Two Moons (Chapter 1)

Tittle     :           Two Moons

Genre   :           Romance, Friendship, Gaje, Yadong dikit2

Cast     :           Xi Luhan

Jung Seo Ri

Jung Eun

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Author  :           That XXX

Annyeong reader… *cipok. Pertama-tama saya mau ucapin terima kasih buat admin yg sudi ngepost FF kacau punya saya ini. Sebenarnya, saya masih tergolong baru dalam dunia per FF-an. Jadi, kalau masih banyak typo, mohon permaklumannya ya..
Cerita gaje ini murni hasil otak saya sendiri. Kalau ada cerita yang plotnya sama, itu Cuma kebetulan semata… Saya bukan plagiat kok. Dan juga, berhubung saya masih baru dalam dunia per FF-an.. Jadi komen,saran, kritik sangat saya butuhkan untuk kemajuan FF saya selanjutnya. Yah.. Akhir kata.. saya ucapin terima kasih deh buat para Readers ataupun Siders… *bow

 

#Seo Ri pov#

Kedua kakiku melangkah riang menuju kesebuah ruangan di lantai dua gedung sekolah.  Ditanganku, tergantung sebuah tas kecil berwarna biru langit dengan gambar Angry Birds, permainan kesukaanku. Sesekali aku membungkuk saat berpapasan dengan guru atau sunbae yang kukenal. Sampai akhirnya, kakiku terhenti didepan sebuah ruangan. Sebuah papan biru bertuliskan ‘XIIB’ tergantung didepan pintunya yang berwarna cokelat tua. Seulas senyum kini mengembang di wajahku. Aku menghela nafas panjang dan bergegas melangkah memasuki ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu ramai. Yah,bisa dibilang cukup sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik dengan aktivitas mereka di bangku masing-masing. Wajar saja, ini adalah jam istirahat dan aku yakin hampir semua penghuni kelas ini menghabiskan waktu istirahat untuk mengisi perut di kantin, atau sekedar melepas penat sehabis belajar di taman sekolah. Dan beberapa siswa yang tergolong ‘rajin’ akan menghabiskan waktu di perpustakaan, berkutat bersama tumpukan buku-buku tebal dan berdebu. Dan beberapa siswa,  akan menghabiskan waktu istirahat didalam kelas. Tidur, membaca, mengerjakan tugas, atau hanya sekedar duduk karena malas keluar.

Pandanganku segera tertuju pada seorang namja yang sedang duduk di bangku paling pojok di kelas. Aku bergegas menghampirinya.

“Luhan oppa…” sapaku. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Aigoo! Senyumannya… Seyuman yang terukir dari bibir tipisnya itu… Benar-benar membuatku melting!!

“Seo Ri-ah… Kau sudah datang. Sini duduk..” ia menunjuk ke sebuah bangku kosong disebelahnya. Aku segera duduk di bangku tersebut.

Aku membuka tas biruku dan mengeluarkan sebuah kotak makanan berwarna biru langit dari dalamnya. Kulihat, Luhan oppa juga mengeluarkan kotak makannya dari dalam tas sekolah.

“Ini…” kataku menyodorkan kotak makan itu padanya. Ia juga melakukan hal yang sama. Singkatnya, kami bertukar kotak makanan. Aku segera membuka kotak makan tersebut.

“Kimbap???” ucapnya. Aku mengangguk dan melihat isi kotak makanan yang ia berikan padaku. Dan isinya… Kimbap juga?

“Kau memberiku Kimbap juga?” tanyaku padanya. “Nde..” jawabnya. Kami saling bertukar pandang bingung.

“Hahahahaha…” tawa kami pecah bersamaan setelah beberapa detik saling memandang bingung.

“Ya! Kenapa menu makanan kita sama terus? Dua hari yang lalu kue beras pedas. Kemarin Burger. Dan sekarang? Kita sama-sama membawa Kimbap?”

Aku tersenyum mendengarnya. “Mungkin ini yang dinamakan takdir” celetukku. Ia menoleh. “Eh?”

“Benar. Kita sudah ditakdirkan bersama-sama. Benarkan?” Ia tersenyum dan mengangguk. “Benar” katanya.

Aku segera mengambil sumpit dari dalam tas biruku dan mulai memakan Kimbap dari kotak makannya.

“Mmm… Mashita” ujarku. Kulihat ia juga sudah memakan kimbap dari kotak makanku.

“Punyamu juga enak. Kau beli dimana?” tanyanya. Aku mengerutkan kening. “Beli? Aku membuatnya sendiri!” sanggahku. Ia menaikkan alisnya.

“Ah, yang benar saja?” ujarnya tak percaya. “Nde… Aku sendiri yang memasaknya. Kau tahu? Tadi pagi aku ke pasar untuk membeli bahan-bahannya”

Ia terkekeh. “Arasso. Aku percaya ini masakanmu…” ujarnya. Aku tersenyum senang. Kami melanjutkan kegiatan makan kami dengan lahap.

Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Joneun  Jung Seo Ri imnida. ’95 lines. Aku adalah siswi dari SM High School. Dan namja yang sejak tadi kuajak bertukar bekal adalah Xi Luhan. Dia tetangga sebelah rumahku sekaligus sunbaeku di sekolah. Dia adalah peranakan china-korea. Tapi sejak kecil ia tinggal di China dan baru pindah ke Korea tiga tahun yang lalu. Kau tahu? Dia itu adalah salah satu namja populer di sekolah. Ia tampan, pintar, kapten tim sepak bola sekaligus ketua club matematika. Ia adalah incaran seluruh yeoja di sekolah ini. Ingat, seluruh! Seluruh Yeoja. Berarti aku juga termasuk? Nde… Hihihi.. diam-diam aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak, kami sudah saling kenal sejak lama. Jadi wajar saja jika aku punya perasaan khusus padanya.

Dan kegiatan tukar-menukar bekal makan siang di sekolah adalah hal yang rutin kami lakukan sejak beberapa bulan lalu. Sebelumnya, kami tidak pernah membawa bekal dan hanya makan di kantin. Tapi suatu hari kami makan bersama-sama di kantin dan tiba-tiba terserang diare. Kami? Ya, kami berdua. Aku dan Luhan oppa. Diare kami sangat parah, sampai harus opname di rumah sakit. Maka sejak saat itu, kami sepakat untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Selain karena lebih higienis, juga untuk penghematan.

“Uhk..uhk..uhk…” tiba-tiba ia batuk. Ia pasti tersedak. Aku segera mengambil minuman dari tas biruku dan memberikannya.

“Oppa, kalau makan pelan-pelan. Jangan sampai tersedak” ucapku sok menasihati. Ia mengatur nafasnya sejenak.

“Kau sih… Bikin kimbap enak sekali. Aku kan jadi lahap makannya. Dan sekarang? Aku tersedak. Ini semua salahmu”

“Ya! Kenapa aku yang disalahkan?” protesku. Ia terkekeh geli. Aku memanyunkan bibir dan kembali melahap kimbap dari kotak makannya.

Aku tersenyum  sendiri. Entah kenapa, setiap kali aku bersama dengannya, aku pasti merasa sangat nyaman dan tenteram. Jujur, aku merasa menjadi yeoja paling beruntung di sekolah ini. Bagaimana tidak? Seluruh yeoja di sekolah ini tergila-gila padanya dan selalu berharap dapat dekat dengannya. Dan aku? Aku adalah satu-satunya yeoja yang mempunyai hubungan dekat dengannya. Yah, memang sih ada banyak juga yang hubungannya lumayan dekat dengan oppa, karena oppa orang yang sangat ramah. Tapi sedekat-dekatnya hubungan mereka, hubunganku dengan oppa jauh lebih dekat. Yah, seperti kakak-beradik. Aku tahu itu. Luhan oppa sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri. Hmm… walaupun hubungan kami bukanlah hubungan sepasang kekasih, tapi aku tetap senang selama bersamanya. Luhan oppa, Sarang hamnida…

#Seo Ri pov end#

#Author pov#

Yeoja itu berlari menuju ke lapangan basket yang ada dibelakang sekolah. Sesampainya disana, dilihatnya beberapa namja yang sedang duduk sambil memerhatikan dengan seksama penjelasan yang diberikan seorang namja jangkung yang sedang berdiri menghadap mereka. Seo Ri berlari menghampiri namja tersebut. “Songsaengnim…” ia berhenti tepat disebelah namja itu. Nafasnya naik turun tak beraturan karena sejak tadi ia berlari.

Namja yang dipanggil songsaengnim itu menoleh dan menatapnya dengan tatapan tajam yang bisa menusuk hati yang terdalam. Seo Ri benar-benar takut jika ditatap seperti itu. Ia langsung membungkuk 90o. “Mian hamnida, aku terlambat” ucapnya. Namun namja itu masih saja menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Lima belas menit…” suara berat keluar dari tenggorokan namja itu. “Sekarang tanggal 2. Lima belas kali dua. Tiga puluh. Push up tiga puluh kali” ujarnya dengan nada datar yang mematikan(?).

Seo Ri menelan ludah. Terdengar gumaman terkejut dari namja-namja yang sedang duduk menghadap mereka. “Lakukan… CEPAT” tiba-tiba saja namja jangkung itu membentak. Seo Ri segera mengambil posisi Push up dan segera melakukannya…

~Skip~

“Sepuluh, empat” teriak namja jangkung itu pada anak-anak yang kini sedang memasang posisi yang tepat untuk merebut bola yang di dribble seorang yeoja. Yeoja itu mengarahkan pandangannya ke segala arah, mencari celah yang tepat untuk mengoper bola ke kawannya. Dan pandangannya tertuju pada salah seorang kawannya yang berada di posisi bebas. “Bin ah..” Ia segera mengoper bola dan berhasil ditangkap kawannya. Kini, namja yang disebut Bin itu mendribble bola ke arah ring dan melakukan lay up.

Priiiiiiiiiit… Peluit panjang dan berulang-ulang terdengar menghiasi lapangan. “Sebelas empat. Semuanya berkumpul” seru namja jangkung yang sejak tadi mewasiti mereka.

Mereka segera merapat dan duduk menghadap namja jangkung itu.

“Baiklah. Latihan kali ini cukup. Kita bertemu lusa di jam yang sama. Dan ingat.. jangan ada yangterlambat lagi. Aku paling benci itu.” Ia melirik ke arah satu-satunya yeoja yang ada disana. Seo Rin hanya menghela nafas. “Baiklah. Gamsa hamnida” tutupnya sambil membungkukkan kepala. “Gamsa hamnida” balas yang lain. Mereka bergegas bangun dan menuju ke toilet untuk ganti baju.

“Jung Seo Ri… permainanmu sudah semakin bagus. Kau menunjukkan peningkatan yang luar biasa” kata namja jangkung itu kepada yeoja yang sedang memasukkan baju ke dalam ransel. Ia mengatakan itu dengan ekspresi datar dan tatapan mata yang sangat tajam. “Gomapta, Kris Songsaengnim” jawab Seo Ri sambil menggendong ranselnya.

“Tapi kau masih belum disiplin. Setiap kali latihan selalu terlambat. Jika kau mengulang itu lagi, kupastikan kau akan mendapat hukuman berat” ancam namja yang disebut Kris Songsaengnim itu. Seo Ri mengangguk.

“Tenang saja, songsaengnim. Aku tak akan terlambat lagi.” katanya sambil mengangkat kedua jempolnya. “Bagus” ujarnya dingin lalu bergegas pergi. “Dasar es batu” umpat Seo Ri pelan saat dilihatnya namja jangkung itu sudah menjauh.

Seo Ri melangkah menuju gerbang sekolah. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang chubby begitu dilihatnya seorang namja di depan gerbang sedang melambaikan tangan padanya. “Luhan oppa…” serunya seraya berlari menghampiri namja itu.

“Kenapa kau masih disini?” tanya Seo Ri. “Aku baru menghadiri Club dan aku ingat kalau kau juga ada latihan basket. Jadi kutunggu saja…” ujarnya. “Kalau begitu, kajja” ajak Seo Ri. Mereka berdua berjalan  meninggalkan sekolah.

~Skip~

“Mm… mashita” Kata Luhan. Mulutnya penuh dengan jagung bakar. Seo Ri mengangguk setuju. “Sudah lama kita tidak memakannya” ucap Luhan.

Namja itu menggerogoti jagung bakarnya dengan sangat lahap. Seo Ri hanya tertawa melihatnya. “Hati-hati. Jangan sampai kau tersedak lagi” nasihat Seo Ri. Luhan tersenyum. “Tidak akan” ujarnya.

Seo Ri memandangi wajah namja disebelahnya. Hatinya merasakan kehangatan yang luar biasa besar begitu melihat senyuman yang mengembang di wajah tampan itu. Tak peduli meskipun saat ini, ia bertingkah seperti orang kelaparan yang menggerogoti biji-biji jagung bakar itu. Dia tetap terlihat tampan di matanya.

Seo Ri mengalihkan pandangan ke jagung bakar yang ada ditangannya. Ia menggigit pelan jagung bakar itu. Benar rasanya enak…

“Mmm… Mashita” ucap Seo Ri juga. Ia memandangi Luhan-yang juga memandanginya sambil tersenyum. Tiba-tiba Luhan mendekatkan dirinya pada Seo Ri. Seo ri membulatkan matanya, terkejut. Luhan masih terus mendekatkan diri…

#Author pov end#

#Seo Ri pov#

Tiba-tiba saja ia mendekatkan badannya padaku. Aku membulatkan mata, terkejut. Tapi ia masih terus mendekat. Aku merendahkan badanku ke belakang dan kugunakan tangan kananku sebagai tumpuan… kini ia sudah semakin dekat denganku. Sejenak, bayangan-bayangan kotor melintas di pikiranku. Jantungku berdegup kencang. Mataku semakin membulat saat wajahnya sudah mendekati wajahku dan…

Ia mengusap pipi kananku dengan sapu tangan yang dikeluarkannya dari saku kirinya. “Kau ini… kalau makan belepotan. Dasar jorok” katanya seraya mengusap pipi kananku. Aku menghela nafas. Awalnya kukira ia akan melakukan sesuatu yang.. yah kalian tahu sendiri. Sesuatu yang wow! Bahkan aku sempat berfikir dia akan menciumku…! Tapi ternyata?

Ia menjauhkan badannya seperti semula dan memasukkan sapu tangannya ke saku. Aku menegakkan badanku kembali. Sebersit rasa kecewa memenuhi hatiku.

“Wae? Kau tidak mau jagungnya lagi?” ucapan Luhan oppa membuatku tersadar. Aku berusaha tersenyum meski dalam hati aku masih sangat kecewa. “Err.. aku sudah kenyang..” sahutku. “Kalau begitu, apa aku boleh minta jagungnya? Aku masih ingin makan…” pintanya sambil memperlihatkan puppy eyesnya. Kali ini aku benar-benar tersenyum tulus. “Ne ambilah” aku menyodorkan jagung tersebut padanya. Ia terlihat sangat senang menerimanya. Langsung saja ia menggerogoti jagung itu seperti orang yang sedang kelaparan…

~Skip

Aku melangkah lesu memasuki ruang tengah. Kejadian tadi masih saja terbayang di otakku. Bahkan, aku masih mengingat detailnya. Rasa kecewa masih saja memenuhi hatiku. Aku tahu tidak sepantasnya aku mengharapkan sesuatu yang lebih. Tapi, tidak bisakah? Apakah salah jika aku berharap ia membalas perasaanku terhadapnya-meskipun aku belum menyatakan perasaanku? Aku benar-benar mencintainya…

“Seo Ri-ah… Kau sudah pulang?” teguran eomma menyadarkanku dari lamunan. “Nde,eomma” sahutku lesu. Eomma sedang menata makanan di meja makan. Kulihat, lauknya sedikit lebih banyak daripada yang biasanya. Dan kulihat juga eomma meletakkan tiga piring, tiga gelas, dan tiga pasang sendok-garpu di meja makan.

“Eomma… apa kita akan kedatangan tamu malam ini?” tanyaku. Eomma tersenyum dan mengangguk. “Coba tebak, siapa yang datang malam ini?”

Aku mengerutkan kening. “Seo Ri-ah…” kudengar ada yang memanggilku. Aku menoleh dan terkejut saat mendapati seorang yeoja berambut ikal panjang sedang berdiri didepan kamarku sambil tersenyum senang. Mataku membulat sempurna.

“Eun!”

 

~To Be Continued~

 

 

Iklan

18 thoughts on “Two Moons (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s