Fallen (Chapter 4 Part A)

Tittle    : FALLEN | PART 4A: TUGAS DI PEKUBURAN

Author : Park Ji-Eun

Main Cast :    •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :     •    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Choi Jin Hee (OC)

•    Roland Sparks (OC)

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

Sumber : FALLEN karya Lauren Kate

________________________________________

Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang,

itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar

daripada orang yang tak bisa makan.

Kita harus saling merasakan hal itu.

― Bunda Teresa

CHAPTER 4A:

TUGAS DI PEKUBURAN

Ahhh, Selasa. Hari waffle. Sepanjang ingatan Gi Eun, hari Selasa pada musim panas berarti kopi baru, bermangkuk-mangkuk raspberry dan cream kocok, serta bertumpuk-tumpuk waffle garing cokelat keemasan yang tiada habisnya. Bahkan pada musim panas ini, saat kedua orangtuanya mulai agak takut padanya, hari waffle tetap ada. Ia bisa membalikkan tubuh di tempat tidur pada Selasa pagi, dan sebelum tersadar akan apa pun, nalurinya tahu hari apa saat itu.

Gi Eun mengendus, perlahan mulai mencapai kesadaran, lalu mengendus lagi dengan sedikit lebih bersemangat. Tidak, tidak ada aroma adonan susu, tidak ada apa-apa selain bau tajam cat ang terkelupas. Ia menggosok mata menghilangkan rasa kantuk dan menatap kamar asramanya yang sempit. Kelihatannya seperti gambar “sebelum” dalam cara renovasi rumah di televise. Mimpi buruk panjang berupa hari Seni itu kembali dalam ingatannya: penyerahan telepon genggam, kejadian daging giling dan kedua mata Jin Heeyang berkilat di kantin, Luhan menyenggolnya di perpustakaan. Apa yang membuat pria itu begitu menyebalkan, Gi Eun sama sekali tidak tahu.

Ia duduk untuk menatap k luar jendela. Keadaan masih gelap, matahari belum mengintip di ujung cakrawala. Ia belum pernah terbangun sepagi ini. Setelah di piker-pikir, rasanya ia tidak ingat pernah melihat matahari terbit. Sejujurnya, ada sesuatu pada kegiatan menyaksikan matahari terbit yang membuatnya gugup. Saat-saat penantiannya, saat tepat sebelum matahari muncul di cakrawala, duduk dalam kegelapan menatap bagian atas pucuk pepohonan. Saat utama bayangan.

Gi Eun menghela napas keras, menandakan kesepian, rindu rumah, yang membuatnya semakin kesepian dan merindukan rumah. Apa yang akan dilakkannya selama tiga jam antara saat menjelang fajar hingga pelajaran pertama? Menjelang fajar—kenapa kata-kata itu rasanya pernah didengarnya? Oh. Sial. Ia seharusnya menjalani hukuman.

Ia cepat-cepat bangkit dari tempat tidur, tersandung tas selempangnya yang belum dibongkar, dan menarik kasar baju hangat hitam lain yang membosankan. Ia mengenakan celana jeans hitam yang kemarin, meringis saat melihat sekilas kekusutan rambutnya setelah bangun tidur, dan mencoba menyisirnya dengan jemari saat melesat keluar pintu.

Ia kehabisan napas ktika mencapai gerbang pekuburan setinggi pinggang yang terbuat dari besi tempa bercorak rumit. Ia tersedak bau tanaman rawa yang menyengat dan merasa terlalu sendirian dengan pikiran-pikirannya. Mana yang lain? Apakah pendapat mereka tentang “menjelang fajar” berbeda dengan dirinya? Ia melirik jam tangan. Saat ini sudah pukul 06.15.

Mereka hanya menyuruhnya berkumpul di pekuburan, dan Gi Eun cukup yakin bahwa ini satu-satunya jalan masuk. Ia berdiri di ambang pintu, tempat aspal kasar tempat parker menyambung ke lahan berantakan penuh alang-alang. Ia melihat bunga dandelion, dan terbesit dalam benaknya bahwa Gi Eun yang masih kanak-kanak pasti akan menyambarnya lalu mengucapkan harapan dalam hati dan meniupnya. Tapi harapan Gi Eun yang sekarang rasanya terlalu berat untuk sesuatu yang begitu ringan.

Satu-satunya yang memisahkan pekuburan dengan tempat parker hanyalah gerbang ringkih ini. Cukup menakjubkan untuk sekolah yang di mana-mana terdapat kawat berduri. Gi Eun menyapukan tangan sepanjang pagar, mengikuti ukuran berbentuk bungan dengan jemari. Gerbang ini pasti dibuat jauh pada jaman masa Perang Saudara, seperti yang pernah diceritakan Amber, zaman ketika pekuburan ini dugunakan untuk memakamkan para prajurit yang gugur. Ketika gedung sekolah yang menempel dengan pekuburan ini bukanlah tempat tinggal orang-orang sakit jiwa pembangkang. Ketika seluruh tempat ini mash terawat dan tidak suram.

Aneh—seluruh lahan di bagian bangunan sekolah datar seperti selembar kertas, tapi entah kenapa, bagian pekuburan ini cekung seperti mangkuk. Dari tempat berdirinya, ia bisa melihat tanah yang melandai di hadapannya. Barisan-barisan batu nisan sederhana berjajar di tanah yang melandai seperti penonton di arena.

Tapi pada bagian tengah, di tanah paling rendah pekuburan ini, jalan setapak berliku seperti labirin di antara batu-batu nisan lebih besar yang berukir, patung-patung marmer, dan bangunan-bangunan makam besar. Mungkin untuk para tentara Konfederasi, atau para prajurit yang punya cukup uang. Sepertinya semua itu akan lebih indah jika dilihat dari dekat. Tapi dari sini, bobot benda-benda itu seperti menenggelamkan pekuburan, nyaris seolah seluruh tempat ini tersedot masuk.

Terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Gi Eun memutar badan dengan cepat dan melihat sosok gempal berpakaian hitam muncul dari balik pohon. Sunny! Ia harus menahan keinginannya memeluk gadis itu. Gi Eun belum pernah sesenang ini bertemu seseorang—walaupun rasanya sulit dipercaya bahwa Sunny bisa dihukum.

“Bukankah kau sudah terlambat?” Tanya Sunny, berhenti beberapa meter di hadapan Gi Eun dan menggeleng-geleng dengan gaya mengasihani.

“Aku sudah di sini sepuluh menit,” kata Gi Eun. “Bukannya kau yang terlambat?”

Sunny nyengir, “Tidak mungkin, aku hanya suka bangun pagi. Aku tidak pernah dihukum.” Sunny mengangkat bahu dan mendorong kacamatanya ke atas. “Tapi kau terlambat, bersama lima jiwa malang lain, yang kemungkinan besar semakin marah seiring setiap menit yang berlalu menantimu di dekat tugu batu.” Ia berjinjit dan menunjuk ke belakang Gi Eun, kea rah bangunan batu terbesar, yang menjulang di tangah bagian terdalam pekuburan. Jika menyipitkan mata, Gi Eun bisa melihat sekelompok sosok hitam berkumpul di bagian dasarnya.

“Mereka hanya mengatakan bertemu di pekuburan,” kata Gi Eun, merasa dibohongi. “Tak ada yang memberitahuku harus kemana.”

“Yah, aku memberitahumu sekarang: tugu batu. Nah, cepat pergi ke sana,” ujar Sunny. “Kau takkan mendapatkan banyak teman kalau menyia-nyiakan waktu pagi mereka lebih lama lagi daripada yang sudah kau lakukan.”

Gi Eun menelan ludah. Sebagian dirinya ingin meminta Sunny menunjukkan jalan. Dari atas sini, tempat itu kelihatan seperti labirin, dan Gi Eun tidak mau tersesat di dalam pekuburan. Tiba-tiba saja ia dilanda perasaan gugup, merasa jauh dari rumah, dan ia tahu perasaannyaakan semakin buruk di dalam sana. Ia menyembunyikan buku-buku jari, mengulur waktu.

“Gi Eun?” Sunny berkata, mendorong bahu Gi Eun sedikit. “Kau masih berdiri di sni.”

Gi Eun mencoba tersenyum berterima kasih pada Sunny dengan gaya berani, tapi yang muncul hanya mimic meringin yang canggung. Lalu ia cepat-cepat menuruni jalan menuju tengah pekuburan.

Matahari belum terbit, tapi sebentar lagi, dan saat-saat terakhir sebelum fajar ini selalu menjadi saat-saat yang paling ditakutinya. Ia melesat melewati barisan-barisan batu nisa polos. Pada satu masa, batu-batu itu pasti dalam keadaan tegak lurus, tapi sekarang batu-batu tersebut sudah begitu tua sehingga banyaj yang miring, membuat seluruh tempat ini terlihat seperti set kartu domino yang mengerikan.

Ia mengotori sepatu Converse hitamnya dalam genangan-genangan lumpur, menginjak daun-daun mati. Saat ia melewati batu-batu nisan sederhana dan sudah mencapai kumpulan makan yang memiliki lebih banyak hiasan, tanah mulai rata, dan ia benar-benar tersesat. Ia berhenti berlari, mencoba menenangkan napas. Suara-suara jika mencoba tenang, ia akan mendengar suara.

“Lima menit lagi, setelah itu aku pergi,” terdengar suara pria bicara.

“Sayangnya pendapatmu tidak penting, Mr. Sparks.” Terdengar suara yang kasar, suara yang Gi Eun kenali dari kelas-kelasnya kemarin. Ms. Park—sang Albatross. Setelah kejadian dengan daging giling, Gi Eun terlambat masuk ke kelasnya dan benar-benar tidak menghadirkan kesan yang baik di hadapan guru sains yang gemuk dan berwajah masam itu.

“Kecuali ada yang mau kehilangan hak sosialnya munggi ini” —erangan diantara makam-makam—“kita semua akan menunggu dengan sabar, seakan tidak ada pekerjaan lan yang lebih penting, sama Miss Park memutuskan memberkati kita dengan kehadirannya.”

“Aku dating,” ujar Gi Eun tersengal, sambil muncul dari balik patung kerubi raksasa.

Ms. Park berdiri berkacak pinggang, mengenakn baju terusan panjang yang mirip dengan yang dikenakannya kemarin. Rambut cokelatnya yang setipis rambut tikus melekwat di kepala dan mata cokelatnya yang membosankan menunjukkan kekesalan karena kedatangan Gi Eun. Pelajaran biologi selalu menjadi kelemahan Gi Eun, dan sejauh ini tidak ada perbuatannya yang bisa membantu nilainya di kelas Ms. Park.

Di belakang sang Albatross tampak Amber, Jin Hee, dan Roland, berada di sekitar tiang-tiang [endek yang mengelilingi patung malaikat besar. Dibandingkan patung-patung lain, yang satu ini kelihatan lebih baru, lebih putih, lebih megah. Dan bersandar di paha patung malaikat itu—ia nyaris tidak menyadarinya—ada Luhan.

Pria itu memakai jaket kulit hitam lusuh dan syal menyala yang membuat Gi EUn terpaku kemarin. Gi Eun memperhatikan rambut pirang acak-acakannya, yang kelihatannya belum dirapikan sejak bangun tidur… membuat Gi Eun memikirkab seperti apa rupa Luhan saat tidur… membuat Gi Eun begitu merona sehingga saat tatapannya turun dari garis rambut Gi Eun ke mata pria itu, Gi En benar-benar malu.

Saat itu Luhan memandangnya marah.

“Maaf,” kata Gi Eun buru-buru. “Aku tidak tahu dimana kita seharusnya bertemu. Aku bersumpah—“

“Tidak usah banyak bicara,” tukas Ms. Park, menggerakkan jari dileher seperti menggorok. “Kau sudah cukup banyak menghabiskan waktu semua orang. Nah, aku yakin kalian semua ingat apa pun kesalah yang kalian lakukan sehingga kalian berada di sini. Kalian bisa merenungkannya selama dua jam ke depan sambil bekerja. Segera berpasangan. Kalian tahu caranya.” Ia melirik Gi Eun dan menghembuskan napas. “Oke, siapa yang mau punya anak bawang?”

Yang membuat Gi Eun ngeri, murid-murid lain hanya menunduk. Tapi kemudia, setelah satu menit yang menyiksa, murid kelima melangkah maju, muncul dibalik bangunan makam besar.

“Ak mau.”

Kis. Kaus hitamnya yang berleher V membalut ketas bahunya yang bidang. Tubuhnya nyaris tiga puluh sentimeter lebih tinggi daripada Roland, yang menyingkir ke samping ketika Kris melewatinya dan mendekati Gi Eun. Tatapa pria itu terkunci pada kedua mata Gi Eun ketika ia berjalan ke depan, bergerak dengan mantap dan penuh percaya diri, tampak nyaman dalam balutan pakaian sekolah anak-anak nakal sementara Gi Eun gelisah. Sebagian diri Gi Eun ingin membuang muka, karena malu dengan cara Kris menatapnya di depan semua orang. Tapi entah mengapa, ia seperti terpesona. Ia tak bisa berpaling dari tatapan pria itu—hingga Amber melangkah diantara mereka.

“Aku duluan,” kata Amber. “Aku duluan memintanya.”

“Tidak,” kata Kris.

“Tentu saja ya, kau hanya tidak mendengarku dari tempat bertenggermuyang aneh dibelakang sana.” Amber menyemburkan kata-kata itu. “Aku mau dia.”

“Aku—“ Kris mulai menjawab.

Amber memiringkan kepala menunggu jawaban. Gi Eun menelan ludha. Apakah Kris akan berkata iamengininkan Gi Eun juga? Bisakah mereka berdamai saja? Mengerjakan hukuman bertiga?

Kris menepuk lengan Gi Eun. “Aku akan menemuimusetelah ini, oke?” Kris berkata pada Gi Eun seakan itu janji yang diminta Gi Eun untuk ditepatinya.

Murid-murid lain melompat turun dari makam-makam tempat mereka duduk dan berjalan bergerompol menuju perkakas. Gi Eun mengekor, menempel pada Amber, yang tanpa bicara menyerahkan garu pada Gi Eun.

“Nah. Kau mau malaikat maut, atau kekasih yang berangkulan?”

Tak ada obrolan tentang kejadian kemarin, ataupun tentang surat Amber, dan Gi Eun merasa tidak perlu mengungkit apa pun dengan Amber saat ini. Gi Eun memandang ke atas dan mendapatin dirinya diapit dua patung raksasa. Yang terdekat dengannya tampak seperti karya Rodin. Sepasang lelaki dan perempuan yang berangkulan. Gi EUn pernah belajar seni pahat Perancis di Dover, dan selalu berpendapat bahwa karya Rodin yang paling romantic. Tapi saat ini sangat sulit menatap sepasang kekasih yang berangkulan itu tanpa memikirkan Luhan. Luhan. Yang membencinya. Jika perlu bukti lain setelah pria itu menjauh cepat-cepat darinya di perpustakaan tadi malam, ia hanya perlu mengingat kembali tatapan marah Luhan pagi ini.

“Mana malaikat mautnya?” ia bertanya pada Amber sambil mendesah.

“Pilihan yang bagus. Di sebelah sana.” Amber menuntun Gi Eun ke patung marmer besar berbentuk malaikat yang menyelamatkan bumi dari sambaran kilat. Saat patung itu baru dipahat, pastilah sosok ini karya yang cukup menari. Tapi sekarang patung tersebut hanya terlihat tua dan kotor, di lapisi lumpur dan lumut hijau.

“Aku tidak mengerti,” kata Gi Eun. “Apa yang harus kita lakukan?”

To Be Continue

Buat yang udah baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

11 pemikiran pada “Fallen (Chapter 4 Part A)

  1. Woaaah… This is great!!!
    Pasti authornya seneng baca novel terjemahan yaaaa#sok tau
    Hehe 😛
    Meski banyak kata-kata yang hilang huruf alias typo, dan kayaknya deskrispsi tentang pemakaman itu terlalu panjang jadi agak di skip bacanya…hehe tapi ini seruuu… aslinya 🙂
    Kalo interaksinya ditambahin pasti lebih seru lagi….
    Merinding ngebayangin Luhan yang kesel, Kris yang cool, dan Amber yang tepat pada waktunya..
    Nah…Kris mau ngomong apaan ya??huhuhu
    Ditunggu lanjutannyaaaa

  2. suka banget sama cara ngebawain ceritanya 🙂
    terus berkarya ya thor
    thor, mau numpang nanya nih
    on the marionette theater nya heinrich itu ada terjemahan indo nya nggak thor ? kalo ada bagi-bagi link yaa, gomawoo

  3. Aishh, kurang banyak dialog antara cast nya nihh thor, jadi masih belum bisa nebak2 jalan pikir masing2 cast nya

    Next chapter cepet publish ya ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s