All My Love Is For You, Noona…

All My Love Is For You, Noona…

 

Author : Kreasee

Cast :

–          Wu Yifan

–          Lee Nayoung

–          Other casts as cameo

Genre : Romance, sad, drabble

Length : Oneshot

 __________________________________

Tahun 1996 di Panti Asuhan Elpidos…

 

“Anak-anak, ayoo beri salam pada noonadeul dan hyungdeul yang sudah menyempatkan diri kemari. Kajja!”

“Annyeonghaseyo, noonadeul~~ hyungdeul”

“Hahaha, annyeonghaseyo, dongsaengdeul”

“Baguss. Ayoo sekarang kalian ajak main yaa. Mereka datang jauh sekali hanya untuk menengok kalian looh”

“Neee. Ayoo noona”

“Ayoo, hyung. Ayoo main bersamaku”

“Nee kekeke~”

 

Ke-14 anak laki-laki yang merasa senang melihat 9 namja dan yeoja yang tak mereka kenal datang jauh-jauh hanya ingin menengok mereka mulai mengajak mereka bermain. Lee Nayoung, salah seorang diantara 9 rombongan itu terlihat sedikit kagok.

 

“Waeyo, Youngie?” tanya Haana, sahabat Nayoung bingung.

 

“Duuh, kau kan tau aku sama sekali tak suka anak kecil. Apalagi anak panti asuhan aihh” gerutu Nayoung sedikit berjengit. Haana yang melihat ekspresi tak suka Nayoung itu hanya tersenyum memaklumi. Sahabatnya memang tak bisa dekat dengan anak kecil

 

“Ayolah, dicoba dulu. Siapa tau ada yang mampu membuatmu senang. Mereka tak seburuk pikiranmu lah”

 

“Aniyo. Kau main saja dengan anak-anak itu. Aku menunggu disini saja”

 

“Nayoung, memangnya kau mau nilai project ini dapat F?” tembak Haana langsung, membuat Nayoung terdiam.

 

“Aniyoo~”

 

“Nah, makanya cepat kau kesana dan bermainlah dengan salah satu anak disana. Kita kemari mengajak mereka bermain kan hanya demi nilai A untuk project ini. Cepat, kesanalah”

 

“Aishh neee”

 

Dengan terpaksa Nayoung berjalan ke tengah ruangan untuk mencari anak panti tersebut yang belum didekati salah satu temannya. Nayoung tersenyum ketika pandangannya tertuju pada satu titik tepat di bawah meja. Seorang anak laki-laki yang tengah bermain rubik sendirian sama sekali tak terusik dengan keadaan hingar bingar sekitarnya. Iapun dengan mantap mendekati anak tersebut.

 

“Annyeong” sapa Nayoung sedikit keras. Suasana di sekitarnya memang ramai sekali karena semua teman-temannya sudah bermain dengan anak-anak panti itu. Namun anak laki-laki itu tak menggubris. Pandangannya tetap lurus ke rubik 3x3nya.

 

“Annyeong” sapa Nayoung tetap penuh penekanan. Dan lagi-lagi anak itu tidak menggubris. Dengan kesal diambilnya rubik tersebut dan perhatian anak tersebut akhirnya terpusat ke Nayoung. Nayoung pun tersenyum evil. Dan sesuatu yang tak diduganya pun terjadi.

 

“Huaaaaaaaa hiks hiks huaaaaa” anak laki-laki tersebut pun menangis. Nayoung yang melihatnya pun panik. Seorang ahjumma yang sepertinya pengasuh anak-anak panti tersebut mendekat.

 

“Aigoo, kau kenapa Yifan?”

 

“Noona ini melebut lubikku huaaaa…” tangis Yifan, anak laki-laki tersebut semakin keras saja. Haana yang melihatnya langsung mendekati Nayoung.

 

“Kau ini bagaimana sih? Cepat kembalikan rubiknya”

 

“Tapi kalau aku mengembalikan rubiknya ia tak akan memperhatikanku. Lalu bagaimana cara aku mengajaknya bermain, Haanaaa?” tanya Nayoung jadi jengkel juga.

 

“Kau ajak dia bicara baik-baik dong. Kau ini bodoh sekali” ejek Haana membuat perasaan Nayoung semakin dongkol.

 

“Aissh yayaya cerewet”

 

Nayoung dengan muka terpaksa mengembalikan rubik milik Yifan tersebut. Yifan yang melihat rubiknya sudah berada di tangan akhirnya menghentikan tangisnya.

 

“Nah noona kan sudah mengembalikan rubikmu. Ayoo bermain lagi dengan noona” bujuk ahjumma tersebut sambil membelai rambut Yifan.

 

“Gak mau!!”

 

“Yifaaann~”

 

“Aku gak mau! Noona ini menyebalkan!”

 

“Yifan, ayoo main sama noona. Noona janji ga akan begitu lagi”

 

“Aku gak mau!!” dengan kasar Yifan pun mendorong tubuh Nayoung yang tengah berjongkok. Nayoung yang tak siap akhirnya hanya bisa pasrah jatuh ke lantai dengan keras. Sikutnyalah yang membentur kerasnya lantai paling awal.

 

“Aduuuh”

 

“Yifan! Kau nakal sekali!”

 

Yifan bukannya merasa bersalah malah berlari menuju kamar sambil menggenggam rubiknya. Nayoung mengumpat dalam hati.

‘Dasar anak bodoh! Dia pikir siapa dia? Anak buangan saja banyak tingkah uggh’

 

“Mianhae, agassi. Yifan anaknya memang begitu. Dia tidak suka ada yang mengganggu aktifitasnya bermain rubik, apalagi oleh orang yang tak ia kenal. Maafkan dia sekali lagi”

 

“Hmm yasudahlah tak apa, ahjumma”

 

“Kalau kau masih ingin bermain dengannya, lebih baik kau kembali lagi besok dengan membawa rubik lain yang lebih bagus. Mungkin yang 4×4. Ia pasti akan senang”

 

Mendengar tawaran ahjumma itu sebenarnya Nayoung ingin sekali menolak. Namun jika ia tidak bermain bersama Yifan, ia harus bermain dengan siapa lagi? Lalu nilai project kegiatan sekolahnya akan dihitung dari mana? Dengan sedikit enggan Nayoung pun mengangguk.

 

“Baiklah ahjumma. Aku akan kembali lagi besok dengan rubik 4X6 untuknya”

 

 

Keesokan harinya…

 

“Yifaaan”

 

Mendengar namanya dipanggil, Yifan pun menoleh. Namun raut wajahnya langsung berubah mendung ketika melihat siapa yang memanggil.

 

“Iniii, noona bawakan rubik bagus untukmu” sapa Nayoung sambil tersenyum tulus. Yifan memperhatikan rubik yang digenggam Nayoung tersebut. Matanya mulai terlihat berbinar-binar, membuat Nayoung dalam hati bersorak senang.

 

“Ini… untukku, noona?” Nayoung mengangguk.

 

“Asiiiiikkk. Gomawooo, noona”

 

Akhirnya Nayoung berhasil membuat Yifan senang bermain bersamanya. Sepanjang hari itupun dilalui Yifan dan Nayoung dengan bahagia. Mereka terus bermain bersama. Entah menggambar bersama, mewarnai bersama, bermain rubik, dan mengikuti segala aktifitas yang telah kelompoknya susun demi project sekolahnya ini.

 

“Yifan sebenarnya bukan asli Korea. Ia seorang Canadian, sama seperti ibunya. Maka dari itu rambutnya agak sedikit pirang, keturunan dari ibunya. 3 tahun yang lalu ibunya menitipkan Yifan ke panti ini karna ia terlalu sibuk akan pekerjaannya. Saat itu ibunya bilang Yifan hanya akan dititipkan dan ibunya akan kembali menjemput. Namun ternyata ia sama sekali tak kembali. Saat itu Yifan masih berusia 3 tahun” cerita ahjumma pengurus panti tersebut kepada Nayoung. Mendengarnya Nayoung jadi iba. Perlahan perasaan dongkolnya pada Yifan karena insiden hari pertama itu luntur. Ternyata bocah ini ditelantarkan oleh ibunya sendiri. Dibelainya rambut Yifan sayang, membuat Yifan menoleh.

 

“Waeyo, noona?” Nayoung hanya menggeleng melihat ekspresi polos Yifan. Yifan jadi terdiam melihat Nayoung.

 

“Noona… Yeppeo noona, salanghae

 

“Mwooo?”

 

Salanghae, noona. Aku suka pada noona”

 

“Hahahaha. Yifaaann, kau ini tau apa soal suka-sukaan? Kau masih kecil. Dasar genit” goda Nayoung sambil menyentil hidung Yifan. Namun Yifan terdiam. Rautnya nampak serius.

 

“Ayoo dong Yifan, dilanjutin gambarnya”

 

CUP!

 

Tanpa diduga Nayoung, Yifan mencium pipinya. Nayoung membeku sesaat, tak menduga bocah tampan itu akan menciumnya. Namun ia berpikir, Yifan hanyalah seorang bocah kecil, tak tau apa-apa soal mencintai seperti yang ia bilang tadi padanya. Tak mungkin ‘suka’ yang dibilang Yifan tadi adalah cinta. Kemudian tanpa berprasangka apa-apa Nayoung pun membalas ciuman pipi itu, membuat Yifan tersipu.

 

“Noona juga menyayangimu, Yifan. Selalu…”

 

Tanpa Nayoung ketahui, Yifan memang mulai merasakan suatu perasaan aneh dalam hatinya ketika melihat Nayoung. Suatu perasaan yang Yifan sendiri belum bisa deskripsikan secara jelas. Yang pasti perasaan itu terasa sangat membahagiakan. Menyenangkan. Hangat. Dan perasaan ini hanya ia yang tau.

 

 

Perasaan… cinta. Pada Nayoung.

 

 

 

Tahun 2012…

 

“Hmm apa noona masih tinggal di alamat ini ya? Daerah Myeongdong, wah lumayan jauh nih”

 

Seorang namja tampan berbalut kemeja hitam tengah memegang sebuah kertas kecil bertuliskan suatu alamat. Ia terlihat sedikit bimbang, antara tetap pergi ke alamat tersebut atau tidak. Namun kata hatinya dengan lantangnya menyebut pergi. Namja itu yang tak lain adalah Wu Yifan yang kini telah menjadi pemilik restoran ternama di daerah Busan yang berdekatan dengan panti asuhan tempatnya tinggal dulu itu kemudian menjalankan mobilnya menuju daerah Myeongdong dengan hati terus berharap. Berharap ia dapat menemui yeoja yang selama 16 tahun tak dilihatnya lagi sejak kedatangannya ke panti asuhan tempatnya dulu tinggal.

 

“Permisiii”

 

Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit lamanya, Yifan akhirnya sampai di depan rumah yang dianggapnya rumah milik Nayoung. Ia sendiri tau alamat ini ketika dulu Nayoung lah yang memberikan alamat rumahnya pada Yifan dan memintanya kesana jika Yifan sudah dewasa nanti. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu rumah megah itu dibuka oleh seorang namja gagah.

 

“Annyeong, apa ini benar rumah Nayoung noona?” sapa Yifan sopan.

 

“Ya benar, saya suaminya. Anda siapa ya?”

 

Mata Yifan melotot mendengarnya.

 

DEG!

 

“Sua-mii…?” Yifan mendadak merasa dadanya terasa tertohok.

 

“Ya memang kenapa? Kau siapanya Nayoung?”

 

Sebelum Yifan menjawab namja tak dikenalnya itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di belakangnya. Yifan terus memperhatikan mobil tersebut hingga berhenti sempurna. Matanya pun serasa ingin meloncat keluar lagi ketika dilihatnya yeoja yang ternyata selama 16 tahun ini tidak banyak berubah keluar dari mobil. Yeoja itu justru tampak lebih cantik dan lebih tinggi sekarang, membuat Yifan terperangah sejenak.

 

“Na-nayoung noona?”

 

Yeoja itu membuka kacamata hitam yang membingkai mata indahnya sejenak lalu menjawab “Kau siapa?”

 

“Aku Yifan, noona. Wu Yifan, anak panti asuhan Elpidos yang dulu selalu kau ajak bermain”

 

“YIFAN?!” tak hanya Yifan yang terperangah melihat perubahan Nayoung menjadi sesosok wanita dewasa yang cantik, namun juga Nayoung. Yeoja itu melihat Yifan tak lagi sesosok bocah ingusan yang dulu sangat suka bermain rubik, namun sudah bertransformasi menjadi sesosok namja dewasa yang luar biasa tampan.

 

“Kau… kau benar-benar Yifan, anak panti itu yang sangat suka dengan rubik?!”

 

“Ne, noona. Aku dulu yang sangat suka bermain rubik. Rubik 4×4 pemberian noona bahkan masih kusimpan hingga sekarang”

 

“Bagaimana kau tau rumahku, Yifan?”

 

“Noona kan dulu memberikanku alamat rumah noona sebelum noona pergi dari panti dulu”

 

“Aigoo aku ingat sekarang. Ckckck ternyata kau masih menyimpannya ya. Padahal sudah 16 tahun berlalu. Kertasku dulu itu masih ada?”

 

“Ne, ini kertasnya” Yifan pun menyodorkan secarik kertas yang sudah menguning kepada Nayoung. Nayoung yang melihatnya sedikit terharu. Di kertas itu memang bertuliskan alamat rumahnya. Itu memang benar-benar tulisannya dulu ketika masih SMP saat mengikuti acara sekolahnya yang mengharuskannya mengunjungi panti asuhan. Ia sungguh tak menyangka anak panti asuhan yang dulunya begitu menyebalkan itu bisa seromantis ini.

 

“Chagiya, dia siapa sih?” suami Nayoung yang sejak tadi menyaksikan pertemuan istrinya dengan namja yang tak dikenal itu mulai bersuara. Ia menunjuk Yifan dengan ekspresi tak suka. Nayoung nampak kaget melihat suaminya ada disana.

 

“Yifan ayoo masuk dulu” ajak Nayoung sambil menggamit tangan Yifan, mengajaknya masuk ke rumahnya.

 

“Chagiya, kenalkan ini Yifan. Anak panti asuhan yang dulu kurawat ketika SMP dulu. Dan Yifan, kenalkan ini suamiku Park Chanyeol”

 

“Annyeong” sapa keduanya sambil berjabat tangan. Yifan menatap Chanyeol, suami Nayoung itu dengan sedikit tak suka.

 

“Noona, kau sudah menikah?” tanya Yifan dengan ekspresi agak kecewa.

 

“Ne, Yifan. Sudah sejak 4 tahun yang lalu” jawab Nayoung sambil berseri-seri tanpa menyadari perubahan raut Yifan yang mendadak mendung. Chanyeol yang mendengarnya pun ikut tersenyum. Yifan merasa bodoh kini. Penantiannya selama 16 tahun, ia berjuang mati-matian untuk menjadi sukses dulu baru menemui Nayoung noona ternyata sia-sia. Yeoja nya ternyata sudah bersuami. Planning nya rusak berat. Planning untuk… menikahi Nayoung.

 

“Hmm begitu. Baiklah noona, kalau begitu aku pulang dulu ya” ucap Yifan kemudian bergegas pergi. Ia menyembunyikan segala perasaan dongkol juga kecewanya rapat-rapat agar tidak dicurigai Nayoung-nya.

 

“Kenapa begitu terburu-buru? Kau kan sudah lama tak bertemu istriku. Ayoo masuk dulu. Bertemulah dulu dengan anak kami”

 

‘ANAK?! Oke cukup, aku memang sudah tak punya harapan lagi untuk bersama dengan noona’ Yifan menguatkan segala mentalnya lalu berbalik menghadap Nayoung juga suaminya.

 

“Tidak, tidak usah. Lain kali saja. Annyeong” diurainya senyum palsa lalu tanpa menoleh lagi Yifan bergegas pergi dan membanting pintu mobilnya. Nayoung sama sekali tak merasa heran. Ia justru melambaikan tangannya ketika mobil Yifan sudah berjalan pergi. Sementara di mobil, Yifan mengumpat dengan kerasnya. Ia terus memukul stir mobil sambil menangis.

 

“BRENGSEK!!” umpat Yifan tak ada habis-habisnya sambil terus memukul stirnya. Ia lalu memandang kotak merah yang tergeletak manis di jok sebelahnya yang ditemani satu buket bunga cantik dengan mata berurai. Kotak itu berisi cincin, yang sebenarnya ingin ia berikan pada Nayoung hari ini. Usaha yang sia-sia ia tujukan untuk noona tercintanya. Usaha 16 tahun yang tak berhasil.

 

“Lee Nayoung noona… hiks”

 

Yifan kemudian memberhentikan mobilnya tepat di samping sebuah bak sampah yang sudah penuh sampah. Tanpa pikir panjang iapun membuang kotak cincin cantik tersebut beserta buket bunganya yang sudah ia persiapkan selama 16 tahun lamanya. Ia bekerja mati-matian hingga bisa sesukses ini, demi Nayoung-nya, agar jika ia menikah dengan Nayoung kelak ia tidak akan nampak seperti suami bodoh tak berpekerjaan.

 

“Selamat tinggal, Lee Nayoung. Bagaimanapun caranya aku akan berusaha melupakanmu. Bahagialah dengan suami dan anakmu”

 

Mobil kemudian melaju meninggalkan bak sampah berbau menyengat tersebut. Meskipun perasaannya sakit, namun ia berharap Nayoung-nya akan bahagia bersama namja pilihannya.

 

Selamat tinggal, Lee Nayoung-ku yang cantik. Aku, Wu Yifan, bocah kecil yang selama 16 tahun menunggu dan mencintaimu. Saranghae…

 

Iklan

18 pemikiran pada “All My Love Is For You, Noona…

  1. Huueeee… Kasian Kris.
    Kris ama aku aja deh Thor. *jederrr.
    Bagus Thor, tp tragis banget. kasian ntu si Kris. –”

    Tp, Daebak buat AUthor.
    Keep writing. ^^

  2. Omo, Kris, sabar nak ;_; thor, tragis banget, bikin sequel dong, tentang Kris yang nemuin pengganti Nayoung 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s