Apakah Aku Jelek? (Chapter 3)

APAKAH AKU JELEK?

Title                              : Apakah Aku Jelek?

Author              : AC

Main Cast                     : Park Jin Ri (OC) & Xi Luhan (EXO-M)

Other Cast                    : Kim Jong In (EXO-K), Goo Se Ra (OC), etc.

Genre               : Romance, Friendship

Length                           : Chaptered

Rating                            : Teen

Author’s Note             :

Annyeong…. Ini FF pertama aku hehe, jadi maaf aja klo abal-abal banyak typo dan jelek.

 

 

 

 

 

Chapter 3

 

Park Jin Ri POV

Aku duduk di sofa berwarna coklat muda ini. Dan aku sungguh tidak tahu harus bicara apa. Karena di depanku kini ada 2 sosok yang mungkin sekarang membuatku bingung setengah mati. Luhan dan—aku tidak tahu siapa nama gadis di depanku ini.

 

“Jinri-ah, dia Goo Sera—temanku.”kata Luhan seolah-olah menjawab semua pertanyaan yang ada di benakku.

 

“Oh.. Hai aku—Park Jin Ri.”jawabku sambil tersenyum ke arah Goo Sera.

 

“Ne. Senang bisa berkenalan denganmu.” Jawab gadis itu dengan tersenyum. Cantik pikirku.

 

“Kau temannya Luhan sejak kapan?” tanyaku antusias. Sementara Luhan hanya diam dan terlihat—salah tingkah?

 

“Ehm sudah lama, entahlah aku tidak begitu ingat.”jawabnya. Dan aku hanya menganggukan kepalaku.

 

“Kau sudah lama bersahabat dengan Luhan ya?”tanyanya.

 

“Ne, sejak kami TK.” Jawabku bangga dan sambil melirik Luhan yang entah kenapa terlihat bingung.

 

“Luhan sering menceritakanmu saat kami sedang berdua. Dan sekarang aku bertemu dengan sahabatnya Luhan secara langsung..”jawabnya dan membuatku memerah malu. Apakah Luhan sering menceritakan tentang aku saat dengannya? Ah senangnyaaaaa.

 

“Be..benarkah? Apakah ia menceritakan hal-hal yang baik? Atau malah sebaliknya?”tanyaku sambil melirik ke arah Luhan.

“Hahaha… mungkin yang sebaliknya.”

 

“MWO? Yya, Luhan kau benar-benar menyebalkan!” teriakku seakan-akan tak tahu malu.\

 

“Aish kau diamlah tidak usah berteriak begitu apa kau tidak malu hah?” jawabnya. Dan aku segera memonyongkan bibirku kesal. Sementara Sera hanya tertawa melihat kami.

 

“Tapi Jinri-ssi, walaupun ia sering menceritakan kejelekanmu tapi sebenarnya ia sayang padamu lho. Aku saja sampai iri kadang-kadang padamu.” Jawab Sera dengan nada yang sedikit sedih namun tetap menampilkan senyum indahnya. Namun entah kenapa aku yakin itu hanya senyum yang sedikit terpaksa.

 

“Tapi aku ingin bertanya padamu Luhan—kenapa kau tidak pernah menceritakan kalau kau mempunyai teman wanita selain aku?” tanyaku pada Luhan. Dan Luhan sedikit terlonjak dan bingung.

 

“Aku…aku…” ia tampak bingung harus menjawab apa.

 

“Apakah kami terlihat hanya seperti teman?” tanya Sera tiba-tiba.

 

Aku bingung. Sebenarnya ini ada apa? Sera bukan teman Luhan begitu? Lalu apa?

 

“Maksudmu?”tanyaku dengan sedikit nada penasaran.

“Kami sepasang kekasih Jinri-ssi.” Jawab Sera dengan tersenyum kecil.

 

Dan DUAAAR. Aku terkaget setengah mati. Luhan mempunyai kekasih? Dan sekarang kekasihnya ada di hadapanku. Aku sangat shock. Tidak bukan shock lagi tapi melebihi shock.

 

Hatiku sangat sakit sekarang. Dan rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya tapi aku ingin menahannya. Aku tidak ingin mereka berdua melihatku sepayah itu. Mereka kan tidak tahu kalau aku menyukai Luhan.

 

“A…apa?”

 

“Sera-ssi!” seru Luhan kepada Sera dengan menampilkan tatapan ingin membunuh yang seakan-akan berkata ‘Apa yang kau katakan!’

 

“Kalian berpacaran?” Tanyaku masih shock sambil melihat ke arah Luhan dan Sera secara bergantian.

 

“Ehm. Sebenarnya sekarang sudah tidak lagi. Kami sudah putus. Saat aku ingin fokus menjadi penulis novel, aku tiba-tiba memutuskannya secara sepihak. Aku tahu aku mungkin salah karena secara tiba-tiba memutuskannya. Tapi karena ini mimpiku sejak lama aku harus merelakan cinta bukan?” jawabnya.

 

Aku sekarang mungkin menjadi gadis yang paling bodoh sedunia. Bagaimana tidak? Dihadapanku kini ada dua sosok sepasang kekasih—bukan tapi mantan sepasang kekasih. Dan bodohnya lagi aku tidak tahu kalau Luhan dulunya mempunyai kekasih secantik Sera. Sebenarnya aku tidak bodoh, karena Luhan yang tidak menceritakannya padaku.

 

“Tapi hari ini aku datang kesini untuk pertama kalinya semenjak kami putus dan hilang kontak. Aku kesini untuk meminta kembali kepada Luhan. Apa menurutmu kami cocok Jinri-ssi?” tanyanya padaku dan aku semakin kaget dibuatnya.

 

“Sera! Hentikan! Itu masa lalu dan kenapa kau membicarakannya pada Jinri huh?” ucap Luhan dengan kasar.

 

“Aku tidak ingin diam terus Luhan. Sahabatmu ini harus tahu yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau ingin menyembunyikan hubungan kita? Bahkan kau tidak ingin semua orang tahu. Apa maumu? Apa sebenarnya kau tidak ingin menganggapku?”jawab Sera dengan kasar juga.

 

Aku semakin bodoh jika terus di dalam Apartement ini. Melihat dua sosok yang dulunya sepasang kekasih sedang bertengkar yang mungkin aku terlibat sedikit di dalamnya. Dan segera aku berdiri menghadap dua orang itu.

 

“A..aku sebaiknya pergi. Aku pamit.” Jawabku dengan lirih. Dan meninggalkan Luhan dan Sera yang sedang melihatku.

 

“Jinri!” teriak Luhan saat aku sudah menutup pintu Apartementnya dan segera berlari keluar entah kemana.

 

 

Luhan POV

Setelah kepergian Jinri, perasaanku sangat campur aduk. Bagaimana tidak? Hubungan antara aku dengan Sera yang kami tutup secara rapat agar orang lain tidak tahu—termasuk Jinri sahabatku sendiri—terkuak begitu saja.

 

“KAU! Kenapa kau berbicara seperti itu pada Jinri?” tanyaku kasar kepada Sera.

 

“Aku berbicara apa adanya Luhan. Dan aku…apa kau tidak memperdulikan perasaanku? Aku seorang wanita Luhan dan kau seenaknya saja mengatakan kalau hubungan kita tidak boleh sampai ada yang tahu satu orang pun. Kau kira itu mudah? Aku iri dengan orang lain yang bisa berkencan dan memamerkan kemesraan mereka di depan umum. Apa kau tidak serius menjalani hubungan kita?” Kini Sera terlihat berkaca-kaca. Dan terlihat nafasnya sesak karena mencoba menahan rasa sakit yang ada di dalam dirinya. Sebenarnya aku tak tega melihatnya menahan tangis seperti itu.

 

Karena aku masih mempunyai rasa kasihan dan sedikit tidak tega pada wanita dengan segera aku memeluknya dan mengusap punggungnya pelan.

 

“Mianhae, bukan maksudku untuk mempermainkanmu hanya saja aku…aku belum siap.”jawabku lirih.

 

Jujur saja, aku seperti laki-laki yang paling bodoh dan jahat sedunia. 2 orang yang aku sayangi bertemu dengan keadaan yang mungkin tidak tepat. Dan selama ini aku tidak menceritakan hubunganku dengan Jinri karena—entahlah yang pasti ada perkataan dalam hatiku yang mendorongku untuk tidak mengatakannya pada siapapun termasuk Jinri—sahabatku sendiri.

 

 

Author POV

Sepanjang jalan Jinri terlihat melamun dan tidak fokus. Wajahnya seperti tidak bersemangat. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan berat.

 

Sampai akhirnya ia duduk di kursi halte untuk menunggu bus. Terlihat wajahnya memancarkan raut kesedihan. Atau mungkin terlihat ingin menangis mungkin?

 

Dan tak lama bus berwarna hijau berhenti di halte tersebut dan Jinri serta beberapa orang yang menunggu di halte tersebut segera masuk.

 

Setelah ia memasukkan koin, Jinri duduk di tempat yang paling belakang dan tepat di sebelah jendela.

 

Selama perjalanan ia hanya menatap ke luar jendela. Melihat pemandangan kota Seoul atau mungkin hanya melamun saja?

 

Yang pasti ia terlihat menyedihkan.

 

Tak lama ia mengeluarkan buku diary kesayangannya dan menulis sesuatu disana. Setelah itu ia menutup diary tersebut dan menghembuskan nafasnya.

 

“Bahkan—aku lupa memberinya bekal.” Gumamnya pelan sambil melihat ke kotak bekalnya yang berisi makanan yang khusus untuk Luhan—sahabatnya dan orang yang ia cintai.

 

 

 

Setelah turun dari bus, ia berjalan melewati toko-toko yang menawarkan produk mereka. Namun ia tetap saja tidak menghiraukan apa yang ia lihat.

 

Jinri tetap berjalan sampai ada sesuatu yang ia rasa—menarik?

 

Ia melihat ada anak anjing yang terlihat lucu dan menggemaskan. Bulu-bulunya yang tebal dan warnanya yang unik mengalihkan perhatian Jinri.

 

Ia mendekati anak anjing itu. Sepertinya anak anjing itu hilang.

 

Jinri pun jongkok di hadapan anak anjing itu dan mengelusnya dengan sayang.

 

“Yya! Kenapa kau sendirian? Mana majikanmu?” Jinri bertanya pada anak anjing itu seolah-olah itu anak kecil.

 

“Huh pasti majikanmu sedang mencarimu ya? Kau jangan nakal ya. Bagaimana jika majikanmu mencemaskanmu hah?” omel Jinri.

 

Dan tidak lama kemudian ada sesorang yang berlari ke arah Jinri dan anak anjing itu dan sekarang ia tampak ngos-ngosan mengatur pernafasannya.

 

“Yya Meonggu!! Dasar nakal! Aku mencemaskanmu tau?” ucap pemuda itu sambil mengelus puncak kepala anjing itu. Sementara Jinri ia hanya melongo saat tau siapa pemilik anak anjing itu.

 

“Kim—Jongin?”

 

“Oh—Jinri-a…kau..sedang apa disini?” tanya pemuda itu.

 

“Aku—tadi jalan-jalan. Lalu melihat anak anjing ini. Milikmu?” tanya Jinri. Jongin hanya tersenyum sambil mengangguk.

 

“Terimakasih ya.” Ucap Jongin

 

“Kenapa?”

 

“Ya kalau tidak ada kau mungkin ia sudah jauh dari sini.”

 

“Ah tidak juga.” Jawab Jinri dengan tersenyum canggung. Karena inilah pertemuan pertama mereka sejak kejadian di namsan tower itu.

 

Lalu kemudian keadaan menjadi canggung. Mereka hanya terlihat saling melirik.

 

“Ekhem..kau tidak pulang?” tanya Jongin membuyarkan rasa canggung mereka.

 

“Aku—ini..mau pulang kok hehe.”jawab Jinri.

 

“Baiklah aku antar ya?” tawar Jongin.

 

“Ani..aku bisa sendiri kok.”

 

“Sudahlah lagipula aku kasihan padamu terlihat sendirian seperti ini.”

 

“Tapi….”

 

“Aisssh—kajja?!” Kai terlihat berjalan duluan sambil memegangi tali panjang yang mengikat leher anjingnya itu.

Sementara Jinri ia hanya melongo. Namun sedetik kemudian ia mengikuti Jongin.

 

 

Park Jinri POV

Selama perjalanan aku bingung ingin memulai pembicaraan apa. Dan tampaknya Jongin juga terlihat canggung juga.

 

“Kau lapar tidak?” tanyaku mencoba memecahkan keheningan diantara kami.

 

“Kenapa?” tanyanya.

 

“Aku tadi masak hehe dan belum kusentuh. Kan sayang jika tidak dimakan.”

 

“Oh. Tapi kenapa kau tidak makan sendiri saja? Atau jangan-jangan itu makanan buat pacarmu?”

 

“Ah ani….aku tidak punya pacar.” Jawabku gugup.

 

“Lalu?” tanyanya.

 

“Tadi aku ingin menemui Luhan dan kulihat tadi ia sudah makan. Lalu tidak jadi kuberi deh, hehe.” Jawabku.

 

“Oh. Baiklah mana? Aku ingin mencoba hasil masakanmu.” Jawabnya.

 

“Terimakasih Jongin hehe.” Jawabku.

 

“Ohya—masalah dulu aku mohon kau maafkan aku ya? Aku benar-benar tidak menyangka aku berbuat seperti itu. Aku tidak sadar.” Katanya sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya ia tampak menyesal.

 

“Ne Jongin. Tidak apa-apa. Ya biarpun aku shock sekali sih.” Ucapku.

 

Dan kami berdua hening. Tapi tiba-tiba tali yang Jongin pegang terlepas dan anjingnya terlihat berlari. Kami berdua pun kaget dan segera berlari mengejar anjing Jongin itu.

 

Karena itu jalan raya aku sangat khawatir apalagi jalanan saat itu lumayan ramai. Dengan segera aku mengejar anak anjing itu dan KENA. Aku langsung memeluk anjing itu.

 

Tapi—aku pun sadar kalau ini adalah JALAN RAYA. Terlihat ada mobil sedan putih melaju kencang ke arahku dan dengan segera aku mencoba menghindar namun—apa yang terjadi? Tubuhku tertabrak mobil itu dan terpelanting begitu saja. Namun sebelum itu anjing Jongin sudah kulempar begitu saja ke trotoar sehingga anjing itu tidak apa-apa.

 

Jongin yang melihatku pun berteriak “PARK JINRI!!!!!”

 

Setelah itu tubuhku jatuh ke jalan dan kepalaku terbentur aspal lalu semuanya gelap.

 

 

 

Luhan POV

Saat Sera pulang, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kulihat Jinri menelponku. Ada apa?

 

Segera ku angkat “Yoboseyo ada apa Jinri?”

 

Namun kudengar bukan suara Jinri namun suara pria.

 

“Jongin?” tanyaku.

Dan setelah mendengar penjelasan Jongin aku terpaku. Jinri kecelakaan?

 

Dengan segera aku keluar apartementku dan menuju mobilku setelah itu pergi ke rumah sakit tempat Jinri dibawa kesana.

 

 

 

Seoul Hospital

Pkl 17.43

 

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju UGD. Dan tampak ada Jongin disana dengan wajah menunduk.

 

Aku segera ke arahnya dan langsung memegang pundak pemuda itu.

 

“Jongin!! Ada apa sebenarnya katakan padaku!!!” tanyaku dengan berteriak.

 

Sementara Jongin hanya melihatku dengan pandangan seperti penyesalan.

 

“Jinri—tadi ia—tertabrak mobil karena……menyelamatkan—anjingku.”jawab pemuda itu dan aku berkaca-kaca lalu menangis dalam keadaan shock dan tidak bersuara.

 

“Maafkan aku Luhan—aku…” ucapannya terputus.

 

“Kau meminta maaf karena apa? Ini tidak ada yang salah!!!” jawabku dengan menangis dan berteriak kepadanya.

 

Tidak. Aku tidak marah padanya. Aku hanya merasa—kenapa ini semua terjadi?  Dan hatiku merasa sakit. Dadaku sesak. Sebenarnya aku kenapa? Apakah aku—tidak ingin kehilangan dia? Ya—karena dia temanku, sahabatku yang aku sayangi.

 

 

 

Kini aku masih di luar ruang UGD menunggu kepastian keadaan Jinri. Sementara Jongin—ia masih menunggu sama sepertiku. Sepertinya ia tampak menyesal. Tapi ini bukan salahnya ataupun anjingnya. Ini adalah kehendak tuhan.

 

“Tadi—aku bertemu Jinri di jalan saat aku kehilangan anjingku.” Kata Jongin tiba-tiba. Seketika aku menoleh dengan raut penuh tanya.

 

“Ia sendirian sedang menemani anjingku.” Lanjutnya.

 

“Menghampirinya lalu aku menawarkan untuk pulang bersama. Ia setuju. Saat kami berjalan, tiba-tiba tali pengikat anjingku lepas, anjingku berlari ke jalan raya. Disitulah aku dan Jinri berlari untuk menangkap anjingku. Namun sepertinya Jinri sangat khawatir sehingga ia menerobos jalanan yang ramai demi menyelamatkan anjingku. Setelah itu—ia tertabrak. Namun anjingku selamat karena dilempar olehnya ke trotoar. Aku—aku…merasa bersalah Luhan walaupun mungkin bukan salahku sepenuhnya.” Ucap Jongin panjang lebar seakan menjawab seluruh pertanyaan di benakku kini.

 

Aku hanya diam sambil melihat ke arahnya, namun setalh itu menundukkan kepalaku.

 

“Sebelum kecelakaan, ia memberiku ini.” Kata Jongin sambil memberikan kotak bekal ke arahku. Aku menerimanya dan melihat kotak bekal itu.

 

“Kenapa kau berikan ini kepadaku? Bukankah Jinri memberimu?” tanyaku.

 

“Memang. Tapi ia bilang, sebenarnya itu adalah kotak bekal untukmu. Namun katanya kau sudah makan jadi tidak jadi dia beri untukmu.” Jawabnya.

 

Aku tersentak. Jinri memasakan masakan untukku?

 

Seketika ingatanku tertuju saat kejadian di apartementku tadi. Saat Jinri tiba-tiba datang ke apartementku. Ternyata ia ingin memberikanku kotak bekal ini. Hatiku makin sakit dibuatnya. Tak terasa air mataku tumpah kembali. Hari ini—biarkan aku menjadi laki-laki paling lemah sedunia.

 

“Dan ini tas Jinri tadi saat ia membawanya. Dan ini ada buku hariannya tadi terlempar di jalan. Aku titipkan padamu ya?” Jongin memberiku tas milik Jinri dan buku diary kesayangan Jinri.

 

“Baiklah. Terimakasih Jongin.” Ucapku sambil menatapnya.

 

“Ne, sama-sama Luhan.” Jawabnya.

 

Dan tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar dari ruang itu. Aku dan Jongin terkesiap dan berdiri lalu berjalan ke arah dokter itu.

 

“Apakah disini ada keluarga dari nona Park Jinri?” tanya dokter itu.

 

“Orang tuanya sedang perjalanan ke Korea dok. Memangnya ada apa?” tanyaku khawatir.

 

“Park Jinri butuh donor darah segera. Ia telah kehilangan banyak darah.” Jawab dokter itu.

 

“Lalu bagaimana? Apakah di rumah sakit ini tidak ada persediaan?” tanyaku.

 

“Tidak. Oleh karena itu kami mencari anggota keluarga Park Jinri. Apa anda temannya? Golongan darah anda apa? Kita tidak butuh waktu banyak.” Kata dokter itu seperti terburu-buru.

 

“Golongan darah saya B dok.” Jawabku.

 

“Sayang sekali, kami membutuhkan golongan darah A.” jawab dokter itu.

 

Namun tiba-tiba Jongin menjawab, “Saya golongan darah A dok. Berarti bisa kan?”

 

“Baiklah bisa mari ikut saya.” Lalu Jongin dan dokter itu memasuki ruangan.

 

Sementara aku diluar hanya berharap semoga tidak terjadi hal yang buruk.

 

 

 

Author POV

Kini Luhan duduk di sebelah ranjang Jinri. Ia melihat gadis itu dengan dalam dan dengan tatapan sedih.

 

Lalu ia menggenggam tangan gadis itu. Seolah memberikan kenyamanan pada gadis itu.

 

Kondisi Jinri sedang kritis. Selang-selang terbalut pada tubuh gadis itu mulai dari hidung hingga tangannya. Tampak perban di kepalanya, lalu wajah gadis itu penuh dengan goresan-goresan yang terkena aspal dan terlihat membengkak. Prihatin memang. Dulunya Jinri adalah sosok yang sering menampilkan keceriaan—sekarang menjadi seperti ini.

 

Luhan masih menatap gadis itu dengan dalam. Lalu matanya menuju meja kecil yang terletak di sampingnya. Terdapat tas Jinri dan buku diary Jinri. Luhan sebenarnya ingin sekali membuka buku diary itu. Namun diurungkan niatnya itu. Ia berfikir kalau gadis itu mempunyai privasi.

 

Tidak lama kemudian pintu kamar tersebut terbuka.

 

Tampak sepasang suami istri sedang menuju ke gadis itu. Ya, mereka adalah orang tua Jinri.

 

“Astaga Jinri…. Kenapa bisa….”ucap ibu Jinri sambil menangis.

 

Sementara ayah Jinri melihat anak semata wayangnya itu dengan pandangan sedih, shock dan khawatir menjadi satu.

 

Luhan yang dari tadi duduk disamping Jinri pun berdiri dan membungkuk pada orang tua Jinri.

 

Sementara ibu Jinri masih menangis, lalu ayah Jinri membalas sapaan Luhan itu.

 

“Saya mungkin, akan keluar paman-bibi. Saya permisi.” Jawab pria itu lalu meninggalkan sepasang suami istri itu.

 

 

Luhan terlihat lesu di koridor rumah sakit itu. Ia duduk di slah satu kursi kosong itu. Lalu mengusap wajahnya. Ia terlihat terlalu lelah, namun ia paksakan. Kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya seperti ini.

 

Dokter mengatakan bahwa kondisi Jinri kritis dan terkena koma sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, tidak begitu saja namun juga karena benturan yang keras tepat di kepalanya ia mungkin terkena amnesia sementara.

 

Luhan tampak stres sekarang. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa lagi. Karena sebentar lagi ia akan meninggalkan Korea untuk pindah ke China melanjutkan studynya. Jika ia pergi maka ia tidak bisa melihat Jinri. Namun jika tidak, maka ia harus menghadapi dampaknya. Keputusan yang sulit.

 

 

 

 

 

 

 

Mian jika banyak typo ya. Ini buatnya lagi ngantuk-ngantuk soalnya. Dan belum baca ulang.

Oya tetep komen ya biar aku bisa ngerti apa pendapat readers. Mungkin ceritanya kurang menarik atau mungkin bikin bosen atau apa gitu. Hehe….

Gumawo buat yang sudah baca.

 

26 pemikiran pada “Apakah Aku Jelek? (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s