Power Users (Chapter 10)

FF

Power Users

(Part 10)

Author:

@ridhoach

Main Cast:

–          Kim Jong Dae (EXO-M)

–          Nam Shin Ra (OC)

–          Do Kyung Soo (EXO-K)

Support Cast:

–          All members of EXO.

–          Kim Jae Hyun (OC).

–          Kim Ah Ra (OC).

Previous Chapter:

            Dalam hitungan beberapa menit, namja yang semula renta itu berubah wujud menjadi namja yang tinggi besar, berpakaian serba hitam dan memiliki sepasang sayap hitam yang membentang pada pundaknya. Tetapi, aura yang dipancarkan oleh namja itu sangat teduh, hangat dan sarat akan kedamaian. Sangat berbeda jauh dengan tampilan luarnya.

 

            Namja itu membuka matanya dan mengembangkan sepasang sayapnya itu selebar – lebarnya pada ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dia sedikit membungkukkan badannya lalu mengambil ancang – ancang. Dan, wusshh! Dia terbang menembus jendela kamar inapnya dan menyebabkan tempat itu menjadi sedikit terbuka dan dindingnya menjadi sedikit hancur. Dia terbang membelah langit temaram senja itu.

—–

Author’s POV

Namja itu terus terbang, menembus lembayung senja pada sore yang penuh dengan tragedi itu. Namja itu terus mengepakkan sepasang sayapnya dengan hebat sebelum sosoknya akhirnya hilang ditelan cahaya jingga mentari senja.

*****

Jong Dae’s POV

Aku berlari secepat mungkin yang aku bisa. Berusaha menghindari reruntuhan tanah yang berjatuhan dari atas kepalaku, akibat tendangan keras yang dilakukan oleh namja yang sedang aku lawan, D.O, pada sebuah dinding tanah yang berdiri tak jauh dari tempatku dan tempat namdongsaengku, JaeHyun, berada. Aku memutar balikkan badanku lalu menggerakkan tangan kananku dan mengarahkannya ke sisi kanan kepalaku. Sebuah kilatan petir muncul dan menyapu bersih reruntuhan tanah itu.

Aku melihat D.O melompat lalu menghentakkan badannya dengan posisi kaki kanannya berada di bawah, mengarah padaku dan JaeHyun yang berada di bawahnya. Dia berusaha menikam kami dengan tikaman kakinya. JaeHyun memukulkan tangan kanannya ke tanah. Bersamaan dengan itu muncul beberapa pilar kayu yang menjulang dari tanah menghalau arah pergerakan D.O. Pilar – pilar kayu itu terus bermunculan dan terkadang menghantam tubuh D.O dari arah bawah. D.O yang telah terpukul beberapa kali itu kulihat berusaha untuk menghindari serangan lain dari pilar kayu milik JaeHyun-ah, dia lalu melompat semakin tinggi dengan menggunakan pilar kayu sebagai pijakannya.

Aku menggerakkan tangan kanannku ke depan bawah tubuhku. Tangan kiriku aku gunakan untuk menekan bagian pankal lengan kananku, berusaha untuk menyalurkan tenaga ke arah lengan kananku. Sesaat kemudian, tangan kananku berdecip, muncul sebuah lapisan listrik yang menggeliat dan menyambar dengan tegangan tinggi dari tangan kananku.

Aku maju selangkah ke depan lalu memberikan sebuah kode berupa anggukan pelan pada JaeHyun. JaeHyun yang menyadari kode itu lalu memukulkan tangan kirinya, menyusul tangan kanan yang telah menyentuh tanah itu. Seketika muncul sebuah pilar kayu yang cukup besar di bawah tempatku berdiri. Pilar itu bergerak ke atas, maju menghantarkanku menuju ke arah D.O yang tengah ‘melayang’ di atas udara. Melihat kedatanganku, D.O mengepalkan tangan kanannya yang langsung ditutupi oleh selapis lapisan tanah yang cukup tebal, menutupi tangan kanannya dari ujung sampai batas sikunya.

Aku mengepalkan tangan kanannku mengikuti gerakan yang dilakukan oleh D.O. Aku akhirnya sampai tepat di hadapan tubuh D.O di udara. Aku dan dia sama – sama saling mengepalkan tangan kanan kami masing – masing, berusaha untuk menyiapkan sebuah tinju terkuat. Aku meninjukan tangan kananku yang langsung disambut oleh sebuah tinju tanah milik D.O yang sangat kuat membentur kepalan tanganku yang terbungkus oleh selapis listrik yang betegangan tinggi. Tinju kami saling beradu di atas udara bebas menciptakan beberapa efek ledakan yang disebabkan oleh cuatan listrik yang menggelora keluar dari lapisan listrik di tanganku.

END of Jong Dae’s POV

*****

Author’s POV

Planet EXO…

Sebuah bangunan kastil berwarna putih yang sudah sangat tua itu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Nampak sepasang manusia tengah berdiri di depan pintu besar bangunan yang biasanya selalu sepi dan tidak terjamah manusia itu. Dari punggung salah satu manusia yang tengah berdiri itu terdapat sepasang sayap yang berwarna putih, membentang dengan gagahnya. Di hadapannya berdiri dengan tegas seorang yeoja yang memiliki tinggi badan hanya separuh dari tinggi namja bersayap itu. Yeoja itu nampak cantik dengan sebuah bingkai kacamata yang menghiasi mata emeraldnya. Rambutnya panjang tergerai sampai punggungnya, menambah kecantikan dari yeoja itu sendiri.

“Kim Ah Ra, apa persiapanmu sudah siap?”, tanya sang namja, tuan Eguno.

“Ne. Saya telah mempersiapkan semuanya tuan. Saya sudah siap untuk mengikuti tuan menuju Bumi untuk membunuh semua power users yang ada dan membuat tuan menjadi penguasa mutlak atas Bumi”, jawab yeoja itu.

“Baik. Tak salah memang kalau aku mempercayakan semuanya padamu”, ujar tuan Eguno sambil tersenyum dingin.

“Gamsha hamida tuan”, ujar yeoja itu sambil membungkukkan badannya.

“Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi ke Bumi. Ini sudah saatnya kita beraksi”, suruh tuan Eguno.

“Ne”.

Yeoja yang bernama AhRa itu pun melangkah maju mendekati tuan Eguno. Tangannya lalu mengenggam erat pergelangan tangan tuan Eguno. Seketika tubuh kedua orang itu pun lalu diselimuti oleh sebuah cahaya hitam yang pekat. Tak sampai beberapa detik, tubuh keduanya hilang ditelan oleh cahaya hitam yang menutupi tubuh mereka. Mereka berdua hilang dan langsung pergi menuju tempat yang mereka tuju, Bumi.

*****

Bumi…

Di atas danau yang luas itu, tampak sebuah aliran api yang tengah beradu dengan hebatnya dengan sebuah aliran air yang bergejolak. Aliran api yang keluar dari mulut seekor naga besar itu tampak menekan aliran air yang dikeluarkan oleh seorang namja yang tengah berdiri tak jauh dari tempat naga itu berada. Namja yang mengeluarkan air, SuHo, tampak tertekan oleh tekanan api yang dikeluarkan oleh naga yang dimiliki oleh seorang namja yang tinggi, Kris, itu. Tubuhnya terdorong ke belakang, mengambil beberapa langkah mundur dengan perlahan dan pasti.

Keringat perlahan bercucuran dari dahi SuHo dan mulai membasahi tubuhnya. Tampaknya ia sudah tak sanggup lagi menahan tekanan yang diterimanya dari semburan api milik naga api, Girgant. SuHo menghentikan aliran tenaga ke mulutnya, seketika semburan api yang ada di hadapannya langsung mengenai tubuh secara langsung dan memukulnya jauh ke belakang. Tubuhnya terbanting dan terseret beberapa kali di atas permukaan air danau itu sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak pohon besar yang ada di tepi danau dengan keras.

Girgant yang telah berhasil memukul mundur SuHo itu lantas terbang dan mendekati tubuh SuHo yang masih tersandar lemas di tepi danau itu. Ekor Girgant yang terbungkus api itu menjuntai ke arah bawah. Menggeliat – geliat mengincar musuh yang harus disingkirkannya. Setelah sampai di atas tempat SuHo berada, Girgant memukulkan ekornya tepat ke arah dada SuHo dengan keras. Tubuh SuHo terhempas dengan keras menembus batang pohon yang di punggunginya, terus melayang menembus kumpulan beberapa pohon yang tumbuh di tepi danau itu. Kris yang melihat hal itu lalu berlari. Sembari berlari, tubuhnya lalu terbungkus oleh lapisan api. Sesaat setelah terbungkus, dia langung melompat dan terbang menghampiri tubuh SuHo yang tengah melayang. Kris mengepalkan tangan kanannya dan langsung meninjukan tangannya ke tengah dada SuHo yang tak terjaga dari atas udara. Kepalan tangannya menembus dada SuHo dengan sukses.

Byurr!!

Tubuh SuHo yang telah tertembus oleh tangan Kris itu berubah menjadi air dan berhamburan ke tanah.

“Klon, huh?”, ucap Kris.

Dari permukaan air di danau muncul sebuah tubuh yang terbentuk dari air. Perlahan sosok air itu langsung berubah menjadi sosok namja, SuHo. Tangannya terkepal. SuHo menghentakkan dan mengangkatnya ke atas. Bersamaan dengan itu air yang ada di permukaan danau itu bergejolak lalu terangkat membentuk sebuah tangan besar yang terbuat dari air. Tangan air itu bergerak maju menuju ke tempat Kris dan Girgant berada.

Tangan air itu berhasil menggenggam ekor Girgant dengan erat. SuHo lalu menarik tangannya ke belakang. Bersamaan dengan itu, tangan air itu lalu menarik ekor Girgant dengan keras dan membantingnya ke belakang, ke tanah yang ada di sisi danau. SuHo lalu menjentikkan tangan kirinya. Seketika beberapa tombak air bermunculan dari atas tubuh naga itu tergeletak. Tombak tombak itu menusuk tubuh naga itu.

“Kau, beraninya kau melukai Girgant!!”, bentak Kris.

Kris terbang mendekati tempat SuHo berada. Wajahnya berkerut, sarat akan emosi pada setiap kerutannya. Tangannya terkepal dengan sangat keras. Dia mendekati SuHo dengan penuh amarah. Api yang ada di tangan kanannya membesar dan menutupi tangannya dengan sangat tebal. Dia meletakkan tangannya di sisi kanan tubuhnya, di sebelah kepalanya. Sedangkan SuHo menggerakkan kedua tangannya secara berirama, bersamaan dengan itu air yang ada di sekitar tempatnya berdiri bergerak – gerak seirama dengan gerakan tangannya. Air – air itu lalu bergerak menuju tangan kanan SuHo dan menutupinya.

SuHo pun melompat, mendekati Kris yang tengah terbang menghampirinya. Tangan SuHo terkepal dan diletakkannya di sisi kanan kepalanya. Wajahnya berlawanan dengan Kris. Wajah SuHo datar dan terkesan tenang. Berbeda sekali dengan wajah Kris yang sangat beringas dan sarat akan emosi. Mereka berdua saling mendekat dan sama – sama saling mempersiapkan tinju terkuat milik mereka masing – masing.

“Hiyaaa!!!!!!”, teriak keduanya.

Bwushh!!

Sesosok namja bersayap terbang lalu melayang diantara Kris dan SuHo yang tengah dalam kondisi tempur mereka. Namja bersayap itu lalu menghentakkan kedua tangannya ke arah sisi tubuhnya masing – masing. Sebuah dinding energi transparan lalu muncul di hadapan SuHo dan Kris. Tubuh SuHo dan Kris yang terkejut itu lalu menghantam dinding itu dengan keras dan terjatuh ke bawah, ke arah danau.

“Jangan lakukan itu Kris, SuHo”, ujar namja bersayap itu dengan tegas.

“Tuan Efumo? Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau telah…”, tanya Kris dengan wajah terkejut melihat siapa namja yang tengah menghentikkan serangannya tersebut.

“Efumo kau bilang? Ketua dari ras kalian? Bagaimana mungkin? Jangan menghayal Kris!!”, ujar SuHo dingin.

“Kau benar Kris. Ini aku, Efumo. Ketua kalian, ras Mystical-M”, ujar namja bersayap, tuan Efumo.

“JINJJA?!!! Bagaimana caranya anda bisa tetap hidup sampai sekarang tuan? Harusnya anda gugur pada pertarungan besar 10 tahun yang lalu”, tanya Kris.

“Apa kau pernah mendengar teknik Agapanxy? Aku menerapkan itu pada diriku sendiri”, jawab tuan Efumo.

“Agapanxy? Teknik yang memungkinkan kita menanamkan nyawa kita sendiri pada orang – orang yang memiliki darah yang sama dengan kita?”, tanya SuHo.

“Kau benar SuHo. Dalam kasus ini, aku menanamkannya pada seluruh anggota rasku. Jadi selama keenam anggota ras terakhirku masih hidup, aku juga masih bisa bertahan”, jawab tuan Efumo.

“Jadi, apa yang membuatmu sampai muncul kembali saat ini?”, tanya SuHo.

“Aku akan menghentikan rencana busuk milik tuanmu, Eguno”, ujar tuan Efumo mantap.

“Mwo?!! Jaga mulutmu bedebah!!”, ujar SuHo tersulut emosi.

“Aku tau kalau kau tidak akan mempercayaiku SuHo. Tapi ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Sudah dari kami remaja, saudara kembarku, Eguno berniat untuk menguasai planet EXO. Dia ingin menguasai semuanya yang ada di planet EXO dan menyingkirkan semua orang yang menentangnya. Aku adalah orang pertama yang menentang hasratnya itu, sejak saat itu kami selalu bertentangan dan aku memutuskan untuk memisahkan diri darinya dan menetap di belahan bumi utara. Saat itu aku mempunyai beberapa pengikut yang juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Saat umur kami sama – sama menginjak angka 50, aku dan dia sama – sama melakukan ritual teknik Agapanxy agar jiwa kami abadi. 358 tahun setelah saat itu terjadi peperangan besar antara rasku dan rasnya, semua itu didasari rasa serakahnya karena ingin menguasai planet EXO. Saat itu dia mengira aku telah mati. Dan tanpa sepengetahuannya, aku dan keenam anggota rasku aku kirim ke sebuah planet yang jauh dari planet EXO, Bumi. Sekarang, setelah mengetahui tentang aku yang masih hidup, dan tentang Bumi, dia mencoba mengirimkan kalian untuk saling membunuh dan membuatnya mampu untuk menguasai Bumi dan planet EXO”, ujar tuan Efumo panjang lebar dan serius.

“Huh, apa untungnya buat dia dengan kematian kami? Jangan mencoba untuk menghasutku”, sungut SuHo.

“Kekuatan kalian dibutuhkan untuk melakukan teknik Lerevent, kelima unsur dan kekuatan teleportasi kalian dibutuhkan untuk melancarkan teknik tersebut”, jawab tuan Efumo.

“Jinjja?!! Lerevent? Teknik tertinggi yang sanggup menyatukan dua planet tersebut?”, tanya Kris terkejut.

“Benar Kris. Untuk itulah aku membutuhkan kekuatan kalian dan kekuatan ras Summer-K untuk menghentikan niat jahat Eguno. Aku sendiri tak sanggup melawannya. Aku mohon SuHo. Pikirkan nyawa kalian dan masa depan rasmu. Eguno bukan orang royal yang mau membagi apa yang menjadi miliknya kepada rang lain. Selama dia hidup, kalian pasti tidak akan pernah bebas. Percayalah padaku”, ujar Efumo mantap.

“Kalau kau berbohong, apa yang akan kau lakukan?”, tanya SuHo.

“Kalau aku berbohong, kau boleh membunuhku dengan tanganmu sendiri”, ujar tuan Efumo.

“Aku pegang janjimu Efumo”, ujar SuHo.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke tempat yang lain sebelum mereka saling membunuh satu sama lain”, ajak tuan Efumo.

“Ne”.

*****

Tampak sebuah kilatan cahaya tengah bergerak dengan sangat cepat di sekitar namja yang tengah berlutut lemas itu. Kilatan cahaya terus bergerak mengitari namja itu sambil sesekali menyarangkan beberapa pukulan ke arah namja itu. Namja yang tengah berlutut itu pun menggerakkan tangan kananya secara perlahan ke atas. Bersamaan dengan itu, potongan – potongan besi dan pecahan – pecahan kaca yang ada di sekitar tempat itu pun terangkat ke udara lalu mengarah ke segala arah. Namja yang berlutut, LuHan, itu pun perlahan berdiri dan seketika menjentikkan jarinya saat dia sudah bisa berdiri dengan sempurna. Semua pecahan kaca dan potongan besi yang ada itu pun lalu berhamburan ke segala arah. Mengincar kilatan cahaya yang tak tau ada dimana.

Jrassh!

Sebuah pecahan kaca nampak berhasil mengenai tubuh namja bercahaya, BaekHyun. Pecahan kaca itu menancap  dengan tegas pada bahu kiri BaekHyun. Darah perlahan mengalir dari bahu kirinya dan membasahi kaos putih yang ia kenakan.

“Huh, akhirnya kau kena juga!! Aku sudah bosan seperti ini terus BaekHyun”, ujar LuHan.

“Kena? Kau pikir ini akan mengalahkanku? Jangan naif LuHan. Aku bisa 5 kali lebih cepat dari pada yang tadi”, ujar BaekHyun angkuh.

“Benarkah? Kalau begitu aku akan menusukmu kembali seperti yang tadi”.

“Itu pun kalau kau bisa menandingi kecepatan cahaya yang aku miliki”.

BaekHyun lalu hilang kembali ditelan oleh sebuah cahaya yang menyilaukan. Sesaat kemudian, muncul sebuah goresan pada pipi LuHan dan kemudian mengeluarkan aliran darah. LuHan memegang pipinya, tetapi kini tangan kirinya yang kemudian tergores dan mengeluarkan darah. Mata LuHan tak bisa melihat dengan pasti siapa yang telah melukainya, tapi dia tau pasti kalau itu adalah BaekHyun. LuHan memejamkan matanya. Mencoba untuk menggali tenaga dari dalam dirinya. Dia terus berkonsentrasi walaupun dari tubuhnya terus bermunculan luka – luka goresan kecil yang mengeluarkan darah. Dia terus memejamkan matanya dan mengumpulkan tenaga sebesar mungkin.

Beberapa saat kemudian, LuHan membuka matanya dengan serentak. Tangan kanannya lalu maju ke depan tubuhnya lalu mengepal dalam satu sentakan. Bersamaan dengan itu muncul seorang namja yang tak tau dari mana asalnya. Namja itu, BaekHyun, tampak bercahaya dan tak bisa menggerakkan badannya. Dia tampak terikat walaupun tak terlihat ada tali yang mengikatnya. LuHan lalu memutarkan tangannya dan mengarahkannya mendekat ke dadanya. BaekHyun yang berdiri jauh di depannya itu pun lalu bergerak dengan sendirinya ke arah LuHan mengikuti gerakan tangan LuHan.

“Apa ini? Ada apa? Kenapa kau bisa menarikku? Lepaskan!!!”, ujar BaekHyun ketakutan.

“Apa kau lupa pabbo? Special powerku adalah telekinesis. Aku bisa menggerakkan semua benda sesuka hatiku. Semua benda, termasuk benda hidup”, ujar LuHan datar.

BaekHyun bergerak semakin mendekati LuHan. Jaraknya terpaut tak terlalu jauh lagi. Wajah BaekHyun semakin pucat, ia sangat ketakutan. Begitu BaekHyun sampai di depan LuHan, LuHan lalu menghentakkan tangan kanannya ke bawah. Tubuh BaekHyun yang semula berdiri itu pun langsung terjerembab, mengikuti gerakan tangan LuHan. LuHan lalu mengangkat tangan kirirnya. Sebuah potongan besi lalu terbang dan mendarat tepat di tangan kiri LuHan yang terangkat itu. LuHan menggenggam erat potongan besi itu. Dia lalu mengarahkan potongan besi itu ke bawah, ke arah dada BaekHyun.

Sebelum sempat mengenai dan melukai BaekHyun, sebuah lapisan air mennyelimuti tubuh bagian atas BaekHyun dan menariknya menjauh dari LuHan. Sedangkan seorang namja lain tampak sedang terbang mendekati LuHan dan menahan tangannya agar tak berbuat terlalu jauh.

“Kris, apa maksudmu? Kenapa kau menghalangiku?”, tanya LuHan.

“Tahan amarahmu hyung. Sekarang bukan saatnya kita berperang dengan Summer-K. Sekarang ada hal yang lebih penting daripada itu semua”, jawab Kris.

“Apa itu?”.

“Menyelamatkan Bumi”.

“Gomawo hyung sudah menyelamatkan nyawaku. Sekarang bantu aku membereskan ras rendahan itu”, ujar BaekHyun seraya berdiri.

“Cukup BaekHyun-ah. Sekarang kita bukan musuh mereka lagi”, jawab SuHo.

“MWO?!! Apa maksudmu hyung?”, tanya BaekHyun dengan raut terkejut.

“Sekarang mereka adalah sekutu kita”.

“Jangan bercanda hyung!!”.

“Ani, aku tidak bercanda BaekHyun-ah. Sekarang ikut aku. Aku akan menjelaskan semuanya nanti”.

*****

Seorang namja yang tinggi tampak sedang berusaha untuk berdiri dengan tertatih – tatih. Tubuh namja itu diselimuti oleh selapis api yang berkobar – kobar. Tak jauh dari namja itu, berdiri 2 orang namja dengan gagahnya. Pada tangan namja yang satu terdapat sebuah lapisan es yang menutupinya dengan sangat tajam. Sedangkan namja satunya berdiri sambil menggenggam sebuah besi panjang pada tangan kanannya.

“Kalian!! Beraninya kalian telah membuatku sampai semarah ini!! Kalau kalian memang ingin melihat kemampuan penuhku, akan aku perlihatkan itu! Tapi jangan salahkan aku kalau kalian semuanya mati!!”, ujar namja yang tinggi, ChanYeol, dengan penuh emosi.

Perlahan lapisan api yang menyelimuti tubuh ChanYeol itu pun berkobar semakin besar dan menyambar ke beberapa pohon yang ada di sekitarnya. ChanYeol kini tampak seperti sebuah api besar yang tengah berkobar.

“Huwaa!!!!!!!!”, teriak ChanYeol dengan sangat keras yang diiringi dengan kemunculan sebuah siluet burung besar yang terbuat dari api berwarna merah dan sangat panas itu.

Tubuh burung itu semakin lama semakin nyata. Muncul mata, paruh, kaki dan sayap yang kesemuanya terbuat dari api yang keluar dari tubuh ChanYeol.

“Apa itu?”, tanya namja yang memegang besi, Lay.

“Itu? Apa kau tak tau? Itu adalah burung legendaris, Phoenix, Lay-ah”, jawab namja satunya, XiuMin.

“Maju kalian!!”, tantang ChanYeol.

Lay dan XiuMin pun berlari dengan sigap menghampiri ChanYeol. XiuMin membentuk beberapa segel menggunakan tangan kirinya di tengah larinya tersebut. Segel – segel itu membuat tubuhnya berubah menjadi pucat dan sangat dingin. ChanYeol yang melihat kedatangan Lay dan XiuMin itu pun lalu mengangkat tangan kirinya ke atas lalu menghentakkannya ke depan pada detik berikutnya. Bersamaan dengan itu, burung Phoenix yang tengah terbang itu pun lalu memuntahkan semburan api yang sangat panas dan banyak ke arah Lay dan XiuMin. Lay yang melihat hal itu tetap berlari dengan cepat ke arah ChanYeol. Sedangkan XiuMin memutuskan untuk melompat dengan sangat tinggi, berusaha untuk menghindari gapaian api itu.

Dari atas udara, XiuMin mendekapkan kedua tangannya di hadapan dadanya. Dekapan itu menghasilkan sebuah bongkahan es yang muncul dan melayang tepat di atas burung Phoenix yang sedang terbang itu. XiuMin pun menghentakkan kedua tangannya ke arah bawah. Bongkahan besar es itu turun, jatuh ke arah burung Phoenix searah gerakan tangan XiuMin. Bongkahan es itu menumbuk badan bagian atas Phoenix yang menyebabkan burung itu terjatuh dan menghantam tanah dengan keras.

Sedangkan dibawah sana, ChanYeol yang melihat kedatangan Lay itu pun lalu memuntahkan beberapa bola – bola api yang berukuran besar dari mulutnya dengan sangat cepat. Tapi Lay dengan sigap dapat menghindarinya dan terus berlari mendekati ChanYeol. Setelah sampai di hadapan ChanYeol, Lay pun melayangkan besi yang dipegangnya ke arah kepala ChanYeol. ChanYeol dengan sigap menghindarinya dan menunduk lalu menggenggam besi itu dengan sangat kencang. Perlahan, besi itu memanas lalu meleleh pada bagian yang dipegang oleh ChanYeol. Setelah besi itu meleleh, ChanYeol langsung meninju perut Lay menggunakan tangan kirinya yang bebas. Lay terlempar selama beberapa meter ke belakang. Tubuhnya mengenai api yang berkobar dibelakangnya. Meninggalkan luka bakar yang parah pada kulit tubuhnya.

Burung Phoenix yang sempat terkapar di tanah itu pun bergerak kembali. Api yang ada di tubuhnya membesar dan berkobar dengan hebatnya. Menyebabkan es yang menindihnya itu pecah dan meleleh menjadi air. Phoenix itu lalu melayang kembali dan terbang ke depan. Dari mulutnya keluar sebuah bola api yang besar dan mengarah ke arah XiuMin yang juga tengah ‘melayang’ di hadapannya. XiuMin mendekapkan kembali kedua tangannya ke depan tubuhnya, sebuah tembok es yang sangat besar muncul di hadapannya seiring dengan gerakan tangannya tersebut. Bola api itu menghantam tembok es itu dengan kuat dan membuat tembok itu retak, lalu pecah menjadi beberapa bongkahan es yang cukup besar. Phoenix itu pun terbang maju ke depan, mendekati XiuMin.

XiuMin mendaratkan pijakannya pada sebuah bongkahan es yang tergeletak di bawahnya, matanya terpejam. Berusaha mendapatkan tenaga yang lebih besar lagi. Sesaat muncul 5 buah pilar es yang sangat besar dari tanah dan menusuk tubuh Phoenix sehingga membuatnya tak bisa bergerak bebas. Setelah itu, XiuMin melompat kembali ke udara. Tangan kanannya ia regangkan ke depan tubuhnya. Lalu dalam satu sentakan, dia membuka matanya dengan keras. Tangan kanannya seketika terbungkus sebuah lapisan es yang sangat panjang dan meruncing semakin ke ujungnya. Tangannya sangat mirip dengan sebuah pedang raksasa yang terbuat dari es.

Sedangkan di bawah, ChanYeol berlari mendekati Lay yang tengah terbaring lemah dengan luka bakar yang menyelimuti kulitnya. Pada tangan kanan ChanYeol terdapat sebuah bola api kecil yang berputar dengan sangat cepat. Dia mengarahkan tangan kanannya itu di sebelah perutnya. Bersiap untuk melancarkannya ke arah Lay saat ia sudah berada di dekat Lay. Dia bergerak dengan sangat cepat dan sekarang sudah berdiri di dekat Lay dengan sangat tegap. Tangannya telah siaga dan dia persiapkan untuk sebuah serangan cepat yang mematikan.

XiuMin menggerakkan pedangnya dari atas ke bawah. Berusaha membelah sosok burung yang tangah terperangkap di bawahnya. Tangannya itu bergerak dengan sangat cepat dan sudah mendekati tubuh burung besar itu. sebelum sempat mengenai tubuh burung itu, pedang es itu mencair dengan cepat dan hanya menyisakan tangan kanan XiuMin. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, XiuMin sudah terbawa mundur oleh sesosok namja tinggi yang membawanya terbang lalu mendarat ke bawah tanah.

“Kris, apa yang kau lakukan?”, tanay XiuMin pada sosok di hadapannya.

“Gwenchana hyung. Ini tentang tuan Efumo. Dia…”, ujar Kris.

“Jadi, dia sudah menemuimu? Berarti sekarang kita bukan musuh mereka lagi ‘kan?”, tanya XiuMin memotong ucapan Kris.

“He? Kenapa kau sudah mengetahuinya hyung? Jangan bilang kalau kau…”.

“Ne. Aku memang sudah mengetahui dari dulu”.

Di lain pihak, ChanYeol sudah bersiap menyarangkan bola api itu ke arah perut Lay. Tangannya terarah lurus dengan sangat cepat. Detik kemudian, sebuah lapisan air muncul dan menghalangi serangan milik ChanYeol dan mematikan bola api yang ada di tangannya. Detik berikutnya, tubuh lemas Lay telah menghilang bersama sebuah cahaya yang menyilaukan.

“SuHo-hyung? BaekHyun-ah? Apa maksud semua ini? Kenapa kalian menyelamatkan orang itu?”, tanya ChanYeol.

“Tenangkan dirimu ChanYeol-ah. Sekarang kita bukan musuh mereka lagi. Kita adalah sekutu mereka”, ujar namja yang berada di dekat Lay, BaekHyun.

“He? Hyung? Apa maksud semua ini?”, tanya ChanYeol kebingungan.

“Semua yang dikatakan BaekHyun benar ChanYeol-ah. Ayo, kita pergi. Hyung akan menjelaskan semuanya nanti”, bujuk namja lainnya, SuHo.

*****

Trang! Dzing!!

Sebuah samurai beberapa kali beradu dengan keras dengan sebuah potongan besi di sebuah lapangan yang penuh dengan puing – puing bangunan itu. Pada sisi kiri, berdiri dengan tegas SeHun yang tengah memegang besi pada tangan kirinya. Sedangkan di hadapannya berdiri namja lain, Tao, yang menggenggam sebilah samurai pada tangan kanannnya dengan erat. Keduanya sama – sama tampak kelelahan.

SeHun memutarkan badannya dengan sangat cepat di tempat ia berdiri. Perlahan dan pasti atmosfer angin yang ada di sekitarnya berubah dan ikut berputar di sekitar tubuhnya. Putaran itu menghasilkan sebuah pusaran angin yang sangat besar dan mencekam yang terus berputar dengan begitu cepat. Setelah beberapa detik, pusaran angin itu bergerak maju, mendekati Tao. Pusaran angin itu menghancurkan dan memporakporandakan semua benda yang ada di hadapannya. Dalam sekejap, seluruh benda yang ada langsung berhamburan tak jelas dan berserakan dimana – mana. Tao yang melihat hal itu hanya berdiri sambil mengacungkan pedangnya ke arah depan. Matanya terpejam dengan raut wajah yang tenang. Seketika, pusaran angin itu berhenti bergerak. Semua benda yang ada di sana juga berhenti bergerak. Waktu kembali berhenti.

Tao berjalan dengan perlahan ke arah SeHun. Dia bergerak dengan cekatan sambil menghindari beberapa benda yang melayang di udara. Setelah sampai di hadapan SeHun, Tao pun mempersiapkan pedangnya. Dia mengacungkan ke depan dan mengarahkannya ke arah SeHun. Mencoba untuk menghunuskannya ke arah dada SeHun.

“Rasakan ini ras murahan!!”, ujar Tao dingin.

Sesaat, pedang itu bergerak dengan sendirinya dan terbang melepaskan diri dari tangan Tao. Pedang itu melayang lalu mendarat didekat kaki seorang namja yang berwajah imut, LuHan, yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Di sebelah LuHan, berdiri seorang namja yang memiliki sayap pada punggungnya. Namja itu tuan Efumo.

“Tuan Efumo? Ba.. bagaimana mung.. kin?”, tanya Tao terbata – bata.

“Aku disini Tao-yah. Aku masih hidup. Sekarang ayo ikut aku. Kita akan melakukan hal yang seharusnya kita lakukan saat ini. Bukan bertarung tidak berguna seperti ini”, ujar tuan Efumo tenang.

“Tidak berguna? Tapi, mereka sudah merenggut ras kita tuan. Mereka itu bedebah!!”, ujar Tao meninggi.

“Kau benar Tao-yah. Tapi, saat ini ada hal yang lebih penting daripada balas dendam”, ujar LuHan.

“Apa itu hyung?”.

“Menyelamatkan bumi dan manusia”.

­-TBC-

* Sepertinya ini adalah chap terpanjang yang pernah author ketik. Mian kalau kelamaan menunggu. Now, it’s time to RCL readers. Gomawo J *

Iklan

64 pemikiran pada “Power Users (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s