Akhir Cerita Cintaku

Title                           :   Akhir Cerita Cintaku {Sequel of Hadirmu Didalam Mimpiku}

Author                      :   Lyka_BYVFEGS

Main Cast                :   Oh Sehun

Lee Haena

Support Cast          :   Find it by yourself

Genre                       :   Angst, Romance, Fluff

Rating                       :   PG15

Length                      :   Oneshot

 

Annyeong!!!

Aku hadir.

Karena banyak yang minta akhirnya aku putuskan untuk membuat sequel ‘hadirmu didalam mimpiku’.

 

Mianhe untuk typo, kata-kata berantakan dan bahasa yang kurang dimengerti.

Mianhe juga jika sequelnya mengecewakan kalian. Aku sudah mengusahakan yang terbaik. Semoga kalian suka.

 

HAPPY READING!!!

 

* * *

 

Ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan setapak di taman yang terletak di pusat kotaSeoul. Hari ini adalah hari minggu, jadi bisa dipastikan kalau taman ini ramai dengan pengunjung. Mulai dari sebuah keluarga kecil, sepasang kekasih, atau beberapa orang yang terlihat bersenda gurau dengan teman-temannya. Kulirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kiriku. Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dan aku masih punya banyak waktu untuk menggantikan Haera menjaga butik.

 

Ku percepat langkahku saat aku melihat sebuah bangku kosong yang terletak di bawah pohon yang rindang. Sepertinya akan menyenangkan jika bisa duduk disana, mengingat pohon itu terletak di tengah taman. Membuatku bisa menikmati seluruh sudut taman dari tempat itu.

 

Setelah mendudukkan diriku dibangku yang terbuat dari besi yang dicat warna-warni itu, ku buka tas selempang yang aku letakkan disampingku. Ku keluarkan sebuah buku dari dalamnya. Ku buka buku itu, mencari batas sampai dimana aku membaca buku itu terakhir kalinya. Dan aku menemukan pembatas buku yang terbuat dari sebilah bambu kecil terselip di antara halaman 22 dan 23. Segera saja ku lanjutkan membaca buku itu.

 

‘Cinta. Apakah cinta itu berarti tidak harus memiliki? Jawabannya mungkin iya dan mungkin juga tidak. Apa itu cinta adalah pertanyaan yang ambigu. Ada kalanya seseorang mengatakan cinta itu harus memiliki, karena jika kau tidak bisa memilikinya itu bukanlah cinta. Hanya sebuah perasaan sesaat. Jika kau mencintainya bukankah kau akan terus berusaha untuk mendapatkannya. Lalu kenapa kau harus menyerah akan cintamu? Jika kau menyerah begitu saja, berarti perasaanmu terhadapnya begitu dangkal karena tidak mampu membuatmu berkorban untuk mendapatkannya.

 

Tapi dilain sisi, seseorang yang lain mengatakan bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Karena cinta adalah perasaan tulus dari hati. Hanya dengan melihat orang yang kau cintai bahagia maka kaupun akan ikut bahagia. Jika kau melihat orang yang kau cintai tersenyum maka kau akan tersenyum juga. Tapi apakah sesederhana itu? Semudah apa yang dipikirkan orang itu? Cinta yang seperti itu bukankah akan menyakiti diri kita sendiri. Tidak akan mungkin kita merasa bahagia. Baik, jika hatimu merasa bahagia, tapi percayalah bahwa sebagian hatimu menangis. Menangisinya yang bahagia bersama orang lain, bukan denganmu.

 

Lantas jika sudah seperti itu. Apakah sesungguhnya cinta itu? Tidak ada orang yang tahu pasti. Tidak ada salah dan benar dalam hal seseorang mendeskripsikan apa itu cinta. Karena mereka bisa mengatakannya atas dasar pengalaman pribadi mereka. Jadi bisa dikatakan cinta adalah suatu perasaan dimana hanya orang-orang yang mengganggapnya cinta dan orang yang mengalaminya lah yang tahu sesungguhnya apa itu cinta. Beragumen dengan orang pintar, psikolog, ber-IQ tinggi, pakar cinta, atau pujangga sejati pun terasa percuma. Karena cinta hanya bisa dipahami oleh hati masing-masing. Tidak ada rumus matematika ataupun teori fisika yang bisa menjabarkannya.

 

Jika kau masih bertanya apa itu cinta. Tanyakanlah pada hatimu. Hanya hatimulah yang bisa menjawabnya bukan orang lain. Percayalah bahwa cinta itu ada didalam hati setiap insan, bahkan binatang sekalipun memiliki cinta dalam diri mereka. Karena cinta merupakan perasaan yang dianugerahkan oleh-Nya dan tidak seorangpun yang luput akan anugerah itu. Hanya yakinlah, bahwa kau bisa tetap tersenyum dan bahagia dengan cinta itu. Cinta yang terkadang menyakitimu.’

 

Aku menghela nafas panjang setelah membaca salah satu kutipan dari buku yang tengah kubaca. Cinta. Jujur saja aku membenarkan apa yang tertulis didalamnya. Meksi terkadang aku tidak ingin mengenal lagi apa itu cinta. Hati ini masih milik satu nama. Oh Sehun.

 

Sudah dua tahun berlalu, dan aku masih belum bisa melupakannya. Bahkan terkadang aku masih sering menyuruh Haera tersenyum di depanku. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa rinduku pada Sehun oppa karena senyuman Haera. Apakah aku terlalu bodoh? Merindukan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Kalian boleh menganggapku seperti itu, karena benar-benar sulit bagiku untuk melupakan Sehun oppa. Entahlah. Sampai kapan aku akan terus seperti ini?

 

“Maafkan aku, Sehun oppa. Maaf karena aku belum bisa melupakanmu. Meski sekarang aku sudah bisa tertawa dan tersenyum tapi tetap saja aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain. Aku belum bisa menepati janji itu. Entah kapan aku bisa menepati janji itu, akupun tak tahu. Mungkin sampai kapapun janji itu tak akan bisa ku tepati.” Gumamku lirih. Ku tundukkan kepalaku, berusaha menyembunyikan air mata yang telah menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak ingin orang lain memergokiku sedang menangis.

 

Ku ambil sapu tangan dari dalam tasku. Segera kuseka air mata yang telah mengalir dikedua pipiku dengan sapu tangan itu. Setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa diwajahku, aku mengamati sapu tangan itu. Di salah satu sudut sapu tangan itu terukir sebuah kata ‘Sehun ♥ Haena’. Ya. Sapu tangan ini adalah pemberian Sehun oppa saat ulang tahunku yang ke 20. Sehun oppa juga mempunyai sapu tangan yang sama, dengan warna dan bentuk yang sama juga tulisan yang terukir pun sama. Sehun oppa sengaja membeli dua buah, satu untukku dan satu lagi untuk dirinya sendiri.

 

Setelah puas mengamati sapu tangan itu, aku kembali memasukkannya ke dalam tas selempangku. Kulanjutkan acara membacaku yang sempat tertunda karena mengenang Sehun oppa. Masih 223 halaman lagi untukku menyelesaikan buku yang baru kubeli beberapa hari yang lalu ini. Kesibukan di butik membuatku tidak punya cukup waktu untuk membacanya.

 

“Maaf? Sepertinya aku mengenalmu.” Suara seorang laki-laki terdengar dari hadapanku. Kudongakkan kepalaku untuk mengetahui siapa gerangan pemilik suara itu.

 

“Ne?”

 

“Lee Haena!” Seru laki-laki tersebut. Sepertinya dia terkejut sekaligus senang bertemu denganku. Tapi siapa laki-laki yang tengah memakai kacamata hitam ini? Aku tidak mengenalnya.

 

“Nuguseyo?” Tanyaku penasaran.

 

“Kau tidak mengenaliku?” Tanya laki-laki itu heran yang hanya ku jawab dengan gelengan kepala.

 

“Benar kau tidak mengenaliku?” Tanya laki-laki itu memastikan.

 

“Mianhe. Kau memakai kacamata sehingga sulit bagiku untuk mengenali wajahmu.” Jawabku sambil menutup buku yang tadi kubaca.

 

“Ah! Aku lupa.” Laki-laki itupun membuka kacamatanya.

 

“Hai!” Sapanya sambil memamerkan senyum manisnya.

 

“LUHAN OPPA!” Seruku terkejut. Saking terkejutnya aku tidak sadar jika aku sampai terlonjak dari dudukku.

 

“Kau masih mengingatku ternyata.” Kata Luhan oppa sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

 

“Tentu saja!” Jawabku yang langsung berhambur memeluknya. Mengindahkan uluran tangannya kepadaku. “Aku merindukanmu, oppa.” Kataku dalam pelukannya.

 

“Hahahaha… Aku juga.” Kata Luhan oppa membalas pelukanku.

 

Aku melepas pelukanku, kemudian kami berdua duduk dibangku yang tadi kutempati seorang diri.

 

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Luhan oppa memulai pembicaraan.

 

“Baik. Oppa sendiri?”

 

“Aku juga baik. Tapi akhir-akhir ini aku merasa sedikit lelah.”

 

“Waeyo? Apakah karena pekerjaan kantor?” Tanyaku ingin tahu. Luhan oppa. Orang yang sudah ku anggap sebagai oppa ku sendiri.

 

“Tidak juga. Yah, meskipun itu menjadi salah satu alasannya.”

 

“Lalu?”

 

“Kau tahu mengurus seorang anak kecil yang berusia 2 tahun dan juga seorang ibu yang tengah hamil ternyata lebih melelahkan dibanding mengerjakan setumpuk pekerjaan dikantor.” Jawab Luhan oppa mendramatisir.

 

“Mwo? Oppa sudah mempunyai 2 anak?” Tanyaku terkejut.

 

“Ne. Kau kemana saja? Kenapa tidak tahu soal ini?” Tanya Luhan oppa sambil mengacak rambutku.

 

“Aish! Oppa, berhenti mengacak rambutku. Aku bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah 24 tahun.” Gerutuku kesal.

 

“Tapi tetap saja kau seperti dongsaeng kecil bagiku.” Sahut Luhan oppa tanpa rasa bersalah. “Bukankah dulu kau hadir di pernikahanku?” Tanya Luhan oppa.

 

“Ne. Tapi setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi. Dan juga aku tidak dengar kabar apapun tentang oppa.”

 

“Tentu saja. Pembawa kabar tentangku kan hanya Sehun.” Kata Luhan yang sukses membuat raut wajahku berubah.

 

Luhan oppa yang menyadari perubahan pada wajahku hanya bisa mengelus punggungku.

 

“Mianhe.” Sesalnya.

 

“Tidak apa-apa, oppa.” Kataku berusaha tersenyum.

 

Hening. Setelah itu tidak ada lagi yang pembicaraan diantara kami. Kami berdua sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku menatap beberapa anak kecil yang tengah bermain bola di depan kami, tapi pikiranku tertuju pada Sehun oppa. Entah ada apa dengan hari ini. Sepertinya sejak aku terbangun dari tidurku ada saja hal yang membuatku teringat akan Sehun oppa.

 

“Haena-ya?”

 

“Hmm?”

 

“Sehun. Dia mencarimu.” Kata Luhan oppa singkat.

 

“Mwo?” Tanyaku menatap Luhan oppa. Sedangkan Luhan oppa hanya menatap lurus ke depan.

 

“Satu tahun ini, dia mencarimu. Apakah kau pindah rumah?” Saat ini Luhan oppa tengah menatapku dengan tatapan ingin tahu.

 

“Ne, aku memutuskan untuk pindah rumah. Kira-kira 1,5 tahun yang lalu.” Jawabku lesu.

 

“Banyak yang terjadi 2 tahun ini. Dan Sehun. Dialah yang paling banyak berubah. Entahlah. Sekarang aku seperti tidak mengenali adikku sendiri.” Kata Luhan oppa.

 

“Kenapa? Apakah ada yang terjadi? Apakah ada yang salah dengan rumah tangga Sehun oppa?” Tanyaku.

 

“Ada.” Jawab Luhan oppa singkat.

 

“Apa yang terjadi, Luhan oppa? Katakan padaku!” Desakku.

 

“Tidak. Bukan dariku kau mengetahui semuanya. Lebih baik kau mendengarnya sendiri dari mulut Sehun.” Tolak Luhan oppa.

 

“Tapi a-“

 

“LUHAN HYUNG!” Teriakan seorang laki-laki memotong pembicaraanku.

 

“SUHO-YA! AKU DISINI!” Seru Luhan oppa kepada seorang laki-laki yang memanggilnya tadi. Laki-laki itu berlari kecil menghampiri kami berdua.

 

“Aish! Hyung darimana saja? Kami semua mencari hyung. Kalau hyung ingin pergi. Setidaknya beritahu istri hyung. Sehingga dia tidak kebingungan mencari hyung.” Omel laki-laki berwajah tampan itu.

 

“Suho oppa?”

 

“Haena-ya?”

 

“Myunnie oppa, lama tidak bertemu.” Kataku berhambur kepelukan Suho oppa.

 

“Ya! Berhenti memanggilku seperti itu. Aku ini sudah menjadi seorang appa, tidak pantas dipanggil seperti itu.” Gerutu Suho oppa membalas pelukanku.

 

“Kenapa? Aku suka nama itu. Terdengar imut. Emmm, apakah melebihi Luhan oppa?” Tanyaku penasaran.

 

“Apanya?”

 

“Tentu saja anak oppa.”

 

“2. Namja dan yeoja. Mereka kembar.” Jawab Suho oppa.

 

“Jeongmal? Aku ingin lihat mereka. Pasti mereka sangat lucu.” Kataku antusias.

 

“Kalau begitu mainlah kerumahku. Sekalian aku perkenalkan kau dengan istriku.”

 

“Arasseo. Kapan-kapan aku akan berkunjung.”

 

“Aku tunggu.”

 

“Kau juga harus datang kerumahku, Haena-ya.” Pinta Luhan oppa dengan wajah memelas.

 

“Aish! Jangan tunjukkan ekspressi seperti itu, Luhan oppa. Kau membuatku geli.” Kataku sambil terkekeh.

 

“Ya! Apa maksudnya itu? Kau tidak tahu bahwa aku ini tampan?” Kata Luhan oppa tidak terima.

 

“Hyung itu cantik dan juga imut bukan tampan.” Sahut Suho oppa yang sukses membuat Luhan oppa cemberut.

 

“KIM JOON MYUN!”

 

“Aish! Sudahlah, hyung! Ayo kita pergi! Istri hyung sudah mencari hyung. Hyung selalu melupakan istri yang sedang hamil. Aish! Benar-benar.” Omel Suho oppa.

 

“Kau seperti eomma saja, Suho-ya. Mengomel tidak jelas. Aku jadi berpikir sepertinya setelah kau menikah, kau jadi berubah gender. Jadi seorang ahjumma cerewet.” Sahut Luhan oppa.

 

“YA! LULU HYUNG!”

 

“Jangan memanggilku Lulu. Aku tidak suka.” Tolak Luhan oppa.

 

“Tapi istrimu memanggilmu seperti itu.” Bela Suho oppa.

 

“Itu panggilan sayang darinya untukku, Suho-ya.” Bantah Luhan oppa.

 

“Cih! Dasar!” Cibir Suho oppa. Sedangkan Luhan oppa hanya menanggapinya dengan cuek.

 

“Haena-ya, kami pergi dulu. Annyeong.” Pamit Suho oppa.

 

“Ne, annyeong. Hati-hati, oppadeul.”

 

“Jangan lupa sesekali berkunjunglah kerumahku.” Pesan Suho oppa sebelum berjalan menjauh.

 

“Kerumahku juga.” Tambah Luhan oppa.

 

“Tentu.”

 

Sepeninggal Suho oppa dan Luhan oppa. Aku memilih untuk segera berangkat ke butik. Butuh waktu kurang lebih setengah jam jika ku tempuh dengan berjalan kaki. Dan aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Mengulur waktu yang masih tersisa 2 jam lagi sebelum menggantikan Haera.

 

Sehun oppa. Benarkah dia mencariku? Dan benarkah sesuatu telah terjadi kepadanya? Berubah? Apa yang berubah dari Sehun oppa? Aku harus mencari tahu. Tapi apa hakku? Siapa diriku untuk Sehun oppa hingga aku harus mencampuri urusannya? Tidak. Aku tidak boleh berhubungan lagi dengan Sehun oppa. Apapun status hubungan itu. Sekarang Sehun oppa sudah ada yang memiliki. Jadi aku tidak berhak untuk memilikinya. Ya. Sadarlah, Lee Haena! Sadarlah bahwa sampai kapanpun kalian tidak akan mungkin bisa bersama seperti yang dikatakannya 2 tahun yang lalu kepadaku.

 

* * *

 

Aku terduduk di tempat yang sama dengan yang kududuki 1 minggu yang lalu. Di bangku yang terletak di tengah taman. Entahlah. Hanya saja aku menyukai tempat ini. Jika ada waktu luang bisa dipastikan aku akan datang kesini. Appa, eomma dan Haera pun sudah tahu kebiasaanku yang satu ini, sehingga tidak sulit bagi mereka untuk mencariku.

 

Dan seperti biasa, aku lebih memilih membaca buku untuk menghilangkan rasa bosanku. Tapi baru saja aku membuka buku dan mulai membacanya, sebuah suara mengejutkanku.

 

“Haena-ya?”

 

DEG!

 

Suara ini. Aku kenal betul suara ini. Tidak. Tidak mungkin dia berada disini. Pasti itu hanya halusinaku saja. Karena terlalu merindukannya hingga aku merasa mendengar suaranya. Tidak. Ku geleng-gelengkan kepalaku yang sedari tadi tertunduk.

 

“Lee Haena.”

 

Ku beranikan diri mengangkat kepalaku. DEG! Buku yang kupegang terlepas dari tanganku. Jantungku berpacu dengan cepat. Kurasakan oksigen disekitarku berkurang, menyebabkanku sulit bernafas. Aku beranjak dari dudukku, memandang seseorang yang berdiri dengan jarak tak lebih dari 5 meter didepanku tanpa berkedip. Berusaha memastikan bahwa yang ku lihat didepanku adalah nyata bukan halusinaku semata.

 

“Se… Sehun oppa?” Ucapku tertahan. Aku tidak mampu berkata-kata, suaraku seperti tertelan begitu saja. Keterkejutan ini membuatku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Hanya tatapan mataku yang berbicara. Aku merasakan pandanganku tiba-tiba kabur. Sedetik kemudian buliran air mata jatuh membasahi wajahku.

 

Mulutku terbuka, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada satu katapun yang berhasil keluar. Entahlah. Aku seperti menjadi seorang tuna wicara saat ini. Tuhan! Tolong aku!

 

Ku lihat Sehun oppa tampak berjalan dengan langkah lambat ke arahku diiringi dengan tatapan matanya yang sulit kuartikan. Sehun oppa berhenti tepat dihadapanku. Tangannya terulur menyentuh wajahku. Menghapus air mataku dengan lembut.

 

Tidak. Aku mohon jangan lakukan ini. Ini tidak boleh terjadi. Aku ingin menepis tangannya tapi yang ada hanyalah tangisanku yang semakin menjadi. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Otak dan hatiku benar-benar tidak bekerja dengan sinkron. Membuatku akhirnya membiarkan tangannya menghapus air mataku.

 

“Jangan menangis.” Ucapnya dengan lembut. Ada semacam perasaan bersalah dan kesedihan yang mendalam dari nada suaranya. Ku lihat mata Sehun oppa yang berkaca-kaca.

 

“A-Aku ha-“

 

Ucapanku terputus karena pelukan Sehun oppa yang tiba-tiba. Sehun oppa memelukku dengan sangat erat. Membuatku kesulitan untuk bernafas. Aku tidak tahu harus membalas pelukannya atau tidak. Sehingga kubiarkan Sehun oppa memelukku. Kurasakan kehangatan menjalar disekujur tubuhku karena pelukannya. Nyaman. Selalu itulah kata yang menggambarkan pelukan Sehun oppa bagiku.

 

“Maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Kata Sehun oppa lirih tetap dalam posisi memelukku.

 

* * *

 

“Bagaimana kabarmu?” Sehun oppa memulai pembicaraan setelah keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat.

 

“Baik. Tapi bolehkah aku mengatakan bahwa sejujurnya aku tidak baik-baik saja setelah bertemu denganmu, Sehun oppa?” Aku menatap wajah Sehun oppa. Mencoba menguatkan diri ini untuk tidak menangis lagi hanya karena melihatnya. Aku harus terlihat tegar. Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya. Bukankah aku sudah berjanji padanya akan menerima perpisahan ini? Tapi apa yang kau lakukan Im Haena? Pertanyaanmu tadi justru menggambarkan betapa menyedihkannya hidupmu setelah kepergiannya.

 

Ku lihat raut wajah Sehun oppa berubah menjadi sendu. Tatapan yang tadinya lembut sekarang bercampur dengan tatapan penyesalan. dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka saat Sehun oppa menatapku seperti itu. Aku menyukai tatapannya yang lembut dan menenangkan hatiku.

 

Sehun oppa menatapku untuk beberapa saat sebelum memilih untuk menatap lurus ke depan. Ku lihat Sehun oppa menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya. “Dan bolehkah aku mengatakan bahwa sejak 4 tahun yang lalu aku tidak baik-baik saja?” Tanyanya yang membuatku mengerutkan dahi. Aku tidak merespon pertanyaannya, karena sepertinya Sehun oppa masih ingin melanjutkan perkataannya, jadi ku putuskan untuk diam dan menanti kata-kata yang keluar dari mulut Sehun oppa.

 

“Sejak berita perjodohan konyol itu aku sudah tidak baik-baik saja, Haena-ya. Bahkan bertambah parah selama satu tahun belakangan ini.”

 

“Apa maksudmu, Sehun oppa?” Tanyaku heran. Setahun? Apa yang terjadi satu tahun yang lalu hingga membuat Sehun oppa begitu terpuruk? Apakah berhubungan dengan istrinya? Atau keluarganya? Aku jadi ingat kata-kata Luhan oppa seminggu yang lalu. Sebenarnya apa yang terjadi?

 

“Aku menceraikannya.” Jawab Sehun oppa yang sukses membuatku terkejut. Ku tatap matanya yang saat ini tengah menatapku. Tidak ada kebohongan dimatanya.

 

“Tidak. Bukan aku yang menceraikannya. Tapi appa dan eommalah yang memintaku untuk menceraikannya.” Lanjut Sehun oppa.

 

“Kenapa?” Hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulutku setelah keterkejutanku akan kabar yang kudengar tentang pernikahan Sehun oppa.

 

“Dia bukanlah gadis yang baik. Selama ini sifat baiknya hanya merupakan kedok semata. Aku sudah mengetahuinya sejak semula, tapi appa dan eomma tidak mempercayaiku dan justru menuduhku memfitnahnya supaya aku bisa berpisah darinya dan kembali bersamamu. Tapi setelah satu tahun berlalu appa dan eomma mengetahui dengan mata kepalanya sendiri bahwa menantunya pergi bersama beberapa teman laki-laki dan juga wanitanya di sebuah club malam. Disana appa dan eomma memergokinya sedang bermesraan dengan salah seorang laki-laki yang diketahui sebagai kekasihnya. Ternyata selama ini dia dan keluarganya hanya mengincar perusahaan appa.” Jelas Sehun oppa.

 

Sakit. Itulah yang aku rasakan. Benarkah pernikahan Sehun oppa berakhir seperti ini? Pernikahan yang aku harapkan akan membahagiakannya justru membawa kesedihan untuknya.

 

“Apakah oppa mencintainya? Apakah oppa menyesal bercerai darinya?” Tanyaku tanpa berani menatap mata Sehun oppa.

 

“Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku tidak menyesal bercerai dengannya. Yang aku sesalkan adalah kenapa aku meninggalkanmu hanya untuk wanita sepertinya? Meski itu bukan keinginanku tapi tahukah kau besarnya rasa bersalah dalam hatiku kepadamu, Haena-ya?” Jawaban Sehun oppa membuat sedikit rasa lega dalam hatiku. Aku pikir Sehun oppa berubah karena sedih harus bercerai dengan istrinya. Tapi ternyata dia berubah secara tidak langsung adalah karenaku. Bolehkah aku berharap bahwa kami bisa bersama? Lee Haena! Berhentilah berpikiran demikian!

 

Sehun oppa beranjak dari duduknya dan berjalan didepanku. Saat ini Sehun oppa berdiri dihadapanku yang sedari tadi terduduk. Kudongakkan kepalaku untuk menatap matanya. Tatapan itu. Aku merindukannya. Perlahan Sehun oppa berjongkok didepanku. Menggenggam kedua tanganku dengan tangan besarnya. Hangat. Genggaman tangannya masih sehangat dulu. Dan setiap sentuhan yang diberikan oleh Sehun oppa selalu membuat jantungku berdetak tidak normal, seperti saat ini. Mata itu mengunci mataku untuk tetap menatapnya. Menarikku untuk jatuh kedalam pesona seorang Oh Sehun. Tatapan mata yang membuatku jatuh cinta padanya saat pertama kali kami bertemu.

 

“Haena-ya, maukah kau kembali kepadaku? Kita memulai semua dari awal. Ah, tidak. Kita memulai lembaran baru. Jika dulu aku begitu pengecut menghadapi cobaan yang datang kepada kita, untuk kali ini berikan aku kesempatan untuk berani mengambil keputusan demi kebahagiaan kita berdua. Aku tahu aku telah meninggalkan luka yang belum kering dihatimu, oleh karenanya ijinkan aku untuk menyembuhkan luka itu. Jangan biarkan orang lain untuk menyembuhkannya. Karena aku tidak akan rela. Mungkin ini terdengar egois. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu, Lee Haena. Bukan hanya sekedar menginginkanmu.”

 

Air mataku terjatuh begitu saja. Mendengar permintaan tulus dari Sehun oppa membuatku begitu terharu. Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan untuk namja dihadapanku ini. Sehun oppa melepaskan sebelah genggaman tangannya di tanganku untuk menghapus air mata yang membasahi wajahku.

 

“Luka yang oppa goreskan membekas sangat dalam dihatiku. Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk menyembuhkannya. Jika oppa bersedia disisiku seumur hidup oppa aku rasa aku juga akan berani mengambil keputusan untuk menerima oppa kembali.” Jawabku tersenyum tulus. Senyum yang entah sejak kapan tidak pernah tampak lagi diwajahku. Dan sekarang senyum itu hadir kembali karena Sehun oppa. Seseorang yang bisa membuatku tersenyum dengan tulus.

 

“Oppa janji, oppa akan tidak akan meninggalkanmu lagi. Gomawo, Haena-ya.” Kata Sehun oppa memelukku erat dan dengan senang hati aku membalas pelukannya. Rasanya hati ini sangat lega dan senyuman ini bukanlah senyum palsu seperti dulu. Mulai saat ini aku akan terus tersenyum. Meski suatu saat nanti akan ada lagi cobaan yang menerpa kami tapi aku percaya bahwa Sehun oppa akan menepati janjinya.

 

Sesaat kemudian Sehun oppa melepaskan pelukannya. Sedikit tidak rela karena harus kehilangan kehangatan darinya. Sehun oppa menatapku dengan tatapan lembut dan sayu. Senyum tak lepas dari wajah tampannya, begitu juga denganku.

 

“Aku mencintaimu.” Kata Sehun oppa sebelum mencium bibirku. Melumatnya lembut. Aku pun membalas ciumannya. Aku merindukan bagaimana cara Sehun oppa menciumku lembut tanpa nafsu. Aku merindukan bagaimana tangan Sehun oppa akan menautkan jemari kami saat kami berciuman. Aku merindukan saat tubuh kami saling berdekatan dan menaikkan suhu udara disekitar kami.

 

“Aku juga mencintaimu, Sehun oppa.” Kataku begitu ciuman kami berakhir. Sehun oppa hanya tersenyum lalu berdiri dan menarik tanganku untuk mengikutinya.

 

“Kita mau kemana, oppa?” Tanyaku bingung sambil mengikuti langkah kakinya yang panjang.

 

“Kerumahku.” Jawab Sehun oppa singkat.

 

“Untuk apa?”

 

“Meminta orangtuaku untuk menikahkan kita.”

 

“MWO?” Aku menghentikan langkahku hingga terpaksa Sehun oppa juga ikut berhenti. “Apa mereka tidak menjodohkan oppa lagi dan akan merestui kita?” Tanyaku bingung.

 

“Apa kau pikir dengan kejadian ini mereka masih ingin menjodohkanku?” Tanya Sehun oppa balik.

 

“Bukankah orangtua Sehun oppa selalu menjodohkan anaknya? Seperti Sehun oppa dulu.”

 

“Ya. Itu dulu. Sebelum perceraianku terjadi. Tapi setelah itu, mereka tidak ikut campur lagi dengan urusan percintaan anak mereka.”

 

“Benarkah?” Tanyaku sedikit sangsi.

 

Sehun oppa melepaskan tanganya dari tanganku dan memegang kedua bahuku.

 

“Aku tidak akan berani memintamu kembali jika prinsip orangtuaku tidak berubah. Aku tidak ingin menyakitimu untuk kedua kalinya. Jadi jika sekarang ini aku berani menemuimu berarti kita sudah mendapat restu dari mereka.” Jawab Sehun oppa sambil tersenyum. Dan tidak dapat kupungkiri bahwa tidak ada hari lain yang lebih membahagiakanku dibanding hari ini. Hari dimana aku bisa merajut kembali hubunganku dengan orang yang aku cintai.

 

* * *

 

“Hyung, ayo kita pulang!” Ajak Suho.

 

“Sebentar lagi, Suho-ya.” Tolak Luhan.

 

“Apalagi yang ingin hyung lihat? Bukankah mereka sudah akan pergi?” Tanya Suho sambil menunjuk ke arah sepasang manusia yang sedari tadi diintipnya tengah berdiri dan melangkah menjauh dari pandangan mereka.

 

“Benar juga. Sepertinya mereka telah kembali bersama. Lihat saja mereka pergi dengan bergandengan tangan dan tersenyum bahagia.”

 

“Ya. Ku harap setelah ini Sehun mendapat kebahagiaannya sendiri.” Do’a Suho.

 

“Aku juga berharap begitu. Ah! Tidak sia-sia aku memberitahu Sehun bahwa aku bertemu Haena disini.”

 

“Ya, aku akui kali ini keputusan hyung untuk memberitahu Sehun adalah keputusan yang tepat.” Kata Suho menganggukkan kepalanya.

 

“Kajja, Suho-ya! Aku tidak ingin pulang terlambat dan tidak mendapat jatah makan dari istriku tercinta.” Sekarang giliran Luhan yang mengajak pulang dan menyeret dongsaengnya nya itu secara kasar.

 

“Ya! Pelan-pelan, hyung. Aku bisa jalan sendiri.  Hyung tidak perlu menarikku seperti ini!”

 

 

END

 

* * *

 

Gimana? Semakin lama semakin tidak jelas kan?

Entahlah, hanya ini yang terpikir di otakku. Otak ini sudah benar-benar mentok ide.

Tapi meskipun mengecewakan dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali, semoga bisa menghibur kalian semua.

Terimakasih.

 

Jangan lupa commentnya.

Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya.

 

Dadah…..

 

6 pemikiran pada “Akhir Cerita Cintaku

  1. Aiigoo Oh Ma Ji trnyata bisa romantis juga., aku jga mau dong (?) ._.
    itu aplgi jun ma hao and s.boneka brjalan, kpan d.stu? mau ngtipin aku ya? *pletaak
    Weits 1 kta tuk’ mu author, SEMPURNA 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s