengar perkataannya itu.

“ Kenapa denganku tak bisa tapi dengannya bisa, Soo mi-ah?” dia mengulang pertanyaannya lalu menoleh dan menatapku.

“ Siapa yang kau maksud?” tanyaku bingung.

“ TOP. Kenapa denganku tak bisa tapi dengan TOP bisa? Apa karena dia idolamu sementara aku hanya temanmu?”

“ Kenapa tiba-tiba kau membawa-bawa nama Seung hyun oppa dalam hal ini?”

Ku lihat dia bangkit lalu duduk di atas kasurnya. Dia masih tetap menatapku lalu tersenyum sinis. “ Seung hyun oppa? Sejak kapan kau memanggilnya oppa? Sejak kalian pertama kali bertemu di pinggir lapangan sekolah itu?” tanyanya dingin.

Aku hanya diam. Kenapa dia tiba-tiba marah dan menyebut nama Seung hyun oppa? Memangnya Seung hyun oppa punya salah apa dengan Kris? Dan apa maksud pertanyaannya tadi?

“ Kenapa kau tak menjawab?” tanyanya semakin dingin.

“ Karena tak ada yang mau ku jawab.” Aku lalu berbalik, membuka kunci pintu dan keluar. Lebih baik aku pergi dari sini daripada dia semakin marah. Dan sepertinya mulai sekarang dia akan benar-benar mengusirku pergi dari hidupnya. Dan hal itu semakin membuatku yakin kalau perasaan yang dia rasakan bukan cinta.

Sakit. Kenapa tiba-tiba rasanya sesak dan aku sulit bernapas. Rasanya sakit sekali sangat sakit dan menyiksaku.

AUTHOR POV

Kris menatap punggung yoeja yang akhirnya menghilang di balik pintu. Dengan kesal dia meraih jam alarm yang ada di dekatnya dan melemparkan jam itu ke dinding. Hasilnya jam itu hancur berkeping-keping dengan suara keras.

Kris menghela napas berat lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Sakit. Dadanya terasa sesak dan menyakitkan. Membuatnya sulit bernapas. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil memukul-mukul dadanya. Berharap hal itu dapat meringankan rasa sesak yang dialaminya.

“ Hyung gwenchanayo? Tadi aku mendengar suara sesuatu pecah.”

“ Nan gwenchana, Tao. Aku hanya ingin sendiri.” Dia menjawab pertanyaan Tao itu tanpa mengalihkan tatapannya sama sekali.

“ Baiklah kalau itu maumu. Oh ya, aku mau bilang kalau Soo mi noona sudah pulang. Dia sama sekali tak ingin diantar pulang saat kami menawarkan. Dia memilih untuk pulang sendiri.”

“ Aku tak peduli, Tao. Sekarang aku hanya ingin sendiri.” Tao mengangguk mendengar hal itu lalu keluar sambil menutup pintu kamar Kris dengan rapat.

 

AUTHOR POV

Gadis itu kembali berdiri mematung di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang terbentang luas tanpa sinar sedikitpun. Sama sekali tak ada bulan dan juga bintang. Yang ada hanya kegelapan dan kehampaan.

Gadis itu menghela napas lalu menatap tetesan air hujan yang turun dengan derasnya. Cukup lama dia seperti itu. Hanya menatap hujan dengan pandangan kosong. Seolah tak ada lagi jiwa di dalam tubuhnya.

Gadis itu baru tersadar begitu mendengar handphonenya berbunyi cukup keras dari dalam kamarnya. Dia berbalik dan melangkah masuk menuju kamarnya lalu keluar lagi dengan handphone yang tergenggam di tangannya.

“ Yoeboseo?” dia berkata dengan suara pelan. Hampir terdengar seperti bisikan.

HAN SOO MI POV

Malam ini hujan kembali turun dengan deras. Sama seperti dua malam yang lalu. Aku menghela napas. Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat aneh seperti ini? Aku bahkan bolos sekolah tiga hari ini. Apa yang sebenarnya kuhindari? Kris? Bukankah aku memang selalu menghindarinya setelah kejadian di tempat ice skating itu.

Bukan. Bukan alasan itu yang membuatku bolos sekolah sampai tiga hari. Aku memang menghindari Kris, bahkan aku menganggapnya tak ada. Tapi alasanku sebenarnya adalah aku takut melihatnya. Aku takut bertemu dengannya atau sekedar berpapasan dengannya. Dan hal ini karena kejadian tiga hari lalu. Saat dia menyatakan perasaan yang dia pikir cinta padaku.

Kenapa denganku tak bisa tapi dengannya bisa? Pertanyaannya waktu itu kembali terngiang dengan jelas di telingaku. Membuatku kembali bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaannya itu. Dan bayangan dirinya yang tersenyum sinis dengan wajah dingin saat mengatakan pertanyaan itu tergambar jelas di pikiranku.

Wajah dingin dan senyum sinis itu. Dia sama sekali tak pernah menunjukkan ekspresi itu di depanku sampai tiga hari yang lalu. Dia hanya akan berwajah seperti itu pada orang-orang yang dibencinya atau pada orang-orang yang menurutnya mengganggunya. Dan melihatnya menunjukkan ekspresi itu padaku membuatku……..membuatku…….. Argh!!!! Aku benar-benar sedang kacau. Rasanya aku ingin mati saja.

Lalu aku mendengar handphoneku berbunyi dengan keras. Aku langsung berbalik dan berjalan menuju kamarku. Lalu kembali ke balkon sambil menggenggam handphoneku yang masih tetap berbunyi.

“ Yoeboseo?” aku berkata pelan. Sangat pelan sampai aku sendiripun hampir tak mendengar suaraku sendiri. Aku benar-benar merasa sangat lelah sampai mengeluarkan suarapun sepertinya aku tak sanggup.

“ Soo mi-ah, ada apa? Kau sakit? Kenapa suaramu terdengar aneh?” suara Seung hyun oppa yang terdengar khawatir membuatku tersenyum kecil dan kembali mendapatkan kekuatanku. Walaupun hanya sedikit sekali.

Aku menggeleng sebagai jawabannya lalu tersenyum geli sendiri saat menyadari kalau dia tak mungkin bisa melihat gelenganku. “ Gwenchana oppa. Aku hanya merasa sedikit kacau.” Sangat kacau sampai rasanya aku ingin mati saja.

“ Wae? Karena kau merindukanku?” aku memutar mataku mendengar perkataannya. Sementara dia, aku sangat yakin sekarang dia sedang tersenyum sangat lebar. Aku tak menjawab dan hanya bergumam tak jelas.

“ Kau sedang ada masalah.” Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Dan pernyataannya itu membuatku terdiam. “ Sepertinya aku benar. Kalau mau kau bisa menceritakannya padaku, Soo mi-ah.”

“ Anii oppa. Aku sama sekali tak punya masalah. Hanya sedang bad mood karena hujan.” Mendengar suara lembutnya yang sarat kekhawatiran tadi membuatku memilih untuk berbohong. Aku sama sekali tak ingin membebaninya dengan masalahku hingga pekerjaannya terganggu.

“ Kau yakin?” suaranya terdengar ragu dengan jawabanku tadi.

“ Aku yakin oppa. Kau tak perlu khawatir. Oh ya bagaimana kabarmu? Sibuk sekali?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“ Aku baik dan ya aku sibuk. Tapi lusa aku sudah kembali ke Korea.”

“ Jinja? Kau tak bercanda, kan?” dia tertawa kecil mendengar pertanyaanku yang antusias mendengarnya akan segera kembali.

“ Anii, aku tak bercanda sama sekali. Begitu aku kembali aku akan langsung menemuimu. Kau tau aku di sini sangat tersiksa karena selalu merindukanmu.”

Aku tersenyum. “ Nado oppa. Aku sudah tak sabar ingin bertemu denganmu.”

Dia kembali tertawa kecil. “ Kalau begitu sampai bertemu lusa. Dan jaga dirimu.”

“ Baiklah oppa. Kau juga.” Lalu sambungan telpon itu terputus. Aku kembali menghela napas. Begitu aku tak lagi mendengar suara Seung hyun oppa, sedikit kekuatan yang tadi kembali sekarang lenyap lagi.

Aku berbalik dan melangkah masuk ke kamarku. Lebih baik sekarang aku tidur. Karena selain merasa sangat lelah aku juga sudah mengantuk. Lagipula di luar dingin. Entah apa yang membuatku memilih untuk berdiri di luar cukup lama. Aku benar-benar sedang kacau.

 

WU YI FAN POV

Ini malam ke tiga aku di sini. Tepat di depan rumahnya sambil mengamatinya yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Tak kupedulikan tetesan hujan yang sudah membuatku basah kuyup. Saat ini sama seperti dua malam yang lalu, aku sama sekali tak merasakan apapun. Selain keinginan untuk tetap diam di tempat sambil terus menatapnya.

Semenjak kejadian tiga hari yang lalu dia sama sekali tak masuk sekolah. Dan tanpa keterangan apapun. Membuatku sangat mengkhawatirkannya. Dan karena perasaan khawatir itulah aku melakukan tindakan bodoh ini. Berdiri di tengah hujan deras selama tiga malam berturut-turut hanya untuk melihatnya.

Aku tak bisa. Tiga kata yang diucapkannya padaku tiga hari yang lalu itu kembali terngiang dengan jelas di telingaku. Dan kembali menimbulkan kekesalanku dan juga rasa sesak yang membuatku sulit bernapas. Aku kesal karena dia tetap menolakku meskipun aku sudah mengatakan kalau aku mencintainya. Dia menolakku dengan alasan konyol yang mengatakan perasaan yang kurasakan ini bukanlah cinta melainkan hanya perasaan tak nyaman karena dia yang selalu di sisiku sekarang menghindariku.

Konyol. Sangat konyol. Bagaimana bisa perasaan yang sudah ku rasakan sangat lama ini bukan cinta. Aku sudah merasakan persaan ini saat aku pertama kali bertemu dengannya. Perasaan gugup yang membuatku salah tingkah saat melihatnya sementara jantungku berdebar sangat cepat. Perasaan bahagia saat melihatnya juga bahagia, rela melakukan apapun hanya agar dia tersenyum. Perasaan yang ingin melindunginya dengan sekuat tenagaku. Ingin selalu berada di sampingnya. Mendampinginya kapanpun dan di manapun. Perasaan yang ingin memeluknya sangat erat agar dia tak pergi. Perasaan yang tak ingin melepaskannya sampai kapanpun. Ingin melihatnya selalu bahagia dan berharap kebahagiannya itu karena aku berada di sisinya.

Apa itu bukan cinta? Kalau bukan lalu apa namanya? Ada yang bisa memberitauku perasaan apa yang kurasakan ini kalau bukan cinta? Argh!!!!!!! Aku merasa sangat kesal dan marah saat dia meragukan perasaanku dan menolakku. Kenapa denganku tak bisa sementara dengan namja idolanya itu dia bisa? Dia bisa dan mau berdiri di sisi namja itu. Padahal dia pernah bilang kalau dia tak ingin berada di sisi namja itu karena tak ingin kehidupannya terganggu. Dia bahkan pernah berjanji padaku untuk tetap berada di sisiku.

Ya ampun!!! Lebih baik aku mati saja. Yoeja itu berhasil membuatku kacau balau dan mati rasa. Yang bisa kurasakan sekarang hanya rasa sesak yang sangat menyakitkan di dadaku. Membuatku sulit bernapas. Dan walaupun aku telah menghirup udara sebanyak mungkin rasa sesak ini tak juga hilang dan semakin menyiksaku.

Aku kembali menatapnya yang berjalan masuk ke kamarnya dan tak keluar lagi. Melihatnya yang sudah masuk ke kamarnya aku memutuskan untuk kembali ke dorm tanpa mampir ke rumahku terlebih dahulu. Aku tak ingin membuat ibuku panic melihat keadaanku yang lebih pantas disebut mayat hidup daripada manusia.

 

AUTHOR POV

“ Aku pulang.”

Ke sebelas pria itu langsung berkumpul di depan pintu dan mengamati sosok Kris yang kembali dengan basah kuyup sama seperti dua malam yang lalu. Sementara Kris membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah tanpa melirik ke sebelas temannya sama sekali.

“ Sampai kapan kau mau bersikap seperti ini terus, hyung?”

Kris menoleh dan menatap Tao dengan bingung. “ Bersikap seperti apa? Dan kenapa kalian semua berkumpul di depan pintu seperti ini?”

“ Kami mengkhawatirkanmu, Kris. Berhentilah menyiksa dirimu sendiri.” Seru Luhan.

“ Aku tidak menyiksa diriku.” Kris lalu berjalan melewati mereka semua menuju kamarnya.

“ Yang kami lihat kau sedang menyiksa dirimu sendiri, hyung. Kau sama sekali tak makan selama tiga hari ini, tak tidur, pergi keluar dan kembali dengan keadaan basah kuyup karena hujan padahal kau pergi dengan membawa mobil. Kau bahkan berlatih sendiri hingga sangat larut. Ini bukan seperti dirimu, hyung.” DO berujar panjang lebar dan membuat langkah Kris terhenti. Tapi pria itu sama sekali tak berbalik.

“ Benar kata Kyungsoo. Ada apa sebanarnya denganmu?” tanya Suho.

“ Tak ada.” Kris menjawab singkat dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya kembali terhenti begitu mendengar kata-kata Xiumin. “ Apa karena Han soo mi?”

“ Hyung kau bertengkar dengannya? Kalau kau mau kami bisa membantu jadi berhentilah menyiksa dirimu sendiri seperti ini.” Ujar Baekhyun dan yang lain mengangguk setuju.

Kris langsung berbalik dan menatap wajah teman-temannya satu per satu dengan tatapan dingin. “Kalian semua berhentilah bersikap seperti ini! Aku baik-baik saja dan aku tak sedang menyiksa diriku sendiri. Jadi kalian lebih baik mengurus urusan kalian sendiri daripada……”

Lalu semuanya gelap. Dan hal terakhir yang didengar oleh Kris adalah derap langkah kaki teman-temannya yang berlari kearahnya sambil berteriak memanggil namanya dengan panik.

~TBC~

Gimana? Kalian suka atau ceritanya masih kurang bagus? Author berharap kalian tetap suka dengan FF ini walaupun ceritanya jelek atau alurnya gak jelas. Sungguh author masih berusaha dengan keras mencari inspirasi untuk FF ini. Dan jujur sampai sekarang author bingung untuk ending FF ini nantinya hehe….*plak* Author aja masih bingung Soo mi nantinya bakal milih siapa diantara Kris dan juga TOP hehehe…. J Karena jujur mereka berdua sama-sama keren*kalau ada yang gak setuju silahkan angkat tangan* tapi author berdoa semoga dewa pembawa inspirasi mau berkunjung ke tempat author biar FF ini semakin jelas dan cepat selesai*senyum semanis mungkin*

I hope you like it. Aamiin.

 

Iklan

17 pemikiran pada “Stand By Me (Chapter 7)

  1. kyaaaaaaaa!!! author suka banget >o< !
    author daebak !
    kasihan kris sampek pingsan gitu 😦
    aku selalu menunggu next chapternya ya thor 😀

  2. kris pingsan..soo mi kenapa jd plin plan y..bukannya di awal dia suka sama kris..kasian kris udah jd mayat hidup..mian chingu aku terbawa suasana..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s