My Senior High School (Chapter 6a)

Title: Misteri Hubungan Kai-Sehun

Characters: NRD (OC), EXO

Words: 6,915

Selamat membaca semuanya!

Saranghae yeorobun, anyeooong~!  :*

________________________________________________

Cerita ini berawal dari sebuah nada dering….

‘You are so beautiful, to me~~’

Sang pemilik handphone, yaitu pria muda berwajah tampan yang menjadi bintang lomba futsal — ehem, pake daster — bernama Kai, merogoh saku celana ketika ia merasa hpnya bergetar dan berbunyi cukup kencang. Nada dering itu bukan sembarang nada dering. Itu menunjukkan sang pengirim sms adalah seseorang yang spesial untuk Kai. Eya sadap. Siapa lagi kalau bukan Sehun? Ia membuka kunci hp dan segera membaca sms yang baru ia terima.

[From: Sehun

Hyung, mi gorwng pedesnya abis L jadinya mau diganti aoa?]

Hanya sesederhana itu isi dari pesan singkat yang dikirim Sehun.  Pake ada acara salah ketik pula. Tapi Kai langsung tersenyum lebar, selebar jidat Daeri kalau gak pake poni. *author disembur Daeri pake iler*

Secepat kilat, ia mengetik balasan;

[To: Sehun

Samain aja sama kamu, ya.. J]

Lalu ia memencet ‘send’ dan cengangas-cengenges sendiri menunggu kehadiran Sehun bersama makanan untuk disantap berdua di kelas, secepatnya.

Nichan, Daeri, Ara, Baekhyun, Chanyeol, D.O, dan Tao saling melirik-lirik curiga. Bangku Nichan dan Daeri diputar sampai menghadap ke belakang. Ara, yang tempat duduknya ada di depan, nyempil di tengah-tengah Nichan dan Daeri seolah-olah ia mungil. Pasangan bego BaekYeol tetap pada tempat duduk masing-masing, sedangkan D.O menarik kursi kerajaannya dan diposisikan berada di samping meja Baekhyun, ia pun dengan senang hati dempet-dempetan sama Tao. Diam-diam, setelah koki D.O membawa troli makanan sang tuan muda pergi, mereka sedaritadi memperhatikan Kai yang ‘ditinggalkan’ oleh belahan dada, eh, belahan jiwanya pergi.

Sebetulnya ada apa dengan para tokoh utama kita? Kenapa mereka semua jadi tertular kepo-nya Kyuri begini? Bahkan yang cowok juga ikutan. Satu lantai di bawah mereka, Kyuri bersin-bersin sampe Suho, Lay, dan Jongdae — yang dipanggil dengan sebutan Chen, merasa heran karena ini lagi musim panas, masa dia kena flu? Kasihan.

Memasang muka emak-emak rumpi, Ara memulai pembicaraan, “Liat deh, abis nerima sms dia langsung mesem-mesem sendiri..”

Chanyeol melotot dan nyengir jijay. “Hah? Mesum-mesum?? Waaw.. Ara, yaa. Ngomongnya sekarang vulgar, lho!”

Dimana ada Chanyeol, di situ ada Baekhyun. Dan sekali Chanyeol ngecengin orang, ia gak mau kalah. “Ara nakal yaa.. Nakal, nakal~!” ujarnya sambil tepuk tangan kayak monyet kesenengan dapet kuaci.

“Gua bilang ‘mesem-mesem’, budeg.” omel Ara, mukanya terlihat sangat males. Ia bingung kenapa dua titisan beruk seperti mereka bisa bertemu satu sama lain.

“Dasar bego.” Gak perlu pake banyak kalimat, Daeri mampu mengeluarkan kesinisannya hanya dengan dua kata saja.

“Yeeh.. Bahagia amat lu berdua,”  Nichan mangkel ngeliat ekspresi duet mau BaekYeol yang bukannya merasa tengsin malah keliatan girang. Putus asa, Nichan memutuskan untuk nyuekin Baekhyun-Chanyeol yang masih aja ketawa-ketiwi berduaan,  “Iya, Ra.. Mencurigakan banget, ya? Senyam-senyum sendirian gitu.. Abis dapet sms dari ceweknya, kali?”

“Atau dari Sehun? Bisa jadi, kan?” kata Ara.

“Nah iya tuh! Lagian juga mereka lagi gak berduaan, padahal biasanya nempel mulu kayak upil kering di idung.”

Dasar jorok. Tapi perkataan Chanyeol berhasil membuat ketujuh tokoh utama kita yang dari hari ke hari makin kacrut ini langsung nengok ke arah Kai yang masih setia menunggu. Sesekali ia ngecek hp, kali aja ada sms atau kabar baru dari Sehun. Tapi nihil. Ia kembali bengong. Sebentar-sebentar matanya menerawang ke arah jendela yang gak begitu jauh dari tempatnya duduk. Terus bengong lagi. Ngeliat-liat ke arah lampu kelas. Bengong lagi. Dan terus berulang. Namun sosok Sehun tak kunjung datang. Ketujuh bocah imbisil kita kembali pada posisi awal pergosipan mereka dan meneruskan,

“Kira-kira, isi sms-nya apaan ya?” Baekhyun menerka-nerka.

“Mana gua tau…. Mungkin Sehun bilang kangen?” Jawaban Chanyeol bikin tiga yeoja gahar kita langsung males.

“Ya kali deh….” kata Daeri, mewakili dua sahabatnya yang lain.

“Sehun ke kamar mandi, mungkin?” kata D.O, lengkap dengan mata ekstra belo yang unyu dan bibir tebal menggemaskannya. Nichan, Ara, dan juga BaekYeol ngangguk-ngangguk.

“Bisa jadi,” kali ini Nichan yang mewakili.

“Atau bisa juga Sehun lagi ke kantin?” tebak Tao, yang daritadi diem aja.

Tiga minggu sudah Tao berteman dengan keenam makhluk jejadian itu, sejak mereka bertemu di atap sekolah dan bercerita banyak. Ia mulai bisa mengimbangi kekoplakan mereka semua dan udah gak heran lagi.

“Hm.. Itu juga mungkin,” gumam Nichan.

Lalu datanglah Baekhyun dengan idenya. “Sehun selingkuh?”

Tidak ada jawaban berarti dari peserta gosip lain. Apa yang Baekhyun dapat hanyalah tatapan tajam nan panas  sampai-sampai mampu mengeluarkan laser. Seolah tidak cukup dengan ketololan Byun Baekhyun, Park Chanyeol ikut menambah derita bagi tokoh utama kita lainnya.

“Sehun diperkosa?!”

Telah berpulang ke rahmatullah, wajah wangi bin mulus milik Baekhyun dan Chanyeol. Kini mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada kesterilan muka mereka yang tengah dihujani ludah-ludah para cewek yang bikin ibu hamil berdoa agar bayi mereka tidak berkelakuan minus seperti mereka.

“PAYAH LO BERDUA! EMANG GAK BISA DIANDELIN YE KALAU DIMINTA NGELUARIN PENDAPAT CUH CUH CUH!!”

Baekhyun dan Chanyeol yang lagi melindungi diri seperti mencium bau-bau permen yang udah Ara makan sejak tadi pagi. Sementara D.O, yang emang udah tau kelakuan bocah sompret yang satu itu senyum-senyum-salting sendiri. Tak peduli betapa beringasnya seorang Ara, ia tetap terlihat sangat manis di mata sang tuan muda.

“KITA KAN NEBAKNYA DARITADI BENERAN, JANGAN DITAMBAHIN SAMA HAL YANG ANEH-ANEH DONG, LU! BISA SERIUS GAK SIH CUH CUH!!”

Oh. Sampai-sampai Nichan juga ikutan geragas.

“CUH PRET DUT CUIH!!!”

Seperti biasa, kalau urusan begini yang paling semangat adalah Daeri.

Terbiasa dengan semua kenistaan dan bau-bau tak sedap, Baekhyun dan Chanyeol memutuskan untuk menerima semburan jigong penuh dosa tersebut dengan ber-haha-hehe.

“Ahahaha..! Muncul lagi deh serangan ilernya!” Nada Chanyeol terdengar miris, tapi ekspresinya seolah-olah mengatakan ‘terima-aja-dah-semprotan-ludah-mereka’. Begitu juga dengan Baekhyun yang mengangkat tangannya tapi tidak sepenuh hati.”

“Masih mending deh kita kenanya siang-siang.. Daripada pas sebelum pelajaran mulai?” katanya dengan muka gak kalah sumringah. Chanyeol membalas dengan anggukan kepala dan menggumamkan ‘he-euh.’

Beruntung, adegan yang amat sangat gak anggun barusan dihentikan ketika D.O menyadari keberadaan orang yang daritadi emang lagi ditunggu-tunggu, “Eh, itu anaknya dateng,”

Serentak, seluruh pandangan tertuju pada kehadiran Sehun yang baru masuk ke kelas. Ia membawa dua kantong plastik di kedua tangan, salah satu kantong terlihat lebih besar. Lalu pandangan tujuh tokoh utama kita berpindah pada Kai, yang menyambut Sehun dengan mata berbinar.

“Jadinya kamu beli apa?” Kai melepas headset yang baru aja ia pasang sebentar. Sehun mengangkat kedua kantong plastik sembari menunjukkannya pada Kai.

“Nih..”

Sementara Sehun duduk di bangkunya, dengan sigap Kai membuka bungkusan makanan dan meletakkan di masing-masing meja. Ia membukakan bungkus, meletakkan garpu, dan juga mengeluarkan minuman yang berada di kantong plastik lain.

“Yuk, makan,” Ajakan Kai disambut dengan anggukkan kepala Sehun dengan senyuman manis di wajah. Mereka bertatapan. Pipi Sehun langsung bersemu merah, malu. Angin berhembus kencang. Kemudian mereka ciuman. Hehe gak deng. Pokoknya, mereka makan dengan akrab sekali.

Kembali pada para tokoh utama kepo kita. Puas ngeliatin adegan yang membuat bunga bertebaran di sekeliling mereka, tujuh orang blekok tersebut langsung kembali ngerumpiin temen sekelas mereka itu.

“Hm.. Ternyata abis dari kantin.” Nichan bergumam.

“Wah, berarti tebakan kamu bener, Tao!”

Ara terlihat senang sekali, dan meskipun barusan bukan pujian, Tao langsung garuk-garuk kepala cengengesan. Melihat hal itu, D.O cemberut. Kenapa bukan aku yang nebak Sehun ke kantin? Kan nanti senyum Ara jadi buatku, bukan ke Tao.. Batinnya, muram. Tapi mengingat Tao sudah cinta setengah idup kepada Ling Ling, D.O kembali bersemangat. Cepat sekali bikin D.O yang sedih jadi seneng lagi? Polos sekali dia, huhuhu…. *tiba-tiba author kepikiran adegan Ara memperkosa D.O**huhuhehehehe* *author digorok pembaca*

Lamunan D.O (atau author?) buyar ketika Daeri berkata, “Mereka kok deket banget, ya?”

Baekhyun ngangguk-ngangguk masang muka sok tau. “Iya.. Padahal udah lewat berapa lama nih….tiga minggu, ya? Bukannya bosen, eh, mereka malah keliatan lebih nempel..”

“Tapi mereka gak pacaran, kan?”

Nichan jadi ngebayangin yang enggak-enggak begitu denger omongan Chanyeol. “Hm.. Gak tau juga.. Tapi masa sih?” kata Nichan. “Mereka kan disukain banyak cewek, sampe-sampe senior juga minta foto bareng.. Inget, kan?”

Ara menganggukkan kepalanya. Tangannya dilipat di depan dada. “Bukan disukain lagi.. Terutama si Kai, cewek-cewek pada neriakkin nama dia kan pas lomba?”

“Iya.. Nama yang paling sering disebut waktu itu sih emang si Kai,” Tao ikutan nimbrung sembari mengingat-ingat — meskipun sebetulnya agak males juga inget ketika ia pake daster panda yang tiba-tiba aja dikasih sama Yongguk (namja berotot itu bilang dengan suara ngebasnya “Ini buat lu pake. Gua gak tau dapet darimana si Himchan..”)

“Hm.. Jadi intinya, sebenernya mereka itu homo apa enggak?” kata Ara, “..mereka beneran pacaran apa enggak? Atau malah mereka saudaraan?”

“Hmm….”

Tidak ada satu pun dari enam tokoh utama kita lainnya yang bisa menjawab deretan pertanyaan dari cewek penggila permen itu. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing dan bertanya hal yang sama; Sehun dan Kai itu kenapa bisa deket banget? Apa mereka udah temenan dari dulu kayak Nichan-Daeri ataupun Baekhyun-Chanyeol? Tapi mereka gak sampe suap-suapan kok kalau makan.. Terus kenapa mereka bisa sedeket itu, ya? Baydewey, kenapa kita jadi super kepo gini? Ah, biarin deh. Terkutuk kau, mentor idiot yang nularin sifat kepomu kepada kami semua!

Obor terang terbakar di atas kepala Chanyeol, dibarengi dengan cengirannya yang melebar secara mencurigakan. Terlihat sekali niat gak bener di ekspresi mesum Chanyeol. Kenapa dia seperti itu? Ternyata ia dapat ide yang sangat keren dan oke (menurutnya). Apakah itu?

“Eh! Gua ada ide!”

Serentak, muka-muka asem-lagi-mikir teman-temannya langsung menoleh kepada Chanyeol.

“Apaan?” Baekhyun menggesturkan Chanyeol agar bocah koplak itu langsung bilang ide-nya.

Sudut bibir Chanyeol yang naik dengan sangat jijaynya itu bikin bulu kuduk ketiga yeoja kita langsung berdiri. Perasaan gua gak enak, nih..

“Hehehe.. Gimana kalau kita buntutin mereka?” Melihat wajah enam bocah kupret di hadapannya yang semakin bingung, Chanyeol meneruskan dengan tangan bergerak-gerak ikut menjelaskan, “jadi maksud gua gini, kita ada berapa orang nih? Satu, dua, tiga…., tujuh. Nah, kita bagi jadi berapa kelompok gitu.. Abis itu kita buntutin tuh si Kai sama Sehun, kali aja kita bakal tau mereka itu sebenernya pacaran apa enggak. Tapi kita ngintipinnya gak dalam satu hari yang sama! Kita bagi juga hari-harinya, pake apa kek.. Diundi bisa, ngajuin sendiri juga bisa.. Gimana?”

Berhubung punya pemikiran yang sederajat dan berada dalam satu spesies yang sama dengan Chanyeol, tanpa ada jeda, Baekhyun langsung menyetujuinya.

“Setuju banget!” Kemudian mereka berdua langsung tos dengan kenceng gak tau diri, sampe beberapa anak 1-D menoleh ke pojok kelas dan geleng-geleng kepala begitu tau siapa yang barusan bikin ribut.

Maka mikirlah kelima teman Park Chanyeol yang memiliki otak gak lebih waras darinya. Hm. Oke juga tuh ide Chanyeol. Daripada terus-terusan mikir dan bertanya-tanya sendiri, sekalian aja kita cari tau kebenarannya? Tapi. Ada beberapa masalah nih….

“Kenapa gak langsung tanya aja ke orangnya?” tanya Ara.

“Heh. Menurut lu, Ra? Kita, tujuh orang, tiga cewek-empat cowok, nyamperin temen sekelas kita yang jarang ngobrol sama kita dan langsung nanya; ‘hai bro! Cuma pengen nanya, nih.. Lu berdua homo ya, jieee~ Pacaran yaa~? Jie..’ gitu? Mau dikemanain nih muka kita?!” Seolah udah siap ngejawab pertanyaan seperti itu, Chanyeol langsung menimpali dengan cepat. Wajah Ara seperti langsung tersadar.

“Waduh.. Bener juga,” gumamnya.

“Eeuh.. Apa kita gak keliatan kepo banget ya kalau sampe niat ngebuntutin mereka?” Kali ini giliran Nichan yang bertanya.

“Udah gitu, kok kesannya kita gak ada kerjaan, sih? Sampe niat buat mata-matain dua orang temen kita. Sekelas pula..” Daeri ngangguk-ngangguk mendengar perkataannya sendiri.

Gak sabar, Baekhyun, yang merasa ide Chanyeol itu amat sangat jenius, langsung ikut membela sahabat lawaknya. “Yailah.. Kalau kepo sih kita emang udah terlanjur kepo, nih.. Lagian juga kalau kita terus-terusan ngomongin alesan Kai-Sehun bisa sedeket itu, apa bukan lebih gak ada kerjaan lagi?”

Mata Nichan, Daeri, Ara, D.O dan Tao langsung melotot hebat, kagum dengan jalan otak Baekhyun yang tumben-tumbenan nih lagi encer. Mereka langsung tepuk tangan berbarengan.

“Wooow… Baekhyun hebat..” ujar Tao, kagum. Dibilang begitu, anaknya langsung mesem-mesem dan garuk kepala.

“Wets.. Iya dong, hehehe..”

“Sial.. Harus gua akuin lu barusan bener,” Ara menggerutu, tapi ia tetep aja tepuk tangan.

“Jadinya…? Pada setuju gak nih? Nichan? Daeri? Ara?” Chanyeol menunjuk kepada tiga orang yang namanya ia sebutkan secara bergantian, yang disambut dengan anggukkan kepala dari ketiganya.

“Boleh..” jawab Nichan, cengengesan sambil ngelirik-lirik ke Daeri dan Ara dengan muka sama isengnya.

“Elu D.O? Tao?” Chanyeol kini berpindah pada dua namja yang pantatnya sedaritadi berdesakan di bangku kerajaan D.O.

Malu-malu, D.O mengangguk. Kalau Ara ikut, aku ikut! Pikirnya. Sementara Tao mengangkat tangan dan dengan bahagia berkata, “Ikuuut!”

Merasa puas dengan jawaban kelima bocah semprul di hadapannya, Chanyeol langsung menunduk ke arah tengah meja untuk membisikkan rencananya yang baru aja terpikirkan. Sementara yang lainnya juga ikut memajukan badan dan kepala mereka untuk denger lebih seksama. “Oke, jadi untuk hari pertama….”

* * *

Lalu, cerita ini berkembang ke arah lain..

Hari Pertama Pengintaian: Daeri – Baekhyun.

Berdasarkan pengambilan nama pasangan mata-mata lewat undian, Baekhyun harus berduka cita karena kedapetan satu tim sama Daeri. Seolah hal tersebut gak cukup membuatnya menderita, mereka kedapetan tugas mengintai di hari pertama. Ckckck. Nasib.

Setelah bel istirahat pertama berbunyi, Nichan, Ara, Chanyeol, D.O, dan Tao langsung menyemangati tim pertama agar melakukan tugas sebaik-baiknya. Fighting! Begitu yang mereka katakan saat Daeri dan Baekhyun menuju keluar kelas berdua sambil dorong-dorongan. Nichan dan Ara bertatapan. Belum ada lima menit dua bocah itu ditinggal berdua, eeh, udah berantem aja. Mereka berdua langsung menghela napas.

Yang sebenarnya terjadi adalah..

“GOBLOK! Gua gak bakalan mau masuk kamar mandi laki-laki! YA UDAH PASTI ELU LAH YANG NGIKUTIN MEREKA KE DALEM!!” Daeri nyekek Baekhyun dengan gak tau diri. Emosinya membara. Terlihat dari matanya yang melotot hebat, idungnya melar-melar kayak babi keracunan (gimana itu?), giginya gemertak kencang sampe keluar api. Ia terlihat seperti ingin menjadikan bocah somplak yang malang tersebut sebagai makan malam.

“A-ampun Daeri…. Hoek.. I-iya, tapi kan elu emang mirip laki. Ahahaha…! HUEEEKKKHHH!!”

Namun Baekhyun tetaplah Baekhyun. Jelas-jelas lagi dizholimi oleh titisan sadako itu, tapi masih aja bahagia ngecengin Daeri dalam keadaan kritis begitu. Dasar o’on.

“APA..?! LU BILANG GUA MIRIP LAKI?? KURANG AJAR EMANG LU SAMA AJA SAMA CHANYEO— eh? Kai sama Sehun belok tuh! Ayo cepet!”

Daeri langsung melepas semua jarinya yang melingkar di leher Baekhyun dan menarik sang korban pelecehan. Baekhyun, diam-diam lagi joget dalem hati (dan berteriak “akhirnya cekekan maut itu lepas dari leher gua! CIHUY!”) dan hanya bisa pasrah ditarik-tarik Daeri.

“Mereka kayaknya mau ke kantin deh? Iya gak sih?” Di sela-sela pengejarannya Baekhyun bertanya. Daeri melirik sinis.

“Kagak tau. Makanya kita ngikutin mereka dodol.”

Baekhyun cengar-cengir. “Hahahaa…! Lu masih kesel yak? Cie.. Daeri.. Cabal eap..”

Ngecengin Daeri dalam keadaan anaknya masih empet adalah tindakan yang amat sangat salah. Alhasil Baekhyun harus menerima kembali segala caci maki dan omelan pahit dari Daeri. Plus kali ini badannya didorong-dorong sembari ditabok-tabok dikit sampe oleng. Mungkin orang-orang yang jalan ngelewatin mereka mikir ini dua bocah TK darimana?

“EMANGNYA SIAPA YANG BIKIN GUA KESEL, HAH?! KITA HARUSNYA KAN NGEBUNTUTIN MEREKA DIEM-DIEM EH ELU MALAH NGECENGIN GUA MULU! UGH… GILA DASAR GDHDJ$#BKKLJ&&@!!”

Sungguh malang. Baekhyun pun sebenernya gak mau kok satu tim dengan seorang Kang Daeri yang tingkat kejutekannya udah gak bisa disembuhin lagi itu. Cuma mau gimana lagi? Takdir adalah takdir, entah itu pahit atau manis. Dan apa yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali. Baydewey, kenapa jadi ceramah begini?

“Ahahahaha…! Ampun, ampun, Daeri!” kata Baekhyun sambil melindungi dirinya, “Iya kagak lagi dah gua ngecengin elu, kapok! Yang ada gua balik ke asrama badan gua memar-memar semua. Ampun ya, ya, ya? Piss Daeri. Pis.. Pipis.. Hehehe,”

Daeri mengutuk Baekhyun dalam hati. Bukan karena dia benci setengah pingsan sama makhluk kacrut itu, tapi karena Baekhyun berhasil bikin dia pengen ketawa saat lagi empet sama dirinya.

Susah sekali bagi Daeri untuk gak nyengir, namun apa daya, ia kalah dengan rasa pengen ketawa dari dalam dirinya sendiri. Jadilah sekarang muka Daeri terlihat gak keruanan. Kesel iya, senyum iya, malu juga iya. Lagian gengsi banget sih jadi anak. Cuih.

“Yailah, lu mau ketawa sih ketawa aja kali.. Jiyee..” Baekhyun gak ada bosen-bosennya ngeledek Daeri.

“Bawel,”

Cekikikan puas dari Baekhyun cukup untuk membuat Daeri tengsin. Sedetik kemudian, ia celingukan. Dimana-mana para murid kelas satu pada mondar-mandir dan ngobrol. Ada yang bergerombol, sendiri, atau malah sama pasangannya. Gadis itu nyipitin mata. Cih. Anak kelas satu yang seangkatan sama gua aja udah ada yang punya pacar… Lah gua? Apa yang gua lakukan? Ngintilin orang untuk cari tau mereka homo atau enggak bersama dengan anak imbisil yang gak ada capeknya ngatain gua.. Hiks. Sedih. Ini sedih banget. Pikir Daeri.

Eh. Tunggu. Ada yang aneh.. Ngintilin? Iya juga ya, kita kan lagi ngikutin Kai sama Sehun!

“HOI BACON! Kai sama Sehun mane??”

Kaget, Daeri baru sadar kalau dua objek yang jadi target utama mereka kini ngilang entah kemana. Baekhyun geleng-geleng kepala dengan ekspresi meremehkan.

“Ini bocah.. Daritadi gua bilang apa, ya?” Baekhyun memasang muka sok kecewa. “Gua udah bilang ‘eh Daeri kayaknya Kai sama Sehun ngilang deh’ gitu barusan! Elu-nya aja yang bengong sampe gua panggil berapa kali tuh tapi tetep kagak denger! Congean lu dasar payah! CUH! PRET!”

Heheheh. Emangnya cuma Daeri yang bisa nyemburin ludah andalannya? Gua juga bisa, dong. Malah lebih jago gua daripada dia! Heheheh. Rasain lu, Daeri! Batin Baekhyun. Kebahagiaan menyelimuti dirinya ketika ia berhasil membalas Daeri.

Di sisi lain, aura-aura gak enak yang penuh dengan amarah membara berkobar featuring ketengsinan luar biasa yang gak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hidup seorang Kang Daeri, membuat ia tidak tahu harus berbuat apa. Luar biasa. Selama ini dia yang dijuluki ‘ratu jutek, judes, sinis dan sebagainya’ dan yang selalu bersikap cuek, harus berhadapan dengan makhluk yang urat malu kewarasannya udah putus kayak begini. Mimpi apa gua semalem?! Jerit Daeri dalam hati.

Geram, Daeri yang benar-benar telah kehilangan harga dirinya sebagai manusia paling sinis akhirnya gak bisa menahan diri. Dengan gemertak gigi maha dasyat darinya serta tatapan mangkel paling bengis yang pernah ia keluarkan, ia mencak-mencak ke Baekhyun.

“SE-TAN. A-LAS. BI-ANG. KE-ROK. MO-NYET. BE-RUK. SI-LU-MAN. KAM-BING. KU-NYUK. BU-SUK. BA-BI. NGE-PET EMANG LO, BACON!! AAGGHHH….!! BEGO! BEGO! LU ORANG PALING JELEK YANG PERNAH GUA TEMUIN!! BEGO! BEGO!”

Daeri membarengi dalam setiap penekanan kata yang ia ucapkan dengan tabokan bertubi-tubi yang berasal dari kedua tangannya. Malang nasib bahu Baekhyun, kayaknya malam ini ia ragu akan balik ke kamar asrama dalam keadaan bahu yang keren dan gagah seperti biasa. Kalau nanti Chanyeol nanya ke gua, gua bilang abis diapain, ya? Berantem sama beruang aja deh.. Tapi beruang darimana?

“A-ADAW! ADAW! Wah, makin ganas aja nih Daeri!! Ampun mbak! Ampun! Iya, iya gak lagi deh ngecengin elu-nya.. Iya. Gua stop sekarang! Ampooonn…!”

Pasrah. Itu kata paling tepat untuk menggambarkan suasana hati Baekhyun saat ini.

Berdecak kesal, Daeri langsung menghentikan serangan liarnya dan dengan satu geplokan terakhir, Daeri berkata, “AWAS LU! Gua sirem pake ludah kalau lu ngecengin gua sekali lagi..!” ancam gadis bertampang sadako berhati sembako (maksa) itu.

Baekhyun cengengesan. Iya, author gak salah ketik kok. Cengengesan. Kayaknya anak itu emang udah gak punya saraf merasakan sedih iri benci dan dengki deh.. Buktinya sehebat apapun caci maki yang Daeri hujamkan padanya, ia tetap terlihat bahagia seperti biasa, malah semakin bernapsu untuk ngatain Daeri. Cuma untuk sementara, daripada dia balik ke kelas tinggal nama, Baekhyun merasa lebih baik diem untuk sementara dulu dan kembali pada tujuan awal mereka.

“Hehehe.. Iya Daeri, iya.. Piiisss…”

Deretan gigi Baekhyun yang rapih terekpos dengan bohaynya ketika ia nyengir lebar dan membentuk tanda ‘peace’. Menghela napas berat, Daeri berkata, “Iye,” dengan simpel sekali.

“Si Kai sama Sehun kemana ini, ya?” Baekhyun ngedarin pandangannya ke sekitar mereka berdua. Cuma beberapa anak kelas satu yang gak sekelas dengannya yang terlihat di lorong lantai empat ini. Eh enggak deng. Itu ada Himchan sama Daehyun lagi ngobrol. Tapi kayaknya mereka gak liat gua sama Daeri deh. Cuek dah.

“Kan kata lu kayaknya mereka ke kantin? Mau coba ke sana gak? Apa masih mau nyari mereka di lantai ini?” tawar Daeri.

Mikir. Kalau keburu ke kantin tapi mereka gak ada, buang-buang tenaga. Tapi kalau gak ke sana siapa tau mereka ada?

“Hm.. Menurut lu sendiri gimana? Gua sih nyaraninnya kita cari aja dulu di lantai bawah.. Soalnya di lantai ini juga udah abis kita cari, kan?” Baekhyun melanjutkan, “Nah, baru deh kalau gak ada kita ke kantin.. Gimana?”

Menimbang-nimbang saran Baekhyun, Daeri pun setuju. “Yaudah, ayo turun.”

Dan turunlah mereka berdua ke satu lantai di bawah kelas mereka; yaitu lantai 3, tempat dimana berkumpulnya anak kelas dua. Berbeda dengan di lantai sebelumnya, Daeri dan Baekhyun kali ini ngerasa agak ngeri. Pertama, mereka gak biasa ke lantai ini. Kedua, ini biangnya senior kelas dua. Ketiga, baru aja nginjek lantai dua, eh, beberapa pasang mata udah ngeliatin mereka. Malu gila. Mana pada bisik-bisik ke arah mereka pula. Tanpa sadar, tangan Daeri menggenggam erat  lengan baju Baekhyun. Bingung dengan kelakuan anak horror itu, Baekhyun langsung menoleh ke arahnya.

“Oi Daeri,”

Daeri hanya menjawab dengan gumaman.

“Ngape lu?”

“Kagak ngape,” jawab Daeri, cepat.

Baekhyun mengangkat alis dan bahunya berbarengan. Kadang anak ini susah ditebak tingkah lakunya. Tadi kayak banteng liar yang dilepas, sekarang malah malu-malu gegara diliatin sama senior-senior. Anak aneh. Tentu saja Baekhyun tidak mengucapkan kalimat yang hanya ada di pikirannya itu. Bisa-bisa Daeri mencak-mencak lagi kayak tadi. Hii.

“Kok mereka ngeliatin kita mulu sih?” tanya Daeri ketika mereka udah mulai berjalan mencari-cari Kai dan Sehun.

“Ya elu-nya kayak gini, gimana mereka pada gak ngeliatin kita?”

Alis Daeri mengkerut heran. “Emang gua kenapa?”

“Ya.. Nempel-nempel ke gua,” Diliriknya Daeri yang akhirnya sadar kalau sedaritadi gadis beringas itu terus mencengkram lengan baju miliknya.

Buru-buru, Daeri melepas genggamannya dan berjalan mendahului Baekhyun dengan muka datar. Ia mencari keberadaan Kai dan Sehun yang belum juga muncul di hadapan mereka.

“Lho? Lho? Daeri? Kok gua ditinggal??” Baekhyun langsung mengejarnya.

“Cih. Gua gak nempel-nempel ke elu, kali! Gua cuma nerpes aja karena diliatin sama senior-senior. WEK!” Dan pada akhirnya keluar juga lewean maut sang kembaran sadako. Semakin sumringah-lah ekspresi Baekhyun yang udah gak keruanan dari sononya.

“Ciee.. Daeri malu yaa sama senior. Eaaa~! Kakak-kakak, Daeri minta diperhatiin nih— ADAW!!”

Gak sempet Baekhyun menyelesaikan kalimat, Daeri udah keburu memotongnya dengan dorongan di bahu yang udah sempet ia zhalimi tadi.

“AH BEGO! Mereka jadi ngeliat ke arah kita lagi, kan!!” Asem, sepet, manyun. Itu kata-kata yang pantas untuk menggambarkan bentuk muka Daeri.

Baekhyun ketawa cekakakan. Gak pernah ia liat Daeri salting kayak gini, apalagi di depannya sendiri. Hasrat untuk ngecengin sangatlah besar, tapi Baekhyun masih ogah digebukin sama cewek buas itu. Mengambil topik lain, Baekhyun berkata, “Eh, masa tadi ada senior cewek yang cakep, deh.. Yang berdiri di depan kelas pertama yang kita lewatin.”

Daeri mengangguk setuju dan menoleh ke arah Baekhyun ketika mereka udah jalan sejajar. “Iya tuh, gua juga liat. Rambutnya alus bener.. Mana anaknya imut-imut banget, lagi!”

“Oh, lu juga liat ya? Yang pake bando pink tadi?”

Daeri menganggukkan kepala. “Iye, yang rambutnya agak bergelombang di bagian bawah kan?”

Kali ini giliran Baekhyun yang manggut-manggut. “Iya yang itu! Gua kayaknya pernah liat dia ke kantin barengan Kyuri-noona deh..”

“Hah, masa? Gua malah baru pertama kali ngeliat dia.. Berarti temennya Kyuri-unni, dong?”

“Yaa, bisa jadi.. Gak tau juga sih.. Padahal kelas dua, tapi yang tadi tadi pendeknya sama kayak elu ya?”

“Iya, dia pendeknya sama kayak gua— heh. Maksud lu ape? Lu mau bilang kalau gua pendek, HAH?!” Akhirnya Daeri tersadar kalau barusan Baekhyun emang berniat ngebahas soal tinggi badan Daeri yang *maaf* gak begitu tinggi itu, alias ceper.

“Lho? Kan gua gak bilang apa-apa?? Bukannya elu sendiri yang ngomong begitu? WEK!!”

“IH! GAK USAH NIRU-NIRU GUA, JELEK LU!! CUH CUH CUH!!!”

Baekhyun kembali ketawa dengan jumawa ketika Daeri mulai menghujani dirinya dengan semburan iler yang sebelumnya udah Daeri janjikan kalau-kalau Baekhyun kembali ngecengin dirinya. Tanpa mereka ketahui, mereka telah berjalan melewati depan kelas 2-D, dimana Suho dengan tumpukan buku di pelukannya (ia dari perpustakaan abis ngambil buku untuk dibagiin ke teman sekelas), baru aja mau masuk kelas. Melihat dua sosok yang ia kenal dari belakang, tentu saja ia berhenti.

Itu bukannya Daeri sama Baekhyun? Ngapain mereka ke sini? Apa ada masalah? Batin Suho. Tetapi berhubung ia lagi berat bawa-bawa buku segede gambreng dan keliatannya Daeri dan Baekhyun lagi mengadakan perang, ia memutuskan untuk nanya di lain waktu saja.

Meskipun udah muterin koridor dari lantai empat sampai ke lantai paling bawah, dan juga udah ngecek ke kantin, tetapi Daeri dan Baekhyun tidak menemukan Kai dan Sehun. Hasil dari pengintaian hari pertama? Nol besar.

* * *

Hari Kedua Pengintaian: Nichan – Tao.

“Bukan gitu, Nichan.. Yang ditempelin di mata kita itu bagian yang lensa-nya lebih kecil.. Ini kebalik, kebalik— ya, bener kayak gini,”

“Eh? Gitu yah? Hm… Tapi kok masih gelap? Rusak kali?”

“Euhh.. Ini. Lensa-nya belum kamu buka,”

“Lho.. Iya juga ya? Aha. Ahaha.. Jadi malu. Ehe.”

Tidak jauh beda dari Baekhyun yang menderita lahir batin pada pengintaian kemarin, Tao pun bernasib sama malangnya dengan namja koplak tersebut.

Kalau pas Baekhyun pulang memiliki bahu yang keliatan gak sedep, mungkin sekarang Tao balik-balik ke kelas dengan muka yang gak sedep. Gimana enggak? Sejak mereka berjalan dari keluar kelas sampe ngiderin koridor lantai empat ini, Nichan malah haha-hehe-aha-ehe ke setiap orang yang ia temui. Ramah sekali ia? Sebetulnya, ia memang ramah. Tapi alasan kenapa Nichan melakukan hal tersebut adalah karena ia nerfes sampe herfes. Menurutnya, pengintaian Kai-Sehun kali ini adalah tugas ter-asik yang pernah ia lakukan, tapi sayangnya, justru karena itu ia jadi ngerasa grogi. Jadilah setiap orang yang ketemu dengannya malah dikasih cengiran amit.

Bayangkan saja. Satu orang namja berambut hitam, bermuka sangar, banyak tindikan di kuping, mata berkantong. Jalan berdampingan dengan gadis tinggi berambut coklat bergelombang lengkap dengan tampang o’on. Teropong tergantung di leher masing-masing bocah mencurigakan tersebut. Keduanya celingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu — atau seseorang. Yang cowok masang muka serius, sedangkan yang cewek masang muka plonga-plongo dan senyum ke setiap orang yang papasan sama mereka.

Park Nichan dan Huang Zitao mungkin bisa menjadi agen mata-mata yang paling gampang ketauan dalam sejarah pengintaian di dunia ini.

“Nichan! Mereka ke bawah!” Tao berbisik ke Nichan, membuat gadis itu langsung berhenti senyumin anak kelas satu lain yang ia gak kenal dan mempercepat langkah.

“Hah?! Oke oke, kita ikutin terus!”

Nichan dan Tao segera mengejar Kai dan Sehun diam-diam. Kaki mereka setengah berlari, sementara badan bungkuk-bungkuk. Orang-orang memperhatikan gelagat mencurigakan mereka sambil bertanya-tanya ‘kenapa dua anak kacrut ini bisa satu sekolah dengan gua?’

Merasa aman, Nichan dan Tao ngintip dari balik tembok untuk melihat kemana arah Kai dan Sehun pergi; hanya untuk melihat adegan cewek-cewek ngerubungin mereka berdua untuk minta foto bareng di tangga menuju lantai tiga. Mau gak mau, Nichan dan Tao sabar menunggu. Baydewey, ‘sabar menunggu’ kayak tulisan di belakang bajay yang pernah author liat, deh? *author curhat*

Puas minta foto bareng, cewek-cewek itu pergi. Bahkan sebelum pergi mereka sempet melempar ciuman ke arah Kai-Hun.

“Huehh… Apa-apaan tuh cewek-cewek..” Nichan shock melihat betapa populer pasangan Kai-Hun di antara senior.

“Sejak lomba futsal pake daster, Kai sama Sehun langsung dapet banyak fans..” jelas Tao dengan suara kecil.

Nichan mengangguk. “Ooh.. Kalau lu dapet fans, gak? Eyaa.. Eyaa..” Muka Nichan langsung berubah jadi jail. Emang deh kalau udah urusan  iseng Nichan gak usah ditanya.

Tersipu malu, Tao menyunggingkan senyum simpul. “Aku dapet beberapa surat dan coklat. Tapi yah, gak sebanyak Kai dan Sehun sih, kalau menurutku..”

Nichan menyikut-nyikut lengan Tao. “Ah, lu jangan merendah gitu, lah.. Lu kalau disukain sama banyak cewek tapi tetep cuma sayang sama satu cewek itu hebat loh!”

Garuk-garuk kepala, Tao gak bisa jawab apa-apa lagi. Ia larut dalam kesaltingannya sendiri, sampai ia sadar kalau mereka berdua kelamaan duduk di lantai dan menyadari….

“Kai sama Sehun mana??”

Nichan gak kalah kaget dengan pasangan satu timnya itu. “Eeeh? Oh iya! Ayo kejar lagi!!”

Mereka berdua langsung segera turun tangga. Nichan terpaksa harus minta maaf mulu ke setiap orang yang ia senggol. Emang anak itu sekali lari gubrak-gabruk heboh sih.. Sesampainya di lantai tiga, Nichan dan Tao harus mengambil napas dulu. Tapi percuma, mau lari secepet apapun mereka, sosok Kai dan Sehun udah keburu ngilang dari pandangan. Yang ada di koridor lantai tiga hanyalah senior-senior kelas dua yang emang udah seharusnya ada di situ.

“Waduh.. Mereka kemana, ya?” gumam Nichan.

Tao mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat ke sekeliling, berharap menangkap jejak langkah Kai. Tetapi sayang, jejak langkah Kai dan Sehun terhapus oleh hujan. *ada yang ngerasa gak sih kalau ini mirip sama lirik lagu?*

“Kemaren Daeri sama Baekhyun juga keilangan mereka di lantai tiga, kan?” Tao berusaha mengingat-ingat apa yang tim mata-mata pertama itu katakan sekembalinya mereka dari tugas (yang menurut mereka) keren ini.

Nichan manggut-manggut. “Iya.. Sebenernya ada apa sih di lantai tiga? Hosh.. Heran.”

Tao menepuk pundak Nichan, sedikit mendorongnya dan berjalan. “Yaudah, kita coba cari aja..”

“Oke.. Ahaha.. Aha.”

Nichan dan Tao ngintip-ngintip ke dalam di setiap kelas yang mereka lewati. Tentu saja dari jendela yang menghadap ke koridor. Kelas pertama sih gak ada.. Kelas kedua juga gak ada. Kelas ketiga? Wah. Ada yang bawa pizza! Kalau bukan karena ditarik oleh Tao, Nichan pasti udah ngeloyor masuk ke dalem kelas. Kelas keempat? Sama. Gak ada juga.

“Yah.. Kok gak ada, ya?” Suara Nichan terdengar kecewa. “Padahal kayaknya tadi waktu kita ngobrol, Kai sama Sehun perginya belum terlalu lama, deh?”

Mata Tao terus mengawasi wajah-wajah setiap anak di kelas… 2-D? Ya. Itulah yang terpampang di atas pintu kelas tersebut. “Hm.. Mungkin mereka langsung terus turun ke bawah? Atau ke kamar mandi?” tebak Tao.

“Iya sih..” Nichan juga ikutan melihat-lihat ke dalam.

Tiba-tiba, Tao merasakan ada yang menepuk pundaknya. Berlatih wushu sejak kecil membuat ia refleks melindungi diri. “Eh?! Kenapa Tao??” Nichan kaget setengah idup dan sekaligus merasa takut ketika Tao secepat kilat mengangkat kerah orang yang menepuk pundaknya barusan. Wajah Tao terlihat siap untuk membunuh.

“Ta-tao! I-ini aku!” Suho gelagapan. Seseorang dengan hati ramah seperti dirinya tidak pernah sekalipun ditatap dengan pandangan tajam seperti yang Tao lakukan sekarang ini. Tapi tak lama, begitu Tao sadar kalau orang yang mau ia jotos adalah mentor kesayangannya, ekspresi Tao langsung berubah.

“Maaf.. Hyung! Aku benar-benar minta maaf!!” Tao melepas kepalannya di kerah Suho dan segera membungkuk-bungkukkan badan. Berkali-kali. Hingga Suho menghentikannya dengan berkata,

“Tao.. Sudah, tidak apa.. Hehe. Aku kaget, kamu kuat sekali bisa mengangkat aku,”

Gak ngaruh. Perkataan mulia seorang Suho gak membuat Tao yang memiliki hati sensitif merasa lebih baik. Bahkan kini Tao terlihat seperti ingin menangis.

“Hyung.. Aku benar-benar minta maaf sekali, aku tidak bermaksud.. Aku..”

Nichan, yang menyaksikan semua kejadian itu tidak bisa tinggal diam. Ia juga ikut membungkukkan badannya ke Suho, mengikuti gerakan yang sudah dilakukan oleh Tao sebelumnya.

“Hyung.. Eh? Euhh.. Maksudku, oppa.. Maafin Tao, ya. Dia gak sengaja. Dia cuma kelebihan energi, itu aja! Soalnya kan dia jago wushu dari dulu. Jadi maafin dia ya, oppa..”

Suho bingung. Padahal dia sama sekali gak marah, tapi Nichan dan Tao terlihat depresi banget minta maafnya. Udah gitu, gimana dia bisa marah? Mereka adalah salah satu (salah dua?) murid 1-D yang ia sayangi, apalagi ia tau bahwa Nichan dan Tao bukan anak yang jahat……walaupun sebenernya otak mereka juga gak bener-bener amat sih *author disembur ludah sama Nichan*

Mantan mentor 1-D itu mengeluarkan senyum tulus sembilan juta watt-nya. Tapi lama kelamaan ia sadar. Nichan dan Tao ngapain ngalungin teropong gitu?

“Udah, gak apa Tao.. Kamu kan gak sengaja.. Lagian, malah bagus tuh kamu jadi bisa melindungi diri kamu sendiri sama teman-teman lainnya kalau wushu-mu udah sejago itu.. Hehehe,”

Tao merasa terharu. Betapa indahnya punya senior seperti Suho ini. Sebetulnya hati orang ini terbuat dari apa sih, bisa sampe segininya.. “Makasih, hyung.. Dan aku minta maaf sekali lagi, aku akan berhati-hati..”

“Tidak apa, kok..” Suho menepuk pundak Tao, kali ini untuk menenangkan adik kelasnya tersebut. Menandakan bahwa ia memang tidak merasa terganggu dengan hal barusan.

“Oh, iya.. Ini kelasnya Suho-oppa, ya? 2-D?” Nichan menyambar. Ia meneliti isi kelas, dari satu wajah ke wajah lain. Dari satu meja ke meja lain. Sebetulnya sih, ia berharap ada yang bawa makanan enak lagi.

Suho menoleh ke arah Nichan. “Hm? Iya.. Kalian baru aku kasih tau, ya? Aku duduk di pojok situ..” Suho menunjuk ke meja yang berada paling dekat dengan jendela yang mengarah ke lapangan. “Kyuri duduk di sebelahku—“

Mata Tao langsung membelalak. “Kyuri-noona juga di sini??”

Terheran-heran, Suho mengangguk. “Iya.. Aku belum pernah bilang, ya? Kami berdua emang sekelas dari kelas satu, barengan sama Lay dan Chen..”

Nichan langsung mengerutkan alis begitu mendengar dua nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya. “Lay? Chen?”

Kembali, Suho manggut-manggut. “Yap. Inget yang waktu itu lari bersamaku dan Kyuri pas kita dihukum lari keliling lapangan? Itu namanya Lay. Kalau Chen, kalian emang belum pernah liat. Nanti aku kenalkan, ya..”

Nichan dan Tao membalas senyuman tulus Suho dengan sumringah. “Hehe.. Iya, hyung..”

Tersadar, Nichan baru kepikiran alasan Suho berada di luar kelas. “Euhh.. Suho-oppa kok di sini, bukannya di dalem kelas? Tadi mau ngomong sama Tao, kan?”

Untunglah Nichan ngebahas soal itu, Suho terlihat seperti orang yang baru inget akan sesuatu. “Oh, iya! Aku sebetulnya mau nanyain ini,” Suho memikirkan kata-kata yang tepat untuk menanyakannya. “Ng.. Kemarin aku ngeliat Daeri sama Baekhyun jalan di depan kelas ini juga. Tapi karena aku lagi bawa buku, aku jadi gak sempet nanyain. Tapi ternyata hari ini kalian yang ke depan kelasku.. Sebetulnya, ada apa? Dan kenapa kalian bawa-bawa, ehm….teropong?”

Berbarengan, Nichan dan Tao mengangkat teropong masing-masing. “Oh, hehehe.. Eng..” Nichan grogi. Ketika Chanyeol mengungkapkan ide ini, ia bilang untuk ‘jangan kasih tau siapa-siapa’. Dilihatnya Tao yang juga tengah menatapnya dengan penuh pertanyaan. Tak lama, namja bertindik itu mengangguk, akhirnya Nichan menghela napas sebelum memutuskan untuk menceritakan kepada Suho. ” Sebenernya…..”

Nichan menjelaskan semuanya dengan jujur. Mulai dari kecurigaan mereka bertujuh terhadap keakraban Kai-Sehun di kelas. Pembagian tugas mata-mata. Dan juga setiap tim yang udah mengintai harus melaporkannya di kelas ketika pelajaran. Sesekali Tao juga ikut membantu Nichan dalam menjelaskan perincian rencana mereka. Tentang Chanyeol yang dengan sigap dan lihai bikin undian pembagian tim dan juga waktu pengintaian, sampe-sampe pada curiga jangan-jangan sebelumnya Chanyeol udah pernah ngelakuin hal begini?

“Oooh.. Jadi gitu. Wah, seru juga, ya?” Suho cekikikan.

Nichan dan Tao bernapas lega. Untunglah, Suho tidak benci dan menganggap mereka sebagai anak yang terlalu ingin ikut campur urusan orang lain.

“Hyung…tidak marah?”

Wajah ramah Suho terlihat bingung. “Eh? Kenapa harus marah?”

Nichan terlihat salting. “Ng.. Karena kita kedengerannya kayak kepo banget?”

Ngeliat Suho yang tiba-tiba ngakak sampe megangin perut jelas bikin Nichan dan Tao cengo. Mereka mau gak mau jadi ikutan cengengesan sampe akhirnya tawa Suho mereda dan menjelaskan,

“Ya ampun.. Menurut kalian kalau segitu kepo, gimana dengan Kyuri? Aku udah dari dulu temenan sama dia, dan asal tau aja, temen kita yang namanya Lay juga gak kalah gosipnya sama dia.. Jadi menurutku, apa yang kalian lakuin ini udah biasa banget, tenang aja..”

Seolah-olah ada cahaya yang datang dari belakang Suho, ia terlihat amat bersinar. Senyumnya ekstra ramah. Matanya membentuk seperti bulan sabit ketika bibirnya tersungging. Giginya rata dan putih, mungkin itu yang membuatnya keliatan gemerlap?

“Hehehe.. Iya juga. Aku lupa kalau dulu pernah kedapetan mentor yang keponya sedasyat Kyuri-unni, hehehe..” Nichan garuk-garuk kepala.

Suho terkekeh. “Yah.. Orangnya lagi ke kantin sama Lay dan Chen, sih.. Eh, kalau gitu sekarang Kai sama Sehunnya kemana?”

Bagaikan obor, pertanyaan Suho seolah membakar kembali api ingatan dalam otak Nichan dan Tao. “Hah! Iya juga…! Kita makin keilangan mereka! Aduhh…” Nichan beralih ke Tao dengan panik. “Tao! Ayo pergi sekarang! Kita ke lantai bawah aja!!”

Membungkuk pamit ke Suho, Nichan dan Tao langsung ngacir ke tangga bawah untuk menemukan target mereka yang hilang. Gak ada. Akhirnya tim Nichan-Tao beralih mencarinya ke kantin. Ujung-ujungnya mereka malah jajan semangka.

Sayangnya, seperti pada kasus Daeri dan Baekhyun, Nichan dan Tao pun tidak menemukan Kai dan Sehun dimana-mana. Hasil dari pengintaian hari kedua? Kai dan Sehun cuma dimintain foto bareng, gak lebih. Setelah itu jejak mereka ilang lagi.

* * *

Suho sedang mendengarkan lagu-lagu di iPod-nya ketika Kyuri, Lay, dan Chen masuk kelas setelah dari kantin. Mereka bertiga membawa kantong plastik masing-masing di tangan kanan mereka. Suho langsung melepas earphone dan menyambut kedatangan mereka bertiga. Seperti biasa, dengan senyuman.

“Suh, tadi di kantin lagi ada menu spesial ‘Kwetiau Rebus Seafood’. Nih gua beliin buat lu,” Kyuri meletakkan kantong plastik di atas meja Suho sebelum ia duduk di tempatnya.

“Wah! Makasih ya..” Suho menoleh ke arah dua sahabatnya yang lain. “Kalau Lay sama Chen beli apa?”

Lay memutar kursi sampai menghadap ke Kyuri dan sambilan duduk, ia membuka bungkus makanan. “Taraa~!” Terpampanglah Spaghetti Carbonara yang masih ngebul. Suho langsung cekikikan. Kyuri langsung ngeces.

“Wow.. Bagi dong,” Chen nyeletuk dari samping Lay dan bersiul. Ia pun memutar kursinya jadi menghadap Suho.

Lay berdecak kesal. “Boleh, tapi makanan lu buat gua. Semuanya.”

Chen membuat ekspresi muka jijik ke arah Lay dan ngelewe. “Sori, ya. Gak bakal nih lauk sampe ke tangan lu,”

“Oke, begitu juga dengan gua..” Lay ikutan ngelewe.

Kyuri diem. Diliriknya Suho yang masih ketawa-ketiwi ngeliat tingkah dua bocah kupret kelas 2-D ini. Ia kembali ke Lay dan Chen sambil berkata, “Lu berdua, saling berbagi makanan atau mau gua sebar gosip boong kalau lu berdua pacaran?”

Panik. Lay dan Chen langsung geleng-geleng kepala dan membentuk tanda silang dengan kedua lengannya. “GAK! GAK! Kyuri, plis jangan..” Chen memohon pada Kyuri dengan tatapan melas.

“Kyuri. Gak. Ada. Acara. Homo. Homoan. Plis. Gua normal. Chen normal. Oke? Iya ini gua bagi nih.. Chen-bukabungkusanmakananlucepetan, oi,” Lay langsung dengan sigap ngambil beberapa gulungan spaghetti yang siap untuk dikasih ke Chen. Ketika ngomong sama Chen, ia terdengar seperti sedang nge-rap.

“Iya, iya.. Ini juga Beef Teriyaki gua sebagian buat elu, nih-nih-nih,” Setengah hati dan gak niat, Chen ngoper lauknya ke atas bungkus makanan Lay.

Kyuri manggut-manggut puas. “Nah.. Gitu dong,”

Suho hampir aja lupa mau nyeritain hal bagus ke Kyuri — dan juga Lay, meskipun ia belum kenal dengan anak-anak aneh bin ajaib dari kelas 1-D. Tapi ia memutuskan untuk ngasih taunya nanti aja.

Perbincangan pun dimulai di antara keempat orang tersebut. Dari Jaesuk-seonsaengnim yang minggu ini alesan party-nya adalah merayakan TV-nya yang baru direparasi, tentang Siwon-seonsaengnim yang nyuruh Luhan ambil buku di tempat agak tinggi, pada akhirnya Siwon ‘terpaksa’ ngebantuin Luhan ngambilin buku tersebut hingga akhirnya dada bidangnya menyentuh kepala Luhan. Kyuri yang melihat hal tersebut.

Gak mau kalah, Lay juga cerita mengenai Siwon-seonsaengnim ketika ia menyuruh Kris mengambilkan bolpen Siwon yang terjatuh di bawah meja ketika hanya ada Lay, Kris, dan Siwon di ruang guru sepulang sekolah. Saat Kris setengah nungging untuk mengambil bolpen Siwon yang ‘gak sengaja jatuh’, Siwon menatap bagian belakang Kris dengan mata membara.

Mereka berempat langsung heboh dengan kelakuan guru mereka yang satu itu. Kemudian cerita terus berkembang dan berkembang, sampai akhirnya Suho tidak tahan untuk cerita.

“Ehm.. Kyuri, aku juga punya sesuatu yang bagus,”

Kyuri berhenti mengunyah. Ia meoleh ke arah Suho dengan tatapan yang seolah sedang meneliti. Begitu juga dengan Lay dan Chen. “Apaan tuh??” tanya Kyuri. Dari nadanya terdengar sekali ia mengharapkan hal bagus.

Cengengesan, akhirnya Suho bisa juga cerita hal spektakuler, terutama yang belum Kyuri tau. “Hehe.. Kamu tau gak? Sekarang kan anak-anak kelas 1-D, eh, tapi cuma Nichan, Tao, Daeri, Baekhyun, Ara, Chanyeol sama D.O doang deng.. Mereka lagi mata-matain Kai dan Sehun,”

Asli. Kalau ada kamera saat itu juga, Suho dan Chen rasanya pengen motoin muka Kyuri yang blesek bin gak karuan itu untuk diabadikan dan juga muka Lay yang sangatlah Lay. Mereka keselek makanan karena ngeliat tampang-tampang goblok di hadapan mereka ini.

Mendramatisir, Kyuri menggebrak meja. “DEMI WHADDD?!” Ngomong-ngomong, ‘demi whadd’ itu maksudnya ‘demi apa’. Bego emang tuh anak.

“Anak-anak yang emang tukang bikin rusuh itu?? SERIUS??” Itulah Lay. Meskipun belum kenal, tapi ia merasa penasaran. Sungguh mati si Lay jadi penasaraaan~ *nyanyi dangdut* *author kumat*

Suho mengangguk bangga. “Yap! Dan sebetulnya kemaren pas aku balik dari perpustakaan, aku ngeliat Daeri dan Baekhyun abis lewat di depan kelas kita.. Tadinya mau nanya, tapi karena aku lagi repot jadinya gak jadi. Tapi hari ini aku ketemunya sama Nichan dan Tao.. Dan ternyata,” Suho menarik napas. “..mereka kayak ngebagi jadi empat kelompok. Daeri-Baekhyun jadi tim pertama yang ngebuntutin Kai dan Sehun, kalau hari kedua pengintaian — yang kebetulan terjadi hari ini, giliran Nichan sama Tao. Terus kata Nichan yang bakalan mata-matain Kai-Hun, itu sebutan untuk pasangan Kai dan Sehun kata si Nichan, hehe.. Besok itu giliran tim Ara sama D.O. Hari terakhirnya baru deh, Chanyeol.. Orang yang ngusulin semua ini.”

Tingkat konsentrasi Kyuri dan Lay berada dalam posisi puncak kalau udah ngedengerin cerita seru yang berlangsung di sekitar mereka. Emang dasar pada tukang gosip sih.

“Hahaha! Ada-ada aja mantan murid yang lu mentorin, hyung..” Chen, yang notabene lahir tahun ’92, belum mengetahui sepenuhnya dari kesablengan para junior baru. Ia cuma terkekeh sambil sesekali menyuap makanan.

“Emang.. Kamu kalau denger semua cerita mereka seru deh..” Suho entah kenapa merasa bahagia karena memiliki junior yang gak ngebosenin macem mereka itu lah.

Kyuri dan Lay masih cengo dengan mulut nganga. Kemudian mereka berpandangan masih dengan muka yang terlihat tolol.

Ada kejadian sebagus itu terjadi di lantai atas mereka dari KEMAREN?? Dan mereka baru tau HARI INI?! Hancur sudah nama besar mereka sebagai penggosip handal seantero sekolah… Baydewey, nama besar kok sebagai penggosip? Dasar o’on.

“Lu serius, Suho…?!” Lay takjub. Lebih kepada junior-juniornya yang dengan sangat kreatif membuat acara seperti itu.

Kyuri juga gak kalah kagum. “Kapan?? Maksud gua, lu ketemu sama bocah-bocah berandal itu pas kapan?? Jam berapa?!”

Gak pake inget-inget, Suho langsung menjawab Kyuri. “Kemaren aku ngeliat Daeri dan Baekhyun pas istirahat pertama. Hari ini Nichan sama Tao juga pas banget istirahat pertama.. Jadi mungkin besok—“

“YOSSHHH…!! LAY, BESOK KITA CEGAT BOCAH-BOCAH ITU DI DEPAN KELAS KITA!” Kyuri mengepalkan tangan ke atas dan langsung berdiri, seolah-olah ada api yang membakar semangatnya sampai Chen harus kipas-kipas untuk mendinginkan dirinya.

“AYO!! KALAU BISA, KITA IKUTAN MEREKA BUAT MATA-MATAIN KAI-KAI-SIAPA LAH ITU NAMANYA!!” Semangat Lay gak kalah Lay. Salah, maksudnya semangat Lay sama besarnya dengan Kyuri, sampai-sampai Suho juga harus menjauh sedikit supaya kwetiaw rebusnya gak jadi kwetiaw panggang.

Suho menahan ketawanya. Ia melirik ke arah Chen yang geleng-geleng kepala, heran kenapa juga dia betah jadi temen dua makhluk jelmaan dedemit seperti Kyuri (kalau Lay sih jelmaan pangeran kali, ya? Huuhuhu *author dilindes truk semen sama pembaca*).

Kyuri, Lay, Suho, dan Chen rasanya pengen cepet-cepet hari esok supaya tau bakal gimana jadinya.

– To Be Bersambung –

Iklan

12 pemikiran pada “My Senior High School (Chapter 6a)

  1. ????????????????
    sejak kapan lay oppa jadi tukang gosip dan penuh semangat membara?
    perasaan lay oppa adalah orang tanpa ekspresi yang cuman bisa pasang wajah datar, dech?
    terus kaihun sebenerx kemana sich? kok ngilang mulu kerjaannya?????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s