We Were In Love (Chapter 3)

“WE WERE IN LOVE”

(No Author POV xD)

 

Cast    :          

            – Kim Jong In

            – Park Chanhee (OC)

            – Kim Yae In (OC)

            – Park Chanyeol

            – Byun Baekhyun and EXO members

Support Cast : –  Park Kahi as Mrs Kim, Kang In as Mr. Kim

 

 

Canhee POV

 

“Yeoboseyooo~” jawab si empunya malas. Mungkin dia baru bangun tidur.

“Jong In~ahh…”

“Ne?”

“Bagaimana kalau hari minggu pagi besok kita jalan – jalan santai bersama kakakku…? Beberapa hari ini kakakku terlihat tidak bersemangat dan sedih. Aku ingin mengajaknya sekedar merefresh otak. xD Bagaimana menurutmu? Kau bisa mengajak Yae In.”

“Kita jalan – jalan ke taman ? Tentu aku akan mengajak Yae In. kau tau? Beberapa hari ini wajahnya ditekuk terus. Aku juga bingung ada apa dengannya.”

“Eh? ada apa dengan Yae In?”

“Mana aku tau..dia jadi jarang keluar rumah dan berdiam diri di kamar.”

“Humm..sekalian aku akan mengenalkan kakakku pada Yae In. dia kan belum pernah bertemu oppaku..”

“Hmm..arra”

“Baiklah…kita sepakat Jong In~ahh?”

“Sepakat xD”

“Deal?”

“Deal!”

——

@Sunday morning…….

“Jong In~ahh! Yae In~ahh!” teriakku pada dua orang yang tengah mondar – mandir mencari seseorang yang mungkin itu aku dan kakakku. Mereka berdua tersenyum dan berjalan kearahku.

“Kau sendiri?” tanya Jong In kemudian.

“Aniyo..oppaku sedang membeli minuman..”

“Oh..”

Beberapa menit kemudian yang di tunggu – tunggu pun datang.

“Annyeong..mianhae aku~” dia terbengong saat kami semua menoleh ke arahnya. Aku melihat matanya tertuju pada Yae In dan Yae In pun demikian. Dia terlihat diam tenang walau pun wajahnya menunjukkan ketegangan. Ada apa ini?

“Ehh? Ada apa dengan kalian berdua..?” tanya Jong In kemudian.

“Ah..aniyo..hahaha” jawab oppaku dengan tawa yang sangat terlihat di paksakan.

“Kalian sudah saling kenal..??” tanyanya lagi.

“Ah..aniyo. aku baru sekali ini bertemu dengan Yeodongsaengmu Kkamjong!” ucap oppaku sembari menepuk punggung Jong In. Yae In terlihat sedikit kaget dengan ucapan oppaku. Iish..sebenarnya ada apa ini? “Perkenalkan aku Park Chanyeol…^^” ucapnya sembari membungkuk kearah Yae In.

“Yae In imnida…” balas Yae In sedikit ragu.

Setelah berbasa – basi begitu lama dengan percakapan tak bertema dan tak ter-connect sama sekali (?), kami pun memilih untuk jalan – jalan berkeliling taman mumpung hari masih sangat dini. Aku berjalan di depan bersama Jong In sedangkan Yae In dibelakangku bersama Chanyeol oppa. Yah! Apa pun yang terjadi di antara mereka, aku harap mereka bisa berteman baik. Lagipula aku tahu kalau oppaku itu tidak bisa benci pada seseorang. Apalagi seorang yeoja.

Aku dan Jong In berjalan sedikit menjauh dari Yae In dan Chanyeol oppa.

“Chanhee~yaa, apa ada sesuatu diantara mereka?” tanya Jong In sedikit berbisik.

“Ah molla..mereka kan baru bertemu..mana mungkin saling mengenal…kakakku baru saja pulang ke Seoul beberapa bulan yang lalu. Dan dia hanya keluar dan menghabiskan waktu bersama teman – temannya. Mana pernah mereka bertemu..”

“Benar juga! Ah masa bodoh!”

“Dasar!” aku mengacak rambutnya kasar.

Setelah sekitar satu jam kami mengelilingi taman kota yang cukup luas ini, kami merasa lelah dan memilih untuk beristirahat di bawah pohon.

“Le~~lah!” Jong In meniup – niup poninya lucu.

“Oppa..tadi kau bawa minuman kan? Mana?” pintaku pada Chanyeol oppa yang anehnya sedari tadi tidak bicara sepatah katapun.

“Hum?! Eh, ini..” Dia menjulurkan tangan panjangnya yang menggenggam botol minuman ke arahku.

“Gomawo…” aku segera meneguknya dan aku berikan pada Jong In. dia pun segera meneguknya cepat hingga habis.

Beberapa menit kemudian melintaslah 2 orang muda mudi sedang berboncengan sepeda di depanku. Aku menatap pasangan tersebut dengan perasaan kagum xD. Eh?! kenapa aku jadi membayangkan Jong In dan aku? Hah..mana mungkin. Dia mana ada romantis – romantisnya. Yang ada malah mempermalukanku nantinya.

—–

Jong In POV

Kenapa dari tadi aku lihat Chanhee memandangi sepeda itu. Akh! Aku tau! Pabo..dia selalu menginginkan sesuatu tapi tak pernah mau berbicara padaku.

“Chanhee~yaaa..kajja!” aku menarik tangannya untuk segera berdiri. Dia hanya melongo bin bingung. xD

“eo…eodie ?”

“Kita coba sepeda itu yuk!” ajakku dengan senyum sepolos – polosnya.

“Eh?! arraseo..tapi bagaimana dengan mereka?” dia menunjuk pada 2 orang yang cengo melihat aku dan Chanhee.

“Mereka kan sudah dewasa..kalian bisa pulang sendiri kan? Akh! Aku tau itu. Hyung, Yae In~ah aku pergi dulu ne? okay..annyeong…” tanpa menunggu jawaban lagi aku segera menarik tangan Chanhee menjauh.

—–

Yae In POV

Ige mwoya ? jadi dia kakaknya Chanhee, aishh sial. Kenapa harus dia ? dan masalah ini apa yang harus aku lakukan … Chanhee dan Kkamjong, aku hanya diam tak berniat sama sekali untuk bicara. Sepertinya dia juga begitu. Ya setelah masalah waktu itu……

Flashback

Hei…kenapa Chanyeol tidak menghubungiku ya semalam? Apa dia marah karena aku membatalkan yang semalam ? semua spekulasi itu muncul di benakku.

Ku langkahkan kakiku menuju fakultas fotografi yang gedungnya jauh di seberang gedung ku. setelah bertanya pada beberapa orang disini sampailah aku di depan ruang fotografi. Fiuhh…akhirnya. Hehehe

“Channie-ya kau tidur saja dulu. Kau terlihat tidak baik, nan galkkeyo..” ternyata dia ada, tapi masih ada temannya. Ku putuskan untuk menunggu temannya keluar.

“Annyeong haseyo sunbaenim…” Kubungkuk kan badan ku saat temannya keluar dan berada di depan ku. “Park Chanyeol sunbaenim, apa dia ada di dalam ?”

“Ah~ annyeong haseyo. Ne dia sedang tidur, perlukah ku bangunkan ?”

“Eobseoyo, sunbaenim. Biar saya sendiri, tapi apa saya boleh masuk ?”

“Geurom….siapa namamu?”

“Yae In…Kim Yae In imnida”

“Kau boleh masuk Yae In-sshi, jeoneun Byun Baekhyun. Aku pergi dulu ne.” Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya. Kulangkahkan kaki ku perlahan kearahnya yang tertidur di sofa. Eh ? sejak kapan rambutnya menjadi keriting ?

Wajahnya terlihat sangat lelah, apa dia sedang ada masalah. Aigoo…aku sungguh yeoja chingu yang tidak baik. Ku usap pelan rambutnya agar dia tak bangun. Chankkaman…aku seperti pernah melihatnya. Hajiman, eodie ? ku lekatkan pandangan ku pada wajahnya. Apa benar itu dia ? Pria itu ? Pria yang semalam juga ?

Ku dekatkan tangan ku untuk menutupi wajah bagian bawahnya. Ya tuhan…dia membuka matanya, ku urungkan niatku unutk menarik tangan ku yang masih menutupi wajah bagian bawahnya. Dia juga masih menatapku, hening. Kami hanya bisa diam…

“W-wae? Apa maksud semua ini? K-kau..kau pria yang selalu mengikutiku itu kan?”

“M-mwo? Apa yang kau katakan?”

“Wae..? kenapa kau melakukan ini padaku?” ya..hanya itu yang mampu ku ucapkan saat ini. Ku tarik tangan ku dan berjalan pergi meninggalkannya

Flashback end

“Hyung, Yae In~ah aku pergi dulu ne? okay..annyeong…” MWO ?? apa Kkamjong gila ? ku lirik namja disebelahku yang masih tak berkutik.

“Aku pergi dulu Chanyeol-sshi” aku ingin sendirian kali ini. Semuanya sangat pelik bagiku. Kulangkahkan kakiku menjauh darinya. Aku lihat dia pun hanya terdiam di tempatnya. Mungkin semua ini harus segera berakhir.

—–

Chanyeol POV

Dia pergi, ya dia pergi. Akupun juga memutuskan untuk kembali ke rumahku. ingin sekali mengejarnya dan menjelaskan semuanya, tapi kurasa semua sia – sia. Aishh kenapa semua bisa jadi seperti ini ?

“Argghhh!!!!!” Ya Tuhan apa aku sudah gila ? aku melukai orang yang tidak bersalah sama sekali. Jika saja aku tau dari awal bahwa dia adalah adik dari Jong In, mungkin saja ini tidak akan terjadi. Jika saja aku tidak salah paham. Jika saja aku mencari kebenaran ini dari dulu. Aaarrgh! Ini membuatku gila.

Kuhentikan langkahku dan kuhela sebentar nafasku. Aku harus bicara dengannya! Ya, aku harus menjelaskan semua ini. Segera aku berbalik dan berlari mencarinya. Aku berlari kearah taman, mencari dimana dia berada. Ku percepat lariku di sekitar taman ini, aku benar – benar merasa bersalah padanya. Kulihat punggungnya dari jauh. Dia hanya menunduk dan melangkah dengan gontai. Mianhae Yae In.

“Yae In~ah!” Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan ragu.

“…..” Dia hanya menatapku dengan sendu.

“Yae In~ahh! Mianhae…”

“Untuk?”

“Aku… aku telah menyakitimu Yae In. aku tidak tahu kalau kau adalah adik Jong In. Usia kalian terpaut tak begitu lama. Aku mengira kau mengkhianati adikku..aku mohon maafkan aku Yae In.” aku menggenggam tangannya. Dia hanya menunduk.

“Aku…”

“Yae In, aku mencintaimu…” ucapku lagi. Entah kenapa hanya kata itu yang paling ingin kuucapkan kali ini. Aku tahu ini salah. Tapi..inilah perasaanku, dan aku tidak bisa membohongi perasaaanku. Kali ini dia menatapku seolah berkata –apa itu benar Park Chanyeol?– Tanpa menunggu aba – aba, aku menariknya ke dalam pelukanku. Tak selang berapa lama dia pun membalas pelukanku. Dan aku merasakan bajuku basah. Dia…menangis.

—–

Chanhee POV

Dia menarikku ke arah sebuah sepeda yang berada di sekitar pinggiran Taman Kota. Hei, apa yang dia lakukan ? bersepeda ? aku memang mau bersepeda dengannya, tapi bukankah ini terlalu childish ? terlebih lagi sekarang banyak orang.

“Chanhee-ya…jangan melamun terus. Kkaja naik!!” dia menepuk tempat kosong di depannya.

“N…ne..eh?! kau gila ya! Dimana aku harus duduk?” tanyaku sembari membulatkan mata. Tentu saja, bagaimana tidak? Sepeda itu hanya untuk satu orang. Dan aku harus naik di depan Jong In? yang benar saja. Aku pasti akan terjatuh.

“Sudahlah! Palli..” dia menarikku dan mendudukkanku pada tempat yang ditunjuknya tadi. Terpaksa aku duduk di depannya dengan posisi miring. Jantungku berpacu cepat ketika tangannya mulai merogoh stang kendali dari belakangku dan seolah memelukku kini.

“Pegangan yang erat ya! Ini akan sulit. hahaha” hei apa yang dia pikirkan ? apa dia sudah..

“YA!! Pelan sedikit Jong in-ah..!!!” Dia mengayuh sepeda ini sangat cepat. “YA!! Kau mau membunuhku huh ? pelan atau aku akan mencekik mu” ancamku.

“Diamlah…teriakanmu menghancurkan konsentrasiku” Dia masih mengayuh sepedanya begitu cepat.

“Ya!! Lihatlah kedepan dan menyetirlah dengan benar BODOH..!!” belum selesai aku bicara, sesuatu yang aku khawatirkan pun terjadi. Byuuurrrr.. sepeda yang kami tumpangi mendarat dengan mulus (?) di kolam ikan yang memang tidak terlalu dalam, tetapi tentu saja berhasil membuatku mandi bersama ikan – ikan di kolam ini.

“YAAA!!! KIM JONG IN!! Apa yang kau lakukan!!” teriakku sehingga membuat semua orang menoleh kearah kami. Secepat itu juga Jong In membungkam mulutku, membuatku mau tidak mau pun menggigit tangannya karena kesal.

“Aaaawww! Apa yang kau lakukan BODOH!” dia meringis kesakitan. Aku hanya menatapnya dengan death glare-ku dan berlalu darinya. Dia menarik sepeda itu ke daratan dan membiarkannya di pinggir kolam. Dia berlari dan memanggil – manggilku. Aku tidak peduli semua orang memandang kami heran, aku hanya merasa kesal sekarang. Dia menarik tanganku dan kini menyeretku (?) pergi.

“Lepaskan!” aku melepas tangannya yang sedari tadi menggenggamku. Disini tempat yang tepat untuk meluapkan marahku karena disini hanya ada segelintir orang yang mungkin saja tidak akan mau tahu urusan orang lain.

“Kau marah?” tanyanya sembari memandangku enggan.

“Tidak.” Aku melipat kedua tanganku didepan dada dan memandangnya kesal seolah  –kau harus tanggung jawab bodoh!–

“Baiklah. Ayo kita pulang..” Dia kembali menarikku namun aku menolak.

“Aku bisa pulang sendiri!”

“Ayolah Chanhee~yaa…jangan marah lagi. Baiklah..aku minta maaf. Jeongmal mianhaeyo..” ucapnya sembari memasang puppy eyes yang terkesan sangat sangat sangat aneh. Lihat saja, issh…muak sekali melihatnya. Aku hanya terdiam, acuh.

“Chanhee~”

“Apa?!”

“Aku sudah minta maaf kan?”

“Terserah!”

“Aish~ kau selalu begitu. Kenapa kau mudah sekali marah karena masalah kecil seperti itu, hah! Jangan membuatku kesal! Ayo pulang!” Dia sedikit membentak kali ini.

“Aku tidak mau!” Aku tak kalah berteriak kali ini.

“Ya sudah terserah!” Dia mulai melangkah pergi. Yah! Seharusnya aku yang marah kenapa jadi dia? Ku langkahkan kakiku sedikit berlari karena dia berjalan begitu cepat di depanku. Dan huuupp…sontak aku memeluknya dari belakang. Tubuhnya sedikit menegang dan langkahnya terhenti saat itu juga. Mungkin dia kaget atas perlakuanku. Tentu baru kali ini aku memeluknya. Biasanya, tentu dia yang memulainya xD.

“Kau marah humm? Mianhae…” ucapku pelan hampir setengah berbisik.

“……….”

“Baiklah..kau marah. Maafkan aku…” aku melepas pelukanku dan hendak melangkah pergi. Namun, baru selangkah aku berjalan dia menarikku kembali dan membuatku menatap kearahnya. Mata kami bertemu. Seakan ini adalah pertemuan pertama kami, aku merasakan sesuatu yang lebih dari setiap kali aku menatapnya. Perasaan yang bahkan tak bisa aku tulis dalam ribuan kertas. Rasanya terlalu indah.

Dia tersenyum ke arahku dan tentu berhasil membuat hatiku berdesir. Itu hanya senyum. Senyum Chanhee~ akh! Kenapa kau terlalu berlebihan. Lihat tampangmu sekarang. Akh! pasti aku terlihat sangat bodoh dengan tampang cengoku itu. Aku menggeleng – gelengkan kepalaku cepat.

“Kenapa? Kau terpesona padaku humm? Hahaha xD”

“Apa?! Kau? TIDAK AKAN PERNAH!” Bukannya marah atau apa, dia justru tertawa sembari mengacak poniku. Pasti wajahku memerah sehingga dia tahu apa yang kurasakan kini.

—–

Yae In POV

“Yae In~ahh…aku benar – benar mencintainya..” ujar Kkamjong yang sedang berbaring di atas tempat tidurku sembari memegangi dadanya.

“Chanhee, kkeutchi?” tebakku.

“Kau benar..kau tahu bukan? aku akan bertunangan dengannya! Ya, walaupun tidak dengan pertemuan resmi..tapi aku ingin segera memperkenalkannya pada Umma sebagai calon istriku.”

“….” Bagaimana ini? Tidak mungkin melarang mereka, tapi jika aku menyetujuinya…aku dan Chanyeol…eotteohkke?

“Ya! Yae In~ahh..kenapa kau diam saja?”

“Eh?! Ak..aku..se..tu..ju!” jawabku terbata.

“Ya! Miss Single..kau harus segera memiliki kekasih! Kau hanya menggangguku dan Chanhee jika kami sedang berkencan.”

“Mwo? YA KIM JONG IN! jika tidak ada aku kau tidak akan pernah bisa kencan dengannya!” kupukuli dia dengan guling kesayanganku.

“Ya! Appasseo!”

“Jadi ini rasa terima kasihmu padaku, hah?”

“Aniya..maksudku bukan itu…”

“Kka! Dasar kau, Kkaman Jongie! Menyebalkan! Keluar kau dari kamarku!” aku mendorong tubuhnya hingga ke daun pintu. Dan braaaaak! Ku tendang pintuku kuat – kuat lalu ku hempaskan tubuhku ke kasur empuk itu. Merenungkan apa yang harus ku lakukan selanjutnya. Ku acak – acak rambutku, frustasi.

Dddrrt…ddrrtt… Suara ponsel di meja belajarku membuyarkan lamunanku.

“Yeoboseyo..” sapaku asal tanpa melihat siapa yang menelephoneku.

“Hey! Apa kau pikir umma akan terkejut jika mengetahui Chanhee adalah calon menantunya?”

“Mwo?” ku lihat nama pada layar ponselku, ‘Kkamjong’. “Ya! Kim Jong In! tutup telephonenya atau aku akan membunuhmu!” tuutt..ttuutt.. Dia masih ingin hidup rupanya..sial! ddrrtt…dddrrtt.. ‘Kkamjong calling’. Mau apa lagi dia? Mengganggu saja.

“Kau masih marah?”

“Bakka!” ku tutup sambungan telephone darinya.

Dddrrtt..ddrrtt…

“Dasar Gom!!” teriaknya dari seberang sana.

“Dweji!” ku tutup lagi telephonenya.

Dddrrrtt…ddrrttt…

“Ku laporkan Appa kau!” ancamnya.

“WHO CARE?!”

“YAAA!!” ttuutt..ttuut…

Ddrrtt..ddrrttt…

“YAAAA!!!!!!” teriakku sekencang – kencangnya.

“Mwoya?” Kkamjong melongokkan kepalanya di depan pintu kamarku.

“Neo!!” Aku menudingnya dan langsung melirik layar ponselku, ‘Park Chanyeol’.

“Aish!” aku panik, bagaimana ini? Kkamjong hanya cekikikan dan lari menghindar dari amukan (?) bantalku.

“Yeo..yeo..bo..seyo?”

“Sepertinya kau sedang bad mood?”

“Ahh~ mianhae..aku pikir kau Kkamjong.” Aku hanya tertawa garing padanya.

“Bisa kau keluar?” eh?! apa katanya?

“Ne?”

“Aku sudah ada di depan rumahmu. Bisakah kau keluar? Aku sudah kedinginan.”

Apa?! “N-ne..”

“Kau sudah lama?” tanyaku saat sudah berada di depannya. Dia memang tampak kedinginan, apalagi ini memang musim  dingin. Dia hanya menjawabku dengan gelengan kepala. “Akh! Jadi ada apa?”

“Bogoshipeo..” katanya manja, ya! Apa – apaan pria ini? Bahkan sifatnya melebihi manjaku pada umma. -___-

“M-mwo? Apa benar kau Park Chanyeol?” aku mulai memandangnya dari atas sampai bawah berkali – kali.

Plettaakk! “Tentu saja aku Park Chanyeol..kau pikir aku ini siapa? Hantu?” aku hanya nyengir kuda menjawabnya.

“Hsstt..pelan – pelan! Kau mau seluruh penghuni rumahku tahu kalau kau ada disini?” bisikku padanya.

“Arraseo..kajja! aku ingin jalan – jalan denganmu..”

“Mwoya?!” sanggahku setengah berbisik.

“Sssttt…aku hanya merindukanmu. Itu saja. Sedangkan aku tidak tahu harus melakukan apa denganmu malam – malam seperti ini. Jadi, sebaiknya kita jalan – jalan sebentar di area rumahmu.”

“Ciihh!” cibirku.

“Ayolah..jangan membuang waktu yang ada, kajja!” kami pun berjalan mengitari area kompleks. Tak lupa tangannya yang hangat itu menggenggam tanganku. Hening..tak ada satu pun dari kami yang memulai pembicaraan.

“Sampai kapan?” tanyaku dan spontan dia pun menoleh padaku.

—-

Chanyeol POV

“Sampai kapan?” tanyanya memecahkan keheningan. Ku tolehkan pandanganku padanya. Menatapnya sembari mercerna segala kata – katanya yang tentu saja berhubungan dengan hubungan kami.

“Sampai kapan kita akan seperti ini terus?” lanjutnya.

“Ssstt..geumanhae.” aku menatap kedua bola matanya. “Biarkan saja seperti ini, aku juga tidak punya solusi.”

“Aku hanya tidak ingin menyakiti siapa pun..” Dia, yeoja di sampingku ini mulai menundukkan kepalanya, aku tahu dia juga bingung.

“Arro..hajiman, aku juga tidak ingin berpisah denganmu.” Aku memeluknya menyalurkan semua perasaanku padanya. Berharap agar dia tahu dan juga aku ingin merasakan apa yang dia rasa saat ini.

“Kajja! Sudah malam. Udaranya tak baik untuk kita berdua.” Ajakku. Ku lirik Yae In hanya berjalan mengikutiku. “Jangan berfikiran yang macam – macam, tidurlah sekarang.”. Chu~ ku kecup keningnya sejenak.

“Jalga! Jangan mengebut di jalan.”

“Haha” aku hanya tertawa renyah menanggapinya. “awww..!! >.<” satu cubitan manis (?) di pinggangku.

“Aku serius pabo Chan!! Ah~ sepertinya itu nama yang bagus untukmu sekarang.”

“Pppfft..masuklah! aku akan pergi setelah kau masuk.”

Yae In pun berjalan menjauhiku, ku tatap dirinya lekat – lekat. Saat sudah berada di ambang pintu dia pun menoleh ke belakang. Aku hanya mengulas sebuah senyum. Yae In kembali menatapku dan mengisyaratkan supaya aku lekas pulang. Aku pun segera menaiki mobilku dan melesat pulang.

Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan perkataannya. Sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Pasti akan ada yang terluka, entah kami atau pun mereka. Saat melewati kamar dongsaengku, perasaan bersalah pun menggelayutiku.

“Chanhee~yaa.. mianhae” gumamku tersendat.

Segera aku menuju kamarku dan berbaring di tempat tidurku. Pikiranku masih melayang. Ku tutup mataku perlahan, melepaskan penat yang ada di otakku kini.

—–

Jong In POV

Bagaimana caranya untuk bicara dengan umma dan appa ? aku melirik Yae in, dan dia hanya menjulurkan lidahnya padaku. Ah~ sial, bagaimana ini ?

“Uhm….Chogi, aku ingin menyampaikan sesuatu”

“Ada apa ?” tanya appa sigap

“Aku ingin mengenalkan yeojaku pada appa dan umma. Keureonikka,bisakah kalian luangkan waktu untuk itu?” tanyaku tertunduk malu. Sedekat apa pun aku dan keluargaku tapi jika menyangkut hal seperti ini aku sedikit grogi untuk mengatakannya.

“Wah…uri  Jong In sudah dewasa, benarkan appa?” ku lihat seulas senyum di bibir ummaku. Yang kulakukan hanyalah tersenyum menanggapinya.

“Ahh~ padahal appa sudah memiliki calon pendamping untuk mu, tapi aku sudah menemukannya duluan. Ternyata ayah kalah”

“Mwo ? jadi appa dan umma sudah memilih pasangan untuk Kkamjong ?” kali ini Yae In terlihat antusias sekali.

“Ne, kami bahkan sudah merencanakannya sedari dulu.” Umma memberi penjelasan lagi

“Tapi, kalian tak akan menyuruhku meninggalkan yeojaku dan menikah dengan wanita itu kan ? Andweyo!!! Maldo Andwe!!” jawabku tegas. Umma dan appa saling melirik dan selanjutnya tertawa. Ada apa ini ?

“Hahahaha Kkaman Jongin, kami bukan orang tua yang seperti itu”

“Ya!! Appa, kenapa jadi tertular virusnya Yae In sih ?” ok mungkin aku terlihat seperti anak kecil dengan bibir yang maju beberapa centi

“Aniya….memang benar kami menjodohkan mu, tapi itu akan terjadi jika kau belum memiliki kekasih sama sekali. Berbeda dengan sekarang, jadi perjodohan itu kami anggap batal. Padahal kami sangat ingin menjadikannya menentu dirumah ini” penelasan appa tadi cukup membuatku terkesima.

“Algesseumnida appa, Jadi kapan kita bisa bertemu ?”

“3 hari dari sekarang, segera hubungi keluarga kekasihmu itu. Aku ingin segera melihatnya”

—–

Chanhee POV

Hari ini adalah hari pertemuanku dengan keluarga KIM. Sungguh aku sangat deg deg-an, aku memang sering sekali kesini tapi sebagai teman ah ani, sahabat dari Kim Yae In. Dan sekarang, aku harus datang kembali sebagai CALON TUNANGAN dari KIM JONG IN. Perasaanku ? sungguh seperti bla….bla….bla….kalian pasti mengerti.

“Chagiya…Kkaja” Jong In menggenggam erat tanganku. Kami….aku, Jong In, Chanyeol oppa mulai memasuki pekarangan rumah mereka. Kupererat genggaman tanganku padanya.

“Gwaenchanha…” ku lihat Chanyeol oppa juga sedikit gugup, tapi justru menenangkan diriku.

“Annyeonghaseyo” Jong In membuka pintu dan berteriak sangat keras. Dasar gila .___.v dia pikir ini hutan apa

“Ne…Annyeong” seru orang dari dalam rumah. Semua penghuni (?) di rumah itu segera keluar dengan senyuman khas mereka. Orang tua Jong In sedikit kaget mendapati aku tengah berjalan menuju mereka.

“Chanhee? Park Chanhee?” tanya ibu Jong In memastikan.

“Ne ahjumma..” aku tersenyum malu menanggapi pertanyaan ibu Jong In.

“Humm..jadi, kaulah calon menantu kami?” sekarang ayah Jong In mulai angkat bicara.

“Ne appa ..umma.. Chanhee-lah calon menantu kalian.” Jong In mengusap tengkuknya.

“Kajja! Kajja! Kita langsung saja makan malam. Ahjumma menyiapkan banyak makanan hari ini..” ahjumma meraih tanganku dan menggandengku. Aku benar – benar dimanjakan malam ini. Mereka begitu baik padaku. Bahkan perlakuan mereka pun lebih spesial dari biasanya. Kulewatkan malam ini dengan canda tawa bersama.

—-

Yae In POV

“Annyeonghaseyo” Jong In membuka pintu dan berteriak sangat keras.

“Umma, mereka datang!” bisikku pada umma yang sedang sibuk menyiapkan meja makan. Umma hanya mengangguk dan berjalan ke ruang tamu untuk menyambut mereka.

Aku melirik pria yang berada di samping Chanhee, dia sangat rapi hari ini. Well, meskipun aku agak sedikit tidak suka dengan dandanan rambutnya .___.v . ku tundukkan kepalaku padanya sebagai pertanda salam selamat datang.

“Wah, Uri Chanhee jeongmal Yeppeoda… Yae In-ah belajarlah dari calon kakak iparmu ini untuk berdandan” Chanhee hanya terkekeh menanggapinya.

“Umma, Chanhee itu sebenarnya tak jauh beda denganku. Hanya karena ingin bertemu umma maka dia berdandan seperti ini. Benarkan kkamjong?” selaku, haha lihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

“Benar, bahkan saat kencan pun dia tak pernah berdandan. Sungguh malang nasibku”

“Ya…ya…nabbeun saram! Kalian berdua kompak sekali menyerang uri Chanhee” aku dan kkamjong hanya ber-tos ria mendengar pembelaan umma. “Chanhee-ya jika mereka berani mengganggumu lagi, bilang saja pada eommunim maka eommunim akan mennghukum mereka berdua”

“Ne…ahjuma”

“Ah Chanyeol-sshi kita diam saja melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil itu” sontak appa mendapatkan death glare dariku, kkamjong dan umma

“Appa!!” teriak kami bertiga.

“Hahahaha” Appa, Chanyeol-sshi dan Chanhee terkekeh pelan. “Beginilah suasana dirumah kami. Jadi jangan terlalu serius!!”

“Ne, Ahjusshi” setelah acara makan malam dan mengobrol santai sekitar pukul 10 malam Park bersaudara berpamitan untuk pulang. Aku senang bisa melihat Chanhee langsung akrab dengan keluargaku. Hah….aku harap kelak aku juga akan seperti itu.

Ddrrtttt…..ddrrrttt…

From : Park ‘Sarang’

Aku berada di taman di dekat rumahmu. Bisakah kau keluar ?BogoshippeojeongmalxD Jangan tertawa ya….

Park Chanyeol…Nae Sarang hahaha xD

—–

Chanyeol POV

“Kau sudah lama?” aku hanya diam tak berniat untuk menjawab pertanyaan darinya.

“Ya…mianhaeyo. Jangan marah lagi hummb” aku tetap tak bergeming dari tempatku. “Ara, nan galkkaeyo!”

“Nona Kim beraninya kau pergi setelah membuatku menunggu cukup lama, humbb” aku menarik tangannya agar dia tak pergi.

“Tuan park salah anda sendiri kenapa anda hanya diam dan tak berbicara sama sekali” tangannya kini justru mencubit pipiku yang indah. >.<

“Ya ! Park Chanyeol-sshi apa yang kau lakukan. lepaskan ” kena kau, sekarang dia tak bisa berkutik dalam pelukanku. “Biarkan begini” ujarku, “Kau tak merindukanku, hummb ?”

“Ani”

“YA!!” hei, apa kau bercanda dia bahkan menjawabnya tanpa ragu. Ku renggangkan pelukanku dan menatapnya datar.

“Aku bercanda ” kini dirinyalah yang berusaha menggapai diriku. Perbedaan tinggi kami memang patut di pertanyakan. Tinggiku 185cm sedangkan yeojaku ini hanya memiliki tinggi 164cm.

“aku tidak suka tatanan rambutmu” ucapnya di sela sela pelukan kami, “kau terlihat seperti ahjusshi. haha” lanjutnya lagi. Aku berniat melepaskan pelukanku padanya, tapi tangannya yang berada di punggungku malah semakin erat.

“Sudah malam sebaiknya aku mengantarmu pulang” ujarku setelah dia melapaskan pelukannya. “Jangan cemberut atau kau ingin aku menciummu ?” godaku, haha wajahnya sekarang sangat merah.

“Ya… Park Chanyeol kau ternyata pria mesum, huh!! Dasar kau! Berani beraninya bicara seperti itu padaku” aw aw reaksinya sama sekali tak kuduga. “siapa yang mengajarimu huh !!”

Setelah sekian menit dia akhirnya berhenti memukuliku. Anehnya aku sama sekali aku merasa sakit sedikitpun. Ku genggam tangannya erat dan berjalan pulang.

Dan dengan sedikit perjuangan membantunya menaiki tembok menuju kamarnya. Karena tadi dia pergi menerobos lewat pintu ajaibnya atau bisa kita bilang jendela. Ternyata dia rela meloncat dari kamarnya di lantai dua hanya untuk menolongku.

Sungguh beruntungnya diriku. Haha

—–
@some weeks later

Chanhee POV

“Gamsahamnida..” ucapku pada penjual buah dan segera berlalu dari toko buah tersebut.

Hari ini aku berencana datang ke rumah Jong In. Jong In bilang ibunya sedikit kurang enak badan. Tentu saja aku harus kesana. Apalagi aku kini sudah menyandang status sebagai tunangan Kim Jong In.

Saat melewati deretan toko bunga, tanpa sengaja aku melihat oppaku. Chanyeol oppa? Dengan siapa dia?, gumamku. Aku berniat menyapanya pun mendekatinya. Betapa kagetnya aku ketika tahu dia bersama Yae In. Mereka sedang membeli bunga. Satu ikat mawar dia berikan pada Yae In dan tampaknya Yae In begitu senang mendapatkannya.

Ku urungkan niatku dan lebih memilih mengikuti mereka secara sembunyi – sembunyi. Kenapa ada firasat aneh seperti ini? Bukankah wajar jika mereka keluar bersama? Bukankah mereka juga akan menjadi satu keluarga setelah aku menikah nanti? Namun, rasa penasaranku membuatku memilih untuk membuntuti mereka. Samar – samar aku mendengar percakapan mereka dari jauh.

“Yeobo~ bagaimana kalau kita duduk disana? Ah..aku sedikit lelah jalan – jalan hari ini.” Yeobo? Tunggu..ada apa ini? Ada apa diantara mereka?

“Baiklah. Kkaja!” Chanyeol oppa menggenggam tangan Yae In menuju sebuah kursi panjang dan memesan 2 cup ice cream, kebetulan di tempat mereka duduk kini, ada stan ice cream. terlihat canda tawa mereka yang tentu membuatku semakin bingung.

“Yah! Kenapa kau menumpahkan ice mu Yae In…” sergah Chanyeol oppa saat Yae In tanpa sengaja menjatuhkan ice creamnya.

“Aish! Bagaimana ini..?”

“Humm..kau mau?” Chanyeol oppa menawarkan ice cream di tangannya. tanpa babibu Yae In mengambil ice tersebut dan mencicipinya. Sedetik kemudian, Chanyeol oppa mendekatkan wajahnya dan ikut mencicipi ice cream tersebut. Dia melakukannya disaat Yae In juga mencicipinya. Mata keduanya beradu pandang. Bisa dibilang mereka berciuman secara tidak langsung.

“Kapan semua ini akan berakhir? Aku tak mau kita menyembunyikan kenyataan ini terus. Aku benar – benar tidak bisa.” tanya Yae In kemudian.

“Aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja Yae In…berdoalah untuk kebaikan kita semua.”

“Apa hubungan kita ini terlarang? Kau adalah kakakku.”

“Belum. Aku akan menjadi kakakmu setelah mereka menikah. Tapi..aku harap…”

“Sudahlah. Jangan bicarakan ini. Ini hanya akan membuat kita sedih.”

Apa – apaan ini? Ada apa ini? Ada apa diantara mereka berdua? Apa mereka mempunyai hubungan spesial? Ribuan pertanyaan kini tengah memenuhi otakku.

TBC…

Iklan

5 pemikiran pada “We Were In Love (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s