A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 3)

Genre :Romance, Friendship, Comedy (?)

Author : Rimahyunki

Length : Chaptered

Rating : T

Main Cast :

Wu Yifan (Kris)

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kwon Richan

Shin Heerin

Do Kyungsoo

Kai

 

Other Cast/Cameo:

Geul Rinjung

Chen

Xi Luhan

Lee Sooman

 

 

My Exo-traordinary Love Story episode 3!

EXO copy 

E N J O Y ^^

 

. . . . . . . . .

 

 [Author poV]

. . . . . . . . .

 

 

Oh My. Richan membelalakkan matanya menyadari wajah Kris yang hanya berjarak beberapa inchi dari mukanya. Ditambah lagi tubuh namja itu yang basah tepat berada di atasnya.

Tidak mau membiarkan posisi mereka sekarang terlalu lama, yeoja itupun langsung mendorong tubuh Kris — yang juga berusaha bangkit.

Keduanya terduduk dengan napas yang tersengal karena jantung mereka berdegup tak karuan.

“Aissh lihat apa yang kau lakukan?” desis Richan mengetahui pakaiannya yang ikut basah karena Kris tadi. Yeoja itu berdiri sembari berusaha mengeringkan rambutnya yang juga sedikit basah.

Mwo? Apa yang kulakukan? Kris menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Richan. Namja itu ikut berdiri dan mulai berjalan mendekati yeoja yang masih sibuk dengan rambutnya itu.

“Mwo? Waeyo?” tanya Richan bingung melihat Kris yang terus melangkah mendekatinya dengan wajah menyeramkan. Tatapan matanya bagaikan macan yang siap menerkam mangsanya.

Richan berjalan mundur seiring dengan Kris yang terus berjalan maju.

Bukk. Mau tak mau Richan harus menghentikan langkahnya karena punggungnya membentur sebuah pohon.

Kris menyunggingkan smirk kemudian tiba-tiba mengunci yeoja di depannya dengan meletakkan kedua tangannya di pohon. Namja itu masih menunjukkan tatapan yang seakan berkata, ‘kau akan mati karena berani membuatku seperti ini’

Richan menelan ludahnya sendiri. Kenapa semua syaraf di tubuhnya jadi mati begini?

“Wu Yifaan!!”

Suara teriakan yang tak asing itu membuat Kris sontak menjauhkan tubuhnya dari Richan. Suara teriakan seorang wanita yang tak lain adalah neneknya sendiri.

Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Kris bersiap melayangkan sebuah jeweran.

“A..a..a” keluh Kris hanya bisa merasakan kesakitan tanpa mengerti apa salahnya.

“Wu Yifan! Eomoni kan sudah bilang padamu, sebesar apapun kau mencintai pacarmu, kau tidak boleh mencium bibirnya jika belum menikah! Kau lupa?”

Kris membulatkan matanya tidak percaya. Mwo? Mencintai? Pacar? Menciumnya? Aigoo!

. . .

 

Baekhyun berguling-gulng di tempat tidur tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Akan tetapi sesuatu terus berputar di otaknya, cukup membebani pikiran namja itu. Park Heerin dan lee Sooman songsaenim. Dua orang itu membuatnya tidak bisa tidur bahkan saat ia sudah memejamkan matanya lebh dari setengah jam seperti sekarang.

 

 

“Ah iya, kau sudah memikirkan tentang pembicaraan kita di sekolah tadi? Bagaimana?”

“….”

Bagaimana? Bagaimana mungkin aku menerima permintaan Sooman songsaenim untuk menjadi pendamping hidup keponakannya sedangkan aku sendiri bahkan belum mempunyai hubungan khusus dengan yeoja itu.

Namja itu membuka mata sipitnya kemudian duduk di atas tempat tdur, ia menolehkan kepalanya ke arah handphone yang ia letakkan d meja. Biasanya jika sedang ada masalah seperti ini, ia akan menceritakannya pada Chanyeol ataupun Kyungsoo. Namun apakah cerita yang sedikit tidak masuk akal ini patut ia sebarkan pada orang lain?

Baekhyun menggelengkan kepalanya kemudian merebahkan badannya lagi ke atas tempat tidur, kali ini ia menutup seluruh wajahnya dengan bantal mencoba untuk terbang ke alam bawah sadarnya.

Namun baru beberapa lama terlelap, tiba-tiba sebuah bayangan terlintas di otaknya, atau orang lebih sering menyebutnya mimpi. Di sebuah ruangan, Baekhyun sedang berdiri bersama kedua orang tuanya di hadapan keluarga Heerin dan tentunya Sooman ahjussi , ia sedang berbicara begitu serius seolah sedang meminta sebuah ijin.

“Sooman songsaenim, aku kemari ingin meminta ijin agar aku bsa bersama putrimu…”

Degg. Baekhyun langsung membuka matanya. Ia mengacak rambutnya yang sudah sangat berantakan.

Ah otokhaee appaa, umma?

. . . . .

“Ummaaa!” sergah Richan kesal karena umma-nya dan juga Kai menggodanya dengan terus bertanya,”Kris benar-benar berusaha menciummu? Jadi kalian saling menyukai?”

Brakk. Yeoja itu membanting pintu kamarnya tidak mau mendengar ocehan apapun tentang Kris.

Aargh! Richan mengacak rambutnya sendiri kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur. Namja itu benar-benar sebuah kutukan untuknya.

Drrt.. Drrt..

Ia menoleh ke arah meja begitu handphone-nya bergetar dan terus menyala. Rasanya malas sekali untuk meraihnya. Namun pada akhirnya, benda itu berada di tangannya lagi.

“Chanyeol?” gumamnya dalam hati melihat nama yang tertera di layar.

Titt. “Yobosseyo?” ujar Richan malas.

‘Kau baik-baik saja?’

‘Ne ne, gwenchana.. Waeyo Chanyeol.ah?”

Richan agak terkesiap mendengar jawaban Chanyeol. Dengan setengah rasa tidak percaya, yeoja itupun berjalan ke arah jendela kamarnya.

Srett. Begitu membuka tirainya, Richan dapat melihat Chanyeol yang sedang melambaikan tangannya dari bawah.

Yeoja itu menggelengkan kepalanya setelah menutup sambungan   telepon. Dibukanya jendela kaca itu hingga akhirnya ia bisa melihat Chanyeol dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kenapa bisa disini?” seru Richan menahan teriakannya, takut akan ada yang mendengar suaranya.

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan yeoja itu langsung, melainkan menunjukkan sebuah banner.

‘Tentu saja untuk bertemu denganmu’

Senyuman yang tiga jam ini tidak terlihat akhirnya kembali terukir di wajah dinginnya.

“Waeyoo? Memangnya penting sekali?”

Chanyeol kembali menuliskan sesuatu dan menunjukkannya ke atas.

‘Ikutlah denganku, kau tidak akan menyesal!’

“Tapi ini kan sudah malam..”

‘Aku berjanji tidak akan macam-macam ^^v sebentar sajaa’

Richan menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan Chanyeol.

“Apa aku harus loncat dari jendela?”

‘Aku akan menangkapmu ^^ Pegang janjiku! Aku tidak akan membiarkanmu terluka’

Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Degg. Sesuatu seperti bergetar saat ia membaca kalimat Chanyeol itu. Sebuah kalimat yang selalu keluar dari mulut Luhan.

Gosh, apa yang kulakukan? Richan menggelengkan kepalanya berusaha melepaskan nama Luhan yang masih menempel di pikirannya. Ia berancang-ancang melompat dengan Chanyeol yang sudah siap menangkapnya.

Hap. Richan jatuh tepat di pelukan Chanyeol. Keduanya sempat salah tingkah hingga akhirnya Chanyeol mengajak Richan untuk berjalan menuju ke suatu tempat yang tidak jauh. Sebuah kolam ikan yang berada di depan gerbang kompleks perumahan Richan.

Keduanya duduk bersebelahan di pinggir kolam ikan, diam sambil memandangi ikan-ikan yang terus berenang seperti tak punya rasa kantuk.

“Kolam ikan? Lagi?” gerutu yeoja itu mengingat kejadian beberapa waktu lalu di restoran.

“Wae wae? Kau tidak suka? Yasudah kita pindah saja” ajak Chanyeol yang langsung dicegah oleh Richan.

Chanyeol kan tidak tau tentang hal tidak penting itu. Jadi kenapa ia harus kena imbasnya?

Dag dig dug. Namja itu tidak dapat mengontrol detak jantungnya saat Richan memegangi tangannya seperti sekarang.

Namja itu seakan hilang keseimbangan dan…

Gubrakk. Ia terpeleset kemudian jatuh dengan posisi duduk.

Aduh! Memalukan sekali! serunya dalam hati sambil mengelus bagian tulang ekornya, takut terjadi sesuatu yang buruk.

Richan berusaha menahan tawanya melihat tingkah namja jangkung itu.

“Gwenchanayo?” tanya yeoja itu setelah dapat mengontrol ekspresinya.

Chanyeol menganggukkan kepala. Wajahnya memerah karena malu.

“Eh Eh sebenarnya aku hanya ingin memberikan ini!” sergah Chanyeol berusaha menutupi rasa gugupnya.

Richan memiringkan kepalanya. Perlahan ia mengambil sebuah benda di tangan Chanyeol yang ternyata adalah sebuah boneka.

Sebuah boneka sederhana hasil kerajinan tangan, dengan kertas, lem, dan kapas sebagai bahan utamanya.

“Ne?”

“Ta..Tadi ajummaku datang dan mengajari ini. Tidak bagus memang tapi aku harap kau suka” jelas namja itu panjang lepar.

Kedua mata Richan terus memperhatikan benda yang sekarang ada di tangannya. Sebuah boneka perempuan berambut panjang yang mengenakan hanbok. Ia tersenyum  sangat lebar dengan mata sipit yang melengkung. Kyeoptaa!

Yeoja itu membolak-balik bonekanya hingga menemukan sebuah catatan kecil di dalam hanbok.

‘I want you to smile and laugh like this. Everytimes. Everywhere. No need to be cool and quite in front of me :D’

Senyuman terukir di wajah cantiknya, ia menoleh ke arah Chanyeol yang masih mengelus pinggangnya.

Tiba-tiba saja Richan meletakkan kepalanya di pundak Chanyeol. Yeoja itu memejamkan matanya nyaman sementara Chanyeol hanya bisa menggaruk puncak kepalanya, masih terus berusaha menjaga detak jantungnya.

Wajah Richan saat tertidur bisa dilihatnya dengan jelas. Chanyeol hendak memperkecil jarak diantara wajah mereka, namun ia buru-buru mengurungkan niatnya setelah mengingat janjinya tadi jika ia tidak akan berbuat macam-macam.

Akhirnya Chanyeolpun hanya melingkarkan tangannya ke pundak yeoja yang masih memejamkan matanya itu.

Malam ini Richan belajar satu hal. Belajar membalas perasaan namja yang memang pantas untuk dicintainya.

. . . .

 

SM High School, 07.00 KST_

Klik. Heerin melepas sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil, hampir bersamaan dengan Sooman yang sudah terlebih dulu berada di luar.

“Appa..” panggil yeoja itu membuat Sooman langsung menghentikan langkah.

“Ne?”

Heerin diam sejenak. Ia terus memikirkan bagaimana menyusun kata-kata yang tepat untuk mengatakan ini.

“Emm appa, aku ingin bicara soal Baekhyun”

Sooman langsung menoleh ke arah Heerin, menatap yeoja itu serius.

“Emm sebenarnya aku tidak punya hubungan apapun dengan Baekhyun. Aku–kami sudah berusaha menjelaskan, tapi appa seperti tidak mau mendengar..” ucap yeoja itu sambil terus menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Sooman.

Raut muka pria berkacamata itu berubah kecewa. Namun ia berusaha menjaga nada suaranya agar tetap hangat.

“Jeongmalyo? Ah sayang sekali!”

heerin mendongakkan kepala, “Ne? Waeyo?”

Sooman hanya tersenyum membalas pertanyaan Heerin kemudian mengelus rambut panjangnya tanpa berkata apapun.

Keduanya berjalan beriringan masuk ke aula sekolah, masih dalam diam.

“Ah…” Heerin menutup lagi mulutnya yang hendak membuka begitu mengetahui jika pria yang sudah dianggapnya sebagai appa seperti akan mengatakan sesuatu.

“Appa ingin kau mendapatkan seseorang yang baik, dan dimata appa Baekhyun adalah namja yang baik. Tapi jika kalian memang tidak punya hubungan apapun ya sudah… Appa tidak bisa memaksa”

Sooman mengacak puncak kepala Heerin untuk yang kedua kalinya lalu masuk ke dalam ruang kepala sekolah.

Heerin mematung di tempatnya berdiri, perkataan paman sekaligus appa-nya membuat yeoja itu berpikir.

‘dan dimata appa Baekhyun adalah namja yang baik’

. . .

 

“Bacon.ah? Bacon.ah?” Kyungsoo terus melambaikan telapak tangannya. Namun namja yang namanya dipanggil tidak memberikan reaksi apapun.

Dari pandangan matanya, Kyungsoo dapat melihat jika banyak sekali hal yang ada di pikiran Baekhyun sekarang.

Bukk. Akhirnya namja belo’ itu memutuskan untuk memukul pundak Baekhyun dengan cukup keras.

Dan?

Tiba-tiba  saja Baekhyun membelalakkan matanya sambil mengeluh, “Kyungsoo.yaa aku tidak mau menikah muda!”

“Ha?” Kyungsoo memandangi Baekhyun heran –sangat heran. Ia menggaruk kepalanya bingung. Menikah muda? Bicara apa bocah ini?

“Hya kau ini sedang sakit ya?”

Kyungsoo meletakkan punggung telapak tangannya di kening Baekhyun, memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.

Tidak panas kok, gumam Kyungsoo dalam hati.

“Bagaimana jika kita duduk dulu lalu kau bisa menceritakan padaku dengan tenang?”

Dua namja itu akhirnya duduk di bangku yang tersedia di depan setiap kelas. Seusai menarik napas panjang, akhirnya namja sipit itu menceritakan bagaimana kesalahpahaman antara ia dan Sooman dimulai.

. . .

 

“Heerin.shi kebetulan aku bertemu denganmu” ujar Richan begitu berpapasan dengan yeoja yang hendak berjalan menuju kelasnya.

Heerin menaikkan sebelah alisnya sambil bertanya, “Ne?”

“Seharusnya aku memberitaumu dari kemarin soal ini, weekend depan ada pendidikan dan latihan untuk semua pengurus baru osis…”

Heerin terus menganggukkan kepalanya mendengar setiap penjelasan Richan.

“Ini.. List jadwal dan semua perlengkapan yang harus kau bawa” tambah Richan seraya menyerahkan selembar kertas.

Yeoja berambut panjang itu kemudian berjalan meninggalkan Heerin sebelum hampir melupakan sesuatu.

“Ah aku hampir lupa, kebetulan kau akan sekelompok dengan Baekhyun untuk kelas duanya, sedangkan untuk kelas satunya dengan Lee Hyerim..”

Heerin membulatkan matanya, “Mwo? Hyerim..?” tanya yeoja itu dalam hati setengah terkejut mendengar nama yang tidak asing di telinganya.

“Ah dengan Chen juga dari kelas dua”

“. . . . .”

 

.~~~

“Buahahaha” tawa meledak dari mulut namja bernama lengkap Do Kyungsoo itu. Dua mata besarnya jadi semakin bulat karena tertawa.

“Hey yaa! Sahabat macam apa kau ini!? Menertawakan temanmu yang sedang menderita aishh” sahut Baekhyun ketus.

Melihat muka kusut Baekhyun akhirnya Kyungsoo mulai menghentikan tawanya.

“Hmm.. Jadi itu alasan kenapa kemarin kau ingin buru-buru pulang….” ucap namja itu sambil memegangi dagunya seperti sedang berpikir. Ia sedang memikirkan solusi apa yang bisa diberikannya untuk Baekhyun.

“Jjangkaman! Sekarang aku tanya, apa kau benar-benar menyukai keponakannya?”

Baekhyun mendadak diam mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

“A..Aku memang menyukainya”

“Naah bagus kan? lalu apa masalahnya?”

Tapi tapi kan…”

KRINGG KRINGG. Bel tanda masuk berbunyi tepat memotong ucapan Baekhyun yang belum tuntas.

Kyungsoo beranjak dari kursi, hendak berjalan menuju kelasnya.

Ia menepuk pundak Baekhyun sambil berkata, “Sudah terimalah takdirmu~”

“. . . . .”

 

~~~

Bukk. Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia menyangga kepalanya begitu frustasi sampai tidak menyadari keberadaan Richan yang sudah duduk menunggu di depannya sedari tadi.

“Aigoo!” seru namja itu kaget melihat Richan — tetap dengan wajah dinginnya.

“Aish jinjja kau ini mengagetkanku saja! Ada masalah?”

Sebenarnya yeoja itu memang hendak membicarakan masalah diklat osis minggu depan. Akan tetapi melihat tingkah linglung namja di depannya itu, membuat Richan malah balik bertanya, “Kau yang ada masalah apa”

Baekhyun menggaruk kepalanya bingung.

“Aku ingin bertanya, bagaimana menurutmu tentang menikah muda?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Baekhyun. Aish apa yang kau katakan barusan!?

Richan mengerutkan dahi bingung, namun akhirnya ia menjawab dengan jawaban yang cukup membuat Baekhyun kembali berpikir.

“Kalau kedua calon sudah saling setuju dan siap why not? Malah menurutku itu bagus untuk menghindari free sex lagipula… jjangkaman! Kau akan menikah?” selidik Richan membuat Baekhyun langsung menggelengkankepala.

“Ani.. Ani..” sergah namja itu berusaha menutupi kegugupannya dengan memaksakan sebuah senyuman.

Richan menatap Baekhyun tajam, namun ia tak ingin terlalu mengorek hal yang bukan urusannya.

“Sudah sana kembali ke tempat dudukmu”

Richan beranjak dari kursinya sekarang, bukan karena usiran Baekhyun melainkan kedatangan guru mereka.

“Ah iya, sudah tau tidak jika kau sekelompok dengan Heerin, anak kelas 1 bernama Hyerim kemudian  Chen dari ipa 3”

Mwo? Baekhyun langsung menundukkan kepalanya lemas di atas meja. O-mo-na!

 

. . .

09.30 KST

“Slurrpp~” Heerin menyeruput kuah mie instant di hadapannya lahap. Pelajaran trigonometri selama dua jam berturut-turut cukup membuatnya merasa sangat lapar seperti sekarang.

Buktinya ia berhasil menghabiskan mie dan roti bakar kurang dari sepuluh menit. Ckck.

Heerin menyandarkan punggungnya di kursi lega. Akhirnya semua cacing di perutnya tidak akan lagi berdemo seperti tadi.

Senyuman dari wajah imut yeoja itu seketika hilang ketika melihat dua orang yang berjalan memasuki kantin.

Chen dan Hyerim.

Heerin langsung menundukkan wajahnya tak ingin menunjukkan keberadaannya pada mantan kekasihnya itu. Namun terlambat, Chen sudah sempat melihat Heerin saat namja itu dan juga pacar barunya mengambil sebuah tempat duduk yang berada tepat di depan Heerin.

“Kenapa aku harus bertemu mereka disini?” tanyanya dalam hati. Meskipun sudah merasa tidak mempunyai perasaan apapun pada Chen,  masih ada sedikit rasa sakit hati saat melihat namja itu berdua dengan Hyerim.

Heerin meremas tangannya yang menggantung di bawah meja. Haruskah aku pergi darisini sekarang juga dan menunjukkan pada mereka jika ternyata aku masih menyimpan ketidaksukaanku melihat mereka berdua sekarang?

Someone help me get out of there !

“Sendirian?” Seseorang tiba-tiba muncul dan kemudian duduk di depan Heerin membawa nampan berisi makanannya.

“Baekhyun.shi?”

Baekhyun menyunggingkan sebuah senyuman kemudian berkata lirih, “Tenanglah aku akan disini dan menemanimu..”

Senyuman akhirnya kembali mengembang di kedua sudut bibir Heerin, reflek ia memegang tangan Baekhyun yang berada di atas meja sambil berkata, “Gomawo”

Baekhyun langsung menghentikan gigi gerahamnya yang masih aktif mengunyah. Ia membelalakkan matanya melihat tangan Heerin yang berada di atas tangannya.

“Aigoo mianhae” ucap yeoja itu langsung menarik kembali tangannya. Pipi yeoja itu memerah karena malu begitupun dengan Baekhyun yang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya dengan terus meminum air putih di meja mereka.

Untuk beberapa saat suasana henng tercipta di meja itu, keduanya hanya diam di tempat mereka sambil sesekali saling melirik untuk kemudian mengalihkan pandangannya lagi.

“Hmmm Baekhyun.shi aku sudah menjelaskan semuanya pada Sooman ahjussi”

Ditelannya makanan di mulut Baekhyun dengan berat, ia mengankat kedua alisny mendengar ucapan Heerin barusan.

“Ne?”

“Aku sudah menjelaskan semuanya, tentang semua kesalahpahaman ini, tentang  kita yang  sebenarnya tidak punya hubungan apapun ….”

“Ah.. Arasseo” balas namja itu terdengar tidak bersemangat.

Hey Byun Baekhyun! Ada apa denganmu? Bukankah seharusnya kau senang? Itu berarti kau tidak perlu stress dan pusing lagi? Dan itu berarti kau harus kembali pada kenyataan jika kau dan Heerin memang tidak lebih dar sekedar teman, ah bahkan kamipun belum menyatakan diri kami sebagai seorang teman.

. . . .

“Aku akan mengenalkanmu hyung pada temanku yang jago basket itu” ujar Kai pada namja tinggi di sebelahnya.

“Okay, suruh ia bergabung dengan latihan kita minggu ini” balas Kris yang dijawab anggukan oleh Kai.

“Ah iya bukankah minggu ini ada pelatihan untuk osis? Seperti yang hyung tau wakil kita di osis, Siwon tidak bisa ikut karena cidera kemarin.. ”

Kris memutar bola matanya seakan baru mengingat agenda itu, ia menautkan dua alisnya berpikir. Harus ada anggota tim basket yang menjadi wakil di program kerja osis itu.

“Biar aku saja yang mewakili basket, nanti aku bicarakan pada Chanyeol”

Kai menganggukkan kepalanya lagi. Jjangkaman! Itu berarti namja itu akan bersama denga noona-nya di pelatihan minggu ini? Namja itu terkekeh pelan kemudian berpamitan untuk masuk kelas sebelum Kris memergoki apa yang sedang ditertawakannya.

Ada apa dengan namja itu? Batin Kris memerhatikan Kai yang terlihat sedang menahan tawanya. Kris menggelengkan kepalanya tidak mau tau, ia kemudian kembali berjalan sebelum sesuatu menarik perhatiannya.

Kris menghentikan langkahnya begitu melihat dua yeoja yang tak jauh darinya seperti sedang sibuk mencari sesuatu.Jika salah satu dari yeoja itu bukan Richan, mungkin Kris tidak akan mau repot-repot peduli seperti sekarang.

“Memang kau yakin cincin itu jatuh disini?” tanya Geulrin pada Richan yang masih menundukkan kepalanya.

Cincin? Entah apa yang mendorong namja itu untuk tau lebih jauh. Tanpa disadari, ia sudah berjalan mendekati tempat Geulrin dan Richan.

Rasa ingin tahu mengalahkan akal sehatnya untuk beberapa detik.

Jjangkaman! Kenapa aku jadi ingin tau urusan orang begini? Kris menggelengkan kepalanya. Ia berbalik hendak pergi sebelum sesuatu menahannya..

“Come on Kwonnie! Mungkin itu memang pertanda jika kau harus melupakan Luhan” ucap Geulrin tak habis pikir dengan sikap temannya itu. Sudah hampir setengah jam mereka terus berputar di sekitar kamar mandi hanya untuk mencari sebuah benda kecil bernama cincin. Sebuah cincin yang seharusnya sudah tidak melingkar di jari manis Richan sejak ia dan Luhan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Kris mengurungkan niatnya, ia kembali berbalik, memandangi dua yeoja yang tidak menyadari keberadaannya karena terlalu sibuk mencari. Namja itu memperhatikan Richan yang sedang berjongkok membuka bagian bawah semak-semak. Inilah pertama kalinya Kris melihat ekspresi lain di wajah Richan selain datar dan dingin. Cemas dan kebingungan. Membuatnya terlihat seperti seseorang yang kehilangan semua uangnya.

Kedua alis namja itu saling bertaut melihat Richan yang sekarang berjongkok dengan kepala tertunduk  pasrah di atas lutut.

“Pabbo! Kenapa bisa sampai hilang!” ujar Richan lirih namun masih cukup dapat didengar Kris.

Geulrin yang berdiri di sebelah Richan menggelengkan kepala keras.

“Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu dengan terus mengingatnya?”

Tanpa mengangkat kepalanya Richan berkata, “Aku tidak bisa melupakannya. Tidak akan bisa…”

Kris mengepalkan telapak tangannya. Entahlah, ada dua hal berlainan yang ia rasakan dalam dirinya. Senang, karena itu berarti Chanyeol bukan seseorang yang ada di hati Richan meskipun sekarang mereka berstatus pacaran. Namun disisi lain, itu berarti ada namja yang (masih) mengisi hati yeoja itu dan namja itu bukan dirinya–bukan seorang Kris.

“Aish Wu Yifan! Lagi-lagi kau lepas kendali. Inga jika ini sama sekali bukan urusanmu. Waktumu terlalu berharga untuk memikirkan yeoja sepertinya”

. . . .

“Hya kau ini bukankah seharusnya kau senang?” ujar Kyungsoo yang dijawab anggukan oleh Chanyeol.

“Ani.. Aku.. Ah mollayo~ aku juga bingung!” balas Baekhyun pada dua sahabatnya itu.

Chanyeol dan Kyungsoo saling melempar pandangan kemudian menggelengkan kepala tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Baekhyun.

“Richan.aah~”

Richan menoleh ke arah suara Chanyeol, ia kemudian menjulurkan tangannya memberikan isyarat ke arah namja itu agar pulang bersama dengannya.

“Aku duluan guys~ Ah bacon.ah ingatlah perkataanku ini! Kau tidak akan tenang jika belum mengungkapkan apa yang harusnya kau katakan. Come on! Sebelum ada seseorang yang merebutnya darimu” pamit Chanyeol lalu berlari cepat ke arah Richan yang menunggunya. Baekhyun menerawang ke depan, nasihat Chanyeol tadi seperti sebuah jawaban atas segala kegusarannya selama ini.

Tidak lama setelah Chanyeol pergi, seseorang menepuk pundak Kyungsoo.

“Kyungsoo hyung kajja!”

Baekhyun langsung menoleh ke arah Kyungsoo yang tersenyum lebar.

“Ada urusan bisnis dengan Kai, aku pergi dulu ya”

Dalam sekejap mata Kai dan Kyungsoopun menghilang dari pandangan Baekhyun.

. . .

 

Chanyeol terus menggoda Richan dengan sepedanya yang selalu ia arahkan seolah akan menabrak sepeda yeoja berambut panjang itu.

Richan menghentikan sepedanya memandang sinis ke arah Chanyeol yang berputar-putar di depannya, “Hey yaa aku akan tertawa jika kau jatuh dari sepedamu”

Gubrakk.

Entah angin apa yang membuat namja itu tiba-tiba menabrak sebuah batu hingga akhirnya membuat ia dan sepeda yang ditumpanginya jatuh ke tanah.

Namun Richan tidak menepati janjinya, melihat Chanyeol terjatuh membuatnya langsung berlari ke arah namja itu.

Ia berlutut di depan Chanyeol, “Gwenchanayo?” tanyanya cemas melihat luka goresan di tangan namja itu.

“Kenapa kau tidak tertawa?”

Richan memutar bola matanya mendengar pertanyaan Chanyeol, ia kemudian membalikkan badannya mengambil perban yang ada di tasnya.

Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Mana mungkin aku bisa bahagia saat kau terluka”

Chanyeol memandangi yeoja di depannya begitu dalam. Ucapannya barusan seolah memberikan jawaban pada sebuah pertanyaan yang selama ini ada dalam pikirannya. Apakah yeoja itu memiliki perasaan yang sama dengannya? Mengingat selama ini tak sekalipun Richan pernah mengungkapkan perasaannya pada Chanyeol.

Rasa sakit di tangannya seolah tak mengganggu namja itu untuk terus memperhatikan Richan yang sedang menutup lukanya dengan kapas dan perban.

“Bisakah kau mengatakannya sekali lagi?”

Richan mengerutkan keningmya, “Ne?”

“Yang tadi barusan kau katakan. Aku ingin mendengarnya lagi”

Yeoja itu terdiam. Ia seperti sedang merenungi ucapannya tadi, namun karena Chanyeol sudah menunggunya akhirnya yeoja itu mulai berkata..

“Mana mungkin aku bisa bahagia saat kau terluka”

Perlahan tapi pasti Chanyeol mengangkat tubuhnya perlahan, wajahnya mendekati Richan yang belum bergerak. Ia memiringkan kepalanya seiring dengan matanya yang terpejam. Richan mematung di tempatnya, wajah Chanyeol yang kian mendekat membuatnya memejamkan mata.

Ketika jarak diantara mereka hanya tinggal sepanjang jari kelingking, suara klakson mobil yang melewati mereka membuat keduanya terperanjat kaget hingga akhirnya saling menjauh.

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya seperti anak kecil. Keduanya nampak salah tingkah dengan sesuatu yang hampir saja terjadi.

“Ki.. Kita pulang sekarang?” ajak Chanyeol mencoba memecah suasana canggung yang tercipta.

. . . .

 

SM High School_

“Kau tidak apa-apa pulang sendiri?”

Heerin menganggukkan kepala yakin sambil berkata, “Aku sudah besar appa, tak usah berlebihan mengkhawatirkanku”

Sooman menyunggingkan senyumannya seraya mengelus puncak kepala Heerin. Pria paruh baya itupun berjalan menuju mobil, meninggalkan Heerin yang berdiri di halte.

“Seandainya ada bocah laki-laki itu, aku bisa memintanya mengantarmu pulang” gumam Sooman tanpa bisa di dengar sang keponakan.

Heerin menurunkan tangannya yang semula melambai ke mobil Sooman, yeoja itu kemudian berjalan ke arah halte dimana ia harus menunggu bis yang akan mengantarnya ke kompleks perumahan di Youngstreet.

Yeoja imut itu berjalan melewati beberapa murid lain yang juga duduk menunggu bis mereka, ia berusaha tersenyum ramah hingga akhirnya menemukan sebuah tempat duduk kosong. Sebuah tempat di sebelah seorang namja yang sedang menyandarkan kepalanya di tiang halte.

Menyadari seseorang yang duduk di sebelahnya, namja itu reflek bangun dari posisinya.

“Ah Heerin.shi?”

“Ne Baekhyun.shi kita bertemu lagi” sapa keduanya dalam pembicaraan formal yang membuat keduanya jadi canggung.

“Bi..bisakah kau memanggilku tidak formal begitu? op..oppa saja jika tidak keberatan”

Heerin memandang Baekhyun dengan dua mata beningnya.

“Ne.. Op..oppa”

Dan suasana diantara keduanya pun tercipta makin canggung.

Byun Bacon, katakan sesuatu! Bagaimana bisa Ketua I osis yang dikenal banyak bicara mendadak bisu begini?

“Kau juga menunggu bis?” tanya Heerin mencoba kembali membuka pembicaraan.

“Ah ne” jawab Baekhyun singkat hingga keadaan kembali hening…

Ah bacon.ah ingatlah perkataanku ini! Kau tidak akan tenang jika belum mengungkapkan apa yang harusnya kau katakan. Come on! Sebelum ada seseorang yang merebutnya darimu.

Degg. Baekhyun terhenyak di tempat duduknya begitu mengingat perkataan Chanyeol tadi. Lalu haruskah aku melakukannya sekarang?  Haruskah aku mengungkapkan apa yang kurasakan pada Heerin sekarang juga?

“Heerin.shi? Ada yang ingin kukatakan..”

“Ne?”

Baekhyun baru akan membuka mulutnya sebelum suara deru roda bis memotong pembicaraan mereka. Semua orang di halte itu reflek berdiri dan berjalan masuk menuju bis termasuk Heerin dan Baekhyun.

Bis saat itu cukup penuh sehingga banyak orang yang harus berdiri. Namun Baekhyun beruntung, ia mendapat sebuah tempat duduk kosong.

Huah! Ia merebahkan badannya lega. Akan tetapi namja yang baru saja duduk itu langsung berdiri begitu mengingat Heerin.

Heerin yang sudah melangkahkan satu kakinya masuk ke dalam pintu bis buru-buru mengurungkan niatnya melihat kepadatan dalam bis itu.

Baekhyun yang melihat Heerin spontan mengambil tasnya lagi, ia berlari lagi ke arah pintu bis hingga akhirnya kembali turun, menyusul Heerin yang sudah kembali duduk di halte.

“Mwo oppa? Kenapa kau kembali lagi?” tanya Heerin bingung melihat Baekhyun yang sudah ada di depannya.

Sambil menggaruk bagian belakangnya namja itu menjawab, “Bisnya terlalu penuh sampai aku tidak kebagian kursi”

“Ah arasseo.. Kita memang kurang beruntung”

Dua orang itupun kembali duduk menunggu di halte setelah satu bis terlewatkan. Keduanya harus menunggu setengah jam lagi untuk bis yang berikutnya.

Tikk.. Tikk..

Titik-titik hujan mulai turun ketika mereka berdua baru sepuluh menit menunggu. Dan gerimis itupun kian berubah menjadi hujan deras.

“Hatcih~” Suara bersin dari mulut Baekhyun membuat Heerin langsung menoleh.

“Ini” ujar yeoja itu sambil menyodorkan selembar tissue dan jaket besar milik appanya yang ia kenakan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya menolak jaket Heerin.

“Gwenchana oppa kau lebih membutuhkannya, jika kau menolak aku semakin marah” ucap yeoja itu membuat Baekhyun dengan terpaksa menerimanya.

Oh God, kenapa aku terlihat seperti namja yang tidak berguna begini?

. . .

Suara deruman mesin bis terdengar keras, membuat keduanya menghentikan pembicaraan akrab mereka.

“Bagaimana caranya kita berjalan kesana?” tanya Heerin melihat ke arah hujan yang begitu deras sore itu.

Tiba-tiba sesuatu menutupi kepala Heerin.

Baekhyun menggunakan jaket yang Heerin pinjamkan tadi untuk menutup kepala mereka.

Baekhyun merendahkan kepalanya hingga dapat sejajar dengan tubuh yeoja di sebelahnya itu, dan itu membuat wajah mereka hanya terpisahkan jarak beberapa senti.

“Kajja!” seru namja itu membuat Heerin tersadar dari lamunannya yang bertanya apakah ia sedang berada di sebuah adegan drama sekarang.

 

Dua orang itupun berlari menembus hujan menuju ke arah bis yang berhenti seolah sedang menunggu mereka.

Bukk. Keduanya merebahkan tubuh mereka bersamaan di dua kursi kosong yang kebetulan berdampingan.

Heerin memegangi dadanya sendiri, ia menoleh ke arah Baekhyun yang sedang mengeringkan rambutnya karena sedikit basah. Percaya atau tidak jantung yeoja itu berdegup kencang semenjak mereka berlari tadi sampai sekarang.

“Waeyo?” tanya Baekhyun melihat bingung ke arah Heerin yang  terus memandanginya.

Heerin buru-buru menggelengkan kepalanya, “Umm Ani ani..”

Bis terus melaju menembus derasnya hujan sore itu. Heerin hanya diam di tempat duduknya sambil terus menerawang melihati hujan dari balk jendela bis. Dua matanya terasa begitu berat, ditambah lagi perjalanan dari sekolah menuju rumahnya membutuhkan waktu yang cukup lama dan itu membuatnya semakin ingin tidur.

“Mwo? Aigoo ! Aku melewatkan halte rumahku!” seru Baekhyun membuat Heerin terkejut.

“Jinjja?”

“Kalau begitu aku bisa mengantarmu dulu setelah itu baru aku kembali….” gumam Baekhyun terlihat seperti orang yang sedang menggerutu tak jelas.

“Ne?”

“Aniyo bukan apa-apa” balas namja itu sambil tertawa garing.

Heerin hanya menganggukkan kepalanya kemudian melipat dua tangannya. Ia tidak menyadari jika namja di sebelahnya sedang gugup untuk mengatakan sesuatu padanya.

“Heerin.shi”

“Ne?” sahut Heerin masih menanggapi panggilan Baekhyun.

Namja sipit itu menarik napas panjang kemudian mulai berkata, “Aku tau mungkin ni terlalu cepat.. maksudku aku baru saja mengenalmu.. tapi.. aku tidak ingin menjadi semakin tidak tenang menyimpan semua ini”

Baekhyun mengumpulkan seluruh keberaniannya. Nasihat Chanyeol tadi memberikan motvasi tambahan untuknya. Yah, mau tidak mau ia harus mengatakannya. Sekarang juga.

“Heerin.shi  Saranghamnida”

“……”

Tidak ada reaksi apapun dari Heerin, Baekhyun pun mulai membuak matanya yang semula a tutup karena takut akan jawaban yeoja di sebelahnya itu.

“Heerin.shi?”

Bukk. Baekhyun terkesiap begitu kepala Heerin jatuh di pundaknya.

Tidur? Oh My! Baekhyun menepuk keningnya sendiri. Jadi saat ia bicara tadi, yeoja ini tertidur?

Namun bukannya marah, namja itu malah merasakan sebuah kelegaan, ditambah lagi wajah innocent yeoja di  sebelahnya itu membuatnya tidak bisa untuk sedikitpun merasa marah. Namja imut itu malah menyanyikan lagu lullaby sambiil membenarkan kepala Heerin yang bersandar di pundaknya.

. . .

18.00 KST

Kris memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Dua matanya tajam menatap jalan menikung di depannya. Perkataan Richan tadi masih belum hilang dari pikirannya. Luhan? Siapa namja itu sampai yeoja itu begitu menyayanginya? Apa ia seseorang yang tinggi, atletis, dan lebih tampan darinya?

Aish! Lihat Wu Yifan, kau melakukannya lagi. Memikirkan sesuatu yang bukan urusanmu seperti bukan kau yang biasanya. Stop it, kay?

Citt. Ia menghentikan laju motor gedenya begitu sampai di depan rumahnya. Ia mengerutkan dahinya heran melihat mobil pick up besar serta semua orang yang sibuk berlalu lalang dengan perabotan rumah mereka.

“Umma? Eomoni? Kita jadi pindah rumah?.. sekarang?” tanya namja itu bingung. Ia memang pernah mendengar rencana mereka untuk pindah rumah, namun ia tidak menyangka jika akan secepat ini.

Dua wanita itu hanya menjawab pertanyaan Kris dengan anggukan kepala karena terlalu sibuk sendiri.

“Kau akan menyukai rumah baru kita” ucap Eomoni tiba-tiba. Wanita itu tersenyum sambil menepuk pundak Kris yang menunjukkan mimik muka penuh tanda tanya.

. . .

 

“Aku pulangg~”

Wajah sumringah muncul dari umma Richan begitu mendengar suara anak perempuannya itu.

“Waeyo?” tanya Richan dingin, mengetahui ada sesuatu dibalik wajah umma-nya itu.

“Kita baru saja punya tetangga baru, empat rumah darisini.. Nanti malam kau antarkan kue buatan umma ya?”

Richan memutar bola matanya kemudian berlalu meninggalkan ummanya tanpa sebuah jawaban. Yah karena mau tidak mau, pada akhirnya Richan tidak akan bisa membantah perintah ummanya itu.

18.30 KST

“Richan.aah…”

“Iyaa aku berangkat sekarang” sahut Richan sebelum ummanya menyelesaikan ucapannya. Begitu mengambil kardus berisikan kue, yeoja itu berjalan keluar rumah.

Dengan langkah santai, ia berjalan menuju rumah yang dimaksudkan ummanya. Selama berjalan, ia terus saja membayangkan kejadian tadi siang antara dirinya dan Chanyeol.

“Hmm Park Chanyeol, benarkah aku sudah mulai menyukaimu ani maksudku menyayangimu?” batinnya.

Tak terasa ia sudah berada di depan pagar rumah tetangga-nya, dibukanya pagar bewarna coklat itu. Ia memandangi rumah yang cukup besar itu. Sederhana namun tampak begitu nyaman, komentarnya.

Titt.. Richan menekan bel yang terletak di samping pintu. Ia membalikkan badannya, kembali memerhatikan bangunan yang memiliki taman yang cukup luas dengan banyak bunga yang tumbuh.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya terdengar suara pintu yang terbuka, membuat yeoja itu reflek berbalik badan.

“KAU?”

Richan dan namja di depannya mendesah bersamaan. Kenapa hidup mereka seolah telah diatur untuk selalu bertemu?

“Siapa Wufan.ah?” seru seorang wanita paruh baya dari dalam.

“Bukan siapa-siapa hanya seorang…”

“Ah ternyata Richan, ayo masuk”

Kris menendang pintu di depannya. Rencananya untuk mengusir yeoja itu pulang gagal karena neneknya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Mimpi apa aku semalam mempunyai tetangga sepertinya?

Kris mengeluyur begitu saja ke belakang tanpa berniat untuk bergabung dengan Richan dan neneknya yang sedang duduk mengobrol.

“Siapa yeoja cantik itu eomoni?” tanya Richan tiba-tiba

“Dia Yuming, adik kandung Wufan.. Cucu perempuan kesayangan nenek” jawab eomoni itu. Raut mukanya berubah sendu ketika ia mengambil foto di meja itu.

“Lalu kemana ia sekarang? Aku tidak pernah melihatnya”

“Ia sudah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan..”

Richan menelan ludahnya menyesal, “Mianhamnida eomoni.. Aku ikut berduka cita”

Nenek Kris tersenyum sembari mengelus pundak Richan.

“Wufan sangat menyayangi adik perempuannya itu.. Nenek ingat betul jika setelah kepergian Yuming, ia terus mengurung diri di kamar selama sebulan lebih”

Richan agak terkesiap begitu mendengar cerita nenek Kris. Namja dingin itu ternyata punya sisi penyayang yang tidak pernah disangkanya. Yeoja itu memperhatikan lagi foto Kris dan adiknya. Kurasa itu tidak mengherankan, bahkan dalam foto ini, aku bisa melihat jika ia sangat menyayangi adiknya, batin yeoja itu mengerti.

20.00 KST

“Wufan.ah!!” teriak nenek Kris memanggil namja yang masih berada di kamar mencari jaketnya.

“Aniyo eomoni, ahjumma aku bisa pulang sendiri tidak usah diantar, lagipula rumahku kan dekat”

“Gwenchana sayang, tidak baik yeoja berjalan malam-malam sendirian. WU YIFAN!!”

“Aigoo ne ne arasseo”

Dengan segala rasa keberatan hati dan semua keterpaksaan, Kris akhirnya mengantarkan Richan untuk pulang ke rumah yang hanya berjarak beberapa nomor dari rumahnya.

Meskipun dapat dibilang berdampingan, dua orang itu berjalan dengan jarak yang cukup jauh memisahkan mereka.

Sementara Kris sibuk dengan ponselnya, Richan terus memperhatikan jalan raya dan mobil-mobil yang melintas.

BRRMM! Sebuah mobil melaju kencang di jalan dan saat itu Kris berjalan cukup ke tengah.

Wuzh! Kurang cepat beberapa detik saja mungkin namja itu akan tertabrak mobil yang terus melaju melewati mereka.

Richan menghela napas panjang, ia melepaskan tangannya yang tadi menarik Kris sambil berkata, “Kau ini tidak sayang pada hidupmu huh?”

“Aish jeongmal, bagaimana nasib keluargamu dan orang-orang yang menyayangimu jika kau tertabrak tadi” gumam yeoja itu lirih namun masih cukup keras untuk didengar Kris.

Richan baru akan kembali berjalan sebelum Kris mencegah tangannya, membuat yeoja itu langsung berbalik. Seketika itu juga  Kris memeluknya.

Richan terkejut menerima pelukan Kris yang begitu erat. Namun ia mulai mengerti setelah mendengar suara namja itu yang bergetar.

“Mianhae Yiming.ah aku tidak bisa menjagamu dengan baik” bisik Kris tepat di telinga Richan. Apa yang diucapkan yeoja itu pada Kris saat ia hampir tertabrak tadi adalah ucapan yang sama persis dengan apa yang diucapkan Yiming beberapa saat sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya terjadi.

Kris tidak dapat menahan emosinya sampai ia menyadari siapa yang dipeluknya sekarang.

“Mianhae, aku tidak bermaksud apapun” ujar namja itu dingin. Ia berusaha menutupi air mata yang jatuh di hidungnya meskipun Richan sudah terlebih dulu dapat melihatnya. Entah apa yang mendorongnya, yeoja itu berjinjit kemudian menghapus air mata yang  tersisa dibawah kelopak matanya.

“Kau tidak usah mengantarku,” tukas Richan menyadari apa yang dilakukannya barusan benar-benar tindakan yang bodoh.

Yeoja itu kembali membalikkan badannya memunggungi Kris. Tetapi sebelum ia sempat melangkah, Kris sekali lagi memeluknya namun kali ini dari belakang. Richan diam di tempatnya, ia membiarkan dirinya berada dalam dekapan tangan yang entah kenapa membuatnya merasa nyaman. Dan bodohnya sesuatu dalam dirinya mendorong yeoja itu untuk membalas pelukannya, ia menggenggam tangan Kris yang melingkar di pundaknya.

Untuk beberapa lama keduanya berdiam dalam posisi seperti sekarang sampai suara berat membuat Richan terperanjat. Suara berat yang tak asing, suara itu memanggil namanya seolah meminta sebuah penjelasan.

>>> To Be Continue <<<

 

 

Any comments ? Just type ur words in the box below ^^

Thank you for reading!

25 pemikiran pada “A Crazy Little Thing Called Love (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s