Destiny Bride

shshsh

Author: viviviviski

Title: Destiny Bride

Main Cast: Kim Jong In/Kai, Park Chan Ri (OC)

Genre: Romance

Rate: All Ages

Length: Oneshoot

Desclaimer: Plot is mine, inspired by: the vow movie and switch movie. There’s many typo in this fanfic. Hope you like it ^^

***

COFIOCA Cafe,  Seoul,  South Korea

“Liburan musim panas sudah datang, apakah kau ada rencana liburan Chan Ri?” tanya Yoorin. Chan Ri dengan malas mengangkat bahunya. Gadis itu yakin, liburannya pasti akan membosankan seperti liburan liburan sebelumnya.

Yoorin mengguncang guncangkan bahu Chan Ri, “Ya, Chan Ri ah~ ayo katakan, aku akan membantu mu! Anggap saja aku membayar utangku.”

“Hutang? Memangnya kau berhutang apa padaku Shin Yoorin Eonni?” Chan Ri menyerngit ke arah Yoorin. Wanita berambut lurus sebahu itu terkekeh melihat Chan Ri. Kemudian mengangkat jari tangannya ke depan wajah Chan Ri.

“Cincin ini.” Yoorin memandang cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya itu dengan wajah yang sumringah. Chan Ri semakin bingung dengan Yoorin. “Kemarin Baekhyun Oppa melamar ku, semua ini tidak akan terjadi karna mu Chan Ri.”

Chan Ri menggeleng pelan, “Tunggu tunggu, aku semakin tidak mengerti apa yang kau bicarakan Yoorin Eonni, jangan membuat ku bingung.”

Yoorin tertawa, “Aku mengenalnya dari kau, kalau kau tidak mengenalkannya pada ku, tidak mungkin ada cincin ini. Ya Park Chan Ri, kau ini benar benar bodoh, atau memang bodoh?” Yoorin memukul pelan kepala Chan Ri membuat Chan Ri merengut ke arahnya.

“Sebenarnya aku ingin pergi ke Barcelona, kota impian ku, lagipula kurasa aku bisa disana lebih lama karna selama ini aku belum pernah mengambil cuti sekolah ku. Tapi, entah lah itu hanya mimpi.”

Yoorin melongo, “Barce..Barcelona mwo?” sedetik kemudian Yoorin meringis, “Kalau Barcelona kurasa aku tidak sanggup hehe.”

Mereka sama sama terdiam. Chan Ri memandang menerawang ke arah dedaunan hijau yang tumbuh di pohon restaurant es krim itu. Musim panas sudah mulai memasuki waktunya. Daun daun mulai menghijau, dan menggerombol membuat pohon pohon terlihat lebat.

Yoorin sendiri memandang Chan Ri dengan perasaan tidak enak. Dia ingin membantu Chan Ri berlibur, tapi bukankah Barcelona tempat yang jauh dan membutuhkan biaya yang mahal? Tapi yang Yoorin lihat, Chan Ri benar benar ingin pergi ke Barcelona.

Yoorin berdeham, “Bagaimana kalau kau melakukan switch home?” Chan Ri mengerutkan dahi nya tidak mengerti.

“Kau dan stranger bertukar tempat tinggal, aku akan mencarikan yang terbaik untuk mu, tenang saja! Itu semua urusanku.”

Chan Ri mengangguk semangat, “Arraseo arraseo, gomawo Eon.”

***

“Kau hanya perlu tanda tangani kontrak, tanda tangani asuransi, aku akan mengirimkannya lewat fax. Dan kunci rumah ku ku kirim kan lewat paket, kau juga harus melakukan itu. Deal?” Wanita Spanyol di sebrang telfon itu berbicara Bahasa Inggris dengan lancar.

“Deal, sore ini akan ku kirim kuncinya,” jawab Chan Ri.

“Aku juga akan kirimkan kunci nya sore ini, fax tentang kontrak akan kukirimkan sebentar lagi, senang bekerja sama dengan mu Chan Ri,” Wanita itu tertawa ramah.

Chan Ri ikut tertawa, “Me too, Thanks Miss.” Chan Ri kemudian mematikan telefonnya. Memeluk erat telfon itu di dadanya.

“Barcelonia, i’m coming.”

***

Incheon Airport, South Korean

“Semua sudah siap?” tanya Baekhyun memastikan.

Chan Ri mengangguk mantap, “Sudah! Aku sudah mengunci lemari pakaian ku! Membersihkan seluruh sudut apartement ku! Aku sudah membawa tiket pesawat, aku sudah menandatangani kontrak nya, aku sudah membawa kunci apartement yang di Barcelona.”

Baekhyun dan Yoorin mengangguk, tapi tatapan mereka menunjukan wajah yang sangat khawatir melepas Chan Ri pergi jauh tapi tidak didampingi siapapun. Gadis itu masih berumur 16 tahun, itu kenyataan yang semakin membuat mereka ragu.

Chan Ri tersenyum, “Tenang saja Baekhyun Oppa, Yoorin Eonni, aku akan baik  baik saja.”

Baekhyun melingkarkan tangannya di pinggang Yoorin, “Kalau begitu selamat bersenang senang di Barcelona, jangan lupa oleh oleh untuk kami,” kata Yoorin seraya tertawa.

“Bawakan hadiah untuk pernikahan kami,” lanjut Yoorin kemudian menjulurkan lidah nya ke arah Baekhyun bermaksud meledek. Baekhyun mencubit gemas pipi kekasihnya itu. “Jangan lupakan hari pernikahan kami Chan Ri, jangan karna merasa nyaman di Barcelona kau melupakan hari penting kami,” Baekhyun tersenyum sangat setelah selesai berbicara.

“Arrata arrata, aku berangkat, annyeong!” Chan Ri melambaikan tangannya.

“Take care Chan Ri!” teriak Yoorin. Chan Ri mengangguk, kemudian menarik kopernya berjalan menuju ruang tunggu. Gadis itu benar – benar tidak menyangka impiannya selama ini akan terwujud. Chan Ri berjalan tanpa henti  hentinya tersenyum.

Brukk

Passport, tiket pesawat, Handphone Chan Ri terlepas semua dari tangannya. Begitupula pria yang berdiri di depannya, keadaannya tak jauh berbeda dari Chan Ri. Chan Ri segera memungut kembali barang barangnya. Pria itu juga mengambil barang barangnya, kemudian membungkuk berkali kali di hadapan Chan Ri.

“Jwosonghamnida, Agashi. Aku mengangtuk jadi menabrak mu. Gwenchana?” kata pria itu seraya mengucek pelan matanya.

“Gwenchanayo,” kata Chan Ri tersenyum, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

***

Ciutat Vella, Barcelonia, Spanyol

Chan Ri memutar knop pintu berwarna putih itu, kemudian masuk dengan cepat ke dalam rumah dengan gaya yang pada umumnya berada di Spanyol. Chan Ri meninggalkan kopernya kemudian berlari mengelilingi rumah itu dengan semangat. Menjelajahi setiap ruangan yang ada.

Terakhir ia memasuki kamar yang sebulan ini akan menjadi kamar miliknya. Sebuah kasur besar, cukup untuk menampung dua orang diatasnya. Dua pintu besar yang terbuat dari kaca, menuju balkon. Beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Cat berwarna coklat pudar, membuat Chan Ri sangat menyukai kamar ini.

Setelah Chan Ri membersihkan dirinya, ia merebahkan diri di kasurnya. Kasur yang sangat nyaman berlapis seprai putih. Chan Ri membuka ikatan rambutnya, melempar ikatan pink itu ke sembarang arah. Ia memejamkan mata, merasakan kota impiannya ini. Aroma bunga mawar dari pewangi ruangan kamar itu semakin membuatnya nyaman di kamar itu. Chan Ri memandang ke arah night view dibalik pintu kaca di kamarnya.

“Ah! aku lupa mengabari Yoorin Eonni,” katanya kemudian meraih handphonenya.

Ia membuka lock screen handphone itu. Tunggu, Chan Ri terdiam sekaligus terkejut melihat wallpaper handphonenya. Sejak kapan ia memasang foto seorang pria yang bahkan ia tidak tahu siapa pria itu. “Ah! Pabo! Handphone ku tertukar dengan pria yang di bandara itu. Otthoke?” Chan Ri berbicara dalam keputusasaan.

Tak lama handphone itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak ada di kontak handphone itu. Jika ia membukanya, Chan Ri takut karena itu perbuatan tidak sopan. Akhirnya Chan Ri menatap nomer itu, setelah melihat digit terakhir ia sadar, “Ah ini nomer ku!” Gadis itu membuka isi pesan tersebut.

Aggashi, handphone kita tertukar. Kapan kita bisa saling mengembalikan?

Chan Ri segera membalas pesan singkat tersebut.

Maaf sebelumnya, tapi mulai hari ini dan sebulan kedepan aku berada di Barcelona. Lalu bagaimana?

Tidak ada balasan lagi. Tak lama suara nada dering telefon membuat Chan Ri terkejut.. Chan Ri segera menggeser tulisan answer di layar handphone itu.

“Yobaseyo?”

“Yobaseyo. Aggashi, sekarang aku juga sedang berada di Barcelona, bagaimana kalau kita bertemu besok? Apakah Agashi bisa?”

“Ne, tentukan saja alamatnya agashi.”

“Ne, jaljayo.”

Pria itu kemudian memutuskan panggilan. Chan Ri terkekeh sendiri mengingat ucapan terakhir pria itu. Jaljayo? Rasanya aneh pria yang tidak dikenal mengucapkan itu pada Chan Ri. Chan Ri menatap handphone di tangannya itu. kemudian memejamkan matanya.

***

Ting Tong… Ting Tong…

Suara bel rumah membuat Chan Ri menghentikan aktifitas memasaknya. Ia segera berlari membukakan pintu. Dia terkejut melihat dua orang pria dan satu orang wanita berdiri di depan kamar apartementnya dengan kue cupcakes di tangan si wanita.

“Good Morning Miss, Kami tetangga baru mu, kami tinggal dibawah apartement mu, salam kenal,” kata Pria yang paling tinggi antara mereka. Bahasa Inggrisnya tidak begitu fasih, membuat gadis yang berdiri disampingnya membekap mulutnya sendiri menahan tawa.

“Neo?” ucap pria yang lainnya. Chan Ri memincingkan matanya ke arah pria itu, memastikan ia mengenal pria itu. “Neo?” pekik Chan Ri akhirnya.

“Kalian saling mengenal?” kata wanita yang berwajah seperti barbie itu dalam bahasa Korea. Chan Ri dan pria itu mengangguk.

“Kalian, silahkan masuk, aku menyelesaikan masakan dulu sebentar,” kata Chan Ri mempersilahkan masuk tiga orang itu.

“Annyeonghaseyo Byun Jiyoung imnida, panggil saja aku Jiyoo.”

“Oh Sehun Imnida.”

“Kim Jong In imnida, panggil saja aku Kai seperti mereka memanggilku.”

Chan Ri menjabat uluran tangan mereka masing masing. “Annyeonghaseyo Park Chan Ri imnida, panggil saja aku Chan Ri.”

Jiyoung melahap salah satu ebi katsu buatan Chan Ri, “Jadi kau sudah lama tinggal disini Chan Ri-ssi?”

Chan Ri menggeleng, “Aku hanya melakukan switch home mulai kemarin, bagaimana dengan kalian?”

Sehun mengangguk semangat, seraya mengarahkan sumpitnya ke arah Chan Ri, “Kami juga melakukan hal yang sama seperti mu Chan Ri-ssi.”

Kemudian mereka makan dalam diam. Tiba tiba Kai berdeham, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya, “Ini handphone mu.” Chan Ri mengeluarkan handphone Kai dari saku celannya, “Ini handphone mu.” Dua type handphone yang sama, pantas saja tertukar. Ditambah lagi Chan Ri saat itu sangat terburu buru.

“Bagaimana kalau besok kita jalan jalan bersama?” usul Jiyoung. Sehun mengangguk cepat.

“Chan Ri-ssi bagaimana kau ikut saja?,” tawar Kai.

Chan Ri terlihat berifkir kemudian mengangguk. “Arraseo! 4 orang turis korea akan menjelajahi Barcelonia besok!”

***

Camp Nou, Barcelona, Spanyol

“Woaaaaah rumahku!” pekik Chan Ri saat tiba di depan Stadion Camp Nou. Gadis itu berputar putar seraya merentangkan tangan dengan wajah yang sumringah. Kai terkikik sendiri melihat Chan Ri melakukan hal aneh itu di depannya.

“Rumah mu? Cules?” Kai menatap curiga ke arah Chan Ri.

Chan Ri mengangguk, “Visca el Barca!” Chan Ri meletakan tangan kanannya di dada, memandang tanpa ragu ke arah Stadion Besar itu.

Kai memegang kedua bahu Chan Ri secara tiba tiba, kemudian memeluk Chan Ri, “Akhirnya aku menemukan seorang teman yang juga menyukai Barca!” Wajah Kai sangat berbinar binar saat ini. Chan Ri masih tidak berkutik, atau lebih tepatnya terkejut. Kemudian Kai melepas pelukannya, tapi tetap memegang bahu Chan Ri.

Mata mereka saling bertatap tatapan beberapa saat. Kai mendengung kemudian melepas tangannya dari bahu Chan Ri. “Mianhae Chan Ri-ssi, aku hanya terlalu senang. Jiyo membenci Barca, Sehun menyukai Chelsea seperti Jiyoung, bayangkan aku seorang Cules diantara dua orang penggemar Chelsea. Itu yang menyebabkan Sehun dan Jiyoung tidak ikut hari ini.”

Chan Ri tersenyum seraya mengangguk. Diantara mereka masih di selimuti aura aneh akibat Kai tadi. Chan Ri menggaruk tengkuknya. “Eum Chan Ri-ssi, bagaimana kalau kita masuk sekarang? Kajja!” kata Kai pelan sekaligus serak karena salah tingkah.

“A..a?” Chan Ri tidak begitu mendengar suara Kai.

“Kajja!” kata Kai seraya menggandeng tangan Chan Ri.

Mereka berdua masuk ke dalam Markas Besar FC Barcelona dengan harga tiket masuk sekitar 22 euro. Camp Nou salah satu destinasi wisata paling populer di Barcelona. Rasanya percuma datang ke Barcelona jika tidak mengunjungi kandang dari pemain sepak bola terkenal Lionel Messi dan rekan rekannya.

Pertama tama, Chan Ri dan Kai memasuki arena Museum Camp Nou. Terdapat koleksi beberapa Trophy kemenangan dari grup Barcelona. Trophy itu dipajang berderet, sangat tertata rapi. Kai dan Chan Ri membaca penjelasan trophy trophy itu dengan semangat, seraya sesekali mengangguk.

“Chan Ri-ssi, mau itu?” Kai menunjuk suatu tempat di ruang Conferensi Pers Camp Nou. Chan Ri menarik Kai. Setelah membayar sekitar 12 euro, mereka berdiri di depan layar sponsor FC Barcelona. Sebuah replika trophy mereka angkat bersamaan diantara mereka. Kilatan blitz kamera itu datang seiring dengan senyum Chan Ri dan Kai.

Kemudian mereka ke area pinggir lapangan hijau Camp Nou. Rumput segar nan luas membentang di lapangan itu. Rasanya mereka ingin menyentuh rumput itu, tapi sayangnya diantara mereka dan rumput itu dibatasi sebuah dinding kaca batas antara lapangan dan tempat mereka.

Lokasi terakhir adalah FC Botiga, toko merchandise resmi El Azulgrana, atau FC Barcelona. Kai dan Chan Ri membeli jersey Barcelona original, kemudian langsung memakainya. Tak lupa mereka membeli beberapa oleh oleh lain.

“Dreams come true!” pekik Chan Ri.

***

Ciutat Vella, Barcelonia, Spanyol

‘Chan Ri-ssi, thanks for today’

Chan Ri tersenyum, kemudian membalas pesan singkat itu.

‘Your Welcome, Kai-ssi’

Kai kembali mengirim pesan singkat.

Apa kau mempunyai makanan? Aku lapar. Sehun dan Jiyoo belum pulang dari Hospital de Sant Pau, lagipula malam ini Barcelona melawan MU, bagaimana kalau kita menontonnya bersama?

Belum sempat Chan Ri membalas. Sebuah suara ketukan di pintu muncul. Chan Ri bangun dari sofa kemudian membukakan pintu. “Aku kan belum bilang menyutujuinya Kai-ssi,” omel Chan Ri pura pura. Kai mengacak pelan rambut Chan Ri.

“Kau pasti menyutujuinya Chan Ri-ssi.”

Tepat saat Chan Ri membawa hidangan makan malam mereka, pertandingan antara FC Barcelona dengan Manchenster United mulai. Chan Ri segera mendaratkan dirinya tepat disamping Kai. Mereka menyanyikan Himne kesebelasan Barcelona. El Cant del Barca.

***

Chan Ri terbangun dengan leher yang sangat sakit. Dia menoleh ke arah samping. “Kai-ssi?” katanya terkejut.

Kai, masih dengan keadaan setengah sadar, tersenyum. “Sudah bangun Chan Ri ssi?”

Chan Ri tersenyum kikuk. Jujur ia merasa tidak enak dengan Kai. “Kai-ssi, lengan mu tidak apa? Maafkan aku, semalam aku ketiduran.” Kai mengangkat lengannya, sedikit meringis. Membuat Chan Ri merasa semakin bersalah.

“Eung sebagai permintaan maaf ku, hari ini kau pergi kemana? Aku akan membantu mu membawa barang barang mu, hari ini, seharian, aku menjadi asisten mu,” kata Chan Ri iba.

Kai tersenyum, “Ide bagus! Kalau begitu, hari ini temani aku ke La Ramba, temani aku asisten.”

***

La Rambla, Barcelonia, Spanyol

Chan Ri memandang takjub ke arah jalanan itu. Luas jalanan pejalan kaki tiga kali lebih besar dibanding jalan untuk kendaraan bermesin di sisi kanan dan kiri jalan La Rambla. Pepohonan plane tree yang lebat menghiasi sekitar jalan La Ramba. Plane Tree adalah pohon pohon yang biasanya digunakan untuk taman.

“Nama tempat ini Les Rambles, salah satu bagian dari La Rambla ini menghubungkan pelabuhan dengan Placa de Catalunya,” jelas Kai panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera DSLR yang membidik beberapa objek menarik.

Chan Ri melihat sekeliling. Pandangannya tertuju kepada dua orang calon pengantin yang sepertinya akan melaksanakan foto pra-wedding. Chan Ri terenyum. Tak lama, ia melihat sang mempelai wanita terlihat kesusahan dengan gaun putih panjangnya, yang hampir menyapu jalanan.

Chan Ri segera berlari ke arah wanita itu. “Chan Ri-ssi kau mau kemana?” ujar Kai kemudian mengejar Chan Ri.

Chan Ri menepuk pundak wanita itu, “Maaf Nyonya, bolehkah saya membantu anda?” Wanita itu menoleh.

“Apakah anda orang Korea?” tanya wanita itu. Chan Ri mengangguk, begitupula Kai yang berdiri di sebelahnya.

“Annyeonghaseyo, Lee Sungrin imnida,” wanita dalam balutan dress cantik itu memperkenalkan diri.

Seorang pria dengan setelan jas hitam, menghampiri Chan Ri, Kai dan Sungrin. “Whats wrong Chagi?” kata pria itu. Pria berambut pirang, dengan wajah khas warga Korea. Bertubuh tinggi, tampan, dan memiliki suara berat.

“Sayang, kita menemukan teman,” kata Sungrin sumringah.

Pria itu membungkuk, “Annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida.”

Kai sibuk mengobrol dengan Chanyeol sepanjang perjalan menuju tempat photoshoot pra-wedding Sungrin dan Chanyeol. Sedangkan Chan Ri membantu Sungrin dengan gaunnya, sesekali mereka bercanda. Setelah sampai Chan Ri segera pamit.

“Kalau begitu, kami permisi dulu,” ujar Chan Ri seraya tersenyum.

Sungrin menarik tangan Chan Ri, “Chamkamanyo. Mari berfoto bersama.” Chanyeol mengangguk menyetujui.

Mereka berfoto bersama, Chan Ri disebelah Sungrin, Kai disebelah Chanyeol. Chanyeol dan Sungin membungkuk bersamaan, “Terimakasih bantuannya Chan Ri-ssi, Kai-ssi. Ini undangan pernikahan kami bulan depan, kami harap kalian sudah kembali ke Korea,” kata Chanyeol kemudian tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.

Sungrin memberikan undangan ke Kai dan Chan Ri, “Ini untuk Chan Ri-ssi, ini untuk Kai-ssi, sekali lagi terimakasih atas bantuan kalian.”

“Kami pasti datang,” ujar Kai seraya tersenyum.

***

Placa de Catalunya, Barcelonia, Spanyol

Burung burung merpati berwarna abu abu ataupun putih bertebaran di jalanan, layaknya messis pada sebuah roti tawar. Chan Ri berlari diantara burung burung itu, kemudian tertawa lepas saat burung burung itu berterbangan.

Kai diam diam memotret Chan Ri, tapi saat fokus kameranya sudah tepat, Chan Ri malah berlari pergi. “Chan Ri-ssi, Odiya?” teriak Kai.

Chan Ri menghampiri dua orang yang saling berangkulan mesra, kemudian Chan Ri menepuk bahu pria bersetelan jas itu, “Maaf tuan, dompet anda terjatuh.” Pria itu menoleh, kemudian tersenyum. Ia mengambil dompet itu dari tangan Chan Ri.

Wanita disebelahnya membungkuk, “Kamsahamnida. Kevin sudah kubilang hati hati”

Kai menggaruk tengkuknya, “Hari ini kita banyak menemukan orang orang yang berasal dari Korea,” candanya.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya wanita itu.

Chan Ri tersenyum, “Kami melakukan switch home, kalian?”

Pria itu merangkul sang wanita, “Kami sedang honey moon,” ujar pria itu.

Wanita bertubuh kecil itu menyikut pria disebelahnya, “Oh iya, aku Jangmi, ini suami ku, Wu Yifan atau panggil saja dia Kris.”

Chan Ri membulatkan matanya, “Wah, Wo jiao Chan Ri, ta jiao Kai”

Kris terkekeh melihat kelakuan Chan Ri, “Kalau begitu kami permisi dulu, xie xie Chan Ri-ssi, Kai-ssi,” kata Kris kemudian pergi meninggalkan Kai dan Chan Ri.

***

Kereta gantung Montjuic, Barcelonia, Spanyol

“Akhirnya setelah lima belas hari kita berada di Barcelona bersama, kita melakukan liburan bersama,” ujar Jiyoung.

Jiyoung, Chan Ri, Sehun dan Kai sedang mengantri kereta gantung Montjuic untuk mereka naiki. Sehun mengalungkan tangannya di bahu Jiyoung, Jiyoung melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. Sesekali Sehun mencium puncak kepala Jiyoung.

“Bagaimana mau bersama! Kalian selalu melakukan date berdua, untung ada Chan Ri-ssi, kalau tidak aku mati membusuk di apartement sendirian,” ujar Kai dengan nada menyebalkan. Jiyoung dan Sehun terkekeh. Chan Ri tersenyum.

“Ah itu kereta gantungnya! Aku naik duluan dengan Jiyoung!” ujar Sehun kemudian menarim Jiyoung masuk. Chan Ri dan Kai sama sama melongo, menatap kereta gantung yang sudah mulai berjalan pergi dengan Jiyoung dan Sehun yang asik melambaikan tangan ke arah mereka.

“Kita naik kereta gantung yang ini saja,” Kai menggandeng Chan Ri masuk.

Tak lama, dua orang lagi masuk ke dalam kereta gantung itu. Chan Ri tersenyum ke arah mereka. Kai menunjuk sang pria, “Zhang Yixing Hyung!” pekik Kai.

“Jong In?” kata pria bernama Yixing itu setelah duduk. “Lama tidak bertemu, Jong In-ah,” lanjut Yixing.

Gadis cantik disamping Yixing menunjuk Yixing dan Kai secara bergantian, “Kalian saling mengenal?”

Yixing tersenyum, membuat nafas Chan Ri rasanya tercekat. Pria dihadapannya ini benar benar sangat tampan, pantas saja dia mempunyai kekasih yang cantik seperti wanita di depannya.

“Aku dan Jong In bertemu saat pameran lukisan di Seoul 2 tahun yang lalu.”

Gadis itu dan Chan Ri mengangguk. Kai bertanya, “Sedang apa di Spanyol? Bukan kah setengah tahun yang lalu kau sudah kemari dan bertemu Sophie Nuna? Tunggu! Jangan bilang wanita cantik disebelah mu ini Sophie Nuna?”

Wanita itu tersenyum, tangannya diulurkan ke arah Kai, “Sophie.” Kai menyambut tangan Sophie, “Kai, senang bertemu dengan mu, Nuna.”

Yixing melirik ke arah Kai, “Sudah bukan Jang Bo Mi lagi? Pacar baru mu?”

Chan Ri tersenyum, “Annyeonghaseyo, Chan Ri imnida, aku teman Kai-ssi,” Yixing dan Sophie mengangguk. Yixing melirik ke arah Kai, Kai menatap Yixing dengan tatapan ‘jangan bicara macam macam atau kau mati’.

***

‘Sudah tiga minggu kita berteman, bagaimana kalau malam ini aku ajak kau makan malam? Aku akan menjemputmu jam 7 malam ini, tampilah cantik malam ini :p’

***

Moon Restauran, La Rambla, Spanyol, Barcelona

“Yeppo,” kata Kai seraya memandang Chan Ri yang duduk di depannya. Chan Ri menunduk malu.

“Jadi Chan Ri-ssi, sekarang kau kuliah semester berapa?” tanya Kai.

Chan Ri mengangkat wajahnya, “Aku masih sekolah di Seoul of Art Performing tingkat 2, Kai-ssi?”

“Jinjja? Aku baru saja lulus dari sekolah yang sama dengan mu, bagaimana kita tidak saling kenal?” ujar Kai. Mereka tertawa.

“Kau tidak bersama dengan pacar mu ke sini?” tanya Kai lagi.

Chan Ri menggeleng, “Aku tidak punya pacar, kau? Tidak bersama Bo Mi-ssi?” ledek Chan Ri.

Kai memasang wajah datar, “Jangan bahas dia Chan Ri-ssi.”

Chan Ri tertawa seraya mengibas ngibaskan tangannya, “Mianhae aku bercanda.”

“Ah makanannya sudah datang, cepat habiskan, setelah ini aku akan mengajak mu pergi,” kata Kai seraya tersenyum manis. Entah mengapa Chan Ri merasakan jantung yang berdetak lebih cepat dibanding sebelumnya setelah melihat Kai.

***

Font Magica de Montjuic

“Tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali!” ujar Kai kemudian pergi. Meninggalkan Chan Ri di salah satu bangku yang mengelilingi air mancur yang berhiaskan lampu warna warni di hadapannya.

Chan Ri memandang air mancur itu seraya tersenyum.Dua orang pria dan wanita yang berjalan di dekat Chan Ri membuat matanya memfokuskan kepada kedua orang itu. “Suho Oppa, Kiyoo Eonni!” Orang yang dipanggil Chan Ri menoleh, kemudian menghampiri Chan Ri.

“Kalian? Sudah? Chukkae!” kata Chan Ri seraya menepuk tangan.

Suho adalah pemilik kedai Ice Cream dekat Apartement Chan Ri, dan Kiyoo adalah pelanggan kedai Ice Cream itu yang diam diam menyukai Suho. Begitu juga Suho yang diam diam menyukai Kiyoo, tapi mereka sama sama tidak berani mengungkapkan perasaan satu sama lain.

“Kami kemarin..” Kiyoo menunduk malu.

Suho mengangkat dagu Kiyoo, kemudian mencium pipi gadis itu, “Thanks Chan Ri. Kami pergi dulu ya, bye.” Suho kemudian menggemgam tangan Kiyoo erat.

Chan Ri kembali melihat ke arah air mancur. Tiba tiba seseorang menepuknya. Chan Ri menoleh. Dilihatnya patung hidup, orang yang berpura pura menjadi patung, dengan cat glow in the dark berwarna hijau di tubuhnya, menyerahkan sebuah kertas ke arah Chan Ri.

Chan Ri terkekeh, “Thanks.” Chan Ri membuka kertas itu

Would you be mine?

Tiba tiba seseorang menutup mata Chan Ri, “Aku nyaman bersama mu beberapa hari ini, dan aku berharap sampai kapanpun bisa terus merasakan rasa nyaman itu, bersama mu Park Chan Ri,” suara bisikan itu membuat bulu tengkuk Chan Ri merinding.

Orang itu melepaskan tangannya dari mata Chan Ri, kemudian memegang bahu Chan Ri. Chan Ri menoleh ke arah pra itu. Kai. Kai menatap Chan Ri lekat, wajah mereka berada sangat dekat, “Would you be mine?” Chan Ri tersenyum, kemudian mengangguk. Kai memeluk Chan Ri dari belakang.

***

Chagi, aku tunggu di depan apartement. Ayo kita pergi ke Hospital de Sant Pau’

***

“Ya! Jangan menoleh ke kaca spion terus, fokus!” Chan Ri menciubut pinggul Kai dari bangku belakang motor yang mereka naiki. “Aku hanya ingin melihat wajah cantik milik orang yang kusayang,” canda Kai. Kai tertawa kemudian kembali menjalankan motornya saat lampu hijau di perempatan itu menyala.

Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dari arah kiri motor Kai. Mobil itu menabrak motor Kai dengan benturan yang sangat hebat. Tubuh Chan Ri terpental jauh, sedangkan Kai tertimpa motornya sendiri. Tubuh Chan Ri terhenti saat kepala Chan Ri membentur trotoar, darah Chan Ri mengalir deras dari kepalanya.

***

“Chan Ri, gwenchana?” ucap Kai saat mata Chan Ri mulai terbuka setelah 5 hari dalam keadaan koma. Chan Ri memandang Kai dengan tatapan bingung seraya memegang perban yang melingkar di kepalanya.

“Dokter, berapa lama aku ada disini?” tanya Chan Ri kepada Kai. Kai terdiam, bingung, menjawab pertanyaan Chan Ri.

“Chan Ri, kau tau siapa aku?” kata Kai pelan.

“Kau? Kau dokterku kan?”

Kai diam, menelan ludah nya dengan susah payah. Cedera otak yang dialami Chan Ri sangat serius, membuatnya tidak ingat akan siapapun, kecuali ingatan saat ia berumur 9 tahun. Dan saat umur itu, Chan Ri tentu saja belum menganal Kai.

***

4 Tahun Kemudian

***

Chan Ri sesekali merapikan rambutnya, di sebelah kanan dan kirinya duduk orang tua Chan Ri. Sepasang wanita dan pria paruh baya dengan anaknya yang menggunakan jas hitam rapi, mengambil posisi di depan Chan Ri. Hari ini, orang tua Chan Ri akan menjodohkan Chan Ri dengan seorang anak teman ayahnya.

Kai terkejut dengan sosok Chan Ri yang sekarang duduk berhadapan dengannya. Wanita yang 4 tahun ini ia cari. Wanita yang 4 tahun ini tidak pernah mengankat telefon atau membalas pesan singkat nya. Wanita yang selama 4 tahun ini Kai tunggu. Kai sangat terkejut melihat wanita yang akan dijodohkan orang tuanya adalah Chan Ri.

Chan Ri tersenyum, senyum yang dulu sering ia berikan pada Kai. “Aku seperti pernah melihat mu,” ujar Chan Ri diantara orang tuanya dan Kai yang sibuk dengan pembicaraan masing masing.

Kai mengangkat sebelah alisnya. Ia berharap penuh dengan ucapan yang Chan Ri gantungkan. Kai berharap Chan Ri telah mengingatnya. “Jinjja? Dimana?” kata Kai seraya tersenyum.

Chan Ri memandang menerawang, “Saat pernikahan Chanyeol Sungrin yang aku sendiri tidak tau siapa, mereka bilang bertemu aku saat di Barcelona. Kau pria yang mengambilkan aku minuman di pesta pernikahan 4 tahun itu kan?”

Hati Kai melengos, dirinya hanya dapat tersenyum pahit mendengar pernyataan Chan Ri. Kai mengangguk dengan ragu dan senyum terpaksa.

“Siapa namamu? Aku Chan Ri” Chan Ri mengulurkan tangannya. Kai menjabat Chan Ri cukup lama, merasakan tangan Chan Ri yang sudah lama tidak ia rasakan, “Aku Kai.”

“Aboji, apa aku boleh pergi dengan Chan Ri? Aku akan menjaganya.” Kai menarik tangan Chan Ri dengan paksa.

***

Namsan Tower , South Korean

“Untuk apa membawa ku ke Namsan?” kata Chan Ri bingung.

Kai hanya tersenyum kemudian menarik masuk ke kereta gantung yang ada di Namsan. Mereka di dalam kereta itu dalam diam. Chan Ri benar benar tidak mengerti apa yang Kai lakukan. Kai menatap Chan Ri lekat, “Apa kau mengingat sesuatu?”

Chan Ri menggeleng dengan wajah yang bingung.

***

KiHo Ice Cream Corner, Gangnam-Gu, Seoul, South Korean

Suho dan Kiyoo kembali ke Korea dan membuka Kedai Ice Cream baru di Seoul. Sekarang semua berkumpul di kedai ice cream itu. Jiyoung, Sehun yang sekarang sudah mempunyai satu anak laki laki yang berwajah mirip Sehun. Suho dan Kiyoo yang mempunyai anak perempuan yang sedang bermain dengan anak dari Sehun dan Jiyoung. Serta Sungrin dan Chanyeol yang sedang menyuapi anak perempuan mereka yang masih balita.

Jangmi, Kris, Yixing dan Sophie sedang asik berbincang. Yixing dan Sophie mempunyai 2 anak kembar yang lucu, laki laki dan perempuan. Sedangkan Jangmi dan Kris mempunyai 2 anak laki laki dan perempuan yang mempunyai selisih umur 2 tahun.

Chan Ri benar benar tidak mengenal orang orang dihadapannya ini. Ia memutuskan menonton siaran televisi di kedai ice cream itu. Chan Ri menyikut Kai pelan, “Kenapa tempat ini menyiarkan pertandingan FC Barcelona dan Manchester United 4 tahun lalu?” kata Chan Ri berbisik.

Ya, semua ini Kai yang menyiapkan. Ia ingin Chan Ri mengingatnya kembali. Ia ingin Chan Ri mengingat semua yang terjadi antara mereka 4 tahun lalu.

“Kau mengingat sesuatu?” kata Kai. Lagi lagi Chan Ri menggeleng, “Aku tidak mengingat apapun.”

***

River Han Side, South Korean

“Tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali!” ujar Kai kemudian pergi. Meninggalkan Chan Ri di salah satu bangku yang mengelilingi air mancur yang berhiaskan lampu warna warni di hadapannya, tepat di pinggir Sungai Han.

Chan Ri kembali melihat ke arah air mancur. Tiba tiba seseorang menepuknya. Chan Ri menoleh. Dilihatnya patung hidup, yang entah Kai dapatkan dari mana, menyerahkan sebuah kertas ke arah Chan Ri.

Chan Ri memandang kertas itu bingung, tapi ia tetap membukanya.

‘Would you be mine’

Kai menutup mata Chan Ri, “Aku nyaman bersama mu beberapa hari ini, dan aku berharap sampai kapanpun bisa terus merasakan rasa nyaman itu, bersama mu Park Chan Ri,” suara bisikan Kai itu membuat bulu tengkuk Chan Ri merinding, sama seperti 4 tahun yang lalu.

Kai melepaskan tangannya dari mata Chan Ri, kemudian memegang bahu Chan Ri. Chan Ri menoleh ke arah Kai itu. Kai menatap Chan Ri lekat, wajah mereka berada sangat dekat, “Would you be mine?”

Plak..

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Kai. Chan Ri bangkit dari duduknya, meraih handphone disampignya, dan meninggalkan Kai yang masih diam membeku dengan tangan yang mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan.

“Aku rasa semua berakhir disini, “Kai berucap dengan keputusasaan.

***

Kai merebahkan dirinya, menatap foto Chan Ri yang terbingkai rapi di samping tempat tidurnya. Kai tersenyum, “Apa kau sudah benar benar melupakan ku?” kata Kai dengan dada yang sesak.

Tiba tiba handphonenya bergetar, Kai mengangkat telefon itu.

“Kai-ssi, handphone kita tertukar, lagi.”

“Chan Ri?” kata Kai memastikan.

“Handphone, Kim Jong In, cules, gaun yang tersangkut, burung dara, kereta gantung, air mancur, aku sudah mengingat semua. Mianhae Kai Oppa, Mianhaeyo,” kata Chan Ri tersisak.

Kai tersenyum, air mata perlahan turun dari sisi mata Kai, “Uljima, saranghae. Gomawo Park Chan Ri.”

***

Chan Ri mengangkat tangan kanannya yang dilapisi sarung tangan putih. Menurut Kai, Chan Ri benar benar terlihat cantik hari ini. Gaun putih, sepatu kaca, senyum manis. Kai sangat mencintai Chan Ri hari ini.

“Aku bersumpah untuk membantumu mencintai kehidupan, untuk selalu memelukmu dalam kehangatan, dan untuk memiliki kesabaran yang dibutuhkan oleh cinta. Untuk bicara saat kata kata dibutuhkan dan untuk berbagi keheningan saat kata kata tidak dibutuhkan, dan untuk hidup dalam kehangatan hatimu, dan selalu menyebutnya rumah.”

Chan Ri menurunkan tangannya, kemudian menatap sayang pria yang berdiri di hadapannya. Lelaki dengan rambut yang ditata ke atas, jas hitam, celana hitam, kemeja putih, dasi hitam panjang. Pria tertampan yang pernah Chan Ri miliki. Kai, mengangkat tangannya.

“Aku bersumpah, aku benar benar mencintaimu, dalam semua bentuk mu, sekarang dan selamanya, aku berjanji untuk tidak pernah lupa kalau ini adalah cinta sekali dalam seumur hidup, dan selalu ketahuilah kalau jiwaku yang paling dalam, tidak perduli rintangan apa yang akan memisahkan kita, aku akan selalu menemukan jalan untuk kembali.”

Kai memeluk Chan Ri erat, kemudian berbisik di telinga Chan Ri, “Saranghae.”

END

FF Ini udah original nya udh pernah di post di exoismine.wordpress.com, sekalian numpang promosi, visit exoismine.wordpress.com ya banyak ff buatan author disitu ^^ ohiya maaf kalo ff ini gak bagus, author udah lama ga nulis, buat admin terimakasih udah mau publish ff nya, salam kenal semua ^^ kamsahamnida ^^

41 pemikiran pada “Destiny Bride

  1. AUTHORRRR!!!
    Cules juga ya? Huwaaaaaa suka banget thor :3 doh Messi mucul dikit namanta doang wkwk 😀
    I LOVE YOU deh thor wkwk 😀
    Soalnya aku pengen juga ke Barcelona :3
    FFNYA KEREEEEEN!!!! VISCA BARCA(?)

  2. hya.. Mrka bnar” jodoh.. Sweet, feel dpt.. Tpi ini mungkin alur’a agak kcptan.. Mungkin lbih baik di buat twoshoot biar kesan crita’a agak luas.. But ini udh keren!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s