A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 1)

A Crazy Little Thing Called Love (chapter 1)

Genre :Romance, Friendship, Comedy (?)

Author : Rimahyunki

Length : Chaptered

Rating : T

Main Cast :

Wu Yifan (Kris)

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kwon Richan

Shin Heerin

 

Other Cast:

Do Kyungsoo (D.O)

Kim Jongin (Kai)

EXO member

Yesung

Lee Sooman

 EXO copy

. . . . . . . . .

 

As you know, the title is inspired by a Thai film J

HAPPY READING~!

 

. . . . . . . . .

 

 

“Waeyo Wufan.ah??” ujar gadis itu dengan suara yang sedikit bergetar. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan juga kagetnya setelah mendengar ucapan Kris untuk memutuskan hubungan yang telah mereka jalani selama dua bulan itu.

“I’m just bo..red” jawab Kris tanpa sedikitpun terlihat rasa bersalah dari wajahnya.

Plakk. Sebuah tamparan melayang di sebelah pipi namja tampan itu, memberikan bekas merah yang cukup untuk membuat Kris merasa ngilu.

“Dasar namja tidak berperasaan!” batin yeoja itu kesal lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.

Ini sudah yeoja kesepuluh yang ia buat kecewa, dan tamparan tadi adalah yang kedua kalinya. Namun sampai saat ini juga, belum ada yeoja yang dapat menolak pesona  dan kharisma namja bernama lengkap Wu Yifan itu.

Kris hanya mengusap bibirnya dengan ibu jari, berharap bibirnya tidak berdarah karena tamparan tadi.

Sebenarnya ada apa dengan yeoja-yeoja itu? Ini sudah yang kedua kalinya aku ditampar hanya karena aku memutuskan mereka dengan alasan yang sama. Memangnya salah jika aku bosan?

Namja itu menggelengkan kepalanya tak mengerti kemudian kembali berjalan menuju motor gede yang ia parkir di pinggir jalan. Sungguh malam minggu yang cukup memilukan, batin namja itu sembari mengusap pipinya yang masih berdenyut.

. . .

 

SM Highschool, 10.00 KST, Chanyeol poV_

“Jinjja?”

Aku belum menutup mulutku yang masih menganga sampai Baekhyun merentangkan tangannya hendak mengatupkan kedua bibirku.

“Ne, mereka putus sejak Luhan pergi ke China” tegas Kyungsoo membuatku semakin membulatkan mataku. Jujur saja aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku mendengar kabar jika Luhan dan yeoja itu telah mengakhiri hubungan mereka. Yah, yeoja yang selama ini hanya bisa kuamati dari jauh. Memang sedikit tidak baik berbahagia diatas penderitaan orang lain. Tapi, bukankah kabar baik itu berarti….

“Tunggu apa lagi? Ini kesempatanmu!” tukas Baekhyun yang disetujui anggukan kepala Kyungsoo.

“Yah, tapi kau tau kan aku ini tidak pandai menarik perhatian yeoja?”

Kyungsoo menepuk pundakku sembari menggelengkan kepalanya prihatin. Seandainya saja aku setampan Wufan. Ah ngomong-ngomong soal kaptenku itu, ia sekarang berjalan melewati meja kami bersama seorang yeoja yang berbeda.lagi.

Bukankah kemarin ia bilang padaku jika ia baru saja putus dengan pacarnya? Lalu sekarang? Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Sebenarnya memang bukan hal yang mengherankan untuk namja tampan dan populer sepertinya.

“Pucuk dicinta ulam pun tiba” ucap Baekhyun membuatku mengerutkan dahi. Ia menggerakkan lidahnya menunjuk ke sebuah arah.

Dua yeoja sedang berjalan masuk ke dalam kantin hingga akhirnya duduk di sebuah meja yang tidak jauh dari kami. Mataku masih belum terlepas sejak ia duduk dan menaruh nampan makanan di atas meja. Seperti biasanya, tidak banyak senyum yang tampak di wajahnya. Ia memang bukan seseorang yang mudah menyunggingkan sebuah senyuman, tetapi sekali saja ia tersenyum, hal itu cukup membuat orang-orang di sekitarnya ingin tersenyum juga.

Yah dia memang berbeda. Yeoja ini lain dari biasanya. Ia diam disaat yang lain banyak bicara. Ia hanya duduk tenang di tempatnya saat yang lain sedang sibuk mondar-mandir. Ia hanya tersenyum saat yang lain tertawa. Ia terlihat dingin, tetapi menjadi orang paling hangat saat tersenyum. Dan… She can take my heart while others can’t.

“Sekarang kau kesana, bawa nampanmu lalu kau pura-pura bergabung dengan mereka karena meja kantin yang penuh”

Aku melihat bingung ke arah Baekhyun yang menunjukkan mimik muka seperti berkata, ‘tunggu apa lagi?’

harus diakui jika Baekhyun lebih ahli untuk urusan seperti ini. Sebenarnya namja itu bisa saja menunjuk siapa yeoja yang diinginkannya. Namun sayangnya aku belum pernah melihat namja itu tertarik pada seorang yeoja.

“Bukan ide yang buruk memang, tapi-tapi Bacon.ah…”

Ia menggelengkan kepalanya, menarik tanganku agar segera beranjak dari kursi sementara Kyungsoo dengan polosnya menyodorkan nampan makananku.

“Fighting!”

Aku bisa mendengar suara cekikikan mereka berdua saat aku mulai berjalan menuju mejanya. God, apa yang harus kulakukan? Setiap langkahku mendekat, jantungku juga berpacu semakin keras. Semoga aku tidak melakukan hal bodoh.

Brakk.

Aku merasakan cairan membasahi seragamku. Begitu melihat ke depan, aku baru sadar jika aku menabrak seorang yeoja yang tak lain adalah teman yang duduk dengan yeoja itu. Semua makanan yang kubawa tumpah ke seragamnya begitu juga dengan minumannya yang tumpah ke seragamku.

Aku sempat melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang menepuk keningnya sendiri. Aigoo bodohnya! Sekarang semua orang melihat ke arahku termasuk dia yang langsung beranjak dari kursinya.

“Aish Kau ini!!” seru Geulrin masih berusaha mengibaskan seragamnya.

“Aigo Mianhae” ucapku pada yeoja itu. Ia hanya melihat sinis kemudian berlalu, mungkin ke kamar mandi.

“Gwenchana-yo?”

Seorang yeoja sudah berdiri di depanku dan tiba-tiba saja lidahku jadi kelu.

“Gwen-gwenchana” balasku dengan bersusah payah. Ia tiba-tiba saja  mengelap tanganku yang basah karena kopi tadi dengan tissue yang dipegangnya. Apakah aku sedang bermimpi?

“Sepertinya tanganmu kebal sekali Chanyeol.shi, padahal kopi Geulrin tadi cukup panas”

“Kau masih ingat namaku?” tanyaku begitu saja. Dasar Chanyeol bodoh! Pertanyaan macam apa itu?

Ia tersenyum mendengar ucapanku. Tunggu dulu! Ia tersenyum?

“Tentu saja, kau kan teman sekelasku saat kelas satu” ucapnya masih belum menurunkan lengkung senyuman di wajahnya. Aku masih ingat betul jika hal itulah yang pertama kali membuatku menyukainya. Meskipun sayangnya aku harus kalah dari Luhan. Yah memang jika dibandingkan dengan namja itu aku tidak ada apa-apanya. Hanya statusku sebagai anggota tim basket SM yang sedikit menolongku.

“Kau ingin kemari tadi?” tanyanya membuatku bingung harus menjawab apa. Seketika itu juga aku menolehkan kepalaku ke arah Baekhyun dan Kyungsoo. Baekhyun memainkan anggota badannya, seperti memberikan isyarat padaku. Dari gerakan tangannya, kurasa aku mengerti apa maksudnya. Mengajaknya menonton pertandingan basket sekolah kami sabtu ini? Ah kurasa.

“Aku.. Aku.. ingin me..”

Ia melihatku dengan dahinya yang berkerut. Ayolah Park Chanyeol katakan!

“Richan.aah!!” suara teriakan yang ternyata dari arah Geulrin membuat yeoja di depanku ini langsung berbalik badan.

“Sampai nanti” ucapnya kemudian berlalu  meninggalkanku.

Aku menendangkan kakiku ke meja kemudian melihat ke arah dua sahabatku yang lagi-lagi menepuk kening mereka sendiri.

. . . . .

 

Richan poV_

“Sial sekali, mana ini baru saja dicuci” keluh Geulrin belum berhenti semenjak kami keluar dari kantin tadi. Ia terus saja mengomel tanpa henti karena Chanyeol menumpahkan makanan ke seragamnya. Aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehan sahabatku itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika kejadian tadi membuatku teringat pada Luhan.

 

Brakk. Segelas capuccino yang dibawanya tumpah begitu saja saat aku dengan cerobohnya menabrak seseorang yang berdiri di sebelahku itu. Aigo bodohnya! Kenapa tidak melihat dulu sebelum berjalan?

“Jeongmal mianhamnida Luhan.shi” ucapku sembari membungkukkan badan ke arah namja itu.

“Kurasa kau harus membayar untuk ini,” balasnya dingin membuatku agak takut.

“Ne ne tentu saja, tapi aku tidak membawa uang cukup banyak”

“Aniyo.. Aku tidak ingin uangmu”

Kutautkan kedua alisku mendengar ucapannya. Ia kemudian tersenyum dan mengatakan sebuah kalimat yang membuatku langsung membeku, “Aku ingin kau menemaniku sore ini”

 

“Richan.ah! Kwon Richan!”

Suara melengking Geul rin yang terdengar tepat di telingaku membuatku langsung sadar dari lamunanku. Yeoja itu memukul pundakku kesal.

“Aish, jadi daritadi kau tidak mendengarkanku?” tukasnya kesal sementara aku hanya terkekeh menyesal.

. . . .

 

Author poV_

Shin Heerin. Yeoja itu memperhatikan nama dada yang terukir di seragam barunya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman lebar sebelum memasuki mobil hitam yang terparkir di depan rumah barunya.

Yeoja berambut coklat itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya.

“Fiuhh..”

Udara di Osaka dan Seoul memang jauh berbeda. Namun apa boleh buat, mutasi kerja yang dilaksanakan appa-nya membuat mereka tak bisa menghindari untuk pindah rumah.

“Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan Oppa..” gumamnya membayangkan bagaimana reaksi pacarnya jika mengetahui bahwa ia pindah ke sekolah yang sama dengan namja yang selama ini jarang ditemuinya.

“Heerin.ah kajjaa,” seru appa Heerin yang sudah menunggu di dalam mobil.

“Ah ne ne appa.. Umma aku berangkat,” ucap Heerin sembari mencium tangan ummanya kemudian berlari menuju mobil yang akan membawanya pergi ke sekolah barunya. Sekolah milik pamannya sendiri, Lee Sooman.

. . . . .

 

SM Highschool, 10.30 KST

Baekhyun terus mengunyah snack ringan dalam mulutnya. Sambil mendengarkan Kyungsoo yang terus mengoceh tentang bagaimana killernya Kyuhyun songsaenim yang menghukumnya di depan kelas.

“Bacon-ah…”

“Hmm?”

“Kau tau tidak ada anak baru di kelas satu?” tanya namja belo’ itu yang dijawab gelengan kepala oleh Baekhyun.

“Dia anak kepsek, katanya ia cantik-imut”

“Dengar ya Do Kyungsoo, adik kelas hanya akan menyusahkan. Secantik apapun, aku tidak akan mau punya pacar adik kelas” sela Baekhyun mantap. Kyungsoo hanya menaikkan pundaknya mendengar ucapan Baekhyun.

“Ya ya terserahlah.. Lagipula sejak kapan seorang Byun Baekhyun tertarik pada seorang yeoja?” ceplos namja belo’ itu membuat Baekhyun melihat sinis ke arahnya, “Hyaa apa maksudmu Do Kyungsoo?”

Sambil terkekeh Kyungsoo menjawab, “Haha bercanda kawan”

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ya terserahlah. Tapi memang kenyataannya belum ada yeoja yang bisa menarik perhatiannya.

Baekhyun menghentikan langkahnya, “Jjangkaman” ujarnya sembari membalikkan badan, mencari keranjang sampah untuk membuang bungkus makanannya.Karena tidak begitu memperhatikan orang-orang yang lewat, namja itu tidak menyadari seorang yeoja sedang berjalan terburu-buru ke arahnya.

Ketika hendak melempar botol minuman dan bungkus makanannya ke dalam keranjang sampah, plastik-plastik itu justru melayang ke kepala yeoja yang berjalan melewatinya.

“Aigo aigo mianhae” ujar Baekhyun langsung mengambil bungkus plastik yang menyangkut di rambut  yeoja bernama Shin Heerin itu.

“Aniyo, sudah tidak apa-apa” sergah Heerin yang tampak sedang terburu-buru. Yeoja itu kemudian meninggalkan Baekhyun yang hanya terpaku di tempatnya. Yeoja itu imut sekali. Rambutnya yang lurus. Wangi parfumnya.

“Hey Bacon! Kau tau tidak siapa yang kau lempari sampah barusan?” tanya Kyungsoo yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, matanya masih belum berkedip.

“Dia anak baru yang kuceritakan tadi.. keponakan Sooman songsaenim”

“Kyungsoo.ya tadi kau bertanya apa padaku?”

Kyungsoo menggaruk kepalanya bingung, “Sejak kapan kau menyukai yeoja?”

Masih dengan ekspresi cengo di wajahnya Baekhyun berkata, “Sepertinya sejak sekarang..”

Oh My God.

I get hypnotized when see your face for the first

Your eyes that staring at me stuck in my mind

I can’t move my eyes to not seeing your flawless face

Is this what people called ‘first love’ ?

 

. . .

 

Heerin memegangi puncak kepalanya seraya meraba rambutnya, barangkali masih ada plastik sampah yang menyangkut di rambutnya. Ia menggelengkan kepalanya bingung jika mengingat namja yang melemparkan sampah ke arahnya tadi.

“Memang ada sesuatu dalam diriku yang mirip dengan keranjang sampah?” gumam yeoja itu masih terus berjalan di koridor. Insiden kecil tadi telah hilang dari pikirannya. Sekarang yang yeoja itu  pikirkan adalah mencari ruang kelas 2-C.

“2-A.. 2-B.. Ah ini dia”

Belum sempat melangkah jauh menuju kelas yang ditujunya. Yeoja itu sudah melihat sosok namja yang ia cari. Meskipun sekarang namja itu sedang duduk membelakanginya, Heerin tahu betul jika namja di depannya memang Kim Jongdae atau yang lebih sering dipanggil Chen karena wajah Chinese-nya.

Inilah alasan yeoja itu meminta appanya untuk memasukkannya ke SM Jika mereka benar-benar pindah ke Korea. Karena keberadaan Chen, namja yang selama ini menjalin long distance relationship dengannya.

Heerin berjalan agak menjinjit menuju Chen, bermaksud memberikan kejutan untuk namja itu.

Begitu berada di belakang Chen, ia merentangkan tangannya untuk kemudian menutup kedua mata Chen dengan telapak tangannya.Heerin diam di posisinya, menunggu Chen yang mulai bicara.

“Hya Hyerim.ah kau ingin main-main denganku? Aku tau itu kau”

Heerin mengerutkan dahinya mendengar nama yang diucapkan Chen, namun ia masih diam di tempatnya. Mungkin hanya salah dengar.

“Hyerim.ah! Jhagiyaa berhenti bermain-main,” rajuk Chen sembari memegangi tangan yeoja imut itu.

Heerin melepaskan kedua tangannya. Ia tidak salah dengar. Chen menyebut nama Hyerim bukan Heerin. Lalu jhagi? Apakah selama ini…?

Kedua mata yeoja itu memanas. Ia tidak percaya dengan apa yang diketahuinya sekarang.

“Heerin? Bukankah…?”

Chen tidak dapat berkata apapun ditambah dengan gerakan tangan Heerin yang menyuruh namja itu untuk tidak berkata apapun.

Tanpa banyak bicara, Heerin meninggalkan tempat itu meskipun Chen berulang kali memanggilnya.

Yeoja itu berjalan cepat melewati koridor, entah kedua kakinya akan membawa yeoja itu kemana. Yang pasti ia membutuhkan tempat dimana ia bisa menangis sepuasnya.

Ternyata hubungan mereka selama dua tahun  ini tidak berarti apa-apa untuk Chen. Seharusnya Heerin mendengarkan apa yang dikatakan umma-nya. Seharusnya ia menyadari sikap namja itu yang semakin jarang menghubunginya ketika ia masih berada di Jepang.

“Seharusnya aku tak sebodoh ini,” ujarnya pada diri sendiri sementara kedua kakinya yang masih belum berhenti berjalan.

Bukk.

Matanya yang sudah dipenuhi oleh air membuat yeoja itu tidak dapat melihat dengan jelas hingga akhirnya menabrak seseorang di depannya.

“Hey kau baik-baik saja?”

Heerin tidak kunjung bergerak bahkan untuk mendongakkan kepalanya.

Dengan memberanikan diri, namja yang ditabrak Heerin mendekatinya. Namun ia langsung terkesiap saat Heerin malah menenggelamkan wajah di dadanya.

“Hey kau tidak menangis karena aku melemparimu dengan sampah tadi kan?”

Tidak ada respon apapun dari yeoja itu kecuali suara tangisan yang semakin keras. Baekhyun menggaruk kepalanya bingung– sangat bingung. Tangannya hendak mengelus rambut yeoja yang masih menangis di dadanya itu namun dimundurkannya lagi. Namja itu hendak merentangkan tangannya untuk memeluk Heerin, namun sekali lagi ia mengurungkan niatnya.

“Mungkin lebih baik seperti ini,” batin namja itu akhirnya membiarkan Heerin yang masih menangis sesengukan.

Inilah pertama kalinya aku menyukai yeoja yang baru bertemu sudah berani menangis di dadaku. Meskipun aku tidak tau apa yang membuatnya menangis, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Heerin menangis karena aku sudah melemparkan bungkus makanan ke arahnya.

Huh.. Namja bermarga Byun itu menghembuskan napasnya panjang, “Sekarang aku harus memikirkan alasan pada ada yang bertanya mengapa seragamku bisa basah..”

. . . . .

Baekhyun mencoba melirik jam di tangannya. Lima menit lagi jam istirahat pertama berakhir, namun yeoja di depannya ini masih memendamkan wajah di dadanya. Baekhyun ingin sekali menenangkan sekaligus menyuruhnya untuk berhenti menangis, tetapi setiap kali tangannya hendak menyentuh kepala Heerin, sesuatu seperti membuatnya untuk mundur kembali.

“Apa kau tidak lelah terus menangis?” ujar Baekhyun tetap menjaga nada suaranya agar terdengar tenang meskipun kenyataannya ia tidak dapat menahan rasa gugupnya ketika yeoja imut itu berada di dekatnya.

Tidak ada respon dari Heerin. Meskipun sudah tidak terisak seperti tadi, Baekhyun dapat merasakan jika yeoja itu masih meneteskan air matanya.

Untunglah sedang tidak ada murid yang berlalu lalang di taman belakang itu. Hanya pohon dan rerumputan yang menyaksikan bagaimana seorang Baekhyun dengan sabar menunggu Heerin yang kini mulai bergerak menjauh dari tubuhnya.

Yeoja itu tidak langsung mendongakkan kepalanya, ia masih menundukkan kepalanya sembari menghapus air mata yang membasahi wajahnya.

Sayang sekali aku tidak punya saputangan ataupun tissue, batin Baekhyun setelah merogoh kantung celananya.

“Mi..Mianhae..”

Hanya kata itu yang keluar dari mulut Heerin, membuat Baekhyun semakin bingung dibuatnya.

Tanpa mereka berdua sadari, jam istirahat telah berlalu tiga puluh menit yang lalu. Itulah penyebab tidak adanya siswa yang berlalu lalang.

“Kau baik-baik saja kan? Kenapa kau menangis?”

“HEY BOCAH!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEPONAKANKU”

Suara sentakan seorang pria membuat Baekhyun dan Heerin terperanjat. Dan yang lebih membuat namja bermata sipit itu terkejut adalah kenyataan bahwa pria yang berteriak itu ternyata adalah Sooman sangjangnim.

Reflek Baekhyun membungkukkan badan memberi hormat, namun ia justru menerima sebuah jeweran keras di sebelah telinganya.

“A..a..a.. Sakit sangjangnim! Memang apa..apa salahku?”

“Kau apakan keponakan kesayanganku sampai ia menangis begitu?”

Heerin dan Baekhyun belum sempat berkata apapun. Setiap keduanya hendak membuka mulut mereka untuk berbicara, Sooman selalu memotong ucapan mereka dengan omelan.

“Hey boy! Kau harus memotong rumput-rumput di halaman belakang sepulang sekolah nanti titik!” seru pria berkacamata itu kemudian pergi berlalu begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan Heerin.

Baekhyun menundukkan kepalanya lemas. Terlambat ikut pelajaran, seragam basah, dihukum kepsek atas kesalahan yang tidak diperbuatnya, dan bisa jadi posisinya  di osis terancam karena masalah ini. The best day ever.

. . .

13.00 KST

Bel istirahat kedua sudah berbunyi, hampir semua murid yang berada di dalam kelas berhamburan keluar.

“Richan.ah masih ada urusan osis yang harus  diselesaikan,” ucap Baekhyun pada yeoja yang masih sibuk dengan buku di depannya.

Richan menganggukkan kepalanya, “Ah arasseo, kita ke ruang osis sekarang”

Saat keduanya berjalan keluar kelas, Richan dapat menangkap sesuatu dari wajah wakil ketua osis itu.

“Waeyo? Wajahmu jelek sekali,” ujar yeoja itu tetap dengan flat-face-nya.

Baekhyun balik melihat Richan datar kemudian mendengus kesal.

“Hanya sedang sial..

Ah bagaimana dengan masalah bentrokan waktu penggunaan gedung olahraga dengan tim basket itu?” sergah Baekhyun berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tak ingin mengingat kejadian kelu tadi.

. . .

 

Jam yang terpasang di dinding gedung membuat Kris dan kawan-kawannya menghentikan aktivitas sejenak. Waktu sudah menunjukkan jam istirahat kedua. Itu berarti sudah hampir satu jam mereka latihan dari dua jam waktu yang diijinkan oleh sekolah.

Kris membasuh keringat yang mengucur dari keningnya. Saat itu juga suara teriakan dari beberapa yeoja yang sudah menunggunya di pinggir lapangan menyeruak, terus mengeluh-eluhkan nama ‘Kris oppa’. Sementara namja yang dieluhkan itu hanya menyunggingkan smirk-nya ke arah mereka. Sekelompok yeoja yang rata-rata merupakan adik kelasnya.

“Wufan.ah, kita tersandung masalah perijinan dari osis” ujar Chanyeol menghampiri Kris yang sedang meneguk air mineral.

“Lagi?”

Kris mengerutkan dahinya, kapten tim basket SM highschool itu menggelengkan kepalanya kesal. Sepertinya kali ini dia sendiri yang harus turun tangan menemui ketua osis yang telah dua kali menjegal langkah tim basketnya.

“Ikut aku”tukas Kris langsung menarik tangan Chanyeol keluar gedung olahraga.

Namun karena kaki panjang mereka (?) dua namja itu tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan pintu ruang osis.

Klek. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kris langsung membuka pintunya menyelonong masuk.

“Yang mana ketuanya?” bisik Kris pada Chanyeol yang langsung menunjuk ke arah seorang yeoja yang sedang berdiri di depan lemari buku.

“Hey! Aku ingin bicara denganmu”

Yeoja berambut panjang itu membalikkan tubuhnya, membuat Kris dapat melihat nama dadanya. Kwon Richan.

“Ada apa?” tanya Richan menunjukkan mimik muka yang tak kalah datar. Keduanya saling berpandangan. Ekspresi yang keluar dari wajah mereka masing-masing pasti membuat orang yang berada di sekitarnya ingin meninjunya.

Chanyeol buru-buru menengahi mereka berdua yang pandangan matanya seolah sedang saling melempar laser, walaupun ekspresi datar belum lepas dari wajah mereka.

Chanyeol mendorong tubuh Kris menjauh dari Richan seraya berkata, “Aku tau kau itu penakluk yeoja, tapi untuk yang satu ini serahkan padaku saja ya?”

Kris menatap Chanyeol heran, “Baiklah..” ujar namja itu sembari menaikkan pundak,  tak mau ambil pusing dengan urusan itu.

Mata Richan mengikuti ke arah Kris yang tanpa berkata apapun mendadak berjalan menuju pintu.

Keduanya sempat melempar tatapan dingin hingga akhirnya Kris membanting pintu dengan sangat sopan

. . .

Richan menyandarkan punggungnya di kursi. Mau tidak mau ia harus merombak proposalnya hari ini juga.

“Huh menyusahkan saja” gumamnya sembari mengacak-acak laci meja osis.

Astaga aku baru ingat! Yeoja itu menepuk keningnya sendiri kemudian bergegas mengambil kotak makanan yang masih tergeletak rapi di kolong bangkunya.

Dibawanya kotak bewarna hijau itu menuju ke gedung olahraga dimana adik tercintanya sekarang berada.

“Pastikan Kai memakan roti buatan umma, dan pastikan bekal ini habis tidak bersisa”Richan terus menggelengkan kepalanya jika mengingat ucapan ummanya itu.

“Dasar anak mama. Kenapa harus aku yang jadi repot?” Tsk.

Richan melirik jam di tangannya, masih terus berjalan menuju gedung olahraga. Ia mempercepat langkahnya begitu ingat masih ada beberapa file yang harus dikerjakannya.

Klek. Dibukanya pintu masuk gedung olahraga secara hati-hati, karena gedung itu yang memang gampang menimbulkan gema. Bia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang riuh akan suara pantulan bola dan teriakan para yeoja yang berdiri di pinggir lapangan basket.

Kurang kerjaan sekali, batin yeoja berambut panjang itu melihat sekumpulan yeoja kelas satu yang terus mengeluhkan nama orang– entah nama siapa.

Dimana anak mama itu? Richan baru saja akan berjalan menuju Kai berada. Namun baru beberapa langkah seseorang sudah meneriakinya, “Awas bola!!”

Entah karena saat kecil ia suka dengan basket atau reflek yang sangat bagus. Dengan satu tangannya yeoja itu menampis bola basket yang hampir mengenai wajahnya.

“Kita istirahat dulu guys,” ujar Kris kemudian berjalan mendekati Richan yang nyaris terkena bola yang ia lemparkan.

Richan mengambil bola yang jatuh di kakinya itu, ia memandang Kris dingin. Keduanya hanya diam tanpa ada satupun yang mungkin seharusnya mengucapkan permintaan maaf.

Bukk. Dilemparkannya bola itu tepat ke arah Kris. Boleh dibilang sebuah chest-pass yang cukup keras.

“Richan.ah mau apa kau kemari?” tanya Kai begitu melihat Richan sedang berjalan mendekatinya. Tanpa banyak bicara yeoja itu langsung menyodorkan kotak makanan di depan adik laki-laki yang hanya beda setahun dengannya, “Umma menyuruhku untuk memastikan kau memakannya. Sekarang makanlah. Sampai habis”

Kai menggelengkan kepalanya, “Aigoo kau tidak lihat apa banyak yeoja disini? Image-ku bisa hancur”

Richan menaikkan sebelah alisnya. Ucapan Kai sedikit membuatnya geli.

Tanpa memundurkan tangannya yang memegang kotak bewarna hijau itu, ia menatap namja di depannya tajam.

“Aigo arasseo arasseo,” tukas Kai akhirnya menyerah begitu melihat tatapan noona-nya itu. Tidak akan ada yang mampu berkata tidak jika sudah melihat ekspresi datar namun tajam milik Richan.

“Aku selesai”

“Tapi.. Masih ada satu!”

“Makan saja,” teriak Kai tidak lagi menghiraukan Richan yang masih berdiri dengan kotak di tangannya.

Aish. Aku tidak ingin memakannya, aku sudah kenyang makan bekal yang umma buatkan untukku. Richan menutup kotaknya lagi, ia hendak pergi keluar gedung sebelum seorang namja tinggi yang melewatinya memberikannya sebuah ide.

“Chanyeol.shi”

seperti sebuah robot, namja yang dipanggilnya langsung berhenti dan berbalik melihatnya.

“Richan.shi kau..kau.. disini?” balas namja tinggi itu tidak bisa menyembunyikan senyuman yang mengembang di wajahnya.

Richan berjalan mendekati Chanyeol sembari menyodorkan roti di dalam bekalnya, tak ingin berbasa-basi.

“Maukah kau makan ini? Aku sudah kenyang sekali”

“Ah ne ne tentu saja”

Aigoo mimpi apa aku semalam, batin namja jangkung itu tidak bisa menahan detak jantungnya yang semakin tak karuan. Chanyeol langsung menurunkan properti basket yang dibawanya ke tanah. Namja itu menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, mencoba menghilangkan debu yang menempel.

Chanyeol baru akan mengadahkan tangannya menerima sandwich itu, namun yeoja di depannya menggelengkan kepala, tangannya memberikan isyarat seolah ia akan menyuapi makanannya langsung ke mulut Chanyeol.

“Tidak baik makan dengan tangan kotor..”

Chanyeol hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri, membiarkan yeoja yang selama ini hanya bisa diperhatikannya dari jauh sekarang justru sedang menyuapinya.

Apa yang mereka lakukan? Heh sungguh menjijikkan, batin seseorang yang berdiri di tengah lapangan. Entah apa yang membuat namja tampan itu tiba-tiba mengarahkan pandangannya memperhatikan Chanyeol dan Richan di pinggir lapangan.

Kris menggelengkan kepalanya sembari berkacak pinggang. Saking fokusnya, namja itu tidak menyadari jika bola basket sedang melayang ke arahnya.

Bakk!

Kris langsung memegangi pundaknya yang terkena lemparan bola cukup keras.

“Hyung gwenchanayo? Mianhae aku tidak sengaja,” tukas Kai menunjukkan mimik muka bersalah.

“Gwen.. Gwenchana”

“Lagian kenapa bisa terkena bola? Sedang melamun?”

Kris menyunggingkan smirk-nya. Bodoh sekali. Kenapa ia harus mengurusi urusan tidak penting itu. Tidak ada gunanya.

. . .

 

SM SHS, 16.00 KST

Chanyeol dan Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun yang berjalan lemas, mencoba memberikan semangat pada satu-satunya murid yang tidak bersemangat menyambut bel tanda berakhirnya jam sekolah.

“Aku duluan ya guys,” pamit Baekhyun pada Kyungsoo dan juga Chanyeol yang sekarang berjalan menuju tempat parkir.

Begitu sampai di tempat parkir sepeda, Kyungsoo yang sedang terburu-buru pulang akhirnya mengayuh sepedanya keluar mendahului namja jangkung itu.

“Yeol, aku duluan ya!”

Chanyeol melambaikan tangannya, kemudian mengeluarkan sepeda gunung miliknya keluar gedung sekolah. Dengan santai namja itu mengayuh pedalnya keluar gerbang, sesekali menyebarkan senyum pada satpam dan petugas sekolah.

Happy virus. Yah, itulah sebutan semua orang yang mengenalnya. Park Chanyeol. Senyuman memang tak pernah jauh-jauh darinya, ia dikenal sebagai   seseorang yang membuat suasana cerah bagi orang-orang di sekitarnya.

Kaki panjangnya mengayuh sepeda bewarna hitam itu penuh semangat.

Citt… Chanyeol mendadak menarik rem sepedanya begitu melihat seseorang yang sedang berdiri di pinggir jalan. Seperti sedang bingung dengan sepedanya.

Huh.. Chanyeol menarik napas panjang. Ia turun dari sepedanya kemudian berjalan mendekati yeoja itu.

“Waeyo Richan.ah?” tanya Chanyeol lalu berjongkok disamping yeoja yang sedang bingung melihati rantai sepedanya yang lepas.

Richan tidak berkata apapun selain hanya menggaruk puncak kepalanya.

“Aku akan coba membantu,” ujar Chanyeol begitu saja. Padahal namja itu sama sekali tak mengerti tentang seluk beluk sepeda.

Richan duduk di trotoar, terus memperhatikan Chanyeol yang hampir limabelas menit mengutak-atik sepedanya.

Chanyeol mendengus kesal, ia membalikkan badannya melihat Richan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Mianhae hehe.. Lebih baik kita membawanya ke Yesung ahjussi,” ucap namja itu pasrah. Ternyata keraguan yang sempat terbersit dalam pikiran Richan benar. Park Chanyeol, Park Chanyeol, tsk.

Pada akhirnya dua orang itu berjalan bersamaan menuntun sepeda mereka menuju bengkel sepeda dekat sekolah milik Yesung ahjussi.

. . . .

 

SM Highschool_

Keringat terus menetes dari puncak kepala Baekhyun. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk terus menjalankan hukumannya mencabuti semua rumput liar di halaman belakang sekolah.

“Ehem..”

Sebuah botol minuman disodorkan di depa wajahnya. Baekhyun mendongakkan kepalanya, dan mendapati Heerin sudah berdiri di depannya.

“Mianhae..”

Baekhyun beranjak dari posisinya, ia memiringkan kepala memandangi yeoja di depannya.

“Apa tidak ada kata lain selain Mianhae jika bertemu denganku?” ujar Baekhyun sembari menyahut botol minuman yang Heerin bawa. Diteguknya air mineral itu seakan melepaskan semua dahaga.

“Biar aku yang melanjutkannya”

Sebelah alis Baekhyun terangkat mendengar ucapan yeoja itu. Tanpa banyak bicara lagi Heerin berjongkok, tangannya menjulur dan mulai mencabuti rumput-rumput liar di depannya.

“Kau yakin?”

Heerin menyunggingkan sebuah senyuman menjawab pertanyaan Baekhyun, “Ini juga karena aku, kau jadi dihukum begini”

Baekhyun belum mengedipkan matanya  semenjak Heerin tersenyum padanya. Senyuman hangat dan juga suara lembut Heerin seolah menghilangkan semua rasa lelah dan kesalnya tadi.

. . . .

“Sepertinya ini akan membutuhkan waktu lama”

Muka Richan langsung berubah kusut begitu mendengar ucapan Yesung. Padahal ia harus pulang secepat mungkin untuk menyelesaikan tugas-tugas osisnya.

“Kau terburu-buru pulang?” tanya Chanyeol dapat menangkap sesuatu di muka kusut yeoja yang jauh lebih pendek darinya itu.

“Ne..”

“Bagaimana jika aku mengantarmu?” tawar namja itu akhirnya memberanikan diri setelah lima menit terus memikirkan untuk mengatakannya.

Richan menautkan dua alisnya tak percaya, “Jinjja?”

Chanyeol menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Richan. Anggukan kepala Chanyeol membuat senyuman terukir di wajah yeoja berambut panjang itu.

“Kau mau duduk di depan..?” tanya Chanyeol tanpa memikirkan apa yang diucapkannya barusan.

Richan balas melihat namja itu dengan ekspresi seolah sedang mengatakan, “Apa maksudmu?”

“Aku hanya bercanda, kau tidak apa-apa jika berdiri?”

Richan menganggukkan kepalanya, ia kemudian mulai naik hingga akhirnya berdiri tegak di belakang.

Thump thump! Chanyeol tidak dapat mengontrol denyut jantungnya sendiri ketika kedua tangan Richan memegangi pundaknya. Ia seolah sedang bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat indah. Pegangan tangan Richan semakin erat saat namja itu sudah mulai mengayuh pedal.

“Gomawo Chanyeol.ah, aku  menyesal karena tidak dekat denganmu saat kelas satu dulu..”

Perkataan Richan barusan semakin membuat Chanyeol merasa dirinya sedang terbang. Namja itu tersenyum lebar menunjukkan jajaran giginya yang rapi. Rasanya seperti tubuhnya dipenuhi oleh semerbak wangi bunga.

Tinn Tinn! Kebahagiaan namja manis itu langsung buyar begitu suara klakson motor mengagetkannya dan nyaris membuat sepeda mereka hampir uling ke samping.

“Annyeong Chanyeol.ah” seru si pengendara motor yang ternyata adalah Kris. Namja tampan itu melambaikan tangannya menyapa Chanyeol.

Sebuah smirk keluar dari wajah dinginnya ketika melihat yeoja yang dibonceng Chanyeol adalah ketua osis bermuka dingin itu.

“Aish.. Ternyata kau kapten” sahut Chanyeol heran, ia balas melambaikan tangannya ke arah Kris yang sedang membonceng seorang yeoja.

Richan membuang mukanya ke samping, tidak ingin berlama-lama adu pandang dengan namja yang menurutnya ‘sok’ itu.

. . . .

 

Seoul Sport Center_ Saturday, 18.00 KST

Sorak teriakan dari penonton, khususnya bagi para pendukung SM semakin terdengar riuh menggema di gedung megah itu ketika Kris men-dribble bola mendekati ring basket JYP.

Pendukung yang kebanyakan merupakan yeoja, seakan ter-hipnotis dengan pesona yang terpancar dari namja tampan dan berkarisma itu. Sejenak melupakan fakta bahwa tim basket sekolah mereka berada dalam keadaan genting mengingat skor babak terakhir yang masih imbang. Sungguh akan sangat memalukan jika SM sampai kalah dengan musuh bebuyutannya, JYP.

Hampir semua penonton berdiri menyaksikan detik-detik terakhir pertandingan final basket SMA se-Seoul itu. Tegang dan juga antusias.

Di sisi lain, Kris masih berusaha melewati hadangan pria tinggi di depannya, Nickhun. Karena tidak mungkin untuk terus maju, akhirnya ia mengoper bola ke arah Kai yang melakukan pergerakan di depannya.

Kai menangkap bola itu dengan sempurna, ia kembali memberikan umpan lambung pada Chanyeol yang telah berada di bawah ring.

Hap! Chanyeol terjatuh saat akan menerima bola dari Kai.

Wasit membunyikan peluit tanda sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh JYP terhadap Chanyeol, yang itu berarti dua tembakan pinalti untuk tim SM.

Kris mengulurkan tangannya membantu Chanyeol berdiri, “Ini kesempatan terakhir kita,” bisik namja yang bertindak sebagai kapten itu. Kris benar. Waktu menunjukkan lima detik terakhir. Satu poin saja, maka SM akan menjadi pemenang.

Chanyeol bersiap di tempatnya berdiri, menanti peluit yang akan dibunyikan wasit. Hanya ada dua kesempatan.

Bukk! Suara desahan kecewa terdengar kompak dari tribune begitu Chanyeol gagal memasukkan bola yang malah membentur sudut ring.

“Fiuh..” Namja itu menghembuskan napas. Tekanan benar-benar berada dalam dirinya sekarang. Kris menepuk pundak namja itu, berusaha menenangkannya.

“Kau pasti bisa”

Chanyeol menganggukkan kepalanya, matanya sempat tertuju ke arah bangku penonton dimana Baekhyun dan Kyungsoo sedang berdiri memberikan semangat. Chanyeol menelan ludahnya sendiri begitu melihat Richan ternyata duduk disamping Kyungsoo, membuatnya teringat akan janji yang dibuatnya bersama dua sahabat happy virus-nya (?) sebelum ia bertanding tadi.

It’s for her, teriak namja itu (dalam hati) kemudian melempar bola basket itu ke arah ring.

Suasana menjadi hening sejenak sebelum akhirnya suara sorakan terdengar makin riuh.

“Woaaaa!!”

Kris, Kai, dan anggota tim basket SM lainnya menepuk pundak Chanyeol puas.

5..4..3..2..1

Wasit membunyikan peluit sambil mengangkat tangannya, memberikan tanda pertandingan berakhir dengan kemenangan sang juara bertahan, SM High School.

Semua siswa sekolah bergengsi itu sontak berdiri di tempat duduknya, bersorak menyambut kemenangan mereka. Perjuangan selama hampir satu jam untuk mendukung tim basket SM terbayar dengan senyuman bahagia.

Baekhyun dan Heerin yang duduk bersebelahan ikut berdiri sembari bertepuk tangan, keduanya berbalik melihat satu sama lain sambil merentangkan tangan seperti hendak berpelukan.

Namun dengan bersamaan pula, dua orang itu membatalkan gerakan tangan mereka.

Apa yang kulakukan? gumam Heerin heran, sementara Baekhyun hanya menggaruk kepalanya.

“CONGRATULATION FOR SM!” seru seorang yeoja yang bertindak sebagai MC itu. Chanyeol yang semula sibuk berlompat-lompatan dengan timnya berjalan mendekatinya, sebuah ide tiba-tiba muncul di pikiran namja itu. Chanyeol membungkukkan badannya, membisikkan sesuatu pada MC itu.

“Ah arasseo,” ujar yeoja itu kemudian memberikan mic-nya pada Chanyeol.

Kris yang menangkap sikap aneh Chanyeol hanya menaikkan sebelah alisnya.

“Huuh”

Chanyeol menarik napas panjang. Ia membutuhkan banyak oksigen untuk memenuhi paru-parunya, sama dengan ia membutuhkan keberanian yang besar untuk melakukan hal ini.

“Bisakah aku minta perhatian sebentar?” ujarnya sambil memegangi mikrofon. Suara riuh dalam stadium itu berangsur-angsur hilang, bersamaan dengan langkah Chanyeol menuju tribune penonton.

“My last shoot before is dedicated to the special one”

Aaaa! Suara sorakan dan siulan terdengar kencang begitu Chanyeol mengucapkannya, dan keriuhan itu semakin bertambah ketika Chanyeol tanpa diduga menyanyikan sebaris rapp dari lagu CNBLUE.

geuh deh neun neh ma eum sok eh president
neh ga seum eh byul soo noh ji
i’m genie for you girl
neh soom eul mut geh haji
geuh deh ga won ha neun gun da
nuh reul sarang ha ni gga
neh sarang eh ee yoo neun ub jan ah you know

(You’re the president of my heart
You’re my chests’ star embroider
I’m Genie for you girl
You make me stop breathing
whatever you want
because i love you
There’s no reason for my love you know)

Dengan langkah gemetaran ia berjalan melewati penonton hingga akhirnya sampai di depan seorang yeoja yang melihatinya bingung.

Geulrin yang duduk di sebelah Richan langsung mendorong yeoja itu untuk berdiri.

Chanyeol menarik napas panjang, ia melirik Baekhyun dan Kyungsoo sejenak kemudian kembali menatap yeoja di depannya.

“Choneun.. K..Kwon Richan Saranghamnida”

Teriakan dari hampir semua penonton dalam stadium itu membuat Richan semakin linglung.

“Wo..Would you be mine?”  tambah namja bernama lengkap Park Chanyeol itu.

Hampir semua yang bersorak menyuruh Richan untuk menerima permintaan namja itu, meskipun beberapa suara tidak menginginkan Richan berkata iya, termasuk seorang namja yang berdiri berkacak pinggang di lapangan. Namja berambut pirang kecoklatan itu melihat ke arah mereka dengan tatapan dingin. Kris meyakinkan dirinya sendiri jika ia tidak peduli, tetapi entah sadar atau tidak, namja itu masih belum melepaskan tatapannya dari Richan dan Chanyeol.

“Jika iya lemparlah bola ini ke lapangan, jika tidak.. kau boleh melemparnya ke kepalaku,” ucap namja itu menyodorkan bola basket yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.

Richan memutar-mutar bola yang diberikan Chanyeol padanya itu, ia melihat ke arah namja di depannya lalu melirik Geulrin sebentar.

Yeoja itu diam, tampak sedang berpikir.

Richan menaikkan sebelah alisnya,”Emmm…..”

 

>>> To Be Continue <<<

 

LOL pasti gak jelas XD

Sorry for miss typo dan segala kekurangan dalam cerita ini..

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca,

Really appreciate your comments ^^

Mau tau gimana kelanjutannya? Nantikan part selanjutnya 😉

(eits sebelumnya minta votingnya bentar deh kalo ga keberatan)

 

See you~!

 

Iklan

8 pemikiran pada “A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 1)

  1. Kyaaaaa gila seru bnget thor^_^
    DAEBAK kece cetar membahana^_^
    Please jng lama-lama ya?

    Trima aja lah….biar si kapten CEMBURU.kekeke

    Fightaeng….^_^

  2. Baek biarin deh sma heerin..seru bgt tu anak br2..oh ya sxan kyungsoo jg ntr ksemsem sama yeoja deh…hahha
    Krisss..km pasti cmburu yah..tp rasa2nya rinchan sama kris nie ujung2nya..hahaha
    Next part dtunggu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s