She is My Romance

tumblr_m8r05fytOG1qc8vyl

Title: She is My Romance

Author: @liy__23

Genre: Romance, PG-15

Cast: Kai EXO, Kim Hyeri (as YOU)

Length: One Shoot – Long Shoot

My First FF yang akhrinya gue coba posting disini. Yah, semoga suka ya. Kkk~ di kasih kritik dan saran. Aku coba buat cerita yang emang happy dari awal sampe akhir, soalnya lebih suka yang seperti itu,,, singkatnya, di cek aja deh –Liy-

Aku memandangi punggungnya yang masih terlihat sibuk berkutat dengan begitu banyak file berita dengan tangannya yang masih terlihat sangat sibuk mengetik. Sesekali ia terlihat menyeka keningnya yang berkeringat karna ruangan ini memang cukup panas dan sempit. Beberapa hari yang lalu ia bercerita padaku bahwa pendingin ruangan ini rusak dan belum dapat gantinya dari kepala sekolah.

            Aku menghembuskan nafas panjang, agak berat melangkahkan kakiku untuk mendekatinya yang jelas-jelas masih terlihat sangat sibuk. Aku bahkan bisa melihat ada beberapa botol minuman dingin di samping komputernya yang sudah kosong, sudah jelas ia pasti sangat kelelahan dengan situasinya saat ini. Dan sekarang, aku datang hanya akan semakin menambah bebannya. Tapi, aku juga tidak sedang ingin munafik dengan diriku sendiri yang benar-benar membutuhkannya. Yah, sebutlah aku ini seperti pengecut yang hanya bisa meminta perlindungan darinya.

            Sepersekian menit aku berkutat sendiri dengan pikiran dan perasaanku sendiri, sungguh saat ini aku ingin meledak. rasanya benar-benar berat aku lagi-lagi membebani pikirannya, tapi aku… butuh dia. Aku bahkan terlihat benar-benar bodoh saat ini, sepertinya.  Hanya diam, memandangi lantai dan kakiku sendiri yang seperti terasa sangat dingin, aneh memang. Sepertinya karna aku gugup.

            “Apa yang kau lakukan berdiri di sana Kai?” Aku langsung mendongakkan kepala antara terkejut dan bahagia. Aku terkejut karna dia ternyata menyadari kehadiranku yang terlihat memang, errr, sedikit bodoh. Hanya diam berdiri dengan kepala tertunduk. Aku bahagia karna akhirnya aku melihat wajah cantik berkacamata dibalik punggung dan gerakan tangan yang sibuk tadi.

            “Mmm, aniyo. Maaf mengganggumu sayang. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu” Aku menjawab ragu pertanyaannya tadi. Aku bisa melihat wajah bingungngnya yang mendapatkan jawaban seperti itu dari ku. Ah, betapa pengecutnya aku ini.

            “Aku bisa melanjutkan pekerjaanku nanti Kai setelah keperluanmu menemuiku selesai” Dia tersenyum ke arahku. Seketika aku merasakan aliran darahku seperti lebih cepat dan lebih deras mengalir sehingga rasanya tubuhku langsung hangat. Yah, bagaimana aku tidak selalu merasa membutuhkan dirinya karna tiap kali senyuman cantik itulah yang selalu berhasil memberikan sensasi seperti ini padaku, hanya dia yang bisa melakukannya.

            “Benar, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu, dan tebakanku benar, kau berada di sini. Tapi sepertinya kau sangat sibuk sayang, jadi, aku lebih baik keluar saja” Aku mencoba membalasnya dengan memberikan senyuman termanis yang bisa ku buat juga. Sekedar untuk meyakinkannya.

            Bukannya mendapat tanggapan lagi, aku justru hanya melihatnya yang mengulurkan tangannya. Seolah memberikan isyarat padaku untuk mendekatinya. Sedikit ragu, akhirnya aku mendekat juga, meraih uluran tangannya dan menggenggamnya mantap.

            Aku sedikit menunduk menatapnya yang berada lebih rendah dariku karna posisinya yang masih duduk sedangkan aku berdiri. Ya Tuhan, bahkan melihatnya dengan posisi seperti ini gadis ini benar-benar cantik. Senyum polosnya yang manis, benar-benar seketika itu juga menghipnotisku.

            “Mmm, bagaimana kalau kau menemaniku membuat berita wawancara ini Kai? Aku janji tak akan sampai sore. Bagaimana?” Aku sempat terkekeh melihat tingkah lucunya yang seolah seperti anak kecil merengek padaku untuk dibelikan permen. Oh hayolah, siapa yang akan tega menolak permintaannya itu.

            “Dengan senang hati tuan putri” Aku menjawabnya ringan dengan senyuman termanis, mm, yang bisa kubuat, yah semoga ia juga berpikir senyumanku manis, hehehe. Tanpa menunggu banyak respon darinya aku langsung melepaskan genggaman tangan kami tadi, memutar kursi kerjanya dan langsung memeluknya dari arah belakang. “Ayo lanjutkan perkejaanmu sayang, aku akan menemanimu” Aku berkata terkesan sedikit berbisik memang. Jelas saja aku tidak akan mengencangkan suaraku jika aku berbicara tepat di daun telinganya kan? ia tidak meresponku, hanya terkekeh kecil lalu kembali sibuk dengan kertas-kertas datanya dan terlihat focus menatap layar computer di depan kami.

            Aku sedikit mencuri pandang ke samping memperhatikan lekukan wajah seriusnya yang tetap saja terlihat manis dan cantik. Aku tersenyum sejenak dan kembali memeluknya, jauh lebih erat. Ku sandarkan kepalaku di pundaknya. Ah memang akan sedikit membuatnya kesusahan dengan posisi seperti ini, tapi entah mengapa perasaan ku yang tadi, perasaan yang membawaku ingin menemuinya tadi, kembali muncul dan yah, semakin dengan posisi sedekat ini rasanya aku benar-benar ingin menangis di pundaknya. Sial, bahkan aku terlihat seperti laki-laki lemah saat ini! Tapi kalian perlu menggaris bawahi aku hanya akan mau terlihat seperti ini dihadapannya, hanya dia, gadis ini, kekasihku, Kim Hyeri.

            Ia adalah pemimpin redaksi berita majalah sekolah kami. Aku sendiri memang tidak begitu mengenalnya meskipun harusnya setidaknya sedikit saja aku pernah mendengar namanya mengingat kami sudah 3 tahun menjadi teman satu sekolah. Nyatanya ia adalah seorang tim redaksi yang terkenal bahkan sampai banyak mengikuti lomba setingkat internasional untuk kegiatannya menjadi tim redaksi. Yah, simpulkanlah dia ini adalah gadis yang pintar, sangat pintar bahkan ketika ia berhasil menaklukkan ku dengan sikap lembutnya ketika bertemu pertama kali dengan ku.

            Aku sendiri Kai, kapten tim basket di sekolahku. Sedikit meninggikan diri, aku memang cukup terkenal diantara siswa-siswa di sekolah ini maupun di luar. Sejak aku bergabung menjadi tim basket sekolahku, menjadi point guard, aku selalu berhasil membawa tim ku untuk menjadi pemenang dalam kompetisi nasional basket antar sekolah. Yah mungkin sejak itulah aku cukup mendapat perhatian mereka, dan ergh, lagi-lagi aku akan sedikit meninggikan diri karena aku ini memang cukup dikatakan tampan, dan cukup menarik perhatian lawan jenisku.

            Pertemuan pertamaku dengan Hyeri ketika salah satu dari tim redaksinya mencoba untuk mewawacarai tim basketku yang dalam persiapan menghadapi kompetisi nasional. Bukannya pelit, tapi ia datang dalam situasi kami latihan intensif, jadilah aku sedikit menaikkan emosi ku dan mengusirnya yang sebenarnya berniat baik untuk meliput kami dengan tujuan agar siswa maupun guru memberikan kami dukungan pada saat kompetisi nanti. Tapi karna sikapnya yang tidak bisa menghargai tim ku, dengan terpaksa aku melakukannya.

            Entah apa yang sebenarnya dilakukan kemudian olehnya sampai di akhir latihan Hyeri yang mendatangiku. Tanpa basi-basi ia menundukkan tubuhnya Sembilan puluh derajat untuk meminta maaf atas kelancangan tim redaksinya tadi. Dan ketika ia mengangkat kepalanya dari menunduk itu, aku langsung mendapati senyum teduhnya yang ketika aku melihatnya rasanya seperti terhempas ke dasar bumi terbawah, ia sangat cantik. Ah ya, tertawalah karna aku terlalu berlebihan memberikan kalimat kiasan untuknya. Yah, tapi nyatanya memang seperti itu.

            “Kau tidak apa-apa menemaniku seperti ini Kai? Kalau kau tidak bisa, tak apa. Nantikan kita bisa bertemu lagi. Memangnya kau tidak latihan?”

            “Tidak ada latihan hari ini sayang” Aku hanya menjawab singkat pertanyaan Hyeri dan memilih semakin mengeratkan pelukanku padanya. Aku bisa merasakan ia mulai menghentikan gerakan sibuknya tadi dan memilih untuk mengelus tanganku yang melingkari bahunya yang aku peluk dari belakang.

            “Apa terjadi sesuatu Kai?” Yah, inilah mengapa aku selalu semakin mencintainya. Ia selalu memiliki insting yang kuat dan membuatku selalu merasa ia perhatian. Sekarang ia tidak lagi tengah mengusap lenganku, melainkan berusaha melepas pelukanku padanya. Ia membalik badanku segera, yang sekarang berhadap dengannya. Ia berdiri segera dan memaksa akulah yang duduk. Ia berlutut dihadapanku, mencoba menyamakan posisi dengan diriku yang terduduk dengan tatapan kebingungan.

“Katakanlah Kai, kau tidak bisa membohongiku” dan yah, seperti inilah kenyataannya. Akan seperti apa pun aku menutupinya tetap tidak akan berhasil. Rasanya inilah salah satu alasan kenapa ia memang menjadi pemimpi redaksi berita, ia benar-benar jeli. Jelas ia akan merasa aneh denganku yang mengatakan tidak ada latihan hari ini sedangkan sudah jelas beberapa hari belakangan aku sulit menemuinya karena latihan intensif yang sedang kami jalani untuk final kompetisi beberapa minggu lagi.

“Aku membatalkan latihan hari ini. Perasaanku tidak baik. Aku gugup dan takut ketika mendengar kabar kemarin Chanyeol cidera karna terjatuh dari motornya. Dia mungkin memang hanya seorang center untuk tim, tapi dia adalah satu-satunya yang bisa aku andalkan untuk melawan sekolah itu di final. Kau tau sendirikan, mereka sangat terkenal dengan tinggi badan pemainnya yang diatas rata-rata? Dan entah mengapa aku merasa hanya sebagai kapten yang bodoh dan terus menerus ketakutan sendiri”

Dan akhirnya, aku melimpahkan semuanya, ketakutanku, rasa yang terus menerus nyaris mendominasi pikiranku. Aku bahkan sekarang menundukkan kepalaku, takut menatap mata Hyeri yang sudah pasti akan ikut merasa gelisah jika sikap ku seperti ini.

Aku tidak mendapat respon apapun dari Hyeri selain perasaan hangat yang mendadak memenuhi tubuhku ketika aku merasa ia memelukku erat dan mengusap belakang kepalaku. Sangat lembut, terasa penuh kasih sayang, rasanya seperti usapan hangat dari tangan seorang ibu. Sesekali ia juga menepuk pelan punggung ku. Aku hanya bisa membalas pelukannya dan benar-benar merasa sangat pasrah saat ini hingga nyaris aku ingin menangis karna menyadari bodohnya aku.

“Istirahatlah Kai, aku rasa kau memerlukan itu. Aku akan disini menemanimu sayang” Kalimat itu Hyeri akhiri dengan kecupak ringan di puncak kepalaku. Rasanya, sangat bahagia. Itu saja, tidak ada yang lain lagi. Sampai akhirnya aku memilih menutup mataku, mencoba beristirahat seperti yang ia katakan tadi, tenang di dalam pelukannya, Kim Hyeri.

##

            Aku mengangkat tinggi bola basket ini dan terkekeh geli melihat Hyeri yang mencoba meraihnya bahkan dengan berjinjit atau melompat-lompat kecil. Yah, inilah kegiatan baruku dengan Hyeri sekarang. Sejak kejadian tempo hari ia berjanji akan menemaniku selama latihan. Aku sampai tak enak hati tiap kali melihatnya kesusahan menyulap lapangan basket menjadi ruang redaksinya. Tapi ia tidak pernah sama sekali menunjukkan wajah lelahnya di hadapanku. Ia selalu tersenyum dan tanpa bosan memberikan semangat untuk ku. Meskipun selama latihan ia sendiri sibuk lagi dengan laptop dan file-file beritanya, melihatnya berada di sejauh pandangan mataku, sudah cukup tenang.

            Hari ini adalah H-3 pertandingan final tim  ku. Latihan hari ini pun sengaja tidak aku buat terlalu berat untuk menjaga stamina tim ku, dan karena itulah aku masih sempat melayani rengekan aneh Hyeri yang meminta bertanding man to man dengannya. Jelas aku tidak bermain serius dengannya. Hyeri tidak akan bisa menguasai bola terlalu lama, akan selalu ku rebut dan menggodanya seperti saat ini.

            “Tuan Kim Jongin yang tampan, bisakah kau memberikan bolanya padaku?” Tiba-tiba ia memeluk ku dan menunjukkan wajah merengeknya yang sangat imut tidak peduli tetesan keringat yang melewati pelipisnya. Aku hanya bisa terkekeh melihat tingkah lucunya itu, gadis ini benar-benar selalu tau cara membuatku semakin mencintainya dari hari ke hari.

            Dengan senang hati aku sodorkan bola itu padanya dan disambut sumringah dari Hyeri. Ia berlari senang sambil mendribel bola basket itu ke arah ring yang berlawanan dari posisiku berdiri tadi. Ketika ia seperti akan mengambil ancang-ancang untuk melempar bola itu, aku segera berlari ke arahnya dan memeluknya mendadak dari arah belakang dan itu sukses menggagalkan lemparannya. Aku bisa merasakan kekesalannya ketika ia dengan gemas menghentak-hentakkan kakinya dan berusaha melepas pelukanku yang semakin aku eratkan. Aku sendiri hanya terkekeh geli dengan tingkahnya ini.

            “Maafkan aku noona Kim Hyeri, aku tidak akan membiarkanmu mencetak poin semudah itu”

            “Tapi kau sangat curang tuam Kim Jongin”

            “Curang? Kata siapa? Aku hanya ingin memeluk kekasihku. Aku tidak curang. Jangan salahkan aku kalau kau gagal memasukkan bolanya ke ring karena aku memelukmu. Apakah kau gugup karna aku peluk? Kekeke” Aku hanya terkekeh geli mendapati respon Hyeri yang gemas mencubit lenganku. Meskipun sejujurnya agak sedikit sakit.

            “Aku risih Kai. Badanku bau, berkeringat semua”

            “Tak apa. Aku juga kan berkeringat sayang. Biarkan saja seperti ini, aku mau memelukmu dulu”

            “Aish, Kai, kalau ada yang datang ke gedung latihan ini dan melihat kita bagaimana?”

            “Lalu? Masalah? Peduli apa aku dengan mereka asalkan aku bisa denganmu sayang”

            “Dasar! Lalu sampai kapan kita akan seperti ini, sudah mulai malam Kai, apa tidak sebaiknya kita pulang? Kau juga perlu istirahat sayang”

            “Mmm, baiklah. Tapi temani aku makan malam dulu baru kau ku antar pulang, bagaimana?”

            “Kau yang traktir ya?”

            “Hei, sejak kapan seorang kaptem basket yang menjadi kekasih ketua tim redaksi berita ini tidak pernah membayarkan kekasihnya ketika makan?”

            “Hahaha, baiklah, maafkan aku”

##

            Aku memainkan jari Hyeri, memandangi satu persatu jari tangannya yang terlihat lebih kecil dari jari-jari tanganku. Aku sengaja memainkan jarinya berharap bisa lebih memperpanjang waktuku bisa bersamanya. Sekarang aku sudah berada di depan rumahnya, mengantarnya pulang setelah makan malam kami sesuai dengan perjanjianku tadi.

            “Kai… ada apa lagi sayang?” Suara lembutnya sedikit mengalihkan perhatianku dari memainkan jari-jari tangannya yang sangat enggan aku lepaskan sedari tadi. Aku sedikit menengadahkan kepalaku menatap tepat ke kedua bola matanya yang coklat. Ia tersenyum tulus ke arahku sambil membelai sayang rambut ku yang sedikit aku buat acak-acakan.

            “Hanya merasa gugup sayang. Apakah aku terlihat sangat bodoh saat ini?”

            “Hei, kenapa berpikir seperti itu? Tidak sama sekali sayang” Aku merasakannya mengecup keningku lembut sebelum ia melanjutkan kalimatnya lagi. “Percayalah pada tim mu. Mereka sudah berusaha yang terbaik, meskipun kenyataannya tanpa Chanyeol. Pimpinlah mereka meraih kemenangan seperti impianmu selama ini untuk selalu menjadi pemenang. Yakinlah, jangan pernah merasa takut seperti ini, okay?” Hyeri mengakhiri ucapan panjang lebarnya dengan senyuman manis yang langsung ku balas dengan kecupan ringan di bibirnya itu. Aku balas tersenyum ke arahnya yang terlihat sedikit bersemu karena aku tiba-tiba menciumnya tadi, aha, terlihat sangat manis dan menggemaskan.

            “Iya sayang, thanks for everything. Bukan hanya untuk apa yang ada hari ini, tapi juga untuk hari-hari sebelumnya, sejak kau bisa membuatku merasa sangat bahagia seperti ini”

            “Kau tidak perlu mengucapkan itu Kai, aku pun harusnya mengucapkan terima kasih padamu sayang”

            “I Love You so Much, My Romance”

            “I Love You too Kai”

            Dalam beberapa detik lamanya aku dan Hyeri hanya terdiam. Saling mengagumi satu sama lain di bawah indahnya langit malam yang semakin mendukung suasana saat ini. Aku memberanikan memulainya, meraih bibir Hyeri, mempertemukannya dengan bibirku sendiri. Kali ini ciuman kami cukup lama, yah, aku yang ingin membuatnya cukup lama. Aku sedikit terkesan melumat bibir Hyeri yang hanya dibalas dengan kalungan tangannya di leherku yang tadi mengelus kepalaku. Gadis ini benar-benar membuatku gila.

            Merasa Hyeri seperti kesulitan bernafas karna aku yang mungkin terlalu berlebihan, dengan sedikit berat hati aku melepas tautan bibir kami. Aku langsung tersenyum ke arahnya, mengelus lembut rambut panjangnya yang ia gerai. Dia terlihat benar-benar seperti bidadari.

            “Sayang, aku pulang. Kau masuklah lalu istirahat. Besok pagi aku akan menjemputmu”

            “Baiklah. Terima kasih untuk hari ini Kai”

            “Tidak, harusnya aku yang mengucapkan kalimat itu sayang”

            “Hahaha, baiklah tuan Kim Jongin. Kau ini benar-benar tidak suka menjadi yang kalah ataupun mengalah ya? Pulanglah, sudah mulai larut. Kau hati-hati di jalan, jangan kebut-kebut atau ku timpuki kau dengan buku redaksi ku yang tebal besok pagi” Aku hanya terkekeh geli mendengar semua ocehan panjang Hyeri yang kini tengah sibuk merapikan jaket hitam favorite ku karna ini adalah hadiah ulang tahun darinya tahun ini. Sebelum aku mengenakan helm ku, ku kecup lembut keningnya sembari mengucapkan selamat malam. Hah, rasanya sangat berat berpisah dengannya.

            “Aku pulang ya sayang”

            “Ya, hati-hatilah di jalan” Aku mulai menstater motor ninja hitam ku dan dengan perlahan aku meninggalkan Hyeri sambil melambaikan tangan. Jarak ku semakin menjauh darinya dan aku bisa melihatnya dari kaca spion ia melambai ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum di balik helm ku dan berdo’a lagi hari ini kepada Tuhan, semoga aku bisa terus melihat senyuman itu dan semoga aku akan selalu menjadi laki-laki yang bisa melindunginya sampai seterusnya, karna aku sangat mencintai gadis itu Tuhan, dia, ya, bukan gadis lainnya, hanya dia, Kim Hyeri, my romance.

Iklan

32 pemikiran pada “She is My Romance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s