Remember of You 2 : Life After Before (Chapter 1)

Remember of You 2 : Life After Before

 

 

A Sequel From the Fanfiction ‘Remember of You’

Author         : Elsa Yuni Kartika

Main Cast    : Lee Sang Ra (fiksi), Oh Se Hun , Byun Baek Hyun

Other Cast    : Park Yura, Suho, Park Chan Yeol, Choi Sulli, Kwon Dae Yoon

Genre          : Romance, family, friendship, others

Length         : Oneshoot (kecuali kalau ada yang minta sekuelnya lagi)

Rating                    : Teen

BACA REMEMBER OF YOU  untuk sekuel yang pertama : https://exofanfiction.wordpress.com/2012/10/20/remember-of-you/

y

***

| 4 tahun sebelumnya |

Sang Ra POV

Semua ini karena Baek Hyun Oppa. Aku akan tetap mencintainya dengan seutuhnya, seperti aku mencintai Sehun dengan tulus. Dua namja inilah yang sangat berharga bagiku. Baek Hyun dan Sehun. Terima kasih, Oppa. Kata-katamu benar. Aku tak akan mengingkari janjiku padamu. Aku akan tetap mengenangmu, Oppa. Kaulah yang membuat semuanya kembali seperti semula. Disaat aku terpuruk karena kehilanganmu, kau muncul dengan senyummu. Kau datang disaat yang tepat. Sekali lagi, aku berterima kasih padamu. Karena Oppa, aku bisa bersanding dengan adikmu. Karenamu, aku bisa melihatmu tersenyum bahagia. Aku akan tetap mencintaimu, Baek Hyun Oppa, dan aku juga mencintaimu, Sehun.

Setelah acara penyatuan pengantin usai, aku dan Sehun berjalan menuju ke luar gereja, tepatnya di halaman gereja tempat kami melaksanakan pernikahan. Semua tamu mengikuti langkah kami setelah kami sampai di halaman gereja. Tiba saatnya untuk pelemparan buket bunga yang sedang kubawa. Aku berharap sahabat-sahabatku yang mendapatkan buket itu. Entah itu Sulli, Suho Oppa, atau Chan Yeol Oppa. Mereka sangat antusias. Itu terlihat dari wajah mereka yang bahagia melihatku menikah dengan Sehun. Baekhyun oppa juga terlihat sangat bahagia. Wajahnya bersinar, tampak lebih muda daripada semasa hidupnya. Aku ikut tersenyum. Aku bersyukur masih ada Baekhyun oppa yang selalu menemaniku jika aku mengalami kesulitan.

“Kau gugup?” tanya Sehun. Wajah tampannya sedikit berkeringat. Mungkin ia sedang canggung.

“Tidak juga,” jawabku seraya tersenyum padanya.

“Sang Ra, ayo lempar buketnya!” seru Sulli. Aku tertawa melihatnya. Hari ini ia begitu cantik dalam balutan mini dress berwarna peach. Begitu juga Suho oppa dan Chan Yeol oppa.

Tamu undangan juga sudah tak sabar menantikan aku melempar buket bunga. Dengan agak gugup, akhirnya buket itu kulempar juga.

Wuuuussh.. Buket itu jatuh tepat ditangan Suho Oppa.

“Kenapa harus aku yang mendapatkannya?” gerutu Suho oppa.

“Seharusnya kau bersyukur, Hyung. Berarti kau harus menyusul kami,” canda Sehun. kami semua tertawa dalam luapan kebahagiaan.

“Menyusulmu? Andwae! Aku saja belum punya pasangan,” balas Suho Oppa. Lagi-lagi kami semua tertawa.

Dan begitulah, setelah hatiku dan hati Sehun dipersatukan dalam pernikahan yang abadi, kami hidup dalam kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan selalu aku pertahankan. Kebahagiaan yang tak akan didapat dalam kesempatan kedua, kecuali kau bisa merubahnya dengan cara yang benar. Membayangkan aku dan Sehun, bersama anak-anak kami, adalah moment yang sangat aku nantikan. Semua itu pasti akan terjadi walaupun sebentar lagi atau lima puluh tahun lagi. Dan itu semua berkat Baek Hyun Oppa.

| 4 Tahun sesudahnya |

Sehun POV

Aku berharap selamanya selalu seperti ini. Memandang Sang Ra yang sedang tertidur nyenyak disampingku, merangkulnya setiap kali ia kedinginan, atau bersedia memberikan dadaku sebagai tempat sandarannya. Sudah hampir 4 tahun kami menikah, namun kami belum dikaruniai momongan. Tapi itu semua tak masalah bagiku. Memang aku sendiri belum siap untuk menjadi seorang ayah, mengingat umurku yang baru menginjak 23 tahun. Bagaimanapun keadaannya, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam suka maupun duka, aku siap menjalani hidup asalkan itu bersama Sang Ra. Aku sudah berjanji kepada Hyung untuk menjaganya. Aku tak akan membiarkannya kesusahan sementara yang lain hanya membiarkannya. Aku sudah berjanji kepada Hyung

“Ngg.. Sehunnie..” Sang Ra mengucek matanya. Ia terbangun.

“Aku disini, Sang Ra,” kataku yang juga masih rebahan di tempat tidur disamping Sang Ra.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanyanya.

“Karena aku suka memandangimu seperti itu,” sahutku, dan itu benar adanya. Karena Sang Ra hanyalah milikku. Aku takkan membiarkannya jauh dariku.

“Kau ini. Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan tiket bulan madu?” tanyanya.

“Ngg.. Belum,” jawabku. Wajahnya menampakkan sebuah kekecewaan. Aku merasa bersalah padanya. Semalaman aku berburu tiket pesawat untuk pergi bulan madu, namun belum kuputuskan untuk honeymoon kemana. Lebih baik aku merundingkannya bersama Suho Hyung.

“Ya sudah. Kita tunggu saja sampai tiketnya tersedia lagi,” balasnya. Sebuah senyuman manis kembali menghias bibirnya. Aku ikut tersenyum.

Mianhae..” gumamku.

“Untuk apa, Sehunnie? Sudahlah, aku tidak marah padamu hanya karena kita belum dapat tiket pesawat,” kata Sang Ra. Hal itu membuatku sedikit tenang.

“Ah, ne,” balasku.

Aku merangkul Sang Ra. Aku merasa tenang setiap kali memeluknya, dan berharap ia mendapatkan kehangatan dari pelukanku.

Hari ini matahari bersinar seperti biasanya, sinarnya menerobos kaca jendela rumah kami. Angin juga berhembus seperti biasanya. Sejak pernikahan empat tahun lalu, orang tua kami memutuskan untuk membelikan sebuah rumah mewah yang terletak tepat di pusat kota Seoul. Meski kami sudah menikah, kami masih merasa kami seperti masih berpacaran, mengingat usia kami yang masih muda, tentu orang mengira bahwa kami sedang berpacaran. Namun hal itu tak aku pedulikan. Bagaimanapun, aku bahagia bisa memiliki yeoja yang selama ini aku sukai.

“Sehunnie, kau ini memikirkan apa?” gerutu Sang Ra.

“Ah, aniya, Sang Ra. Kau ingin honeymoon kemana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku terserah saja. Pergi kemanapun itu, asalkan bersamamu saja aku sudah senang,” sahutnya.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Bali, atau ke Venice?”

“Sehun, aku kan sudah bilang, pergi kemanapun itu asalkan selalu ada kau disampingku, aku mau saja,”

Ya! Sang Ra-ya! Jangan bercanda,” gerutuku. Aku mengangkat tubuhnya dan menggendongnya. Momen ini sangat berarti bagiku.

Ya! Sehunnie, apakah kau tidak keberatan dengan berat badanku?”

“Tidak, karena aku menggendongmu dengan sepenuh hatiku.”

Aku menurunkan Sang Ra, lalu memeluknya. Sungguh, ini bukanlah sebuah drama, tapi ini adalah kenyataan. Kenyataan bahwa aku sangat melindungi Sang Ra. Aku sangat mencintai istriku ini. Dialah matahari yang setiap hari selalu menampakkan sinarnya yang hangat, dialah angin yang selalu menyejukkan. Aku mencintainya apa adanya, bukan ada apanya. Aku menyayanginya dengan sepenuh hati, bukan dengan terpaksa. Aku tak sanggup bila harus menyakiti perasaannya, karena dia pernah terjatuh kedalam kehidupan yang kelam semenjak Hyung-ku meninggal lima tahun lalu. Meskipun Hyung-ku terlebih dahulu memiliki Sang Ra, aku tidak mempermasalahkannya. Apapun masa lalunya, aku siap menerimanya. Menerima dengan kesungguhan hati.

***

Sang Ra POV

Matahari belum menampakkan sinarnya akibat tertutup kabut mendung. Tetesan embun juga masih berjatuhan dari ujung daun. Hujan deras tadi harus menghentikan langkahku sementara, dan berteduh di halte. Hari ini aku ingin mengunjungi makam Baek Hyun Oppa. Aku sangat merindukannya, dan aku berharap ia bersinar seperti sebelumnya. Memang hanya aku, orang yang menyadari keberadaannya. Namun sepertinya Baek Hyun Oppa sedang tak menampakkan dirinya. Maka dari itu aku ingin melihatnya kembali. Pasti ia tenang di surga yang berjuta-juta jauh lebih indah dari dunia ini. Aku sungguh menyayangkan ia meninggal karena penyakit Leukemia. Penyakit yang harus merenggut nyawanya. Dulu aku sangat terpukul ketika raganya sudah tak bernyawa. Akulah orang yang sangat merasa kehilangan karena kepergiannya. Sampai akhirnya ia muncul kembali di hadapanku, dalam berwujud arwah ketika aku mengunjungi makamnya. Sampai akhirnya ia memintaku untuk menikah dengan adiknya, Sehun. aku tak keberatan dengan permintaannya, demi melihat Baek Hyun Oppa bahagia.

Seperti biasa, aku membeli satu buket bunga mawar untuk Baek Hyun Oppa. Semasa hidup, ia suka membelikanku satu buket mawar ini. Untuk mengenangnya, aku juga ingin memberinya satu buket mawar merah yang masih segar.

“Sang Ra?” panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh.

“Baek Hyun Oppa!” seruku. Sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Dan hari ini terwujud sudah keinginanku. Untung saja jalanan menuju pemakaman sedang lengang. Kalau tidak, orang-orang pasti akan melihatku seperti orang gila yang sedang berbicara dengan sesuatu yang tak tampak.

“Kau lihat? Aku sangat bahagia kau menikah dengan Sehun,” kata Baek Hyun Oppa.

“Terima kasih, Oppa. Aku bersyukur kau bahagia melihatku,” balasku.

“Jangan menangis, Sang Ra,” katanya lagi setelah melihatku mulai berkaca-kaca.

“Aku merindukanmu, Oppa. Sayang sekali dunia kita sudah berbeda,” ucapku.

Aku ingin menggenggam tangan Baek Hyun Oppa, namun sekali lagi gagal seperti dulu saat aku ingin memeluknya. Seperti ada ruang yang kasat mata, mencoba membuat jarak untuk kami.

“Suatu saat, kita akan bersama di dunia yang sama lagi, Sang Ra. Tenanglah. Aku tak akan jauh darimu. Karena aku menyayangimu. Masihkah kau menyimpan cincin pemberianku lima tahun lalu?”

“Tentu saja, Oppa. Aku sudah berjanji padamu untuk selalu menjaga cincin itu, karena itu sejarah cinta kita, Oppa.”

“Jangan menangis, Sang Ra.”

Baek Hyun Oppa mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Namun itu hanyalah hal yang mustahil untuk kulakukan, apalagi menyentuh arwah yang terlihat tembus pandang. Sungguh menyedihkan. Air mataku mengalir tanpa dikomando. Entah kenapa setiap kali melihat Baek Hyun Oppa, air mataku selalu keluar tanpa kusuruh. Bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan.

Oppa, aku akan meletakkan buket ini di makammu,” ucapku sambil menunjukkan buket mawar yang kubawa dari tadi.

“Terima kasih, Sang Ra,” balasnya.

Aku kembali berjalan, menuju pemakaman yang berada di daerah Gangnam. Pemakaman tersebut terlihat dirawat dengan baik, termasuk makam Baek Hyun Oppa. Pohon-pohon yang berada di pemakaman menjadi terlihat segar setelah diguyur hujan deras tadi. Embun-embun menetes dari dedaunan. Sudah lama aku tidak berkunjung kesini, dan baru hari ini aku sempat berkunjung ke makam. Pekerjaan sebagai manajer sebuah perusahaan majalah fashion sangatlah menyita waktuku. Aku sangat rindu masa-masa sekolah lima tahun lalu, saat aku masih berusia 18 tahun. Satu tahun sesudahnya, saat aku tepat berumur 19 tahun, aku harus menikah muda dan menunda kuliah untuk sementara. Beruntung aku belum mempunyai anak dari pernikahanku dengan Sehun.

Tibalah aku di makam Baek Hyun Oppa. Huruf-huruf Hangeul yang terukir di batu nisan belum terkikis oleh waktu dan cuaca, masih sempurna seperti lima tahun lalu saat ia dimakamkan. Aku berjongkok untuk meletakkan buket mawar di makam Baek Hyun Oppa, lalu memetik sedikit mawar untuk kutaburkan. Sejenak aku mengelus batu nisan itu. Hal itu membuatku teringat kembali kenangan bersama Baek Hyun Oppa. Dulu, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya sebelum aku mengetahui bahwa ia menderita Leukemia. Aku teringat saat aku menangis tersedu-sedu saat ia sudah tak bernafas lagi untukku. Aku teringat saat aku tak percaya bahwa detak jantungnya sudah berhenti. Mengingat hal itu semakin membuat air mataku menderas. Aku bisa merasakannya dalam hatiku. Namun aku sudah memiliki Sehun. Dan aku mencintainya, seperti aku mencintai Baek Hyun Oppa. Aku tak pernah membandingkan Sehun dengan Hyung-nya. Bagiku, mereka sama berartinya dimataku. Mereka berdua adalah guardian angel bagiku.

“Mengapa kau menangis?” tiba-tiba Baek Hyun Oppa muncul.

“Aku merindukan masa-masa saat kita bersama, Oppa,” kataku.

“Tidak usah dipikirkan. Ingatlah Sehun, tidak baik lama-lama mengenang masa lalu. Aku bukannya menyuruhmu untuk melupakanku, namun aku ingin membuatmu untuk membikin masa lalu tersebut menjadi kenangan yang sangat indah. Terima kasih sudah berkunjung,” kata Baek Hyun Oppa. Kata-katanya membuatku terenyuh. Aku berjanji dalam hati, bahwa aku akan selalu mengingat pesan itu.

Oppa, jaga dirimu baik-baik di surga, dan tetaplah menemaniku,” ucapku.

“Pasti, Sang Ra,” balas Baek Hyun Oppa. Aku menyunggingkan senyuman. Senyuman yang kuhadiahkan untuk namja yang pernah menemaniku selama ini.

Dan semenjak itu, aku tak akan pernah melupakan kebaikan hatinya.

***

Sehun POV

“Sang Ra? Sang Ra-ya! Keluarlah,” seruku, memanggil Sang Ra. Namun ia tak kunjung keluar menemuiku. Kemana gadis itu? Dari tadi aku memanggilnya berulang-ulang namun yang dipanggil tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Ah, mungkin dia sedang belanja atau pergi dengan teman-temannya. Akhirnya kuputuskan untuk duduk sejenak di sofa empuk untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Hari ini klien-klien berdatangan dari segala penjuru Korea. Meeting yang hasilnya tak membuatku puas sungguh menekanku. Ah, andaikan aku sudah mempunyai anak. Tapi aku tak akan memaksa Sang Ra untuk cepat-cepat memiliki anak. Kalau itu kulakukan, maka yang terjadi adalah, Sang Ra akan merasa tertekan karena paksaanku. Aku menghembuskan napas, berusaha bersabar menunggu istriku yang entah masih diluar sana.

Bayanganku setelah aku menikah adalah, istriku membuatkanku segelas teh hangat pada pagi hari, memasangkanku dasi pada jasku, mengecupku sebagai ungkapan kasih sayang. Ya, empat tahun menikah ternyata belum membuat sifat kami berubah. Terkadang kami masih seperti remaja pada umumnya, yang masih labil, mudah emosi dan sebagainya. Usia kami yang sudah dibilang menginjak usia rata-rata orang dewasa, sepertinya tak pantas untuk tetap mempertahankan sifat labil tersebut.

“Aku pulang,” seru seorang yeoja dari luar rumah. Aku bangkit dan segera menyambutnya. Ah, itu dia, Lee Sang Ra, yang sedari tadi sudah aku nantikan.

“Sang Ra-ya, dari mana saja, kau? Aku mencarimu, kau tahu,” aku mencubit pipinya yang menggemaskan.

“Mengunjungi makam Oppa,” jawabnya singkat.

“Maksudmu, Baek Hyun Hyung?” tanyaku.

“Siapa lagi, Sehunnie? Ah, kau ini lucu sekali,” candanya, membalas cubitanku tadi. Kali ini cubitannya mengarah pada hidungku.

Refleks, aku menggendong Sang Ra, menuntunnya masuk ke kamar kami. Tempat dimana aku sepuasnya bisa bersama Sang Ra. Ia memukul bahuku dengan pelan, kukecup keningnya sebagai tanda cintaku padanya. Meninggalkannya sama saja meninggalkan kebahagiaanku. Sang Ra adalah gadis baik. Ia mampu mengikhlaskan kepergian Hyung-ku waktu itu. Ya, dia adalah seorang gadis yang tegar bagaimanapun kondisinya. Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali aku bertemu dengan Sang Ra. Pertemuan itu berlangsung di tempat yang tidak sinkron. Bertemu di pinggir jalan ketika aku baru pulang dari Jepang. Sungguh konyol.

“Kau melamun. Turunkan aku, bocah,” gurau Sang Ra. Ah, ternyata dia masih berada dalam gendonganku.

“Kau berani menyebut suamimu ini bocah? Aku 4 bulan lebih tua darimu, gadis imut,” godaku, seraya, mencubit kedua pipinya. Entah kenapa aku selalu senang mencubitnya. Mungkin itulah yang selalu membuatku bahagia.

“Ah, aku tak peduli,” balasnya.

Ya!!” aku semakin mempererat cubitanku. Kali ini aku mengecup bibirnya sekilas, dan ia langsung terdiam.

“Sehunnie…”

Ne?”

“Aku ingin memiliki anak.”

“Kalau begitu kita buat saja sekarang!”

Ya! Sehun, kau ini yadong rupanya.”

“Biar saja, kau kan istriku, jadi aku berhak untuk melakukan hal yang akan membuat kita bahagia!”

Aku bangkit dari tempat aku merebahkan diriku. Aku menghampiri Sang Ra dan langsung menggendongnya ke kasur.

“Kyaaa Oh Se Hun…”

***

Author POV

Bandara Incheon memperlihatkan kesibukannya hari itu. Para calon penumpang pesawat berjalan lalu-lalang di setiap penjuru bandara. Seorang gadis berusia sekitar 22 tahun berjalan dengan anggunnya bak seorang model. Tubuhnya yang ramping dibalut dalam pakaian sederhana namun terlihat elegant. Kaki jenjangnya memakai flat shoes berwarna Cokelat yang kontras dengan kulit putihnya.

Namanya Park Yura, gadis Korea yang baru saja pulang dari Amerika untuk melanjutkan study-nya di Universitas Colombia di New York sebagai mahasiswa jurusan Sastra Prancis. Ia sengaja pulang ke Korea untuk berlibur selama satu bulan ke depan.

Gadis itu menenteng koper dan hand bag cantik yang memperindah penampilannya. Semua orang seakan tersihir olehnya. Namun gadis itu cuek dan tetap melanjutkan perjalanannya.

Sebuah Lamborghini hitam berhenti dengan mulus tepat dihadapan Park Yura. Seorang supir keluar dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

“Tolong pergi ke Gangnam sebentar,” kata gadis tersebut pada sang supir. Supir itu menurut, lalu tancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Park Yura terdiam selama perjalanan. Tubuhnya tampak lelah akibat perjalanan Amerika-Korea yang memakan waktu berjam-jam. Sejenak kemudian ia menghela napas.

Lamborghini hitam milik Park Yura berhenti di sebuah rumah mewah yang terletak di Gangnam. Park Yura keluar dari mobil, lalu ia berjalan memasuki rumah tersebut.

Park Yura mengetuk pintu rumah mewah itu.

Annyeonghaseyo~ apakah Sehun ada dirumah?” tanya Yura kepada seorang ahjumma yang berusia 48 tahunan.

“Ah, Park Yura? Astaga, kau cantik sekali. Berbeda dengan dirimu yang dulu. Apa? Kau mencari Sehun? Sehun sudah punya rumah sendiri, dia tinggal dengan istrinya,” balas ahjumma itu, yang tak lain adalah Ibu Sehun.

Gadis itu terperanjat kaget bukan kepalang setelah mendengar Sehun tinggal dengan istrinya. Tentu saja ia belum tahu bahwa Sehun sudah menikah.

Mwo? Dia sudah menikah? Ah, kenapa aku tidak diberi tahu,” ucap gadis itu kecewa. Sia-sia ia datang kemari tanpa bertemu Sehun.

“Sudahlah, tak baik kau mengingatnya terus menerus. Masih banyak namja  lain, kan? Lagipula, kau tak tahu apakah Sehun masih mencintaimu atau tidak,” kata Ibu Sehun.

Park Yura terdiam. Masih segar dalam ingatannya ketika Ia dan Sehun masih bersama, masih berstatus “berpacaran”. Namun semua hal yang berhubungan dengan itu, kandas sudah. Perbedaan prinsip dan ego yang sama-sama besar menjadi penghalang untuk mereka, karena mereka adalah dua pribadi yang masih memiliki sifat childish atau kekanak-kanakan.

Ahjumma, mianhe kalau aku datang mengganggu. Terima kasih untuk informasinya. Bolehkah aku meminta alamat rumah Sehun? Aku hanya ingin mengunjunginya dan memberinya hadiah,” kata Park Yura.

“Ya, alamatnya di pusat kota Seoul, jalan No Hwon-gu* nomor 66. Kau bisa menanyakan pada orang-orang bila masih tidak jelas,” ucap Ibu Sehun dilengkapi dengan senyum ramahnya.

Park Yura membungkukkan badannya sebagai tanda sopan santun, lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah mewah orang tua Sehun, dan melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.

NB : * No Hwon-gu ini nama jalan yang aku karang 😀

***

Sang Ra POV

Pagi-pagi aku berbelanja di supermarket, berharap menemukan bahan-bahan yang bisa kumasak dan Sehun menyukainya. Dan kesalahanku adalah, aku tidak membuat list belanjaan! Aissh, kenapa hal penting itu aku lupakan. Aku mengambil daging ikan salmon yang masih segar, menemukan sebungkus sosis dan itu adalah bahan yang sangat mudah untuk dimasak. Aku berharap Sehun menyukai masakanku nanti. Setelah mengambil sosis, aku berjalan menyusuri rak-rak bahan makanan. Saat aku ingin mengambil yoghurt, seorang yeoja juga ingin mengambilnya. Yah, sebut saja kami mengambilnya bersamaan.

Ya! Aku sudah mengambilnya duluan,” gerutuku pada yeoja yang tampangnya jutek itu. Benar-benar menyebalkan. Dia tak tahu sopan santun. Wajahnya saja sangat meyakinkan bahwa yeoja itu lebih muda dariku. Yeoja itu meninggalkanku dalam keadaan cemberut setengah mati. Tapi aku cuek saja. Beruntung masih ada banyak stock yoghurt yang terpajang di rak. Dengan cekatan aku mengambilnya sebelum ada yang berusaha merebutnya.

***

Sang Ra POV

“Kau masak apa?” tanya Sehun, menghampiriku yang sedang sibuk mengiris daging ikan salmon yang aku beli tadi.

Something special….” Sahutku tanpa menoleh pada Sehun.

Ya! Kau ini, pandai sekali merahasiakan sesuatu,” gerutunya. Aku suka saat dia bersikap manja seperti itu.

“Kau tidak ingat ini hari apa?” tanyaku. Aku ingin mengujinya kali ini.

“Hari Kamis?” jawabnya ragu-ragu. Aku menghela napas berat. Ternyata ia benar-benar tak tahu bahwa hari ini adalah ulang tahunku.

“Kau ini payah sekali.. hari istimewaku saja kau tak tahu,” gerutuku.

Sehun menatapku dalam-dalam, mencari makna dalam kalimat yang kuucapkan tadi. Aku berharap ia mengerti apa maksudku tadi.

“Kau.. berulang tahun?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil. Cukup senang akhirnya ia tahu apa yang ingin aku sampaikan padanya. Memang, aku tak pernah memberitahukan padanya tentang ulang tahunku ini. Aku ingin Sehun mengetahui hal itu dengan usahanya sendiri.

“Memangnya kau ingin apa? Apakah kau ingin aku romantis padamu?” tanyanya lagi.

“Romantis tak harus bunga dan cokelat, Babo. Romantis bagiku adalah perhatian-perhatianmu yang sangat aku dambakan setiap hari,” jawabku.

“Kau ini. Baiklah, aku akan selalu perhatian padamu. Tak perlu kau minta, aku akan tetap perhatian padamu, Sang Ra,” ucapnya, lalu mengecup keningku dan memelukku dari belakang.

“Terima kasih, Sehun. Semoga kau tak mengkhianati ucapanmu tadi. Aww!” seruku saat sebuah benda tajam mengiris jempolku. Darah menetes dari ujung jari jempolku.

“Kau ini ceroboh. Kemarikan tanganmu,” Sehun meraih tanganku, lalu menghisap darah yang keluar dari jempolku. Dengan cekatan ia mengambil perban dari kotak P3K yang tak jauh dari dapur, lalu melilitkan perban itu di jempolku yang berdarah karena pisau tadi.

“Nah, lain kali jangan ceroboh, ne? Bisa-bisa aku repot kalau setiap hari jarimu berdarah,” candanya. Aku memukul pundaknya. Namun kali ini pukulanku meleset. Sehun bergerak gesit sebelum pukulanku mengenainya.

Ya! Kau nakal sekali. Sudah, aku tidak bisa konsentrasi, babo. Diamlah dan jangan menggodaku.”

Sepertinya Sehun menuruti perkataanku. Ia langsung terdiam begitu aku meneriakinya. Aku suka melihat ia bertingkah seperti itu. Ia seperti kembali menjadi anak-anak belasan tahun yang manja dan lucu. Namun aku salah. Ternyata ia kembali menggodaku dan kemudian memelukku.

Yaa!! Sehun-ah,” seruku saat ia mulai menggodaku.

“Sang Ra, aku kan malaikat penjagamu. Aku sudah berjanji akan selalu melindungimu..” ucap Sehun sembari memelukku dari belakang.

Aku berhenti mengiris ikan salmon dan berbalik menghadap Sehun. Aku menatap matanya dalam-dalam. Tak ada yang sesempurna ini. Sungguh, aku tak mampu menatapnya lebih dalam lagi. Karena aku mencintainya..

“Sehun, aku percaya kau adalah malaikat penjagaku. Gomawo, Sehunnie. Saranghae,” kataku, sedikit berjinjit untuk meraih bibirnya dan mengecupnya sekilas.

Nado saranghae, Sang Ra..” balasnya sambil mengecupku.

Astaga. Aku hampir lupa. Ikan salmonku. Ternyata dari tadi aku lebih memperhatikan Sehun ketimbang ikan salmon yang tadi kuiris. Dan ikan itu telah aku telantarkan.

Aissh! Ikannya! Aku lupa.”

***

Park Yura POV

Aku membuka mataku yang terasa berat, lalu mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidurku menyilaukan mataku. Aku menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Lalu aku memaksa diri berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah terseret-seret ke meja tulis di depan jendela untuk mematikan lampu meja yang masih menyala dan memandang ke luar jendela.

Tidak biasanya langit kota Seoul terlihat cerah. Aku membuka jendela dan menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dan seluruh tubuhku masih lemas. Tetapi karena udara masih dingin, aku cepat-cepat menutup jendela dan menggosok-gosokkan kedua tanganku. Penampilanku saat bangun pagi terlihat acak-acakan. Piyama bergaris-garis, jubah kebesaran, dan wajah mengantuk. Walaupun sudah dua hari aku berada di Korea, sama saja rasanya ketika aku berada di Amerika. Pagi yang dingin, kota metropolitan, dan gedung-gedung pencakar langit. Tapi bukan itu yang sedang kupikirkan. Aku memikirkan seseorang. Oh Se Hun. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, meskipun aku sudah tidak berhak untuk mendekatinya karena ia telah menikah. Sebenarnya aku sungguh sakit hati ketika ia tak mengabariku bahwa ia akan menikah. Yah, meskipun aku sudah berstatus mantan kekasihnya, bagaimanapun juga aku akan selalu menjalin hubungan teman dengannya. Dulu, setelah aku putus dengan Sehun, aku memutuskan untuk pindah universitas, dari universitas Chungwoon ke Colombia yang berada di New York karena aku mendapat beasiswa untuk kuliah disana. Sungguh, berat rasanya untuk melupakan kenangan yang begitu indah bersama Sehun saat kami masih bersama. Kami putus dengan baik-baik walau dalam hatiku tak bisa menerima keputusan tersebut. Aku masih mencintainya. Bahkan sampai detik ini. Sampai lima tahun terakhir. Tetapi, saat takdir itu ada di depan mata, semua harapanku terbuang sia-sia. Lenyap dan tak berbekas.

***

Sang Ra POV

Semua tampak sibuk mengepak barang-barang yang akan dibawa. Ya, empat tahun menikah, aku dan Sehun memutuskan untuk honeymoon tahun ini, karena waktu itu usia kami masih terlalu muda untuk melakukan honeymoon. Kalaupun kami nekat, pasti orang-orang mengira yang tidak-tidak.

Setelah melakukan rundingan yang panjang beberapa hari sebelumnya, akhirnya aku dan Sehun memilih honeymoon ke London. Aku sangat setuju dengan pilihan itu karena menurut kami, Inggris juga termasuk Negara yang mempunyai keunikan tersendiri.

“Kau sudah siap untuk perjalanan pertama kita?” tanya Sehun yang tiba-tiba berada disampingku.

“Sangat siap,” jawabku.

Sehun mengacak-acak rambutku, lalu merangkulku dengan mesra. Aku merasa hangat dengan pelukannya. Walau di usia semuda ini, aku dan Sehun berusaha menjalani kehidupan rumah tangga dengan harmonis dan bersikap dewasa seperti pasangan lain. Aku membayangkan bahwa Baek Hyun Oppa pasti akan bahagia melihat kami seperti ini. Dan aku tersenyum sambil memandang ke langit, seolah berharap di langit ada Baek Hyun Oppa yang sedang memandang kami.

“Kau memikirkan Hyung?” Sehun membaca pikiranku sembari tersenyum lebar. Dia lucu sekali.

“Ya. Aku membayangkan kalau dia pasti bahagia disana,” balasku.

Sepertinya Sehun sudah mengerti dengan keadaanku yang seperti ini, selalu memikirkan Baek Hyun Oppa. Namun Sehun tidak kuabaikan begitu saja. Dia juga sangat berarti bagiku. Kedua namja ini adalah orang yang berpengaruh bagiku.

Tiba-tiba saja sebuah Lamborghini hitam berhenti dengan mulus di depanku dan Sehun. Aku tidak familiar dengan mobil tersebut, namun aku penasaran siapa yang datang berkunjung padahal kami siap-siap untuk berangkat ke bandara.

Kulihat wajah Sehun berubah setelah seorang yeoja keluar dari Lamborghini tersebut. Entah apa yang membuatnya berubah aneh seperti itu. Awalnya, aku tak mengenali gadis itu, namun setelah aku melihat lebih jelas, ternyata itu yeoja yang kutemui saat di supermarket itu, yang telah merebut yoghurt-ku. HUH! Mau apa dia kesini?

“Y-Y-Yura?” Sehun terbata-bata. Ada apa dengannya?

“Kau kenal dia?” tanyaku sambil berbisik di telinganya.

Gadis itu melepas kacamatanya dan memandang kami satu-satu. Sungguh menyebalkan. Ia seperti orang sombong.

Annyeonghaseyo~ senang bertemu denganmu lagi, Sehun­-ah,” sapa gadis itu.

“Ada apa kesini?” sahutku begitu saja.

Sehun menggenggam tanganku, berusaha menenangkanku. Sepertinya ia tahu kalau pertanyaanku itu adalah maksud dari ketidaksukaanku terhadap gadis itu.

“Aku Park Yura, teman Sehun. Sehun-ah, dia pasti istrimu, bukan? Selamat kalian sudah menikah. Dan kau, teganya kau tidak mengundangku,” gerutu gadis itu, lebih kepada Sehun.

Menyebalkan sekali. Gadis itu datang dan merusak suasana hatiku yang sedang bahagia akhir-akhir ini. Gadis itu datang bagaikan membawa petir yang sudah menyambar kebahagiaanku. Aku menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Beruntung Sehun tidak mendengar gumamanku.

“Dan kau, jaga Sehun baik-baik. Aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakitinya,” sambar gadis itu. Apa maksudnya? Memang ia siapa, berani mengatur hidupku dan hidup Sehun? Jinjja! Rasanya aku ingin memakan gadis itu!

“Dan apa urusanmu?! Kenapa kau berani mengatur hidup kami? Memangnya kau siapa? Bahkan kau saja lebih muda dari kami. Iya, kan?” tantangku. Kulihat ekspresi gadis itu berubah. Kena, kau.

Gadis tersebut pergi tanpa berpamitan pada kami. Benar-benar tidak sopan. Tapi aku tak mau ambil pusing. Siapa peduli dengan gadis itu. Bahkan aku tak mengenalnya. Walau pernah bertemu secara tak sengaja di supermarket waktu itu, tetapi aku tetap tak bisa menyembunyikan kekesalanku.

Sehun menggenggam tanganku lebih kuat dari sebelumnya untuk menenangkanku. Aku berusaha tersenyum walau dipaksakan, agar ia percaya aku baik-baik saja dengan segalanya.

“Sang Ra, semuanya sudah siap,” seru Chan Yeol Oppa. Ah, ternyata dia juga ikut mengepak keperluan kami.

“Terima kasih, Oppa,” balasku.

Aku dan Sehun masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke bandara. Semua orang berkumpul dirumah kami. Mulai sahabat kami, keluarga dan kerabat lain. Tetapi aku tidak melihat Sulli. Aku sedih sekali sahabat perempuanku itu tidak datang. Pasti ia sangat sibuk.

“Kami berangkat, ya!” seru Sehun kepada keluarga dan sahabat kami.

Orang-orang melambaikan tangannya sebagai ucapan selamat jalan untuk kami. Aku berkaca-kaca, namun aku tak ingin menangis untuk saat ini. Sepertinya waktu berjalan cepat sekali. Usia yang bertambah, segalanya mulai berubah. Dan perubahan itu berjalan dengan sangat cepat.

Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah kami. Sesekali aku menoleh ke belakang untuk sekedar melihat keluargaku dan sahabatku. Aku tersenyum dari dalam mobil walaupun aku yakin mereka tak akan melihatnya.

Sehun menarikku kedalam dekapannya, dan aku tak menolaknya. Saat yang membuatmu bahagia adalah ketika ada pendamping yang akan terus menemanimu sepanjang usia. Sehun selalu berusaha bersikap romantis padaku. Bahkan aku yang cuek sekalipun akan luluh dengan sikapnya.

“Terima kasih,” bisikku pada Sehun.

“Untuk apa?” tanya Sehun polos.

“Untuk menemaniku selama ini,” ucapku sambil memeluk Sehun dengan erat.

Perjalanan menuju bandara terasa cepat. Kami turun dan menurunkan barang-barang kami, lalu masuk bandara dan berjalan menuju pesawat yang akan berangkat sebentar lagi. Jantungku berpacu cepat, menantikan momen-momen bersama Sehun nanti. Hanya berdua. Aku dan Sehun.

Aku dan Sehun memasuki pesawat. Sungguh, aku tak bisa berhenti tersenyum ketika memasuki ruang pesawat. Aku seperti orang gila yang baru saja masuk pesawat. Bahkan penumpang yang lain pun sedikit heran dengan tingkah anehku ini.

Pesawat sudah siap untuk take off. Alhasil jantungku berdetak kencang tak karuan. Seperti biasa Sehun membenamkan kepalaku dalam pelukannya dan menenangkan hatiku. Kepalaku disandarkan ke dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya dan merabanya. Aku bahagia. Bahagia bisa mendengar jantungnya berdetak. Dan entah kenapa hal itulah yang membuatku senang. Senang karena Sehun masih disisiku sampai saat ini.

Sehun selalu ingin menciumku tapi aku menolaknya. Aku terlalu lelah untuk melakukannya sementara kami berada di pesawat. Sungguh hal memalukan bila kami berciuman dan penumpang yang lain menonton kami dengan tampang yang aneh.

“Sehunnie.. aku ngantuk,” rengekku manja, masih berada di pelukannya.

“Tidurlah,” katanya.

“Tapi kau harus terus memelukku,” rengekku lagi.

Ya! Kau manja sekali,” protesnya dengan tampang lucu.

“Biar saja. Kau kan suamiku,” kataku sambil memukul dadanya pelan.

“Tidurlah. Aku tak akan melepasmu dari pelukanku,” kata Sehun, mengelus rambutku dengan lembut.

“Terima kasih. Awas saja kalau kau melepaskan pelukanmu,” ancamku, dan Sehun menghentikan ancamanku dengan ciumannya. Mataku membulat lebar. Beruntung penumpang lainnya sudah tertidur lelap.

“Kyaaa Sehunnie…”

***

Sehun POV

Taksi yang ditumpangi aku dan Sang Ra berhenti di seberang hotel bertingkat tiga di pinggiran jalan di London. Supir taksi berbaik hati mau membantu kami menurunkan koper dan barang-barang lain.

“Terima kasih, Sir,” kataku dalam bahasa Inggris.

“You’re welcome, buddy!” kata supir itu tersenyum lebar.

Lalu taksi itu kembali melaju meninggalkan aku dan Sang Ra yang masih berdiri di tepi jalan. Kulihat Sang Ra yang asyik memandangi jalanan kota London. Mungkin inilah saat-saat yang ia nantikan. Menyusuri London berdua. Hanya aku dan Sang Ra.

Aku menggenggam tangan Sang Ra, menyebrang jalan bersama menuju hotel yang telah ditunjukkan oleh supir taksi tadi. Ini adalah kali keduaku berkunjung di London. Hanya saja, waktu itu untuk keperluan fotografi yang telah menjadi bagian hidupku. Dan kali ini bersama yeoja tercintaku, Lee Sang Ra.

“Sehun-ah, aku lelah. Jangan lepaskan genggamanmu agar aku tidak jatuh, ucap Sang Ra.

“Tak akan pernah,” balasku. Aku memang tak akan melepaskan genggamanku karena hal itulah yang dapat membuatku tenang.

Setelah check-in, aku dan Sang Ra memasuki kamar mewah yang terdiri dari king bed untuk tempat tidur kami, dan sebuah balkon lantai dua yang mempunyai view pemandangan sungai Thames yang berada di sebelah Barat hotel dan pemandangan indah lainnya.

Sang Ra tampak sibuk membaca buku di tempat tidur sementara aku memandangi Sungai Thames yang indah. Kota London yang terlihat klasik itulah yang membuatku memutuskan untuk pergi honeymoon bersama Sang Ra.

“Sang Ra, ayo kita pergi makan, aku akan membawamu ke tempat makan. Dan makanannya sangat lezat,” kataku.

“Memangnya kau tahu?” tanyanya polos.

“Tentu saja.”

Aku membawa Sang Ra ke sebuah restoran kecil yang belum pernah dikunjungi Sang Ra. Mungkin tempat itu tidak bisa disebut restoran, karena tempat itu hanya semacam toko kecil sempit yang khusus menjual fish and chips – yang menurutku adalah yang paling enak di seluruh penjuru London – tanpa meja atau kursi didalam toko, jadi orang-orang bisa menikmati fish and chips mereka di tepi jalan, di bangku taman, atau sambil jalan. Walaupun begitu toko itu sangat ramai. Antrean pembelinya sangat panjang sampai ke luar toko.

“Jadi kau belum pernah kesini?” tanyaku setelah aku menerima dua bungkus fish and chips yang kupesan dan keluar ke jalan.

Sang Ra menggeleng sambil menerima salah satu bungkusan yang kuulurkan dengan alis terangkat. Ternyata fish and chips disini hanya dibungkus kertas seadanya. Dan bisa kubaca dalam benaknya bahwa ini sama sekali.. yah, tidak berkelas.

Aku terkekeh pelan. “Jangan biarkan penampilannya menipumu,” kataku, seolah-olah bisa membaca pikirannya. “Walaupun penampilan luarnya terlihat berantakan, isinya benar-benar berbeda.”

Kulihat Sang Ra membuka pembungkusnya sedikit dan langsung mencium aroma harum. Perutku dan perut Sang Ra otomatis berbunyi pelan. Ia memandang berkeliling dan bertanya, “Kita akan makan dimana?”

Aku menggerakkan kepalaku. “Ayo, ikut aku.”

Sekali lagi Sang Ra mendapati dirinya mengikutiku. Ia agak heran menyadari bahwa aku sepertinya lebih mengenal London daripada ia sendiri, padahal ia pernah tinggal di London selama sebulan untuk mengikuti pertukaran pelajar. Aku membawanya ke sebuah taman kecil tidak jauh dari sudut jalan. Sang Ra sendiri juga harus mengakui dalam hati bahwa ini adalah pertama kalinya ia melihat taman ini, atau menyadari  keberadaan taman ini di kota London.

Taman itu hanya sebuah taman kecil di sudut jalan, dengan jalan setapak mengelilingi kolam yang tak terlalu besar dan pepohonan yang berderet di sepanjang jalan setapak. Aku menengadah menatap langit. Matahari terlihat mulai mengintip dari balik awan dan mengintip dari sela-sela dedaunan. Kicau burung yang sesekali terdengar di antara embusan angin menambah kesan damai di taman itu.

Sebenarnya inilah salah satu hal yang sangat ingin aku lakukan bersama Sang Ra, namun aku belum pernah mendapat kesempatan melakukannya. Berjalan-jalan santai di taman kota, atau duduk di salah satu bangku panjang yang sering kulihat ketika pertama kali berada di London beberapa tahun lalu. Hanya duduk di bawah sinar matahari dan menikmati hari. Pekerjaanku dan pekerjaan Sang Ra membuat kami selalu sibuk, selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tidak pernah berhenti sebentar untuk sekadar berdiri dan memandang sekeliling Korea waktu itu.

“Bagaimana kalau kita duduk di sini saja?” suara Sang Ra membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihat Sang Ra menunjuk salah satu bangku panjang kosong bercat hijau yang berderet di pinggiran jalan setapak, menghadap kolam. Beberapa bangku di sana sudah terisi. Aku melihat sepasang suami-istri tua duduk sambil mengobrol di bangku lain, lalu ada seorang pria yang duduk membaca Koran sambil menggigit sebutir apel di bangku yang agak jauh dari sana, juga ada dua wanita yang mendorong kereta bayi di sepanjang jalan setapak sambil tertawa-tawa.

“Kau senang datang kesini? Kau pasti belum pernah kesini, iya, kan?” kataku ketika Sang Ra sudah duduk disampingku.

“Memang belum,” kata Sang Ra. Mata Sang Ra melahap pemandangan indah di sekelilingnya. Suasana taman yang tenang menyejukkan jiwaku, membuat hatiku terasa ringan melayang, membuat seulas senyum tersungging di bibirku tanpa sadar.

Aku memasukkan sepotong kentang goreng ke dalam mulut.

“Ini salah satu tempat yang kukunjungi ketika aku pernah ke London pertama kalinya,” kataku. “Taman ini selalu indah di musim apa saja. Musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, sebut saja. Tapi aku suka saat musim semi, ketika bunga-bunga mulai bermekaran.”

***

Author POV

“Ini salah satu tempat yang kukunjungi ketika aku pernah ke London pertama kalinya,” kataku. “Taman ini selalu indah di musim apa saja. Musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, sebut saja. Tapi aku suka saat musim semi, ketika bunga-bunga mulai bermekaran.”

Sang Ra memandang berkeliling. Ia tidak melihat ada banyak bunga yang mekar disana.

“Sekarang memang bunganya belum muncul,” kata Sehun, lagi-lagi berhasil membaca pikiran Sang Ra. “Tunggu beberapa minggu lagi dan kau akan lihat nanti.”

Sang Ra mengangguk-angguk, lalu membuka bungkusan makan siangnya dan mulai makan. Sedetik kemudian, matanya melebar dan ia menoleh menatap suaminya, Sehun. “Astaga, ini benar-benar enak,” katanya.

Sehun tersenyum lebar. “Kubilang juga apa.”

Sang Ra ikut tersenyum dan selama dua atau tiga menit mereka makan tanpa suara, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kemudian Sang Ra menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. “Ini pertama kalinya aku makan sambil duduk di taman dan duduk bersamamu,” katanya.

“Kau mengalami banyak hal baru hari ini, bukan?” kata Sehun.

Sang Ra mengangguk.

“Pertama kali makan di taman di London, dan itu bersamaku.”

Sang Ra menoleh menatap Sehun dan tertawa kecil. Lalu ia mengangkat bahu dan menjawab, “Mungkin.”

Sehun tersenyum. “Itu cukup membuatku bahagia. Tetaplah bersamaku.”

Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya terdengar embusan angin yang lembut dan kicauan burung. Sang Ra memejamkan matanya sejenak. Suasananya benar-benar damai sampai ia merasa bisa tidur di sini.

“Kau sering mengunjungi taman seperti ini ketika masih tinggal di Jepang lima tahun lalu?”

Suara Sang Ra membuat Sehun menghentikan makannya. “Tidak,” sahutnya setelah berpikir sejenak. Baik di Tokyo* atau Seoul maupun London, jadwal kerjanya selalu padat karena harus bekerja sebagai fotografer saat masih 18 tahun dan menunda kuliahnya. Ia tidak pernah bisa bersantai. “Sebenarnya aku sudah lupa kapan terakhir kalinya aku mengunjungi taman mana pun. Di Kyoto-kah?”

“Kau tinggal di Kyoto?” tanya Sang Ra.

“Apa? Oh, tidak. Aku tinggal di Tokyo. Sepupuku dan kakek nenekku yang tinggal di Kyoto,” sahut Sehun ringan. “Sepupuku dan kakek nenekku itu tidak terlalu suka tinggal di Tokyo, jadi ia pindah ke Kyoto dan membuka toko berbagai macam kamera disana. Aku, orang tuaku, dan Baek Hyun hyung  tetap di Seoul karena waktu itu kami tidak mau pindah sekolah. Jadi.. begitulah.”

“Hei!”

Sang Ra menyeret tatapannya dari mata Sehun dan menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Park Yura. Ekspresi di wajahnya kembali berubah seakan-akan ada yang membuatnya tersedak. Mau apa dia kesini? Batin Sang Ra kesal. Ia hampir membuang fish and chips yang belum selesai dimakannya, namun segera berubah pikiran.

Sang Ra memandangi Park Yura dengan sorot mata tajam. Ia tak peduli dengan sapaan ramah Park Yura yang terlihat seperti dibuat-buat untuk menarik perhatian Sehun.

“Kau mengikuti kami, ya?!” gertak Sang Ra.

Aniya. Aku tidak pernah mengikuti kalian sampai London. Aku hanya sedang ada urusan,” kata Park Yura.

“Dan kenapa kau bisa sampai di taman ini?” tanya Sehun.

Tak ada jawaban dari bibir Park Yura. Ia hanya terdiam kikuk dan tak tahu harus menjawab apa, karena sedari tadi ia memang mengikuti pasangan itu.

“Aku? Aku tadi sedang asyik membaca buku di bangku sebelah sana,” jawab Yura asal-asalan.

Sang Ra tidak suka melihat Park Yura berada disini. Di London. Saat ia dan Sehun selalu bersama. Namun entah mengapa gadis itu selalu mengganggu kebersamaan mereka. Sang Ra lebih memilih diam, merutuki keberadaan gadis itu. Gadis yang tidak lagi menjalin hubungan kasih dengan Sehun, namun tetap mengejarnya bahkan saat Sehun dan Sang Ra sudah menikah. Apakah itu tidak terlihat seperti murahan? Mengejar sesuatu yang tak mungkin lagi bisa didapatkan, bahkan untuk dipeluk. Itu semua mustahil.

“Yura, lebih baik kau pergi saja. Kami hanya ingin melewati hari berdua. Tolong, jangan ganggu kami,” tiba-tiba Sehun berkata seperti itu. Sang Ra agak kaget mendengar Sehun membentak Yura.

Jaljayo,” kata Yura singkat, kemudian meninggalkan Sehun dan Sang Ra berdua.

“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Sehun.

“Aku baik-baik saja,” jawab Sang Ra.

Kemudian mereka kembali menikmati hari di taman sepanjang hari itu dengan tenang dan damai.

***

Park Yura sedang duduk melamun di sebuah kursi di salah satu pub yang berada di South Hampstead, London. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja yang sedang disandarinya. Ia tampak menunggu seseorang namun tak kunjung datang.  Ia tersentak ketika tiba-tiba ponselnya berdering keras di meja pub itu. Dengan refleks ia mengangkat telpon itu.

“Halo? Kau sudah datang? Cepatlah, aku punya pekerjaan bagus untukmu.”

Yura menutup telepon secara sepihak dan kembali duduk dengan perasaan bosan. Ia tak tahu lagi cara apa yang ditempuhnya demi mendapatkan Sehun kembali.

Seorang pria kekar berusia sekitar 25 tahunan datang menghampiri Yura. Yura sontak berdiri.

“Akhirnya kau datang juga.”

“Untuk apa kau memanggilku kesini?”

“Aku punya tugas untukmu. Jika kau berhasil melakukannya, aku akan menambah gajimu. Kalau tidak, kau tidak mendapat komisi apa-apa.”

“Baiklah. Apa itu?”

“Bisakah kau mencoba membuat gadis ini menjauh dari mantan kekasihku? Nama gadis ini Lee Sang Ra. Coba goda gadis itu. Jika ia tak mau, buatlah dia takluk padamu.”

“Itu hal gampang.”

“Buktikan dengan cara yang benar. Aku tidak butuh omonganmu.”

Pria itu pergi setelah membuat perjanjian dengan Park Yura.

Sebenarnya Yura tidak ingin melakukan hal itu. Namun persaingan tetaplah persaingan. Dengan cara apapun akan ia lakukan demi Sehun. Dan gadis itu.. harus menyingkir.

***

Dimana Sehun? Sang Ra tidak melihat namja itu dimana-mana. Ia merutuki dirinya karena menuruti Sehun untuk pergi ke Benzene yang ramai dengan orang-orang yang hura-hura seperti ini. Bau alcohol dan rokok bercampur menjadi satu. Sang Ra seperti ingin muntah melihat keadaan seperti ini.

Sang Ra menghembuskan napas keras-keras. Yah, kalau dipikir-pikir, dalam suasana seperti ini, kemungkinan besar Sehun bahkan tak memikirkannya. Semua orang terlihat sedang bersenang-senang. Semua orang, kecuali Sang Ra sendiri.

Ia memijat pelipisnya sejenak. Tidak bisa, ia harus keluar sekarang. Ia akan mencoba menelepon Sehun. Tapi ia akan mencari Sehun di tempatnya. Ia benar-benar khawatir dengan Sehun. bagaimana kalau namja itu mabuk-mabukan? Ia tak akan membiarkannya.

Sementara ia berjalan mencari keberadaan Sehun, ia melihat seorang pria berwajah Asia berdiri di bar di depannya. Sang Ra langsung membeku di tempatnya ia berdiri. Entah kenapa ia merasa familiar dengan sosok pria itu, namun sepertinya pria itu bukanlah orang yang dikenalnya. Hanya satu hal yang dipikirkannya. Pergi. Secepatnya.

“Wow, wow, tunggu sebentar,” kata pria itu sambil menahan lengan Sang Ra ketika Sang Ra berusaha berjalan melewatinya.

“Siapa kau? Berani-beraninya kau menahanku. Mengenalmu saja tidak pernah,” gertak Sang Ra.

“Kau Lee Sang Ra, kan? Kau yang ada di foto ini?” ucap pria itu sambil menunjukkan sebuah foto Sang Ra.

Sang Ra terbelalak kaget. Darimana pria itu bisa mengenalinya? Bahkan Sang Ra tak pernah bertemu dengan pria itu. Sungguh hal aneh.

Dan bau mulut pria itu.. penuh bau alcohol! Sekujur tubuh Sang Ra merinding. Ia takut pria itu akan melakukan sesuatu yang tak diketahuinya. Ya Tuhan!

Perlahan Sang Ra mundur. Orang-orang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan cuek dengan sekitarnya.

“Mau lari kemana, cantik? Kau takkan bisa lari dariku,” kata pria itu.

Sang Ra mundur lagi, semakin masuk ke sebuah bilik yang remang-remang dan jauh dari kebisingan music disko.

Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sang Ra dan Sang Ra otomatis menepis tangannya dan mundur selangkah lagi. “Jangan berbuat kurangajar padaku!”

Sang Ra berusaha berjalan melewati pria itu, namun pria itu tiba-tiba mencengkeram bahu Sang Ra dan mendorongnya ke dalam bilik remang-remang itu. Sang Ra mendengar jeritan keras ketika ia terjatuh tersungkur di lantai, lalu menyadari bahwa itu adalah suaranya sendiri.

Tubuhnya mulai gemetar dan perasaan ngeri membuat sekujur tubuhnya seakan mati rasa. Ia tak bisa melakukan apapun selain menatap pria itu dengan mata terbelalak ketakutan. Ia harus menjerit. Ia harus menjerit minta tolong sebelum pria itu melakukan hal diluar kendali. Kenapa suaranya tidak mau keluar?

Sebelum Sang Ra sempat berpikir, pria itu mulai menarik jaket Sang Ra dengan kasar. Sang Ra memekik dan berusaha melepaskan diri, tetapi tangan pria itu langsung mendekap mulutnya dan menahannya di lantai. Otak dan pandangan Sang Ra berubah gelap. Ia terus menjerit walaupun mulutnya dibekap dengan kasar. Ia terus meronta, mencakar, dan menendang dengan membabi buta walaupun hal itu tak berpengaruh.

Lalu tiba-tiba Sang Ra mendengar suara keras, sedetik kemudian  tangan yang mencengkeram wajahnya itu terlepas dan pria itu tersungkur disampingnya. Dengan perasaan masih diliputi kengerian dan tak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya, Sang Ra cepat-cepat merangkak menjauh dan meringkuk di sudut bilik yang minim cahaya itu, berusaha memperbaiki pakaiannya dan menenangkan dirinya dengan tangan gemetar hebat sambil terisak keras diluar kendali.

***

Ketika Sehun tidak bisa menemukan Sang Ra di ruang pesta, ia memutuskan mencari ke tempat lain, melihat Sang Ra sudah pulang atau belum. Tetapi tak ada orang yang terlihat disana. Ia hampir saja berbalik pergi, jika ia tak mendengar suara aneh di dalam sebuah bilik yang remang-remang. Ketika Sehun mencoba mendekati bilik itu untuk memeriksa, tak ada satu hal pun di dunia yang bisa mempersiapkannya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Seorang pria sedang menahan Sang Ra di lantai sambil berusaha merobek pakaiannya.

Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Sehun seolah-olah membeku. Tanpa berpikir lagi, ia mencengkeram kerah kemeja pria itu, menariknya berdiri dengan sentakan yang keras, lalu mulai meninju wajahnya. Begitu pria itu tersungkur di lantai, Sehun langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding, lengannya yang kuat menjepit leher pria biadab itu. Saat itu Sehun benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu hebat ketika ia melihat Sang Ra dijadikan korban kebiadaban pria itu. Membuatnya sanggup membunuh siapa pun yang menyakiti Sang Ra.

Pria tersebut mencengkeram lengan Sehun, berusaha melepaskan tangan Sehun dari lehernya. “To.. tolong.. lepaskan aku..” rintih pria itu dengan suara tercekik.

“Sekali lagi kau berani menyakitinya, akan kubunuh kau!” bentak Sehun, diakhiri dengan tinjuan Sehun yang membuat pria itu terkapar.

Sehun bergegas menghampiri Sang Ra yang meringkuk. Hatinya mencelos ketika melihat istrinya meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Jantungnya serasa ditikam saat itu juga. Sehun harus menahan diri untuk tidak langsung menarik Sang Ra dalam pelukannya. Sebagian kecil otaknya yang masih berfungsi memberitahunya bahwa Sang Ra pasti sangat ketakutan saat ini dan Sehun tak boleh membuatnya tambah ketakutan.

Sehun berlutut di depan Sang Ra, lalu mengulurkan tangan ke wajahnya. Tetapi Sang Ra terkesiap keras dan menempelkan diri ke dinding.

“Ini aku,” bisik Sehun. “Sang Ra, ini aku. Sehun.”

Mata Sang Ra menatapnya dengan ketakutan nyata, ketakutan yang membuat dada Sehun semakin terasa sakit. Sang Ra bahkan seperti mengira bahwa Sehun juga akan menyakitinya.

“Tak apa-apa,” bisik Sehun lagi. Suaranya terdengar serak karena emosi yang tercekat di tenggorokannya. “Kau aman. Aku berjanji.”

Sehun beringsut duduk di samping Sang Ra, lalu merangkulnya. Tubuh Sang Ra terasa kaku, namun Sehun tetap memeluk gadis itu dengan erat. Sekejap kemudian tangis Sang Ra pun pecah. Ia bersandar di pundak Sehun dan menangis tersedu-sedu.

Sehun telah melakukan satu kesalahan mala mini. Ia membiarkan istrinya sendirian sementara ia sendiri bersenang-senang dan seperti dilupakan oleh satu hal yang sangat berharga baginya. Seharusnya ia tetap menemani Sang Ra. Kalau ia menemani Sang Ra, pasti kejadian traumatic ini tak akan pernah terjadi pada Sang Ra.

Uljima.. aku disini, Sang Ra. Kau aman bersamaku. Aku memelukmu,” bisik Sehun. Seketika tangisan Sang Ra mulai mereda. Sehun mempererat pelukannya dan menyandarkan pipinya di puncak kepala Sang Ra. “Pria itu tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji.”

***

SANG RA sudah lebih tenang ketika mereka masuk ke dalam taksi. Wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya masih sedikit bergetar, namun tangisannya mereda. Ia sama sekali tak bersuara selama perjalanan pulang kembali ke hotel, tetapi tak menarik diri dari rangkulan Sehun. Jadi Sehun tidak memaksanya bicara, hanya terus memeluknya dan mengelus kepala Sang Ra.

Ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka, Sehun menyalakan lampu kamar dan menuntun Sang Ra untuk duduk di tepi tempat tidur. “Tunggu sebentar. Tenangkan pikiranmu. Aku akan kembali untuk membawakan teh untukmu.”

Sang Ra tersentak dan mendongak menatap Sehun, seolah-olah ia baru ingat bahwa Sehun juga ada di sini bersamanya. Sang Ra mengangguk kecil, dan Sehun melepaskan pelukannya. Sang Ra memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil. Matanya yang masih sembab memandang berkeliling kamar hotel dengan waswas, seakan takut ada pria tak dikenal yang akan melompat keluar dan menyerangnya lagi. Melihat gadis itu pucat, hati Sehun serasa ditusuk-tusuk.

Sehun berbalik dan pergi keluar kamar untuk memesan teh hangat. Disana ia melangkah dan menarik napas panjang-panjang dan berusaha menenangkan hatinya yang kacau dan emosinya masih meluap-luap ketika mengingat kejadian tadi. Sungguh, hal itu benar-benar diluar perkiraannya. Sehun masih ingin menghajar pria itu habis-habisan. Bayangan kejadian tadi membuat amarah Sehun kembali bergejolak.

“Tolong buatkan secangkir teh hangat,” kata Sehun kepada seorang service girl. Pelayan itu mengangguk kecil, lalu berjalan menuju dapur.

Sehun memejamkan mata dan berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat emosi yang masih mendidih didalam benaknya. Ia ingin meninju sesuatu. Apa saja. Tetapi tak mungkin disini. Sang Ra ada di kamar tidur dan Sehun tak mungkin menimbulkan kehebohan di sini sementara Sang ra masih ketakutan.

Dengan susah payah Sehun memaksa dirinya bergerak dan beberapa saat kemudian ia kembali ke kamar setelah pelayan hotel memberinya teh hangat untuk Sang Ra. Sehun duduk di samping Sang Ra dan memberi teh hangat tersebut pada Sang Ra. Masih tampak wajah Sang Ra terlihat pucat dan gemetar. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Sehun akan melakukan apa saja agar Sang Ra tidak kenapa-kenapa. Ia akan melakukan apa saja untuk menghapus sinar ketakutan dari hati Sang Ra setelah pria biadab tadi hampir memperkosa Sang Ra. Ia bersedia melakukan apa saja. Demi Sang Ra. Seumur hidupnya, Sehun tidak pernah melihat Sang Ra menjadi pucat pasi dan ketakutan seperti itu.

“Maafkan aku. Aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi seperti tadi. Maafkan aku,” gumam Sehun lirih.

Dan tangis Sang Ra pun pecah kembali.

***

“Aku tidak mengenal pria itu,” kata Sang Ra. Kesabarannya sudah habis saat Sehun selalu menanyakan pria yang ingin memperkosanya malam itu.

“Lalu kenapa pria itu tahu namamu? Jangan-jangan..” Sehun tidak melanjutkan kata-katanya. Emosinya masih membara saat mengingat kejadian tadi malam.

“Aku juga tidak tahu.             Sepertinya pria itu.. disuruh seseorang,” gumam Sang Ra lirih. Nada suaranya menunjukkan sebuah ketakutan yang mendalam. Hati Sehun kembali mencelos melihatnya. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Sang Ra untuk bersenang-senang sendiri.

Sehun menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha mengatur emosinya yang berlebihan. Tidak mungkin..

Jika Sang Ra tidak mengenal pria itu sementara pria itu mengenalnya, pasti sesuatu telah terjadi sebelum kejadian itu. Mustahil bila pria itu hampir memperkosa Sang Ra bila sebelumnya pria itu tidak mengenal Sang Ra. Pasti ada orang dibalik kejadian itu. Pasti kejadian itu disengaja oleh seseorang..

***

“Aku gagal,” kata seorang pria pada Park Yura.

Yura terperanjat. Emosi mulai menggerogoti hatinya sesaat setelah pria itu mengatakan hal tersebut.

“Apa?! Kau gagal! Babo! Membuat Sang Ra takluk padamu saja tidak bisa!” seru Sang Ra.

Sejenak kemudian mata pria itu berkilat karena marah. Tugasnya memang gagal, namun ia tidak rela bila ia disebut orang tolol oleh seorang gadis yang berusia 22 tahun yang jelas-jelas lebih muda darinya. Ia tidak tahu bahwa Sehun juga berada di dalam Benzene tersebut bersama Sang Ra. Bekas lebam-lebam dan luka-luka di sekujur tubuhnya masih membekas, belum sembuh dan itu membuatnya kesulitan bergerak lebih leluasa karena bekas lebam itu masih terlihat jelas dan sakit.

Pria itu merogoh saku jeans-nya dan mencari sesuatu dari saku tersebut. Lalu pria itu mengeluarkan sebuah benda. Pisau belati yang tajam.

“Dengar, jangan suruh aku lagi kalau kau mengatakan aku ini orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa! Jangan salahkan aku karena di Benzene itu juga ada Sehun!” gertak pria itu, sambil menodongkan pisau belatinya ke wajah Yura. Gadis itu menjadi gemetar setelah ia ditodong pisau oleh pria itu.

Lalu, dengan sekejap dan gerakan yang cepat, pria itu menusukkan pisau belatinya tepat di dada kiri Yura. Gadis itu terkapar di lantai apartemennya sendiri, sudah tak bernyawa. Dan pria itu pergi, meninggalkan tubuh Yura yang sudah terbujur kaku di tempatnya begitu saja, tanpa satu pun orang lain tahu.

***

Sang Ra sedang merapikan tempat tidur ketika ia tiba-tiba menonton sebuah berita pembunuhan yang terjadi kemarin malam. Awalnya Sang Ra tidak begitu peduli dengan berita tersebut. Namun, setelah ia menonton dengan lebih jeli lagi, ia sangat terkejut setelah mengenali korban pembunuhan tersebut. Memang wajah mayat itu tidak diperlihatkan, namun berita itu menunjukkan sebuah foto korban pembunuhan itu. Sang Ra menyadari bahwa ia berdiri dengan refleks setelah mengetahui bahwa korban itu.. Park Yura?!

Omo!” gumam Sang Ra. Ia tidak menyadari ia sebegitu terkejutnya sampai-sampai ia menutup mulutnya dengan tangannya.

Wae, Sang Ra?” tiba-tiba Sehun muncul sambil membawa sekeranjang penuh buah yang baru dibelinya.

“Park Yura..” Sang Ra terbata-bata. Ia tak sanggup meneruskan kalimatnya.

Mwo ya?

“Tonton saja berita itu.”

Begitu Sehun ikut menonton berita tersebut, Sehun juga terkejut ketika mendengar nama Yura disebut dalam berita itu. Perlahan, wajah Sehun memanas. Ia berusaha berpikir jernih sebelum emosinya memuncak. Meskipun Yura sudah tidak lagi berpacaran dengannya, ia tak akan membiarkan gadis itu juga menjadi korban. Namun kali ini usahanya sia-sia. Gadis itu sudah tidak bernyawa.

“Sehunnie, kau kenapa?” tanya Sang Ra ketika ia melihat perubahan di wajah Sehun.

“Pasti ada orang terdekatnya yang membunuhnya..” gumam Sehun.

Mwo??”

“Sang Ra, ayo, ikut aku.”

“Sehun-ah, jangan buat masalah lagi!!”

Aniya, aku ingin meluruskan semua masalah ini! Kajja!”

Yaaa!

***

Kantor polisi yang terletak di wilayah Hyde Park, London, siang itu tampak ramai. Sang Ra dan Sehun duduk menghadap seorang polisi yang masih berusaha menyelidiki latar belakang pembunuhan Park Yura.

“Pasti pria itu yang membunuh Yura,” gumam Sehun pada Sang Ra.

“Bagaimana kau tahu?” bisik Sang Ra.

“Kau lihat, kan dia memanggil namamu, bahkan sampai menyimpan fotomu waktu itu? Dari siapa lagi kalau bukan Yura yang menyuruhnya? Kemungkinan orang Asia yang tinggal di London bahkan juga sangat kecil,” bisik Sehun lagi.

Sang Ra berusaha berpikir. Ia mulai mengurutkan peristiwa-peristiwa sebelumnya agar bisa memahami maksud perkataan Sehun. Benar. Bahkan orang Korea yang tinggal di sini saja kemungkinan sangat kecil. Ia mulai paham maksud Sehun. Tapi otaknya masih dihinggapi satu pertanyaan. Apakah benar pria yang hampir memerkosanya itu telah membunuh Park Yura?

Walaupun ia kesal pada Yura, tapi ia tidak sebegitu teganya melihat gadis itu bersimbah darah waktu ia menonton di berita tadi.

“Kemungkinan pelaku pembunuhnya masih berada di London,” polisi itu membuka suara.

“Jadi, apakah kita bisa mulai mencari pelakunya, Sir?” tanya Sehun.

“Ya, sebentar lagi kami semua juga akan mencari keberadaan pelaku itu. Kalian boleh ikut untuk membantu kami. Apakah kalian bersedia?”

“Tentu saja, Sir. Kami bersedia,” jawab Sehun.

Lakukan dan selesaikan, pikir Sang Ra. Ia tak pernah tahu kapan semuanya akan selesai, namun ia tetap bersabar dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan ini. Lalu semua ini akan segera berakhir.

***

Hari pertama pencarian dilakukan di lokasi West End, yang disana banyak apartemen elit yang berjejer dengan megah. Kemungkinan pria itu bisa saja tinggal di salah satu apartemen disana. Tentu saja pencarian di tempat itu bukanlah hal mudah, sementara udara London sangat dingin dan banyak orang berlalu-lalang di tempat itu dan bisa mempengaruhi proses pelacakan.

Di wilayah itu polisi berjaga ketat, bahkan saling memencar untuk mencari keberadaan si pelaku. Sehun masih yakin bahwa pelaku pembunuhan tersebut tinggal di sekitar situ, karena menurut kabar yang beredar banyak orang yang mencurigai keberadaan seseorang yang dicurigai sebagai penyebab kematian Yura.

Seorang pria bertudung jaket hitam sedang berjalan ketika Sang Ra menyadari kejanggalan. Sang Ra berusaha melihat dengan jelas wajah pria bertudung jaket itu. Karena Sang Ra berdiri tak jauh dari pria bertudung itu, ia tak kesulitan untuk melihat wajah pria tersebut.

“KAU!!” seru Sang Ra setelah pria bertudung itu melepas tudung jaketnya.

Sementara itu, Sang Ra mulai berlari mengejar pria itu. Ia berusaha melawan ketakutannya sendiri setelah apa yang terjadi kepadanya kemarin malam. Satu hal yang ingin ia selesaikan adalah, menyerahkan pria tersebut kepada polisi lalu semuanya berakhir.

Polisi juga mulai mengikuti Sang Ra yang masih berlari. Pria itu semakin berlari kencang. Seorang polisi yang juga berlari menembakkan peluru ke kaki pria tersebut. Peluru pertama masih meleset dan beruntung tidak mengenai siapapun yang berada di wilayah itu. Polisi lain juga mencoba untuk menembakkan peluru ke tubuh pria bertudung itu. Dan peluru kedua pun berhasil mengenai kaki pria itu, namun sepertinya pria itu tidak menyadari bahwa kakinya telah ditembak oleh polisi yang sedang mengejarnya.

Sir, berikan pistol itu padaku!” Sehun berseru kepada polisi yang berlari di sampingnya.

Polisi itu memberikan pistolnya kepada Sehun. Dan Sehun berlari melawan arah, mencoba mencari jalan terdekat kearah pria itu.

Saat pria bertudung tadi mencoba mencari jalan pintas untuk menghindari sekelompok polisi dan Sang Ra yang mengejarnya, tiba-tiba dari arah berlawanan ia bertemu Sehun yang sedang menodongkan pistol ke arahnya. Pria itu mundur perlahan, menyadari bahwa saat ini ia berada di ujung tanduk. Antara hidup dan mati. Kini saatnya ia mulai pasrah menerima kenyataan. Ia harus bertanggung jawab atas kematian Park Yura.

“Sehun cepat tembakkan pelurunya!” seru Sang Ra saat ia dan yang lainnya berhasil menyusul Sehun dan pria itu.

DOORR!

Peluru yang ditembakkan Sehun pun berhasil mengenai tepat di jantung pria itu yang mencoba mengelaknya.

Dalam sekejap, pria itu tewas di tempatnya. Nyawanya melayang. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Bagaimana pun usaha pria itu mencoba untuk lari dari kenyataan, ia tetap akan dihantui oleh kematian. Dan kini kematian berhasil mendapatkan nyawanya.

“Kau berhasil,” Sang Ra menghampiri Sehun dan memeluknya. Ia lega akhirnya bisa menyelesaikan semuanya.

Sehun dan Sang Ra beserta polisi yang bekerja sama, beringsut membawa tubuh pria itu yang sudah terkapar dan mengangkatnya ke dalam ambulans rumah sakit South Hampstead yang beberapa menit lalu sudah datang ke West End untuk mengangkut jenazah pelaku pembunuhan tersebut.

Dan sekarang hanya ada Sang Ra dan Sehun yang masih berada di West End. Mereka memang membawa mobil sendiri ke wilayah itu.

Sang Ra duduk bersandar di jok mobil dan menghela napas dalam-dalam. Hari ini sangat melelahkan fisiknya sampai tubuhnya terasa kesakitan setelah hampir menghabiskan waktu untuk pelacakan tadi. Sehun memeluk Sang Ra yang kelelahan, memberikan kehangatan. Satu per satu masalah akhirnya bisa mereka lewati meskipun itu terlalu berat bagi mereka.

“Semua sudah berakhir. Kau tak perlu khawatir,” kata Sehun, menyandarkan kepala Sang Ra ke bahunya dan mulai menyetir mobilnya.

“Kau tahu? Semua ini sangat berat untuk kita,” balas Sang Ra.

Tidak tahu apa yang harus dikatakannya, Sehun memilih tersenyum pada istrinya, dan mencium puncak kepala istrinya itu dan kembali menyetir mobil.

***

Kamar hotel yang khas Inggris itu membuat suasana hati Sang Ra menjadi sejuk. Ia bersyukur sampai hari ini ia masih bersama Sehun dan menghabiskan waktu bersama setelah kejadian yang tidak ia harapkan kemarin itu. Keluarga di Seoul juga mengabarkan bahwa semuanya baik-baik saja dan kata mereka jenazah Yura sudah dikirim ke Korea dan dimakamkan disana.

Sang Ra menikmati secangkir teh hangat dan sandwich yang tadi diantar oleh pelayan hotel dan sibuk membaca buku di sofa kamar hotel.

Ketika Sang Ra melahap sandwich-nya yang ketiga, tiba-tiba ia merasa perutnya mulai mual dan sakit. Sementara sandwich yang ia makan berubah menjadi aneh setelah ia merasa mual. Melihat keadaannya yang aneh itu, ia berlari ke toilet untuk mengecek keadaan.

Sang Ra berlari ke toilet dan memuntahkan semua sandwich yang ia makan tadi di wastafel. Perutnya masih mual. Kemudian ia berjalan menuju kalender yang terpasang di sebelah kanan wastafel itu dan melihat tanggal.

Aneh. Ini sudah hari yang kesepuluh sejak keberangkatan mereka waktu itu. Kemudian ia mulai menyadari kejanggalan. Ini sudah tanggal 27 Agustus. Harusnya ia sudah mengalami datang bulan sejak kemarin, dan sampai hari ini ia belum juga mengalaminya.

Tidak mungkin, batinnya.

Ia mengambil tas yang berisi barang-barang keperluannya di wastafel. Pembalut, alat make up, sikat gigi, dan yang lainnya… dan.. TEST PACK?

Ia tidak menyadari bahwa eomma-nya membawakannya alat tes kehamilan itu. Aissh!

Dengan tangan bergetar, ia mengambil test pack itu dan membuka kemasannya. Awalnya ia takut salah penggunaan, namun ia mencoba menggunakannya. Ia berjalan ke water closet dan mulai menggunakan barang itu…

Lima menit.

Sepuluh menit.

Limabelas menit.

Sang Ra masih ragu untuk melihat hasil test pack tersebut yang telah dicobanya tadi. Dengan ragu-ragu ia mengambil barang itu dan… gotcha. Hasil tes itu menyatakan bahwa ia positif hamil.

Dengan refleks, ia mulai memanggil Sehun.

“Ada apa?” tanya Sehun tersengal-sengal gara-gara teriakan Sang Ra yang mengagetkannya.

“Lihatlah,” kata Sang Ra sambil menunjukkan test pack.

Sehun mengambil test pack dari Sang Ra dan memelototi barang itu. Ia tak bisa berkata apa-apa. Matanya mulai menunjukkan sorot kebahagiaan yang tidak bisa didefinikasikan. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang mendalam.

“Kau.. hamil! Sang Ra! Kau hamil!!” seru Sehun, lalu mulai menggendong Sang Ra dan menuntunnya ke tempat tidur.

“Aku.. mengandung anak kita,” ucap Sang Ra terbata-bata dan mulai menangis bahagia. Entah kenapa kini perasaannya menjadi sebuah perasaan yang sulit diungkapkan oleh kata-kata. Yang ada dalam pikirannya saat itu juga adalah, mulai menjalani hari-hari seperti biasa dan menjaga kandungannya.

Sehun merengkuh wajah Sang Ra, sejenak menatap matanya dalam-dalam. Perasaannya diselimuti atmosfir hangat setelah mengetahui bahwa Sang Ra hamil. Kemudian ia mendaratkan bibirnya ke bibir Sang Ra. Dan mereka saling memeluk mesra di hari yang penuh kebahagiaan hari itu.

***

SKIP

Seoul, empat tahun kemudian

Sebuah rumah dengan gaya klasik khas Inggris sudah terlihat tanda-tanda kehidupan hari itu. Suara jerit tangis seorang anak laki-laki yang baru berusia empat tahun menggemparkan seisi rumah. Dua orang yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing langsung berlari menuju sebuah kamar kecil rumah tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Yaa! Sehun-ah, kenapa kau tidak mengawasi anak kita? Lihatlah, anak kita jatuh dari tempat tidurnya!” omel Sang Ra.

“Sang Ra-ya, kau tahu kan kalau aku sedang sibuk mengedit hasil fotografiku?” Sehun tak mau kalah. Ia langsung mengangkat tubuh Oh Sejun yang mungil.

Mwo? Menduakan anak kita dengan kerjaanmu? Yaa kau jahat sekali..” seru Sang Ra.

TOK TOK TOK

“Sejun-ah, ahjussi membawa teman untukmu..”

“Suho hyung! Kau masih hidup! Aku kira kau tak akan menikah untuk selamanya.. hahaha..”  teriak Sehun saat melihat Suho berdiri di depan kamar Sejun.

Kemudian disaat yang bersamaan, Sulli muncul dengan dua anak kecil yang berdiri di samping kiri kanannya.

“Sulli!! Kau punya anak kembar! Mereka cantik sekali.. Yak, Sejun.. kau bisa memilih salah satu dari mereka..” canda Sang Ra.

“Hei, Sang Ra-ah, mereka masih kecil,” balas Sulli.

Mendengar ucapan Sulli, mereka semua tertawa. Sedangkan Sejun mulai bermain dengan Il Joo dan Il Sun—kedua anak kembar Sulli dan Suho. Melihat moment tersebut, Sang Ra, Sehun, Sulli, Suho mulai bernostalgia dengan kenangan masa lalu saat mereka masih remaja dan selalu bersama.

TOK TOK TOK~

Sang Ra menyipitkan mata dan melirik Sehun untuk menyuruhnya membuka pintu. Dan Sehun pun membukanya. Tak disangka seorang namja gagah dengan pakaian rapi muncul dari depan rumahnya.

“Astaga.. Chan Yeol hyung? Dan.. kau bersama siapa?” bisik Sehun saat ia melihat Chan Yeol bersama seorang yeoja.

“Dia pacarku. Kami akan menikah sebentar lagi,” bisik Chan Yeol.

“WOW Chan Yeol.. aku kira kau masih menjadi bujangan untuk selamanya hahaha..” seru Suho saat ia menyadari Chan Yeol bersama pacarnya.

“Hai, namamu siapa? Kau cantik sekali..” puji Sang Ra dan Sulli. Wajah yeoja itu tampak memerah dan malu-malu saat mereka memujinya. “Namaku Kwon Dae Yoon,” kata yeoja itu.

Mendengar Suho meledek Chan Yeol, Chan Yeol langsung berlari mengejar Suho dan mencoba menangkap sahabatnya itu. Mereka semua tertawa saat dua manusia itu berkejaran layaknya anak kecil. Suho terus berlari dan hampir menyenggol sebuah guci besar yang sangat mahal, yang saat itu dibeli Sang Ra di London saat honeymoon.

“YAK kalian berhenti.. ini rumahku,” seru Sang Ra saat kedua manusia itu masih kejar-kejaran.

Suho dan Chan Yeol akhirnya berhenti setelah Sang Ra berteriak. Sedikit lega bahwa mereka masih bisa berperilaku layaknya orang dewasa, bukan anak kecil lagi. Suho kembali berdiri di samping Sulli dengan wajah tertunduk. Terpaksa Sehun dan Sang Ra harus rela rumah mereka menjadi berantakan kembali setelah menjadi arena kejar-kejaran Suho dan Chan Yeol.

Pagi itu, rumah Sehun dan Sang Ra tidak lagi ramai karena tangisan manja Sejun. Rumah yang biasanya terlihat sepi itu kini menjadi ramai karena kunjungan sahabat lama mereka yang kini mulai menata kehidupan sendiri-sendiri dan mengatur masa depan masing-masing. Sejun, Il Joo, dan Il Sun hanya menjadi penonton orang tua mereka masing-masing saling berbicara akrab dengan sahabat-sahabatnya. Dan ketiga anak kecil itu hanya bisa bermain dan bermain.

“Kau tahu, kita bisa menjodohkan Sejun dengan Il Joo atau Il Sun..” kata Sehun.

“YAK SEHUN KAU TIDAK BOLEH BERBICARA SEPERTI ITU~” sergah Sang Ra.

Sulli, Sang Ra, dan Suho hanya bisa menatap Sehun yang sibuk mengoceh, membicarakan manakah yang cocok dengan Sejun, Il Joo atau Il Sun. Sang Ra sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya saat suaminya itu asyik bersikap aegyo untuk membujuknya agar Sejun dijodohkan dengan anak Sulli dan Suho saat mereka dewasa nanti. Sulli, Chan Yeol, Dae Yoon, dan Suho tidak bisa menahan tawa mereka ketika melihat pasangan suami-istri itu saling berdebat masalah perjodohan anak mereka.

Sang Ra menatap Sehun dengan tajam. “YAK SEHUN-ah!!”

            Kemudian semuanya tertawa keras.

| EPILOG |

“Apa kabar, Baek Hyun Oppa? Sudah hampir empat tahun ini aku tidak mengunjungimu, ya.. astaga,” kata Sang Ra ketika ia sengaja berkunjung ke makam.

“Sang Ra, aku di sini,” kata sebuah suara. Sang Ra mencari keberadaan suara itu dan mendongak. Ia tersenyum saat menyadari arwah Baek Hyun berada di belakangnya.

Oppa, apakah disana tidak ada yang berubah? Kau masih tetap tampak muda seperti dulu!” kata Sang Ra saat melihat wajah Baek Hyun yang masih terlihat muda sementara Sang Ra sudah berusia 27 tahun.

“Kematian akan berakhir dengan keabadian di alam sana, Sang Ra. Semuanya berbeda saat kita masih di dunia ini,” kata Baek Hyun.

Sang Ra meletakkan buket bunga mawar di tanah makam Baek Hyun. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama. Hanya saja tanah makam itu mulai ditumbuhi rerumputan hijau yang masih segar dan terlihat menyejukkan. Pepohonan yang berderet di sepanjang jalan setapak menuju makam juga masih terlihat rindang.

Sebelum Sang Ra berbalik lagi, Baek Hyun menghilang dari tempatnya. Yang tersisa hanyalah sebuah cahaya putih yang terbang menuju langit. Sang Ra tidak berhenti memandangi cahaya itu, yang ia yakini adalah cahaya bersinar milik Baek Hyun.

***

Sang Ra membuka secarik kertas yang ia temukan terselip di salah satu halaman novelnya. Sejenak kemudian ia ragu untuk membukanya, namun karena penasaran, ia mulai membuka secarik kertas itu. Kertas pertama yang berisi kertas lusuh pemberian Baek Hyun sembilan tahun lalu yang bertuliskan sebuah lagu dalam huruf Hangul, dan satu kertas pemberian Sehun yang bertuliskan sebuah lagu dalam bahasa Inggris. Kemudian ia membacanya, dan tersenyum saat membaca kedua tulisan tersebut.

“Kau suka liriknya? Aku yang buat sendiri, dan itu yang huruf hangul, Hyung sendiri yang membuatnya. Aku menemukan kertas lusuh itu di kamar Hyung,” tiba-tiba Sehun muncul.

“Sangat suka. Aku menyukainya. Terima kasih!” Sang Ra berlari menghampiri Sehun, lalu berjinjit untuk sekedar mengecup bibir suaminya itu dan memeluknya dengan tangan masih menggenggam kedua kertas berisi lirik lagu itu.

“Aku juga berterima kasih, karena kau masih ada di sini, bersamaku. Jangan jauh dariku. Aku ingin kau tetap bersamaku. Selamanya,” bisik Sehun.

Andoeneunde neo eobsi saneun il neo eobseumyeon

Jugeul geot gateunde

Andoeneunde na andoeneunde neo eobseum jugeul geot gateunde

Neo eobseum jugeul geot gateunde na eottoke sara..

It can’t be, to live a day without you, without you, feels like dying

It can’t be, I can’t be, without you, feels like dying

Without you, seems like dying, how can I live..

THE END

Halo halooo sekuel Remember of You yang kedua sudah ready J  aku bikinin juga sekuelnya. Agak panjang juga sih sekuel kali ini 😀 yah aku berharap kalian suka sama sekuel yang kedua ini, karena sekuel pertamanya masih banyak kekurangannya hehehe.  Silakan tebar komentar kalian yah. Aku tunggu yaa =) follow juga ya twitterku di @elsayunikaka untuk sekadar saling sapa yah.

KALIAN BACA SEKUEL PERTAMANYA DULU YA biar ngerti jalan ceritanya =) . LINK : https://exofanfiction.wordpress.com/2012/10/20/remember-of-you/

 

10 pemikiran pada “Remember of You 2 : Life After Before (Chapter 1)

  1. keren thor sequelnya ^o^ author terinspirasi sama novel spring in london ya thor? kekeke~

    itu sehun jahat bgt ngatain suho gak bakal nikah selamanya~ suho juga jahat ngatain chanyeol bakalan jadi bujangan selamanya~ tapi aku ngakak dibagian itu thor

    sulli sama suho? gak bisa bayangin masa-____-

    daebak thor, ditunggu karyamu yg lain ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s