我らの闘い (Warera no Tatakai) #2

我らの闘い (Warera no Tatakai) #2

Title                 : Warera no Tatakai

Author             : Angelcarolin

Main Casts      : • Huang Zitao (EXO-M)

• Park Nanami (OC)

Support Casts  : • Kim Jongdae/Chen (EXO-M)

• Luhan (EXO-M)

• Kim Jongin/Kai (EXO-K)

• Kim Jaehya (OC)

• Park Junho (OC)

• Zhang Hanzhou (OC)

• Jung Hanwook (OC)

Length             : Series

Genre              : Angst, Drama, Family, Friendship, Romance

Rating             : General

Disclaimer       : I do not own the casts, except OCs who I created myself based on my imagination. EXO belongs to themselves and God, no one claims them. The plot purely flows from my brain. So, if there are any similarity plot, same OCs’ names, and settings, it’s all just an accidental coincedence.

Author’s Note : Minna, atashi wa modottekita—! XD Now I’m coming with chapter 2! Thank you so much, by the way, for any of you who have read this fanfic. Arigatou gozaimasu ne ^^ Please LIKE &/ COMMENT because I wouldn’t come by far without your support. Last, enjoy!

© Angelcarolin 2012

Tao masih mengelus-elus bibir gelas bewarna tanah bata itu menggunakan tangan kanannya dengan malas. Sedangkan tangan yang lain menopang kepalanya yang entah kenapa terasa berat. Beberapa kali ia mendenguskan nafasnya berat sambil memperhatikan gelas yang ada di hadapannya, sepertinya ia sedang tidak menikmati menu makannya sore itu. Tunggu, jangankan menikmati, makanan yang ia pesan tadi disentuh barang sedikit pun tidak. Memang aneh karena bukan kebiasaan Tao membiarkan makanannya menjadi dingin.

Tao yang masih bergeming tak kunjung menyantap makannya mengundang perhatian Jongdae, lelaki yang duduk di sebelahnya, sampai akhirnya ia pun angkat bicara.

“Hey, Tao-ya,” tegur Jongdae dengan mulut penuh makanan, “sampai kedua matamu jatuh pun kau tidak akan merasa kenyang hanya dengan memandangi makananmu itu,” ucap Jongdae cepat sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya dan berusaha menelannya sebelum berkata kembali, “cepatlah makan kalau tidak ramen-mu akan dingin. Ah, aku rasa memang sudah dingin dari tadi.”

“T-tao-oppa, a-apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Kini giliran Jaehya yang memberanikan diri untuk bicara. Memang benar, bahkan gadis ini pun menyadari gelagat aneh Tao yang lain dari biasanya—walau tidak terlalu kentara. Meskipun terlihat serius dengan makanannya, Jaehya sesekali melirik ke arah Tao yang dengan lesu menopang dagunya dan berganti memutari bibir gelas itu sejak tadi. Gadis itu ingin sekali mengetahui apa yang menjadi pengganggu pikiran Tao dan di samping itu karena ia juga mengkhawatirkannya. Namun, memang ia belum berani membuka suara karena sejak pesanan mereka datang, tidak ada satu pun dari mereka yang angkat bicara.

Mendegar pertanyaan adiknya yang tiba-tiba, Jongdae sontak menoleh kembali ke arah Tao dan mengernyit, “Benarkah itu? Apa yang sedang kau pikirkan, Tao-ya?” Bukan masalah besar bagi Tao, tetapi benar saja memang itu yang mengganjal pikiran Tao—dan hatinya. Tatapan kakak beradik yang kini tengah menghentikkan aktivitas makan mereka masih mengarah ke sosok lelaki yang tak juga membuka mulutnya. Lelaki itu terlihat menimang-nimang sesuatu sebelum akhirnya menjawab, “Ah, tidak ada, Hyung. Tidak ada yang kupikirkan, aku baik-baik saja,” ucap Tao dengan senyum kecil yang tampak dipaksakan.

“Oh, baiklah kalau begitu. Aku harap kau baik-baik saja. Jangan lupa makan makananmu. Setelah ini kita pulang. Lihat, hari juga semakin gelap,” titah Jongdae panjang yang dibalas anggukan samar oleh Tao.

“Aku tidak begitu yakin, Oppa. Apa kau percaya begitu saja?” bisik Jaehya sambil merendahkan kepalanya, takut kalau suaranya terdengar oleh Tao.

“Entahlah. Dia memang seperti itu Jae, susah ditebak,” balas Jongdae yang masih saja terdengar jelas di telinga Jaehya meski dalam keadaan mengunyah.

Jaehya yang belum puas akan tanggapan Jongdae pun kembali berbisik, tetapi dengan penuh penekanan, “Aku tahu itu. Tapi kurasa, ada hal lain, Oppa…” Jaehya berargumen menggantungkan kalimatnya, “mungkin ini ada hubungan dengan keluarganya?” lanjut Jaehya yang terdengar seperti melontarkan pertanyaan.

“Ya, mana kutahu, Jae. Itu urusannya dan kalau memang itu benar, tidak seharusnya kita mencampurinya. Kau tahu itu, kan?” tanggap Jongdae dengan suara meninggi, menyebabkan ia mendapati cubitan di lengan. Jaehya pun antisipasi dengan apa yang akan terjadi jika saja Tao mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan, tetapi nampaknya seseorang yang dikhawatirkan itu pun masih asyik dengan dunianya di sana.

Tao bergerak, memundurkan kursinya hendak meninggalkan tempat itu. Hal tersebut lantas membuat Jongdae serta Jaehya berjengit.

“Kau mau ke mana? Makananmu—”

“Sebentar,” balas Tao singkat. Respon yang diberikan Tao barusan membuat hati Jongdae kesal. Namun, ia tidak mempedulikannya. Jongdae memfokuskan kembali kegiatannya sambil memerintah Jaehya singkat—masih dengan menatap mangkuk ramen-nya, “Cepat habiskan makananmu, Jae, setelah itu kita pulang.”

Jaehya mengangguk sekilas dan menuruti apa yang diperintah Jongdae. Sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk melirik ke arah Tao yang tampaknya berjalan ke arah kasir; ia terlihat sedang berbicara sesuatu dengan pegawai kasir di ujung sana. Mau apa dia? Entahlah, setidaknya gadis itu meyakinkan dirinya sendiri kalau Tao tidak pergi jauh—pulang meninggalkan tempat itu seorang diri.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka—Jongdae dan Jaehya—untuk menghabiskan makanan mereka sampai benar-benar habis. Maklum, kapan lagi mereka bisa menikmati menu makan lain dari hari biasanya? Menunggu sampai mereka kaya? Tidak. Hanya semangkuk ramen pun sudah cukup. Dan kini mereka berdua telah selesai dengan urusannya. Daripada menghabiskan waktu menunggu pria itu sampai kembali ke tempat mereka duduk semula, Jongdae memutuskan untuk menghampiri Tao yang sejak tadi masih sibuk, entah apa yang ia lakukan di sana—Jongdae tidak tahu. Jaehya pun hanya bisa mengekori kakaknya itu karena ia yakin setelah ini Jongdae buru-buru mengajaknya pulang.

“Kami sudah selesai, Tao-ya. Apa yang kau lakukan dari tadi?” tanya Jongdae datar, merasa gerah atas sikap Tao.

“Aku hanya meminta pegawai kedai ini untuk membungkuskan makananku, Hyung.”

“Oppa ingin memakannya di rumah saja? Atau membungkuskan untuk yang lainnya juga?” kali ini Jaehya bertanya menyelidik. Sampai kapan ia bisa mengetahuinya jika hanya mengikuti pertanyaan-pertanyaan Jongdae yang tak berbobot seperti tadi?

“Tidak. Makanan ini bukan untukku, lagipula aku sudah membelikan makanan untuk mereka,” balas Tao dengan tersenyum seolah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu mereka khawatirkan.

Jongdae yang tak mengerti perkataan pria itu kembali menyergah, “Apa? Bukan untukmu? Lalu, untuk siapa?” tanya Jongdae bingung sambil menggaruk pelipisnya. Namun, Tao menghiraukannya dan berkata, “Ah, lebih baik kita pulang sekarang, Hyung.” Mau sekesal bagaimana lagi Jongdae atas sikap Tao barusan dan sekarang ia tak diacuhkannya. Memang bukan apa-apa dan bukan masalah besar bagi Jongdae, tetapi sikap Tao yang gemar menyembunyikan sesuatu yang menginterupsi konsentrasinya jelas saja membuat Jongdae sebal. Kenapa ia tidak berusaha menjadi sedikit lebih terbuka?

-ooOoo-

“Hmm…”

“Ya, aku tahu, Appa.”

“Baiklah, sampai jumpa.” Ponsel kembali dimatikan. Gadis itu memutar bola matanya suntuk. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghelanya panjang sambil meniup poni yang menutupi dahi gadis itu dengan manis. Entah apa yang harus ia persiapkan untuk mengusir jauh-jauh rasa bosannya nanti ketika tiba di tempat tujuan. Tak lupa membawa iPod kesayangannya dan memasangkan headphone di telinga dengan volume berdentum keras, mungkin? Bisa saja. Namun pasti ayah gadis itu melarangnya. Jelas saja kini gadis itu, Nanami, merasa gelisah karena memang perjamuan makan malam mewah dengan keluarga besar atau kolega bisnis ayahnya bukan hal yang disukainya. Daripada itu, ia lebih memilih berdiam diri di kamarnya, melakukan apa yang ia pikir nyaman dan menenangkan walau itu sekadar memeluk guling dan menatap ujung tempat tidur. Aneh memang, tetapi lebih baik jika dibandingkan melakukan sesuatu yang dipaksakan, bukan?

Sementara di depannya kini, Jung Ahjussi beserta Luhan hanya memandangi gadis itu bingung sambil sesekali melempar tatapan penuh tanda tanya ke arah satu sama lain. Luhan pun mengendikkan bahunya tidak tahu harus berbuat apa sampai Jung Ahjussi berucap, “Maaf, Nona, sudah lima menit Anda berdiri di situ. Apakah Anda sudah siap?” Gadis yang dimaksud itu pun tak lantas menjawab pertanyaan Jung Ahjussi dengan segera. Alih-alih menjawabnya, Nanami hanya menatap kedua pria di hadapannya dengan linglung—tak berbicara sama sekali.

“Nona?” tegur Luhan pelan, mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Nanami berharap itu bisa mengusik lamunan gadis manis tersebut. Nihil, tidak berhasil. Namun, sedetik kemudian ketika Luhan ingin memanggil namanya kembali, raut wajah Nanami berubah dan gelagapan tak jelas.

“Y-ya? Si-siapa yang memanggilku tadi?” kata Nanami terbata yang kemudian mengadukan kedua alisnya hebat sambil menatap ke arah Luhan, “Kau, Luhan-ssi?” tanya Nanami hati-hati.

“Iya, Nona. Nona terlihat melamun sejak tadi bahkan tidak merespon apa yang Jung Ahjussi katakan,” ucap Luhan polos, “apa ada yang mengganggu pikiran Nona belakangan ini?” Jung Ahjussi menoleh sesaat mendengar balasan Luhan barusan. Apa yang Luhan pikirkan? Mau melamun atau tidak, ia tidak seharusnya membicarakan itu pada Nanami yang terkesan ingin mencampuri urusannya. Namun, namanya saja Luhan. Ia berkata polos seperti tadi pun ia sendiri tak menyadarinya kalau Jung Ahjussi bisa sampai berpikiran lain seperti itu. Jung Ahjussi yang nota bene adalah kepala pelayan keluarga Park serta orang kepercayaan Tuan Park memang terlihat dekat dengan anggota keluarga, begitu juga dengan Luhan. Namun, menjaga hubungan antara majikan dan pelayan sangat dijaganya dengan baik dan berusaha mencampuri urusan pribadi majikannya itu adalah hal yang harus dihindari. Ia adalah pelayan yang loyalnya bukan main.

“Ehm,” Jung Ahjussi berdeham pelan, berusaha menghapuskan pikiran yang bukan-bukan sekaligus mengubah suasana yang kikuk, “sebaiknya kita berangkat sekarang, Nona. Aku khawatir jalanan macet dan kita akan terlambat.”

“Baiklah,” jawab Nanami singkat dan menghampiri pintu mobil yang sudah sedari tadi dibukakan oleh Jung Ahjussi. “Terima kasih, Ahjussi.”

-ooOoo-

Ketiganya masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Luhan memfokuskan pandangannya ke arah jalanan di bangku kemudi. Tak jarang pula ia mencuri kesempatan—jika itu ada—untuk sesekali melirik Nanami, gadis cantik yang duduk manis di kursi penumpang belakang mobil, melalui kaca spion tengahnya. Kesempatan itu pula yang ia manfaatkan untuk meneliti detil kecantikan nona mudanya itu di kala Jung Ahjussi yang duduk di bangku penumpang sebelah kanan Luhan tengah sibuk dengan ponselnya. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Luhan karena ia bisa leluasa memperhatikan Nanami tanpa perlu disadari oleh Jung Ahjussi. Namun, yang lebih tak disadarinya, Luhan seringkali tersenyum geli melihat tingkah laku Nanami di belakangnya yang terlihat jenuh hanya memandangi pemandangan luar dari kaca jendela. Benar, Luhan mengaguminya. Mungkin bisa dibilang lebih dari itu, Luhan menyukai Nanami, anak majikannya, sejak lama. Akan tetapi Luhan cukup sadar diri tentang perbedaan status di antara mereka. Luhan tidak lebih adalah seorang anak dari kepala pelayan keluarga majikannya tersebut. Apakah pantas ia bersandang dengan nona muda? Mengaguminya dari jauh dalam diam seperti ini sudah cukup bagi Luhan.

Nanami yang merasa dirinya dari tadi sedang diperhatikan seseorang sontak menolehkan kepalanya cepat dan menangkap basah Luhan yang menatapnya serius dari balik kemudi mobil. Luhan pun gugup dibuatnya. Kentara sekali Luhan sedang mencuri pandang ke arahnya, tetapi Nanami tidak menyadari kenapa Luhan melakukan itu. Toh itu bukan masalah besar.

“Luhan-ssi, Jung Ahjussi,” panggil Nanami tiba-tiba, “setelah mengantarkanku kalian berdua langsung pulang saja. Tidak usah menungguku,” perintah Nanami. Kedua pria di depannya kini saling tatap, berusaha mencari sendiri maksud perkataan Nanami barusan. Luhan hanya diam. Ia masih merasa canggung karena kepergok sedang memperhatikan gadis itu. Ia pun hanya berkonsentrasi mengemudikan laju mobil. Sementara Jung Ahjussi berpikir jika Luhan diam, maka itu berarti Jung Ahjussi-lah yang angkat bicara.

“Mengapa tidak, Nona? Apa Nona ingin pulang bersama tuan besar?” tanya Jung Ahjussi, mencari tahu alasannya.

“Tidak. Aku yakin setelah acara makan malam ini pun Appa masih disibukkan dengan pekerjaannya. Lagipula, aku sudah ada janji dengan temanku,” jelas Nanami panjang dan meneruskan, “biar dia saja yang menjemputku dan mengantarku pulang. Aku akan baik-baik saja. Kalian tidak usah khawatir.”

“Apa Nona yakin? Kenapa tidak kami saja yang menjemput dan mengantarkan Nona ke tempat teman Anda?” ujar Luhan memberanikan diri. Namun, mendapati Luhan yang bertanya seperti itu membuat Nanami beringsut kesal dan sedikit menyentak, “Sudah kubilang, kalau aku baik-baik saja, maka aku benar akan baik-baik saja! Tidak usah membantah apa yang kukatakan!” Luhan pun—tak kalah dengan Jung Ahjussi—tersentak kaget mendapatkan jawaban yang terbilang cukup kasar dari gadis itu. Luhan tidak mau memperkeruh suasana dan buru-buru minta maaf, “M-maafkan saya, Nona,” ucap Luhan pelan nan gugup.

Hanya sebentar waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke tempat tujuan. Namun bagi Nanami, waktu yang kini ia lewati terasa amat lama. Selama di perjalanan tadi saja sudah membuat Nanami suntuk, apalagi hanya duduk di kursi restoran sambil mendengarkan obrolan bisnis dari dua pria paruh baya yang menurutnya tak penting itu? Bisa mati kebosanan gadis itu dibuatnya.

Sesampainya di sana, Nanami langsung menyapukan pandangan ke sekitar tempat itu; sebuah restoran mewah à la Prancis dengan kertas dinding bertemakan istana monarki membalut anggun tiap sisi dinding restoran serta ornamen-ornamen khas Eropa memenuhi tiap sudut ruangan tersebut. Pandangan Nanami akhirnya terhenti tatkala ia melihat seorang pria melambaikan tangan ke arahnya. Dilihatnya juga pria itu tidak sendiri duduk di seberang sana.

“Nanami!” panggil pria itu, “sebelah sini,” lanjutnya, mengomandokan Nanami agar segera menghampirinya dan mengambil jatah kursi yang telah disiapkan. “Kau terlambat.”

“Ah, maaf, Appa. Tadi jalanan sedikit macet,” ujar gadis itu menanggapi ucapan ayahnya. Kini gadis itu sudah mengambil tempat duduk persis di samping Tuan Park.

“Tak apa. Hmm, sebetulnya kami sudah selesai dengan makan malamnya. Tapi, aku ingin memastikan kau mendapat sesuatu untuk dimakan. Iya, kan, Junho-ya?” ujar lelaki di hadapan Tuan Park seraya tersenyum lebar ke arah Nanami, membuat kedua matanya nampak segaris. Tuan Park hanya tersenyum kecil kemudian pria itu melanjutkan, “Dan maaf juga, Yixing baru saja meninggalkan tempat ini sesaat sebelum kau datang. Katanya, ia harus menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk.”

Nanami yang sedari tadi diam memperhatikan apa yang dikatakan pria itu kini membalas dengan anggukan singkat, “Bukan masalah, Ahjussi. Yixing memang terlihat sibuk belakangan ini.”

“Kalau begitu cepat pesan makananmu. Aku yakin kau belum makan malam, kan?” tebak Tuan Park sambil mengiris potongan daging terakhir dan menyuapkannya ke mulut. Nanami pun balas mengangguk kikuk.

Kini kedua pria di hadapannya itu sedang asyik terlibat percakapan yang sulit dimengerti oleh Nanami. Banyak kata dan istilah bisnis yang tidak Nanami ketahui, tetapi apa masalahnya? Toh ia tak mengacuhkannya. Nanami sendiri sekarang sudah selesai dengan santapannya. Ia berharap dalam hati agar Tuan Park tidak membiarkannya berlama-lama mematung bosan mendengarkan celotehan bisnis ayahnya tersebut. Tidak ada hubungan sama sekali antara Nanami dan obrolan panjang lebar yang membosankan dari kedua kolega lama yang terlihat sangat akrab itu. lalu, untuk apa Tuan Park mengajaknya kemari? Membuang waktu saja.

Nanami sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menundukkan wajah sambil mengayun-ayunkan kakinya di kolong meja dengan bosan. Sementara kedua pria tersebut semakin asyik larut dalam topik pembicaraan mereka dan nampak tidak peka melihat air muka Nanami yang jenuh setengah mati. Namun, semuanya berubah ketika Nanami tersenyum sumringah mendapati ponselnya bergetar pelan menandakan ada pesan singkat masuk. Senyum Nanami langsung merekah di kala membaca isi pesan tersebut dan dengan segera mengangkat wajahnya menghadap Tuan Park.

“Ng, Appa,” panggil Nanami sambil menggoyangkan lengan Tuan Park, “aku ada janji dengan temanku. Boleh aku pergi duluan?”

“Kau tidak ingin menungguku dan pulang bersama?” tanya Tuan Park berbalik.

“Tidak.”

“Baiklah, kalau begitu akan kuhubungi Jung Ahjussi untuk menjemputmu,” ucap Tuan Park yang kemudian disergah cepat oleh Nanami, “Tidak usah. Temanku sudah berada di depan restoran ini.”

“Benarkah? Aish, ya sudah. Kalau begitu kau hati-hati di jalan, ya. Pulang jangan terlalu larut,” pesan Tuan Park kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan mengelus kepala Nanami lembut. Gadis itu lantas memundurkan kursinya seraya membungkuk hormat ke arah pria di hadapan Tuan Park. Pria itu—Zhang Hanzhou, kolega lama Tuan Park di dunia bisnis serta sahabat karibnya sejak dulu—tersenyum hangat ke arah Nanami, membalas bungkukan hormat gadis tersebut.

-ooOoo-

“Aku hampir mati kebosanan, Jongin! Untuk apa Appa mengajakku makan malam bersama dengan teman lamanya? Aku sudah tahu, Appa hanya mencari-cari alasan bahkan Appa dan Zhang Ahjussi bukan seperti mereka yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bodohnya aku dibodohi oleh Appa!” gerutu Nanami panjang lebar. Sedang pria berparas tampan yang sedang menyetir di sebelah kirinya hanya berjengit berkali-kali, menahan luapan emosi Nanami yang meledak-ledak. Pria itu, Jongin, sesekali menutup telinganya, berusaha meredam lengkingan suara Nanami yang marah.

Jongin pun menyudahi, “Sudahlah, toh sekarang kau sudah bersamaku. Tak perlu lagi mendengarkan ocehan bisnis Appa-mu itu, kan?” ucap Jongin meyakinkan sambil melihat ke arah Nanami sekilas, “Lagipula kau ini memang bodoh. Kenapa mau saja ikut dengannya kalau itu akan membuatmu bosan?”

“Hey!” sentak Nanami tak terima. “Kalau aku tahu dari awal, aku pasti tidak akan menerima ajakan Appa. Lebih baik aku menghabiskan waktuku di kamar. Apalagi setelah kejadian itu. Tsk!” decak Nanami bertambah kesal. Dari raut wajah Nanami, sudah terbaca oleh Jongin hal apa yang telah menimpa gadis itu—lebih tepat teman satu kampusnya.

Memang, hanya Jongin—dan seorang teman perempuannya lagi—yang menjadi teman Nanami. Sikap Nanami yang terbilang tak mengacuhkan, tidak sensitif dengan keadaan sekitar, dan kadang berubah menjadi kasar membuatnya dijauhi teman-teman kampusnya yang lain. Asal tahu, Nanami tadinya menjalani home schooling. Setelah lulus SMA, Tuan Park memutuskan memanggil guru privat untuk menyekolahkan Nanami di rumah. Namun, keputusan Tuan Park terbukti tidak tepat dan hal itu justru makin membuat Nanami menjadi anti-sosial. Tuan Park tidak ingin anaknya mempunyai tekanan mental, atau apa pun itu. Maka ia kembali memutuskan untuk mengirim Nanami ke sebuah universitas, yaitu Seoul National University, salah satu universitas terfavorit di Korea Selatan, di mana Jongin dan Nanami kini kuliah di tempat yang sama. Meskipun di satu universitas dan fakultas yang sama, tetapi keduanya berada di jurusan yang berbeda.

Jongin hanya bisa memandangi temannya itu dengan tatapan lesu. Yang dilihatnya sedari tadi gadis itu menggeretakkan giginya geram sambil meremas ujung dress soft orange miliknya. Dengan sedikit menghela nafas, Jongin akhirnya membuka mulut, “Kau ada masalah apa lagi? Ceritakan saja jika itu membuatmu lebih baik.”

Gadis yang semula sibuk membuang pandangan ke arah luar kaca jendela mobil menoleh ke arah suara dan beringsut kesal, “Mau aku cerita pun takkan mengubah keadaan, Jongin-ah,” ketus Nanami.

“Aku yakin apa yang Appa-mu lakukan semata karena beliau menyayangimu, Nanami. Kau seharusnya tahu itu,” jelas Jongin bijaksana, tidak biasanya ia seperti itu.

“Aku tahu, Jongin-ah! Tapi seharusnya Appa tidak bersikap seperti itu terlebih kalau Appa memang menyayangiku!” bentak Nanami yang semakin kehilangan kendali. Hampir kehilangan kendali tatkala kini tanpa sadar ia meneteskan air mata yang dengan segera dihapusnya—takut kalau Jongin menyadarinya. Ia sama sekali tak mau terlihat lemah di hadapan lelaki itu.

“Ya sudah, terserah kau saja.”

-ooOoo-

Jongdae dan Jaehya berjalan menyusuri jalanan gelap yang menanjak di sekitar pemukiman warga malam itu. Terlihat sesekali mereka menggosok-gosokkan kedua tangannya mencari kehangatan di balik dinginnya malam. Memang ketika siang hari, matahari menyinarkan panasnya terik. Namun saat malam, udara sangat dingin dirasakan terlebih mereka yang hanya berbalut kaos tipis, tidak menggunakan jaket, syal, atau semacamnya.

Sedang Tao yang mengekor di belakang kakak beradik itu berjalan gelisah sambil menyebarkan pandangan ke segala arah jalanan yang sedang mereka lalui. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celana denim, menjaga agar tangannya tidak membeku kedinginan sementara tangan yang lain menenteng sekantung plastik makanan—ramen miliknya di kedai tadi. “Di mana, ya?” gumamnya pelan sambil terus celingak-celinguk tak menentu. Namun kemudian, Tao tiba-tiba memperlambat langkahnya ketika sampai di persimpangan sebelum ia berbelok ke kiri mengikuti Jongdae dan Jaehya. “Ah, itu dia!” pekik Tao lugas kemudian berlari ke arah berlawanan dan berhenti sebentar. Ia hendak menyeberangi jalanan di sana rupanya.

“Hey, Tao-ya, kau mau ke mana?” tanya Jongdae meninggi seketika melihat Tao yang tiba-tiba berlari. Jaehya mengikuti arah pandang kakaknya dan mengernyit heran.

“Sebentar, Hyung, aku akan ke seberang jalan dulu!” teriak Tao kencang dari ujung jalan agar Jongdae mendengar. Buat apa berteriak, sekarang Jongdae jelas melihat kelakuan aneh Tao yang sibuk menengok kanan kiri.

“Aish, apa sih yang dilakukan anak itu? Membuatku kesal saja!” dengus Jongdae sambil menatap sebal ke arah Tao.

“Apa yang dilakukannya, Oppa?” tanya Jaehya membuka mulutnya tak percaya yang dibalas dengan jitakan kecil oleh Jongdae di kepalanya. Sementara Jaehya mengaduh kesakitan, Jongdae menjawab, “Kau ini! Mana kutahu! Ya sudah, ayo!” ajak Jongdae, melangkahkan kakinya malas.

Tao kini sudah berada di seberang jalan. Ia terlihat berjongkok ke arah seseorang yang berada di depannya. Tak jelas apa yang dibicarakan Tao dengan orang itu—seorang wanita tua lebih tepatnya—karena di sana yang berbicara hanya Tao, tidak ada respon dari wanita di hadapannya. Ia malah memiringkan kepala, menatap Tao bingung. Tao pun begitu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan karena sedari tadi ia berbicara tidak mendapat respon sedikit pun dari lawan bicaranya. Tao tersenyum dan membantu wanita tua itu berdiri dengan menggenggam tangannya hati-hati.

Menyadari kehadiran Jongdae dan Jaehya yang menghampirinya, Tao menghela nafas lega dan berucap, “Ah, Hyung. Ini, aku berniat memberikan bibi ini makanan yang tadi kubungkus. Tapi, dari tadi aku bicara beliau malah diam saja. Aku tak mengerti.”

Jongdae yang diajukan pertanyaan pun mengerjapkan matanya berkali-kali, masih mencoba menelaah apa maksud perkataan Tao. “Jadi, kau tidak makan di kedai itu hanya karena ini?” Jongdae membulatkan matanya tak percaya sambil menunjuk-nunjuk wanita tua dan kantung plastik yang ada di genggaman Tao secara bergantian. Tao membalasnya dengan anggukan polos.

Dengan sebuah anggukan polos pun cukup meyakinkan Jongdae. Ia tahu seberapa bodohnya Tao dalam melakukan hal apa pun, lelaki itu pasti akan berkata dan bertindak jujur. Memang langka sekali menemukan orang seperti Tao yang menjunjung kejujuran di tengah zaman gila seperti sekarang di mana semua hal bisa dimanipulasi.

“Memangnya kenapa, Hyung?”

Jongdae menepuk dahinya keras dan berdecak, “Dan ini yang mengganggu pikiranmu? Kau terlihat muram, tidak memakan makananmu, memandangi mangkuk ramen-mu dengan tatapan kosong, dan membiarkannya dingin begitu saja… hanya karena wanita tua ini?”

“Tapi, aku sudah meminta pegawai kedai tadi untuk menghangatkannya kembali, Hyung!” balas Tao tak kalah sengit dari Jongdae, mendapat cercaan bertubi-tubi darinya.

“Bukan itu masalahnya, bodoh!” ucap Jongdae kesal sambil mengusap wajahnya kasar. “Terserah kau saja, Tao-ya! Ayo, Jae!” ajak Jongdae pada adiknya, tetapi Jaehya malah diam saja. Ia malah memajukan badannya ke arah wanita tua tersebut sambil mengerutkan keningnya.

“Kau… bisa… bi… cara?” tanya Jaehya aneh pada wanita itu sembari menggerak-gerakkan tangannya tak jelas. Tampaknya ia sedang berusaha untuk berbicara menggunakan cara lain dengan wanita tua itu. Ia menggelengkan kepala mengerti maksud Jaehya barusan.

“Apa yang kau bicarakan, Jae-ya?” tanya Tao penasaran.

“Sudah kuduga, Oppa. Wanita ini tidak bisa bicara,” jawab Jaehya dengan gelengan lemah. Tao yang menyadari hal itu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan prihatin. Ia merasa iba padanya. Sedetik kemudian, Tao cepat-cepat memberi Jaehya aba-aba, “Kalau begitu, Jae-ya, tolong sampaikan padanya bahwa aku ingin memberikannya ini. Tadi sebelum masuk kedai, aku melihatnya sedang meringkuk di depan gang kecil samping kedai. Kupikir dia kedinginan dan aku yakin dia pasti juga belum makan. Makanya, aku membungkuskan makananku untuknya,” jelas Tao panjang lebar. Butuh waktu untuk Jaehya mencerna perkataan Tao, sedang Jongdae? Entahlah. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya.

“Ke-kenapa harus aku, Tao-oppa? Kau kira aku bisa bahasa isyarat? Lagipula, yang tadi itu panjang sekali. Aku tidak mengerti,” elak Jaehya.

“Lalu, yang tadi itu apa?”

“Aku hanya asal. Bahasa isyarat yang kuperagakan tadi tidak benar-benar kuketahui, Oppa,” jawab Jaehya beralasan dengan senyum canggung. Ia melihat air muka Tao berubah sedikit kecewa yang membuat ia berubah pikiran ingin membantunya—mengungkapkan apa maksud Tao kepada wanita tua tadi. “Tapi, Oppa… aku akan mencobanya.”

Jaehya kembali berkomunikasi dengan si wanita tersebut. Tidak terlalu jelas apa yang mereka katakan karena memang mereka tidak banyak berbicara; mereka berbicara sesekali disela dengan gerakan tangan. Padahal Jaehya sendiri pun tak begitu yakin wanita yang sedang ‘berbincang’ dengannya menangkap maksud ucapannya.

“… orang… ini yang… mem… berikannya. Dia bilang… mung.. kin saja… kau belum… makan,” titah Jaehya hati-hati, memastikan lawan bicaranya mengerti.

Garis muka wanita itu menyendu. Ia menatap nanar kantung plastik yang dipegang Tao kemudian meraihnya. Sesaat setelahnya, ia beralih menatap Tao dengan hangat seperti ingin menyalurkan rasa terima kasih yang amat besar kepada Tao. Seketika itu juga, wanita tersebut membawa Tao ke dalam pelukannya. Tao mengerjap bingung akan perlakuannya dan bisa ia rasakan kini bahunya basah terkena sesuatu. Wanita itu menangis, melepas pelukannya; ia tampak berusaha mengatakan sesuatu.

“A-apa yang dia ucapkan, Jae-ya?” tanya Tao berbarengan dengan Jongdae yang sedari tadi membungkam suaranya.

“Aku tidak yakin, Oppa. Tapi sepertinya, dia bilang terima kasih. Ng, lalu…” ucap Jaehya menggantung, “dia bilang… seharusnya kau tidak perlu repot seperti ini, Oppa. Kukira begitu maksudnya.”

Tao yang mendengar penuturan Jaehya lantas tersenyum manis dan berucap, “Ahjumma,” sapa Tao memegang kedua bahu wanita tersebut dan menatapnya mantap, “asal kau tahu, aku sama sekali tidak repot melakukan ini semua. Bukankah kita sebagai manusia harus saling menolong? Benar, kan?” ucap Tao dengan senyuman teramat manis. Jongdae dan Jaehya terperangah mendengar penuturan Tao dan tanpa sadar membuat Jongdae bergumam, “Kau gila, Huang Zitao.”

Tangis wanita itu makin menjadi dan Tao mengusap pelan kedua bahu yang dipegangnya, berusaha untuk menenangkan sang wanita. Ia tersenyum kembali seraya beranjak pergi. Tao masih memperhatikan gerak wanita tersebut sampai ia menyadari ada kilatan cahaya yang ia tidak tahu apa itu bergerak cepat ke arahnya. Bukan, Tao tidak berpikir kalau cahaya—yang ternyata berasal dari sinar lampu mobil—tersebut bergerak ke arahnya, melainkan ke arah wanita tadi yang sekarang sedang menyeberang jalan. Dengan gerakan sigap, Tao berlari ke tengah jalan dan mendorong tubuh rapuh wanita itu. Terlalu cepat bagi Tao untuk menyadari kejadian yang dialaminya karena memang keputusannya barusan sangat mengejutkan.

“TAO!!!”

To be continued…

 

 

Alhamdulillah. Hahaha, anjir pas mau to be continued absurd banget ceritanya ;_; It sucks as hell, gomen nasai *bows* So, how is it so faaar? Is it poor, enough, just so so, good, pretty good, or amazing? #nggakmungkin

Mungkin banyak yang tanya ya, “Kok sampai chapter 2 Nanami sama Tao belum ketemu sih?” Sabar dulu, readers. Pokoknya tetap lanjutkan membaca aja, nanti juga tau ceritanya 😉 Oh ya, kadang di setiap chapter ada penambahan cast yang berbeda jadi makin banyak gitu.

Last but not least, your LIKE and COMMENT! It’s important for me, for every writer whoever they are, to expect some kind of appreciation from all of you—because your appreciation is like air to me and it means the world. Thank you J

Satu pemikiran pada “我らの闘い (Warera no Tatakai) #2

  1. sugoi ne!!! majide!!! ah! boku wa miyukidesu! dozoyoroshiku onegaishimasu^^ author san wa kakkoi desu!!Boku wa otakudesukedo yoroshiku ne. tottemo sukidayo! mattane… 大好き<3友達になれるね?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s