100 Ducks (Chapter 8)

Tittle    : 100 Ducks

Part  8  :  “Love”

Lenght : Chaptered

Rating                                    : T

Genre : School, Comedy and Romance

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Main Cast : D.O EXO-K (Do Kyung Soo)

                   Song Hye Ji (You)

                   Kris EXO-M (Kris Wu)

                   Yoona SNSD

 

(Mohon komentar dan sarannya *bow* ^^)

 

PART  8

‘Love’

part 8

==================================================================

                Hyeji melepaskan kerah baju Kris dan sedikit mudur. Tanpa disangka ia melepaskan topinya dan membiarkan rambutnya yang sedikit bergelombang tergerai di hadapanya.

“Aku perempuan!.”

Hanya beberapa detik Kris menatapnya. Langkah kakinya mendekati Hyeji.

“Lalu?.” Bisiknya di telinga Hyeji.

Mata Hyeji hanya dapat terbelalak mendengar pernyataan itu, dan dengan santai ia langsung pergi begitu saja.

 

@Hyeji’s House

            Amarah Jung Hwa telah mencapai puncaknya saat mendengar cerita Hyeji.

“Ya!. Nuna benar-benar bodoh!. Aku jamin nuna pasti kalah.”

Hyeji pusing mendengar repetan dari adiknya yang dari tadi menyalahi dirinya.

“Kamu kan sudah janji mau bantu. Nuna gak mau tau!.”

Ia merasa kesal dengan sikap Jung Hwa. Seharusnya ia diberi solusi bukan  malah di marahi dan di ceramahi.

“Mau kemana?.” Tanya Jung Hwa pada nunanya yang ingin keluar dari kamarnya.

“Mau makan malam, salah?.” Kata Hyeji yang bete.

“Jangan bilang gara-gara si anak mami baik, nuna jadi luluh sama dia?.” Tebak Jung Hwa.

“WHAT????, jangan mengada-ngada. Laki-laki jadian kayak dia?. Buat apa aku pikirin dia. Cuma seorang majikan yang aneh, bicaranya seperti perempuan. Yang sok manis banget dengan perempuan centil dan genit, yang namanya Yoona. Sok romantis, sok cakep. Si Yoona itu juga, udah tua, masih aja mau di deketin sama anak-anak.”

“Hmm…memang gak cocok mereka. Cocoknya sama nuna kan?.”

“Hmm…” respon Hyeji mengangguk tanpa disadarinya.

“Eh…, anio…maksud nuna..”

Belum sempat ia menjelaskan, Jung Hwa malah tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha…,benar tebakanku.” Katanya.

Hyeji yang kesal di tertawai langsung keluar.

“Chakkaman…” Nada bicara Jung Hwa terdengar serius, membuat langkahnya terhenti.

“Dalam cinta berhati-hatilah dalam berkata, karena meski amarah menguasai logika. Hatimu takkan berhenti merindukannya.”

***

@Namsan Hakkyo

D.O terlihat begitu marah memasuki area sekolah. Wajahnya yang begitu putih terlihat begitu merah, terutama daun telinganya. Ia melesat bagaikan angin menuju kelasnya. Dan membanting tasnya keras. Wajar kalau ia begitu kesal. Murid terpandai dan terajin di sekolah harus masuk dalam daftar hitam murid yang terlambat kesekolah.

Saat bel berbunyi, ia tampak terburu-buru menuju parkiran sekolah.

“Kamu kesini!.” Tatapnya tajam pada sosok Hyeji yang sedang melepaskan gembok di sepedanya.

‘Ah…si anak mami.’ batin Hyeji.

Dengan dagu terangkat keatas, ia datang menghampiri D.O.

“Ada apa?.” Singkatnya yang berada di atas sepesanya.

“Kenapa kau tidak menjemputku?. Kau punya otak gak sih?. Bahkan anak Tk lebih pintar darimu. Kau punya hp tapi tidak tau menggunakannya. IDIOT!!!!!.” Bentak D.O.

Hyeji turun dari sepedanya.

“Aku hampir gila kau tau?. Kenapa telpon aku gak diangkat?. Kau mau buat aku serangan jantung HAH??.” Sambungnya lagi.

Hyeji menggenggam tangannya dengan kuat untuk menahan emosinya. Ia berusaha untuk tidak menjawab sepatah katapun.

“Punya kepala di pakai, diasah. Jangan tumpul kayak gitu.” Kata D.O sambil menolak kepala Hyeji dengan ujung telunjuknya.

“Benar-benar idiot. Sebaiknya kita batalkan saja taruhannya, karena sudah jelas aku yang akan menang. Mustahil ada laki-laki yang menyukai gadis bodoh, yang IQ nya di bawah rata-rata. Kalau adapun, laki-laki itu benar-benar bodoh!.” Ledek D.O dengan ketus.

“Hanya itu?. Jauh sebelum kamu bilang aku idiot dan bodoh, aku sudah lebih dulu mengetahuinya. Kau benar, hanya laki-laki tidak normal dan bodoh yang jatuh cinta denganku. Satu hal yang tidak kamu ketahui, bahwa tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.” Kata Hyeji dengan nada pelan dan raut wajah yang serius. Kalimat-kalimat yang bukan orang sepertinya  yang dapat mengeluarkannya.

Ia langsung melaju dengan sepedanya meninggalkan D.O yang bingung.

“Kenapa dia?. Maksud aku kan cuma mau nanya kenapa dia gak jemput aku.” Gumamnya bingung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

***

Di bawah teriknya matahari, Hyeji begitu kencang mengayuh sepedanya. Saat tiba di tempat tujuan, ia melemar sepedanya asal.

Sebuah pohon besar yang umurnya berpuluh-puluh tahun, dekat taman kota. Tempat biasanya ia curhat segala isi hatinya.

Hyeji berjongkok di belakang pohon rindang tersebut. Ia berusaha menahan sesuatu yang akan jatuh dari matanya.

“Jangan menangis, jangan menangis.” Sugestinya pada dirinya sendiri.

Namun apalah daya, tanpa di kehendakinya, air matanya jatuh. Malah ia terisak-isak dalam tangisannya. Tergambar dari rautnya, ia tampak kesal tidak hanya dengan D.O tetapi juga pdanya dirinya.

“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah.” Sebuah suara laki-laki.

Hyeji mengira itu suara yang berasal dari pohon besar yang ada di belakangnya. Ia bangkit dan menghapus air matanya.

“Kau bisa bicara?.” Tanyanya yang ragu-ragu untuk memegang pohon tersebut.

“Kau kira ini jaman apa?. Masih ada pohon yang dapat bicara. Laki-laki pantang menangis.” Suara laki-laki itu itu begitu lantang dan jelas.

Seperti mengenal suara itu, Hyeji perlahan melihat ke balik pohon tersebut. Seorang laki-laki berambut pirang dan mengenakan kaos putih berlengan pendek duduk membelakangi. Hanya dengan melihat belakangnya saja, Hyeji dapat tau siapa laki-laki itu.

“Kau seperti hantu. Datang selalu disaat yang tidak diinginkan.” Ketusnya.

“Geer, hanya kebetulan saja. Lagian aku juga sedang tidak mood, dan makin tambah tidak mood saat mendengar seorang laki-laki menangis.” Kata Kris tanpa menoleh kebelakang.

Sebelum menjawab, Hyeji menarik napas panjang dan menaruh kedua tangannya di pinggang.

“Kau tau kan?, hari ini sangat panas. Jadi, jangan coba-coba memanasiku. Sudah beribu kali aku bilang, aku ini perempuan. Harus aku kasih bukti apa sih?.” Hyeji marah-marah.

Kris berdiri dari posisinya sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana jeansnya. Ia berbalik memandang Hyeji dengan tatapan mencemooh.

“Hah?!. Peduli apa aku?. Itu urusanmu.” Kata Kris yang langsung meninggalkan Hyeji yang bengong.

“Apa sih dia?. Sok cool!.” Gerutu Hyeji.

***

Kris memacu motor sportnya menuju sebuah tempat gym. Saat sampai ia langsung mengganti bajunya. Mulailah ia berolahraga. Orang-orang yang ada di tempat itu memandangnya aneh. Ia berolahraga dengan gila, tanpa berhenti sedetikpun. Bajunya sudah benar-benar basah kuyup akibat keringat yang bercucuran.

“Ada apa sih?.” Tanya salah satu laki-laki pada Kris. Namun Kris yang sedang mengangkat barbel. Sama sekali tidak peduli.

“Kris sudah jam 8 malam. Pulang sana, makan. Kau gila sudah hampir enam jam kau olahraga. Lagi ada masalah?.” Tanya laki-laki itu lagi. Namun tak di gubrisnya sama sekali.

Lalu laki-laki itu menelpon seseorang.

Tak berapa lama kemudian, Yoona muncul dengan membawa sesuatu di tangannya. Dari jauh ia dapat melihat Kris yang sedang mengangkat beban dengan posisi berbaring. Ia tersenyum melihatnya, dan menempelkan minyak telon di hidung Kris.

“Ya!.” Kris bangun dari posisnya.

“Kamu lupa?. Aku paling benci bau minyak telon. Kau membuat hidungku menderita,Yoona.” Keluahnya.

“Habisnya, kau seperti orang kesurupan. Olahraga gak berhenti-berhenti.” Kata Yoona.

Kris bangkit, ia menuju ruang ganti. Namun langkahnya terhenti saat Yoona berkata sesuatu.

“Masalah perempuan?.”

Kris kikuk tidak tahu harus menjawab apa. Ia malah melanjutkan jalannya untuk mengganti baju.

“Haaaah…” Ia menghela napas panjangnya.

“Aaaaaaargh….” Tiba-tiba ia mengacak-ngacak rambutnya.

“Lupakan!. Lupakan!.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Setelah selesai mengganti baju, ia dan Yoona keluar dari tempat gym. Yoona mengajaknya makan. Saat pintu keluar terbuka dan langkah kaki pertamanya berda di luar tempat tersebut. Ia melihat sekeliling, lampu-lampu, kendaraan-kendaraan yang lalu lalang dan semua orang berubah menjadi Hyeji di matanya. Ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali.

“Kenapa?, matamu kabur?.” Tanya Yoona.

“Aku sepertinya sudah gila.” Gumam Kris yang membuat Yoona jadi bingung.

@Seoul Street

Setelah selesai makan, Kris mengantar Yoona dengan berjalan kaki untuk mencari taksi untuknya.

“Aku tidak tau harus menjawab apa saat Kyung Soo menyatakan cinta padaku.” Yoona yang berjalan di belakang Kris membuka pembicaraan.

“Aku tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Sama seperti aku tidak mengerti perasaan laki-laki yang aku cintai. Kadang aku merasa dia memperlakukanku lebih dari teman, namun terkadang ia memperlakukanku lebih buruk dari teman. Selalu saja rasa perasaan ini menghampiri, perasaan penasaran siapa yang gadis yang ia suka. Sepertinya aku harus menunggu beberapa tahun untuk tau siapa.” Curhat Yoona.

“Kau telah membuat anak SMA itu patah hati.” Kata Kris.

“Benarkah?.” Respon Yoona tersenyum melihat punggung Kris.

“Hmm…aku telah menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Aku paling benci rasa ini harus duduk di hatiku.” Kris seperti sedang mengeluh dengan kesal.

“Kalau aku merasa paling bodoh, dan tidak tau apa sebabnya rasa itu ada di hatimu. Satu kata yang tepat melengkapinya.”

Kris menoleh kebelakang dan menatap Yoona penuh makna.

“Cinta.” Satu kata dari Yoona

Mata Kris tebelalak.

“Hahaha…, kau memang lucu. Kita baru saja makan, jangan membuat aku tertawa terbahak-bahak, perutku bisa sakit.” Kris menahan ekspresinya yang ingin tertawa lepas. Ia kembali berjalan.

“Jangan mengelak!.” Teriak Yoona di belakang yang diam mematung. Langkah Kris terhenti, ia berbalik.

“Maksudmu?. Haha…, kau tidak tau Yoona. Dia itu tidak jelas. Perempuan yang seperti laki-laki. Kau gila?. Hahaha, mana mungkin kau bilang ini cinta. Cinta itu, rasa suka laki-laki pada perempuan. Semua laki-laki pasti menginginkan perempuan yang cantik lembut dan yah…kamu tau sendiri kan perempuan yang seperti apa yang didambakan laki-laki?. Jadi, jadi ya…hahaha.. kau…” Kris terus mengoceh ini itu. Sementara Yoona terus memandangnya dari jarak 5 meter dengan wajah serius.

“Hye Ji?.” Gumam Yoona yang mengentikan ocehan Kris.

“Hyeji dan Cinta adalah kata-kata yang cukup.” Sambung Yoona.

Kris mendelik ke arah Yoona. Ia sama sekali tidak mengerti. Lalu Yoona berjalan mendekatinya.

“Sekarang, aku tidak harus menunggu beberapa tahun untuk tau siapa. Karena gadis itu adalah Hye Ji.” Kata Yoona.

Saat jarak mereka hanya tinggal sejengkal, Yoona berkata, “Bangun!. Jangan mengelak!.”

Sontak membuat Kris membeku di tempat, tak dapat menjawab apa-apa. Yoona langsung berjalan cepat dan menstop sebuah taksi. Dan ia pun segera memasukinya. Sementara Kris tak dapat menggerakkan anggota badannya sama sekali.

Saat itu juga, Kris kembali ke gym dan mengambil motor sportnya. Ia melaju kesubuah tempat.

***

Kris telah membuka helmnya, namun ia masih berada di atas motornya. Ia berhenti tepat di sebuah rumah sederhana. Saat merasa yakin, ia turun dan berdiri tegap di depan pagar rumah tersebut. Hampir 20 menit ia hanya berdiri sambil berlompat-lompat untuk melihat ke dalam rumah. Namun tak ada inisiatifnya untuk memencet bel rumah tersebut.

“Ya…penguntit!!.” Suara seseorang mengejutkan Kris.

“Eh??, Kris?. Buat apa menguntit rumah orang?.” Tanya Hyeji.

“Hah?.” Kris tak tau harus menjawab apa.

“Sudah ya, aku mau pulang dulu. Annyeong…” Kata Hyeji enteng sambil melambaikan tangan. Kris malah mengejar Hyeji dari belakang.

“Itu bukan rumahmu?.” Tanyanya sok dingin.

“Rumahku selang dua rumah dari rumah tadi. Tapi…ngomong-ngomong, kau buat apa nguntit-nguntit rumah nenek Jin?. Jangan-jangan mau mencuri kucing-kucing peliharaannya ya?.” Tuduh Hyeji.

“Gila!. Aku boleh minta minum dong dirumahmu.”

“Maaf, ini akhir bulan rumahku tidak menerima tamu.” Hyeji langsung masuk kedalam rumahnya dan membanting pagarnya

“Aaarghh…, aku harus buktikan malam ini juga.” Gumam Kris yang tampak frustasi sekali.

Teeeet….teeeet….teeeet….teeeet….teeeet….teeeet….teeeet….teeeet….teeeet…. Kris terus-terusan memencet bel rumah Hyeji.

Bruuk…, suara hantaman pintu pagar yang terbuka.

“Kami sekeluarga gak ada yang budeg ya!. Jangan buat orang tuaku pusing, sudah kubilang kan ini akhir bulan. Orang tuaku sensitif. Dan jangan memencet bel lagi!, ini akhir bulan, gak ada uang untuk gantiin belnya kalau rusak. Udah, udah, pulang sana!.” Perintah Hyeji dengan ketus.

Namun Kris terus menatap wajahnya. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya, seakan ingin berjabat tangan dengan Heji.

“Oke…oke..lalu pulang ya.” Kata Hyeji, dan ia pun langsung menjabat tangan Kris.

Deg…jantung Kris seakan mau copot. Jantungnya pun berdetak semakin kencang dan semakin kencang. Buru-buru ia melepaskan jabatan tangannya dengan Hyeji dan berlari menuju motornya. Dengan gelagapan ia memasang helmnya dan menghidupkan mesin motornya yang lalu melaju bagai angin.

“Tambah lagi, list orang aneh di bukuku. Bule sarap!.” Gumamnya di depan pintu pagar.

 

To Be Continued…

37 pemikiran pada “100 Ducks (Chapter 8)

  1. ┡┦a◑.◑҉=D┡┦a◑.◑=))҉┡┦a◑.◑ sebenrnya kris S̶̲̥̅̊u̶̲̥̅̊k̶̲̥̅̊a̶̲̥̅̊♡ Ъќ sih sma yoona,yoona jga gtu.tapi lucu mereka berempat .lanjut 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s