Feel Your Presence

Feel Your Presence

Title: Feel Your Presence

Author: ndHAN

Main Cast: Kim Joonmyeon (EXO-K’s Suho), Jung Yongjae—or you if you are Suho and Kris biased—, Wu Yi Fan (EXO-M’s Kris)

Other Cast: Jung Yunho (TVXQ’s Yunho), Jung Sangwook—or you if you are Kai biased—

Genre: romance, sad, angst, little bit fantasy (maybe._.v)

Rating: PG-15

Length: oneshoot [flash fiction (1.184 words)]

Author’s note: Annyeonghaseyoo~ Ini adalah ff saya yang pertama kali dikirim kesini. Jeongmal mianhae kalau ff ini masih banyak banget kekurangannya (emang banyak, sih ^^v), maklum, masih author amatiran… Kkk… Dan untuk main cast yeojanya, saya pake namkornya eonnie saya tercinta (Nisaa eomma) karena dia emang ngebiasin Suho oppa dan Kris oppa. Other castnya juga saya pake namkornya eonnie saya (Mpem halmeonie) yang ngebiasin Kai oppa. Finally, happy reading and hope u enjoy it!

“Saengil chukkahae, chagiya… Wish you all the best… Saranghae…” bisik lembut dari suara seorang namja terdengar sayup di telingaku. Aku tahu, dia tak akan pernah berada di sisiku lagi. Namun, satu hal lagi yang aku tahu, meskipun raganya sudah tak ada di sisiku, aku tetap bisa merasakan kehadirannya di sekelilingku. Batin. Hati. Pikiran. Batinku, hatiku, dan pikirankulah yang mampu merasakannya.

Aku memejamkan mataku, membiarkan tetes air yang terbendung di pelupuk mataku untuk keluar dan membanjiri wajahku yang sudah tak jelas bentuk rupanya. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku setelah kejadian itu, setelah namja itu meninggalkanku di dunia yang kurasa begitu kelam tanpanya. Entahlah, banyak orang mengatakan aku gila, sinting, tidak waras, atau apalah. Yang jelas, aku tak peduli sedikitpun.

Kim Joonmyeon.

Dia. Namja itu. Namja yang membuatku nyaris gila ketika mencintainya, dan membuatku benar-benar gila ketika harus melepaskannya. Membuatku seakan tak mampu lagi merasakan nikmatnya udara ketika mendapati kalau ternyata dia sudah tak bisa lagi bersamaku. Pergi ke tempat yang tak mampu kujangkau selama aku masih bisa menghirup napas.

Aku membuka mataku, kemudian meraih sebuah kalender duduk di meja samping tempat tidurku. Senin, 9 Januari 2012. Tanggal itu seharusnya menjadi tanggal yang membahagiakan untukku. Hari dimana tepat 20 tahun aku memijak bumi. Tapi kini, semuanya telah berubah. 9 Januari, bukan lagi tanggal pembawa kebahagiaan. Tapi, tanggal paling memilukan yang tak akan tergantikan sepanjang hidupku. Nae Joonmyeon, juga pergi di tanggal yang sama.

“Ne, chagiya… Gomawo… Nado saranghaeyo…” bisikku lirih, membalas bisikan dari suara memabukkan yang dia miliki, suara yang telah menjadi candu bagiku untuk mendengarnya.

Aku menegakkan kepalaku, menghirup napas sebanyak-banyaknya, kemudian membuangnya dalam satu hentakan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu kamar usangku yang menyebalkan ini. Sekilas, pandanganku menangkap sekelebat cahaya putih jatuh di sana, kemudian menjelma menjadi sesosok namja rupawan dengan senyumannya yang mampu melelehkan seluruh es di kutub utara. Seketika hatiku menghangat. Aku sudah tahu, aku sudah mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Dia. Kim Joonmyeon. Nae chagiya. Nae namja. Nae Joonmyeonnie oppa.

Dia mendekat ke arahku, membelai pipiku lembut, membuatnya langsung menyebarkan semburat merah. Aku tersenyum samar, di antara degupan jantungku yang tak terkontrol. Aku menatap matanya, yang juga tepat menatap mataku. Pandangan kami bertemu.

“Yongjae-ah…” panggilnya pelan. Aku tersenyum, lalu mengangguk pelan.

“Ne, Joonmyeonnie oppa…” sahutku pelan membalas panggilannya. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang hangat dan penuh kelembutan.

“Aku ingin meminta satu hal padamu, bolehkah?” tanyanya dengan suaranya yang lembut. Aku serasa melayang mendengar suaranya yang mencandukanku.

“Tentu saja, oppa…” jawabku membuatnya tersenyum lebar. Aigo… Senyum itu… Senyum yang sangat kurindukan.

“Lupakan aku, chagiya…” ucapnya sambil menatap mataku dalam. Aku tersentak. Melupakannya adalah hal yang paling mustahil kulakukan sepanjang sejarah hidupku.

“Wa-waeyo, oppa?” tanyaku sedikit terbata meminta penjelasannya. Mataku kembali berkaca-kaca.

“Hidupmu masih panjang, chagiya… Aku tidak ingin kau selamanya terpuruk karena kepergianku. Masih banyak namja di luar sana yang lebih baik dariku. Carilah kebahagiaanmu di antara namja-namja itu. Aku yakin, kau pasti menemukannya di sana. Aku jamin itu. Aku bukan ditakdirkan untukmu. Maka dari itu, lupakan aku…” jelasnya lirih. Aku mulai terisak. Aku berusaha meraih tubuhnya, tapi nihil. Aku tak bisa meraihnya. Bahkan, aku tak bisa menyentuhnya. Hanya dia yang bisa menyentuhku, tapi aku tak bisa menyentuhnya.

“Aku bisa mencari kebahagiaanku dengan namja lain seperti kemauanmu tapi melupakanmu adalah hal yang mustahil dapat kulakukan, oppa. Bahkan sampai sekarang pun aku masih sangat mencintaimu. Aku bisa mencoba mencintai orang lain tapi dirimu akan tetap menjadi yang pertama di hatiku, oppa. Aku bisa mencintai orang lain tapi aku tak akan pernah mampu melupakan segala yang telah kulalui bersamamu, segala tentang dirimu, oppa…” uraiku sambil terisak. Dia menatapku nanar. Aku bisa melihat ada setetes kristal bening di sudut matanya. Aku baru tahu, ternyata makhluk sepertinya bisa menangis.

“Kenapa?” tanyanya parau dengan suara yang sedikit bergetar. Aku menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan.

“Karena kaulah orang pertama yang membuatku merasakan sesuatu yang dinamakan cinta…”

3 years later, January 9th 2015…

Aku memperhatikan pantulan tubuhku di kaca. Perlahan, seulas senyuman terbentuk di bibirku. Tubuhku terbalut gaun berwarna broken white yang terbuat dari satin Paris berlengan panjang dengan desain yang terlihat rumit dengan ekor sepanjang 2 meter. Di kepalaku terpasang sebuah head piece dari rangkaian bunga melati putih. Rambut cokelat sebahuku digerai bebas dan di wajahku terpoles make-up tipis yang meninggalkan kesan natural. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka, menampilkan siluet seorang yeoja yang bertubuh lebih pendek dariku. Dia Jung Sangwook, adik sepupuku yang juga merupakan yeojachingu dari adik Joonmyeon oppa, Kim Jongin.

“Eonnie, cepatlah. Kau sudah yeppeo, kok. Kris oppa sudah menunggu…” katanya sambil menunjuk ke arah aula yang ada di belakangnya. Aku tersenyum kepadanya, lalu mulai beranjak dari kamarku yang sudah terdekorasi dengan warna serba putih ini.

“Ne, Sangwookie… Kajja!” seruku sambil berjalan mendahuluinya.

Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagiku. Hari adalah hari ulang tahunku sekaligus hari dimana aku melepas masa lajangku dengan  seorang namja China bernama Wu Yi Fan, atau yang biasa dipanggil Kris. Ya, dialah kebahagiaan keduaku, setelah Joonmyeonnie oppa.

[skip]

Aku berjalan menuju altar didampingi appaku, Jung Yunho. Sangwook mengekor di belakangku karena dia bertugas untuk memegangi ekor gaunku. Aku menebar senyuman bahagiaku pada seluruh tamu undangan yang hadir di aula pribadi keluargaku ini. Aku menatap ke altar pernikahan di depanku, dan menangkap sesosok namja tampan—bahkan sangat tampan—bertubuh tinggi tegap dengan stelan tuxedo putih tengah tersenyum kepadaku. Terlihat jelas binar kebahagiaan di matanya. Dialah orang yang sebentar lagi akan menjadi namjaku, pengganti Joonmyeonnie oppa. Wu Yi Fan alias Kris.

Aku menaiki altar perlahan-lahan, dibantu Kris oppa yang memegangi tanganku lembut. Di altar itulah, kami mengikat janji sehidup semati, dengan sebuah ikatan pernikahan. Kami mengucapkan janji, yang tak akan dan tak boleh diingkari.

“Baiklah, kalian boleh berciuman.” ucap pastor yang memimpin upacara pernikahanku dengan Kris oppa. Pandangan kami pun bertemu. Kami saling melempar senyum. Sedetik kemudian, Kris oppa menarikku ke dalam pelukannya dan mencium bibirku lembut. Aku membalas ciumannya, lalu kami melepaskan tautan bibir kami. Riuh tepuk tangan menggema dari setiap sudut aula. Aku menatap ke arah para tamu undangan yang hadir memenuhi aula. Tapi, pandanganku berpusat pada ‘seseorang’ yang duduk di kursi paling ujung. ‘Seseorang’ yang berbeda dari yang lainnya. ‘Seseorang’ yang terbentuk dari cahaya putih yang indah. Iya, dia Joonmyeonnie oppa. Dia tersenyum bangga kepadaku, kemudian sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku, seakan tersapu angin musim dingin yang begitu menyejukkan.

Tiba-tiba, angin dingin berhembus lembut menyentuh tengkukku, membuatnya sedikit merinding. Lalu, telingaku sayup mendengar bisikan dari suara yang kurindukan. Suara Joonmyeonnie oppa.

“Kau berhasil, Yongjae-ah. Kau telah menemukan kebahagiaan sejatimu. Chukkahae, chagi. Aku bangga padamu. Saranghaeyo…” aku memejamkan mataku mendengarnya, membiarkan hatiku yang menjawabnya.

“Ne, Joonmyeonnie oppa. Jeongmal gomawo untuk semuanya. Nado saranghaeyo…”

Aku tahu aku tak akan pernah bisa melihatmu lagi, tapi aku tahu kalau kau akan selalu ada di sampingku, kapanpun dan dimanapun aku berada. Aku tahu aku tak akan pernah bisa melihat wujud cintamu lagi, tapi aku tahu kalau kau akan tetap mencintaiku dan mengingat cintaku, begitupun juga aku yang tak akan pernah mampu melupakan cintaku yang pernah kuberikan padamu dan cinta yang telah kau berikan padaku. Karena aku juga tahu, kalau aku bisa merasakan kehadiranmu. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan, Joonmyeonnie oppa… Saranghae, yeongwonhi…

-Jung Yongjae-

-End-

Jeongmal mianhae, ini adalah flash fiction yang sangat tidak memuaskan, soalnya aya bikin pas saya lagi stress mau  UTS 😀 Saya juga nggak ahli bikin ff dengan genre seperti ini. But, thanks for reading! Don’t forget to RCL, nice readers ^^

11 pemikiran pada “Feel Your Presence

  1. min FF aku yang “beautiful gwishin” udah di publish belom? kalo udah aku mau kirim lanjutannya

    ________________________________

Tinggalkan Balasan ke cindy caroline Hutabarat Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s