Last Stop

Title: Last Stop

Author: @Ichino_Ren

Rating: T

Genre: General

Main Casts: Kris/Wu Fan (EXO-M) & Anonymous OC

Length: One-shot

Disclaimer: Cerita punya saya, yang plagiat saya sumpahin gondok tujuh turunan. Saya cuma dalang cerita ini dan tokoh2 di sini cuma wayangnya, OC punya saya, visualisasi OCnya ya punya dia sendiri, Kris punya EXO, EXO punya SM, dan SM punya Lee Soo Man-ssi.

Author’s Note: Halo, saya lagi di sini. Fanfic ini terinspirasi dari lagu Whatsername – Green Day dan foto2nya Kris hasil jepretan Beibei yang sukses bikin saya galau maxima =)) Yah, ga tau mau ngomong apa lagi deh, selamat membaca ^^

Last Stop poster (1)

~***~

Last Stop

~Seems Like Forever~

Mata itu beralih lagi.

Kris dibuat bingung oleh sepasang iris coklat tua milik anak perempuan mungil itu. Awal mula ia menemukan sepasang iris bening itu ketika ia melihat sekeliling gerbong kereta yang ia tumpangi, penuh dengan entitas kejenuhan yang padat. Di antara kejenuhan itulah mata itu bersembunyi, yang selalu tertangkap sekilas oleh ekor mata pemuda pirang itu. Namun ketika akan difokuskan secara empat mata, pandangan itu teralih, menyamarkan dirinya di tengah kebosanan itu.

Kris sudah sering merasa diperhatikan di mana saja setelah ia dikenal sebagai artis jebolan agensi Korea. Ada kalanya ia merasa risih ketika segelintir orang memotret dirinya secara diam-diam dan tanpa ijin, lalu hasil jepretannya disebar di internet. Paparazzi, sebut saja begitu. Rasa ingin tahu memang manusiawi, wajar, namun jika berlebihan akan menyebabkan hal yang tidak diinginkan. Kris bisa saja meledak tiba-tiba dan membanting kamera yang dipegang yang punya karena merusak privasinya. Namun, alih-alih merusak barang orang, Kris memilih tersenyum tipis dan membiarkan saja orang-orang itu mengabadikan momen yang menurutnya tak penting itu sampai puas.

Kini, pemuda pirang itu memperhatikan sosok pemilik mata pemalu itu. Pemiliknya perempuan, usianya kira-kira tujuh belas tahun, rambut hitam lurus panjang, kulit sawo matang, kamera SLR menggantung di lehernya, sedangkan tali tas kamera itu ada di pundaknya. Gestur badannya tampak gelisah, pandangannya pun tidak menentu, kadang melihat jendela, kadang menunduk melihat lantai.

Ia yakin, karena gadis itu mengalihkan kepalanya sedikit setelah mata Kris terfokus ke arahnya.

Secara tiba-tiba, pemuda itu mendapat ide jahil. Ia memfokuskan pandangannya ke arah gadis itu, menanti kepala gadis itu menoleh ke arahnya sehingga pandangan mereka bertemu dan melihat reaksinya. Cukup lama Kris menanti, sampai ia menopang dagunya.

Entah kenapa gadis itu tampak lucu di mata Kris. Apalagi ketika pandangan mata mereka bertemu selama sekian nanosekon. Gadis itu kaget sendiri ketika ia mendapati ternyata ia ditatap balik oleh mata Kris. Dengan canggung, gadis itu beralih memandangi orang lain.

Lucu.” batinnya, bahkan Kris pun tersenyum.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pengumuman bahwa kereta akan segera berhenti pada perhentian terakhirnya—tempat yang dituju Kris. Beberapa orang mulai bersiap dan mendekati pintu kereta. Kris melihat anak perempuan itu, di mana sosok mungil itu berdiri dan mempersilakan seorang nenek-nenek untuk duduk, tangannya memegang satu gantungan kereta, sementara tangannya yang satu lagi memegang kamera dan tasnya dengan erat. Asumsinya, gadis itu memiliki tujuan yang sama dengannya, yaitu perhentian terakhir ini.

Gadis itu tampak ragu untuk berjalan, sebab ia harus melewati Kris yang sudah berbagi pandangan dengannya beberapa saat yang lalu secara tidak disengaja. Ketika jarak gadis itu sudah dua puluh sentimeter dari punggung Kris, kereta terhentak secara mendadak. Badan gadis itu terdorong mengenai punggung Kris.

Kris menoleh, menatap gadis itu lagi, kali ini tidak tersenyum. Wajah gadis itu bersemu merah, matanya sedikit terbelalak, ia berbisik minta maaf sambil menunduk malu.

Tanpa diketahui gadis itu, Kris pun tersenyum, hampir tertawa karena kecanggungannya.

Pintu kereta segera terbuka, Kris langsung keluar dari kereta, berbaur dengan suasana stasiun yang tidak begitu ramai. Kris melihat ke arah pintu kereta, dilihatnya gadis itu keluar. Melihat langkah kaki itu berjalan menjauhinya, diam-diam Kris kecewa tanpa alasan. Atau mungkin alasan itu adalah rasa penasaran. Namun ia tak bisa kecewa lama-lama, kesibukan baru menantinya.

Kris mencoba menghubungi Luhan yang entah ada di mana sekarang. “Kamu di mana? … Ya sudah, kita ketemu di depan stasiun saja. Oke, zai jian (sampai jumpa).” kata Kris pendek sambil menutup percakapannya dengan Luhan.

Entah mengapa, tanpa suatu alasan yang jelas, Kris menghentikan langkahnya. Pemuda tampan itu menoleh ke belakang, secara langsung matanya menangkap sosok anak perempuan dengan kamera di dekat wajahnya. Di saat yang nyaris bersamaan, entah mengapa, samar-samar Kris mendengar suara klik. Kris tersenyum, ia tahu siapa fotografer itu.

Si gadis pemalu itu.

Gadis kikuk itu terkejut setelah matanya terlepas dari lensa kamera. Buru-buru ia mencari tutup lensa di dalam tas kameranya. Namun, tangannya gemetaran dan nafsu buru-buru yang kuat malah membuat tutup lensanya terjatuh dan menggelinding tenang dalam satu garis. Baik mata gadis itu maupun mata Kris memperhatikan gerak tutup lensa itu.

Entah mengapa, tutup lensa itu berputar tenang di dekat kaki Kris.

Kris memungut tutup lensa kamera SLR, berjalan mendekati gadis itu, tersenyum ringan. “Punyamu?”

“Eh… err… iya, maafkan aku—“

Alih-alih langsung memberikan, Kris menukarnya dengan uluran tangan kosong, memberikan syarat sederhana kepada si gadis agar tutup lensa kameranya kembali. Wajah gadis itu semakin merona merah muda, ia mencoba menatap mata Kris sekali lagi. Pandangan mereka bertemu lagi.

Kali ini, sepasang biner itu tidak lagi bersembunyi, namun turut mengurai makna sorotan mata dan warna iris dari pasangannya yang lain.

“Namaku Wu Fan, kamu?”


Silahkan komennya ya, bagi yang nggak suka, silahkan klik tanda silang di sudut kanan atas webpagenya ya.

Iklan

28 pemikiran pada “Last Stop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s