Sweet Child Memories (Part 2)

Sweet Child Memories (Part 2)

Author:                Kang Min Young

Genre:  Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Do Kyungsoo (D.O EXO-K)

Park Minhwa (OC)

Length: Multichapter

Maaf ya readers, baru bisa ngepost yg part 2 soalnya author udah kelas 12 sekarang jadi suka ga ada waktu buat ngelanjut ff ini, kemaren disempet-sempetin buat nulis,akhirnya jadi juga. Maaf ya kalo banyak typo sama gaje hehe. Happy reading^^

Minhwa POV

“Gomawo Kyungsoo-ah. Tunggu nanti sore ya” kataku sambil melambaikan tangan pada Kyungsoo lalu berbalik dan berjalan memasuki rumah. Mobil Kyungsoo sudah menghilang dari depan pagar rumahku. Untung saja para pengawal di depan rumah sedang sibuk, jadi mereka tidak akan mendengar jelas apa yang kukatakan tadi pada Kyungsoo. Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diriku di kasur tanpa memperdulikan memar di tanganku. Alhasil tanganku berdenyut nyeri setelah menimpa kasur dengan kencangnya tadi.

Seperti terasa percuma saja pergi ke rumah sakit tadi siang kalau memar di tanganku kambuh lagi. Memang ceroboh sekali diriku. Aku langsung menggapai tasku lalu merogoh isi di dalam tasku dan mengambil ponselku dari dalam sana. Ku cari kontak Hyunmi dan menelponnya.

“yobseoyo. Hyunmi-ah?” Sapaku cepat tanpa memastikan siapa yang mengangkat teleponku.

“ani. Ini Kim ahjumma. Ini Minhwa ya?” jawab Kim ahjumma dari seberang sana. Seketika wajahku merona malu. Dasar Hyunmi babo! Kemana bocah itu sampai meninggalkan handphonenya di kamar?
“ah ne. Mianhae ahjumma. Hyunmi kemana ya?”

“oh ya sebentar biar kupanggilkan dulu” Terdengar suara kencang Kim ahjumma memanggil Hyunmi di teleponku. Aku tersenyum geli menahan tawa. Suara Kim ahjumma benar benar memekakkan telinga padahal tidak ku loudspeaker. Mungkin kalau aku loudspeaker, mungkin telingaku akan berubah tuli.

“yobseoyo Minhwa-ah. Mianhae membuatmu mendengar teriakan cempreng eommaku. Pasti kau tidak tahan ya?” kata Hyunmi sambil terkikik geli.

“kau itu tidak sopan sekali rupanya. Walaupun cempreng begitu kan dia tetap eommamu, Hyunmi-ah. Cepat minta maaf atau aku akan bilang pada Kim ahjumma”

“kau ini lama-lama bisa berubah menjadi eomma keduaku Minhwa-ya”

“aish shireo! Aku tidak mau jadi eommamu. Terlalu melelahkan jika harus mengurus anak nakal sepertimu. Bisa mati berdiri aku”

“sudahlah. Ada apa kau menelponku?

“kau jadi ikut menginap di rumah Kyungsoo malam ini kan?”

“hmmm yaaah, aku sebenarnya ingin sekali ikut. Hanya saja eomma sedang dapat pesanan roti banyak sekali. Para pegawai eomma banyak yang memutuskan cuti akhir-akhir ini jadi aku tidak tega melihat eommaku mengerjakan pesanan roti sebanyak itu. Mianhae Minhwa-ah”

“enak sekali jadi kau. Bisa membantu eommamu, mengerjakan hobi kalian berdua bersama-sama. Aku…..iri denganmu Hyunmi-ah” aku tersenyum getir sambil menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.

“jangan sedih. Mianhae aku jadi membuatmu sedih. Kalau kau bosan atau sedih, kau kan bisa cerita dan bermain bersamaku, Myung Jin atau Kyungsoo kan? Tenanglah kami selalu bersamamu”

“aku tahu itu. Gomawo Hyunmi-ah”

“baiklah, kalau ada apa-apa bilang kami ya. Jangan sungkan-sungkan. Oh iya mianhae, jeongmal mianhae tidak bisa ikut denganmu”

“gwaenchana. Tapi, lain kali kau harus ikut ya?”

“baiklah. Sampaikan salamku untuk Kyungsoo ya?”

“eeeey, jangan seperti itu. Nanti Myung Jin bisa cemburu padamu” ledekku padanya.

“mungkin bukan Myung Jin yang cemburu padaku. Kau yang cemburu padaku kan?” tembakan Hyunmi benar-benar tepat sasaran. Sepertinya aku salah sasaran kali ini. Mati aku.

“sudah cukup bercandanya. Aku hanya bercanda kok, tidak cemburu”

“kkkkkk,ya sudah hati-hati ya Minhwa-ah”

Klik.

Untuk apa aku cemburu pada Hyunmi. Hyunmi kan hanya menyampaikan pesan. Itu hanya ledekan jangan dibawa pikiran. Aku hanya tertawa menanggapi ledekan Hyunmi. Tapi, kalau aku sampai benar-benar menyukai Kyungsoo, bagaimana ini? Sudahlah. Lagipula ia memang hanya benar-benar sahabatku bukan. Aku beralih mulai mencari kontak Myung Jin. Mudah-mudahan saja ia bisa ikut denganku menginap di rumah Kyungsoo malam ini.

“yoboseyo. Myung Jin-ah? Myung Jin-ah? Kau disana?” suara berisik mesin pabrik industri mendominasi di telingaku jadi aku harus berkali-kali memanggil Myung Jin di seberang sana.

“ne Minhwa-ah. Ada apa kau meneleponku?”

“kau ini dimana? Bisakah kau cari tempat yang agak sepi sebentar saja”

“ne,tunggu sebentar” sejenak kemudian suasana di seberang sana menjadi lebih sedikit tenang dari tempat sebelumnya walaupun suara gaduh masih terdengar tapi masih lebih baik dari sebelumnya.

“ada apa Minhwa-ah?”

“kau bisa ikut menginap di rumah Kyungsoo malam ini kan?”

“malam ini? Sayang sekali aku tidak bisa. Aku ada lembur malam ini”

“yah jadi aku harus sendirian menginap di rumah Kyungsoo?” dengusku kecewa.

“siapa bilang kau sendiri? Kau kan berdua dengan Kyungsoo, jadi kau tidak sendiri” aku memutar bola mataku sejenak mendengar perkataan Myung Jin yang konyol itu. Siapa bilang aku akan sendirian di rumah Kyungsoo. Myung Jin babo!

“dasar babo! Sepertinya settingan otakmu belum terpasang dengan benar. Tentu saja aku tidak sendiri. Maksudku aku hanya berdua saja dengan Kyungsoo di rumah Kyungsoo”

“ahaha mianhae Minhwa-ah. Memangnya Hyunmi tidak bisa menemanimu?”

“tidak bisa. Yasudah aku bisa kesana sendirian. Awas saja lain kali kalau kalian tidak bisa juga akan kuhajar kalian berdua”

“mianhae tidak bisa menemanimu. Jangan begitu Minhwa-ah, lain kali akan kami akan menemanimu. Mianhae, jeongmal mianhae”

“baiklah. Hati-hati ya, jangan membahayakan dirimu disana. Kalau kau kenapa-kenapa, Hyunmi akan menangis, arraseo?”

“ne ahjumma”

“aish babo!! Sudah ya”

Klik.

Memang sepertinya aku harus menginap sendirian disana. Ah ani hanya berdua saja dengan Kyungsoo. Aku memutuskan untuk tetap pergi menginap di rumah Kyungsoo. Aku juga sedang merasa bosan tinggal di rumah sendiri. Lagipula eomma juga tidak akan khawatir padaku jika aku bilang aku menginap di rumah Hyunmi untuk mengerjakan tugas. Hanya rumah Hyunmi yang bisa aku jadikan alasan jika aku ingin pergi menginap di rumah teman-temanku. Itu juga tidak setiap saat aku diizinkan. Untung saja Kim ahjumma bisa mengerti keadaanku, jadi dia tidak akan sewot padaku. Malah dia menawarkan untuk tinggal di rumahnya saja. Tapi aku tidak mau terlalu merepotkan mereka.

Aku langsung bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi dengan langkah terseok-seok. Setelah mandi, aku menyiapkan perlengkapan yang bisa kubawa untuk menginap disana. Hanya membawa 3 pasang baju, beberapa baju dalam dan peralatan mandi. Mungkin saja membawa buku tugas kesana akan dibutuhkan. Kyungsoo kan pintar di kelas jadi aku bisa memintanya mengajariku. Sebelum aku berangkat, aku mengabari Kyungsoo dulu. Rumahnya pasti kosong sore ini, dia kan kerja. Dia memberitahuku agar tidak menunggunya pulang, jadi aku bisa langsung masuk ke rumahnya karena ia meninggalkan kuncinya di dalam pot tanaman.

Seperti biasa, para pengawal itu akan menginterogasiku jika aku ingin bepergian keluar rumah. Mereka menanyaiku kemana aku akan pergi, apa yang aku lakukan, bersama siapa aku pergi, dan kapan aku pulang. Aku sudah menghafalnya di luar kepala. “aku pergi menginap di rumah Hyunmi. Aku mau mengerjakan tugas. Besok tugas itu harus dikumpulkan. Masih tidak boleh aku pergi?” Mereka diam tidak dapat berkata apa-apa. Mereka lalu membukakan pintu untukku. Untung saja rumah Kyungsoo dan Hyunmi satu arah jadi aku tidak perlu jauh-jauh berjalan memutar. Terlalu jauh.  Jarak rumah Kyungsoo dari rumahku cukup dekat jadi tidak perlu naik bis. Baru sebentar berjalan aku sudah sampai di depan rumah Kyungsoo.

Aku menghampiri kunci rumah yang dimaksud Kyungsoo di telepon tadi. Setelah memutar 2x kunci itu, pintu besar warna putih itu terbuka. Ruang tamunya luas sekali dan……..bersih sekali. Kyungsoo itu orangnya bersih sekali, tidak heran makanya kalau rumahnya bisa sebegini bersihnya. Barang-barang perabotan rumahnya tertata rapih pada tempatnya. Foto-foto juga terpajang rapih di dinding rumahnya. Sederhana tapi unik. Kyungsoo, mungkin istrimu akan enak sekali jika menikah denganmu. Tanpa harus ia bisa bersih-bersih, rumahnya akan bersih karenamu.

Tapi aku khawatir jika berada di rumah Kyungsoo, aku khawatir jika mengambil suatu barang, aku akan lupa menaruhnya dimana dan mengacaukan tatanan perabotan rumahnya. Dia terlalu teliti. Setelah melihat-lihat keadaan ruang tamu dan ruang tengah, aku berjalan menuju kamarnya. Kamarnya terlampau bersih untuk ukuran anak laki-laki. Kamar perempuan bahkan kalah dengan kamarnya. Di dalam lemarinya saja semua baju tertata sangat rapih. Sekejap bulu kudukku merinding. Aku jadi takut memegang apapun disini. Jadi aku memutuskan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku hoodieku. Ini masih pukul setengah 5, Kyungsoo jelas belum akan pulang dan tidak ada yang bisa aku lakukan disini. Semuanya sudah bersih jadi aku tidak perlu repot-repot membersihkannya lagi. Jadi aku memutuskan untuk memasak untuknya.

Kyungsoo POV

“baiklah kau berhati-hatilah disana, Minhwa-ah”

“…….”

“sampai jumpa”

Klik. Aku menutup telepon dengan kebahagiaan yang amat sangat. Malam ini aku akan menginap dengan Minhwa berdua saja. Aku bisa menemukan waktu yang bisa kuhabiskan berdua saja dengan Minhwa. Aku membayangkannya di kepalaku sampai senyumku tidak pudar. Aku terus mengamati wallpaper handphoneku sampai aku tidak dapat berkonsentrasi bekerja. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku.

“foto gadis yang ada di wallpapermu itu cantik juga hyung. Neomu yeppeo. Siapa dia? Bisakah kau kenalkan pada kami?” ledek Jong In.

“Kyungsoo hyung sedang naksir seseorang ya? Nugu?” tanya Sehun.

“ani. Itu….bukan siapa-siapa. Kalian sepertinya salah lihat” tukasku cepat sembari mengantongi handphoneku ke dalam saku celana.

“kau bohong hyung. Aku lihat jelas tadi wallpapermu itu foto seorang yeoja. Jangan bohong hyung” sanggah Jong In. Apa sedari tadi dia melihatku senyum-senyum sendiri? Bodoh sekali diriku.

“benar. Jangan bohong hyung. Kau memandangi handphonemu sambil senyum-senyum sendiri. Kau masih normal kan hyung?”

“kalian ini…..jinjja, itu bukan urusan kalian. Lebih baik kalian kembali bekerja saja” sewotku sambil berusaha menutupi rasa maluku di depan hoobaeku.

“eeeeey hyung jangan begitu. Bagus kan kalau hyung bisa naksir seorang yeoja? Ayo ceritakan pada kami”

“iya ceritakan pada kami”

“yayaya!! Kalian ini berisik sekali, kembali bekerja!” bentak Baekhyun hyung. Manager kami tiba-tiba saja menghampiri. Itu pasti karena kegaduhan kami.

“Kyungsoo-ah, kau masih belum berhenti memikirkan gadis itu?” tanya Baekhyun hyung pelan padaku.

“ani hyung. Mana bisa aku melupakannya? Kau tahu keadaannya makin hari makin mengkhawatirkan. Aku tidak akan bisa meninggalkannya sendirian. Bagaimana perkembangannya?”

“entahlah Kyungsoo-ah. Kasusnya rumit. Semuanya tertutup dengan rapih jadi jika kita meminta polisi untuk menyelidiki kasus ini, sepertinya akan buang-buang waktu saja. Apa sepenting itu?”

“nyawanya dalam bahaya. Dia begitu penting untukku hyung. Kau tidak tahu kan seberapa lama aku menantinya, menanti perasaannya untukku?”

“mianhae Kyungsoo-ah. Sepertinya dia trauma. Setelah ditinggal olehmu, lalu ditinggal oleh kakak-kakaknya, dan appanya, dia takut akan menerima orang lain lagi untuk masuk ke dalam kehidupannya. Sekalipun ia menganggapmu sahabat baiknya, tapi itu hanya ucapannya saja. Dia tidak sepenuhnya percaya padamu. Dia takut ditinggal pergi oleh orang yang sudah ia percaya. Terlebih lagi eommanya tidak memperdulikannya. Tapi, dia sudah bercerita tentang kebenarannya?”

“begitu hyung? Ne, tadi dia menceritakan semuanya padaku. Dia bolos sekolah hari ini. Dan ceritanya lebih terdengar buruk dari yang kita dengar dari Cho ahjumma, hyung”

“kalau begitu, lebih baik kita minta bantuan saja pada orang yang berpengaruh saja seperti Kyuhyun hyung. Selain dia tahu kejadian 6 tahun itu dengan persisnya, dia juga punya kenalan agen intelijen yang bisa kita manfaatkan untuk menyelidiki kasus ini. Backing orang itu terlalu kuat jadi polisi tidak akan mungkin bisa mengungkap kasus ini. Pelan-pelan saja. Dan……”

“dan apa hyung?”

“bersabarlah dalam mencintainya. Kita tahu kan dia mengalami banyak hal menyakitkan semenjak kau tidak ada. Semua ini butuh proses. Aku yakin kalau kau bisa bersabar dan terus berusaha, selalu tetap berada di sisinya, dia akan menerima dirimu lagi, arraseo?”

“hmm arraseo. Gomawo hyung-nim atas bantuannya”

“kau ini kan sahabatku, mana mungkin aku tidak berusaha membantu sahabatku yang sedang dalam kesusahan,ya kan? Aku pulang dulu ya, kau juga cepat pulang, ada yang menunggumu di rumah kan?” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah manager tengil sekaligus sahabatku ini. Biarpun tengil seperti itu, dia jenius. Dia pintar sekali mengelola restoran ini menjadi restoran maju. Tidak heran jika dia menjadi karyawan andalan bosku.

Aku melirik jam tanganku dan sudah menunjukan pukul 7 malam. Sudah waktunya aku pulang. Saatnya posisiku digantikan oleh posisi karyawan lainnya yang mengambil shift malam. Aku bersiap-siap dan berpamitan dengan karyawan lainnya dan bergegas pulang ke rumah. Tidak sabar dengan apa yang akan aku lakukan nanti di rumah.

Minhwa POV

Semua perlengkapan yang kuperlukan sudah terbeli jadi aku akan pulang segera. Aku akan memasak bubur dan sup ayam untuknya mengingat hari ini dingin sekali. Bahkan lebih dingin dari malam kemarin. Aku buru-buru pulang ke rumah Kyungsoo jadi sebelum dia sampai di rumah, masakan ini sudah jadi dan dia bisa makan. Tapi, bagaimana kalau dia sudah makan? Aku akan paksa dia makan makananku. Kan percuma kalau aku sudah memasak tapi dia sudah makan di luar terlebih dahulu. Lagipula dia sudah lama tidak makan masakanku.

Sampai di rumah Kyungsoo, aku langsung menyambar kompor. Bukan mau membakar diri sendiri, tapi dinginnya itu keterlaluan sekali sampai menusuk kulit, jadi aku terpaksa menghangatkan diri di depan kompor tanpa melepas mantelku. Setelah merasa hangat, aku mulai mepersiapkan perlengkapan memasak lalu mulai memasak. Tidak butuh waktu lama memasak ini karena aku memasak dalam porsi kecil. Aku tidak akan makan banyak, hanya makan setengah porsi, sisanya untuk Kyungsoo saja.

Tidak lupa saat di supermarket aku membeli es krim untuknya. Tapi kan sekarang dingin. Sepertinya aku cari mati saja. Makan yang dingin di saat cuaca tidak mendukung seperti ini, malah nantinya dia bakal terkena flu. Aku menepuk jidatku sekencang-kencangnya. Bodohnya kenapa aku membeli es krim di musim dingin menjelang musim semi seperti ini. Bagaimana kalau dia mati kaku karena kedinginan makan es krim. Ani, dia tidak mungkin seperti itu. Kan dia suka es krim jadi tidak masalah untuknya. Pergolakan di dalam benakku membuatku pusing jadi lebih baik aku menaruh boks es krim ini ke dalam freezer kulkas saja.

Selesai menata meja dengan hasil masakanku, aku tersenyum bangga sebentar menatap hasil kerjaku. Mudah-mudahan rasanya tidak aneh. Tapi selama ini Kyungsoo menyukai masakanku. Lebih baik berharap saja dia tidak makan di luar jadi dia bisa makan masakanku. Dan juga rasanya tidak berubah. Sambil menunggu Kyungsoo pulang, aku memutuskan untuk melihat-lihat kembali foto-foto di dinding ruang tamu Kyungsoo. terpampang jelas foto-foto Kyungsoo saat Kyungsoo anak-anak menuju remaja. Tampak berbeda karena Kyungsoo dulu terlihat gendut. Lucu sekali keliatannya.  Aku tersenyum simpul melihat foto keluarga Kyungsoo disana. Terlihat sangat harmonis dan penuh kehangatan. Sangat jauh dengan keadaan keluargaku. Tanpa sadar air mataku menetes pelan. “Kyungsoo-ah aku iri sekali padamu” lirihku pelan. Tapi sepertinya ada yang janggal, wajah Kyungsoo di foto-foto ini semakin kulihat semakin mirip seseorang. Apa mungkin?

Ting Tong! Bel berbunyi. Pasti Kyungsoo sudah pulang. Aku segera menghapus air mataku lalu membukakan pintu untuk Kyungsoo.

Author POV

Kyungsoo pulang dengan wajah penuh kebahagiaan. Sepanjang jalan di tidak berhenti tersenyum dan tidak jarang ia berteriak-teriak kegirangan sampai-sampai orang-orang melihatnya aneh layaknya orang gila. Tapi, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang lain padanya. Ia merasa sangat senang malam ini dan berusaha secepat mungkin sampai di rumah. Sesampainya di rumah, ia memarkirkan motornya di dalam garasi dan cepat-cepat berjalan menghampiri pintu. Dengan tergesa-gesa ia memencet bel. Sekejap pintu itu terbuka dan menampakkan siapa pembuka pintu itu. Wajah Kyungsoo semakin sumringah saat melihat Minhwa di depan pintunya. Kyungsoo langsung merangkul Minhwa lalu mengajak Minhwa masuk ke dalam rumahnya.

“kau sudah menungguku lama ya?”

“tidak juga. bagaimana pekerjaanmu?”

“baik baik saja, seperti biasa” kata Kyungsoo sambil menaruh tas dan jaketnya ke tiang gantungan di dekat pintu kamarnya. Bau masakan menggelitik Kyungsoo seketika dan mengundangnya ke dapur.

“kau masak untukku ya? Baunya enak sekali dari sini. Kau masak apa?

“kau lihat saja sendiri. Semoga kau suka.” Ujar Minhwa berharap cemas.

“jangan pesimis begitu. Baunya saja sudah enak, pasti masakannya juga enak.” Kata Kyungsoo menyemangati.

“aku kan tidak bisa masak seenak punyamu. Kau lebih pandai dalam urusan dapur dibanding aku. Kau bahkan lebih pandai dari yeoja sepertinya. Kau sepertinya lebih pantas jadi chef dibanding menjadi sekedar cashier di restoran cepat saji.” Mendengar celoteh Minhwa, Kyungsoo pun tertawa kecil. Tak menyangka kalau ekspektasi Minhwa akan sejauh itu. Memang dalam pikirannya sempat terlintas untuk menjadi seorang chef. Tapi, mengingat ia masih seorang pelajar, mungkin sebaiknya ia memulai dari bawah dulu.

“yah, sebenarnya kita mau makan atau beradu argumen tentang kemampuan memasak? Kau tidak tahu rupanya kalau cacing-cacing di perutku ini sudah demo minta diisi makanan.” Ujar Kyungsoo.

“gurrae. Mianhae kalau porsinya sedikit.”

“gwaenchana. Lagipula memangnya kau mau namja tampan nan cute ini menjadi gendut?” ledek Kyungsoo sambil mengerlingkan matanya pada Minhwa. Melihat itu seketika Minhwa memutar bola matanya dan mencubit lengan Kyungsoo sekencang-kencangnya.

“hello tuan narsis, berhentilah bersikap seperti itu. Lagipula siapa yang akan peduli kalau kau berubah menjadi gendut? Kalau kau gendut, mungkin bisa menjadi kembaran doraemon. Sudahlah cepat makan! Nanti keburu dingin lagi”

“aww, appoyo Minhwa-ya!!! Arraseo, nona galak.” Ledek Kyungsoo sambil mengangguk semangat. Yang disebelahnya hanya tersenyum kecut. Minhwa mengawasi Kyungsoo yang sedang makan dengan lahapnya. Mungkin anak ini lapar sekali jadi dia makan dengan kesetanan seperti itu. Saking lahapnya, Kyungsoo jadi tersedak. Minhwa tertawa kecil sambil membantu sahabatnya itu minum. Setelah selesai, dengan baik hati Kyungsoo membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan makan. Tadinya Minhwa ingin membantu, tapi Kyungsoo menolak.

“kau pasti lelah memasak ini semua untukku. Biar aku saja yang mencucinya.” Bujuk Kyungsoo. Huh lelah apanya? Aku kan cuma masak sedikit, mana mungkin lelah. Minhwa pun pergi menuju ruang tamu untuk menonton tv. Setelah mencuci piring, Kyungsoo mengisi botol minum dan menaruhnya di kulkas. Saat menaruh botol minum, ia melihat 1 boks es krim cokelat di dalam freezernya. Dia heran kenapa ada es krim di kulkasnya padahal ia merasa tak pernah membeli es krim akhir-akhir ini. Dia mengambil boks es krim itu lalu mengambil 2 sendok lalu pergi menuju ruang tamu dan duduk di sebelah Minhwa. Baru saja duduk tiba-tiba saja Minhwa berteriak yang membuat Kyungsoo hampir saja menumpahkan boks es krimnya.

“aaaaaaa sial sekali!” Gerutu Minhwa.

“waeyo? Kau ini mengagetkanku. Hampir saja es krimnya jatuh.” Kyungsoo balik sewot.

“hehe mianhae.” Minhwa tersenyum meringis merasa bersalah pada Kyungsoo. dan disenyumi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Minhwa itu penggila bola. Dimanapun dan kapanpun dia berada, kalau ia sudah melihat pertandingan bola, ia pasti tidak akan mengganti saluran TVnya.

“kau yang membelinya ya?” tanya Kyungsoo yang hanya dijawab anggukan oleh Minhwa. Seluruh perhatiannya tersita pada pertandingan bola di TV.

“kau mau tidak?” Kyungsoo menawarkannya dengan menyodorkan sendok pada Minhwa. Minhwa meraih sendok itu tanpa menoleh pada Kyungsoo. Tangannya melayang mencoba menyendok es krim. Minhwa sama sekali tidak melepaskan perhatiannya dari layar TV sampai akhirnya ia baru sadar kalau sendok di tangannya seperti ingin mencongkel mata Kyungsoo.

“yayaya!!! Kalau mau makan lihat-lihat dulu. Kau hampir saja mencongkel mataku dengan sendokmu. Apa perlu aku suapi?” protes Kyungsoo sambil menyodorkan es krim ke hadapan wajahnya.

“mianhae Kyungsoo-ah. Aku tidak sengaja, habis ini terlalu seru untuk dilewatkan walaupun hanya untuk mengambil sesendok es krim. Tapi, kau tak perlu repot-repot menyuapiku, kan aku bukan anak kecil lagi.” Minhwa mengambil sesendok besar es krim dan langsung memasukkannya ke mulut. Seketika Minhwa uring-uringan karena brain freeze. Kyungsoo yang melihat Minhwa pun tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sahabatnya itu yang disambut pukulan sendok dari Minhwa.

Mereka menghabiskan es krim itu sampai habis. Karena kecapean, Kyungsoo tertidur menyender ke sofa. Semakin lama kepala Kyungsoo bergeser ke bahu Minhwa. Minhwa yang sedari tadi berkonsentrasi pada pertandingan bola sejenak terdiam. Dia menatap wajah Kyungsoo yang sedang tertidur itu. Wajahnya teduh dan sangat lucu seperti anak kecil tanpa dosa sedikitpun.

“kau mirip pangeran kecilku dulu, D.O oppa. Wajah yang teduh dan seperti anak kecilmu itu mirip dengannya. Tapi kau tidak mungkin pangeran kecilku. Dia pasti sudah bahagia disana. Mungkin saja dia sudah menemukan putri kecil lainnya. Yang lebih baik dan sempurna daripada aku. Tapi, kenapa kau kadang-kadang mirip Minwoo oppa? Kau kadang membuatku senang sekaligus juga sedih. Tapi, gomawo.” Gumam Minhwa setengah berbisik. Tak terasa air mata mengalir dari mata Minhwa. Lalu langsung dihapus oleh Minhwa.

Tak lama pertandingan bola pun selesai dan Minhwa mengantuk. Lama-kelamaan Minhwa tertidur. Kepalanya bersandar pada kepala Kyungsoo. Mereka berdua tertidur di sofa. Sejenak kemudian tiba-tiba saja Kyungsoo terbangun.

“aigooo, sudah jam berapa ini? Ini sudah malam tapi…..” Dia terdiam melihat gadis kecilnya bersandar di bahunya. Dia tersenyum kecil. Lalu Kyungsoo menggendongnya ke dalam kamar Kyungsoo dan membaringkannya di tempat tidurnya. Dia menatap Minhwa lama sekali.

“tahukah kau kalau aku mencintaimu? Tahukah kau kalau aku menyayangimu? Tahukah kau kalau aku selalu mengkhawatirkanmu? Tahukah kau kalau aku tak bisa melewatkan hari tanpa memikirkanmu sekalipun kau di sampingku? Dan…..tahukah kau kalau aku……,” Kyungsoo terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “kalau aku sebenarnya pangeran kecilmu,D.O? Aku tak bisa menemukan putri kecil lain selain dirimu. Kau mungkin tidak tahu selama di Amerika, aku menajdi pendiam dan lebih suka menyendiri karena harus meninggalkan dirimu, Minwoo hyung dan Minhyuk Hyung?

“maafkan aku karena dulu aku pernah secara tulus menolakmu menjadi yeojachinguku. Bukan karena kita masih kecil, tapi kau tidak tahu kalau sebenarnya Minwoo hyung begitu menyayangimu juga sama sepertiku. Karena aku tidak mau mengkhianati persahabatan kita berempat, makanya aku mengalah demi persahabatan kita. Aku sempat merasa sakit karena harus menolakmu padahal aku juga ingin sekali menjadi namjachingumu, menjadi pangeran kecilmu.

“makanya aku berjanji padamu akan menjadikanmu putri resmi dalam hidupku saat kepulanganku dari Amerika. Tapi kenyataannya tak seindah yang kubayangkan. Semuanya berubah dan lebih menyakitkan lagi, kau tidak mengingatku, Minwoo hyung, Minhyuk hyung meninggalkanmu sendirian. Kau menjadi sendirian karena Jung ahjumma berubah menjadi manusia dingin yang lebih mementingkan dirinya sendiri ditambah lagi datangnya orang-orang asing yang merusak kehidupanmu.

“tapi sekarang aku akan berusaha semampuku untuk menjagamu. Aku akan membuatmu mengingatku lagi dan aku akan menjadikanmu sebagai putri resmiku. Aku akan mencoba membuatmu mencintaiku, aku akan berusaha menjadi pengganti Minwoo hyung dan aku akan berusaha membuat tangis sedihmu menjadi tawa bahagia.” Gumam Kyungsoo. Air mata perlahan-lahan turun menyusuri pipi Kyungsoo. Ternyata dalam tidurpun, Minhwa menangis. Karena terlalu banyak masalah yang ia hadapi sehingga ia juga menangis dalam tidurnya. Kyungsoo terkejut dan segera menghapus air mata dari pipi Minhwa.

Kyungsoo mengecup kening Minhwa dan menyelimuti Minhwa. Kyungsoo pun berdiri dan segera beranjak dari kamarnya. Tapi sebelum keluar, ia melihat secarik kertas di atas meja belajarnya. Dia terheran mengapa tiba-tiba kertas disana. Kyungsoo mengambilnya dan membuka kertas itu. Di kertas itu terdapat sebuah pesan entah dari siapa.

buktikan kalau kau memang pantas untuk Minhwa. Saat ini dia masih milikku. Berusahalah yang terbaik untuk Minhwaku J.”

Kening Kyungsoo mengerut. Ia bingung siapa yang mengirimkan pesan itu untuknya. Dia tak mau berpikir aneh kalau Minwoo yang mengirimkan pesan itu untuknya. Dia pikir tidak mungkin sosok yang sudah meninggal bisa mengirimkan pesan padanya. Mungkin saja itu hanya halusinasinya saja hanya karena dia kecapean makanya dia tidak bisa berpikir jernih. Dia menaruh kembali kertas itu di meja belajarnya dan pergi ke kamar sebelah.

Sebelum tidur, dia mencoba bersantai sejenak sambil mengingat memori kenangannya masa lalu bersama Minhwa. Dia tersenyum sambil mengingatnya.

*Flashback*

Seorang gadis kecil berumur 8 tahun berlari sambil membawa tali layangan sambil diikuti 2 anak lelaki di belakangnya. Rambut panjang gadis itu menari-nari lemas dipunggungnya. Kaus longgar warna-warni dan celana panjang ¾ berwarna merah mudanya itu menunjukkan sifat periang gadis kecil itu. Sedangkan 2 anak lelaki di belakangnya berlari mengikuti gadis kecil itu sambil memanggil-manggil nama gadis itu.

“Minhwa-yaaaa!! Berlarilah terus, layangannya sebentar lagi sudah mau terbang!” teriak anak lelaki berambut cepak itu. Anak lelaki itu terus berlari mengikuti gadis kecil itu sambil mengusap peluh di dahinya. Sekalipun banyak sekali peluh yang bercucuran, anak bernama Minhyuk itu tetap tidak merasa lelah. Begitu juga dengan gadis kecil itu dan anak lelaki yang lainnya.

Langkah kaki kecil itu terhenti setelah layangan itu sudah terbang bebas di langit. 3 anak kecil itu memandangi layangan itu dengan perasaan bahagia. “oppa lihat kan? Aku bisa kan menerbangkan layang-layang. Aku juga bisa seperti oppa.” Kata Minhwa membanggakan diri.

“jangan sombong dulu. Kau pasti belum tentu bisa bermain kelereng. Kau pasti akan kalah. Lihat saja.” Minhyuk seketika kesal karena melihat tingkah adiknya yang sombong.

“kau hebat Minhwa-ya. Kau setidaknya sudah menyamai kita sedikit demi sedikit. Kau pasti tidak akan kalah dari Minhyuk hyung kok. Kau pasti bisa. Nanti sore aku dan Minwoo hyung akan mengajarimu permainan kelereng dan kujamin Minhyuk hyung pasti kalah.” Ujar anak lelaki berkacamata bernama Do Kyungsoo yang biasa dipanggil D.O oleh 3 sahabat yang lainnya. Kata-katanya itu mendapat sambutan di kepala D.O dari Minhyuk.

“apa-apaan kau ini? Kau tidak membelaku? Aissh kau kenapa jadi menyebalkan seperti Minhwa?” gerutu Minhyuk kesal.

“karena D.O oppa kan menyayangiku, oppa.” Celoteh Minhwa sambil menjulurkan lidah meledek Minhyuk.

“mwo? Sejak kapan kau memanggil D.O dengan oppa? Kalian kan seumuran, mana bisa kau memanggil D.O dengan sebutan oppa?”

“dia kan pangeranku” ujar Minhwa polos. “dan dia juga putriku, hyung.” Sahut D.O.

“hahaha kalian lucu sekali. Kalian kan tidak punya istana jadi kalian tidak akan bisa menjadi raja dan ratu.” Ledek Minhyuk sambil menendang-nendang kecil tanah di kakinya.

“nanti kalau kami sudah besar, kami akan bangun istana yang megah sekali dan kami akan menikah dan hidup bahagia selamanya di istana itu.” Celoteh D.O seraya menggambarkan masa depan yang cerah sekali.

“semoga berhasil ya, aku pasti penasaran akan seperti apa istana kalian, dan semoga disana ada cokelat yang banyak sekali.”

“tentu. Kalau kau datang ke istana kami nanti, kami akan memberikan cokelat dan permen sebanyak-banyaknya.”

“horeeeeee!!!” teriak 3 anak itu serempak. Dari kejauhan, nampak seorang anak kecil yang sedari tadi mengawasi anak-anak yang bermain di tengah lapangan itu. Matanya tertuju pada gadis kecil yang berlari-lari kesana kemari tanpa mengenal lelah. Matanya mengawasi tanpa menoleh sedikitpun. Lalu, 2 anak lelaki yang bermain tadi menghampiri anak lelaki yang berdiri di samping lapangan.

“kau tidak ingin ikut bermain hyung?” ajak Minhyuk.

“ani. Aku ingin disini saja.” Sahut Minwoo yang masih terfokus pandangannya pada Minhwa. Lalu ia menoleh pada D.O dan membisikkan sesuatu padanya.

“kau mau tahu sesuatu tidak?” tanya Minwoo.

“hmm? Apa itu hyung?” jawab D.O penasaran.

“aku menyukai Minhwa. Aku ingin bersama Minhwa. Nanti kalau sudah besar aku mau menikah dengan Minhwa seperti yang di film-film itu. Tinggal bersama, bermain bersama, bercanda bersama, melakukan semuanya bersama-sama dengan Minhwa. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya.” Mendengar perkataan itu, D.O terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari hyungnya.

“tapi kalian kan kakak adik, jadi kalian tidak boleh menikah. Kata eommaku, orang yang kakak adik tidak boleh menikah, hyung.” Protes D.O.

“aku dan Minhwa bukan saudara kandung. Minhyuk adalah adik kandungku, sedangkan Minhwa adalah adik tiriku. Jadi, aku boleh menikah dengannya.” Jelas Minwoo.

D.O mengangguk mengerti tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa kecewa dan takut kalau Minhwa lebih memilih Minwoo dibandingkan dengannya. Karena ia tidak mau mengecewakan hyungnya, ia akan mengalah untuk hyungnya. Ia akan membiarkan putri kecilnya bersama dengan hyungnya walaupun ia merasa sangat kecewa.

Keesokan harinya.

“oppa…..D.O oppa…..oppa…..kau dimana? Kita main yuk!” teriak Minhwa dengan suara khas anak kecil nan lantang tersebut. Yang dipanggil akhirnya keluar dari lorong taman bermain di dekat rumah mereka.

“Minhwa mau main apa?” tanya D.O dengan senyum khasnya. Kacamatanya melorot sampai ke hidungnya.

“oppa kan janji mau mengajariku permainan kelereng. Ajari aku oppa!!” pinta Minhwa sambil merajuk manja. D.O tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan gadis manis itu. Saat mereka sedang bermain, tiba-tiba saja Minhwa mencium pipi D.O. D.O terkejut dengan sikap Minhwa kecil yang tiba-tiba itu. Pipi D.O memerah seketika.

“oppa, Minhwa menyukai D.O oppa.” Ungkap Minhwa malu-malu. Tak disangka ternyata Minhwa menyukai D.O. D.O bingung harus bagaimana karena di satu sisi, ia ingin sekali mengaku kalau sebenarnya ia juga menyukai Minhwa. Tapi di lain sisi, ia ingat pengakuan Minwoo padanya mengenai perasaannya terhadap Minhwa.

“mianhae, Minhwa-ya. Aku tak bisa menerimamu. Kita kan masih kecil jadi tidak boleh main pacar-pacaran ya Minhwa-ya.” Jawab D.O diplomatis sambil tersenyum jahil pada Minhwa. Sebaliknya, Minhwa malah cemberut dan pergi meninggalkan D.O begitu saja. Dia kesal hanya karena mereka masih kecil, D.O menolaknya. Dengan susah payah Minhwa mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada D.O, akhirnya ia hanya mendapat penolakan dengan alasan konyol seperti itu. Minhwa pulang dengan perasaan campur aduk dan akhirnya menangis di tengah jalan.

*flashback end*

Kyungsoo tersenyum geli mengingat kenangan masa kecilnya itu sekaligus merasa sedih waktu ia ingat dia harus menahan perasaannya untuk Minhwa demi hyungnya yang disayanginya itu. Sekarang hyungnya telah tiada jadi ia sekarang bisa memperjuangnya perasaannya yang dulu untuk Minhwa. Setelah itu, Kyungsoo pun merebahkan diri dan terlelap dalam tidurnya.

Iklan

5 pemikiran pada “Sweet Child Memories (Part 2)

  1. So sweet X’)… Suka banget bagian ‘ternyata DO nyelidikin kasus keluarga Minhwa ke Baekhyun diem2, nunjukin sisi namja nya. Aiih..kurang apa coba, jago masak, rapihan, tajir pula, sini aku aja yg jadi istrinyaah *Plaks (digampar Minhwa)
    Next chapt jangan lama2 ya Thor ^^9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s