Saranghaeyo Ahjussi (Chapter 2)

[PIC] ~Saranghaeyo Ahjussi^^~ Chapter 2

Saranghaeyo Ahjussi (Chapter 2)

Author: DebDeb

Length: Chaptered

Genre: Romance, Family, School Life, AU

Rating: Teenager

Cast:-Lee Youra (Fiction)

-Wu Yi Fan/Kris (EXO-M)

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Im Yoon Ah/Yoona (SNSD)

-Kim Jae Joong (JYJ)

-Lee Yourin (Fiction)

-Song Qian/Victoria (F(X))

-Kim Jae In (Fiction)

Disclaimer:Cast adalah milik mereka sendiri, Tuhan, dan Orang Tua mereka. Tapi ‘Fiction’ adalah fiksi.  Cerita milik Author. Tidak ada plagiat apapun karena cerita ini murni 100% ‘Imajinasi’ Author. Maaf sekali jika ada kesamaan nama ataupun latar belakang cerita. Nama sekolah maupun perusahaan disini adalah fiksi.

~Happy Reading~

Kris berdiri sambil menggosokan kedua telapak tangannya di depan sebuah toko yang sudah tutup. Asap tipis terlihat keluar dari mulutnya ketika ia menghembuskan napas.

“Kris-ssi!”, Youra berteriak setengah terdengar karena suara hujan yang berisik. Kris yang mendengar suara seorang yeoja yang memanggilnya memalingkan wajahnya ke seluruh arah. Wajahnya yang pucat karena kedinginan dan matanya yang sudah menyipit mendapati Youra yang berlari ke arahnya dengan cepat.

“Youra-ssi?”, kata Kris ketika Youra sudah mendekat dan berdiri di sebelahnya.

“Pakai ini.”, kata Youra yang kemudian memeberikan sebuah payung pada Kris. Kris menatap Youra penuh tanya. Ia siap mengeluarkan beberapa kata sebelum Youra mengambil kantung plastik berisi barang-barang belanjaannya dan menariknya.

DEG

Jantung Kris berdetak kencang begitu tanpa sadar Youra sudah menariknya. Kris membelalakan matanya kaget. Kenapa ia harus berdebar-debar?

“Bagaimana bisa?”, tanya Kris pada Youra yang sudah berhasil mengontrol detakan jantungnya. Kris memegang payung dengan tangan gemetar. Youra hanya menatap Kris kemudian dengan cepat melepaskan pegangan tangannya. Kris merasa sedikit kecewa begitu genggaman tangan Youra yang cukup hangat terlepas begitu saja.

“Aku. Aku. Entahlah. Aku hanya sedang berajalan lalu melihat Kris-ssi.”, kata Youra berbohong.

“Gomawo. Aku berhutang padamu.

“Aniyo. Justru memang seharusnya aku membantu Kris-ssi kan? Lagipula aku sudah membuat tangan Kris-ssi terluka.”, kata Youra.

“Terluka? Ini hanya luka goresan kecil.”, kata Kris.

Kris hanya tersenyum kecil dan menatap jalanan di depannya. Sorot matanya yang dingin membuat Youra mengurungkan niatnya untuk berbicara menanyakan keadaannya.

~**^^**~

Kris membuka matanya dengan berat ketika sinar matahari masuk melalui sela-sela jendela. Kris sedikit menyipitkan matanya. Kerongkongannya terasa sakit dan kering, hidungnya terasa tak dapat menghirup oksigen dengan baik. Badannya terasa tak enak dan ia merasa sangat lemas bahkan hanya untuk berdiri.

Kris bangun terduduk lalu memegang keningnya. Tangannya yang panjang mengambil ponselnya dan mengetikan sebuah pesan.

To: Jae Joong Hyung

Hyung. Bisa kerumahku hari ini? Sepertinya aku demam, flu atau semacamnya. Entahlah. Jangan katakan apa-apa pada Eomma, Jae In ataupun Dad.

Kris menaruh ponselnya dan mengerang merutuki dirinya. Ia sangat membenci dirinya ketika sakit. Karena ketika itulah ia terlihat lemah dan tak dapat melakukan apapun. Kris akan mengingat hari ini. Hari dimana akhirnya ia jatuh sakit lagi setelah bertahun-tahun lalu. Terutama ketika hal itu terjadi.

~**^^**~

“Kemarin sore saat hujan deras kau kemana?”, tanya Nyonya Lee pada Youra yang sedang duduk dan menyantap makan siangnya sambil menonton TV di Sofa ruang tengah.

“Hmmm? Aku hanya melupakan sesuatu. Jadi aku keluar.”, kata Youra ringan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan pada Eomma-nya agar tak di curigai sedikitpun.

“Melupakan sesuatu? Kenapa lama sekali? Memang apa yang kau lupakan? Coba ceritakan pada Eoma bagaimana bisa kau kembali dengan keadaan yang sudah setengah basah kuyup. Untung saja kau tidak sakit.”, kata Nyonya Lee.

“Omo! Aku melupakan sesuatu! Nanti kita bicara lagi ya Eomma!”, kata Youra yang dengan cepat menaruh piringnya ke meja dan berlari dengan cepat menuju kamarnya. Nyonya Lee yang melihat tingkah Youra hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.

Youra berdiam diri di kamarnya sambil tertidur dan menatapi langit-langit kamarnya. Liburan pertamanya hanya bisa ia habiskan dengan bersantai.

Jika mengingat apa yang Eommanya bicarakan tadi, pikirannya hanya mengarah pada Kris. Entahlah mengapa. Tapi yang pasti Youra sangat bingung. Rasanya aneh memang. Bagaimana ia bisa begitu perhatian dengan namja yang baru saja ia kenal. Selain itu Youra kadang juga heran dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat dan wajahnya yang berubah merah saat melihat Kris.

“Youra!”, suara Nyonya Lee terdengar dari bawah. Mengagetkan Youra. Youra pun segera berjalan keluar dan melihat Nyonya Lee dari lantai atas.

“Wae Eomma?”, katanya kepada Nyonya Lee dari lantai atas.

“Eomma berangkat ke butik ya. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Jangan lupa kunci pintunya.”, kata Nyonya Lee mengingatkan Youra. Youra yang merasa harus menemani Eomma-nya itu segera turun melewati tangga lalu mengantar Nyonya Lee sampai ia masuk ke dalam mobil.

Youra melambaikan tangannya sampai ia melihat mobil yang dikendarai Nyonya Lee sudah melewati gerbang mereka. Youra melangkah kembali ke dalam rumah sebelum ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia menolehkan kepalanya menuju rumah di sebelah kirinya, matanya menatap rumah Kris dari pembatas rumah mereka yang hanya setinggi leher orang dewasa.

“Kenapa lampu depannya belum dimatikan? Ini kan sudah siang?”, kata Youra agak khawatir. Youra mengingat kembali kejadian kemarin. Apa mungkin Kris sakit? Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi jika melihat keadaan Kris kemarin. Wajah pucat, dan tubuh yang gemetar karena kedinginan. Youra bergegas berjalan ke depan pintu rumahnya dan mengunci pintu itu. Youra lalu berjalan menuju rumah Kris yang pintu gerbangnya terbuka lebar.

Youra menyipitkan matanya ketika melihat mobil Sport putih yang mewah terparkir tepat di depan rumah Kris. Youra hanya mengangguk karena tak asing lagi melihat mobil yang kemarin hampir menabraknya. Dengan langkah pelan Youra berjalan menuju pintu depan rumah Kris.

“Ting tong.”, Youra menekan bel yang terletak di kanan atas pintu rumah itu. Youra menunggu sebentar dan mengurungkan niatnya ketika mendengar sebuah suara di balik pintu.

KLEK

Wajah Jae Joong yang sedang panik menyambut Youra. Youra yang mengenali Jae Joong sebagai teman Kris dan bukan Hyung tiri-nya hanya tersenyum.

“Kau bukankah yeoja yang kemarin hampir aku tabrak? Lee Youra kan? Mianhae atas kemarin ya.”, tanya Jae Joong.

“Ne. Annyeong Haseyo. Tidak apa-apa, tapi bagaimana anda bisa tahu nama saya?”, kata Youra membungkukan tubuhnya. Jae Joong pun tersenyum lalu membungkuk juga.

“Kris yang memberi tahu tentangmu. Oh iya, ada yang bisa saya bantu?”, tanya Jae Joong.

“Bisa saya bertemu dengan Kris-ssi?”, tanya Youra. Matanya mengintip ke dalam rumah. Aneh. Tak ada Kris di sana. Kemana dia?

“Oh Kris. Anak itu sedang sakit. Mianhae.”, kata Jae Joong dengan berat hati.

“Sebentar. Kau pelajar kan?”, tanya Jae Joong.

“Ne.”, jawab Youra sambil mengangguk.

“Tapi kau memanggil Kris dengan Kris-ssi. Aku kira kalian sebaya. Tapi kemarin kau menggunakan seragam sekolah.”, kata Jae Joong bingung.

“Hmm.. Iya harusnya aku tidak memanggil begitu. Tapi aku bingung harus memanggil apa.”, kata Youra sambil tersenyum kecil.

“Ahjussi.”, kata Jae Joong.

“Apa itu tidak menyinggung perasaannya?”, tanya Youra lugu. Jae Joong hanya mengedikan bahunya dan tersenyum.

“Oh begitu. Baiklah. Maaf jika sudah mengganggu.”, kata Youra. Youra ingin berpamitan pulang ketika ponsel Jae Joong berbunyi nyaring. Jae Joong tersenyum kecil kepada Youra lalu dengan sigap mengambil ponselnya dan menjawab telepon itu.

“Ne. Omo! Aku lupa. Iya aku akan kesana sekarang Appa. Tunggu ne?”, kata Jae Joong kemudian memutuskan teleponnya. Wajahnya yang tadinya ramah berubah bingung dan panik.

“Lee Youra.”, kata Jae Joong.

“Ne?”

“Bisakah kau menjaga Kris dulu? Aku harus bekerja sekarang. Tapi aku tak tega meninggalkannya sendirian.”, kata Jae Joong. Youra membulatkan matanya tak percaya mendengar kata-kata Jae Joong. Bagaimana bisa?

“Mwo? Tapi bagaimana kalau Kris-ssi bertanya tentang anda?”, kata Youra terhenti ketika Jae Joong memotong kata-katanya.

“Bilang saja aku terlambat bekerja dan menyuruhmu untuk menjaganya.”, kata Jae Joong. Ia berjalan cepat ke arah Sofa dan mengambil jas beserta tas kerjanya.

“Tapi..”, kata Youra berusaha menolak. Ia mencari-cari alasan yang bagus kali ini.

“Oh iya. Youra. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Aku yakin ini agak aneh memang. Tapi Kris itu agak sedikit ‘Aneh’ dan kurang peka terhadap sesuatu ketika sedang sakit. Jadi tolong maklumi saja ne?”, kata Jae Joong.

“Aneh?”, kata Youra bingung.

“Kau akan tahu nanti. Astaga. Aku sudah telat. Aku mohon padamu Youra. Kris masih ada di kamarnya di lantai atas. Tolong ya. Aku titip Dongsaeng-ku sampai aku kembali.”, kata Jae Joong yang berjalan meninggalkan Youra yang terdiam tak percaya dengan mata membelalak.

“Dongsaeng?”, kata Youra bingung. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Bagaimana ia bisa diam saja dan tidak menolak?

Youra menutup pintu kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju bagian atas rumah Kris yang tak berbeda dengan rumahnya yang memang masih satu tipe. Youra berjalan pelan sambil mengira-ngira di mana Kris. Dengan jantung yang berdebar-debar Youra berjalan ke depan sebuah pintu mengikuti kakinya mengarah.

“Tok tok tok.”, Youra mengetukan tangannya ke pintu.

“Tunggu Hyung.”, sebuah suara berat namun serak menjawab dari balik pintu. Youra yang kaget menutup mulutnya. Otaknya bekerja keras. Apa yang terjadi jika Kris melihatnya disini? Bagaimana ia menjelaskannya?

KLEK

Youra membelalakan matanya ketika melihat Kris yang baru saja membuka pintu kamarnya. Tangan kanan Kris menggenggam gagang pintu, sedangkan tangan kirinya memegang kaus putihnya yang belum ia pakai setelah mandi. Rambutnya yang basah dan tatapannya yang sendu berubah begitu saja ketika melihat bukan Hyung-nya yang berdiri di sana.

Youra melihat Kris dengan mata terbelalak. Wajah Youra memerah seketika saat melihat keadaan Kris yang hanya menggunakan celana pendek selutut dan belum mengenakan bajunya.

“Apa yang aku lihat!”, kata Youra dalam hati. Seketika itu juga Youra segera menutup kedua matanya dengan telapak tangannya lalu terdengar suara pintu tertutup di depannya.

Youra secara perlahan menurunkan telapak tangannya dari wajahnya dan mengatur napasnya. Youra menjambak kasar rambutnya dan memukul kepalanya merutuki kebodohannya. Bodohnya ia menutup matanya saat itu? Kenapa ia tidak menunduk saja?

“Kurus.”, kata Youra tak menyadari apa yang ia katakan saat itu.

“Memang. Aku bukan maniak yang suka menumbuhkan Abs dan semacamnya.”, tiba-tiba sebuah suara berat yang terdengar parau membuat Youra menyadari bahwa sekarang Kris ada di hadapannya. Youra tak percaya. Harusnya ia menyadari kalau sekarang Kris sudah ada di depannya!

“Mianhae.”, kata Youra dengan wajah bersalah dan memerah. Satu. Ia menemukan satu hal yang aneh saat Kris sakit. Kris tampak menyeramkan dan tidak bersahabat sama sekali.

~**^^**~

“Jadi Hyung-ku yang menyuruhmu untuk menjagaku karena ia harus bekerja?”, kata Kris memastikan setelah ia mendengar penjelasan dari Youra. Youra tak berbicara. Ia hanya mengangguk membenarkan. Kris terdiam lalu beranjak dari sofa. Tangannya memegang sandaran Sofa untuk membantunya berdiri. Youra yang melihat keadaan Kris kemudian membantunya.

“Ahjussi sudah minum obat?”, tanya Youra. Youra menelan liurnya lega karena Kris tidak keberatan dengan panggilan barunya itu. Berarti benar. Dua. Kris tidak begitu peka dengan sekelilingnya ketika sakit.

Kris memejamkan matanya begitu mendengar kata ‘Obat’ dan menggelengkan kepalanya berusaha untuk bersikap biasa agar Youra tak mengetahui apapun. Tapi ia agak bingung mendengar sesuatu yang aneh, sayangnya Kris terlalu malas untuk mempermasalahkan itu.

“Sarapan?”

Lagi-lagi Kris menggelengkan kepalanya.

“Ini kan sudah siang. Tapi Ahjussi belum sarapan atau minum obat?”, Youra sedikit tak percaya.

“Lagipula kenapa harus minum obat? Aku tak apa-apa. Tak perlu repot.”, kata Kris. Tanpa berbicara lagi Youra segera menarik Kris untuk duduk kembali di Sofa. Youra yang merasa harus membantu Kris segera meletakan tangannya di dahi Kris.

“Suhu tubuh Ahjussi panas. Suara juga berubah serak. Hidung juga memerah. Pasti Ahjussi demam.”, kata Youra.

“Aku rasa tidak. Aku baik-baik saja. Aku kembali ke kamarku dulu. Maaf telah merepotkanmu.”, kata Kris mengelak. Kris sedikit terheran ketika menyadari perlakuan Youra yang perhatian padanya. Dengan lemah ia berjalan menuju kamarnya.

Youra masih menatap punggung Kris dari tempatnya higga ia menghilang di ujung tangga.

Youra hanya terdiam dan merasa tak ada yang harus ia bantu. Youra pun segera berjalan menuju pintu depan dan berniat membuka pintu itu. Lebih baik ia pulang kan daripada ia harus menunggu di rumah ini?

“Aku titip Dongsaeng-ku sampai aku kembali.”, suara Jae Joong terdengar memenuhi otak Youra. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Kris? Apa salahnya membantu orang lain kan? Lagipula kasihan jika ia meninggalkan Kris sendirian dalam keadaan sakit, belum makan dan belum meminum obat.

“Ishhh.. Kenapa aku harus repot? Lebih baik aku kembali kerumah dan bersantai. Lagipula katanya ia tak apa-apa.”, kata Youra yang kemudian membuka pintu dan melangkah keluar. Belum sempat ia menutup pintu, Youra segera masuk kembali dan berjalan menuju dapur.

“Aduh kenapa aku kesini? Aishh! Aku ini kenapa?”, kata Youra mengacak- acak rambutnya.

~**^^**~

Youra memasukan bubur ke dalam mangkuk putih yang ia pegang. Youra dengan hati-hati meletakan sendok di samping mangkuk dan meletakannya dalam sebuah nampan berwarna coklat.

“Selesai. Aku harap rasanya tidak buruk.”, kata Youra menarik napasnya dalam-dalam. Youra kemudian meletakan gelas yang sudah ia isi dengan air putih hangat. Youra menghembuskan napasnya kemudian membawa nampan itu dengan hati-hati. Youra berjalan menuju kamar Kris dengan pelan.

“Tok. Tok. Tok.”, Youra mengetuk pintu dan menunggu sampai Kris membukakan pintu itu. Tapi nihil. Youra memiringkan kepalanya ke samping dan berpikir sebentar.

“Tak mungkin aku tinggalkan bubur ini disini. Apa aku masuk saja?”, tanya Youra dalam hati. Youra menghembuskan napasnya dan membuka pintu kamar Kris perlahan. Baru saja Youra masuk ia sudah mendapatkan Kris yang sedang berbaring tertidur.

“Tidur?”, tanya Youra pelan. Ia segera berjalan menuju samping tempat tidur Kris tanpa bersuara agar tidak membangunkan Kris yang sedang tertidur di tempatnya. Youra meletakan nampannya di atas meja kecil di samping tempat tidur dan memandangi wajah Kris.

“Ahjussi?”, kata Youra sambil membungkukan tubuhnya dan melambaikan tangannya di atas wajah Kris.

“Dia tertidur..”, kata Youra yang kemudian segera menegakkan tubuhnya dan berjalan pelan menuju pintu.

“Aku heran. Kenapa aku harus repot seperti ini? Memangnya kenapa?”, Youra berhenti tepat di depan pintu kamar Kris. Rasanya berat sekali ia meninggalkan ruangan itu.

“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..”, Youra segera membalikan tubuhnya dan melihat Kris yang sudah bangun terduduk sambil terbatuk-batuk. Youra yang merasa khawatir segera berjalan menuju Kris.

“Youra-ssi? Kau masih disini?”, kata Kris bingung setelah ia sudah bisa meredakan batuknya.

“Ne. Mianhae jika mengganggu. Aku hanya khawatir. Jadi aku buatkan bubur itu.”, kata Youra kemudian menunjuk mangkuk putih berisi bubur yang uapnya masih terlihat jelas kemudian tersenyum.

DEG

Jantung Kris berdetak kencang ketika melihat Youra tersenyum. Entah kenapa tapi senyum dan mata Youra selalu mengingatkan Kris pada mendiang ibunya. Dan Kris sudah menyadarinya sejak bertemu di Bus pertama kali.

~**^^**~

Tangan Youra memegang sebuah lap berwarna putih. Tangannya bergerak hati-hati membersihkan barang-barang di ruang tengah Kris. Sambil menggumam dan menyanyi bebas sesukanya dengan suara kecil agar Kris tidak mendengar, Youra segera mengambil sapu dan menyapu ruangan tersebut.

“Ehhhh.. Kenapa aku jadi seperti pembantu rumah tangga begini?”, kata Youra pada dirinya sendiri. Youra menegakan tubuhnya. Tangannya memegang sapu yang ada di depannya. Youra terdiam sebentar.

Jika dipikir-pikir, dari kemarin Youra sudah terlalu banyak membantu Kris. Tapi jika ia mengingat jasa Kris, Youra yakin ia pantas melakukannya. Tak ada yang salah kan kalau ia membantu seseorang? Memangnya akan ada orang yang melarangnya melakukan suatu hal yang baik?

Youra berjalan menuju sebuah ruangan di dekat dapur yang berfungsi sebagai gudang. Ia menaruh sapunya di dekat dapur dan memasuki gudang itu hanya untuk sekedar melihat. Matanya menangkap sebuah kotak kardus yang tidak berdebu dan kelihatan baru di letakan disana. Sebuah album foto besar terlihat di taruh asal di dalam kotak itu.

Youra berjalan mendekat dan mengambil beberapa album dari kardus itu lalu membawanya ke meja bar yang terletak di dapur.

Tangannya membuka album tersebut dan melihat setiap foto yang ada di dalam album itu. Di album pertama Youra melihat seorang anak laki-laki yang berkulit agak hitam yang sedang memegang bola dan memakai baju basket berwarna merah sambil tersenyum. Senyum Youra mengembang begitu bisa menebak siapa anak itu.

“Anak ini…”, kata Youra sambil tertawa. Youra menyipitkan matanya begitu melihat beberapa foto selanjutnya yang sedikit membuatnya mengernyit. Anak laki-laki yang Youra ketahui sebagai Kris itu terlihat berfoto bersama seorang anak perempuan berambut hitam panjang, kulit perempuan itu putih, wajahnya pun sangat cantik.

Youra membuka-buka halaman album itu dengan malas begitu melihat banyak sekali foto anak perempuan itu. Dari yang terlihat hanya berfoto bersama sambil tersenyum, sambil memakan Ice Cream, bahkan sampai saling merangkul satu sama lain. Youra mengerucutkan bibirnya dan menutup album foto itu.

Matanya kembali melihat satu lagi album foto di sebelahnya. Begitu membuka album itu Youra hanya melihat sebuah foto keluarga yang terlihat begitu harmonis.

“Kanada.”, kata Youra membaca sebuah tulisan di foto tersebut yang terletak di ujung foto. Youra kembali membuka album dan mendapati sebuah foto pernikahan. Di sana seorang laki-laki yang memakai jas hitam sedang berdiri dengan seorang wanita. Laki-laki itu Youra yakini sebagai orang yang ia lihat di foto sebelumnya. Tapi mengapa wanitanya berbeda?

Youra juga memerhatikan foto seorang anak berpakaian jas dengan dasi kupu-kupu yang tersenyum hambar. Di sampingnya berdiri anak laki-laki berwajah cantik yang tersenyum senang. Berbeda 180̊ dengan anak tadi.

“Jangan-jangan namja tadi itu kakak tirinya?”, kata Youra terhenti. Ia membuka halaman terakhir dan melihat sebuah foto wanita cantik.

“In memorian my lovely Mom.”, kata Youra membaca tulisan tangan yang di ukir seindah-indanhnya di halaman terakhir foto itu. Youra menghembuskan napasnya dan mengerti walau ia tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan. Tapi jika ia benar, ia bisa menebak jika Ayah dari Kris menikah dengan wanita lain setelah ibu kandung Kris meninggal. Dan Jae Joong pastilah saudara tiri Kris.

“Kasihan..”, kata Youra.

BLAM

Youra segera turun dari kursi tinggi di meja bar di dapur begitu mendengar suara pintu tertutup. Siapalagi jika bukan Kris? Karena tak ingin terlihat lancang melihat hal-hal pribadi Youra segera kembali ke gudang dan menaruh album tersebut di dalam kotak lalu berjalan kembali ke dapur sambil pura-pura mencuci tangannya.

“Youra-ssi.”, suara Kris yang berat membuat Youra membalikan tubuhnya dan menatap Kris.

“Ne?”, tanyanya.

“Maaf merepotkanmu. Seharusnya kau tak perlu repot begini. Aku sungguh tidak enak.” Kata Kris bersalah.

“Ani. Aku tak keberatan untuk membantu.”, kata Youra sambil tersenyum senang. Ia mematikan keran air dan mengelap tangannya.

Kris hanya mengangguk kemudan terdiam. Lagi-lagi kekurangan bahan pembicaraan. Kris menggigit bibir bawahnya dan berpikir akan berbicara apa.

“Ah iya. Ahjussi harus minum obat dulu.”, kata Youra sambil berjalan keluar dapur tanpa menyadari wajah Kris yang berubah pucat pasi dan terkejut. Kris meneguk ludahnya sekuat-kuatnya dan melangkahkan kakinya yang terasa lumpuh menuju ruang tengah. Youra mengambil sebuah kantung obat di meja makan dan memberikannya pada Kris.

“Biar aku ambil airnya dulu.”, kata Youra sambil berjalan menuju dapur sebelum Kris menghentikannya.

“Ani. Biar aku. Aku sudah merepotkanmu kan?”, kata Kris yang kemudian berjalan menuju dapur lalu kembali dengan sebuah gelas berisi air di tangannya. Youra berjalan mendekat dan berhenti di depan Kris.

“Maaf.”, kata Youra menggantung dan kemudian berjinjit lalu menyentuh dahi Kris dengan punggung tangannya. Youra kemudian mengambil obat tanpa mengetahui pipi Kris yang sedikit demi sedikit memerah.

Rasanya begitu asing bagi Kris, ia sudah begitu lama tak pernah berurusan dengan seorang yeoja. Sehingga membuatnya susah untuk beradaptasi ketika seorang yeoja dekat dengannya. Entah kenapa.

“Ini obatnya. Demam Ahjussi sudah sedikit turun. Mungkin Ahjussi hanya lelah.”, kata Youra sambil memberikan obat itu ke tangan Kris.

Kris menatap obat itu dengan jijik dan takut. Ia menggertakan giginya hingga membuat Youra yang berada di sampingnya kebingungan.

“Ada apa?”, tanya Youra bingung.

“Ani.”, kata Kris. Ia melihat Youra yang menatapnya dan menyuruh Kris agar segera meminum obat tersebut. Dengan tangan bergetar Kris merobek bungkus obat tersebut dan mengeluarkan isinya dengan wajah penuh kesedihan.

“Gwenchana?”, tanya Youra.

Kris terdiam. Tangannya terus menggerakan obat itu menuju mulutnya. Mata Kris sudah berkaca-kaca sedari tadi. Tapi tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya pada Youra.

Tak berapa lama Kris memasukan obat itu ke mulutnya dan mengambil air dengan cepat dan meminumnya. Kris terbatuk keras dan meletakan kepalan tangannya di depan mulutnya.

“Omo…”, kata Youra khawatir. Youra dengan refleks menyentuh pundak Kris dan mengelusnya pelan. Tiga. Ada sesuatu yang aneh sehingga membuat Kris begitu susah untuk meminum obat saat sakit.

TING TONG

Suara bel berbunyi terdengar nyaring. Kris segera berdiri sebelum Youra berdiri dan menghalanginya. Youra memandang Kris dengan khawatir dan memintanya kembali duduk. Youra melihat wajah Kris yang begitu sedih dan takut. Entah kenapa. Tapi Youra merasa bukan saatnya untuk bertanya pada Kris.

Kris yang melihat Youra berjalan menjauh segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menghirup udara sekuat-kuatnya dan menghembuskan udara itu pelan. Satu bulir air mata keluar dari sela-sela mata Kris yang sudah berkaca-kaca dan memerah.

“Aku pengecut.”, kata Kris. Ia menghapus jejak air matanya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.

Youra berjalan menuju pintu depan dan membukanya.

Rasanya tampak tak asing. Pernakah kalian merasakan jika seseorang pada masa kecilnya tak akan terlihat berbeda jauh dengan saat mereka sudah dewasa? Dan itulah yang Youra lihat saat ini. Rasanya seperti kebetulan sekali. Ia baru melihat sekali tapi kemudian bisa segera bertemu.

Seorang yeoja cantik berkulit putih, berambut hitam bergelombang dengan wjaah yang cantik kini berdiri di depannya. Sepatu Boots kulit beserta rok jeans tan T-Shirt putih berlengan seperempat terlihat cantik dan mewah jika di kenakan yeoja itu.

“Annyeong Haseyo.”, kata Youra menyapa. Ia mengenyahkan bebagai pertanyaan di kepalanya dan menatap yeoja tersebut. Yeoja yang ia tatap menatap balik Youra dengan sangsi sekaligus bingung.

“Apa benar in rumah Wufan?”, tanya yeoja itu. Youra kemudian mengangguk dan membuka pintu lebih lebar.

“Benar. Ada apa ya?”, tanya Youra.

“Bisa aku bertemu dengannya?”, tanya yeoja tersebut. Youra mengangguk lalu menatap ke dalam rumah.

Tanpa memanggil Kris, Youra sudah melihat Kris yang sedang berjalan ke arahnya sambil memgang sebuah gelas setelah meminum obat. Kris yang baru melihat tamunya hanya bisa membelalak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan berharap ini hanya mimpi.

“Wufan.”, kata yeoja itu memanggil Kris.

“Mau apa kau disini?”, tanya Kris yang wajahnya sekarang berubah drastis menjadi dingin. Youra seketika merasa takut saat melihat ekspresi Kris saat itu. Ada apa?

~**^^**~

“Aku dipindah tugaskan sementara ke Seoul oleh Brand Fashion tempatku bekerja. Jadi aku berinisiatif mengunjungimu.”, kata yeoja itu. Youra menatapnya ingin tahu sambil mengangkat alisnya ke atas karena bingung. Entahlah Youra merasa ada sesuatu antara yeoja di depannya dengan Kris.

“Dari mana kau tahu aku ada disini?”, tanya Kris dengan nada menginterogasi.

“Aku menelpon Jae In dahulu sebelumnya.”, kata yeoja itu dengan wajah bersalah. Youra melihat yeoja itu sedang menggigit bibir bawahnya.

“Pintar. Kau mendapatkan informasi dengan memanfaatkan Jae In.”, kata Kris dingin tanpa melihat wajah yeoja itu yang sudah memerah.

“Mianhae. Aku tahu aku salah.” Kata yeoja itu.

“Lebih baik kau pulang Yoona. Aku sedang lelah.”, kata Kris pada yeoja yang ternyata bernama Yoona itu. Kris membalikan tubuhnya dan berjalan masuk. Kris berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya tak perduli.

Youra memandang dengan wajah gelagapan bingung. Apa yang akan ia lakukan? Tak mungkin ia menutup pintu begitu saja. Tapi ia mau berbicara apa?

“Mianhae. Ia sedang dalam keadaan kurang sehat.”, kata Youra. Yoona hanya mengangguk kemudian berjalan menjauh menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah Kris.

~**^^**~

“Tok tok tok..”

“Masuk.”

Youra membuka pintu kamar Kris di depannya dan berjalan masuk. Hembusan angin yang berasal dari balkon yang pintunya terbuka menerbangkan anak rambut Youra ke belakang. Youra yang melihat Kris sedang menatap ke bawah lewat balkonnya kemudian berjalan menghampiri.

“Aku pamit. Obatnya sudah ku letakan di meja ruang tengah. Semoga cepat sembuh.

“Gomawo atas bantuanmu. Mianhae sudah merepotkan.”, kata Kris sambil menatap Youra.

Youra mengangguk kemudian dengan cepat pergi meninggalkan Kris menuju pintu kamarnya dan keluar. Youra dapat melihat wajah Kris yang begitu sendu. Apa ini yang di maksudkan ‘Aneh’ oleh Jae Joong? Walaupun samar tapi Youra sudah menyadari dari perubahan wajah Kris, sikapnya dan hal aneh yang terjadi saat ia meminum obatnya.

~**^^**~

“Aku tidak mau.”, kata Kris tegas pada Jae In lewat telepon. Suara Kris terdengar lebih ringan dari kemarin. Suhu tubuhnya pun juga sudah turun menjadi normal.

“Tapi Eomma yang menyuruh. Katanya kita bertiga harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Jae Oppa juga setuju. Lagipula ini kan Hari Minggu.”, kata Jae In meyakinkan. Ia terus berbicara membujuk Kris dengan segala alasan yang harus Kris dengarkan di saat Mood-nya tidak baik hari itu.

“Kalau begitu pergilah berdua.”, kata Kris sebal.

“YAK GEGE!”, teriak Jae In keras-keras karena sebal segala hal yang ia ucapkan hanya di tanggapi dengan cuek oleh Kris. Kris melempar ponselnya ke tempat tidur dan memukul-mukul telinganya dengan tangan kanannya. Kupingnya mendengung begitu mendengar teriakan Jae In.

“Gege.. Gege masih di sana?”, tanya Jae In panik ketika menyadari Kris tak menjawab apapun saat itu. Kris mengambil ponselnya dan mendekatkan ponsel itu sambil mengernyit ke telinganya.

“AISH! KAU YANG BENAR SAJA! JANGAN SUKA BERTERIAK BEGITU!”, kata Kris balas berteriak. Ia mengerutkan dahinya dan mendengar Jae In terkekeh di telepon sana.

“Ayolah Gege.”, kata Jae In dengan nada memelas yang ampuh membuat hati Kris tergerak.

“Tak ada teman-teman sekolahmu kan?”, tanya Kris pada Jae In. Pikirannya melayang-layang begitu mengingat ulah yang pernah Jae In buat. Ia mengajak Kris pergi dengan alasan menemaninya berbelanja peralatan untuk sekolah. Tapi nyatanya Jae In justru memamerkan Kris pada teman-temannya seperti boneka.

“Tak ada kok.”, kata Jae In dengan suara yang menjanjikan. Kris mengangguk lalu menyetujui dan memutuskan sambungan telepon. Kris beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.

~**^^**~

“Menurut kalian baju mana yang bagus? Yang hitam atau putih?”, tanya Jae In sambil menunjukan dua baju pada Kris dan Jae Joong di depannya. Kris dan Jae Joong menatap satu sama lain dan menghela napas.

“Hitam”

“Putih”

“YAK! Yang benar!”, kata Jae In kesal. Dari tadi selalu saja begitu. Kris dan Jae Joong selalu memilih dua hal berbeda dan tak pernah sama.

“Aku kan sudah bilang hitam. Kalau tidak mau ya Putih saja.”, kata Kris sebal. Ia memasukan tangannya ke dalam saku dan mengalihkan pandangan melihat-lihat isi Mall mewah itu.

“Cepat pilih. Aku malas berlama-lama.”, kata Jae Joong mengeluh.

“Oke! Kalian berdua ayo suit! Siapa yang menang pilihannya akan aku ambil.”, kata Jae In tersenyum senang. Kris menghela napas sedangkan Jae Joong mengusap wajahnya frustasi. Begitu rendahnya mereka hingga bisa di atur dengan bebas oleh Dongsaeng-nya sendiri.

“Batu, gunting, kertas!”, kata Jae Joong dan Kris bersamaan. Jae Joong memukul kepalanya begitu menyadari ia salah mengeluarkan kertas. Kris tersenyum senang begitu melihat tangannya berbentuk gunting.

“Pilih yang hitam.”, kata Kris sambil menunjuk baju hitam yang di pegang Jae In dan menyuruhnya kembali berjalan.

“Oke!”, kata Jae In tersenyum. Ia memberikan baju putih pada Pramuniaga di sampingnya yang tersenyum menahan tawa.

~**^^**~

“Baju itu bagus!”, kata Jae In lagi.

“Ah! Dompet itu juga bagus!

“Aduh! Baju atau dompet ya?”

Jae Joong menutup wajahnya dan merangkul Kris frustasi. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap Kris.

“Wae? Lepas. Nanti kita dikira pasangan Gay Hyung.”, kata Kris kesal. Ia melepaskan rangkulan Jae Joong dan berjalan menuju Jae In lagi.

GAY? Dasar anak gila.”, kata Jae Joong kesal.

“Yak! Kalian berdua! Ayo kesini.”, kata Jae In memanggil Kris dengan Jae Joong seenaknya. Tangan Jae In ia gerakan ke depan dan kebelakang seperti memanggil sesuatu yang bukan manusia.

“Kau kira Oppa-mu itu anjing peliharaan?”, kata Jae Joong gusar sambil memukul pelan kepala Jae In. Kris hanya memandang mereka berdua bosan. Matanya memandang sekeliling area belanja yang mewah dan besar itu.

DEG

Kris yakin dengan apa yang ia lihat. Ia melihat Yoona tak jauh dari tempatnya berdiri sedang memilih-milih baju. Kris menundukan wajahnya berharap Yoona tak melihat dirinya.

 

~To Be Continued~

Author Note: Ok! Ini dia Chapter 2-nya.. Ottokhe? Comment sangat diharapkan di Chapter ini. Bahkan kalau boleh sekalian like-nya ^^ Disini juga Youra sudah mulai kurang ajar dengan manggil Kris ‘Ahjussi’ dan dengan anehnya Kris gak sadar hahaha.. Tunggu Chapter selanjutnya ya Readers jangan pernah bosan untuk baca. Tidak bosan untuk mengingatkan.. Chapter selanjutnya juga sudah ada di WordPress pribadiku dan temenku. Detanalia.wordpress.com (Mampir ya..) Tapi bisa juga nunggu biar lebih penasaran gimana gitu. Ok! Aku tunggu comment-nya! Jangan bosen nunggu Chapter selanjutnya ya!

50 pemikiran pada “Saranghaeyo Ahjussi (Chapter 2)

  1. huhuhu knpa orang ketiga ny hrz yoona eoni thor..
    gag isa byangin dya jd orang ketiga gto..
    pi makin lama makin penasaran thor crta nya..
    wufan kau bikin makin penasaran tauuu
    next ^^

  2. ish kenapa yoona musti ada sih? ngeganggu aja tau gak -_-” . trus apa yg terjadi di chapter 3? semoga yoona gak nemuin kris di mall ya wkwkwkw… pamit ke chapter 3 ya .author jjang! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s