My Senior High School (Chapter 5)

Chapter 5

Title: Suka?

Characters: NRD, EXO,

Pairing(s): NRD-EXO

Words: 10,830 (plus bonus)

Author’s Note: Author lop yu gais so mach!! Makasih banget yang udah ngeluangin waktu buat baca ff gak beres ini, hiks. *ngelap ingus*

Buat admin,makasih banyak ya udah ngepost ff author! Hehehe..

Selamat membaca semuanya!

Saranghae yeorobun, anyeooong~!  :*

 

________________________________________________

 

 

 

Tao memandang ke tempat latihannya kemarin, dimana semua pohon yang berhasil ia ‘tebas’ sudah kembali menjadi seperti sedia kala. Ia sendiri sebenarnya tidak punya pilihan lain selain berlatih wushu di tempat baru supaya kemampuannya tidak berkurang, tetapi Tao belum menemukan tempat latihan yang layak. Karena itulah, ia terpaksa menggunakan halaman belakang yang jarang dilalui oleh orang banyak. Ia jadi keinget sama manusia-manusia yang sampe sekarang belum nyadar kalau Tao menyaksikan semua kejadian mengharukan kemarin. Emang dasar otaknya odong semua sih.

Selain D.O, wajah beberapa anak lainnya agak sulit untuk ia ingat. Oke, mungkin yang namanya Baekhyun dan Chanyeol udah ia kenal karena pas MOS hari ke-dua mereka bikin ribut di ruang siaran. Udah gitu pas lomba futsal make daster mereka berada dalam tim yang sama. Tapi kemarin kalau gak salah ada tiga cewek yang ikutan juga.. Siapa ya nama mereka?

Yang badannya paling tinggi, rambut bergelombang agak kecokelatan, dan tampangnya keliatan agak blo’on… Hm, gak inget.

Ada juga yang rambutnya cokelat tapi pendek dan lurus. Dia kalau gak salah yang duduk di depan satu baris denganku dan kerjaannya makan permen mulu.. Tapi gak tau namanya.

Terus yang badannya paling pendek, muka sama rambut mirip sadako dan keliatan paling galak.. Manusia kan yah dia? Hiii….

Frustasi karena gak mengenal para yeoja yang menolongnya kemarin, Tao mengacak-ngacak rambut dan sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi ke kelas, ia menoleh ke belakang sebentar untuk melihat pepohonan yang kembali normal berkat bantuan teman sekelasnya.

Sejurus kemudian, bibir Tao menyunggingkan senyum. Ia segera melangkahkan kaki ke kelas dengan perasaan riang yang tak pernah ia bayangkan akan bisa ia rasakan di sekolahnya yang baru ini.

 

* * *

 

“Ah.. Hari ini pelajarannya gak enak banget..” gerutu Chanyeol sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala dan ngangkat kaki ke atas meja. Ia mengumbar-umbar wewangian yang berasal dari ketek dan juga kakinya. Masih untung temen sekelasnya pada gak pingsan.

Baekhyun sebaliknya. Ia merosotin badan di kursi sampe yang keliatan cuma ujung rambut kalau diliat dari depan kelas. Ia menggoyang-goyangkan kaki ke kanan-ke kiri kayak orang bener. “Udah ada matematika, pake ada bahasa inggris, lagi! Bolos yuk?”

Betapa brilian ide seorang Byun Baekhyun. Sahabatnya Chanyeol pun mau gak mau tapi malu-malu mau (narasi apa ini?) langsung melotot kegirangan dan kelojotan. “Wih! Bener juga lu, Con! Ayo ayo!!” Anak baik harap jangan menirunya, ya.

Daeri melirik tajam ke Baekhyun. “Ck! Baru juga hari kedua sekolah udah mau bolos aja lu! Dasar males. Payah. Gak becus lu jadi murid SMA. Sana keluar sekolah aja mending. Cuh! Pret!” Seperti biasa, kejudesan seorang Kang Daeri tidak mengenal waktu, bahkan di pagi hari belum mulai pelajaran pun ia sudah melancarkan serangan sinis-nya. Nichan, Chanyeol, dan D.O nahan ketawa, dan emang udah seharusnya ditahan supaya gak ikutan kena semprot omelan Daeri.

Baekhyun manyun. Sampe kapan anak ini bakal berenti ngatain dirinya? “Enak aja.. Paling kalau gua ajak lu bolos lu mau, kan? Hayoo, ngaku aja deh..” katanya sambil nunjuk-nunjuk Daeri. Sang ratu judes makin gondok ngeliat ekspresi mesum Baekhyun, apalagi kali ini ditujukan ke arahnya.

“Muka lu tuh apaan banget sih!! Lagian juga gua paling ogah kalau disuruh bolos!” ujarnya dengan tingkat kesewotan yang tinggi. Tapi gak lama raut wajahnya berubah jadi kalem.

“..kecuali kalau Nichan-unni yang ngajak. Baru aku mau bolos,” Daeri bergumam, yang disambut dengan ketawa ‘aha-aha’ dari Nichan yang duduk dengan anteng di sampingnya.

Sungguh malang, Baekhyun dan Chanyeol yang seharusnya gak mendengar hal itu ternyata menangkap apa yang baru aja Daeri katakan.

“Naah, kan~! Bener kana pa kata guaa!” Baekhyun terdengar sangat bangga dan bahagia. Sedangkan Chanyeol cuma bilang, “Aaahahahahh! Daeri bandel ya, Daeri~! Nanti oppa aduin loh ke kepala sekolah… Hayo loh.. Hayoo..” sambil tetap berada dalam posisi wuenak-nya.

Kesel? Tentu saja Daeri semakin kesel. Gondok dan mangkel? Udah pasti. Matanya melotot hebat. Giginya gemertak menahan amarah maha dasyat. Lobang idungnya melar-melar dan terlihat asep keluar dari situ. Ia bersiap-siap untuk melancarkan serangan ludah andalannya. Bersamaan dengan beberapa pukulan ke arah Chanyeol, ia pun berkata, “Apa lu bilang? ‘OPPA’?? NAJIS AMIT HOEK CUIH CUIH PRET SEUMUR HIDUP GUA GAK AKAN PERNAH MANGGIL LU BERDUA ‘OPPA’! CUIH CUIH! OGAH AMAT IH GAK SUDI HUWEKH!! POKOKNYA GUA—“

“Selamat pagi,”

Segala hujatan dan caci maki yang Daeri keluarkan dipotong (atau disensor?) oleh keberadaan sosok manusia lain yang tiba-tiba saja muncul. Daeri yang lagi asik mengungkapkan perasaannya (tentunya dalam artian negatif) langsung berenti dan mendongak ke atas. Nichan, yang sebelumnya duduk menyamping menghadap Daeri sembari ngetawain keberingasan setan gadis itu langsung muterin badan 180 derajat untuk melihat ke sumber suara yang berasal dari belakang. Baekhyun dan Chanyeol yang tengah melindungi diri dari terkaman hewan buas di depan mereka ikutan mendongak untuk melihat muka orang yang baru aja menyapa mereka. Sementara D.O, yang sedaritadi memposisikan kursi (mewah) miliknya ke samping bangku Baekhyun cukup melirik ke atas dengan mata belo. Oh, emang udah belo deng. Huhuhu, imut banget deh… *author ditendang Ara*

Kalau bukan karena seragam sekolah Strodes, mungkin kelima tokoh utama kita udah langsung kabur begitu ngeliat namja tinggi yang kupingnya ditindik sana-sini, rambut hitam lurus berantakan dengan poni hampir menutup mata plus lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah kedua matanya. Dan baydewey, itu dia bawa-bawa tongkat di tas, ya? Namun, sebuah senyum tak lupa bertengger di mulutnya yang tipis.

“Euu…..” Baekhyun dan Chanyeol keilangan kata-kata. Mereka terbengong-bengong dengan mulut nganga. Sungguh sangat derp sekali dilihatnya.

Sementara para yeoja yang (sedikit) lebih waras dibanding BaekYeol, langsung membalas sapaan Tao dan membungkukkan badan sambil tetap duduk. “Pagi juga..” ujar keduanya berbarengan.

Tanpa kata-kata, Tao langsung duduk di bangkunya dan diam. Mungkin dia bengong. Mungkin juga dia merenungi nasib. Mungkin dia mikirin kampung halamannya. Atau mungkin dia mikirin jemuran yang lupa dia angkat tadi pagi. Apapun alasannya, Tao sukses bikin kelima tokoh utama kita (minus Ara, dia secara misterius belum muncul karena suatu sebab) cengo dengan mulut nganga.

Nichan menjadi orang yang bereaksi pertama kali. Ia langsung bisik-bisik kepada teman-temannya. “Eeuuhh.. Tumben yah dia nyapa kita?” suara Nichan terdengar pelan sekali sampe-sampe para temennya yang congean harus ngedeketin kepala mereka sampe dempetan dan membentuk gumpalan rambut yang besar.

“Iya, unni.. Malah kayaknya ini pertama kalinya aku denger dia ngomong setelah dia perkenalan pas MOS pertama..” Nichan manggut-manggut menanggapi omongan Daeri.

“Kalau gua sih udah pernah denger dia ngomong lagi pas futsal yang barengan itu, lho.. Dia ngajuin diri buat gantiin Kai kamis kemaren di babak kedua.” Baekhyun mengingat-ingat terakhir kali ia mendengar Tao mengeluarkan suaranya. Tapi yang keinget malah sosok dirinya tengah memakai daster dengan anggun sekali. Alhasil, ia jadi mual sendiri.

Tanpa ia ketahui, ternyata Chanyeol juga jadi keinget saat-saat dimana pahanya terekspos di tengah lapangan saat pertandingan semi final. Monyong emang nih si Bacon, gua kan jadi keinget lomba teridiot sepanjang sejarah itu lagi. Batin Chanyeol. Tapi akhirnya ia ikutan komentar, “Udah gitu setelah ngajuin diri, dia gak ngomong apa-apa lagi ya kayaknya? Cuma manggut atau geleng-geleng kepala doang kalau ditanya,”

“Iya, betah amat yah mingkem mulu,” Baekhyun berdecak kagum, kagum akan betapa seseorang bisa menjadi sangat pendiam. Salah sendiri temenannya sama makhluk yang satu spesies dengannya mulu?

“Cih, emangnya elu? Setiap ngomong gak bisa berenti.” Daeri bergumam sambil memasang muka empet, berharap Baekhyun tidak mendengarnya. Tapi berhubung mereka berlima lagi dempet-dempetan kepala kayak ayam lagi makan pelet, mana mungkin hal tersebut tidak didengar oleh oknumnya?

“Daeri, kok lu kayaknya dendam banget sih sama gua? Gua pernah ada salah yah sama elu? Bilang aja sama gua, gua akan ikhlas menerimanya kok.” Baekhyun berpose ala cherrybelle dan memasang muka polos tanpa dosa, yang dibalas dengan jentulan kepala dari Chanyeol.

“Gak. Usah. Masang. Muka. Sok. Imut.” Daeri memberi penekanan di setiap kata yang ia ucapkan sambil nyipit-nyipitin mata. Baekhyun yang malang hanya bisa cengengesan.

“Eh, si Ara kemana ini? Kok belum di kelas ya,” Nichan menoleh ke tempat duduk Ara yang masih kosong, diikuti dengan teman-teman begonya yang lain.

“Lah, iya juga.. Pantes ada yang kurang.” kata Chanyeol setelah ia dan yang lain kembali ke posisi awal. Dalem hati, D.O heran kenapa baru pada nyadar kalau Ara belum dateng? Daritadi ia diem karena merasa ragu apa harus nanyain itu atau enggak? Untungnya, para tokoh utama kita yang idiot semua ini gak ada yang ngeh ketika wajah D.O memerah seperti kepiting rebus.

“Dia masih di kamar, kali? Temen sekamarnya juga belum dateng kan? Si Bomi-Bomi itu lho.. Yang duduk di sebelahnya.. Eh?” Perkataan Daeri dibarengi dengan bunyinya bel masuk dan kemunculan seorang namja berbadan tidak begitu tinggi dan tidak begitu gemuk. Intinya, yang sedang-sedang saja, yang penting dia setia. Dia tidak cantik, mak. Dia tidak jelek, mak. Yang sedang-sedang saja. Lho. Itu sih lirik lagu dangdut kesukaan author. *ketauan deh seleranya gimana, huhuhu*

“Selamat pagi,” ujarnya dengan cengiran lebar.

Serentak seluruh murid kelas 1-D bersiap duduk di tempat duduk masing-masing dengan rapih. Yang ngubah posisi meja atau kursi langsung pada ngebalikin ke tempat semula (termasuk D.O). Murid-murid yang sebelumnya berada di luar langsung pada masuk bergerombolan kayak pintu bioskop baru dibuka. Salah satu diantara murid yang baru masuk bergerombol adalah Ara. Otomatis Nichan, Daeri, Baekhyun, Chanyeol dan D.O langsung menegakkan punggung mereka dan bertanya-tanya dalem hati masing-masing kenapa Ara masuknya pas-pasan banget hari itu?

“Pagi, seonsaengnim..” jawab anak 1-D berbarengan.

Begitu sang guru meletakkan beberapa buku di atas meja, ia segera berdiri di depan kelas dengan muka sumringah. “Yap.. Em… Halo semuanya, saya guru matematika kalian. Nama saya, Yoo Jae Suk..” Yoo Jae Suk mulai memperkenalkan diri di hadapan seluruh siswa 1-D yang lagi manggut-manggut.

“Ehm.. Seharusnya, hari ini kita memulai bab awal, yaitu bab 7. Tapi, berhubung saya ada party, nih, jadinya saya harus segera pergi ke tempatnya.” lanjutnya.

Alasan yang tidak wajar dan terkesan bodoh itu membuat seluruh anak 1-D terbengong-bengong. Mana ada guru yang gak ngajar gegara punya urusan gak penting di tempat lain gitu? Kenyataannya, guru seperti itu memang ada. Dan mereka sedang melihatnya. Jadi guru mereka pula.

Setelah otak seluruh siswa 1-D mencerna baik-baik perkataan seonsaengnim mereka yang baru aja mereka lihat itu, barulah mereka berkomentar. Murid yang demen belajar langsung kecewa dan mengeluarkan kor ‘yaaah…’ serempak, sementara murid yang ogah, empet, gondok, anti, dan males belajar langsung berbunga-bunga hati dan wajahnya.

“Demi apa..”

“Seriusan??”

“Wah, asik banget!”

“Ke kantin yuk!”

“Wih, semoga semua guru kita kayak gini ya..”

“Asik banget nih!! Kebetulan gua lagi males belajar!”

“Bukannya elu males terus, ya?”

“Kok bisa-bisanya dia mentingin party daripada muridnya sendiri. Tapi biarin deh. Untung di kita! Hehehe..”

“Muka guru kita mulus banget deh, cyin~ Gemes deh, ah~”

Segala bisik-bisik heboh dari para murid dibarengi dengan lirikan-lirikan mata mereka yang tengah meneliti gerak-gerik guru baru mereka, Yoo Jae Suk. Kini sang guru kembali mengambil buku yang sempat ia letakkan di atas meja guru dan berlalu ke pintu keluar kelas sambilan dadah-dadah-amit. “Yasudah, untuk kali ini, berhubung masih hari pertama juga saya ngajar, kalian belajar sendiri dulu yah! Saya pergi dulu—“

“Party apaan, pak?”

Langkah kaki guru absurd itu langsung terhenti begitu sebuah suara ngebas misterius yang berasal dari pojokan kelas sampai ke telinganya. Berhubung ia gak tau siapa yang ngomong, Yoo Jae Suk hanya memandang ke kelas secara random dan berusaha menjelaskan. “Eehh.. Hari ini ada party merayakan keponakan saya yang bisa ngomong ‘Mama’. Makanya ini penting sekali untuk saya.. Yah, sudah ya. Belajar yang benar!” Dengan lambaian tangan terakhir, ia berlalu dan sosoknya menghilang bersamaan dengan menutupnya pintu kelas.

Hening. Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik. Rekor bagi kelas 1-D untuk sunyi dalam waktu terlama. Tanpa janjian terlebih dahulu, semua murid di kelas tersebut langsung menoleh-noleh berpandangan ke satu sama lain dengan wajah paling bingung yang bisa mereka keluarkan.

“…seriusan?”

“Hah..?”

“Yakin?”

“Tar dulu deh,”

“Ehm..”

Kemudian hening lagi untuk selang beberapa detik. Setelah terdiam beberapa saat, pecahlah semua tawa seluruh siswa 1-D diikuti dengan gebrakan meja sana-sini yang membuat suasana kelas makin ricuh.

Nichan, sempet-sempetnya ngecengin guru aneh itu di tengah kehebohan. “Daeri.. Itu, aduh, ampun deh.. Ahahaha.. Ahaha, aku baru liat, yang kayak begitu!!” Susah sekali bagi seorang Park Nichan untuk menyeimbangkan antara pengen ketawa, pengen ngomong, pengen ngecengin, tapi perutnya geter-geter.

Daeri juga gak kalah geli. “Unni, unni harus liat tadi gayanya.. Aduh. Hahaha!! Mana gak pake seragam guru, lagi!”

Dengan ganas Nichan ngangguk-ngangguk setuju. “Bener! Bener! Kayaknya dari awal udah niat gak ngajarin kita deh.. Ahahahah..!” Kemudian dua bocah blekok ini kembali ngakak.

Tak lama, kehebohan di kelas itu mereda. Mereka semua tetap saling berpandangan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Eh.. Yakin gak sih tuh dia guru..?”

“Ya iyalah dia guru, bedon.”

“Tapi..”

“..gak gitu juga kali..”

“Gak percaya gua,”

“Party-nya gak penting abis!”

“Mana ada party kayak begituan!”

“Sumpah, ini pesta paling aneh yang pernah gua denger.”

“Padahal gua cuma iseng nanyain dia party apaan,” Serentak, semua perhatian menuju kepada sumber suara barusan. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol?

“Iya.. Untung juga lu nanya! Gila nih gua merasa tertipu sama guru itu,” Yongguk, yang duduk agak ke tengah depan langsung nimbrung.

Chanyeol terkekeh dan bergumam. “Makanya..!”

“Terus kita ngapain?” tanya seorang yeoja yang duduk di barisan depan.

“Ehm.. Ya terserah?”

“Yaudah ke kantin aja apa nih?”

“Yaudah deh,”

Akhirnya dengan itu, para murid 1-D yang bimbang pun langsung mencar dengan langkah ragu dan masih terheran-heran. Gimana enggak? Baru juga hari pertama mereka belajar di kelas yang beneran (karena sebelum-sebelumnya gak begitu berat di otak) malah ditelantarkan begini? Guru macam apa itu?

Tapi daripada pusing-pusing mikirin sang guru MTK, Baekhyun dan Chanyeol mengambil keputusan penting untuk gak menyia-nyiakan kesempatan gak belajar yang jarang mereka dapatkan. “Eh, kita ke atap sekolah aja yuk?” ajak keduanya berbarengan. Mereka sendiri pun terkejut karena betapa persisnya yang mereka ucapkan. Betapa samanya nada bicara mereka yang menunjukkan semangat. Baekhyun dan Chanyeol tertegun dan saling berpandangan.

Apa mungkin ini semua karena mereka memiliki satu pikiran yang sama, satu jiwa yang sama, dan satu hati yang sama?

Apakah benar ada cinta di sela-sela canda tawa mereka berdua?

Apakah benar tiba-tiba author pengen bikin kisah romantis Baekhyun-Chanyeol di chapter lain? Kita lihat saja nanti..

Menoleh ke belakang mereka, Nichan dan Daeri menaikkan alisnya begitu mendengar ajakan gak biasa dari Baekhyun dan Chanyeol barusan. “Atap sekolah??” Nichan bertanya dengan muka cengo.

“Ada apaan di sono?” tanya Daeri.

“Ya gak ada apa-apaan.. Ke sana aja kumpul, kayak di pelem-pelem kartun jepang noh! Kan asik jarang ada orang yang lewat, kita bisa ketawa ampe puas. Iye gak, Yeol?” Baekhyun menjelaskan dengan semangat berkobar.

“Yo’i.. Lagian juga gua sama Baekhyun udah pernah ke sana dan tempatnya lumayan enak. Mau kagak? Ajak D.O sama Ara juga..” Chanyeol menunjuk ke tempat Ara yang terlihat entah kenapa murung dan juga D.O yang mukanya sama terus sepanjang waktu.

Menimbang-nimbang bahwa ajakan Baekhyun dan Chanyeol ini gak begitu jelek, Nichan dan Daeri saling bertatapan dan mengangguk. Kemudian mereka kembali ke duo lawak BaekYeol sembari berkata, “Yaudah, yuk.”

 

 

* * *

 

Angin berhembus sepoi-sepoi, langit cerah tapi tidak menyilaukan, suasana yang hening dan tentram. Akhirnya para tokoh utama kita paham kenapa atap sekolah menjadi tempat favorit di setiap kartun jepang yang mereka tonton.

Bagaikan piknik, mereka menggelar tiker dan beberapa makanan yang berasal dari koki tuan muda bernama D.O yang secara spesial dikeluarkan lebih awal pada hari ini. Atas perintah Do Kyungsoo, tentu saja.

Mereka asik bercengkrama sambil makan sampe-sampe lupa kalau makanan itu bukan milik mereka. Tapi berhubung D.O malah merasa senang berbagi makanan dengan teman-teman barunya, ia hanya senyum-senyum melihat Nichan yang makanin appetizer Spicy Chicken Wing with Tomato Sauce and Cream sendirian, Daeri yang berebut Cheesy Baked Chicken Fussili dan juga Prawn and Mushroom Pizza dengan pasangan BaekYeol, serta Ara yang ‘ngemilin’ Salmon with Herbed Potatoes dengan anteng.

Untuk yang terakhir, ia sedikit malu-malu melihatnya, soalnya hari ini Ara ekstra cantik di mata D.O. Hati sang tuan muda berdegup kencang ketika menatap rambut Ara yang terlihat lurus dan hitam-kecokelatan berkilau. Pandangannya berpindah pada matanya yang beribinar dan bercahaya, tak lupa bulu matanya panjang menambah kesan segar. Lalu turun ke bawah dimana terpampanglah bibir Ara yang lembap kemerahan semerah semu di pipinya yang lagi ngemilin salmonnya D.O.

“Jadi kamu semaleman gak bisa tidur dong, Ra?” Nichan yang gak dapet gangguan apa-apa dalam makanannya memiliki keleluasaan untuk ngobrol. Sementara Daeri dan BaekYeol masih berkutat rebutan Garlic Bread di samping.

Ara mengangguk, rambut yang aslinya halus dan selalu tertata rapih kini acak-acakan serta tak lupa poni hampir menutup mata sembabnya, membuat Ara terlihat jauh lebih seram dari setan di film horror Thailand. Hii. “He-euh, gila tuh si Bomi pake ngajak temennya nginep di kamar gua sama dia, semaleman ngomongin senior-senior yang ganteng sambil jejeritan gak keruanan. Gimana gua bisa tidur.. Ugh. Mana kepala gua sempet sakit banget lagi, semalem..”

Mendengar hal tersebut, Daeri langsung ngeberentiin pertempurannya yang sangat gak penting itu. “Yah ampun.. Pantes aja kamu keliatan pucet gitu. Minum obat sono.. Berarti kamu malem ini harus tidur cepet biar bisa seger lagi,”

Baekhyun dan Chanyeol yang merasa puas karena berhasil ngerebut makanan dari Daeri pun mengangguk setuju. “Iya, Ra.. Kasian gua ngeliat elu. Kayak anak kurang gizi. Makanya makan yang banyak dong! Abisin aja kalau mau,” kata Baekhyun sambil nunjuk-nunjuk semua hidangan pake garpu, seolah dialah pemilik dari semua makanan mewah ini.

“Gua malah ngeliat elu kayak orang belum makan dari orok..” Ucapan Chanyeol membuat muka Ara makin memble.

“Najis lu berdua.. Omongannya gak bikin gua terhibur. Kayak Nichan sama Daeri dong.. Payah lu.” Setelah misuh-misuh, Ara memasukkan kembali salmon ke dalam mulutnya.

Telah dibuktikan oleh peneliti bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan mampu melihat penampilan fisik orang yang dicintai tersebut menjadi sosok paling indah di mata. Bahkan hal ini telah dijelaskan sebelumnya dalam komik korea berjudul ‘goong’ (baydewey, jumlah ‘o’-nya bener gak tuh?). Rupa-rupanya, itulah yang sedang dialami oleh D.O. Dan itulah alasan kenapa Ara terlihat seperti bidadari dari khayangan bagi D.O padahal aslinya seperti bidadari dari khayang-ah.

“Si Bomi emangnya sampe segitunya ngomongin cowok ganteng ampe pagi?” Daeri yang tengsin karena kalah dalam perebutan makanan akhirnya joinan bareng Nichan makan spicy wing.

Dengan mulut gembul penuh makanan, Ara ngangguk-ngangguk. “Ya gak juga sih, semalem aku juga kayak denger dia curhat soal pengen ngaku suka ke cowok, tapi gak berani.” ujarnya setelah nelen makanan.

“Eh? Dia suka siapa?” tanya Nichan, yang entah kenapa jadi ikutan kepo.

“Gak tau, abisnya kemaren dia gak nyebutin nama.. Palingan senior, soalnya dia kayak udah mahir gitu sama nama-nama senior yang kece,” jelas Ara.

Baekhyun dan Chanyeol yang sedaritadi terharu mengagumi kenikmatan tiada tara dari masakan koki D.O akhirnya ikut ambil andil dalam dunia pergosipan ini. “Yah ilah, dasar cewek-cewek repot. Ngapain sih pake ada acara naksir-naksir senior begini?” kata Chanyeol dengan muka meremehkan.

“Tau, cowok ganteng diurusin.. Sekolah tuh harusnya ngurusin pelajaran! Bukan mikirin pacaran!” Baekhyun menanggapi omongan sahabatnya dengan ekspresi yang gak kalah nyolot. Mereka pun langsung ber-tos ria.

Gondok. Perasaan tadi yang paling semangat ngajakin buat gak masuk kelas mereka berdua deh.. Pikir Nichan dan Daeri. “Yang barusan pengen bolos siapa ya?” Nichan mengeluarkan tatapan sinis yang ia pelajari dari Daeri. Ngikutin kok malah kejelekan sahabatnya, bukan yang bagus-bagus? Walapun sebenernya gak ada yang bagus sih dari sifat bocah horror itu.. *author dibinasakan oleh Daeri*

Tengsin lah kedua bocah sedeng bernama Baekhyun dan Chanyeol. “Eh? Siapa ya? Hehehe.. Siapa sih, Yeol?” Baekhyun malah pura-pura gak tau.

“Kagak tau tuh.. Hehehe,” Chanyeol garuk-garuk kepala. Tapi alhamdulillahnya karena hari ini dia keramas, gak ada satupun ketombe yang keluar.

“Jelek lu pada,” Daeri udah gak tau lagi harus gimana ngadepin dua makhluk ble’e ini.

Ara, yang notabene masuknya pas-pasan sama bel masuk sudah tentu gak tau apa-apa soal obrolan tadi pagi. “Emang siapa yang mau bolos?” tanyanya setelah ikutan nimbrung dua sahabatnya makan spicy wing.

“Noh! Siapa lagi?! Yang daritadi cengengesan pamer gigi gondrongnya,”

Betapa terkejut Chanyeol dibilang seperti itu oleh seorang yeoja yang lebih muda empat tahun darinya. Gak pernah seumur hidup dia dibilang begitu, bahkan oleh sahabatnya sendiri, Baekhyun. Dengan wajah kaget campur tak percaya Chanyeol langsung protes. “Gigi gondrong?? Yang lu maksud itu gua??”

“Lu emangnya gak ngerasa?” Si cewek sadis malah balik bertanya dengan lirikan maut. Di sisi lain, Baekhyun tertawa dengan jumawa dan terdengar sangat puas.

“MPOZ LO DIKATAIN GIGI GONDRONG! HAHAHAHA!” Kemudian ia gegulingan di lantai dan tertawa geli.

Geleng-geleng kepala, Chanyeol mendramatisir keadaan. “Wah.. Gak terima nih, gak terima.. Gak bisa nih.. Terluka nih hati gua yang rapuh dan suci ini.. Lu kejam, Daeri. Kejam..” Muka yang seolah-olah dibuat pasrah (seolah-olah doang, padahal mah jauh dari kata ‘pasrah’) membuat seluruh tokoh utama kita bergidik. Ugh. Gak pantes banget anak macem dia sok-sokan menderita. Kagak pas sama mukanya yang kacrut itu.

“Abisnya lu sok-sokan pake ngomong urusin pelajaran, sih! Kayak lu ngurusin aja,”  Daeri ngedumel.

Nichan yang berada di sebelahnya juga gak bisa tinggal diam. “Haih.. Macem begini mikirin belajar aja belum tentu.” Luar biasa. Betapa kuatnya tingkat kejutekan Daeri sampai bisa mempengaruhi temannya sendiri. Apa itu Nichan aja yang terlalu polos sampe gampang kebawa sifat orang lain? Buktinya aja dia ikutan kepo sejak ketemu Kyuri. Ini masih merupakan misteri.. Misteri kepolosan Nichan.

“Nichan. Lu kok jadi ikutan judes sih? Udah cukup satu orang doang yang omongannya pedes, eh, ini lagi elu ikutan?” Chanyeol yang cemberut masih sempet-sempetnya ngambil lauk dari piring Baekhyun — yang kini udah berenti guling-gulingan dan kembali makan. Berhubung sahabatnya lagi merana abis dicengin sama cewek-cewek geragas, ia pun membiarkan hal itu terjadi.

“Heh, denger ya, yang namanya masa SMA itu adalah masa-masa paling indah buat jatuh cinta. Cowok sih mana ngerti sama yang kayak gituan, pikirannya main sama bikin rusuh doang.. Kan kalau kita punya orang yang disuka pasti kita bakal ngerasa lebih semangat buat pergi ke kelas atau malah jadi semangat belajar! Dan lagi siapa tau dengan punya pacar kita jadi bisa share pengetahuan dan belajar bareng,”

Ara sangat setuju dengan kotbah Nichan. Buktinya ia manggut-manggut dengan daging salmon yang menjulur keluar dari dalem mulut. Ia terlihat seperti beruang liar yang makanin salmon mentah. “Iya, cowok normal aja gak semuanya ngerti, apalagi yang otaknya gak beres kayak lu pada,”

“Waduh, Ra.. Kok lu juga jadi jahat gini, sih? Gak kasian apa sama gua dan si Bacon tolol ini?”

“LHO. Kok lu jadi ikut ngecengin gua?? Eh, sori ya, gua sama Chanyeol nih udah bertekad untuk belajar seriusnya di kelas tiga aja.. Kelas satu dua sih ntar-ntaran aja seriusnya, yang penting main-main aja dulu,” Meskipun ia protes abis dibilang ‘Bacon tolol’, ia mau gak mau setuju dengan perkataan Chanyeol.

“Yee! Itu sih sama aja intinya gak mau fokus ke pelajaran!” Ara sewot. Tapi Baekhyun masih bisa mempertahankan pendapatnya.

“Eh tapi paling enggak buat kita tuh cinta belakangan!”

Memasang muka bangga, Chanyeol ikut membela Baekhyun. “Yoha.. Masalah dapet pacar atau enggak di SMA sih belakangan, yang penting main-main,” Diikuti dengan perkataan “Tuh.. Dengerin dong apa kata gua sama Chanyeol” dari Baekhyun.

Nichan mengeplak jidatnya. Ara memble. Sedangkan Daeri menghela napas berat. “Pikiran lu berdua itu udah sama-sama jelek tau gak. Kenapa juga sih orang kayak elu sama Bacon harus ketemu..”

“Udahlah, Daeri, susah ngomong sama mereka.. Gak bakal selesai,” Bagaikan Suho, Nichan mengpuk-puk pundak Daeri dengan melodi yang merdu dan terdengar bijak.

“Iya, cuma nambah beban idup aja,” Gumaman Ara yang diikuti lirik-lirik pasrah diantara ketiga cewek somplak ini malah diketawain oleh duo BaekYeol.

“Hah-hah-hah.. Lu gak bakalan menang deh kalau adu bacot sama gua!” Kemudian mereka berdua tos lagi dengan girangnya. Maka semakin empet lah Nichan, Daeri, dan Ara. Emang mustahil untuk menang dari mereka berdua. Kekuatan congornya yang liar tak tertandingi!

Baekhyun yang puas ketawa langsung melirik ke arah sang tuan muda pendiam yang daritadi cuma cengengesan ngeliatin adu pendapat paling gak penting sedunia. “Eh, D.O, menurut lu gimana? Jangan diem aja dong..”

Keselek, D.O yang lagi adem ayem makanin masakan kokinya langsung nepuk-nepuk dadanya supaya bisa napas lagi. Merasa bertanggung jawab, Baekhyun pun ikut menepuk-nepuk pundak D.O dari belakang sambil menggumamkan ‘hehehe sori, sori’.

“E-eh? A-aku sih…” Sang tuan muda menghentikan kalimat dan memandang ke seluruh teman barunya dengan mata yang udah belo dari sananya makin besar. “..kalau soal suka-sukaan gitu,” ia melanjutkan, tapi terlihat ragu dan memalingkan pandangan ke lantai. Menurutnya, lantai terlihat indah sekali ketika ia lagi grogi.

“Yaaa?”

D.O shock-meroshock. Gimana enggak? Lima muka mesum tengah menatap ke arahnya sembari menunggu jawaban apa yang akan dia katakan. “E-eeuuhh.. Setuju-setuju aja,”

“TUH KAN! Emang cuma lu berdua yang gak punya romansa kehidupan masa SMA!” Wajah Nichan, Daeri, dan Ara terlihat sumringah. Mereka saling tos dan meneriakkan ‘horee! Horee!’ dengan sangat ribut. Nichan pun mengeluarkan ketawa ‘aha-aha’ andalannya.

Kebalikan dari para cewek kepret ini, Baekhyun dan Chanyeol malah asem dan suram. “Yaah, D.O, kok lu ikutan mereka sih? Jahat luu~” Dengan gak tau diri dan dengan sok imut Baekhyun gelendotan di tangan D.O yang gak lebih besar darinya, membuat D.O cengengesan salting karena bingung mungkin anak ini salah minum obat kali, ya?

“Tau lu.. Harusnya lu belain gua sama Bacon dong..”

D.O semakin tengsin karena Chanyeol juga ikutan memelas kepadanya. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa juga topik seperti ini muncul ketika ia lagi merasakan apa yang membuatnya salah tingkah? Kenapa mereka gak ngomongin hal lain kayak rambut kepala sekolah yang entah abis dipakein apa bisa jadi tumbuh lebat kembali? Atau ngomongin orang yang emang udah ditakdirkan buat diomongin yaitu Kris? Atau bisa juga kan ngomongin masalah guru aneh yang barusan ninggalin kelas buat party? D.O gak abis pikir. Apa yang harus ia katakan? Perasaannya kan baru muncul kemarin, masa ia udah harus ngasih tau kalau ia suka sama Ara sekarang? Jelas itu gak banget. Pada akhirnya, D.O memutuskan untuk tetap menyimpannya di dalam hati.

Menenggak ludah, D.O memberanikan diri untuk berkata. “Euh.. Abisnya, gak ada salahnya kan kalau mikirin yang kayak gitu? Buat laki-laki, itu hal yang wajar kok. Soalnya kan kita gak bisa nentuin kapan kita suka sama orang? Ya.. Misalnya aja, tiba-tiba dia udah ada di hati kita..” Pandangan D.O jatuh ke depannya, tetapi ia tidak melihat kemanapun. Mata D.O terlihat menerawang dan ada sebuah pesan dalam tatapan sendunya itu. Nichan, Daeri, dan Ara, meskipun sifat mereka terbilang sangat minus, mereka menyadari keanehan dalam tingkah D.O tersebut. Tapi memutuskan untuk gak membahasnya.

D.O menarik napas dan melanjutkan, “Tiba-tiba senyumnya gak bisa lepas dari pikiran kita..” Ia teringat akan hari sebelumnya ketika pelajaran olahraga kemarin, dimana untuk pertama kalinya suara tertawa Ara terdengar begitu merdu dalam telinga D.O (yah, kalau ketawa yang kayak kuda lagi dikebiri campur sama sapi melahirkan bisa dibilang ‘merdu’ sih). *author ditabok Ara*

“Tiba-tiba aja, dia muncul di mimpi kita.. Atau, tiba-tiba dia jadi keliatan spesial di mata kita.. Maksudku, ehm,”

Kini D.O menatap langsung ke mata teman-teman caur-nya dan merasa tidak begitu grogi. “..kita gak tau kan, kapan semua itu bisa muncul dalam diri kita? Dan kita juga gak bisa maksain diri untuk suka sama orang, soalnya…itu hal yang terjadi begitu aja dengan sendirinya, bukan atas kehendak kita..” D.O mengakhiri perkataan panjangnya yang ia sendiri tidak menyangka akan bisa ia katakan begitu lancar. Tidak pernah sebelumnya ia berbicara panjang lebar di depan orang lain, apalagi mengungkapkan apa yang ia rasakan seperti barusan.

Kaget? Tentu saja. Selain D.O-nya sendiri, kelima tokoh utama gendeng kita pun kagum melihat sisi lain dari si pangeran kelas yang jarang ngomong ini. Keheningan itu dipecahkan dengan komentar Chanyeol,

“Hm.. Ternyata D.O punya pemikiran begitu ya, salut gua..” katanya sambil manggut-manggutin kepala masang muka (sok) mikir.

“Wah.. Aku gak nyangka nih D.O bisa ngomong gitu.. Padahal aku pikir kamu tuh selalu bengong. Aha.. Ahaha..” Nichan cengengesan salting garuk-garuk kepala. Padahal sendirinya tuh yang hobinya ngelamun.

“Tuh! Contoh dong si D.O.. Dia bener-bener ngertiin gimana perasaan cewek dan malah ngedukung kita. Lah elu pade apa? Malah ngatain, cuh cuh.” Ara menunjuk pada orang yang namanya ia sebut, tetapi pandangannya mengarah pada dua cowok lain yang isi otaknya cuma ‘main’, ‘makan’, sama ‘ngecengin orang’ doang. Hati D.O langsung gendanggendut begitu Ara bilang ngertiin perasaan cewek. Bukannya ngertiin sih, tapi aku itu mulai suka sama kamu. Kamu aja nih yang gak ngerti.. Batin D.O dengan muka memerah.

“Ah, bawel lu, Ra.. Eh, baydewey, lu lagi suka sama orang ya, D.O?”

Jegerr. Mampus.

Bagaikan kilat, pertanyaan Chanyeol langsung merajam ke hati D.O. Semakin salting lah ia dibuatnya dan harus jawab apa ini??

“Ha-hah?? Enggak! Enggak kok! A-aku cuma baca di buku!!” bokis D.O. Alasan yang bodoh. Tapi kelima tokoh utama kita lebih bodoh lagi dari alesan tersebut. Entah bagaimana, mereka semua percaya dengan apa yang D.O bilang. Polos dan bodoh itu beda tipis ya?

“Ah! Payah nih! Kan seru kalau lu demen sama seseorang..”

“Lho? Kok lu jadi seneng gini? Bukannya lu tadi gak setuju pacar-pacaran di SMA?” Nichan menimpali omongan Baekhyun yang terdengar kecewa.

Tengsin, Baekhyun garuk-garuk kepala berusaha gak ngeliat pandangan Nichan, Daeri, dan Ara yang terlihat gondok padanya. “Hehehe.. Kan kalau temen kita sendiri yang ngalamin seru, siapa tau bisa kita bantu..”

“Iya nih, kan kita bisa jadi mak comblang elu sama cewek yang lu taksir….kalau emang beneran ada sih! Hehe..” Chanyeol mengoreksi kalimatnya begitu inget bahwa yang D.O ucapkan hanyalah nyontek dari kalimat di buku. Seenggaknya, itulah yang ada di pikiran Chanyeol.

Di saat seperti itu, tiba-tiba suara langkah kaki menaiki tangga menuju tempat mereka sekarang terdengar agak samar. Lama kelamaan, suara itu semakin besar. Keenam tokoh utama kita langsung menoleh ke arah pintu masuk (dan sekaligus keluar), menunggu siapakah yang sedang menuju ke tempat mereka.

Sedetik kemudian, muncul sosok yang tadi pagi menyapa mereka di kelas. Tao.

“Oh..”

Keenam tokoh utama yang lagi ngejogrok di lantai dan seorang cowok bertindik yang baru aja dateng dengan serempak saling lihat-lihatan. Begitu melihat tiga cewek yang lagi gerogotin tulang sayap ayam, dua cowok biang rusuh yang lagi melahap makanan sampe mukanya terlihat abstrak, serta teman sebangku dan sekamarnya yang duduk dengan pose paling anggun diantara mereka semua, membuat Tao terkekeh.

“Oi, ngape lu ketawa?”

Berbeda dengan D.O yang pemalunya karena gak pernah punya temen, ditanya begitu sama Chanyeol dengan nada preman malah membuat Tao semakin cekikikan.

“Gak.. Ternyata kalian semua lagi ngumpul di sini. Pas banget aku lagi nyari kalian semua,”

Berpandang-pandangan dengan makanan di mulut masing-masing, akhirnya Baekhyun-lah yang merespon omongan Tao. “Nyari kita? Kenapa?”

“Eh, lu duduk dulu aja, ngapa.. Lu kan tinggi, kita ngeliatnya dongak begini ntar leher gua encok,” Chanyeol menepuk-nepuk lantai di sebelahnya, menggesturkan untuk Tao agar ia duduk di situ. Nichan yang lagi ngunyah chicken wing langsung keselek pengen ketawa dengernya karena bener juga apa kata Chanyeol. Udah tinggi, merekanya duduk, Tao malah berdiri. Gimana gak pegel nih leher?

Senyum sadis di mulut Tao (sebetulnya sih dia pengennya terlihat ramah, tapi malah keliatan ganas) mengembang. Ia langsung berjalan mendekat ke arah enam anak muda bertampang sekuriti hati helo kiti.

“Ehm.. Itu, aku cuma pengen bilang, makasih karena udah ditolongin..” ujar Tao setelah mendapat posisi duduk yang wuenak. Semua tokoh utama kita langsung tertegun begitu mendengarnya. Kecuali satu.

“Hah?” Nichan yang notabene otaknya paling lemot di antara mereka bingung. Daeri dan Ara yang langsung ngeh apa maksud dari Tao langsung menyikut pelan lengan Nichan dari dua arah.

“Itu lho, unni.. Yang kemarin,” jelas Daeri.

“He-euh.. Masa lupa?” Ara menambahkan.

“Oh? Eeh.. Hehehe.. Iya deng, inget kok.. Hehehe.. Ahaha..”

Putus asa dengan ke-odongan seorang Nichan, Baekhyun dan Chanyeol langsung menanggapi Tao. Mungkin anak itu harus dikekah ulang supaya gak terlalu lama proses loading di kepalanya?

“Kok lu tau sih? Emangnya lu liat kita?” tanya Chanyeol.

“E-eeuh.. Sebenernya,” Entah kenapa, tiba-tiba Tao terlihat grogi. Tetapi ia melanjutkan, “…kemarin sebelum aku kembali ke tempatku, aku mendengar suara-suara dan akhirnya aku ngeliat kalian..numbuhin pohon,”

“Oooh.. Jadi lu sempet ngeliat ya? Hebat kan?! Itu kerjaannya si D.O, lho…” Baekhyun menepuk pelan pundak D.O yang lagi cengengesan malu. Ia merasa bangga pada sang tuan muda. Ngapa jadi dia lagi yang bangga?

“Iya.. Itu yang nolongin kamu D.O doang sebenernya.. Kita cuma bikin ribut aja kemaren, hehehe.. Gak guna banget deh,” Ara cekikikan ketika inget kemaren betapa rusuhnya mereka semua, begitu juga dengan Nichan dan Daeri.

“Ehm.. Tapi, kamu kemaren gak balik ke kamar, kan? Dari hari sabtu malah kayaknya..” Tanpa diduga, si tuan muda jadi orang pertama yang bertanya dan bukan cuma sekedar ngerespon omongan orang. Tao pun mengangguk.

“Aku keasikan latihan wushu sampe ketiduran. Aku nemu tempat lain yang lebih bagus soalnya, bisa dilaluin lewat lapangan belakang sekolah.. Gak banyak orang, tempatnya luas, gak banyak pohon, udah gitu gak begitu jauh dari sini.” Terlihat mata Tao yang aslinya serem itu jadi berbinar-binar saat membicarakan tentang wushu. Rupanya ia benar-benar sangat menyukai bela diri yang satu itu. D.O hanya manggut-manggut dengan wajahnya yang polos.

“Udah gitu, setiap aku balik ke kamar untuk ambil baju dan bersih-bersih, kamu selalu lagi tidur atau enggak lagi gak di kamar.. Makanya kamu gak pernah liat aku,” Tao menjelaskan dengan sangat hati-hati, seolah tak ingin melukai lawan bicaranya.

“Iya.. Kamu jarang sekali ada di kamar..” respon D.O dengan nada yang lembut.

D.O menatap Tao. Begitu juga sebaliknya. Pandangan mereka menyiratkan banyak arti, tetapi mereka hanya terdiam dalam bisu yang menyakitkan. Apa yang telah kulakukan? Mungkin D.O merasa kesepian tanpa adanya teman sekamar untuk diajak ngobrol? Bodohnya aku hanya memikirkan wushu tanpa memikirkan perasaan orang lain yang kemungkinan membutuhkanku.. Batin Tao.

Apa aku terlalu ingin tau urusan orang lain? Tapi, aku memang penasaran kenapa dia hampir tidak pernah berada di kamar yang kita share bersama.. Apa aku egois karena begitu ingin mendapatkan teman di sini? Batin D.O, tanpa melepas tatapannya yang terkunci di kedua mata Tao.

Ada aura yang aneh di antara mereka berdua. Layaknya kemunculan Kris, deburan ombak membentur pantai menimbulkan keharmonisan alam yang hanya bisa terjadi di antara dua pencinta dan—

“HOOOIII D.O! TAO! JANGAN MAU DIJADIIN TOKOH BEGITUAN DONG!!”

“TAU! KITA INI NORMAL, JANGAN GAMPANG KEPENGARUH GITU! Nah, sekarang lanjut.. Jadi intinya lu latihan wushu terus tiap hari?”

Sial, ini semua karena ada Baekhyun dan Chanyeol yang susah sekali untuk dipengaruhi narasi author. Padahal Nichan-Daeri-Ara juga udah gak sabar melihat adegan romantis D.O dan Tao, tuh.. Lanjut deh.

Tao mengangguk setelah sadar kalau ia hampir dipasangin sama D.O. “Iya.. Soalnya aku benar-benar menyukai wushu..”

“Emangnya kamu udah berapa lama belajar wushu?” tanya Nichan dan Ara berbarengan. Mereka kecewa karena adegan syahdu barusan terhenti gegara dua makhluk semprul itu.

Mikir sebentar, Tao berusaha mengingat-ingat kapan pertama kali ia belajar wushu. “Ehm.. Sekitar umur….tujuh tahun?”

Luar biasa. Pantes aja dia keliatan udah kayak pesilat handal begitu kemaren. Kekaguman pun langsung tersirat dari wajah keenam tokoh utama kita. Mulut mereka yang bau naga (kecuali D.O, karena ia gosok gigi dengan odol herbal wangi Chamomile) pada menganga lebar.

“Pantesan……!” ujar Chanyeol, gak nyantai.

“Wah.. Aku baru tau,” D.O juga gak kalah takjub.

“Hebat banget!” Daeri yang awalnya takut sama Tao, kini malah terkagum-kagum.

Ara geleng-geleng kepala. Bukan karena lagi sakaw, tapi karena kaget. “Gile.. Kalau gitu sih gua jadi gak heran kemaren lu bisa nebangin pohon pake tongkat doang..”

“Udah berapa orang yang lu bunuh?” Pertanyaan tolol Baekhyun membuat ia mendapat tiga jitakan di kepala yang berasal dari Chanyeol, Daeri dan Ara. Sedangkan Tao terkekeh melihat tampang Bakehyun yang malah keliatan bahagia.

“Master-ku mengajarkan untuk menolong orang dengan wushu, bukan malah sebaliknya.. Ia juga bilang untuk membalas budi kebaikan seseorang untuk kita..” Ia menghentikan kalimatnya sebentar dan melanjutkan, “…karena itulah, aku ingin berbuat sesuatu untuk kalian.”

Mengambil kembali lauk mewah yang sempat dilupakan, Chanyeol mengibas-kibaskan ekor, salah, mengibas-kibaskan tangannya. “Gak, gak.. Apaan sih lu, dasar norak. Gak ada itu balas budi-balas budi..”

Nichan mengangguk-angguk setuju. “Tau.. Udahlah, sama kita sih santai aja,” katanya sambil masang tanda ceklis di dagu. Melihat temennya yang semakin error itu membuat Daeri dan Ara tertegun dengan keodongan seoang Nichan.

“Tapi—“

“Ah, udah lu makan aja nih.. Enak-enak deh.. Lu boleh kan makan daging? Nih, nih aaa~!” Sebelum Tao bisa ngomong lebih lanjut, Baekhyun udah nyodorin makanan satu sendok semen ke dalam mulut Tao yang cuma bisa menerimanya dengan pasrah. Tapi begitu ngerasain makanan enak di mulutnya yang gak pernah ia cicipin sebelumnya, ia pun dengan senang hati mengunyah. Nichan, Daeri, Ara, Baekhyun, Chanyeol, dan D.O langsung ngakak dengan jumawa (ya, termasuk D.O) begitu melihat muka Tao yang gak keruanan. Mata sembap yang udah dari sananya, kuping ditindik menimbulkan kesan seram sampe-sampe preman tanah abang juga kalah ganas, serta rambut hitam pendek yang berantakan, tapi pipinya terlihat gembung kayak bapao daging. Bahkan Baekhyun dan Chanyeol sampe gegulingan di lantai.

“Hahahahh!! A-aduh.. Maaf….maaf Tao, kebanyakan ya…?” Di sela-sela tawanya, Baekhyun masih sempet mengelap sisi mulut Tao yang belepotan gara-gara ulahnya. D.O pun membantu dengan sedikit-sedikit menepuk pundaknya dari belakang karena Tao sempet keselek.

“Hahahahah!! Ta-tao.. Itu muka lu, AHAHAHAH! Aduh, Bacon jahat banget lu! HAHAHAH!” kemudian Chanyeol kembali bergulingan gak jelas dan gak keren di lantai atap sekolah mereka. Sebenernya yang jahat siapa?

“Ya ampun! Dasar Bacon tolol! Lu kira-kira dong kalau masukin makanannya, dasar bego!!” Sungguh sangat kejam. Dibarengi dengan mencaci-maki Baekhyun, tak lupa Daeri menggebuk-gebuk bocah malang yang lagi dengan setia memeluk Tao untuk minta maaf.

“Aduh! Aduh! Ampun, Daeri!! Iya ini gua udah minta maaf! Maafin gua, Tao.. Gua kagak sengaja suwer~!” ujarnya. Tangan Baekhyun membentuk tanda ‘peace’. Sementara Nichan dan Ara, sambilan tetep ketawa, menawarkan beberapa tisu untuk Tao, yang kemudian disambut oleh korban pelecehan Baekhyun tersebut sambil cengengesan.

Di sisi lain, Tao merasa lebih dari bahagia. Akhirnya ia mendapat pengganti teman-teman yang berada di perguruan silat nun jauh di Negara asalnya. Meskipun sifat mereka dengan temannya yang dulu sangatlah bertolak belakang, tapi Tao merasa mereka bisa membuatnya merasa nyaman di sekolahnya yang baru ini.

Setelah kekacauan itu selesai, mereka kembali ngobrol-ngobrol banyak. Memperkenalkan diri masing-masing, setelah itu cerita-cerita. Kebanyakan sih keenam tokoh utama kita menanyakan berbagai hal mengenai asal-usul Tao. Ia pun bercerita mengenai orang tuanya yang melihara banyak panda di halaman rumah. Tentang masternya yang berkepala botak dan selalu serius, tapi sangat menyukai drama korea; masternya sering diem-diem nonton sampe nangis kejer di ruang tv bersama. Tentu saja hal itu membuat semuanya kembali ngakak di lantai. Tapi Tao pun mengakui kalau hal itu emang menggelikan dan sempet jadi bahan cengan yang amat populer di perguruan silat Wo Ai Ni selama dua bulan.

Tentang juru masak di perguruannya yang kalah jauh dengan kualitas koki D.O. Ya iyalah. Koki D.O kan diambil dari universitas ternama di Prancis yang emang udah berniat untuk mengabdikan diri jadi koki tuan muda tersebut. Begitu ia lulus s3, ia langsung jadi koki probadi D.O. Buseh. Niat amat?

Satu cerita paling menarik, membuat para tokoh utama kita sangat antusias mendengarnya, yaitu kisah cinta Tao dengan seorang gadis di perguruan yang sama dengannya — bernama Ling Si Yang. Atau yang ia panggil dengan sebutan Ling-Ling.

“Jadi…lu sama dia pacaran??” Baekhyun dan Chanyeol, dua makhluk kacrut yang sebelumnya ngaku paling males soal pacar-pacaran, malah jadi pendengar yang paling bernapsu. Sontak Nichan, Daeri, dan Ara jadi semakin menghakimi kedua cowok gak beres itu.

“Ih.. Bener-bener yah nih dua anak kenapa jadi paling semangat gini sih ngedengerinnya?” gumam Ara, setengah sewot.

“Ck! Padahal tadi mereka yang ngatain kita ngomongin soal beginian, sekarang mereka ngebet.” Ujar Daeri. Kalau dia sih, sewotnya akut.

Cengengesan, Baekhyun langsung masang pose sok keren. “E-ehm.. Apa sih? Namanya juga Tao lagi nyeritain pengalamannya. Udah pasti kan gua merasa tertarik? Lagian, gua bukan sepenuhnya gak setuju kok,”

Chanyeol yang juga salting merasa semakin grogi karena pada akhirnya ketauan lah kalau mereka sebetulnya pengen juga disukain banyak cewek. Lagipula, sejak awal itulah tujuan mereka berdua masuk sekolah Strodes. “Iya.. Udah lu lanjut aja, Tao. Gak usah peduliin mereka. Hehe..” Maka semakin asem-lah muka Nichan, Daeri dan Ara.

“Gak pacaran juga, sih.. Cuma ya gitu, dia bikinin aku bekal makan siang setiap hari. Dia juga yang merawatku kalau aku luka pas ada pertandingan.. Dia…yang menyemangatiku saat aku merasa sedih. Dia selalu memperhatikanku,” Nichan dan Ara langsung merasa seperti fangirl yang pengen ngejerit histeris tapi gak bisa berhubung orangnya pas di depan mereka. Kenapa mereka merasa seperti itu? Soalnya wajah Tao yang memerah ketika membicarakan Ling Ling sangatlah unyu. Menunjukkan sekali bahwa Tao benar-benar menyukai gadis yang ia bicarakan.

D.O, yang duduk di sebelah Chanyeol menenggak ludah. Ternyata Tao pernah mengalami kisah cinta seperti itu! Berbeda sekali dengan dirinya yang baru mengalami naksir cewek di umur segini.

“Widih.. Dia anaknya keibuan banget gitu, ya?” kata Chanyeol, yang dibalas dengan anggukan Tao.

“Iya. Dia dua tahun lebih tua dariku. Awalnya aku pikir dia menganggapku hanya sebagai adik laki-lakinya, tapi…”

Omongan Tao yang terhenti membuat para tokoh utama rempong kita ini semakin merasa penasaran. Keenamnya (ya, lagi-lagi D.O termasuk) mendekatkan kepala masing-masing ke Tao. “TAPI KENAPA?” kata Nichan, Daeri, Ara dan BaekYeol berbarengan.

Gugup, Tao berusaha untuk menenangkan jantungnya dan kembali bercerita. “…e-eeuuhh.. Pada suatu hari, dia bilang ke aku kalau…euh, dia gak nganggep aku sebagai adik,”

“OOOOHHHHH!!” Dengan sangat fals dan gak kerennya, mereka semua langsung heboh sambil pasang muka terjijay abad ini.

“Berarti dia juga suka??!!” Entah kenapa, Nichan tepuk tangan dengan sangat antusias.

“ADUH, KENAPA GAK PACARAN AJA SIH?? SAMA-SAMA SUKA, KAN??” Lho. Daeri ternyata juga merasa tertarik dengan kisah cinta seperti ini. Padahal biasanya dia paling merasa salting soal beginian.

“Terus, terus??” Baekhyun dan Chanyeol — pada akhirnya mereka lah yang paling bersemangat — merasa bahwa cerita ini belum berakhir. Karena itu mereka gak sabar menanti kelanjutannya. Tao jadi mikir, apa bener mereka berdua orang yang minggu lalu ngerusuh di ruang siaran? Apa bener mereka orang yang sama dengan penyerang futsal kamis lalu? Ia tersenyum simpul sebelum melanjutkan,

“…soalnya, ada peraturan di perguruan kita, ehm.. Kalau ada yang ketauan pacaran, dua-duanya bisa dikeluarin dari situ,”

“YAAAHHH….” Wajah semua tokoh utama kita langsung jadi kecewa.

“Sayang banget, ya..” kata Ara yang udah kembali ke posisi sebelumnya.

“Iya.. Tapi jahat amat sih sampe ada peraturan kayak gitu? Kan kasian murid-muridnya,”

Chanyeol mengangguk-ngangguk mendengar Nichan. “Masih kaku aja sih, padahal kan jaman sekarang kayak gitu harusnya udah biasa?”

Mendadak Baekhyun punya pemikiran, “Eh? Kalau gitu dia sedih banget dong pas lu dipindahin ke sini??”

Oh. Bener juga kata Baekhyun. Nichan, Daeri dan Ara pun jadi kepikiran juga dan langsung menoleh ke arah Tao untuk menunggu jawabannya.

“Wah! Iya! Kasian banget dia, pasti di antara temen-temen lu yang lu tinggal, dia paling sedih deh..” timpal Chanyeol.

“Yah.. Begitulah,” jawaban Tao membuat semua makhluk blekok ini gak puas.

“Tapi, menurutku sih yang paling sedih itu Tao.. Soalnya, udah ninggalin si Ling Ling yang dicintai, dia juga harus ninggalin temen-temennya yang lain dan juga tempat tinggalnya..” Lagi-lagi Nichan-lah yang melontarkan kalimat paling bisa dimasuk akal sehat.

“Bener juga, unni..” gumam Daeri.

Menepuk pundak Tao dan merasa sedikit kasihan pada pe-wushu tersebut, Chanyeol langsung menunjukkan keprihatinannya. “Lu kesepian gak sih, ngalamin kayak gini?”

Kesepian? Sebetulnya, sejak dulu Tao emang anak yang pemalu dan dimanja oleh orang yang lebih tua darinya di perguruan. Berpisah dengan mereka memang sedikit membuatnya merasa sendiri. Tapi dengan adanya tugas berat ‘membawa nama wushu sampai ke luar negeri’ membuatnya lupa akan rasa sepi.

Ia menghela napas, tapi dengan mantap menggeleng kepala. “Biasa aja.. Lagipula, meskipun gak punya hp, aku kan bisa mengirim surat dari sini. Jadi masih bisa tau kabar mereka atau apa yang baru di perguruan.. Sebelum pergi, mereka ngumpulin beberapa kertas yang isinya untuk nyemangatin aku di sini. Ada juga yang ngasih aku beberapa boneka panda karena katanya aku mirip panda…” (Nichan bergumam ‘aku juga suka panda!’ Tapi yang denger cuma Daeri dan Ara yang nanggepin dia dengan ‘oh ya?’ dan ‘Nichan-unni kan punya banyak koleksi panda’)

“Wih. Untung deh pada baik sama elu, ya. Bilangin ke mereka; tenang aja, ada gua sama Baekhyun yang bakalan ngejagain elu di sini.. Gua jamin kalau udah berurusan sama kita berdua yakuza juga ogah!” Iya, ogah ngadepin lu berdua karena mikir ini dua alien dari planet mana?

“Kalaupun lu udah jago wushu, kan siapa tau gitu lu butuh bantuan dari anak sini.. Ye gak?”

Meskipun Baekhyun dan Chanyeol tukang bikin ribut, tetapi ternyata hati mereka masihlah hati manusia. Ajaib. Nichan, Daeri, Ara, dan D.O pun tertegun dibuatnya. Gak nyangka bocah berotak somplak seperti mereka bisa berpikir seperti itu.

“Iya.. Makasih,” hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Tao. Ia merasa terharu dan ingin menangis, tapi amat sangat gak lucu kan kalau dia nangis sekarang di hadapan teman-teman baru? Di saat mereka baru pertama kali ngobrol panjang lebar pula.. No way! Malu sama tindikan di kuping gue ini dong, bro.

Ara melirik ke jamnya. Udah hampir dua jam mereka berada di atap sekolah. “Eh, beres-beres sekarang yuk.. Bentar lagi kelas kedua mulai,” Ajakan Ara membuat para tokoh utama kita langsung nyadar kalau sekolah mereka belom kelar. Dengan segera mereka bersiap-siap pergi, diiringi dengan segala ‘ayo, ayo’ dan mereka bangkit dari posisi duduk masing-masing.

“Tapi kamu harus ngirim dua surat, dong? Satu buat semua temenmu, satu buat Ling Ling..” Nichan kembali pada topik gadis yang Tao cintai itu. Sayangnya, reaksi Tao tidak terlihat bagus. Ia terlihat seperti anak yang salting dan merasa bersalah. Ada apa?

“Ehm.. Soal itu,”

Oh. Nada Tao kedengeran seperti ia bakal cerita sesuatu yang seru dan gak boleh dilewatkan. Nichan, Daeri, Ara dan D.O yang baru aja bergerak buat numpuk semua piring (mewah nan berkelas) D.O di atas tiker langsung berenti dan mendengar dengan seksama. Begitu juga dengan Baekhyun dan Chanyeol yang masih nuntasin sisa-sisa makanan yang berceceran. Dasar jorok.

“Kenapa, kenapa?”

“Kenapa soal Ling Ling?” tanya Nichan, Daeri, Ara dan BaekYeol dengan tingkat kekepoan yang sama.

Dasar bodoh! Ngapain juga sih gua pake ngomong gitu! Tapi….toh daritadi aku udah cerita banyak ke mereka. Tapi…apa yang ini juga harus diceritain? Tapi.. Tapi.. Segala tapi-tapian di batin Tao terus menggema. Ia sedang berperang dengan dirinya sendiri; antara hati dan pikirannya. Satu pertanyaan terbesar yang terus ia tanyakan. ‘Haruskah aku cerita…?’

Tao menghela napas. Ia udah terlanjur bikin mereka penasaran dan ia gak mau mengecewakan enam teman barunya ini. “Aku, menemukan orang yang mirip dengan Ling Ling,” Suasana hening, sampai ia melanjutkan kalimatnya, “…di sekolah ini.” Diam. Lima detik terasa begitu lama oleh Tao yang menunggu reaksi enam bocah kepret di depannya. Sampai kemudian..

“SI-A-PAAAAA?” Tiga yeoja yang patut dipertanyakan kelaminnya bertanya dengan geragas. Kenapa mereka jadi pada demen ngepoin orang begini ya? Bahkan orang yang baru aja ngobrol dengan mereka aja udah ditanya-tanya mulu. Ckckck.

“Seriusan lu ada yang mirip sama cewek yang lu taksir?” tanya Chanyeol yang kaget setengah idup. Sahabatnya pun gak kalah hebring.

“Kita kenal orangnya gak?!”

Senyuman misterius Tao bikin enam bocah udik kita empet, tapi berhubung mereka udah harus balik ke kelas karena sebentar lagi pelajaran kedua mulai, mau gak mau mereka harus buru-buru. Bawa-bawa tiker serta piring-piring mahal yang dijepit di ketek, ketujuh (sekarang tujuh lho!) tokoh utama kita berlari turun tangga dan melewati koridor dengan bunyi ‘klontang-klontang’ sampe diliatin anak kelas lain yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

 

* * *

 

“…if you want to say these kind of sentences, you have to follow the rules. That is called Past Perfect Tense.”

Nguap. Nidurin kepala di atas meja. Mainin hp diem-diem. Ngobrol.  Ngemil. Makan permen. Muter-muterin bolpen. Itulah yang dilakukan oleh seluruh siswa cewek 1-D. Lho. Yang cowok gak ikutan kayak gitu? Jawabannya: tidak.

Apa yang membuat mereka malah ngedengerin guru ngejelasin pelajaran bahasa inggris dengan khusyuk, sedangkan murid ceweknya malah males-malesan? Ternyata jawabannya terletak pada guru bahasa inggris mereka. Jungah.

“Cantik banget, ya..”

“Iya.. Anggun kayak bidadari,”

“Padahal cuma ngomong doang, tapi suaranya merdu banget seolah-olah dia lagi nyanyiin lagu buat gua.” Yee, itu sih elu aja yang ngarep.

“Badannya bagus kayak model ya,”

“Gile bener.. Akhirnya gua menemukan cinta sejati gua,”

“Kira-kira Jungah-seonsaengnim udah nikah belum, ya?”

“Rasanya gua pengen dicubit dengan jari-jari rampingnya yang mulus itu,” Sangat menggelikan. Mungkin Jungah juga ogah untuk melakukannya?

“Rambutnya alus banget,”

“Bulu matanya menusuk hati gua nih,”

“Suaranya yang sejuk meredamkan hati gua yang terbakar api asmara.”

“Mungkin mawar emang indah dilihat. Begitu juga dengan bintang di langit malam hari. Matahari tenggelam di pantai juga gak kalah cantik. Tapi buat gua, semua itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikan Jungah-seonsaengnim.”

Gumaman-gumaman para murid cowok 1-D  yang sedang dimabuc cinta terdengar sampai ke telinga Baekhyun dan Chanyeol yang kembali pada posisi wuenak masing-masing; Chanyeol dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala, Baekhyun dengan badannya yang merosot di kursi.

“Gua heran, anak sekelas kalau udah komentar ada aja ye yang diomongin,” kata Chanyeol, seolah-olah ia adalah anak yang jarang berkomentar.

“Mana aneh-aneh, lagi.. Emang sih, guru kita cakep banget.. Tapi yaudah cakep aja gitu, gak sampe ngegombal atau malah bikin puisi segala..” Baekhyun harus berbisik-bisik supaya gak kedengeran sama yang lain.

Chanyeol menyikut pelan Baekhyun. “Ssst. Yang barusan bikin puisi kan si Yongguk,”

Refleks, Baekhyun langsung menutup mulutnya dengan panik. Bersyukurlah ia bahwa Yongguk tidak mendengar apa yang ia katakan. Kalau enggak, dia bisa abis dilumat sama manusia otot itu. Hii..

Sementara dua bocah di depan mereka pun juga membicarakan kecantikan dari guru bahasa inggris mereka itu.

“Cantik abis nih guru..”

“Menurut unni, kira-kira dia umurnya berapa?”

Nichan mikir. Kalau soal nebak umur, jangan ngandelin bocah bernama Park Nichan deh mendingan. Bisa jauh dari aslinya. Kalau gak jauh lebih muda, ya jauh lebih tua dari tebakannya.

“…21?”

Tuh kan. Namun, betapa polosnya Daeri yang langsung mempercayai sobat odongnya itu. “21, ya.. Bisa juga sih.. Paling banter 24 lah, ya?”

Manggut-manggut, Nichan tetap meneliti Jungah dari ujung rambut sampe ujung sepatu. “Udah gitu badannya langsing dan tinggi, cantik lagi! Kenapa gak jadi model aja, ya?”

Daeri ikutan melihat Jungah dengan teliti. “Iya.. Pasti dia pantes-pantes aja deh kalau jadi model..”

Ide iseng pun muncul di otak Nichan yang emang udah jail dari sononya. Ia menoleh ke arah D.O dan Tao yang berada di meja sebelah. “Eh, Tao,” Anaknya nengok ke Nichan. D.O yang gak dipanggil juga ikutan nengok.

“Jangan-jangan yang mirip sama Ling Ling itu Jungah-seonsaengnim, yaa?” goda Nichan. Sejak kapan ia jadi gadis penggoda begini? Biarlah. Toh godainnya bukan yang jelek-jelek.

Tersipu malu, Tao geleng-geleng kepala. “Bukan, kok.. Beda banget, malah..” Sayang sekali, tebakan Nichan salah. Daeri dan D.O yang menyaksikan kejadian barusan cengengesan. Tapi tunggu. Ternyata bukan cuma mereka berdua yang melihatnya.

“Lu masih penasaran sama Ling Ling yang ada di Strodes ya?”

Ya, benar. Itu Baekhyun.

“Iya nih, kan gua pengen tau siapa yang disukain sama Tao..” Nichan memiringkan badannya agar bisa melihat muka lawan bicaranya tersebut.

“A-aku gak suka! Cuma….karena mirip doang jadinya yaaah..” Tao menimpali omongan Nichan dari bangkunya dengan segera. Ia langsung tengsin karena Daeri dan Nichan langsung memandangnya dengan pandangan najong sambil bilang “Ah, yang beneer~?”

Masih dalam posisi wuenak, Chanyeol bertanya, “Tapi emangnya beneran mirip ya? Siapa sih?! Eh, atau enggak kasih liat aja foto si Ling Ling!”

“Iya! Bener! Kamu ada gak foto dia?” kata Nichan sambil menyodorkan tangannya, berharap dikasih uang sama D.O. Salah, berharap mendapat foto sang pujaan hati Tao yang berada di negeri seberang sana. Tapi harapannya sirna ketika Tao lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

“Aku gak ada fotonya.. Kalaupun ada, itu foto satu perguruan dan ada di kamarku,”

Cukup lah untuk sekedar ngasih gambaran muka Ling Ling kayak gimana. Batin Nichan dan Daeri. Kenapa mereka bersemangat sekali?

“Asik.. Besok bawa ya—“ Chanyeol yang baru berkata seperti itu tiba-tiba mendengar suara ricuh yang berasal dari bawah. Ia pun mengintip ke arah lapangan. Baekhyun pun bersyukur ketika ketek Chanyeol tidak lagi terekspos ke arahnya. Ternyata oh ternyata, lagi ada kelas yang olahraga di lapangan utama. Dan mereka adalah kelas 2-D. Kelas mentor mereka!

“WAH! Mentor-mentor kita, tuh!”

Gak sadar, Chanyeol (yang akhirnya menemukan Kyuri-Suho lagi ngobrol sama orang yang dihukum lari bareng sang dua mentor kemaren serta satu orang yang belum ia kenal) langsung berteriak. Apakah Jungah mendengarnya? Tentu saja. Teriaknya kayak hansip lagi ngejar maling gitu.

“Park Chanyeol? What’s wrong?” tanya Jungah. Karena ini adalah pelajaran bahasa inggris, sebisa mungkin Jungah menggunakan bahasa asing itu sesering mungkin.

Jantung Chanyeol langsung deg-degan hebat. Bukan apa-apa, dia itu paling lemah kalau urusan ngomong bahasa lain selain bahasa dia sendiri. Ia bingung dan terlihat salting, gak tau mau jawab apaan.

“Eh? Hee.. Hehehee. No, no. Mister, eh, mis. I’m Chanyeol. Yes. Meybi.” jawabnya dengan cengiran derp terpasang di wajah. Baekhyun setengah mati nahan ketawa, begitu juga dengan Nichan, Daeri, D.O, Tao, dan Ara — yang lagi keselek permen nun dekat di depan sana.

Jungah tidak marah. Ia malah menatap Chanyeol dengan sangat keibuan dan sebelum kembali mengajar, ia berkata, “Well, if there’s nothing wrong, can I start the lessons I’ve just stalled now?”

Weleh. Mau sampe kapan nih guru make bahasa alien yang gua kagak ngarti ini? “E-eeuh.. Yes, yes. Syur.” Dan dengan itu, Jungah kembali mengajar.

Daeri, yang duduk paling dekat dengan jendela langsung ngintip ke arah lapangan dan mencari sosok mentor mereka. “Wah, iya tuh kelasnya Kyuri-unni!”

Nichan melihat keadaan dulu. Aman. Jungah lagi mendekat ke satu meja yang lagi nanyain apaan tuh gak tau. Ia setengah berdiri dari tempat duduknya dan melongo ke luar. D.O dan Tao malah berdiri sepenuhnya untuk ikut ngeliat ke lapangan, bikin Zelo yang duduk di belakang D.O dan Tao mesem-mesem sendiri karena posisinya terlihat konyol.

“Mereka olahraganya senin, yah.. Enak juga,” kata Nichan, masih dalam posisinya. Melihat teman-temannya yang lagi ngintip, Baekhyun gak  mau kalah. Dengan gak tau diri ia bersandar pada Chanyeol untuk melihat ke lapangan.

“Berat, bego,” Gak perlu banyak kata, Chanyeol hanya mengatakan dua itu.

Cuek bebek, Baekhyun lanjut mencari dua mentornya. “Eh, itu yang waktu itu ikutan dihukum kan? Yang lagi ngobrol sama Kyuri-noona itu lho..”

“Iya, tapi ampe sekarang gua gak tau namanya siapa?” jawab Chanyeol sambil tetep celingukan ngeliat tampang-tampang senior mereka.

“Si Kyuri-unni kenapa jatoh, coba..” ujar Daeri dengan nada tenang-nya yang khas. Sementara Nichan udah geter-geter nahan ketawa di samping Daeri.

“Lah, iya tuh! Hahahahah! Dasar bego,” Chanyeol dan Baekhyun pun ikutan geli begitu ngeliat Kyuri yang udah bangun langsung (pura-pura) nendang Lay sambil sedikit ngomel. D.O juga kembali ke tempat duduk dengan cengiran lebar di wajah. Tapi tidak dengan Tao.

“Emang koplak tuh mentor satu— Lho, Tao??”

Baekhyun menghentikan hinaannya kepada Kyuri dan kini terheran-heran melihat Tao yang buru-buru pergi ke depan kelas menghampiri Jungah. Chanyeol, Nichan, Daeri, dan D.O juga cengo. Apa yang mau dilakukan oleh kesatria wushu itu?!

“Seonsaengnim, aku harus segera pergi!!” Tao terlihat panik. Jungah yang terperangah pun bingung kenapa tiba-tiba anak ini meminta ijin untuk pergi? Apa sedarurat itu urusannya?

“Pergi..? Memangnya kamu mau kemana, Huang Zitao?” Wajah Jungah jelas menunjukkan keheranan.

“Aku harus menolong Kyuri-noona! Tadi dia baru saja terjatuh!!”

Maka semakin bingunglah muka cantik sang guru yang masih menjelaskan beberapa kalimat kepada dua anak 1-D yang tadi bertanya. “Tapi.. Itu hanya hal kecil, Zitao.. Kamu tidak perlu melakukannya.”

“Gimana kalau lukanya semakin besar dan infeksi?? Butuh waktu lama untuk memulihkannya!”

“E-ehm.. Tapi aku yakin ia bisa menjaga dirinya sendiri.. Dia bukan anak cengeng, kok. Kamu kembali saja ke tempat dudukmu, lagipula blablablabla..”

Menggertakkan giginya, Tao merasa sangat geram. Susah sekali untuk meminta ijin dari guru ini. Kenapa ia tidak boleh menolong mentornya yang terjatuh? Apa guru ini tidak punya seseorang yang berharga sampai rasanya ingin terus melindungi orang itu? Mungkin guru ini tidak mengerti. Atau tidak ingin mengerti? Yang manapun, Tao tidak peduli. Keinginannya untuk menolong Kyuri sudah bulat dan kalau ia sudah memiliki satu keinginan, ia akan terus memperjuangkannya.

Tao tidak mendengarkan baik-baik apa yang setelah itu Jungah katakan karena merasa cemas. Akhirnya, tidak ada jalan lain.

Aku harus melakukan itu!

Tao memandang Jungah dengan tatapan tajam. Ketika Jungah langsung berhenti bicara, ia mengepalkan tangan dan menempelkannya di bawah pipi dan kemudian menggerakkannya sambil mengatakan,

“Bbuing-bbuing,”

Seluruh murid cewek 1-D yang menyaksikan kejadian itu langsung berteriak histeris. Tentu saja, mereka tidak pernah menyangka bahwa orang yang memecahkan kaca kelas mereka di hari pertama MOS akan melakukan hal seperti itu. Bagaikan diterpa angin surga di wajah, hati Jungah langsung tersentuh dan berdetak lebih kencang dari biasanya. Bunga-bunga bermekaran di sekeliling Jungah. Ia juga merasa banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Pikirannya terus mengulang adegan terindah barusan dan wajahnya langsung memerah. “I-iya! Silakan pergi, nak!! Betapa mulia tujuanmu itu, menolong sesama, oh.. Benar, iya, aduh, aku bicara apa sih.. Iya kamu boleh pergi!”

Tersenyum puas, Tao mengucapkan “Terima kasih,” sebelum akhirnya ngibrit keluar kelas. Jungah, beserta beberapa gadis lainnya masih larut dalam pesona aegyo seorang pendekar wushu. Murid-murid cowok pun langsung tidak percaya, kaget, dan terpesona. Lho.

Sementara para tokoh utama kita, otak mereka bukan mengarah pada aegyo barusan, melainkan lebih kepada; ngapain tuh bocah nolongin Kyuri yang cuma jatoh secuprit?

Mungkin kalau Kyuri jatohnya dari lantai empat belas sih emang pantes buat ngerasa panik kayak tadi. Lah ini cuma kesandung doang.. Apalagi setelah itu dia pake nendang-nendang ke senior yang namanya masih belum mereka ketahui itu.

Gak ada satu pun dari Nichan, Daeri, Baekhyun, Chanyeol, dan D.O yang berkomentar. Mereka hanya saling pandang dengan mulut menganga lebar dan menanti kemunculan Tao di lapangan.

Dan benar saja.

Sosok Tao langsung terlihat menuju ke lapangan, lebih tepatnya, ke Kyuri.

Terengah-engah, Tao langsung memeriksa ‘luka’ sang mentor idiot yang ternyata cuma segede bayi kutu kelindes truk semen. “Noo-noona! Tidak apa-apa, kan?”

Baik Kyuri, Suho, Lay, dan juga teman sebangku Lay yang bernama Jongdae — atau lebih dikenal dengan istilah ‘Chen’, memasang muka bego dan cengo ngeliat Tao yang panik.

“Ya? Eh? Emang gua kenapa?”

Bingung? Jelas aja bingung. Alasan Kyuri jatoh adalah karena Lay ngeboongin Kyuri, bilangnya ‘itu ada Kris-hyung lagi ganti baju’ ketika Kyuri sedang asik-asiknya joget dangdut dan terpaksa harus muter badan 180 derajat sampe ia kesandung sendiri. Emang dasar kacrut.

Kembali ke dalam kelas 1-D. Tepatnya di pojokan kelas yang menghadap ke arah lapangan. Tepatnya lagi, enam orang (salah satunya duduk di depan kelas lagi ngemilin permen ke-tujuh hari itu) yang sedang berpikir keras untuk mengingat-ingat percakapan mereka yang terjadi pagi ini. Tepatnya lagi, enam orang yang kini saling berpandangan dan akhirnya mengambil kesimpulan yang sama dan meneriakkan dalam pikiran masing-masing…

Yang ditaksir sama Tao, yang mirip dengan Ling Ling misterius itu…..KYURI?!

 

 

_____________________________________

 

Bonus: Apa yang terjadi setelah itu?

 

Ketujuh tokoh utama berkumpul di kamar D.O-Tao dengan Chanyeol sebagai pelopor utama ‘meeting’ darurat ini.  Mereka membentuk lingkaran dan saling berhadapan. Berbagai cemilan yahud bin maknyos bangsa Fish’n’Chips, Frankfurt Sausages, Fried Wonton, dan juga berbagai macam permen terpampang dengan indah di tengah-tengah mereka. Tentu saja itu semua berasal dari D.O. Kalau permennya sih udah pasti dari Ara. Siapa lagi emangnya yang bisa munculin permen yang tiba-tiba banyak?

Tujuan mereka berkumpul di kamar tersebut sudah jelas karena satu alasan. Dan dimulailah perbincangan mereka yang dibarengi dengan segala nyam-nyam-hap-hap-kraus-kraus heboh ketika mereka ngemil.

“Jadi.. Intinya,” Chanyeol memulai, yang kemudian diteruskan Baekhyun.

“…Tao suka Kyuri-noona?”

Tao mengangguk.

“..gak bisa dipercaya.”

“Emang kenapa, Ra?” tanya Nichan.

“Yah.. Gak kebayang aja Kyuri-unni yang sifatnya begitu bisa disukain,”

Nichan, Daeri, Baekhyun, Chanyeol, dan bahkan D.O mengangguk setuju dengan muka serius. Sejurus kemudian, D.O mengingat hal terpenting.

“Hm.. Tapi, bukannya Tao suka cuma karena mirip sama Ling Ling?”

Itu dia yang membuat Tao lagi-lagi hanya mengangguk.

“Tapi.. Serius cuma karena mereka mirip aja?” tanya Chanyeol.

Sebagai wanita, tentu Nichan, Daeri, dan Ara (iya, mereka emang cewek tulen kok) merasa prihatin dengan kebetulan yang tragis ini. “Apa kamu gak kasian sama Ling Ling-nya?”

“Masa kamu jadi berpaling cuma karena ada cewek yang mirip sama dia?” Ara menambahkan.

“Cih. Tapi bisa dimengerti sih. Soalnya mereka kepisahnya lumayan jauh,”

“Iya.. Masa Ling Ling yang sangat keibuan dan perhatian gitu disamain sama Kyuri-noona yang blekedet?”

“Bener kata Chanyeol, biarpun mukanya sama tapi kalau sifatnya beda jauh— eh? Oh iya! Liat dong fotonya si Ling Ling!”

Nichan juga jadi keinget bahwa Tao menyimpan foto sang pujaan hati di kamar miliknya; yang notabene lagi dijadiin tempat rapat paling bego sepanjang sejarah Strodes. “Iya iya! Biar kita bisa ngebandingin mereka berdua!”

“Wah, untung juga kita milihnya di sini..” bisik Ara ke Daeri. Anaknya pun cuma ngangguk-ngangguk.

“Yaudah, bentar ya..”

Sambilan Tao mengobrak-abrik koper dan lemarinya, Nichan bergumam, “Semirip apa sih..”

“Iya yak, sampe si Tao jadi gak peduli dengan semua sifat Kyuri-unni,” ujar Ara.

“Cinta itu buta..” Omongan Daeri sangat gak pas dengan tampangnya yang datar.

“Cinta itu gak buta. Ia bisa melihat, tapi gak perduli dengan apa yang dia lihat.” Nichan nahan ketawa sekaligus nahan kentut denger apa yang dibilang oleh Baekhyun barusan.

“Oh.. Orang yang cuma pengen main-main di kelas satu dan dua bisa juga bilang begitu?” sindir Ara.

“Iya, Con. Gua gak tau kalau lu bisa seromantis tadi,” Chanyeol menepuk pundak Baekhyun.

“Itu sih kalimat yang gua apalin karena muncul di komik favorit gua. Hehe,”

Berdecak kesal, Chanyeol langsung pasang muka males. “Yeeh, pantes aja.”

“Ketemu!”

Pandangan semua peserta ‘rapat’ langsung kembali ke arah Tao yang kini meletakkan fotonya di antara cemilan. Tujuannya sih supaya semuanya bisa ikut ngeliat, cuma jatohnya jadi pada dempet-dempetan kepala lagi.

“Mana, mana??” Ara gak sabar bertanya sambil nyari-nyari yang kemungkinan adalah si Ling Ling.

“YANG MANA ORANGNYA??” Daeri gak nyantai sekali sepertinya.

“Da-daeri.. Kamu menginjak tanganku..”

“E-eeh. Maaf, D.O. Hehe peace,” Dalem hati D.O, untung dia temennya si Ara. Kalau enggak dia udah abis dilempar sama bodyguardku..

“Ini yah, ini?” Baekhyun nunjuk ke salah satu orang yang berada dalam foto.

“Itu sih masterku..”

“Ini kali??” tanya Chanyeol.

“Itu sih kodok peliharaan kami semua..”

“Yang ini—?”

Tebakan Nichan langsung terhenti ketika jari Tao menunjuk ke arah satu cewek dengan rambut dicepol ke atas. Ia memakai baju silat dengan warna yang sama dengan baju silat Tao ketika ia pertama kali muncul di kelas 1-D, cuma beda di model aja. Meskipun diikat, tetapi terlihat jelas rambutnya berwarna cokelat tua, persis seperti Kyuri.

Alisnya rapih, persis seperti Kyuri. Kedua matanya terlihat ramah, beda sama Kyuri yang agak mesum tapi kalau diliat-liat emang persis seperti dirinya. Hidungnya mungil, persis seperti Kyuri. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman hangat, beda sama Kyuri yang keliatan najis tapi kalau ngebayangin Kyuri senyumnya sok di-manisin ya emang keliatan persis seperti dirinya. Ia berdiri di antara Tao dan juga seorang cowok yang kemungkinan salah satu teman seperguruan mereka. Tangan Tao melingkar di pundak sang Ling Ling dengan sangat protektif, seperti tidak mau melepaskan gadis yang berada di sebelahnya itu.

“…Kyuri-unni abis.” Nichan berkomentar.

“Wah.. Mirip banget,” D.O pun gak sanggup untuk cuma diem doang.

“Pantesan lu naksir tuh mentor seblek, kayak kakak adek gini mereka!” Chanyeol masih meneliti kemiripan luar biasa antara Kyuri dan Ling Ling.

“Tapi mereka gak kembar, kan..??” tanya Baekhyun.

“Enggak kok, katanya Kyuri-unni anak tunggal.” Jawaban Nichan tidak membuat Baekhyun puas.

“Siapa tau…..mereka putri yang tertukar!”

Daeri melirik sinis. “…..itu sih filmnya si nikita wili. Kebanyakan nonton sinetron sih lu,” Baekhyun pun cuma cengar-cengir dan garuk-garuk kepala sambil ber-‘haha-hehe’ ria.

“Kok bisa ada orang yang mirip banget gini, ya?” Nichan masih terheran-heran.

“Katanya, kita punya tujuh orang yang mukanya sama sama kita di seluruh dunia ini, lho..” jawaban Ara bikin semuanya jadi kaget.

“Emangnya iya??”

Ara mengangguk ke arah Nichan.

“Baru tau gua.. Ah, tapi gak sudi wajah ganteng ini punya tujuh kembaran!”

“Iya, Yeol. Masa kita yang ketampanannya langka ini ada tujuh muka lain yang nyamain?”

“Yo’i.. Gak banget gitu,”

“Eh, sebelum kita ditampol sama mereka semua, kita udahan aja ngomongin topik soal ‘ganteng’ ini,”

“Iya.. Bener apa kata lu,”

“Ehem, jadi, Tao, kamu beneran mau suka sama Kyuri-unni?”

Tao melihat Nichan dengan tatapan yang menunjukkan kalau dia lagi mikir. “A-aku..”

“Siapa tau kamu cuma suka sama Kyuri-unni sementara aja? Cuma karena dia mirip sama Ling Ling. Ya kan?”

Ara merasa kasihan ketika Tao menanggapi omongannya dengan nganggukkin kepala tanpa berkata apa-apa.

“Mau gimana lagi.. Tao abis ninggalin cewek yang bener-bener dia suka, eh tiba-tiba muncul cewek lain yang mukanya sama persis begini. Gimana gak kaget dan gak jadi suka?” Tumben, omongan Chanyeol bisa dimasuk ke dalam akal sehat.

“Berarti kamu pas pertama kali ngeliat Kyuri-noona kaget banget, dong?” tanya D.O. Ia ingat pertama kali Tao muncul ke dalam kelas dengan mecahin kaca, Kyuri-Suho sampe kaget dan agak menjauh darinya.

“Iya.. Tadinya aku gak liat karena dia jongkok di belakang Suho-gege— ehm, Suho-hyung, tapi begitu dia berdiri, aku gak tau harus ngomong apa lagi.”

“Rasanya kayak ngeliat Ling Ling aja, ya?” Nichan menebak apa yang Tao rasakan saat itu.

Lagi-lagi Tao hanya mengangguk. Kemudian mereka bertujuh larut dalam foto yang berada di tengah-tengah mereka itu. Ya. Benar-benar mirip. Gak heran kalau Tao sampe gak meduliin sifat Kyuri yang udah kelewat minus dan patut dihina itu. *author kejam*

Tepukan tangan dari Chanyeol, meskipun cuma sekali, tapi sanggup mengagetkan semua makhluk caur yang ada di kamar D.O-Tao. “Nah! Kesimpulannya?”

“Eum.. Tao cuma…suka sama Kyuri-unni dari tampangnya aja yang mirip sama Ling Ling?” tebak Ara.

“Yap. Benar.”

“Berarti kamu masih suka sama Ling Ling?”

Anggukan kepala Tao membuat Nichan yang bertanya jadi tersenyum simpul.

“Tapi sebenernya gak ada salahnya juga sih kalau suka sama orangnya sendiri,”

“Maksud lu Kyuri-noona, Con?”

“Iye lah,”

“Tapi kayaknya….kalau dibilang ‘suka’ sama Kyuri-unni-nya sendiri tuh kayaknya kecepetan, deh?” kata Daeri.

Nichan menambahkan, “Iya. Kasian Ling Ling, masa dilupain secepet itu?”

“Udahlah, kalau menurut gua sih Tao emang suka sama Kyuri-noona cuma karena mirip sama Ling Ling doang,”

“Betul juga nih si Chanyeol.. Tumben-tumbenan nih dia pemikirannya waras,”

“Sialan lu, Con,”

“Ehm.. Ngomong-ngomong, kalian denger gak sih?” tanya D.O tiba-tiba.

“Denger apa?” Sebenernya, pertanyaannya sederhana. ‘Denger apa?’ doang. Tapi berhubung yang ngomong barusan adalah Ara, D.O langsung jadi grogi.

“Ka-kayak ada…euh, suara bersin yang berisik dari lantai bawah,”

Mendengar itu, semua yang berada di kamar D.O-Tao langsung diam dan berusaha mendengarkan dengan khusyuk.

“Masa sih?”

“Eh aku juga denger sih sebenernya, udah daritadi kok.. Kayaknya lagi ada yang pilek.” Nichan menjelaskan.

“Oh, yaudah.. Bukan urusan kita ini..” Perkataan Chanyeol salah besar.

Tanpa mereka ketahui, satu lantai di bawah, tepatnya di kamar milik Kyuri itu sendiri, oknumnya udah dari pagi tadi bersin-bersin terus tanpa sebab yang jelas.

“ADOH! Udahan kek nih gua bersin mulu—Ha- Ha- HACHUIHHH!!!”

Malang nasib Chorong, teman sekamar Kyuri yang harus melewati malam itu diiringi dengan senandung bersin campur ingus dan iler dari mantan mentor imbisil kita. Ckckck..

Iklan

15 pemikiran pada “My Senior High School (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s