Fall (Chapter 4)

Title: Fall (Chapter 4/End)

Author: zelowifey

Length: Multi Chapter

Genre: Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Luhan (EXO-M), Jinri (OC)

Support Cast: Sehun (EXO-K), Kai (EXO-K), Kris (EXO-M)

Note: Enjoy the last chapter! 😀

————————————

Fall (1)

Fall Chapter 1 (exofanfiction.wordpress.com/2012/08/14/fall-chapter-1/)

Fall Chapter 2 (https://exofanfiction.wordpress.com/2012/09/25/fall-chapter-2/)

Fall Chapter 3 (https://exofanfiction.wordpress.com/2012/10/25/fall-chapter-3/)

————————————

Sore itu langit terlihat gelap dan matahari pun mulai tenggelam. Kondisi udara juga terasa lebih dingin, mungkin akibatgedung-gedung pencakar langit yang berserakan di kota Seoul ini, atau mungkin karena angin yang berhembus lebih kencang dari biasanya. Orang-orang memenuhi jalan pinggir kota, sebagian besar dari mereka melakukan aktivitas mereka masing-masing. Luhan berjalan sendirian ditengah-tengah kerumunan orang-orang tersebut, dia berjalan dengan kepalanya yang tertunduk kebawah, menghiraukan semua orang yang saat itu juga menghiraukannya. Sebagian besar dari orang-orang tersebut berjalan dengan tergesa-gesa sehingga membuat tubuh mereka menyikat tubuh Luhan yang saat itu tengah berjalan dengan begitu perlahan secara tidak sengaja. Layar LCD TV danproyeksiBillboard menerangisetiapbangunan disisi jalan, hiruk-pikuk suara yang berasal dari obrolan orang-orang, siaran radio, dan musik memenuhitelinga Luhan. Luhan mengangkat wajahnya perlahan dan menatap keadaan sekitarnya, dia memandangi orang-orang yang saat itu tengah sibuk melakukan setidaknya satu hal. Jika dibandingkan dengan semua orang disana, hanya Luhanlah yang terlihat paling signifikan.

“Jadi seperti ini rasanya menjadi seorang Jinri” Senyuman simpul mulai terbentuk dari sudut bibir Luhan ketika dia menyebut nama Jinri, namun setika senyuman itu sirna saat dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka berdua. Luhan berpikir dan mengulang kejadian tersebut didalam benaknya. Mengapa saat itu dia begitu marah terhadap Jinri? Mengapa dia tidak bisa mengatur emosi bahkan jalan pikirnya sendiri? Mengapa dia menjadi begitu kejam terhadap Jinri yang sama sekali tidak bersalah? Begitu banyak pertanyaan terlintas dibenaknya, namun Luhan tidak bisa menjawab satupun diantara mereka. Luhan tidak dapat memungkiri bahwa dirinya merasa begitu buruk saat ini, dia sadar bahwa dia telah menyakiti perasaan gadis itu.

Luhan benar-benar tidak menyukai keadaan disekitarnya saat ini, dimana terdapat ratusan bahkan ribuan orang yang berada di jalan namun tidak ada satupun dari mereka semua yang dapat membuat perasaannya menjadi lebih baik. Jadi seperti ini rasanya menjadi orang yang begitu asing, orang yang selalu dikucilkan, dan orang yang sedang menjerit ditengah keramaian namun tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya. Rasanya sungguh tidak menyenangkan. Bagaimana bisa Jinri bertahan menjadi orang seperti ini? Namun terlebih lagi, bagaimana bisa dia menyakiti perasaan orang seperti Jinri? Padahal pada akhirnya Jinri telah membukakan pintu kepada dirinya, pikir Luhan.

Sejak pertama kali Luhan melihat Jinri ketika dulu mereka berdua masih memegang gelar sebagai murid baru, sebenarnya Luhan selalu memperhatikan Jinri dari kejauhan. Mengapa demikian? Karena dimata Luhan, Jinri terlihat berbeda dari kebanyakan murid baru disekolahnya. Saat itu ketika teman-teman seangkatannya sibuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, Jinri disisi lain hanya diam dan tidak mencoba untuk memperkenalkan dirinya, rawut wajahnya bahkan mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hal tersebut. Dan sejak saat itu, Luhan mendapati dirinya tenggelam kedalam sebuah rasa keingintahuan yang begitu kuat pada gadis bernama Jinri itu, sayangnya dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghampiri gadis itu, gadis yang selalu menyendiri, dan pada akhirnya Luhan hanya dapat memperhatikan Jinri dari kejauhan.

Namun akhirnya waktu yang tak terduga pun datang, ketika sore itu dia melihat Jinri yang sedang duduk tenang dikursi bus seorang diri, lalu tanpa banyak berpikir, Luhan segera pergi menghampirinya.

Luhan menggelengkan kepalanya, hari ini dia terlalu banyak berpikir, keadaannya benar-benar kacau. Luhan pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalannya, hingga akhirnya dia tiba di depan rumahnya, namun belum sempat Luhan menginjakkan kakinya untuk masuk kedalam, tamu yang tidak diundang lebih dulu datang menghampirinya. “Mau apa kau kesini hyung?” Luhan bertanya dengan nada suara yang terdengar malas dan kasar, saat ini dia sedang malas meladeni hyungnya. “Kau tidak mengangkat ponselmu sejak tadi, jadi aku memutuskan untuk datang kesini” Ujar hyungnya, Kris. Luhan sungguh sedang tidak ingin bertemu dengannya saat ini, dia pun kembali melangkahkan kakinya kedalam menghiraukan keberadaan hyungnya. “Aku baru saja berpamitan dengan ibu,” Seketika Luhan menghentikan langkah kakinya. “Dan sepertinya aku juga harus berpamitan denganmu Lu” Kris menatap Luhan dengan rawut wajah yang terlihat cukup sedih, Luhan mengerutkan kedua alisnya karena merasa binggung. Lalu tiba-tiba saja Kris tersenyum “Aku tidak akan memaksamu lagi untuk pergi ke Jepang, ayah telah mengizinkanmu untuk tetap tinggal bersama ibu” Ujar Kris. Luhan membulatkan matanya terkejut “Jinjja?!” Luhan tidak sengaja mengeraskan suaranya karena terlalu senang, dia berharap semoga hyungnya tidak mempermainkannya kali ini. Kris mengangguk pelan kemudian berjalan mendekati Luhan lalu memeluknya dengan erat sebelum berkata “Jaga ibu baik-baik Lu”. “Pasti hyung” Luhan pun tidak enggan untuk balik memeluk Kris. Pada akhirnya beban yang dipikul oleh Luhan pun sirna, namun dia sama sekali tidak bisa merasa senang, dia justru merasa begitu menyesal, ketika tiba-tiba saja wajah Jinri terlintas didalam pikirannya.

Libur akhir pekan berakhir dengan sangat cepat, dan sekolah pun kembali dimulai. Setelah hanya menghabiskan sebagian besar waktunya menangis didalam kamar, Jinri akhirnya telah merasa lebih baik dari sebelumnya, dia bahkan datang kesekolah lebih awal dari biasanya. Kali ini dia tidak akan membiarkan dirinya untuk jatuh kedalam lubang yang sama, dia tidak ingin menambah luka lain lagi pada dirinya, dan dia sudah berjanji untuk kembali menutup dirinya kepada orang lain serta tidak akan lagi membiarkan dirinya terikat pada mereka semua. Jinri adalah seorang gadis yang kuat, dia tidak membutuhkan teman bahkan kekasih, segalanya jauh lebih baik jika dilakukan sendirian. Dia juga telah mencoba untuk melupakan namja bernama Luhan, dan dia yakin bahwa dirinya dapat melupakan Luhan dengan mudah, karena kejadian-kejadian yang selalu terjadi seperti apa yang terjadi kepada dirinya dan Luhan sore itu hanyalah akan menjadi sebuah pengalaman, dan pengalaman tersebut justru akan membuat dirinya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Namun ketika pintu kelas terbuka, semua pemikiran untuk melupakan Luhan terhapus begitu saja, dan jantung Jinri kembali berdenyut, berdoa bahwa orang yang tengah membuka pintu tersebut adalah Luhan, Luhan yang akan berjalan menghampirinya dan mengisi kursi kosong didekatnya, seperti hari-hari kemarin. Dan ternyata doanya begitu cepat terkabul, karena orang tersebut memanglah Luhan. Jinri mendongak lalu menatap wajah Luhan, dalam sekejap jantungnya kembali berdetak dengan cepat, namun dalam sekejap pula lukanya kembali terasa sakit, hanya karena menatap wajah Luhan rasanya seakan-akan dia tengah menaburkan garam pada lukanya, Jinri pun segera menundukkan wajahnya kebawah, dia tidak ingin menatap wajah Luhan lebih lama lagi. Mungkin akan lebih baik jika bukan Luhan yang membuka pintu itu.

Namun disinilah dia, masih tampan seperti sebelumnya. Luhan meletakkan tasnya diatas meja dan duduk dikursinya yang berada tepat disamping Jinri, sedangkan Jinri mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak semakin kencang saat Luhan duduk disampingnya. “Hai” Luhan menyapa Jinri tanpa melihat matanya, lalu rawut wajahnya berubah ketika dia mengalihkan pandangannya dan melihat mata Jinri yang membengkak. Itu semua pasti karena ulahnya, dia tidak menyangka bahwa dirinya telah membuat Jinri menjadi seperti ini.

Jinri tidak membalas sapaan Luhan, dia juga tidak tersenyum bahkan tidak menatap Luhan sedikitpun. Sebenarnya dia ingin tersenyum, dia sungguh sangat ingin tersenyum, namun ternyata begitu sulit untuk tersenyum kepada orang yang telah menyakiti dirinya, dan mungkin akan lebih baik jika dia tidak menatap wajah seseorang yang ingin dia lupakan. Jinri mengingat janjinya yang telah dia buat kepada dirinya sendiri, dan sebanyak apapun hatinya senang ketika Luhan menyapanya, dia berjanji pada dirinya untuk tidak menyerah dengan mudah. Pikirannya selalu dapat menguasai hatinya.

“Mianhe Jinri… saat itu perasaanku sedang kacau, mianhe… ” Luhan menelan gengsinya dan meminta maaf lebih dulu, dia melakukan semua itu karena benar-benar merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya terhadap Jinri. Jinri hanya diam, dia bahkan menganggap Luhan seperti tidak ada. Bel pun berdering, menandakan bahwa pelajaran akan segera dimulai, Jinri mendengar Luhan menghela nafasnya panjang. Permintaan maaf tidak diterima.

Hati kecil Jinri menjerit Mengapa kau tidak memaafkannya pabo! namun Jinri membuang pemikiran itu jauh-jauh, setia pada janji yang telah dia buat kepada dirinya sore itu dan tidak akan membiarkan dirinya untuk jatuh ke lubang yang sama. Dia tidak bodoh, dan dia tidak akanmenjadi bodoh lagi sepertiterakhir kali Luhan meninggalkannya sore itu. Jika Luhanmampu membuat dirinyaterlihat bodoh, dia akanlebih baik tanpa Luhan, atau setidaknya, itulah yang dia ingin percayai.

Hampir setiap jam dihari itu Luhan terus-menerus meminta maaf kepada Jinri, namun Jinri tidak pernah sekalipun memberikan jawaban dan hanya menghiraukan keberadaannya, Luhan bisa saja berlutut dan memohon kepada Jinri agar memaafkannya, namun Luhan adalah orang yang memiliki harga diri yang cukup tinggi untuk melakukan hal-hal semacam itu. Ketika jam istirahat dimulai, Luhan memutuskan untuk beristirahat sejenak dan berpikir bagaimana cara agar dapat membuat Jinri memaafkan dirinya. “Yah Lu kenapa kau terlihat seperti orang yang sedang patah hati” Ejek Sehun, “Shikereo” Luhan sedang tidak bersemangat untuk membalas perkataan Sehun. Luhan melemparkan dua buah uang koin keatas dan kebawah secara terus menerus dengan rawut wajah yang sulit ditebak, namun yang jelas saat ini dia sedang berpikir dengan keras. Kai menatap Sehun dengan ekspresi yang seolah bertanya ‘Apa lagi yang terjadi pada Luhan?’ Lalu Sehun mengangkat bahunya seolah-olah menjawab ‘Nan molla’ Mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala mereka ketika melihat Luhan yang sedang frustasi.

“Guys… ” Akhirnya Luhan kembali bersuara, Sehun dan Kai pun menantikan perkataan Luhan selanjutnya, “Bagaimana cara agar membuat seorang gadis memaafkan kesalahan kita?” Sehun dan Kai hampir saja tertawa saat mendengar pertanyaan Luhan, mereka tahu bahwa Luhan sebenarnya buruk dalam hal yang bersangkutan dengan perempuan. “Tentu saja meminta maaf sebagai seorang namja Lu” ujar Kai, Sehun menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kai. “Lalu bagaimana?” tanya Luhan sambil meneguk minumannya, “Tarik pinggangnya mendekat ketubuhmu dan jangan biarkan dia lolos dari pelukanmu, setelah itu kau harus segera menciumnya!” Ujar Sehun bersemangat. Mendengar hal itu Luhan hampir saja menyemburkan minumannya, sedangkan Kai membelalakkan matanya terkejut, mereka tidak menyangka bahwa Sehun telah menjadi sebodoh ini. “Aish… yah! Sehun kau pabo sekali! Mana mungkin ada orang yang meminta maaf dengan cara seperti itu!” Bentak Kai yang setelah itu menjitak Sehun tepat dikepalanya. Ternyata Luhan telah bertanya kepada orang yang salah, Luhan kembali berpikir seraya menghiraukan kedua sahabatnya yang kini tengah berkelahi. Luhan menatap kedua koin yang sejak tadi dia mainkan, lalu tiba-tiba saja senyum seringai khasnya mulai terbentuk dari sudut bibirnya… dia baru saja mendapatkan sebuah ide yang brilian.

Luhan segera bergegas pergi dari tempat duduknya lalu berlari ke ruang kelas, disitulah dia menemukan Jinri, Jinri yang seperti biasa sedang membaca buku seorang diri dikursinya. Jinri dapat merasakan kehadiran Luhan, namun dia enggan untuk menatapnya, sejak pagi dia telah berhasil mengabaikan Luhan, dan dia berpikir sepertinya jika dia terus-menerus mengabaikan Luhan seperti ini, lama-kelamaan Luhan pasti akan bosan dan memutuskan untuk tidak meminta maaf lagi.
“Jinri-ah” Luhan menyebut nama Jinri, entah mengapa Jinri sangat menyukai bagaimana cara Luhan menyebut namanya, namun Jinri segera menghapuskan pemikirannya akan hal tersebut dan kembali berkosentrasi pada bukunya, bagaimanapun juga dia harus bisa membuat Luhan jera.

Melihat Jinri yang masih tidak mendongak untuk menatapnya, tanpa banyak pikir tiba-tiba saja Luhan menarik buku yang sedang dibaca oleh Jinri kemudian melemparnya kebawah lantai.  Jinri mencoba mengambil bukunya yang telah tergeletak dibawah lantai, namun Luhan telah lebih dulu berhasil menendang buku tersebut dan berhasil membuat Jinri menatapnya. Jinri mungkin telah belajar banyak tentang Luhan selama bulan-bulan mereka menghabiskan waktu bersama, namun Luhan juga  belajar banyak tentang Jinri. Jinri adalah gadis keras kepala. Luhan tahu bahwa Jinri kecewa terhadap dirinya. Luhan tahu bahwa dia tidak memiliki maksud apa pun dengan apa yang dikatakannya sore itu, dan dia tahu bahwa dia begitu bodoh karena telah pergi meninggalkan Jinri seperti itu. Namun Luhan juga tahu ketika setiap kali wajah Jinri muncul dibenaknya, dia sadar bahwa dia telah begitu menyukai gadis ini.

“Yah Luhan apa yang kau lakukan?” Jinri membentak Luhan, namun Luhan justru meraih tangan Jinri dan menyeretnya keluar kelas. Jinri memberontakkan tangannya mencoba melepaskan ikatan tangan Luhan, namun ikatan tangan namja ini begitu erat dan sulit untuk dilepaskan. “Kali ini kau mau membawaku kemana hah?!” Jinri berteriak, namun untung saja tidak terdapat banyak orang yang sedang berada disana, tangannya mulai terasa sakit akibat cengkraman tangan Luhan yang begitu erat. Luhan membawa Jinri menaiki tangga demi tangga lalu masuk kesebuah pintu, dan ternyata dia membawa Jinri keatap sekolah. Luhan segera melepaskan ikatannya dari tangan Jinri, Jinri menatap Luhan dengan rawut wajah yang kesal sambil mengelus tangannya yang memerah. “Mianhe” Luhan berjalan mendekati Jinri, sedangkan Jinri memundurkan langkahnya, kemudian Luhan kembali berjalan mendekati Jinri, sedangkan jinri  kembali memundurkan langkahnya, sampai akhirnya punggung Jinri menabrak balkon yang berada tepat dibelakangnya, dia terjebak.

“A-apa yang mau kau lakukan Luhan?” Jinri gagap bersuara karena tingkah Luhan yang tiba-tiba saja menjadi aneh. Luhan menghiraukan pertanyaan Jinri dan menatap mata Jinri yang enggan untuk menatap matanya, kemudian dia melanjutkan kalimatnya. “Aku lelah dengan semua hal ini! Aku sudah meminta maaf padamu bukan? Aku tahu aku telah menyakitimu, dan aku begitu menyesal” Luhan benar-benar telah mengunyah rasa gengsinya kali ini, “Tapi jika kau terus-menerus mengabaikanku seperti ini, aku rasa aku tidak perlu mencoba untuk meminta maaf lagi” ujar Luhan.

Jinri merasakan jantungnya yang berhenti berdetak saat mendengar Luhan berkata demikian, bukankah ini yang dia nantikan? Namun mengapa hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.

Tiba-tiba saja Luhan mengeluarkan sebuah koin dari saku celananya “Dengar, aku tahu hal ini kedengaran bodoh, tapi aku ingin semua ini terselesaikan. Jika kau tidak berhasil menebak dimana koin ini kusembunyikan, maka dari itu kau boleh pergi dan tidak memaafkanku, dan aku akan mengucapkan selamat tinggal” Luhan memandang Jinri dengan matanya yang selalu terlihat gelap, namun Jinri dapat melihat kesedihan didalam matanya dengan jelas, “Tapi jika kau berhasil menemukan dimana koin ini berada, kau harus berjanji untuk memaafkanku, arraseo?” Luhan mengeluarkan senyum seringai khasnya, senyum yang tidak pernah gagal membuat jantung Jinri berdenyut tidak karuan. Sepertinya ide Luhan dapat diterima oleh jinri, dia juga ingin menyelesaikan semua ini. Jinri menganggukkan kepalanya, kemudian Luhan menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya seraya meletakkan koin tersebut disalah satu tangannya, lalu dia mengepal dan menyodorkan kedua tangannya kepada Jinri. “Kiri atau kanan?” tanya Luhan, Jinri berpikir sejenak, bagaimana kalau dia tidak berhasil menebak dimana Luhan menyembunyikan koinnya, apakah itu berarti Luhan akan benar-benar pergi dalam hidupnya.

Jinri menunjuk tangan kiri Luhan kemudian berdoa didalam hatinya, berdoa agar dia berhasil menebak dimana koin tersebut berada, karena jujur saja dia tidak ingin kehilangan Luhan dengan cara seperti ini. Luhan menghela nafas tegang kemudian membuka tangan kirinya, dan ternyata koin tersebut memang berada ditangan kiri Luhan. Jinri menatap Luhan, lalu melihat Luhan yang tengah tersenyum dengan begitu menawan. Sebagian dari dalam diri Jinri menari-nari lega, karena tentu saja, dia ingin memaafkan Luhan, tetapi bagian lain dari dalam dirinya yang tidak ingin memaafkan Luhan di tempat pertama merasa begitu marah. Jadi Jinrihanya terdiam di sana, berkelahi dengan kedua emosinya saat ini, tidak tahu harus berkata apa.

“Jadi… kau harus memaafkanku” Luhan tersenyum dengan begitu menawan, Jinri mengalihkan pandangannya agar tidak terlalu jauh hanyut kedalam senyuman Luhan yang dapat menenggelamkannya kapanpun. Ingin sekali rasanya Jinri menampar dirinya saat ini karna telah melanggar janji yang telah dia buat pada dirinya sendiri dan memaafkan luhan dengan cara yang begitu mudah. Tapi cara Luhan tersenyum saat itu mengungkapkan betapa bahagianya dia, dan hal tersebut membuat Jinri sulit untuk menjadi begitu marah. Sebanyak apapun Jinri ingin membenci Luhan seperti apa yang telah dia direncanakan, ada sesuatu dalam diri Luhan yang membuatnya begitu sulit untuk membencinya. Hanya Luhan yang mampu membuatnya merasakan banyak hal yang berbeda dan merasakan emosi yang begitu kompleks. Dia tidak bisa membenci orang seperti Luhan, dan perlahan bagian dalam dirinya yang saat itu marah perlahan melembut.

Jinri begitu terjebak dalam senyum Luhan yang begitu menawan, sampai-sampai dia tidak menyadari ketika Luhan memasukkan tangan kanannya kedalam saku celananya, dan meletakkan koin yang lain didalam sana. Jinri tidak sadar bahwa sebenarnya terdapat dua buah koin yang Luhan sembunyikan dikedua tangannya saat Luhan tengah menyembunyikan koin tersebut dibelakang punggungnya. Luhan tidak bermaksud membohongi Jinri apalagi menipunya, dia hanya ingin agar Jinri segera memaafkan dirinya. Luhan tersenyum kepada dirinya sendiri saat ide yang dia rencanakan berjalan dengan sukses.

“Jinri-ah” tiba-tiba saja suasana berubah menjadi sunyi ketika Luhan memanggil namanya Lagi, dan tiba-tiba saja jantung Jinri kembali berdetak tidak karuan, Jinri bahkan mengalihkan pandangannya kebawah karena tidak bisa menatap Luhan lagi saat ini. “W-waeyo?” Jinri kesal kepada dirinya sendiri ketika membuat suaranya terdengar gagap untuk kesekian kalinya, dia merasa begitu bodoh. Luhan disisi lain, juga merasa kesal karena Jinri enggan untuk menatapnya lagi, apakah Jinri masih marah terhadapnya? Jika benar maka dia tidak tahu harus berbuat apa lagi agar membuat Jinri dapat memaafkannya. Lalu tiba-tiba saja perkataan Sehun yang absurd terlintas dibenak Luhan. Dan tanpa banyak pikir Luhan menyentuh dagu Jinri kemudian membuat Jinri menatap wajahnya, setelah itu dia melakukan hal yang berada jauh diluar akal sehatnya. Jinri terlambat menyadari saat wajah Luhan perlahan mendekat hingga akhirnya bibir Luhan pun mendarat lembut di bibirnya.

Jinri terbelalak. Terkejut dengan apa yang tengah terjadi. Selama beberapa detik mereka tetap dalam posisi yang sama, hingga akhirnya Luhan menjauhkan wajahnya perlahan, lalu menatap mata Jinri dengan jarak diantara wajah mereka yang masih begitu dekat. Sementara Jinri masih terdiam terpaku di tempatnya, akal sehatnya masih belum dapat menyerap apa yang baru saja terjadi, dan setelah beberapa detik, Jinri mengerjapkan matanya yang sejak tadi masih terbelalak, kemudian berteriak tepat diwajah Luhan. “Yah! Apa yang kau lakukan Luhan?! Kenapa tiba-tiba saja kau menciumku?!” Kedua pipi Jinri terlihat merona begitu merah, dia tidak bisa mengatur emosinya saat ini, dia merasa seperti sedang dipermainkan, dia begitu marah namun juga binggung dalam waktu yang bersamaan, dan ada sebuah emosi yang mulai mengatur jalan pikirnya, dan tiba-tiba saja air mata kembali bermunculan membendung dikedua matanya.

“Kau jahat sekali Lu… mengapa kau terus-menerus mempermainkan perasaanku? Kau selalu berubah setiap kali aku melihatmu, terkadang kau begitu baik dan membuatku begitu senang, lalu tiba-tiba saja kau berubah menjadi begitu jahat,” Jinri mencoba melanjutkan kalimatnya sambil menahan agar air matanya tidak terjatuh, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Luhan, namun suara yang dia keluarkan justru terdengar begitu lemah tanpa dia sadari. “Sebelumnya aku tidak pernah membiarkan diriku seperti ini, membiarkan diriku jatuh kepada orang lain, dan aku sama sekali tidak pernah merencanakan hal itu. Tapi kau datang dan semuanya berubah… sebenarnya aku hanya merasa begitu takut Lu… takut jika aku akan jatuh terlalu dalam, aku bahkan tidak mengenali siapa diriku lagi… aku benci padamu Lu,” Jinri berbisik, mengatakan hal yang berlawanan dengan apa yang dia rasakan kepada Luhan, karena untuk beberapa alasan dia tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya. “Aku benci padamu Luhan” Jinri mengulang ucapannya serta meluapkan seluruh emosi dan perasaan yang dia rasakan kepada Luhan, dia berada pada tahap emosional yang begitu berantakan, dia pun tidak dapat mencegah agar air matanya tidak turun membasahi kedua pipinya lagi.

“Kau tidak perlu takut, kau tidak perlu takut karena aku akan menangkapmu sebelum kau terjatuh” Luhan memandang Jinri dengan tatapan begitu lembut, gadis ini terlihat begitu mempesona dimatanya ketika dia mencoba membuat dirinya terlihat sekuat mungkin dihadapannya, namun sebenarnya gadis ini juga terlihat begitu lemah pada waktu bersamaan. “Mianhe karena aku terus mempermainkan perasaanmu, namun aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu,” Luhan menghapus air mata yang tengah berjatuhan dikedua pipi Jinri, “Aku berjanji bahwa aku tidak akan menyakitimu lagi, kau begitu berharga bagiku, dan aku sadar bahwa aku begitu menyukaimu Jinri-ah” Luhan tidak ingin membohongi perasaannya lagi dan mengatakan segalanya yang dia rasakan saat ini, walaupun terdapat begitu banyak kata yang ingin dia ucapkan, namun tidak ada satupun yang berhasil keluar dari mulutnya saat ini. Namun tatapan matanya cukup menunjukkan bahwa perkataan yang baru saja dia ucapkan memang benar-benar tulus.

Jinri tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia tidak percaya bahwa orang seperti Luhan menyatakan perasaan kepada orang sepertinya, dia tidak tahu harus berkata apa, dia tidak tahu harus berbuat apa, namun yang jelas dia merasa begitu bahagia. “Jika kau tidak percaya padaku, kau boleh pergi dari tempat ini,” Luhan berkata sambil mendekatkan wajahnya kewajah Jinri, mendekat dan semakin mendekat. Suara detak jantung Jinri terdengar begitu nyaring, sampai-sampai dia takut jika Luhan bisa mendengar suara detak jantungnya. Namun ada suatu hal yang membuat Jinri melupakan hal tentang detak jantungnya saat ini, yaitu ketika dia melihat wajah Luhan yang terlihat merona, wajah seorang Luhan yang sebelumnya selalu dingin dan tidak berekspresi berubah menjadi begitu lucu dan mempesona.

“Tapi jika kau percaya padaku maka… close your eyes” Jinri dapat merasakan nafas Luhan berhembus diwajahnya. Dan dengan sangat amat perlahan Jinri mulai menutup kedua matanya dan mengizinkan bibir Luhan menyentuh bibirnya sekali lagi. Jantung Jinri berdenyut tidak karuan, jutaan kupu-kupu seolah-olah sedang beterbangan di dalam perutnya, dia tidak dapat berdiri dengan tegak akibat kakinya yang terasa begitu lemas saat ini, tapi untung saja Luhan memeluk pinggangnya dengan erat, mencegahnya agar tidak terjatuh. Kembang api seolah-olah seperti sedang meledak diluar sana ketika Luhan memperdalam ciuman mereka. Hanya Luhanlah yang dapat membuat perasaannya menjadi seperti ini. Membuat perasaannya menjadi tidak karuan.

“Saranghae” Luhan berkata disela-sela ciuman mereka, perkataanya sungguh sangat manis, jujur, ​​dan penuh dengan segala sesuatunya yang tertinggal dan belum sempat terucap saat itu.

Dan pada akhirnya, setelah sekian lama, lubang di hati Jinri berhasil tertambal sepenuhnya. Dijahit, dicap, dan ditandatangani oleh Luhan. Jinri tersenyum.

Ternyata orang-orang mainstream tidak seburuk yang dia pikir.

The End

Anyyeong! Makasih buat para chingu yang udah support aku buat nyelesain FF pertamaku ini 😀
Nantikan FF aku yang berikutnya oke! 😀
Comments are loved ❤

69 pemikiran pada “Fall (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan ke kekemato Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s