A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 2)

Genre :Romance, Friendship, Comedy (?)

Author : Rimahyunki

Length : Chaptered

Rating : T

Main Cast :

Wu Yifan (Kris)

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kwon Richan

Shin Heerin

Do Kyungsoo

Kai

 

Other Cast/Cameo:

Geul Rinjung

Chen

Xi Luhan

Lee Sooman

 EXO copy

Previous chapter:

“Hey Bacon! Kau tau tidak siapa yang kau lempari sampah barusan?” tanya Kyungsoo yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, matanya masih belum berkedip.

“Dia anak baru yang kuceritakan tadi.. keponakan Sooman songsaenim”

“Kyungsoo.ya tadi kau bertanya apa padaku?”

Kyungsoo menggaruk kepalanya bingung, “Sejak kapan kau menyukai yeoja?”

Masih dengan ekspresi cengo di wajahnya Baekhyun berkata, “Sepertinya sejak sekarang..”

Oh My God.

. . .

Klek. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kris langsung membuka pintunya menyelonong masuk.

“Yang mana ketuanya?” bisik Kris pada Chanyeol yang langsung menunjuk ke arah seorang yeoja yang sedang berdiri di depan lemari buku.

“Hey! Aku ingin bicara denganmu”

Yeoja berambut panjang itu membalikkan tubuhnya, membuat Kris dapat melihat nama dadanya. Kwon Richan.

“Ada apa?” tanya Richan menunjukkan mimik muka yang tak kalah datar. Keduanya saling berpandangan. Ekspresi yang keluar dari wajah mereka masing-masing pasti membuat orang yang berada di sekitarnya ingin meninjunya.

Chanyeol buru-buru menengahi mereka berdua yang pandangan matanya seolah sedang saling melempar laser, walaupun ekspresi datar belum lepas dari wajah mereka.

Chanyeol mendorong tubuh Kris menjauh dari Richan seraya berkata, “Aku tau kau itu penakluk yeoja, tapi untuk yang satu ini serahkan padaku saja ya?”

. . .

Suara sentakan seorang pria membuat Baekhyun dan Heerin terperanjat. Dan yang lebih membuat namja bermata sipit itu terkejut adalah kenyataan bahwa pria yang berteriak itu ternyata adalah Sooman sangjangnim.

Reflek Baekhyun membungkukkan badan memberi hormat, namun ia justru menerima sebuah jeweran keras di sebelah telinganya.

“A..a..a.. Sakit sangjangnim! Memang apa..apa salahku?”

“Kau apakan keponakan kesayanganku sampai ia menangis begitu?”

Heerin dan Baekhyun belum sempat berkata apapun. Setiap keduanya hendak membuka mulut mereka untuk berbicara, Sooman selalu memotong ucapan mereka dengan omelan.

“Hey boy! Kau harus memotong rumput-rumput di halaman belakang sepulang sekolah nanti titik!” seru pria berkacamata itu kemudian pergi berlalu begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan Heerin.

. . .

Dengan langkah gemetaran ia berjalan melewati penonton hingga akhirnya sampai di depan seorang yeoja yang melihatinya bingung.

Chanyeol menarik napas panjang, ia melirik Baekhyun dan Kyungsoo sejenak kemudian kembali menatap yeoja di depannya.

“Choneun.. K..Kwon Richan Saranghamnida”

Teriakan dari hampir semua penonton dalam stadium itu membuat Richan semakin linglung.

“Wo..Would you be mine?”  tambah namja bernama lengkap Park Chanyeol itu.

 

 

My Exo-traordinary Love Story episode 2!

 

E N J O Y ^^

 

. . . . . . . . .

 

 [Author poV]

. . . . . . . . .

 

“Wo..Would you be mine?”

“Jika iya lemparlah bola ini ke lapangan, jika tidak.. kau boleh melemparnya ke kepalaku”

Richan memutar-mutar bola yang diberikan Chanyeol padanya itu, ia melihat ke arah namja di depannya lalu melirik Geulrin sebentar.

Yeoja itu diam, tampak sedang berpikir.

Richan menaikkan sebelah alisnya,”Emmm…..” gumamnya membuat Chanyeol naik turun dibuatnya.

Yeoja itu mengayunkan bola basket di tangannya bingung. Kedua mata hitamnya mengedar ke seluruh orang yang sekarang sedang memperhatikannya. Haruskah ia menerimanya?

“Fiuuh..”

Chanyeol menarik napas panjang saat Richan mengayunkan kedua tangannya. Ia memejamkan kedua matanya pasrah jika sebentar lagi kepalanya akan terkena bola.

Suasana dalam arena mendadak hening hingga… Bukk!

Suara pantulan bola basket di arena lapangan kembali membuat keadaan riuh.

Chanyeol perlahan membuka kedua matanya, ia memegangi kepalanya yang tidak terasa apapun. Ketika melihat ke lapangan bola itu memantul tak beraturan hingga akhirnya jatuh di tangan Kris tanpa disengaja.

Chanyeol membelalakkan matanya setengah tidak percaya, ia mengukir sebuah senyuman lebar mengetahui jawaban Richan.

Brakk. Kris melempar sembarangan bola basket yang tidak sengaja jatuh di tangannya kemudian berjalan meninggalkan lapangan dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dijelaskan. Hanya sebuah smirk sinis yang keluar dari bibir merahnya. Sungguh konyol dan norak, pikirnya saat menyaksikan pertunjukan itu.

. . .

“Kau tau yang tadi itu romantis — sangat romantis!” ucap Geulrin begitu ia dan Richan masuk ke dalam mobil.

Richan hanya menyunggingkan senyumannya membalas perkataan Geulrin yang sangat ia tau apa maksudnya.

Dinyalakannya mesin mobilnya itu kemudian perlahan melaju meninggalkan gedung Seoul Sport Center.

“Jujur saja aku sangat kaget saat kau menerimanya..”

Richan menaikkan sebelah alisnya memandang yeoja di sebelahnya itu.

Sementara Geulrin hanya membalas Richan santai, “Come on! Aku sangat tau bagaimana kau menyayangi Luhan”

Deg. Mendengar nama namja itu membuat Richan tidak lagi dapat menahan pertahanan yang selama ini dibuatnya untuk menutupi wajah dinginnya.

“Kau bahkan masih memakai cincin itu. Ckck Kwonnie~”

Ucapan Geulrin kali ini membuat Richan langsung melirik ke tangannya yang sedang memegang kemudi. Cincin dengan bentuk kijang itu memang masih melingkar di jari manisnya.

 

(flashback)

Kedua kaki Richan terus saja bergerak tidak bisa diam. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali karena sudah tidak bisa bersabar. Rasanya ia akan segera membeku jika lebih lama lagi duduk di taman ini sendirian.

Xi Luhan kau tega sekali membuatku menunggu di tengah malam dingin begini!

Bukk!!

Sebuah bungkusan besar melayang ke pundaknya membuat Richan langsung beranjak dari kursi. Ia membalikkan tubuhnya, mencari pelaku yang melemparinya. Namun ia tidak melihat siapapun yang mencurigakan.

Diambilnya bungkusan itu juga dengan sebuah kertas bertuliskan, ‘Pertama.. Pakailah ini~’

Sebuah mantel coklat yang cukup membuat yeoja itu hangat.

Pletak!

Kali ini sebuah batu melayang dan tepat jatuh di kepalanya. Aish! keluh yeoja itu kemudian kembali membungkukkan badannya setelah melihat sebuah bungkusan kertas yang jatuh bersamaan dengan batu tadi.

Senyuman terukir di wajah dinginnya setelah membuka bungkusan kertas yang ternyata berisikan sebuah cincin. Sebuah cincin dengan kertas kecil melingkar yang bertuliskan ‘Today is our 365th day together’

Richan membalikkan badannya begitu merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

Luhan sudah berdiri dengan senyuman malaikat, meruntuhkan semua kekesalan yang sempat dirasakannya.

“Happy a year anniversary”

(end of flashback)

 

Geulrin memutar bola matanya melihat Richan yang tampak sedang menerawang.

“Kurasa aku harus berhenti menyebut nama Luhan.. eh!”

“Aku tidak mungkin menolak Chanyeol di depan banyak orang seperti tadi,” ujar Richan tiba-tiba.

“Lalu?”

Richan menaikkan pundaknya tidak tau.

“Lalu kau akan memutuskannya saat kalian baru saja pacaran? Kwon Richan, itu akan lebih menyakitinya!”

Itu akan lebih menyakitinya. Richan menghembuskan napas berat mendengar kalimat terakhir Geulrin. Ah ottokhe?

. . . .

 

Matanya terus saja mengikuti gerakan Chanyeol yang masih mondar-mandir di depannya. Sesekali ia mendecakkan lidah kesal atau hanya menunjukkan tatapan sinis seolah menganggap setiap gerakan namja di depannya itu menjijikkan.

“Oy hyung~” seru Kai tiba-tiba duduk di sebelah Kris yang sudah siap untuk pulang.

“Ah hemm”

“Kenapa melihati Chanyeol hyung seperti itu?” tanya Kai yang langsung membuat Kris memaikkan sebelah alisnya. Namja tampan itu beranjak dari tempat duduknya sembari menggelengkan kepala.

“Sikapnya sekarang hanya sedikit.. norak.. Mondar-mandir tidak jelas seperti itu” balas namja tinggi itu sembari mengukir sebuah smirk lalu berjalan keluar tanpa mempedulikan anggota-anggotanya yang masih merayakan kemenangan mereka.

. . .

 

Brakk. Kris melemparkan tas yang berisi sepatu dan seragam basketnya sembarangan kemudian menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas sofa.

“Wufan.ah ada apa? Tim-mu kalah?” tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ummanya sendiri.

Kris menggelengkan kepalanya, “Aniyo, kami menjadi juara lagi..”

“Lalu kenapa suntuk begitu?”

Suntuk? Jinjja? tanya Kris pada dirinya sendiri. Aku tidak punya satu alasanpun untuk merasa  badmood. Wu Yifan, sebenarnya ada apa denganmu? Jangan katakan jika kau tidak suka dengan drama menjijikkan yang dilakukan Chanyeol usai pertandingan tadi! Hey boy sejak kapan kau mengurusi urusan orang lain?

“Wufan! Wu Yifan, kenapa kau jadi melamun?”

“Ah umma, gwenchana gwenchana.. Gomawo sudah menyadarkanku” ujar namja itu kemudian menepuk pundak wanita terpenting dalam hidupnya. Kris beranjak dari sofa lalu berjalan menuju kamar.

. . .

 

SM High School, 07.00 KST

“Wufan.ah! Wu Yifan”

Seorang yeoja terus berlari sambil memanggil nama lengkap Kris. Namun jangankan untuk berhenti, namja itu sama sekali tidak punya niat untuk menoleh ke arahnya.

Kris terus saja berjalan santai membawa tas di pundaknya tanpa sedikitpun menggubris siswi yang sebenarnya berstatus sebagai yeojachingu-nya.

“Wufan.ah, kenapa kau menghindar dariku?” tanya yeoja itu setelah akhirnya berhasil menarik tangan Kris.

Namja tampan itu hanya memutar bola matanya tanpa menjawab pertanyaan yeoja berambut panjang itu.

“Wu Yifan! Jawab pertanyaanku”

Akhirnya setelah hanya berdiri diam, Kris mulai membuka mulutnya untuk bicara. Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya justru membuat orang yang mendengarnya ingin langsung memukul wajahnya.

“Sebaiknya kau menjauh dariku, aku sudah tidak ingin punya hubungan denganmu” ujar namja itu dingin. Tanpa banyak bicara lagi ia berlalu pergi tidak mau peduli dengan yeoja yang terus memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

Aish Jinja namja itu, gumam seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat Kris dan yeojachingu-nya berbicara tadi. Kwon Richan. Ia memang berada cukup jauh, namun kedua mata tajamnya sudah dapat menangkap apa yang terjadi disana.

Kris baru menyadari jika Richan sudah berdiri tidak jauh darinya. Bukan hanya itu, ia juga sedang memandangi Kris dengan tatapan dingin.

Sebuah smirk terukir di wajah namja tinggi itu, ia tetap berjalan santai menuju Richan yang masih berdiri memeluk setumpuk map.

Kedua pasang mata mereka sempat bertautan untuk beberapa lama sampai akhirnya Kris berjalan melewati Richan yang sebenarnya sedang menunggu seseorang di depan kamar mandi.

. . .

 

Begitu keluar dari kamar mandi, Baekhyun langsung meminta beberapa map yang dibawa Richan.

“Hehe kau tidak marah kan?” tanyanya tersenyum lebar ke arah Richan karena sudah membuat yeoja itu menunggu cukup lama di depan kamar mandi.

“Gwenchana, ayo kita ke ruangan Sooman songsaenim..”

Mendengar nama Sooman disebut, tubuh Baekhyun langsung menegang.

“Waeyo Bacon.ah?” tanya Richan menangkap aneh ekspresi namja di sebelahnya itu.

“Ani.. Aniyo..” balasnya sembari menggelengkan kepala.

Sebenarnya Richan tau jika ada sesuatu yang Baekhyun simpan, namun yeoja itu tidak mau terlalu ikut campur jika Baekhyun sendiri tidak ingin menceritakannya.

Keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan kepala sekolah untuk mengurus beberapa keperluan osis yang membutuhkan persetujuan kepala sekolah.

“Richan.ah~” panggil Baekhyun yang tiba-tiba teringat akan sesuatu. Ia sudah ingin menanyakan hal ini sejak tadi mereka berjalan.

“Hmm?”

“Aku senang sekali kau mau menerima Chanyeol kemarin. Jujur saja aku takut kau akan menolaknya…”

Degg. Richan agak terkesiap mendengar perkataan Baekhyun. Ia mengerti kenapa namja sipit itu berkata seperti ini. Ya wajar saja karena Chanyeol adalah sahabatnya.

“Jika mengingat bagaimana kau dan Luhan dulu, aku sempat ragu tapi untunglah. Aku ikut senang.. Ah kau harus tau walaupun Chanyeol aneh  sekali, aku tau jika ia sangat menyukaimu” tambah Baekhyun membuat Richan langsung menelan ludah. Ia menundukkan kepalanya berpikir. Aigoo aku sudah sangat bersalah sekali pada Chanyeol. Aku bersalah karena telah membohongi namja itu, dan juga membohongi diriku sendiri jika aku masih belum bisa menghilangkan Luhan dari pikiranku.

Richan terus saja menerawang jauh hingga tanpa disadarinya, mereka sudah sampai di depan ruang kepala sekolah. Jika saja Baekhyun tidak menegur Richan, mungkin saja yeoja itu sudah berjalan mengeluyur melewati ruangan Sooman.

“Annyeonghasseo” ucap Richan dan Baekhyun membungkukkan badan mereka begitu diperbolehkan masuk.

Ternyata Sooman tidak sendiri, ia sedang mengobrol dengan seorang yeoja yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Shin Heerin.

Mereka terlihat sedang  asyik tertawa bahkan sampai Baekhyun dan Richan ikut duduk bergabung. Perawakan seram dan serius Lee Sooman seketika berubah menjadi ramah dan hangat saat pria paruh baya itu tertawa bersama Heerin.

“Ah ada apa Kwon Richan?” tanya pria berkacamata tebal itu setelah merasa cukup mengobrol dengan keponakannya.

Richan membungkukkan badannya kecil, ia meminta ijin untuk duduk di dekat Sooman, menjelaskan beberapa berkas yang harus ditandatangani.

Sooman menganggukkan kepalanya mengerti, namun sebelum Richan kembali melanjutkan penjelasan, Sooman buru-buru memperkenalkan Heerin yang masih duduk tenang di sebelahnya.

“Perkenalkan ini keponakan kesayanganku”

Heerin tersenyum ramah sambil mengulurkan telapak tangannya, “Shin Heerin imnida”

Richan balas menyunggingkan senyuman — meskipun tidak seramah Heerin.

“Kwon Richan imnida..”

Sooman hendak memperkenalkan Heerin pada Baekhyun juga, akan tetapi ia tiba-tiba teringat sesuatu saat melihat wajah namja yang terus menundukkan kepalanya itu.

“Jjangkaman! Kau yang kemarin bukan??”

Baekhyun mendongakkan kepalanya melihat Sooman. Ia memaksakan sebuah senyuman seraya menganggukkan kepala.

Yang kemarin? tanya Richan dalam hati.

Ahjussi, kumohon jangan mulai lagi? batin Heerin hanya bisa melihat iba ke arah Baekhyun.

“Ternyata kau wakil ketua osis?”

Mati kau Byun Baekhyun.

“Mianhamnida songsaenim, memangnya ada apa dengan Baekhyun?”

“Ah sudahlah lupakan” jawab Sooman langsung membuat Baekhyun dan Heerin menghela napas lega.

Richan hanya mengerutkan dahinya bingung, ia akhirnya melanjutkan penjelasannya pada Sooman yang sempat terpotong.

Diam-diam saat Sooman dan Richan sedang berdiskusi, Baekhyun mencuri pandang ke arah Heerin. Mereka sempat beberapa kali tersenyum dan melempar pandangan satu sama lain.

“Ah iya Richan, apa aku bisa memintamu untuk mengajak Heerin bergabung dengan osis?” tanya Sooman sambil membenarkan letak kacamatanya. Heerin yang semula duduk tenang agak terkesiap mendengar permintaan pamannya yang ia sendiri tidak tau.

Richan melihat Heerin sebentar, yeoja itu tampak berpikir kemudian berkata, “Ne ne, tentu saja bisa.”

“Ah baguslah..”

Begitu menyelesaikan urusan mereka, Richan langsung berpamitan   untuk kembali ke kelas.

“Emm Heerin.shi kau ikut aku saja ke ruang osis..” ujar Richan pada Heerin.

“Ne ne, ahjussi..?”

Sooman melambai-lambaikan tangannya memberikan isyarat agar yeoja itu mengiyakan ajakan Richan.

Baekhyun baru akan beranjak dari tempat duduknya menyusul Heerin dan Richan yang sudah berdiri terlebih dulu, namun ia mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan Sooman.

“Kau disini dulu, aku ingin bicara padamu”

Oh My. Baekhyun memejamkan matanya  cemas. Apalagi ini?

. . .

 

Heerin menutup pintu ruangan Sooman ragu, kedua matanya masih mencuri-curi pandangan ke dalam. Ia khawatir pamannya yang terkenal galak itu akan melakukan sesuatu yang ekstrem pada Baekhyun.

Semoga Sooman ahjussi tidak melakukan hal aneh-aneh, batin yeoja imut itu masih belum menutup pintunya.

“Heerin.shi?” panggil Richan membuat Heerin reflek menutup pintunya.

“Ne ne” sahutnya kemudian berjalan bersama Richan.

Selama perjalanan mereka menuju ruang osis, Heerin terus saja menolehkan kepalanya ke belakang, masih mengkhawatirkan Baekhyun dan pamannya.

Klek.

Richan memutar kunci pintu ruang osis, keduanya masuk dan langsung berjalan menuju meja dimana terdapat banyak tumpukan kertas dan map.

Heerin duduk tenang di depan meja, memperhatikan Richan yang masih sibuk membolak-balik sebuah buku.

“Kau minta ditaruh di sie apa?” tanya Richan bingung karena cukup banyak bagian yang bisa ditempati Heerin.

“Sebenarnya dimana saja bukan masalah untukku”

“Emm apa kau bisa bisa bahasa inggris dengan baik?” tanya Richan formal seperti sebuah wawancara kerja.

Heerin mengukir senyuman percaya diri, ia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Good morning! How are you? I’m Heerin. Naice day”

Richan memiringkan kepalanya mendengar Heerin yang begitu percaya diri namun juga begitu singkat dalam berbicara. Ia menggelengkan kepalanya kemudian mencoret sie bahasa inggris dari daftar.

“Jago olahraga?”

“Aniyo”

“Beladiri?”

“Bisa memasak?”

“Aniyo”

“Teater dan drama?”

“Aku tidak yakin..”

“Bahasa Jepang?”

“Aishiteru eh Aniyo”

Richan menjatuhkan kepalanya lemas. Ia membenamkan wajahnya diatas kertas-kertas yang penuh dengan coretan.

Tingg. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Richan, yang ini pasti cocok untuknya.

“Paduan suara! Suaramu cukup bagus dan kebetulan paduan suara belum punya wakil yeoja di osis..” ujar Richan yang langsung disambut dengan senyuman setuju oleh Heerin. Kebetulan sekali yeoja itu juga suka menyanyi namun belum dapat menyalurkan hobby-nya itu.

“Nanti Kyungsoo dan Baekhyun akan membantumu jika kau butuh, kebetulan mereka adalah koordinator padus.” tambah Richan.

“Nde?” tanya Heerin memastikan pendengarannya tidak salah. Baekhyun?lagi?

“Kenapa kau kaget begitu aku menyebut Baekhyun?”

Tatapan datar Richan berubah menjadi curiga saat Heerin seperti salah tingkah mendengar nama Baekhyun.

“Ani.. Aniyo..” jawab Heerin memaksakan sebuah senyuman. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa aku jadi salah tingkah begini? Memang ada yang salah dengan namja bernama Baekhyun   itu?

. . .

 

“Byun Baekhyun!” ujar Sooman tegas membuat Bekhyun reflek memejamkan matanya takut.

“N..ne song..song..saenim”

Baekhyun tidak dapat menyembunyikan ketakutan yang tergambar jelas di wajahnya. Ia terus saja menundukkan kepala seperti murid yang siap menerima hukuman dari gurunya. Jangankan saat bicara, diam saja wajah Sooman sudah sangat menyeramkan.

Sooman masih terus berjalan mondar-mandir di depan Baekhyun, sambil memperhatikan namja itu dari bawah hingga ke atas.

Brakk. Sooman tiba-tiba menggebrak meja membuat Baekhyun terlonjak kaget.

Aigoo, jeritnya dalam hati sembari mengelus-elus dadanya.

Sooman kemudian duduk kembali di kursinya, ia menghela napas panjang kemudian berkata, “Semenjak appa-nya meninggal, aku selalu berusaha merawatnya seperti anakku sendiri. Bahkan ia juga sering memanggilku appa”

Kepala Baekhyun yang semula tertunduk mulai diangkatnya. Ia melihat Sooman yang tampak begitu tenang di depannya. Jadi Heerin tidak punya appa?

“Aku senang sekali saat ia pindah ke Korea, bahkan aku rela menjemputnya langsung dari Osaka..” tambah Sooman yang hanya disahuti oleh anggukan kepala dari Baekhyun.

Brakk. Tiba-tiba Sooman menggebrak lagi mejanya, membuat Baekhyun kembali mengerjap-ngerjapkan matanya.

Kedua pasang mata Sooman memelototi Baekhyun seram.

“Kau serius tidak dengan keponakanku??”

“Tapi..tapi songsaenim sebenarnya..” kata namja itu berusaha menjelaskan. Namun Sooman tampak tidak mau mendengar apapun selain jawaban iya atau tidak.

“SERIUS TIDAK??”

“N..Ne..Ne serius aku se..rius..” ujar Baekhyun akhirnya. Jangankan untuk menjelaskan fakta sebenarnya, untuk berkata tidak saja rasanya imposibble.

Sooman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas.

“Bagus.. Bagus..”

Baekhyun menggaruk belakang kepalanya tidak mengerti dengan  semua ini. Kenapa ia jadi tidak berdaya begini di hadapan Lee Sooman? Ah jjangkaman, memang siapa yang akan kuat menghadapi wajah super killernya.

“Jika sudah begitu, lebih baik kau segera meresmikan hubungan kalian dalam sebuah ikatan..” tutur Sooman tampak begitu serius.

Baekhyun membuka mulutnya lebar. Jjangkaman! Apa maksudnya itu?

“Tapi.. Tapi..”

“MAU TIDAK??”

“N..ne.. Songsaenim!” ujar namja itu tidak berdaya di tempat duduknya. Lagi-lagi Sooman tersenyum puas mendengar jawaban Baekhyun. Ia menepuk-nepuk pundak namja bermarga Byun itu senang, sementara namja yang ditepuk-tepuk pundaknya hanya bisa duduk lemas di kursi.

“Byun Baekhyun, sebelumnya kau tidak pernah berurusan dengan yeoja dan sekalinya menyukai seseorang kenapa jadi begini? Jangankan menjadi pacar apalagi tunangan atau mungkin suami, menjadi temannya saja belum. Bagaimana ini bisa terjadi? Aigoo mimpi apa aku semalam” batin namja imut itu seakan ingin membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

. . . .

 

10.00 KST_

Chanyeol berdiri memainkan kakinya di depan sebuah kelas. Ia melirik jamnya lagi, memastikan jika sekarang memang sudah jam istirahat.

Kenapa tidak ada satupun murid yang keluar? gumamnya bingung.

Klek. Akhirnya pintu   kelas itu terbuka. Satu-persatu murid keluar dari kelas setelah Shindong, guru  Biologi mereka keluar.

“Woaa Bacon.ah ada apa denganmu?” tanya Chanyeol begitu melihat Baekhyun berjalan sempoyongan saat keluar dari kelas.

“Tenanglah aku baik-baik saja” jawab namja itu sembari menepuk pundak Chanyeol kemudian berlalu pergi entah kemana.

Chanyeol hanya menggaruk kepalanya bingung melihat sahabatnya itu. Namun ia segera teringat akan sesuatu, ia menjulurkan kepalanya ke pintu mencari keberadaan seseorang yang sudah ditunggunya.

“Ah itu dia” gumamnya begitu melihat Kwon Richan yang sedang berdiri membereskan buku-bukunya.

Ah haruskah aku menghampirinya? Atau aku menunggu disini saja?

Tanpa namja itu ketahui, Richan dan Geulrin sudah berjalan menuju pintu kelas. Keduanya hendak berjalan meninggalkan kelas sebelum Geulrin menyadari jika Chanyeol berdiri di depan kelas.

Yeoja berambut pendek itu memberikan isyarat pada Richan untuk melihat ke arah Chanyeol yang masih berdiri seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Chanyeol.shi?” panggil Richan membuat Chanyeol langsung bangun dari lamunannya.

“Ah Richan.shi”

Sebelum ia semakin terlihat konyol berada diantara Chanyeol dan Richan, Geulrin buru-buru berpamitan meninggalkan mereka berdua.

“Kau mencari si..?”

“Mencarimu!” sahut Chanyeol sebelum yeoja itu menyelesaikan pertanyaannya.

Kenapa jadi salah tingkah begini?batin namja tinggi itu sambil terus menggaruk kepalanya.

“Waeyo?” tanya Richan memiringkan kepalanya.

Chanyeol menepuk keningnya sendiri. Ia belum memikirkan apa tujuannya mencari Richan.

Yeoja itu tersenyum kecil melihat Chanyeol yang tampak begitu bingung. Setiap melihat tingkah namja tinggi itu, entah kenapa Richan selalu ingin tersenyum dibuatnya. Ia rasa julukan ‘happy virus’ memang cocok untuknya.

“Emm mau menemaniku ke kantin tidak?” tanya Chanyeol akhirnya menemukan alasan yang tepat.

“Kenapa tidak”

Jawaban Richan membuat Chanyeol tersenyum lebar sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menarik tangan yeoja berwajah dingin itu.

Chanyeol menggenggam tangan Richan erat, meskipun ia menyadari jika genggaman tangannya tidak dibalas oleh yeojachingunya itu. Semua ini masih terasa aneh untuk Richan. Semua tentang Chanyeol dan hubungan mereka. Ia tau jika memang ini semua adalah keputusannya sendiri. Tapi…

“Ah kau harus tau walaupun Chanyeol aneh sekali, aku tau jika ia sangat menyukaimu”

Tiba-tiba ucapan Baekhyun tadi muncul di benaknya.

Aniyo, ini tidak benar. I have Chanyeol now.  I have to move on and I have to let him go. I have to let Luhan go.

Perlahan tapi pasti Richan membalas genggaman tangan Chanyeol hingga mereka benar-benar bergandengan sekarang.

“Woah Richan dan Chanyeol hyung makin mesra saja” gumam Kai cukup keras untuk didengar Kris yang berdiri disampingnya.

Entah apa yang membuat Kris akhirnya mengikuti pandangan Kai ke arah Chanyeol dan Richan yang sedang berjalan melewati mereka.

Kris hanya mengangkat pipinya, mengukir sebuah smirk.

. . .

Chen masih memegangi tangan  Heerin yang mencoba untuk melepaskannya.

“Oppa, kau tidak usah menjelaskan lagi. Lebih baik kau menemui yeojamu Hyerim itu” ujar Heerin yang sebenarnya tidak menampakkan wajah kesal apalagi marah.

Akan tetapi Chen belum mau melepaskan tangan Heerin. Jujur saja ia masih sangat menyayangi yeoja itu.

“Mianhae Heerin, dengarkan aku dulu”

“Oppa kumohon lepaskan”

“Ani, dengarkan aku dulu?”

“Oppaa!”

Tanpa keduanya sadari, seorang namja sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Seorang namja yang terlihat sedang linglung dan bingung. Ia melihat pertengkaran di depannya kemudian menggelengkan kepalanya.

“Aigoo mereka lagi!” keluh namja yang tidak lain tidak bukan adalah Byun Baekhyun.

Namja itu membalikkan badannya hendak berjalan ke arah lain. Ia tidak mau lagi berurusan dengan Heerin — lebih tepatnya dengan Sooman. Sudah cukup ia tertekan di ruang kepsek tadi (?)

Namun baru saja beberapa langkah, namja itu berbalik lagi ke arah Heerin dan Chen yang masih ribut.

Baekhyun tidak tahan mendengar namja itu yang terus memaksa Heerin untuk mendengarkannya. Begitu sampai di dekatnya, Baekhyun langsung melepaskan tangan Chen sekaligus menarik Heerin untuk pergi dengannya.

Baekhyun mempercepat langkahnya, membuat Heerin mau tak mau ikut berjalan cepat, meninggalkan Chen yang hanya bisa diam menatap kepergian mereka.

“Kamsahamnida jeongmal kamsahamnida” ucap Heerin pada Baekhyun yang hanya menganggukkan kepala.

Senyuman manis terukir di wajah yeoja itu tepat disaat Baekhyun meliriknya. Aigoo bagaimana aku bisa menjauh dari yeoja semanis ini?

. . .

15.10 KST

Bel pertanda berakhirnya jam pelajaran sekolah  sudah sepuluh menit berbunyi, semua murid di sekolah bergengsi itu berhamburan keluar kelas termasuk Kris yang menuruni anak tangga dengan menjaga ritme langkahnya layaknya seorang model. Ia berjalan santai menuju tempat parkir dimana motor gede-nya.

Beberapa yeoja yang berpapasan dengannya tidak bis menolak karisma yang terpancar dari wajah tampannya. Jangankan saat berjalan, diam saja Kris sangat mempesona. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran mereka.

. . .

Kris naik ke atas jok, ia memundurkan motornya hendak keluar dari tempat parkir. Namun sebuah sepeda ongkel yang tersandar di motornya membuat namja itu kesulitan.

“Aish siapa yang menaruh sepeda ini disini! Menyusahkan saja” batin namja itu geram. Akhirnya ia turun dari motor gedenya, dilihatnya kesal sepeda yang menyangkut di motornya itu.

Brakk. Tanpa mempedulikan seseorang yang memperhatikannya, namja itu menjatuhkan sepeda gunung bewarna biru tadi.

“Apa yang kau lakukan?” sergah seseorang yang sudah berdiri di belakang motornya.

Kris hanya tersenyum (licik) melihat siapa yang berbicara padanya.

“Maaf, hanya saja sepedamu mengganggu motorku untuk keluar” ujar namja itu dingin.

Richan balas melihati Kris dingin. Bukan tidak sengaja sepeda ongkel yang sebenarnya adalah milik Chanyeol itu jatuh ke tanah.

“Itu bukan alasan untukmu untuk menjatuhkannya, aish jinjja aku tidak pernah melihat namja  seperti setan” balas Richan tak kalah dingin.

Mwo? Setan? Kris turun dari motor untuk yang kedua kalinya.

Yeoja di depannya itu memang tampak pendiam, namun sekalinya bicara..ckck.

“Apa katamu tadi?”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Richan, ia hanya menyunggingkan senyumannya membalas tatapan tajam Kris, melupakan tujuan sebenarnya ia datang ke tempat parkir.

“Kenapa lama sekali?” gumam Chanyeol yang berdiri di depan tempat parkir. Akhirnya namja itu memutuskan untuk menyusul Richan yang seharusnya sudah mengambil sepedanya.

Dahinya berkerut melihat Richan yang sedang berdiri berhadapan dengan Kris. Keduanya saling berpandangan seolah akan saling membunuh (?)

Chanyeol berlari ke arah yeojachingu-nya.

“Richan.ah ada masalah? Kenapa lama sekali?”

Richan langsung menggelengkan kepala, “Ani.. Aniyo, ayo kita pulang”

Begitu Chanyeol mengambil sepedanya, Richanpun naik dan berdiri di belakang. Kedua tangannya memegang pundak Chanyeol yang sudah siap dibalik setir.

“Annyeong duizhang~” sapa Chanyeol melambaikan tangannya ke arah Kris yang hanya mengangguk tersenyum.

. . .

 

Hongdae, 16.00 KST

Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun senang, “Gomawo sudah mau menemaniku”

“No problem bro! Chanyeol tidak ikut?” tanya namja sipit itu tidak melihat tanda-tanda seseorang selain Kyungsoo.

“Dia ada latihan” jawab Kyungsoo singkat.

Ah ne, hari ini kan sabtu.”

Baekhyun menganggukkan kepalanya mengerti. Tim basket sekolah mereka memang selalu mengadakan latihan setiap jumat dan sabtu.

Dua namja itu kembali berjalan menuju sebuah toko yang menjual aneka video games. Biasanya memang Kyungsoo, Baekhyun, dan Chanyeol akan menghabiskan waktu mereka berjam-jam di depan PS.

Karena kebetulan besok libur, dua namja itu bisa menghabiskan waktu mereka untuk mencari games sebagai koleksi.

17.00 KST

Sudah hampir sejam Kyungsoo dan Baekhyun berputar-putar di deretan toko-toko besar di Hongdae hingga akhirnya berhasil memborong hampir seplastik besar.

Krutuk krutuk. Suara aneh terdengar dari perut Baekhyun. Sepertinya kumpulan cacing dalam perutnya sedang berdemo meminta asupan makanan.

“Kyungsoo.yaa aku lapar” ucapnya sambil nyengir.

“Arasseo arasseo, kita makan sekarang..”

“Traktir ya?” sela Baekhyun menunjukkan puppy eyes-nya.

Akhirnya setelah berpikir lama, namja belo’ itu mengiyakan permintaan Baekhyun. Tidak ada pilihan lain, jika Kyungsoo tidak mengabulkan permintaannya, namja itu pasti akan terus mengomel selama perjalanan pulang.

Setelah membayar semua barang belanjaan mereka, dua namja itu berjalan keluar toko sambil mencari tempat makan yang sekiranya pas untuk kantong anak SMA.

“Bagaimana jika kesana?” usul Kyungsoo yang dijawab Baekhyun dengan anggukan.

Sebuah kedai jjangmyeon yang berada di ujung jalan cukup menarik perhatian Baekhyun. Diapun menarik Kyungsoo untuk berjalan lebih cepat.

Akan tetapi, baru beberapa langkah mereka berjalan, sesuatu membuat Baekhyun langsung memperlambat langkahnya.

Seorang yeoja dan seorang pria paruh baya sedang berjalan dari arah  yang berlawanan. Baekhyun menyipitkan kedua matanya, mencoba melihat apakah mereka adalah orang-orang yang ada di pikirannya.

Seorang yeoja imut berambut coklat yang sedang bergandengan dengan pria paruh baya yang memakai kacamata tebal. Oh My! Namja itu langsung menghentikan langkahnya dan segera mengajak Kyungsoo untuk berbalik arah.

“Wae? Wae?” tanya Kyungsoo bingung. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apapun.

Oh My, kenapa aku bisa bertemu Heerin dan Sooman songsaenim disini? jerit Baekhyun masih berusah menyuruh Kyungsoo berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, “Ayo Do Kyungsoo! Kita pergi darisini” tukasnya kian memaksa ketika melihat Heerin dan Sooman yang berjalan semakin dekat.

karena jika mereka tidak segera pergi…

“Hey kau Baekhyun!!”

Suara teriakan Sooman membuat Baekhyun dan Kyungsoo langsung berhenti. Mati kau Byun Baekhyun.

. . .

 

Bukk. Richan merebahkan tubuhnya di kasur, ia merentangkan tangannya sembari menghela napas panjang.

 

“Berpenganglah lebih erat” ujar Chanyeol pada Richan yang berdiri memegang pundaknya. Mwo? Apa maksudnya? Tanya yeoja itu dalam hati kemudian melihat lintasan jalan di depannya. Ternyata sebuah tanjakan turun.

Begitu sepeda mereka mulai terjun turun, Chanyeol malah melepaskan kedua tangannya dari stang setir.

“Hya Chanyeol.ah! Apa yang kau lakukan?”

“Huaa!!” teriak namja itu seakan melepaskan beban dalam dirinya. Spontan Richan yang semula hanya memegang langsung memeluk pundak namja di depannya itu.  Angin menerpa tubuh mereka yang berada di atas sepeda. Gesekan tubuh dengan udara segar di sekitarnya membuat Richan merasakan sesuatu yang belum pernah yeoja itu rasakan sebelumnya. Begitu ringan dan lepas. Namja itu benar-benar membuatnya selalu tersenyum  ketika berada di dekatnya.

. . . “Annyeong” ujar Chanyeol begitu ia menurunkan Richan di depan rumahnya.

“Chanyeol.shi gomawoyo” balas Richan sembari menyunggingkan senyuman. Yeoja itu membalikkan badannya hendak masuk ke dalam rumah sebelum tiba-tiba Chanyeol memanggilnya.

“Boo” Chanyeol membulatkan mata besarnya sambil menjulurkan lidah, menunjukkan ekspresi muka yang paling aneh.

Melihat ekspresi aneh di wajah Chanyeol, Richan langsung tersenyum nyaris tertawa.

“Aku senang sekali melihatmu tersenyum. Kuharap senyuman indahmu itu akan terus melekat di wajahmu” ujar Chanyeol sambil mengelus rambut Richan kemudian mengayuh sepedanya pergi. . .

 

Yeoja itu memegangi puncak kepalanya, dimana tangan Chanyeol tadi menyentuhnya.

“Park Chanyeol. Aku akan jadi yeoja paling bodoh di dunia ini jika menyia-nyiakanmu..” gumam Richan kemudian memeluk guling di sebelahnya. Yeoja itu baru akan memejamkan mata sebelum seseorang masuk ke dalam kamarnya.

“Umma ada apa?” tanya Richan langsung bangkit dari posisinya.

“Kau ingat perjodohan yang pernah umma katakan?”

Richan memutar bola matanya, “Jangan katakan jika perjanjian kuno tentang perjodohan itu akan benar-benar terlaksana..”

Umma Richan menggelengkan kepalanya, “Ani.. Ani.. maksud umma tidak sepenuhnya benar. Semuanya tergantung pada keputusan kalian nanti, perjodohan akan tetap berlanjut hanya jika kau dan calonmu setuju.”

Ah begitu. Richan menganggukkan kepalanya mengerti. Baiklah, bukan ide yang buruk.

“Tapi mereka mengajak keluarga kita untuk makan malam nanti.. Kau — akan dipertemukan dengan namja itu”

Richan yang masih mengenakan seragam sekolah langsung menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas kasur. Aigo!

. . .

 

Hongdae, 18.00 KST

Baekhyun melahap makanan di piringnya tanpa berani memandang Sooman yang duduk di seberangnya. Kyungsoo hanya melihati sahabatnya itu bingung sedangkan Heerin terus saja memperhatikan Baekhyun cemas. Heerin bisa membaca ketakutan di mata Baekhyun setiap melihat ke arah Sooman.

Apa yang appa lakukan tadi di ruang kepsek sampai Baekhyun   ketakutan begini?

Drrt..Drrt.. Handphone Kyungsoo bergetar. Sebuah panggilan masuk membuatnya langsung mengerutkan dahi.

Titt. “Yobosseyo..? Ah ne umma arasseo”

Begitu menutup sambungan teleponnya. Namja itu langsung beranjak dari tempat duduknya.

Ia membungkukkan kepalanya pada Sooman berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, “Mianhamnida songsaenim, saya harus pulang sekarang juga”

Uhuk uhuk. Baekhyun langsung tersendak mendengar perkataan Kyungsoo.

“Baekhyun.ah aku pulang dulu ya? Ada urusan yang sangat mendadak”

“Tapi..Tapi.. Kyungsoo.ya..”

Kyungsoo hanya menepuk pundak Baekhyun, tidak memahami suara hati namja itu.

Hya Kyungsoo.ya kajimma!! teriak Baekhyun yang sekarang hanya bisa duduk lemas di kursinya begitu Kyungsoo akhirnya benar-benar pergi meninggalkannya dengan Heerin dan Sooman.

“Aku ke kamar mandi dulu ya” ucap Sooman kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Baekhyun dan Heerin berdua saja.

Fiuh. Namja itu menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kencang.

“Sepertinya Sooman ahjussi menyukaimu” ucap Heerin membuat Baekhyun langsung membelalakkan mata.

“Nde?”

Heerin menganggukkan kepalanya, “Kau adalah satu-satunya murid laki-laki yang namanya ahjussi ingat, kau juga satu-satunya yang beliau ajak makan bersama..”

Baekhyun menggaruk kepalanya mendengar perkataan Heerin. Jinjja?tanyanya pada diri sendiri. Namun namja itu bingung apakah ia harus senang atau tidak sekarang.

“Sooman ahjussi dan istrinya tidak mempunyai anak, maka dari itu ia menyayangiku seperti anaknya sendiri dan… sepertinya beliau juga menganggapmu sebagai anak laki-lakinya”

Uhuk uhuk. Baekhyun tersendak untuk yang kedua kalinya. Namja itu kemudian menepuk-nepuk dadanya sendiri. Jeongmal. Apa ucapan Heerin tidak salah?

Baekhyun hendak menyahuti ucapan Heerin namun ia mengurungkan niatnya melihat Sooman berjalan mendekati meja mereka.

“Ah Baekhyun.ah aku senang kau ada disini”

“Ne..ne songsaenim”

“Ah iya, kau sudah memikirkan tentang pembicaraan kita di sekolah tadi? Bagaimana?”

“….”

 

. . .

19.00 KST

“Annyeonghasseo”

Richan membungkukkan badannya menyapa seorang wanita cantik yang tampak seumuran dengan umma-nya, seorang pria yang sepertinya adalah suami wanita tadi, serta seorang eomoni yang masih terlihat bugar.

“Aigoo Dae.ah, ini anakmu? Neomu yeoppo” puji eomoni tadi pada Dae ah, umma Richan. Dari tatapannya, semua orang dapat melihat jika eomoni ramah itu menyukai Richan.

“Kamsahamnida”

“Cucuku pasti senang melihatmu” ucap wanita itu lagi membuat Richan hanya bisa menganggukkan kepala tanpa banyak berkomentar.

Ia menelan ludahnya sendiri membayangkan jika perjodohan konyol ini benar-benar terjadi.

“Umma benar, anakmu ini memang cantik” tambah pria gagah yang merupakan anak kandung dari nenek tadi.

Tidak ada yang bisa membantah jika yeoja itu memang terlihat cantik mengenakan dress pink selutut dengan balutan scraf berwarna senada. Bahkan Kai yang sering mencela kakak perempuannya itu mengakui jika malam ini noona-nya tampak cantik.

Sekarang   meja itu sudah dipenuhi tujuh orang yang duduk melingkarinya. Namun masih ada satu kursi kosong disana. Kursi dari namja yang rencananya akan dijodohkan dengan Richan.

“Dia masih di kamar mandi” tukas si eomoni menyadari jika umma dan appa Richan seperti sedang mencari seseorang.

“Richan.ah aku penasaran siapa namja yang akan menjadi calon suamimu”

Bukk. Richan langsung menginjak kaki Kai yang terkikik meledeknya.

“Siapapun dia, aku tidak akan pernah sudi” balas yeoja dingin itu pada Kai yang masih mengaduh menahan sakit.

“Nah itu dia!”

Sontak semua mata tertuju pada namja yang sedang berjalan menuju meja mereka. Seorang namja tinggi yang memakai kemeja bewarna biru itu berjalan begitu santai.

Richan memicingkan kedua matanya. Namja itu..?

“Kris?”

“Wufan.ah perkenalkan ini yeoja yang eomoni ceritakan”

Kris membelalakkan matanya, tidak kalah kaget dengan Richan yang sudah terlebih dulu lemas di tempat duduknya.

Namja tampan itu menggelengkan kepala tak percaya. Dengan langkah berat, Kris kembali duduk ke tempatnya. Kedua matanya terus memandang Richan dingin.

“Wae? Kalian berdua sudah saling kenal?” tanya umma Kris melihat reaksi anaknya dan Richan yang tidak sama sekali  berusaha untuk saling berjabat tangan ataupun memperkenalkan diri.

Kai terus menutupi mulutnya menahan tawa yang sudah berada di ujung tanduk.

“Mereka satu sekolah” sahut Kai memberikan jawaban.

Wajah nenek Kris berubah makin riang, “Ah baguslah kalau begitu”

Bagus? Apanya yang bagus? batin Kris berusaha menunjukkan wajah tenangnya.

“Wufan.ah, lebih baik kau ajak Richan berjalan-jalan di sekitar sini, pemandangannya cukup bagus..” tutur appa Kris seperti menyuruh.

Richan menegang di kursinya, yeoja itu melihat ummanya penuh harap.

“Sudah ikut saja” bisik umma Richan membuat yeoja itu hanya bisa menghela napas. Aish Jinjja, mimpi apa aku tadi malam?

. . .

 

Kris berjalan menuju jembatan yang berada di atas kolam ikan, ia terus saja melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Richan yang tertinggal di belakang.

Pada awalnya dua orang itu berjalan berdampingan, namun begitu merasa telah berada jauh dari keluarganya, sifat asli Kris dan Richan kembali muncul.

Namja berambut kuning kecoklatan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika sampai di tengah-tengah jembatan kayu yang hanya diberi pegangan tali. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kolam. Appa benar. Pemandangan disini cukup indah dan menyejukkan.

“Kau tidak akan menerima perjodohan ini kan?” tanya Richan dari jarak dua meter di belakang Kris.

Kris membalikkan badannya melihat Richan yang berdiri di ujung jembatan.

Sebuah smirk terukir di wajah sengaknya, “Aku masih cukup waras untuk menerima perjodohan konyol ini” ujar namja itu masih dengan ekspresi dinginnya.

Richan menganggukkan kepalanya senang mendengar jawaban Kris. Baguslah.

Yeoja itu kemudian berjalan naik ke jembatan, bukan untuk mendekati Kris melainkan memang untuk menyeberang ke sisi lain. Namun saat tubuhnya melewati Kris, tanpa sengaja, lengannya menyenggol  tangan Kris yang sedang berkacak pinggang.

Entah karena keseimbangan yang buruk atau dewi fortuna sedang tidak di pihaknya, namja tinggi itu terpeleset hingga akhirnya…

Byurr. Ia terjatuh ke dalam kolam. Sembilan puluh persen pakaian yang dikenakannya kini basah. Begitu juga dengan sepatu dan rambut Kris yang terciprat air kolam.

Mendengar suara berisik di belakangnya, Richan langsung berbalik. Ia terkesiap melihat namja itu sudah basah kuyup.

Yeoja itu hendak tertawa sebelum Kris sudah terlebih dulu melayangkan tatapan maut ke arahnya. Sebuah tatapan seperti sedang berkata, ‘Mati kau setelah ini Kwon Richan!’

Semula Richan akan berjalan membiarkan Kris. Namun yeoja dingin itu masih punya hati melihat Kris yang tampak kesusahan untuk berdiri. Lumut serta keadaan kolam yang licin tidak memungkinkannya untuk berdiri dengan mudah.

“Ppali!” seru Richan yang sudah berdiri di jembatan, mengulurkan tangannya untuk menolong Kris.

“Hhh” desis namja itu melihat sikap sok pahlawan yeoja itu setelah tadi menjatuhkannya ke kolam. Ia hanya diam melihati Richan yang masih membungkuk mengulurkan tangan, tanpa sedikitpun memiliki niat untuk menyambut ulurannya.

“Jika dalam lima detik…”

Kris langsung memegang tangan Richan yang mengulur.  “Terpaksa. Ini karena terpaksa!” batinnya terus meyakinkan dirinya sendiri.

Akhirnya dengan susah payah dan bantuan tangan Richan, Kris dapat berdiri dan sekarang berusaha melompat ke jembatan kayu.

Sayangnya kaki yang panjang namja itu tidak cukup mampu memberikan keseimbangan untuknya. Ia berpijak di atas jembatan dengan tidak cukup sempurna hingga akhirnya badannya oleng dan terancam jatuh lagi.

Bukk. Kali ini tubuhnya tidak jatuh ke belakang– ke arah kolam melainkan… ke arah Richan yang sekarang tertindih di bawahnya.

A i g o .

 

>>> To Be Continue <<<

 

 

~Preview of next chapter~

“Kyungsoo.yaa aku tidak mau menikah muda!”

“Richan.ah jujurlah padaku. Apa kau memiliki perasaan yang sama denganku?”

“Jika itu akan membuatnya sengsara, maka aku akan menerima perjodohan ini”

 

Any comments ? Just type ur words in the box below ^^

Thank you for reading!

 

10 pemikiran pada “A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 2)

  1. Seruuuu…baek nikah muda?hahaha
    Sooman jgn keras2 ya ma baek..
    Chanyeol..kayanya km bkl jd org yg trsakiti dsini..aahhh author tlong deh mnculin karakter cwe yg nti ujung2nya ma dy..kkk
    Kriissss….aku tunggu prmainanmu untuk dapetin richaannn…..
    Tp jgan trlalu2 bgt yah ksihan richan nti..
    wuiihh..pkoknya part ini seru trutama baek-ma papa sooman..luuccuuuu…
    next smga lbih byak Kris nya ya.. oh ya baek jg deh byakin scene sma heerinya..

  2. oh ya ampun, please thor, please,
    biarkan chanyeol sama richan, jangan kris thor, please, please, please.
    next chap thor, next chap.

  3. Aduh aku snyum2 gaje sndri kalau bagian richan dan kris.
    Ciee kris alasan aja cri kesempatan bnget ya^_^.
    Thor it kris-richan di bnyakin yach^_^??

    KEYEN makin seru lah
    jng lama-lama ya thor*bbuingbbuing*

    FighTaeng….

  4. Next, next, next!!!
    Cepet publish ya thor&min
    Richan sama Chanyeol aja, tp sayang main cast nya Kris -__-”

    Itu preview u/ next chapter yg bilang ke Kyungsoo gmw nikah muda tuh Baekhyun ya?? Ahahahahaha malang ato beruntung ya dia?? Hahahaha

  5. baek nikah muda O.O penasaran .. aaaa aku mau sama kai u.u /ngek
    wkkwkk next chap. klu boleh nebak akhirny richam kykny sm kris deh tp trlalu sama sifatny .-. aku nunggu kejutan athor aja deh ‘-‘
    next chap :3

  6. udah dari tanggal 2 bolak-balik wordpress ini nungguin lanjutan ff ini tapi sampe sekarang belom lanjut o_o huft, sumpah penasaran bgt kelanjutan nya. wkwk. lanjut yak~ x)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s