Exotics and Their Stories (Chapter 1)

Official Poster Jiahahaha

Title: Exotics and Their Stories   (PART 1)

Author: baekhug12 / @sarahmnabila

Genre: Fantasy, Romance, Comedy(?)

Cast:

  • Choi Seolhwa (OC)
  • All EXO Members
  • f(x)’s Sulli
  • f(x)’s Krystal
  • miss A’s Suzy
  • …and more to come

Rating: PG ._.

Length: Chaptered

____________________________________________________________________________________

Aish.”

Kai melempar mantelnya sembarangan, lalu berbaring di atas ranjangnya yang tidak terlalu empuk. Tangannya bergerak menyentuh area pinggangnya yang mendadak nyeri. Padahal hari ini ia hanya melakukan gerakan ringan, namun nyeri di pinggangnya dua kali lipat lebih menyakitkan dari biasanya.

Di musim dingin seperti ini, Kai selalu mampir ke studio tari di dekat rumah pada malam hari yang sepi. Di rumahnya tidak ada pemanas ruangan dan Kai memanfaatkan keadaan itu untuk menari di sana.

“Kau pulang larut malam lagi.” Kai mengalihkan pandangannya pada sosok namja yang berdiri di balik pintu. Kai mendesah seraya melempar apapun yang berada di dekatnya, dan pilihannya jatuh pada kaus kaki putih¾nyaris abu-abu¾yang tergeletak di lantai.

“Pergilah, Hyung. Aku ingin istirahat. Hari ini dingin sekali.”

Namja itu terkekeh ketika lemparan Kai meleset dan malah mengenai Monggu¾anjing milik Kai. “Kau tahu? Terakhir kali aku mencium bau kaus kaki itu, aku pingsan selama dua jam. Jangan sampai anjingmu itu terbunuh.”

Kai tidak menghiraukan ocehan namja itu yang lebih terdengar seperti ancaman (?) baginya. Wajah namja itu kemudian berubah serius dan menghampiri Kai.

“Kau… apa kau bermimpi aneh akhir-akhir ini?” tanyanya hati-hati.

“Bagaimana kau tahu? Kemarin aku bermimpi bertemu seorang namja dan ia berkata bahwa aku adalah seorang legend yang memiliki kekuatan untuk berpindah tempat… astaga. Lalu aku menghabiskan waktu di studio tari untuk melupakannya, namun yang terjadi adalah nyeri pinggang yang menyebalkan ini.” namja itu terlihat tidak tenang, matanya tiba-tiba terpejam dan dahinya berkerut.

Wae geurae, Hyung-”

“Jongin-ah, apa kau kenal seseorang bernama Park Chanyeol?”

Ani.”

“Maukah kau membantuku mencari namja bernama Park Chanyeol? Dimulai dari lingkungan sekolahmu.”

Kai menghela napas. Sejak kembali dari China, namja itu bertingkah aneh dari hari ke hari. Ada berapa Park Chanyeol di Korea? Memikirkannya saja sudah membuatnya sakit kepala.

Sirheo! Saat ini sedang musim dingin, Hyung. Lihatlah timbunan salju yang menutupi jalan. Bukankah lebih baik kita berdiam di rumah? Lagipula siapa Park Chanyeol?”

“Banyak hal yang perlu kau ketahui, Jongin-ah. Tapi mungkin tidak saat ini. Dan tentang mimpi itu… aku akan bertanya lebih jauh. Percayakan semuanya padaku. Dan kali ini saja, tolong ikuti kata-kataku. Park Chanyeol. Arachi?” namja itu beranjak meninggalkan Kai yang tampak kebingungan.

“Luhan Hyung!”

Tidak ada respon dari namja itu. Kai mengacak rambutnya frustasi. Dirinya dan rasa penasarannya yang begitu besar.

Ada apa dengan Luhan Hyung? Siapa itu Park Chanyeol? Apa saja hal yang perlu aku ketahui? Mengapa tidak sekarang saja? Lalu ada apa dengan mimpiku? Luhan Hyung akan bertanya pada siapa? Apa aku harus percaya padanya?

***

Gwaenchana?”

Untuk kesekian kalinya Baekhyun melontarkan pertanyaan yang sama, namun yeoja di hadapannya tampak membeku. Bibirnya terkatup rapat dan matanya tidak berkedip sedikitpun.

Baekhyun diam-diam melirik jam yang melingkar di tangan Seolhwa, kemudian mendesah panjang.

Pukul dua belas tepat.

Ya, Baekhyun telah menceritakan semuanya. Segala hal tentang legenda EXOPLANET yang ia ingat, dan bagaimana tubuhnya bercahaya dalam kegelapan. Ia telah membeberkan rahasia yang terpendam ratusan tahun yang lalu… dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tidak benar-benar memikirkannya.

Baekhyun paling tidak suka dengan kesunyian yang mencekam seperti ini. Ia beranjak menuju saklar dan menyalakan seluruh lampu perpustakaan. Seolhwa tersadar dari benaknya ketika lampu neon di atas kepalanya menyala. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang menatapnya tajam.

Tatapan itu

Seolhwa menundukkan kepalanya takut ketika dilihatnya sendiri tubuh Baekhyun kini tidak lagi bercahaya dan tergantikan oleh aura hitam yang sangat menyeramkan.

‘Baekhyun-ah, tenangkan dirimu!’

Baekhyun tidak menghiraukan suara Luhan yang menggema dalam benaknya. Kesabarannya sudah habis.

“Sampai kapan kau akan terus diam seperti ini? Bukankah kau yang memaksaku untuk bercerita? Kau tahu apa konsekuensinya jika aku membeberkan hal ini?!” helaan napas Baekhyun yang menggebu-gebu (?) membuat Seolhwa bergidik. Ia tidak menyangka sosok Baekhyun yang terlihat manis ternyata mempunyai sisi seperti ini dalam dirinya.

Darahnya berdesir ketika pandangan matanya kembali bertemu dengan Baekhyun.

Banyak hal yang tidak aku mengerti tentangmu, Sunbae. Dan seiring berjalannya waktu… rasa penasaranku semakin besar dan aku ingin mengenalmu lebih dekat.

Baekhyun menghela napas. Melihat ekspresi takut yang terlukis jelas di wajah yeoja itu membuatnya geli sendiri dan luapan emosi itu sirna begitu saja.

Baekhyun menghampiri Seolhwa dan duduk bersila di hadapannya. Aura hitam itu menghilang. Ia paling tidak bisa marah dengan yeoja.

Nae nuneul barabwa.”

Seolhwa mendongak, memandang mata hazel bercahaya itu. Baekhyun tersenyum.

Mian, tadi aku terbawa emosi. Apa kau takut?”

Seolhwa mengangguk canggung. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan gejolak aneh dalam perutnya yang membuatnya geli.

Suara piano mengalun lembut. Seolhwa mengernyit, kemudian akhirnya menyadari bahwa ponselnya bergetar. Diam-diam yeoja itu bernapas lega ketika suara nada dering dari ponselnya itu memecah kesunyianyang tercipta. Seolhwa meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Baekhyun untuk diam. Baekhyun hanya mengangguk dan kembali tersenyum.

Yeoboseyo?”

NEON  JIGEUM EODIYA?!’

Seolhwa menjauhkan ponselnya dari telinga. Entah seberapa kencang suara itu hingga ia yakin Baekhyun dapat mendengarnya dengan jelas.

“Aku ada di perpustakaan sekolah! Bukankah aku sudah mengirim pesan padamu?”

‘Siapa ayah yang tega membiarkan anak gadisnya pergi sendirian larut malam begini?! Aku ada di depan gerbang, keluar sekarang juga atau aku akan memotong uang sakumu!’

Seolhwa menghela napas. Ancaman lagi rupanya. “Arasseo.”

Seolhwa memutuskan panggilan dan menoleh pada Baekhyun. Ia masih tersenyum. “Pergilah sebelum appa-mu murka. Lain kali akan aku jelaskan kembali mengenai legenda itu.”

Seolhwa mengangguk, kemudian menyerahkan buku tebal bersampul hitam itu (baca PROLOG) pada Baekhyun.

“Kau masih belum ingat sepenuhnya, ‘kan? Mungkin buku ini bisa membantumu.”

Gomawo. Pergilah.” tangan Baekhyun bergerak menyentuh puncak kepala Seolhwa untuk kesekian kalinya hari ini. Sambil berusaha menyembunyikan pipinya yang bersemu merah, Seolhwa melambaikan tangan dan meninggalkan ruang perpustakaan.

***

“Kita tidak salah jalan lagi, ‘kan?”

Lay membanting kompas yang ada di genggamannya hingga terbelah dua. Alat itu tidak berguna. Ditatapnya teman perjalanannya hari ini dengan mimik wajah memelas.

“Aku benar-benar lupa ke mana arahnya. Mian.” yeoja berambut keriting dengan highlight warna-warni¾teman perjalanannya¾memukul kepalanya tanpa perasaan. “Kambuh di saat yang tidak tepat, babo.”

Ya! Tidakkah kau berpikir bahwa penyakit lupaku mungkin akan bertambah parah jika kau memukul kepala-” yeoja itu menatap Lay dengan tatapan tersadis yang pernah ada, membuat Lay seketika bungkam.

“Sebenarnya kita mau kemana?” Lay terdiam di tempat. Tidak ada dalam benaknya bahwa yeoja itu akan bertanya hal semacam itu. Seorang Choi Sulli biasanya tidak pernah merasa penasaran dan terus mengikuti tanpa mengeluh sedikitpun. Itulah mengapa Lay mengajaknya untuk menemaninya.

“Sebenarnya kita mau kemana?” ulang Sulli dengan kesal. Ia kemudian melampiaskannya dengan menendang kaleng minuman yang kebetulan menghalangi langkahnya.

“Kita sedang mencari seseorang.”

***

Sehun menghembuskan napas perlahan, meninggalkan semilir angin yang membuka tirai dengan sendirinya. Ia memandang ke luar jendela, namun tidak benar-benar mengamati sesuatu. Pandangannya kosong.

“Kau… sedang apa?”

Sehun memejamkan matanya. Ia sudah hapal di luar kepala suara milik siapa itu.

“Seharusnya kau tahu.”

“Tapi aku ingin mendengarnya sendiri darimu.” Sehun menghela napas, memutar badannya dan menatap tajam ke arah yeoja di hadapannya. Yeoja berambut hitam legam dengan sepasang mata biru laut yang indah. Pemberian Poseidon.

“Aku sedang berpikir…”

“Bagaimana cara membangunkan Kai?”

“Ya. Dan aku menyesal…”

“Karena seharusnya kau membangunkan Kai terlebih dahulu?”

“Hm.” Sehun memutar bola matanya bosan. Tidak perlu repot-repot membuka mulut untuk bercerita pada yeoja itu, karena, toh, ia sudah tahu segala hal.

“Hari ini kau mendatangi Kai dalam mimpi, namun Kai hanya menganggapnya sebagai mimpi aneh dan melupakannya begitu saja. Dan kau berencana untuk mendatanginya secara langsung, namun kau tidak bisa berbahasa Korea dan kau meminta tolong Luhan untuk membantumu.”

“Ya. Belum lagi aku harus mencari putri vasílissa. Hal itu menambah beban hidupku.” ekspresi yeoja itu berubah drastis ketika Sehun menyebut kata ‘vasílissa’.

“Lebih baik sekarang kau fokuskan diri pada sebelas orang itu. Hal ini menyangkut keselamatan dunia. Apa gunanya mencari putri vasílissa untuk penggantinya kelak jika vasílissa Alexis adalah makhluk immortal?” Sehun mengedikkan bahu. Sebenarnya mau tak mau ia membenarkan kalimat terakhir.

“Sepertinya kau sangat membenci vasílissa Alexis.” yeoja itu menghela napas seraya membetulkan letak jepit rambutnya.

“Ada banyak hal di dunia ini yang tidak perlu diketahui, Sehun. Biarlah hal itu menjadi misteri.”

***

Cryokinesis, pengendali es. Kulit mereka, sorot mata mereka, napas mereka, dan sifat mereka sedingin es. Hanya orang atau barang tertentu yang dapat mencairkan es di hati mereka. Cryokinesis tidak akan bisa bersatu dengan Pyrokinesis karena pemikiran mereka tidak sejalan.

“Luhan Hyung? Hmm…”

Telekinesis, pengendali benda dan pikiran. Tenang dan damai, dua kata yang cocok untuk mendeskripsikan seorang Telekinesis. Biasanya Telekinesis terlihat lemah dari luar dan mereka dapat mengecoh musuh dengan itu, namun pada kenyataannya Telekinesis adalah pemilik kekuatan terkuat setelah Terrakinesis.

Levitation, melawan gravitasi. Sempurna, kata yang cocok untuk mendeskripsikan seorang Levitation. Mereka sangat menjunjung tinggi hal itu. Sampai saat ini sifat asli para Levitation masih menjadi misteri karena ekspresi mereka yang selalu datar.

Hydrokinesis, pengendali air. Luar biasa ramah kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Air tenang menghanyutkan.

Healing, menyembuhkan. Biasanya para Healer memiliki senyum yang indah, bahkan dapat menyembuhkan patah hati, oleh karena itu banyak kaum hawa menyukai lelaki Healer. Sangat sopan.

Lunarkinesis, pengendali cahaya. Seperti Hydrokinesis, mereka ramah kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Berambisius, penuh semangat, dan memiliki pribadi yang menyenangkan. Tubuh mereka dikelilingi cahaya putih menyilaukan yang hanya terlihat dalam kegelapan. Hanya Pyrokinesis yang dapat mengontrolnya saat marah.

Baekhyun berhenti membaca pada kalimat itu.

“Pyrokinesis? Aish, Sehun belum menemukannya.”

Biasanya pernikahan silang sering terjadi antara Lunarkinesis dan Pyrokinesis dan akan melahirkan seorang Electrokinesis.

Baekhyun terkekeh pelan.

Electrokinesis, pengendali listrik. Petualang, kata yang cocok untuk mendeskripsikan seorang Electrokinesis. Sering melakukan hal-hal ekstrim dan bertingkah konyol.

Pyrokinesis, pengendali api. Happy Virus, kata yang cocok untuk mendeskripsikan seorang Pyrokinesis. Pancaran kebahagiaan yang keluar dari pori-pori wajahnya ketika tersenyum dapat membuat hari seseorang menjadi menyenangkan dalam sekejap.

Terrakinesis, pengendali bumi dan tanah. Sensitif dan susah diatur. Hanya Lunarkinesis dan Pyrokinesis yang dapat mengontrolnya saat marah. Tipikal orang yang cepat panik dan canggung.

Chronokinesis, pengendali waktu. Biasanya Chronokinesis memiliki sorot mata tajam dan lingkar hitam di bawah mata, membuat mereka terlihat menyeramkan. Lain halnya dengan Telekinesis, Chronokinesis terlihat kuat namun memiliki jiwa yang sangat rapuh dan penakut.

Teleportation, berpindah tempat. Karena kekuatan mereka, Teleportation tumbuh menjadi seseorang yang jahil dan sering membuat orang jengkel. Namun pada kenyataannya Teleportation adalah kekuatan yang paling dihormati.

Aerokinesis, pengendali udara. Terlihat anti-sosial dan dingin dari luar, namun kenyataannya mereka sangat perhatian dan ceria hampir menyamai Lunarkinesis.

Baekhyun menguap lebar. Matanya bagaikan lampu berdaya 5 watt yang siap padam. Baekhyun membenamkan wajahnya di atas buku tersebut dan sedetik kemudian ia terlelap.

***

Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal¾kebiasaannya jika sedang bingung¾seraya berkeliling dari rumah ke rumah mencari seseorang bernama Park Chanyeol sesuai keinginan Luhan. Betapa malunya Kai saat penghuni rumah di ujung sana menatapnya dengan pandangan aneh, mungkin mereka menganggapnya gila.

Kai bersumpah tidak akan berbicara dengan Luhan selama tiga hari jika pencarian ini sia-sia.

Kai mencoret nomor rumah yang sudah ia datangi. Kini hanya tersisa lima rumah. Kai menghembuskan napas panjang dan merapatkan jaketnya. Semakin malam, semakin dingin. Lebih baik selesaikan hal ini dengan cepat dan pulang ke rumah.

Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara tangisan yeoja di telinga Kai. Kai mempercepat langkahnya.

Suara tangisan itu semakin kencang dan jelas. Kai mengacak-acak rambutnya. Saat ini rasa penasaran dan rasa takut sedang berkelahi dalam benaknya.

Sudah cukup.

Kai memutuskan untuk mencari sumber suara tersebut dan berusaha mengusir rasa takutnya.

Suara tangisan itu semakin jelas ketika Kai mendekati sebuah tikungan gelap yang sangat menyeramkan. Kai menelan ludah.

Ehm… apa sebaiknya aku kembali dan…

Kai menggeleng. Ia harus mencari tahu suara itu. Rasa penasarannya jauh lebih besar. Lebih baik tidak bisa tidur karena ketakutan daripada harus menderita karena tidak tahu apa yang terjadi.

Kai melangkah memasuki kegelapan…

Ia terperanjat.

Sesuai dugaan, seorang yeoja. Dengan panik, Kai segera menghampiri yeoja itu.

Gwaenchanayo?!”

Kondisi yeoja itu sangat kacau. Dengan rambut awut-awutan dan kemejanya yang hanya menyisakan satu kancing paling atas, belum lagi rok yang dipakainya robek di bagian pinggir. Wajahnya pucat pasi layaknya mayat hidup. Tubuhnya menggigil.

Kai setengah mati mengusir pikiran-pikiran negatif yang mendadak memenuhi pikirannya. Dengan segera, Kai menyampirkan jaketnya di tubuh yeoja itu, lalu melempar pandangan ke arah lain dengan harapan pikiran aneh itu tidak kembali lagi.

Gwaenchanayo…?” Kai mengulang pertanyaannya dengan gugup, masih memandang ke arah lain.

Yeoja itu terkesiap sesaat. Namja di hadapannya ini sekilas mengingatkannya pada seseorang…

Entah bagaimana, kekuatannya tidak bekerja saat itu. Mungkin karena efek kedinginan dan ketakutan yang berlebih. Ia tidak sempat berbuat banyak saat perampok berbadan kekar merebut tasnya dan menarik kemejanya hingga kancingnya terlepas. Ia tidak tahu bahwa akan ada seorang namja yang menemukannya di sini. Ia tidak tahu siapa namja itu.

Ini bukan Krystal yang biasanya.

Ada apa denganku?

Tanpa merespon Kai, Krystal menyentuh dadanya, berusaha menahan degup jantungnya yang tidak karuan.

Gwaenchanayo?” lagi-lagi, Kai mengulang pertanyaannya. Darahnya tiba-tiba saja berdesir dan jantungnya berpacu dengan kuat. Krystal terdiam.

Tanpa sadar, semburat merah muncul di wajahnya yang putih pucat. Krystal menunduk memandang kaki telanjangnya yang dihiasi tato bulan sabit berwarna perak.

Ne, jeon gwaenchanayo. Gomawoyo…”

Satu kata itu telah merubah segalanya.

Krystal harap ia salah orang.

***

“Kau ingin mampir?”

Chanyeol menggeleng seraya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. “Siapa yang mau menerima tamu tengah malam seperti ini? Cepatlah masuk dan tidur. Jangan lupa sikat dan cuci kakimu.” yeoja berambut coklat di hadapannya tersenyum mendengar sisi protektif dari sahabatnya itu, lalu memukul pundaknya pulan.

Algesseumnida, Harabeoji.” mereka berdua tertawa sesaat sebelum akhirnya yeoja itu merentangkan kedua tangannya lebar, memberikan pelukan singkat pada Chanyeol dan kemudian melambaikan tangannya.

Galge.” ujar Chanyeol nyaris berbisik. Yeoja itu hanya mengangguk. Chanyeol berbalik dan melangkah pergi.

Ya, Park Chanyeol!” Chanyeol kembali memutar badannya.

Wae, Suzy-ya?”

“Rumahku selalu terbuka untukmu, kapanpun!” seru Suzy, kemudian melambaikan tangan untuk kesekian kalinya. Chanyeol hanya tertawa dan mengangguk mantap.

Keduanya saling melambaikan tangan seiring Chanyeol yang perlahan-lahan meninggalkan pekarangan rumah Suzy dengan langkah berat.

Chanyeol menatap nanar wajah cantik nan polos yeoja itu dari kejauhan, merekamnya baik-baik dalam ingatannya. Entah mengapa, Chanyeol memiliki firasat buruk bahwa hari ini adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan yeoja itu.

Ya, Park Chanyeol!”

Chanyeol kembali menoleh ke arah sumber suara.

Suzy…?

Bukan.

Seorang namja imut yang nyaris terlihat seperti anak TK berlari menghampirinya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Nuguseyo…?”

***

Yeoboseyo? Jongin-ah, kau tidak perlu mencari lagi. Aku sudah menemukannya.”

‘Jinjja? Aish. Ya, sudah. Aku juga tidak ada niat lagi mencarinya sejak satu jam yang lalu.’

Arasseo. Jangan lupa makan. Aku sudah menyiapkan samgyeopsal di kulkas. Kau bisa menggunakan microwave, ‘kan? Aku mungkin tidak pulang ke rumah hari ini.”

‘Hmm.’

Sementara Luhan menelepon, Chanyeol menelusuri satu-persatu deretan dua belas foto wajah di hadapannya. Tak lama kemudian pandangannya jatuh pada sosok familiar yang tengah tersenyum lebar. Chanyeol tanpa sadar ikut tersenyum lalu menoleh ke arah Luhan.

“Senyumnya yang begitu menawan, seolah menghipnotis seluruh orang untuk selalu melindunginya. The smile everyone would die for. Baekhyun.” jelas Luhan.

Chanyeol mengangguk paham. Ia kembali memperhatikan kedua belas foto itu satu-persatu seraya mendengarkan Luhan dengan seksama.

“Bagaimana, Yeol-ah? Apa kau ingat sesuatu?”

Chanyeol tersenyum penuh arti.

“Lebih dari yang kau tahu, Hyung.”

-TBC-

Keterangan:

*wae geurae: ada apa

*sirheo: tidak mau

*arachi: mengerti?

*nae nuneul barabwa: lihat mataku #asik (?)

*yeoboseyo: halo (dalam telepon)

*neon jigeum eodiya: dimana kau sekarang

*arasseo: baiklah

*gomawo: terima kasih

*ya: hey! ._.

*algesseumnida: baiklah¾dalam bentuk formal

*harabeoji: kakek

*galge: aku pergi

*nuguseyo: siapa kau¾dalam bentuk formal

 

A/N: Part 1 😀 mian lama ;_; (itu pun kalo ada yang nunggu T_T) semoga tidak membosankan 😀 di part ini belum terlalu keliatan sisi fantasy-nya karena saya sendiri bingung gimana T_T yaah tapi semoga suka dan diterima 😀 jangan lupa tinggalkan jejak! Kamsahamnida ❤

 

 

31 pemikiran pada “Exotics and Their Stories (Chapter 1)

  1. part ini jauh lebih keren dari part sebelumnya, yaa walaupun beberapa jalan ceritanya bikin bingung tapi tetep aja keren bgt.
    aku tunggu part selanjutnya ya thor, semangat hehe

  2. anyyeong haseyo .. 🙂 aku member baru disini … wah thor ceritanya bagus .. slut deh sama author … bahasanya juga bagus … acung 2 jempol deh .. tapi disini aku masih bingung waktu baekhyun baca buku itu tentang kekuatan2 member exo ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s